Beranda blog

LDK STAIL Bersama Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusian di Bengkulu

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi dampak serius dan kian luas dari wabah Covid-19, LDK Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Rumah Quran Al-Fatih bersama corwdfunding pemuda.org serta Bunda Al-Fatih menggelar aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan berupa pembagian paket sembako itu menyasar   warga terdampak Covid-19.

Aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di Desa Padang Kedeper, Kecamatan MErigi, Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Kamis (16/4).

Ketua LDK STAIL Surabaya, Ahlun Nazir mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk tanggung jawab kaum muda yang masih menimba ilmu perihal kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Aksi yang LDK STAIL lakukan hari ini bersama Rumah Quran Al-Fatih, pemuda.org dan Bunda Al-Fatih adalah wujud tanggung jawab sosial guna mengasah kepekaan dan kepedulian kaum muda. Ternyata di lapangan kami mendengar langsung tangisan, keluhan, dan rasa syukur orang-orang yang menerima manfaat dari program ini. Ini adalah pembelajaran sangat berarti bagi kami anak-anak muda,” kata Ahlun Nazir.

Pada tahap awal ini,  20 paket bantuan ketahanan pangan telah disalurkan.  Para  penerima manfaat  adalah 14 orang dari kelompok lansia (14 orang),  orang anak yatim (empat orang),  orang sakit (satu orang)  dan  disabilitas (satu orang).

Aksi kemanusiaan ini mendapatkan tanggapan  positif Kepala Desa Padang Kedeper, Sudirjono. “Kami tak melihat berapa yang kalian berikan kepada warga kami, tapi kepedulian kalian ini adalah anugerah besar bagi kami. Semoga semakin banyak lahir pemuda-pemuda yang seperti kalian, peduli dan bertindak langsung menolong orang yang membutuhkan uluran tangan,” ucapnya.

Demikian pula para penerima manfaat.  Mereka tidak saja berterima kasih,  tetapi juga ada rasa haru dan bangga. Sebab,  yang datang mengantarkan bantuan adalah sekolompok anak-anak muda. 

Sementara itu, General Manager pemuda.org Ainuddin Chalik mengatakan, pihaknya memang selalu membuka diri dalam sinergi kemanusiaan khususnya di tengah wabah seperti sekarang.

“Pemuda.org adalah crowdfunding yang dikelola oleh Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, senantiasa siap dan terbuka untuk sinergi program dan aksi kemanusiaan. Alhamdulillah, kami telah melakukan aksi kemanusiaan tersebut  di Depok, Lombok, sekarang Bengkulu dan akan disusul di beberapa daerah lainnya,” tutupnya.

SAR Hidayatullah dan BMH Turun ke Banjir Konawe

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Tim relawan Hidayatullah bergerak menuju lokasi terdampak banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan telah menyalurkan bantuan, Senin (10/06/2019).

Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Ahmad Hamim menjelaskan, sejak Senin tadi ada dua tim yang bergerak ke lokasi banjir di Sultra.

Lokasi menuju Konawe masih sulit ditembus hingga Senin sore waktu setempat. Namun demikian, tim SAR terus berusaha agar bisa segera sampai di lokasi bencana.

“Akses jalan banyak yang terputus, saat ini tim sedang berusaha mencari jalur untuk bisa masuk ke Konawe Utara,” ujar Hamim.

Sementara itu, relawan BMH-Hidayatullah sudah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada sebagian korban bencana langsung di TKP.

“Alhamdulillah tadi siang kami juga sudah turunkan bantuan logistik dari BMH untuk bantuan kepada salah satu desa yang terdampak parah banjir,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Konawe Utara Sulaiman Muadz kepada hidayatullah.com secara terpisah.

Bantuan tersebut diserahkan ke posko warga yang berada di luar lokasi banjir parah, sebab untuk menuju titik lokasi banjir terparah masih sulit.

“Air masih tinggi sehingga kami nda bisa masuk ke dalam menemui warga setempat,” jelas Sulaiman.

Masyarakat pun sangat menyambut baik kedatangan relawan dan bantuan tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat setempat korban banjir memprihatinkan.

“Memprihatinkan karena baru kami yang bisa bawa bantuan banyak kepada mereka dan baru hari itu juga mereka dapat bantuan setelah beberapa hari mereka terdampak banjir nda ada bantuan masuk dari pemerintah maupun relawan,” ungkapnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi.

Sebanyak enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.

Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan 72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha.

Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentifikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan.

BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit, dan pustu 2 unit.

Berita terkini seputar aksi Hidayatullah Peduli lainnya dapat juga dilihat di Facebook fanpage SAR Hidayatullah di @sarhidayatullah.id atau melalui website www.sarhidayatullah.com. (ybh/hio)

Dorong Kesehatan Masyarakat, Ribuan Anak di Bogor Diteliti IMS Center

Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI

Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI

HIDORID — Lembaga layanan kesehatan masyarakat nasional milik Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) Pusat, melakukan penelitian kesehatan kepada 2.400 orang anak di di wilayah Parung Panjang, Kota Bogor, Jawa Barat. Dalam penelitiannya, IMS secara seksama mempelajari dampak akumulasi feses terhadap lingkungan.

Manajer Program dan Pemberdayaan Komunitas IMS, Muhammad Adnan, mengatakan salah satu faktor dipilihnya wilayah Parung, Jawa Barat, menjadi pusat penelitian IMS dikarenakan  mayoritas ekonomi serta kesadaran tentang kesehatan masyarakatnya masih terbilang rendah dan berada pada taraf ekenomi tidak mampu

“Wilayah ini tidak jauh dari Ibu Kota Negara Indonesia yang hanya membutuhkan waktu 3-4 jam, namun masih jauh dari kebutuhan layanan kesehatan yang memadai,” kata Adnan dalam siaran persnya, beberapa waktu lalu.

Adnan menerangkan, hasil dari penelitian IMS Center tersebut diharapkan akan menjadi acuan dasar untuk mengetahui dengan pasti infeksi penyakit yang diderita mayoritas anak-anak khususnya di wilayah Jawa Barat sehingga program-program kesehatan yang akan dilakukan baik swasta maupun pemerintah akan lebih tetap sasaran.

Selain melakukan penelitian feces, team medis IMS dekat juga mengadakan penyuluhan kesehatan serta Medical Check-Up (MCU) kepada seluruh anak-anak yang diteliti dan masyarakat di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat, sebagai media pendukung keakuratan hasil penelitian feces terhadap anak-anak dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan anak.

Program penelitian dan kegiatan sosial ini didukung oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Bank Syariah Mandiri. Adnan menyebutkan pihaknya juga membuka dompet donasi untuk mendukung program keummatan untuk layanan sosial IMS.

Bagi Anda pemerhati kesehatan umat dapat mendonasikan bantuannya melalui rekening Bank BCA 496.019.291.1 A.N Layanan Kesehatan Islam. (ybh/hio)

KHUTBAH JUMAT Berubah dan Bertumbuh Hanya untuk yang Memiliki Keberanian

0

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلَى حَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Saudara seiman rahimakumullah,

Mengapa iman dan takwa selalu mengawali setiap tausiyah dalam khutbah Jumat? Karena iman melahirkan keberanian untuk berubah, sedangkan takwa melahirkan kesungguhan untuk terus bertumbuh. Keberanian untuk berubah dan bertumbuh adalah manifestasi syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhitung. Jadi, bersyukur bukan sekedar mengucapkan kalimat hamdalah “alhamdulillah”, tetapi menggunakan nikmat-nya untuk memaksimalkan tugas sebagai pemimpin atau khalifah di bumi ini.

Iman membuat seseorang berani meninggalkan kebiasaan buruk, berani melawan ketakutan, berani meninggalkan cara berfikir yang melemahkan dan berani hidup dalam kebenaran. Sementara takwa menjadikan seseorang tidak pernah merasa cukup dengan kebaikan yang telah dicapai. Ia terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas amal, dan memperluas manfaat kehidupannya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah menunggu kita memiliki kesadaran untuk berubah, bukan menunggu Allah mengubah nasib kita. Umumnya orang memiliki keberanian untuk berubah dan bertumbuh karena menghadapi 2 kondisi:

  1. Menginginkan keadaan yang lebih baik, enak dan penuh kenikmatan.
  2. Takut dengan kondisi yang penuh derita.

Saudara seiman yang dimuliakan Allah,

Bulan November mengingatkan kita pada sebuah peristiwa bersejarah. Delapan puluh satu tahun yang lalu, tepatnya 10 November 1945, meletus pertempuran besar di Surabaya. Para pejuang bangsa menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar dengan keberanian dan tekad mempertahankan kemerdekaan.

Mereka menyadari bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diproklamasikan, tetapi harus dipertahankan dengan pengorbanan. Mereka berani menghadapi risiko, bahkan mempertaruhkan nyawa demi masa depan bangsa. Sudah sekian lama hidup dalam derita penjajahan bangsa asing, sudah waktunya merencakan masa depan lebih baik. Semua memiliki hak yang sama untuk menikmati kehidupan yang Allah hadirkan di bumi ini.

Bayangkan, jika para orang tua kita saat itu memilih diam, takut, dan menyerah, mungkin perjalanan bangsa Indonesia akan sangat berbeda.

Sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu membutuhkan keberanian. Tidak ada kemajuan tanpa keberanian untuk berubah. Tidak ada pertumbuhan tanpa keinginan untuk hidup lebih baik.

Saudara seiman rahimakumullah,

Sesungguhnya semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan bertumbuh. Kita sama-sama diberi akal pikiran, waktu, potensi, dan kesempatan oleh Allah SWT. Sejak awal penciptaan Allah telah mendesain manusia dengan sebaik-baik bentuk. Sebagaimana firman-Nya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Dialah (Allah) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki.83) Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Āli ‘Imrān [3]:6

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

“sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.“ (QS At-Tīn [95]:4)

Lantas, mengapa ada orang yang terus berkembang, sementara yang lain berjalan di tempat?

Sering kali bukan karena perbedaan kemampuan, melainkan karena perbedaan keberanian. Ada yang berani belajar, sementara yang lain gengsi untuk belajar. Ada yang berani memulai, sementara yang lain sibuk mencari alasan. Ada yang berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, sementara yang lain gemar mencari pembenaran.

Saudara seiman rahimakumullah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Sudah berapa lama kita hidup, tetapi masih begitu-gitu saja. Nasib belum banyak berubah, apalagi bertumbuh? Sudah berapa banyak kesempatan yang Allah berikan, tetapi belum banyak kita manfaatkan?

Semoga Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang memiliki keberanian untuk berubah dan kesungguhan untuk bertumbuh, sebagai wujuj jiwa-jiwa yang bersyukur.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Saudara seiman rahimakumullah,

Menua adalah pasti. Tetapi hidup sehat dan berlimpah dalam ketaatan kepada Allah adalah pilihan. Perubahan adalah pilihan, pertumbuhan adalah ikhtiar. Jangan menunggu keadaan untuk berubah, tetapi mulailah berubah dari cara berikir yang enak dan benar. Insyaallah, Allah akan membukakan jalan menuju kehidupan yang kita inginkan. Sebagaimana hadits qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي…

“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675)

Akhirnya marilah kita berdoa, Allah pasti mengabulkan doa-doa kita.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَوَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Belajar dari Kisah Para Nabi, Kader Hidayatullah Diajak Seimbangkan Ibadah dan Ikhtiar

0

CILEGON (Hidayatullah.or.id) — Dewan Mudzakarah Hidayatullah melaksanakan kunjungan silaturahmi dan roadshow monev sekaligus serap aspirasi ke Provinsi Banten pada Kamis, 25 Jumadilawal 1448 (5/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Warasfarm, Cilegon, tersebut merupakan forum sarasehan untuk menyerap aspirasi sekaligus memberikan penguatan kelembagaan kepada seluruh unsur Hidayatullah di wilayah Banten.

Tiga utusan Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah yang hadir ialah KH Aqib Junaid Kahar, KH Miftahuddin, dan Ust. H. Marwan Mujahidin.

Forum tersebut melibatkan unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Pemuda Hidayatullah (Pemhida). Pengurus Wilayah Mushida Provinsi Banten juga diundang untuk mengikuti sarasehan yang digelar intensif sehari dalam rangka untuk memperkuat koordinasi, menyerap berbagai masukan, dan membangun kesamaan pemahaman dalam menjalankan peran kelembagaan.

Dalam sambutannya, Aqib Junaid menyampaikan penguatan mengenai tanggung jawab setiap individu yang memilih bergabung dan berkontribusi dalam lembaga perjuangan Hidayatullah. Ia mengingatkan bahwa setiap persoalan kehidupan pada dasarnya memiliki petunjuk penyelesaian dalam Al-Qur’an.

Karena itu, terang Aqib kader tidak semestinya menjadikan kendala sebagai alasan untuk berhenti berjuang, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan penguatan pengabdian.

Mengutip Surah Al-Ankabut ayat 69, Aqib menjelaskan bahwa kesungguhan dalam perjuangan merupakan bagian dari sunnatullah yang selalu disertai ujian.

Menurutnya, orang yang mengambil bagian dalam perjuangan memiliki tanggung jawab sekaligus peluang memperoleh nilai pengabdian yang lebih besar di sisi Allah.

Ia menegaskan bahwa tugas manusia adalah memaksimalkan ibadah dan ikhtiar, sedangkan datangnya pertolongan serta jalan keluar merupakan ketentuan Allah yang dapat hadir melalui berbagai cara dan pada waktu yang tepat.

Untuk memperjelas pesannya, Aqib mengangkat sejumlah kisah tokoh dalam sejarah Islam sebagai gambaran tentang amanah, keteguhan, dan konsekuensi menjalankan tugas. Kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail, misalnya, menggambarkan perpaduan antara tawaf sebagai simbol ibadah dan sai sebagai bentuk ikhtiar manusia.

Dalam kondisi tandus di sekitar Makkah, keduanya tetap menjalankan usaha dan penghambaan kepada Allah hingga pertolongan-Nya hadir melalui mata air Zamzam yang terus mengalir hingga kini.

Ia juga mengangkat kisah Nabi Nuh AS yang berdakwah selama 950 tahun meskipun menghadapi ujian berat, termasuk ketika istri dan anaknya tidak mengikuti perjuangannya. Kisah Nabi Yunus AS menjadi pengingat tentang risiko meninggalkan amanah ketika seseorang tidak mampu bertahan menghadapi tekanan tugas.

Sementara itu, kisah Ubaidullah bin Jahsy disampaikan sebagai gambaran seseorang yang keluar dari jalan keimanan setelah sebelumnya berada dalam lingkungan perjuangan.

Berbeda dari kisah-kisah tersebut, Nabi Yusuf AS digambarkan sebagai sosok yang meminta amanah strategis sebagai bendahara negara. Namun, Aqib menekankan bahwa tugas besar membutuhkan dua bekal utama sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, yakni hafizhun ‘alim: kemampuan menjaga amanah dan kapasitas keilmuan. Dalam istilah kontemporer, karakter tersebut dapat dipahami sebagai perpaduan antara kompetensi profetik dan profesional.

Menutup arahannya, Aqib mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk tetap mengambil bagian dalam perjuangan sesuai profesi dan kapasitas masing-masing, sekecil apa pun kontribusinya. Ia menekankan pentingnya menghidupkan dua prinsip utama, yakni tawaf sebagai penguatan ibadah dan sa’i sebagai ikhtiar terbaik.

“Keberlanjutan perjuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya amanah, tetapi juga oleh konsistensi pengabdian, kesungguhan bekerja, dan keteguhan menjaga hubungan dengan Allah,” tutup dai asal Sinjai ini.

Bangun Kolaborasi Strategis, Mushida Babel Audiensi dengan DPW Hidayatullah Perkuat Sinergi Organisasi

BANGKA TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Bangka Belitung melaksanakan audiensi dan silaturahmi dengan jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bangka Belitung, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, memperkuat komunikasi kelembagaan, serta membangun sinergi antara Muslimat Hidayatullah dan DPW Hidayatullah Babel dalam menjalankan program dakwah dan pembinaan umat.

Audiensi diawali dengan sambutan Ketua PW Muslimat Hidayatullah Babel, Ustadzah Ratna Octaviana, S.H.I. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan perkembangan organisasi, program kerja, serta agenda strategis Muslimat Hidayatullah ke depan. Pemaparan juga disampaikan oleh masing-masing kepala departemen terkait program dan bidang kerja yang menjadi tanggung jawabnya.

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk bertukar gagasan, menyampaikan berbagai aspirasi, serta menyelaraskan langkah perjuangan organisasi dalam mendukung gerakan dakwah Islam di Bangka Belitung.

Ketua DPW Hidayatullah Babel, Ustadz Ismail Zalukhu, S.H.I., M.Pd., menyambut baik pelaksanaan audiensi tersebut. Ia menilai sinergi seluruh unsur organisasi memiliki peran penting dalam memperkuat gerakan dakwah, pendidikan, sosial, dan pembinaan keluarga Muslim.

Menurutnya, Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung (orpen) yang menjadi bagian dari keluarga besar Hidayatullah memiliki peran strategis dalam mendukung perjuangan dan pengembangan dakwah di tengah masyarakat.

Melalui pertemuan ini, Ismail berharap koordinasi antara PW Muslimat Hidayatullah Babel dan DPW Hidayatullah Babel semakin solid. Dengan demikian, setiap program dan aktivitas organisasi dapat berjalan lebih terarah, terintegrasi, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.

Sebagai organisasi pendukung, Muslimat Hidayatullah memiliki kontribusi strategis dalam membangun ketahanan keluarga, membina generasi Muslim, serta mengambil bagian dalam pemberdayaan perempuan dan masyarakat.

Audiensi ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kontribusi organisasi untuk menghadirkan dakwah Islam yang mencerahkan serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat Bangka Belitung.

Kemensos RI dan Hidayatullah Bahas Sinergi Program Sosial hingga Kebencanaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar kunjungan silaturahmi kelembagaan ke Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) pada Senin (02/11/2026). Pertemuan yang berlangsung pukul 13.00 WIB di Kantor Kemensos RI tersebut diterima langsung oleh Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI, Bapak Agus Jabo Priyono.

Delegasi Hidayatullah dipimpin oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Hidayatullah Muhammad Isnaeni, didampingi Kepala Departemen Sosial Imron Faizin, serta jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta yang diwakili oleh Suhardi, Ade Syariful Allam, M. Deden Sugianto, beserta pengurus lainnya.

Dalam pembukaannya, Wasekjen Hidayatullah Muhammad Isnaeni menyampaikan niat silaturahmi kelembagaan sekaligus mengenalkan jangkauan jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia. Ia menegaskan kepedulian dan fokus Hidayatullah pada program-program sosial serta pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren.

Menjelaskan lebih detail, Kadep Sosial DPP Hidayatullah Imron Faizin memaparkan kiprah nyata program sosial Hidayatullah, khususnya di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta respons penanganan bencana. Hidayatullah aktif menggelar aksi pemulihan (recovery) melalui SAR Hidayatullah yang dilanjutkan dengan program rehabilitasi pascabencana. Selain itu, Hidayatullah menjalankan program reguler Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang membina anak-anak dari keluarga kurang mampu di pondok pesantren binaan se-Indonesia.

Wamensos RI Agus Jabo Priyono menyambut hangat kehadiran delegasi Hidayatullah. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara Kemensos RI dan ormas Islam seperti Hidayatullah sangat penting dan strategis karena memiliki jaringan luas hingga pelosok daerah. Wamensos menyoroti beberapa potensi sinergi strategis yang dapat dikerjasamakan.

“Peluang kerjasama ini mulai dari program Sekolah Rakyat, khususnya dalam pengadaan dan penyediaan guru agama, program Kebencanaan, penguatan respons dan rehabilitasi bersama jaringan relawan dan juga perlindungan Sosial (Perlinsos) Digital, yakni sistem pendaftaran dan pembaruan data secara mandiri untuk meningkatkan akurasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT),” ungkap Wamensos RI, Agus Jabo Priyono.

Sebagai langkah konkret, Wamensos berharap dapat mengagendakan pertemuan lanjutan pada bulan November ini untuk membahas teknis pelaksanaan dan skema kerja sama secara lebih mendalam.

“Peluang kerja sama ini harus segera kita konkritkan. Saya berharap dalam bulan November ini sudah ada pertemuan teknis agar program-program tersebut bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan,” tegas Wamensos RI

Dari Monas, Hidayatullah Ajak Umat Islam Terus Berjuang untuk Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada seruan dan kegiatan seremonial. Kepedulian tersebut harus diwujudkan melalui edukasi, donasi kemanusiaan, dan doa yang berkelanjutan.

Pesan itu disampaikan Dr. (Cand.) Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy., MIRK, dari Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dalam orasi pada kegiatan Grand Opening Bulan Solidaritas Palestina di Plaza Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad (01/11/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Aqsa Working Group (AWG) tersebut menjadi momentum untuk kembali meneguhkan dukungan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Dalam orasinya, Rasfiuddin mengawali dengan mengingatkan pentingnya persaudaraan sesama orang beriman. Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang mengibaratkan orang-orang beriman seperti satu tubuh, yang turut merasakan sakit ketika salah satu bagiannya mengalami penderitaan.

Menurutnya, penderitaan rakyat Palestina semestinya turut dirasakan oleh umat Islam dan mendorong lahirnya kepedulian nyata.

Ia kemudian mengajak peserta untuk menegaskan komitmen mereka dalam membela Palestina.

“Kalau saya bertanya, sampai kapan kita berdiri membela Palestina?” serunya.

Peserta aksi menjawab serentak, “Sampai Palestina merdeka!”

Seruan tersebut menjadi penegasan bahwa dukungan terhadap Palestina harus terus dijaga hingga kemerdekaan terwujud.

Pertama, Jangan Abaikan Edukasi Palestina

Rasfiuddin menyampaikan bahwa salah satu langkah penting dalam mendukung Palestina adalah memperkuat edukasi, terutama bagi generasi muda.

Ia mengingatkan agar anak-anak Indonesia tidak sampai menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi tanpa memahami sejarah Palestina, kedudukan Masjid Al-Aqsa, dan alasan wilayah tersebut disebut sebagai tanah yang diberkahi dalam Al-Qur’an.

Menurutnya, pengetahuan tentang Palestina perlu menjadi bagian dari pendidikan keluarga maupun lembaga pendidikan formal.

“Kami juga mengajak rekan-rekan yang mengelola lembaga pendidikan untuk memasukkan kurikulum, memasukkan edukasi kepada anak-anak kita tentang Palestina,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa edukasi merupakan fondasi untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap persoalan Palestina.

Rasfiuddin juga mengingatkan bahwa umat Islam perlu mengambil bagian dalam ikhtiar mendukung perjuangan tersebut. Jangan sampai ketika Palestina meraih kemerdekaan, umat Islam justru tidak turut mengambil bagian dalam perjalanan perjuangannya.

Kedua, Salurkan Donasi Terbaik

Langkah kedua yang disampaikan Rasfiuddin adalah memperkuat bantuan kemanusiaan melalui donasi.

Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lembaga dan platform donasi yang tepercaya guna membantu rakyat Palestina, khususnya mereka yang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Menurutnya, kepedulian perlu diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing.

“Jangan sampai kita melihat peristiwa ini, tetapi tidak pernah mengeluarkan donasi terbaik kita untuk Palestina,” pesannya.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya menyampaikan simpati, tetapi juga berkontribusi dalam meringankan beban rakyat Palestina melalui bantuan kemanusiaan yang disalurkan secara bertanggung jawab.

Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas harus diwujudkan melalui langkah konkret, bukan sekadar slogan.

Ketiga, Jangan Lupakan Palestina dalam Doa

Selain edukasi dan donasi, Rasfiuddin menekankan pentingnya doa sebagai bagian dari ikhtiar umat Islam.

Ia mengajak kaum Muslimin untuk senantiasa mendoakan rakyat Palestina, terutama dalam setiap pelaksanaan shalat lima waktu.

Menurutnya, doa merupakan bentuk pengharapan kepada Allah SWT agar rakyat Palestina memperoleh pertolongan, perlindungan, kekuatan, dan kemerdekaan.

Ia berharap Palestina tidak hanya menjadi perhatian ketika berlangsung aksi solidaritas, tetapi terus hadir dalam doa dan kepedulian umat Islam setiap hari.

Solidaritas Tidak Berhenti di Monas

Menutup orasinya, Rasfiuddin kembali mengajak peserta untuk meneguhkan komitmen dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Seruan “Free, Free Palestine!” menggema di tengah peserta aksi, disertai pekikan takbir dan jawaban serentak bahwa dukungan akan terus diberikan sampai Palestina merdeka.

Pesan utama orasi tersebut menegaskan tiga bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan masyarakat: edukasi untuk membangun kesadaran, donasi untuk menghadirkan bantuan nyata, dan doa untuk menguatkan ikhtiar spiritual.

Ketiganya diharapkan menjadi bagian dari gerakan solidaritas yang berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, maupun masyarakat luas.

Dengan demikian, dukungan terhadap Palestina tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai Palestina merdeka!

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: IMG-20261102-WA0089-edited.jpg

Silatnas Alumni UIM, Dr. Nashirul Haq Ungkap Dua Kunci Sukses Dakwah Membangun Peradaban

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perkumpulan Alumni Jami’ah Islamiyah Madinah (PAJIM) menggelar Silaturrahim Nasional (Silatnas) IV pada Sabtu–Ahad, 31 Oktober – 1 November 2026 di Hotel Balairung Matraman, Jakarta Pusat.

Pada sesi ramah tamah menghadirkan sejumlah narasumber, diantaranya; K.H. Ahmad Cholil Ridwan, Lc, KH. Tol’at Wafa, Lc, Dr KH. Zaitun Rasmin Lc, M.A, KH. Nashirul Haq Marling, Lc, M.A. Ph.D. dan KH. Budi Azhari, Lc. Sesi ini dipandu moderator: K.H. Khudori Lc. Sabtu, (31/10/2026).

Dalam pemaparannya, KH. Nashirul Haq., Lc., MA., Ph.D. menjelaskan secara singkat makna tema: “Persaudaraan Madinah, dari Madinah Ilmu ke Madinah Amal, menuju Madinah Peradaban.”

Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah itu menegaskan dua syarat kesuksesan dakwah dalam membangun Peradaban IsIam. “Pertama, Bashirah, yakni harus berlandaskan iman, ilmu dan manhaj yang benar. Kedua, harus ada kepemimpinan (qiyadah) dan manajemen (idarah) .” Jelas Nashirul Haq mengutip ayat dalam Surat Yusuf 108.

Nashirul menekankan bahwa Perkumpulan Alumni merupakan wadah strategis untuk menghimpun berbagai potensi alumni yang telah berkiprah di bermacam sektor—mulai dari ulama, akademisi, pejabat, politisi, hingga pengusaha. Menurutnya, potensi besar ini perlu dikonsolidasikan agar memberikan dampak dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Pertemuan ini hendaknya berlanjut pada perencanaan dan komunikasi menuju kolaborasi. Kebanggaan masa lalu harus menjadi tanggung jawab masa depan,” tegas Ketua Umum DPP Hidayatullah periode 2015–2025 tersebut, sembari berharap forum ini tidak berhenti sebagai ajang nostalgia semata.

Rangkaian acara Silatnas IV PAJIM berlanjut hingga Ahad dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional alumni UIM lainnya, di antaranya Wakil Ketua MPR-RI Dr. K.H. Hidayat Nur Wahid, M.A., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal, Lc., serta mantan Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Said Agil Munawwar, M.A.

Dari Monas, Hidayatullah Ajak Umat Islam Terus Berjuang untuk Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada seruan dan kegiatan seremonial. Kepedulian tersebut harus diwujudkan melalui edukasi, donasi kemanusiaan, dan doa yang berkelanjutan.

Pesan itu disampaikan Dr. (Cand.) Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy., MIRK, dari Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dalam orasi pada kegiatan Grand Opening Bulan Solidaritas Palestina di Plaza Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad (1/11/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Aqsa Working Group (AWG) tersebut menjadi momentum untuk kembali meneguhkan dukungan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Dalam orasinya, Rasfiuddin mengawali dengan mengingatkan pentingnya persaudaraan sesama orang beriman. Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang mengibaratkan orang-orang beriman seperti satu tubuh, yang turut merasakan sakit ketika salah satu bagiannya mengalami penderitaan.

Menurutnya, penderitaan rakyat Palestina semestinya turut dirasakan oleh umat Islam dan mendorong lahirnya kepedulian nyata.

Ia kemudian mengajak peserta untuk menegaskan komitmen mereka dalam membela Palestina.

“Kalau saya bertanya, sampai kapan kita berdiri membela Palestina?” serunya.

Peserta aksi menjawab serentak, “Sampai Palestina merdeka!”

Seruan tersebut menjadi penegasan bahwa dukungan terhadap Palestina harus terus dijaga hingga kemerdekaan terwujud.

Pertama, Jangan Abaikan Edukasi Palestina

Rasfiuddin menyampaikan bahwa salah satu langkah penting dalam mendukung Palestina adalah memperkuat edukasi, terutama bagi generasi muda.

Ia mengingatkan agar anak-anak Indonesia tidak sampai menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi tanpa memahami sejarah Palestina, kedudukan Masjid Al-Aqsa, dan alasan wilayah tersebut disebut sebagai tanah yang diberkahi dalam Al-Qur’an.

Menurutnya, pengetahuan tentang Palestina perlu menjadi bagian dari pendidikan keluarga maupun lembaga pendidikan formal.

“Kami juga mengajak rekan-rekan yang mengelola lembaga pendidikan untuk memasukkan kurikulum, memasukkan edukasi kepada anak-anak kita tentang Palestina,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa edukasi merupakan fondasi untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap persoalan Palestina.

Rasfiuddin juga mengingatkan bahwa umat Islam perlu mengambil bagian dalam ikhtiar mendukung perjuangan tersebut. Jangan sampai ketika Palestina meraih kemerdekaan, umat Islam justru tidak turut mengambil bagian dalam perjalanan perjuangannya.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Dari-Monas-HidayatullahRaspi.jpg

Kedua, Salurkan Donasi Terbaik

Langkah kedua yang disampaikan Rasfiuddin adalah memperkuat bantuan kemanusiaan melalui donasi.

Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lembaga dan platform donasi yang tepercaya guna membantu rakyat Palestina, khususnya mereka yang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Menurutnya, kepedulian perlu diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing.

“Jangan sampai kita melihat peristiwa ini, tetapi tidak pernah mengeluarkan donasi terbaik kita untuk Palestina,” pesannya.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya menyampaikan simpati, tetapi juga berkontribusi dalam meringankan beban rakyat Palestina melalui bantuan kemanusiaan yang disalurkan secara bertanggung jawab.

Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas harus diwujudkan melalui langkah konkret, bukan sekadar slogan.

Ketiga, Jangan Lupakan Palestina dalam Doa

Selain edukasi dan donasi, Rasfiuddin menekankan pentingnya doa sebagai bagian dari ikhtiar umat Islam.

Ia mengajak kaum Muslimin untuk senantiasa mendoakan rakyat Palestina, terutama dalam setiap pelaksanaan shalat lima waktu.

Menurutnya, doa merupakan bentuk pengharapan kepada Allah SWT agar rakyat Palestina memperoleh pertolongan, perlindungan, kekuatan, dan kemerdekaan.

Ia berharap Palestina tidak hanya menjadi perhatian ketika berlangsung aksi solidaritas, tetapi terus hadir dalam doa dan kepedulian umat Islam setiap hari.

Solidaritas Tidak Berhenti di Monas

Menutup orasinya, Rasfiuddin kembali mengajak peserta untuk meneguhkan komitmen dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Seruan “Free, Free Palestine!” menggema di tengah peserta aksi, disertai pekikan takbir dan jawaban serentak bahwa dukungan akan terus diberikan sampai Palestina merdeka.

Pesan utama orasi tersebut menegaskan tiga bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan masyarakat: edukasi untuk membangun kesadaran, donasi untuk menghadirkan bantuan nyata, dan doa untuk menguatkan ikhtiar spiritual.

Ketiganya diharapkan menjadi bagian dari gerakan solidaritas yang berkelanjutan, baik di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, maupun masyarakat luas.

Dengan demikian, dukungan terhadap Palestina tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai Palestina merdeka!

Auditor Halal sebagai Mata Rantai Kebaikan dalam Pengabdian

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad mengajak auditor halal di Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah untuk melihat pekerjaan mereka sebagai amanah sekaligus nikmat yang patut disyukuri. Menurutnya, tugas pemeriksaan halal bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar mengembalikan manusia kepada fitrah dan menghadirkan ketenangan bagi umat Islam.

Pesan tersebut disampaikan Naspi dalam tausiyah selepas Sholat Subuh pada kegiatan Gathering Auditor Nasional LPH Hidayatullah dengan tema “Penguatan Kinerja dan Integritas Auditor Halal”.

Naspi mengawali tausiyah dengan mengajak peserta merenungkan nikmat kehidupan yang kerap luput disadari. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak sepenuhnya memiliki kendali atas dirinya, termasuk ketika tidur dan bangun. “Alhamdulillah, Allah yang membangunkan kita. Allah yang menghidupkan kita,” kata Kiai Naspi di daerah Puncak Bogor, Sabtu (31/10/2026).

Alumni Universitas Islam Madinah ini kemudian mengajak auditor untuk tidak mudah membandingkan kehidupan dan pekerjaan mereka dengan orang lain. Menurutnya, kebiasaan melihat kelebihan orang lain sering kali membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang telah dimiliki.

Padahal, pekerjaan sebagai auditor halal memiliki banyak sisi yang patut disyukuri. Naspi mencontohkan, auditor tidak harus bekerja sepanjang malam seperti sebagian pekerja lain yang harus beraktivitas ketika orang kebanyakan beristirahat. “Pekerjaan kita sebagai auditor ini sebenarnya luar biasa indahnya,” katanya.

Naspi menilai, kesempatan bekerja, beristirahat, dan menikmati waktu bersama keluarga merupakan nikmat yang perlu disadari. Karena itu, auditor perlu membangun cara pandang yang lebih positif terhadap amanah yang dijalankan.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan berpikir, menganalisis, dan membandingkan merupakan pemberian Allah. Namun, kemampuan tersebut seharusnya digunakan untuk memperkuat rasa syukur, bukan justru menjadi alasan untuk mengingkari nikmat.

Dalam tausiyahnya, Naspi mengajak peserta menggunakan pendekatan counter attack thinking, yakni melihat suatu keadaan dari sudut pandang sebaliknya untuk memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Ia mengajak auditor membayangkan bagaimana kondisi ekosistem halal di Indonesia jika LPH Hidayatullah tidak hadir. Artinya, halal merupakan kebutuhan dasar umat Islam, bukan sekadar gaya hidup. Kehadiran lembaga pemeriksa halal bukanlah pencipta kebutuhan tersebut, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melembagakan dan melayani fitrah manusia terhadap sesuatu yang halal. “Halal itu adalah basic need, kebutuhan dasar,” tegasnya.

Naspi menjelaskan, kebutuhan terhadap halal akan tetap tumbuh seiring kesadaran masyarakat, pertimbangan logis, dan pengalaman historis umat Islam. Lembaga pemeriksa halal hadir untuk membantu memastikan kebutuhan tersebut terpenuhi melalui proses pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, auditor halal memiliki peran penting dalam memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai produk yang dikonsumsi maupun digunakan.

Naspi menekankan, ketenangan umat dalam mengonsumsi produk halal merupakan sesuatu yang sangat bernilai. Menurutnya, auditor patut bersyukur karena dilibatkan dalam ikhtiar menghadirkan ketenangan tersebut. “Bayangkan, memberikan ketenangan itu bukan domain kita. Itu domain Allah. Dan kita bersyukur dilibatkan oleh Allah,” ujarnya.

Ia berharap pekerjaan auditor halal tidak berhenti pada pemenuhan prosedur pemeriksaan, tetapi juga menjadi bagian dari amal kebaikan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Kolaborasi dan Komitmen Keislaman

Naspi juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar LPH Hidayatullah yang telah membangun jaringan pelayanan di berbagai daerah. Ia menyebut jaringan Hidayatullah telah menjangkau 38 provinsi dan 428 kabupaten/kota, dengan lebih dari 600 pesantren di penjuru nusantara.

Ia mengapresiasi para auditor yang bersedia bergabung dalam satu mata rantai kebaikan melalui LPH Hidayatullah. Menurutnya, meskipun para auditor menjalankan amanah melalui lembaga tertentu, tujuan yang hendak dicapai lebih luas daripada kepentingan organisasi.

“Jazakallah terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak-bapak atas perkenannya untuk bergabung dalam satu mata rantai kebaikan ini,” tuturnya.

Naspi menegaskan bahwa kerja membangun kehidupan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja. Kolaborasi menjadi kebutuhan penting agar berbagai elemen umat dapat saling menguatkan dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Melalui tausiyah tersebut, Naspi berharap para auditor LPH Hidayatullah semakin menyadari bahwa tugas pemeriksaan halal merupakan amanah yang mengandung nilai ibadah dan kemaslahatan umat.

Terakhir, Naspi juga mengajak auditor untuk menjalankan pekerjaan dengan penuh rasa syukur, memperkuat komitmen keislaman, serta menjaga semangat kolaborasi dalam melayani masyarakat dan umat.

Dengan demikian, pemeriksaan halal tidak hanya menjadi bagian dari sistem jaminan produk halal, tetapi juga menjadi ikhtiar bersama untuk menghadirkan ketenangan dan kebaikan bagi umat Islam.

National Leadership Academy 2026 Bahas Peran Strategis Pemuda Menyongsong Indonesia Maju

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Pengusaha nasional Mazz Reza Pranata menjadi narasumber dalam kegiatan National Leadership Academy 2026 yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) yang digelar di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertanian, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 19 Jumadil Awal 1448 (30/10/2026).

Mengangkat materi bertajuk “Peran Strategis Pemuda Indonesia”, Mazz Reza Pranata mengajak mahasiswa terpilih dari berbagai provinsi untuk memahami potensi besar Indonesia dalam menyongsong masa depan.

Menurutnya, Indonesia memiliki modal demografi dan kekuatan ekonomi yang besar untuk menjadi negara maju. Namun, potensi tersebut harus diiringi dengan kualitas sumber daya manusia, kompetensi, serta kepemimpinan generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah keahlian masa depan yang penting untuk dikuasai anak muda, merujuk pada berbagai tren dan data World Bank.

Keahlian itu di antaranya adalah kemampuan digital dan teknologi, kreativitas dan inovasi, kewirausahaan dan bisnis, kepemimpinan, serta berpikir kritis.

Keahlian tersebut menurutnya menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk beradaptasi, menciptakan peluang, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. “Anak muda hari ini harus menyadari bahwa perubahan terjadi begitu cepat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya nilai-nilai (values) sebagai fondasi bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi dan kompetisi yang semakin dinamis, nilai-nilai yang dipegang seseorang akan menjadi pembeda sekaligus penuntun dalam menentukan arah tindakan dan pengabdian.

Dia menegaskan, generasi hari ini tidak cukup hanya menjadi penonton atau sekadar mengikuti arus perubahan. Pemuda harus mempersiapkan diri dengan kompetensi, keberanian berinovasi, dan kemampuan memimpin agar mampu mengambil peran strategis dalam masa depan Indonesia.

“Anak muda Hidayatullah harus memiliki values yang kuat. Keahlian dan kecakapan memang penting, tetapi nilai-nilai itulah yang membuat kita berbeda dengan orang lain. Values menjadi kompas agar kita tidak kehilangan arah di tengah perubahan, sekaligus memastikan bahwa setiap kemampuan yang kita miliki membawa manfaat bagi masyarakat dan bangsa,” terangnya.

Melalui materi tersebut, peserta National Leadership Academy 2026 diharapkan semakin memahami pentingnya mempersiapkan diri sebagai generasi pemimpin yang kompeten, adaptif, berkarakter, dan mampu mengambil peran nyata dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan bersatu.

KH. Naspi Arsyad Sebut Integritas Auditor Halal Harus Berangkat dari Komitmen Keislaman

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, mengajak auditor halal di Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah untuk memperkuat integritas, komitmen keislaman, dan semangat kolaborasi dalam menjalankan tugas pemeriksaan halal.

Pesan tersebut disampaikan Naspi dalam kegiatan Gathering Auditor Nasional LPH Hidayatullah bertemakan “Penguatan Kinerja dan Integritas Auditor Halal”.

Menurut Naspi, penguatan peran auditor halal tidak cukup hanya bertumpu pada kemampuan teknis pemeriksaan. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran bahwa pekerjaan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik melalui penerapan nilai-nilai Islam.

Ia menjelaskan, dalam konteks sejarah Hidayatullah sejak awal berdiri tahun 1970 an, memutus paradigma bahwa pesantren bukan semata-mata institusi pendidikan yang berorientasi pada pengajaran kitab, bahasa Arab, atau bahasa Inggris. Pesantren memiliki peran lebih luas, yakni membangun kesadaran masyarakat untuk menjalankan Islam secara lebih baik.

“Baca kitab, bahasa Arab, dan bahasa Inggris itu hanyalah alat. Di Hidayatullah inti dari pesantren adalah membangun kesadaran masyarakat bagaimana berislam lebih baik,” ujar Kiai Naspi di tengah 84 peserta auditor yang hadir dari berbagai daerah, di Bogor, 30 Oktober 2026.

Naspi mengingatkan bahwa paradigma tersebut juga relevan dengan kerja LPH Hidayatullah dan auditor halalnya. Pemeriksaan dan sertifikasi halal bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian dari upaya menghadirkan kepastian halal bagi masyarakat.

Naspi mencontohkan, kehalalan produk menjadi perhatian penting karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari umat Islam. Bahkan, menurutnya, keyakinan dan ketenangan seseorang dalam beribadah juga berkaitan dengan apa yang dikonsumsi. “Ini juga berkaitan dengan doa-doa yang akan di ijabah,”sambungnya.

Karena itu, auditor halal memiliki tanggung jawab untuk menjalankan pemeriksaan secara sungguh-sungguh, objektif, dan berintegritas. Kepercayaan masyarakat terhadap produk halal harus dibangun melalui proses pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kesempatan tersebut, Naspi juga menekankan pentingnya kolaborasi antarorganisasi dan elemen umat Islam. Menurutnya, tidak ada satu organisasi kemasyarakatan Islam pun yang dapat bekerja sendiri dalam membangun kehidupan umat.

“Sehebat-hebatnya NU, Muhammadiyah dengan amal usahanya yang besar, Al-Washliyah, maupun Hidayatullah, tidak bisa berjalan sendiri. Tidak ada yang bisa sekuat apa pun organisasinya, kecuali dengan cara kolaborasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, Hidayatullah tidak bermaksud menyeragamkan latar belakang organisasi maupun identitas para auditor yang terlibat. Sebaliknya, Hidayatullah membuka ruang kerja sama dengan berbagai kalangan untuk mencapai tujuan bersama.

Naspi juga menguraikan prinsip syahadah Rasul yang menurutnya tidak sebatas mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam aspek ibadah dan akhlak, tetapi juga meneladani cara Rasulullah membangun tatanan kehidupan Islam secara menyeluruh.

Ia menyebut proses pembentukan masyarakat Islam yang dilakukan Rasulullah selama 23 tahun sebagai pelajaran penting tentang perlunya tahapan, keteraturan, dan kebersamaan dalam membangun sebuah sistem.

Dalam konteks itu, Naspi memperkenalkan konsep sistematika wahyu yang menjadi tuntunan bagi kader di Hidayatullah. Diantara muatan materinya yakni sebagai gambaran keteraturan dalam membangun kehidupan keislaman. Menurutnya, setiap pekerjaan, termasuk pemeriksaan halal, membutuhkan sistem dan mekanisme yang jelas agar tujuan dapat dicapai dengan baik. “Tidak ada satu pekerjaan dan mekanisme di dunia ini, sesederhana apa pun, yang tidak memiliki keteraturan,” ungkapnya.

Melalui gathering tersebut, Naspi berharap para auditor LPH Hidayatullah semakin memahami bahwa tugas pemeriksaan halal merupakan amanah yang membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, serta komitmen bersama.

Ia menegaskan, semangat kolaborasi dan keteraturan menjadi modal penting bagi Hidayatullah untuk terus berkontribusi dalam membangun ekosistem halal sekaligus memperkuat pelayanan kepada umat.