Beranda blog

LDK STAIL Bersama Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusian di Bengkulu

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi dampak serius dan kian luas dari wabah Covid-19, LDK Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Rumah Quran Al-Fatih bersama corwdfunding pemuda.org serta Bunda Al-Fatih menggelar aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan berupa pembagian paket sembako itu menyasar   warga terdampak Covid-19.

Aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di Desa Padang Kedeper, Kecamatan MErigi, Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Kamis (16/4).

Ketua LDK STAIL Surabaya, Ahlun Nazir mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk tanggung jawab kaum muda yang masih menimba ilmu perihal kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Aksi yang LDK STAIL lakukan hari ini bersama Rumah Quran Al-Fatih, pemuda.org dan Bunda Al-Fatih adalah wujud tanggung jawab sosial guna mengasah kepekaan dan kepedulian kaum muda. Ternyata di lapangan kami mendengar langsung tangisan, keluhan, dan rasa syukur orang-orang yang menerima manfaat dari program ini. Ini adalah pembelajaran sangat berarti bagi kami anak-anak muda,” kata Ahlun Nazir.

Pada tahap awal ini,  20 paket bantuan ketahanan pangan telah disalurkan.  Para  penerima manfaat  adalah 14 orang dari kelompok lansia (14 orang),  orang anak yatim (empat orang),  orang sakit (satu orang)  dan  disabilitas (satu orang).

Aksi kemanusiaan ini mendapatkan tanggapan  positif Kepala Desa Padang Kedeper, Sudirjono. “Kami tak melihat berapa yang kalian berikan kepada warga kami, tapi kepedulian kalian ini adalah anugerah besar bagi kami. Semoga semakin banyak lahir pemuda-pemuda yang seperti kalian, peduli dan bertindak langsung menolong orang yang membutuhkan uluran tangan,” ucapnya.

Demikian pula para penerima manfaat.  Mereka tidak saja berterima kasih,  tetapi juga ada rasa haru dan bangga. Sebab,  yang datang mengantarkan bantuan adalah sekolompok anak-anak muda. 

Sementara itu, General Manager pemuda.org Ainuddin Chalik mengatakan, pihaknya memang selalu membuka diri dalam sinergi kemanusiaan khususnya di tengah wabah seperti sekarang.

“Pemuda.org adalah crowdfunding yang dikelola oleh Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, senantiasa siap dan terbuka untuk sinergi program dan aksi kemanusiaan. Alhamdulillah, kami telah melakukan aksi kemanusiaan tersebut  di Depok, Lombok, sekarang Bengkulu dan akan disusul di beberapa daerah lainnya,” tutupnya.

SAR Hidayatullah dan BMH Turun ke Banjir Konawe

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Tim relawan Hidayatullah bergerak menuju lokasi terdampak banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan telah menyalurkan bantuan, Senin (10/06/2019).

Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Ahmad Hamim menjelaskan, sejak Senin tadi ada dua tim yang bergerak ke lokasi banjir di Sultra.

Lokasi menuju Konawe masih sulit ditembus hingga Senin sore waktu setempat. Namun demikian, tim SAR terus berusaha agar bisa segera sampai di lokasi bencana.

“Akses jalan banyak yang terputus, saat ini tim sedang berusaha mencari jalur untuk bisa masuk ke Konawe Utara,” ujar Hamim.

Sementara itu, relawan BMH-Hidayatullah sudah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada sebagian korban bencana langsung di TKP.

“Alhamdulillah tadi siang kami juga sudah turunkan bantuan logistik dari BMH untuk bantuan kepada salah satu desa yang terdampak parah banjir,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Konawe Utara Sulaiman Muadz kepada hidayatullah.com secara terpisah.

Bantuan tersebut diserahkan ke posko warga yang berada di luar lokasi banjir parah, sebab untuk menuju titik lokasi banjir terparah masih sulit.

“Air masih tinggi sehingga kami nda bisa masuk ke dalam menemui warga setempat,” jelas Sulaiman.

Masyarakat pun sangat menyambut baik kedatangan relawan dan bantuan tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat setempat korban banjir memprihatinkan.

“Memprihatinkan karena baru kami yang bisa bawa bantuan banyak kepada mereka dan baru hari itu juga mereka dapat bantuan setelah beberapa hari mereka terdampak banjir nda ada bantuan masuk dari pemerintah maupun relawan,” ungkapnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi.

Sebanyak enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.

Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan 72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha.

Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentifikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan.

BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit, dan pustu 2 unit.

Berita terkini seputar aksi Hidayatullah Peduli lainnya dapat juga dilihat di Facebook fanpage SAR Hidayatullah di @sarhidayatullah.id atau melalui website www.sarhidayatullah.com. (ybh/hio)

Dorong Kesehatan Masyarakat, Ribuan Anak di Bogor Diteliti IMS Center

Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI

Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI

HIDORID — Lembaga layanan kesehatan masyarakat nasional milik Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) Pusat, melakukan penelitian kesehatan kepada 2.400 orang anak di di wilayah Parung Panjang, Kota Bogor, Jawa Barat. Dalam penelitiannya, IMS secara seksama mempelajari dampak akumulasi feses terhadap lingkungan.

Manajer Program dan Pemberdayaan Komunitas IMS, Muhammad Adnan, mengatakan salah satu faktor dipilihnya wilayah Parung, Jawa Barat, menjadi pusat penelitian IMS dikarenakan  mayoritas ekonomi serta kesadaran tentang kesehatan masyarakatnya masih terbilang rendah dan berada pada taraf ekenomi tidak mampu

“Wilayah ini tidak jauh dari Ibu Kota Negara Indonesia yang hanya membutuhkan waktu 3-4 jam, namun masih jauh dari kebutuhan layanan kesehatan yang memadai,” kata Adnan dalam siaran persnya, beberapa waktu lalu.

Adnan menerangkan, hasil dari penelitian IMS Center tersebut diharapkan akan menjadi acuan dasar untuk mengetahui dengan pasti infeksi penyakit yang diderita mayoritas anak-anak khususnya di wilayah Jawa Barat sehingga program-program kesehatan yang akan dilakukan baik swasta maupun pemerintah akan lebih tetap sasaran.

Selain melakukan penelitian feces, team medis IMS dekat juga mengadakan penyuluhan kesehatan serta Medical Check-Up (MCU) kepada seluruh anak-anak yang diteliti dan masyarakat di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat, sebagai media pendukung keakuratan hasil penelitian feces terhadap anak-anak dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan anak.

Program penelitian dan kegiatan sosial ini didukung oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Bank Syariah Mandiri. Adnan menyebutkan pihaknya juga membuka dompet donasi untuk mendukung program keummatan untuk layanan sosial IMS.

Bagi Anda pemerhati kesehatan umat dapat mendonasikan bantuannya melalui rekening Bank BCA 496.019.291.1 A.N Layanan Kesehatan Islam. (ybh/hio)

Mushida Jakarta Selatan Dorong Muslimah Berhijab Tetap Semangat di Usia Senja

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jakarta Selatan menggelar kegiatan inspiratif dalam rangka memperingati Hari Solidaritas Hijab Internasional (International Hijab Solidarity Day) di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, Jumat (18/09/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat semangat agar setiap Muslimah yang berhijab tetap menjalani kehidupan dengan penuh semangat, produktif, dan terus menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Pesan itu disampaikan Pengawas Brand Muslimah Vanilla Hijab, Bunda Aisah, yang hadir sebagai narasumber dalam sesi talkshow. Ia mengingatkan para Muslimah agar tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan.

“Muslimah itu harus punya semangat. Jangan terjebak oleh usia. Usia boleh terus bertambah, jadi lansia bahkan. Tapi jangan merasa sudah tua, sudah nenek-nenek, lalu hidup tidak semangat. Tidak boleh,” tegasnya di hadapan peserta yang sebagian besar merupakan lansia.

Perempuan yang kini berusia 68 tahun itu juga mendorong para Muslimah untuk semakin banyak melakukan kebaikan seiring bertambahnya usia.

“Ayo perbanyak berbuat baik, hadirkan manfaat tidak saja bagi diri sendiri melalui ibadah, tetapi juga bagi masyarakat luas dengan berbagi. Dan ingat, jangan berbuat tidak baik, ghibah misalnya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Aisah juga mengajak para Muslimah untuk terus menjaga komitmen dalam berhijab. Menurutnya, hijab merupakan bagian dari perintah Allah yang perlu dijalankan dengan penuh kebanggaan.

“Hijab itu perintah Allah, wajib kalau Muslimah menggunakan hijab. Hebatnya ajaran hijab ini, sekarang seluruh dunia ada orang yang berhijab. Mau ke Amerika, China, Eropa, di mana pun ada orang berhijab,” ujarnya.

Ia pun mengajak para Muslimah untuk menanamkan kebanggaan berhijab kepada generasi muda.

“Jadi ayo terus berhijab, kita tanamkan kebanggaan kepada anak-anak generasi umat ini bahwa hijab itu baik, hijab itu perlu dan hijab itu penting,” tegasnya.

Hari Solidaritas Hijab Internasional diperingati setiap 4 September sejak 2004. Peringatan ini bertujuan memberikan dukungan dan solidaritas terhadap kebebasan berhijab, terutama menyusul berbagai pelarangan penggunaan hijab di sejumlah negara.

DPP Hidayatullah Kunjungi Al-Izzah IIBS Batu, Dalami Model Pendidikan Profesional

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah melanjutkan agenda silaturahmi dan benchmarking organisasi dengan mengunjungi Al-Izzah Leadership & International Islamic Boarding School (IIBS) Batu, Malang, Jawa Timur.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah menggali praktik pengelolaan pendidikan yang dapat memperkuat mutu lembaga pendidikan Hidayatullah dalam memasuki fase perjalanan 50 tahun kedua.

Setibanya di lokasi, rombongan diajak meninjau kompleks pendidikan Al-Izzah IIBS yang memisahkan kampus putra dan putri. Rombongan melihat langsung berbagai fasilitas pendidikan, mulai dari gedung pembelajaran, penataan lingkungan, hingga sport center yang berada di antara kedua kampus.

Berdiri sejak 2006, Al-Izzah IIBS Batu mengembangkan pendidikan dengan empat pilar utama, yakni adab, akhlak mulia, leadership, dan tahfiz Al-Qur’an. Sistem pendidikannya mengintegrasikan kurikulum nasional, kurikulum internasional Cambridge Assessment International Education, serta kurikulum muadalah Universitas Islam Madinah.

Selain penguatan akademik melalui program Olimpiade Sains, Bahasa, dan Matematika, pembinaan santri diarahkan pada pembentukan kepemimpinan, kedisiplinan adab harian, dan pencapaian target hafalan Al-Qur’an. Ekosistem pembelajaran juga dirancang dengan memperhatikan wellbeing dan kenyamanan fisik, spiritual, serta kesehatan mental santri.

Usai peninjauan, rombongan diterima KH Dr. Ali Imron, founder sekaligus pembina Al-Izzah yang juga menjadi Komite Pakar Hidayatullah bidang pendidikan.

Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, Muzakkir, menyampaikan maksud kunjungan sekaligus memperkenalkan rombongan. Ia menegaskan pentingnya peningkatan mutu pendidikan integral berbasis tauhid sebagai bagian dari agenda Hidayatullah memasuki 50 tahun kedua.

Menurut Muzakkir, lembaga pendidikan Hidayatullah perlu terus meningkatkan daya saing global sehingga memiliki rekognisi yang lebih luas di tingkat internasional.

Menanggapi hal tersebut, Ali Imron menekankan pentingnya wawasan luas dan keberanian mengambil keputusan transformatif dalam mengelola lembaga pendidikan.

“Etos profetik yang menjadi DNA perjuangan kader Hidayatullah harus diperagakan secara profesional. Jangan sampai nilai profetik dijadikan kedok untuk memaklumi kelolaan yang ‘amatir’, seperti pelayanan yang tidak teratur, kedisiplinan pengajar yang rendah, serta tata kelola santri yang belum terstruktur dengan baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pesantren perlu diwujudkan sebagai miniatur peradaban yang memiliki daya magnet. Dengan demikian, nilai-nilai Islam tidak hanya disampaikan secara verbal, tetapi dapat dilihat, dirasakan, dan dialami secara nyata oleh masyarakat yang berkunjung.

Diskusi kemudian berkembang pada sejumlah persoalan strategis, di antaranya pembinaan alumni dan Sumber Daya Insani (SDI), keberlangsungan pesantren di tengah ketidakpastian ekonomi global, kompetisi dengan program sekolah berasrama yang dibiayai pemerintah, serta tantangan stigma negatif terhadap pesantren terkait isu kekerasan fisik dan bullying.

Menjawab berbagai persoalan tersebut, Ali Imron menekankan pentingnya peningkatan standar pelayanan lembaga pendidikan secara menyeluruh. Pelayanan, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual dan intelektual, tetapi juga harus menjamin wellbeing, kenyamanan, dan perlindungan santri.

Selain itu, jejaring organisasi perlu dioptimalkan untuk menjaga kesinambungan pembinaan alumni. Para lulusan, termasuk alumni Al-Izzah, diharapkan tetap mendapatkan pembinaan melalui jaringan struktur Hidayatullah di berbagai daerah, baik ketika melanjutkan pendidikan tinggi maupun memasuki dunia kerja.

Pertemuan ditutup dengan shalat Dzuhur berjamaah dan makan siang bersama. Setelah itu, rombongan Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah melanjutkan perjalanan menuju Surabaya untuk agenda benchmarking berikutnya.

Kunjungan ke Al-Izzah IIBS Batu menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat pengelolaan pendidikan Hidayatullah agar nilai-nilai Islam tidak berhenti pada doktrin dan simbol, tetapi tercermin dalam kebersihan lingkungan, kerapian tata kelola, kenyamanan sarana belajar, serta profesionalisme para pengelolanya.

Kader Wustha Hidayatullah Didorong Jadi Duta Dakwah di Masyarakat

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Salah satu tugas kader Hidayatullah, khususnya kader Wustha, adalah menjadi duta Hidayatullah di tengah masyarakat. Karena itu, kader diharapkan terus meningkatkan akhlak sekaligus kapasitas diri agar dakwah Hidayatullah semakin diterima luas.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, K.H. Drs. Hamim Thohari, M.Si., saat menutup kegiatan Daurah Marhalah Wustha di Kota Bengkulu, Jumat (18/09/2026).

“Sebagai duta Hidayatullah, para kader Wustha diharapkan terus meningkatkan akhlak mulia sekaligus kapasitasnya, sehingga masyarakat semakin menerima Hidayatullah,” ujar Hamim.

Ia juga berpesan agar kader Hidayatullah memiliki penguasaan teknologi informasi (IT) yang memadai. Menurutnya, kemampuan tersebut penting untuk memperluas jangkauan dakwah di tengah perkembangan teknologi dan media digital.

Selain itu, Hamim menekankan pentingnya membangun kedisiplinan, baik dalam kehidupan keluarga maupun di lingkungan yang lebih luas. Menurutnya, disiplin merupakan salah satu karakteristik dasar seorang jundullah, yakni tentara Allah.

“Karena disiplin itu karakteristik dasar seorang jundullah, tentara Allah,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu, Ustadz Ahmad Suhail, S.Pd., dan Ketua DMW Hidayatullah Bengkulu, Ustadz Drs. Sutrisno Eko Santoso. Sementara Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Fu’ad Fahrudin, M.Pd., mengikuti kegiatan secara daring.

Daurah Marhalah Wustha kali ini diikuti 22 peserta. Selain dari Bengkulu, peserta juga berasal dari sejumlah daerah di Sumatera, yakni Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembinaan kader untuk memperkuat kapasitas, akhlak, kedisiplinan, serta kesiapan mereka dalam menjalankan peran dakwah di tengah masyarakat.

Hidayatullah Bahas Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid di Batam

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama (KU) Pesantren Hidayatullah Batam menggelar sosialisasi dan diskusi tentang Konsep Dasar Pendidikan Hidayatullah di Aula Utama Kampus Batu Aji, Batam, Jumat (18/09/2026), bertepatan dengan 6 Rabiul Akhir 1448 H.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh unsur pendidikan Kampus Utama Batam, mulai dari direktur kampus, rektor, kepala sekolah SMA, SMP, SD, TK, hingga unsur kepengasuhan.

Sebelum diskusi dimulai, kegiatan dibuka oleh Ketua Badan Pembina Kampus Utama Batam, Drs. Nursyamsa Hadis. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa konsep dasar pendidikan Hidayatullah merupakan pengejawantahan visi, misi, dan jati diri Hidayatullah yang dikenal dengan pendidikan berbasis tauhid, bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

“Oleh karena itu, sangat penting dipahami oleh semua pemangku kepentingan di KU Pesantren Hidayatullah Batam sehingga bisa menjadi pedoman dalam penyelenggaraan proses pendidikan,” ujarnya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama Sekjen DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Norpatria, M.Pd., dengan moderator Dr. Sumarno, M.Pd.

Dalam pemaparannya, Dr. Nanang menjelaskan konsep dasar dan sistem pendidikan Hidayatullah yang dikenal dengan istilah Pendidikan Berbasis Tauhid (PIBT) yang telah dipatenkan.

Ia menjelaskan, PIBT merupakan sebuah sistem pendidikan dan budaya yang bertujuan membentuk manusia sempurna yang bertauhid atau yang disebut insan kamil rabbani.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Para peserta mengikuti pembahasan dengan antusias dan terlibat dalam dialog terkait penerapan konsep dasar pendidikan Hidayatullah.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan konsep pendidikan Hidayatullah dapat semakin dipahami dan diterapkan oleh seluruh unsur pendidikan, sekaligus menjadi salah satu solusi dalam menjawab berbagai tantang

BMH dan Pemuda Hidayatullah Ajak 20 Yatim Dhuafa Santap Siang di Bebek Boedjang

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 20 anak yatim dhuafa binaan BMH Kalimantan Barat menikmati santap siang bersama melalui program ATM (Ajak Traktir Makan) di Rumah Makan Bebek Boedjang A Yani 2, Jl. Raya Arteri Supadio, Jumat (18/09/2026).

Program ATM merupakan kegiatan rutin BMH Kalimantan Barat yang dirancang untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus pengalaman baru bagi anak-anak yatim dhuafa.

Kepala Divisi Prodaya (Program dan Pendayagunaan) BMH Kalimantan Barat, Baidai, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kebahagiaan bagi anak-anak binaan BMH.

“Alhamdulillah, kami cukup senang karena bisa bermitra bersama Rumah Makan Bebek Boedjang yang merupakan salah satu mitra kebaikan BMH Kalbar. Boedjang Group memiliki lebih dari 10 outlet yang tersebar di Pontianak, Kubu Raya, Singkawang, dan Jabodetabek, serta selalu mendukung berbagai kegiatan BMH, salah satunya program ATM (Ajak Traktir Makan) ini,” ujarnya.

Bagi pihak Bebek Boedjang, keterlibatan dalam program tersebut juga menjadi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yatim dhuafa.

Dwi, Auditor Internal RM Bebek Boedjang, mengungkapkan kebahagiaannya dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Saya merasa bangga dan bahagia karena bisa menjadi bagian dari kebaikan yang dilakukan oleh RM Bebek Boedjang bersama BMH dengan berbagi kebaikan kepada anak-anak yatim dan dhuafa,” ungkapnya.

Keceriaan anak-anak tidak berhenti pada santap siang. Sebelum pulang, mereka juga mendapatkan santunan dari BMH sebagai bagian dari rangkaian program ATM.

Kegiatan tersebut turut didampingi Jabar Ahmad Al Ghazali, Sekretaris Wilayah Pemuda Hidayatullah Kalimantan Barat, yang menemani anak-anak selama kegiatan berlangsung.

Baidai menyampaikan apresiasi kepada Boedjang Group atas dukungan yang diberikan secara berkelanjutan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Boedjang Group atas support-nya. Semoga sinergi kebaikan ini terus berjalan dan memberikan manfaat bagi lebih banyak anak yatim dhuafa,” katanya.

Melalui program ATM, BMH Kalbar berharap semakin banyak anak yatim dhuafa mendapatkan kesempatan merasakan kebahagiaan, pengalaman baru, dan perhatian dari masyarakat.

Hidayatullah Babel Buka Sinergi Dakwah dan Pembinaan Warga Binaan di Lapas Pangkalpinang

0

PANGKALPINANG (Hidayatullah.or.id) — Kadep. Dakwah & Pelayanan Umat DPW Hidayatullah Bangka Belitung melakukan silaturahmi dengan Kepala Lapas Kelas IIA Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (16/09/2026).

Kadep. Dakwah & Pelayanan Umat DPW Hidayatullah Babel, Ust. Faisal, S.Sos., melakukan silaturahmi dengan Kepala Lapas Kelas IIA Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Silaturahmi ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi serta memperluas dakwah Hidayatullah, khususnya dalam pembinaan dan dakwah di lapas.

Faisal menjelaskan bahwa Hidayatullah merupakan ormas yang mainstream pergerakannya adalah dakwah dan pendidikan, yang secara struktural kepengurusannya telah hadir di 38 provinsi di Indonesia.

Menurut Faisal, silaturahmi ini selain menjadi sarana memperkenalkan dakwah Hidayatullah di instansi pemerintah, juga membuka peluang kolaborasi dalam melakukan pembinaan rohani terhadap warga binaan di Lapas Pangkalpinang.

Faisal menambahkan, Hidayatullah insyaallah siap berkolaborasi dan mengirimkan dai-dai terbaiknya untuk berdakwah di lapas serta memberikan ceramah agama dan sentuhan rohani kepada warga binaan, ujarnya.

Selanjutnya, Kepala Lapas Kelas IIA Kota Pangkalpinang, Febie Dwi Hartanto, A.Md.IP., S.H., M.H., menyampaikan apresiasi dan terima kasih karena telah berkenan bersilaturahmi ke kantornya. Ia menyatakan siap berkolaborasi dengan Ormas Hidayatullah Babel sebagai fasilitator dakwah, khususnya bagi warga binaan Lapas Kota Pangkalpinang.

Ia berharap ke depan Ormas Hidayatullah dapat secara rutin mengirimkan dai-dainya agar warga binaan mendapatkan pencerahan sekaligus semangat untuk terus berbenah diri.

Terakhir, sebelum berpamitan, Faisal memberikan oleh-oleh berupa Majalah Hidayatullah sebagai media untuk mengetahui lebih dalam tentang Ormas Hidayatullah.

Dari Mimbar ke Layar, Abdul Ghofar Hadi Dorong Dai Muda Hidupkan Dakwah Lewat Tulisan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dakwah tidak selalu harus disampaikan dari atas mimbar dan di hadapan ribuan jamaah. Di era digital, sebuah tulisan yang baik dapat menjadi jalan dakwah yang menjangkau pembaca jauh lebih luas.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si saat menjadi narasumber dalam kegiatan Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah (M3H) yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Abdul Ghofar Hadi atau dengan sapaan akrab AGH mendorong para dai muda untuk tidak hanya mempersiapkan diri menjadi penceramah, tetapi juga membangun kemampuan menulis sebagai bagian dari keterampilan dakwah.

“Kita mungkin belum bisa berdiri di mimbar besar di hadapan ribuan pasang mata. Namun, dari sebilah pena, tulisan kita bisa menembus dada ribuan pembaca,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan menulis merupakan salah satu bekal penting bagi dai muda. Tulisan memungkinkan gagasan dan pesan dakwah terus dibaca, dibagikan, dan menjangkau masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.

“Karena itu, mari menulis. Jadikan tulisan sebagai bagian dari dakwah kita. Tulis sesuatu yang bisa mencerahkan dan menerangi jalan umat ini,” pesannya.

Dai Harus Kuat Membaca

AGH mengatakan kemampuan menulis tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan membaca. Seorang dai, menurutnya, harus memiliki daya baca yang kuat agar memiliki wawasan luas dan mampu memahami persoalan umat.

“Dai itu harus kuat membaca. Banyaklah membaca buku, supaya wawasan kita semakin luas. Ketika kita hadir di masjid dan di tengah umat, kita tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga bisa memberikan solusi dan pencerahan,” jelas AGH.

Ia menilai masyarakat saat ini menghadapi persoalan yang semakin beragam. Karena itu, dai perlu memiliki pengetahuan yang cukup agar dakwah yang disampaikan tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi mampu memberikan perspektif dan jawaban terhadap persoalan kehidupan.

Membaca dan menulis, lanjut AGH, merupakan dua keterampilan yang perlu berjalan beriringan. Membaca memperkaya gagasan, sementara menulis menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan tersebut kepada masyarakat.

Dakwah Menjangkau Lebih Luas

Menurut AGH, ruang dakwah saat ini telah berkembang. Masjid dan mimbar tetap menjadi ruang penting dalam menyampaikan dakwah, tetapi perkembangan teknologi menghadirkan ruang baru yang tidak kalah strategis.

Layar telepon pintar, media sosial, portal berita, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Karena itu, dai muda perlu mampu memanfaatkan perkembangan tersebut untuk memperluas jangkauan dakwah.

“Jangan berpikir bahwa dakwah itu hanya ketika kita berdiri di mimbar. Ketika kita menulis sesuatu yang baik, kemudian dibaca banyak orang dan memberikan manfaat, itu juga bagian dari dakwah,” katanya.

Ia mendorong para peserta M3H untuk mulai membiasakan diri menulis, meskipun dimulai dari tulisan-tulisan sederhana.

“Tidak perlu menunggu tulisan kita sempurna. Mulailah menulis. Yang penting ada gagasan yang baik, ada ilmu yang kita bagikan, dan ada manfaat yang bisa dirasakan oleh pembaca,” ujar AGH memberi semangat para dai muda

Dakwah yang Menyejukkan

Selain kemampuan membaca dan menulis, AGH mengingatkan agar dai muda menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan tidak mudah membawa umat pada perdebatan perkara-perkara yang tidak prinsip.

“Jadilah dai yang menyejukkan. Jangan sampai dakwah justru membuat umat terpecah karena persoalan yang remeh atau hal-hal yang bukan prinsip dalam Islam,” pesannya.

Menurutnya, dai memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persaudaraan umat. Pesan dakwah hendaknya disampaikan dengan ilmu, kebijaksanaan, dan cara yang dapat diterima oleh masyarakat.

Mental Kuat dan Ikhlas

Abdul Ghofar juga mengingatkan para dai muda untuk mempersiapkan mental dan menjaga keikhlasan.

“Jalan dakwah itu tidak ringan. Ada banyak tantangan dan ujian. Para nabi juga mengalami berbagai ujian ketika menyampaikan risalah Islam. Karena itu, seorang dai harus memiliki mental yang kuat dan menjaga keikhlasannya,” tuturnya.

Ia berharap para peserta M3H tidak hanya memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga memiliki keteguhan dalam menjalani proses dakwah.

Akhlak Adalah Keteladanan

Hal lain yang tidak kalah penting, kata Abdul Ghofar, adalah menjaga akhlak dan adab ketika berada di tengah umat.

“Dai itu bukan hanya didengar, tetapi juga dilihat dan diperhatikan. Karena itu, perilaku, ucapan, dan penampilan kita harus dijaga. Semua itu ikut menentukan keberhasilan dakwah,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat akan melihat kesesuaian antara pesan yang disampaikan seorang dai dengan perilaku sehari-harinya.

“Kita punya role model, yaitu Rasulullah. Maka yang kita tampilkan kepada umat bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga bagaimana kita bersikap dan berperilaku,” lanjutnya.

Menyiapkan Dai Muda

Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah yang digagas DPW Hidayatullah DKI Jakarta menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri dalam aktivitas dakwah.

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi, S.Th.I., M.Pd, mengatakan program tersebut diarahkan untuk menyiapkan dai muda yang memiliki kapasitas keilmuan, kemampuan komunikasi, serta kesiapan untuk hadir di tengah masyarakat.

“Dakwah membutuhkan kader-kader muda yang siap hadir dan berkhidmat di tengah umat. Melalui Madrasah Muballigh Muda ini, kita ingin memberikan bekal agar mereka tidak hanya mampu menyampaikan pesan dakwah, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

M3H tidak hanya memberikan pembekalan terkait khutbah dan ceramah, tetapi juga mengembangkan kemampuan public speaking, storytelling, bahasa tubuh, dakwah berbasis kebutuhan masyarakat, hingga pemanfaatan media digital.

Melalui program tersebut, Hidayatullah DKI Jakarta berharap lahir dai muda yang mampu memanfaatkan berbagai ruang dakwah dari masjid hingga layar digital.

Jawab Kebutuhan Dai Masjid Ibukota, Hidayatullah DKI Luncurkan Madrasah Muballigh Muda

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) —  Menjawab kebutuhan dai muda yang mampu hadir di tengah dinamika masyarakat perkotaan, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta meluncurkan Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah (M3H) di Pondok Pesantren Marhamah Hidayatullah Jakarta Timur, Sabtu (19/09/2026).

Program ini menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah DKI Jakarta dalam menyiapkan generasi dai yang memiliki kapasitas keilmuan, kemampuan komunikasi, serta kesiapan mental dan akhlak untuk hadir di tengah umat.

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Suhardi Sukiman, S.Th.I., M.Pd. mengatakan kebutuhan terhadap dai muda yang memiliki kapasitas dan kesiapan untuk berdakwah di tengah masyarakat ibu kota semakin penting.

“Dakwah membutuhkan kader-kader muda yang siap hadir dan berkhidmat di tengah umat. Melalui Madrasah Muballigh Muda ini, kita ingin memberikan bekal agar mereka tidak hanya mampu menyampaikan pesan dakwah, tetapi juga bisa memahami kebutuhan masyarakat,” ujar alumni Universitas PTIQ tersebut.

Program ini lanjut suhardi, tidak hanya memberikan pembekalan materi dakwah, tetapi juga mengasah kemampuan peserta dalam menyampaikan pesan Islam secara komunikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut Ustadz Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si. Ia menekankan bahwa seorang dai harus terus memperkuat kapasitas diri agar mampu memberikan manfaat bagi umat.

Menurutnya, ada beberapa hal mendasar yang perlu dimiliki oleh seorang dai.

Perkuat Daya Baca

Pertama, seorang dai harus memiliki daya baca yang kuat. Menurut Abdul Ghofar, membaca merupakan salah satu cara utama untuk memperluas wawasan dan memperkaya perspektif seorang dai.

“Dai itu harus kuat membaca. Banyaklah membaca buku, supaya wawasan kita semakin luas. Jadi ketika kita hadir di masjid dan di tengah umat, kita tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga bisa memberikan solusi dan pencerahan,” jelasnya.

Abdul Ghofar yang lebih akrab dengan sapaan AGH menambahkan, bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat semakin beragam. Karena itu, seorang dai perlu memiliki wawasan yang cukup agar pesan dakwah yang disampaikan tidak berhenti pada teori, tetapi dapat menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.

Kuat Mental dan Ikhlas

Selain wawasan, seorang dai juga perlu memiliki mental yang kuat dan keikhlasan.

“Jalan dakwah itu tidak ringan. Ada banyak tantangan dan ujian yang harus dihadapi. Para nabi juga mengalami hal yang sama ketika menyampaikan risalah Islam. Karena itu, seorang dai harus menyiapkan mental dan menjaga keikhlasannya,” ungkap AGH

Menurut AGH, keteguhan mental dan keikhlasan menjadi bekal penting agar seorang dai dapat tetap istiqamah dalam menjalankan tugas dakwah, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan di tengah masyarakat.

Hadirkan Dakwah yang Menyejukkan

Ia juga mengingatkan para dai muda agar menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan memperkuat persaudaraan umat.

“Jadilah dai yang menyejukkan. Jangan sampai dakwah justru membuat umat terpecah karena persoalan-persoalan yang remeh atau hal-hal yang bukan prinsip dalam Islam,” pesannya.

Menurut AGH, dai perlu memiliki kebijaksanaan dalam menentukan materi dan cara menyampaikan dakwah. Hal-hal yang disampaikan hendaknya membantu umat memahami ajaran Islam sekaligus menjaga ukhuwah di tengah masyarakat.

Akhlak dan Adab Menjadi Keteladanan

Pesan terakhir yang disampaikan AGH adalah pentingnya menjaga akhlak dan adab ketika seorang dai berada di tengah umat.

“Dai itu bukan hanya didengar, tetapi juga dilihat dan diperhatikan. Karena itu, akhlak dan adab harus dijaga. Perilaku, ucapan, bahkan penampilan kita ikut menentukan bagaimana pesan dakwah itu diterima oleh masyarakat,” kata AGH yang juga Ketua DPP Hidayatullah Bidang Rekrutmen dan Pembinaan Anggota.

AGH juga mengingatkan bahwa seorang dai memiliki posisi sebagai teladan bagi masyarakat.

“Kita punya role model dalam diri Rasulullah. Maka yang kita tampilkan kepada umat bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga bagaimana kita bersikap dan berperilaku,” Tegas AGH.

Kegiatan Madrasah Muballigh Muda Hidayatullah (M3H) diikuti oleh peserta yang berasal dari 5 daerah di Jakarta, yaitu Jakarta Pusat, Selatan, Timur, Barat dan Utara.

LPH Hidayatullah Babel Audiensi dengan TVRI, Bahas Sosialisasi Sertifikasi Halal

0

BANGKA BELITUNG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah Bangka Belitung (Babel) melakukan audiensi dengan Kepala TVRI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (15/09/2026).

Didampingi Kadep Ekonomi DPW Hidayatullah Babel, Ustadz Ahmad Yamani, S.Pd., tim perwakilan LPH Hidayatullah Babel melakukan audiensi di Kantor TVRI Bangka Belitung. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi, khususnya dalam pemberitaan dan sosialisasi produk halal kepada pelaku UMKM di Provinsi Bangka Belitung.

Ketua Perwakilan LPH Hidayatullah Babel, Furadi Mansur, S.E., S.Ag., menjelaskan bahwa LPH Hidayatullah merupakan lembaga pemeriksa halal berskala nasional yang telah hadir di 35 provinsi di Indonesia.

Menurut Furadi, audiensi tersebut selain menjadi sarana memperkenalkan keberadaan LPH Hidayatullah di Bangka Belitung, juga membuka peluang kolaborasi dengan TVRI selaku televisi nasional dalam menyiarkan kegiatan HI-FEST yang akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.

“Kegiatan HI-FEST ini merupakan agenda perdana di Babel. Namun, ia berharap kegiatan ini menjadi wadah untuk dapat mendongkrak perekonomian masyarakat karena LPH Hidayatullah tidak hanya melayani pemeriksaan untuk sertifikasi halal reguler, tetapi juga dapat mendukung proses sertifikasi melalui skema self declare melalui LP3H Hidayatullah,” jelasnya.

.

Furadi menambahkan, sertifikasi halal menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen, meningkatkan daya saing, serta membuka peluang bagi produk UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Selanjutnya, Kepala TVRI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Amirizon, S.I.P., M.Si., menyampaikan bahwa timnya insyaallah siap berkolaborasi dengan LPH Hidayatullah Babel sebagai fasilitator tersebarnya informasi tersebut di tengah masyarakat.

Terlebih, pemberlakuan Wajib Halal Oktober 2026 menjadi momentum penting bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk semakin aktif mendorong UMKM memenuhi ketentuan sertifikasi halal.

Ia berharap ke depan TVRI dapat berkolaborasi dengan Lembaga Hidayatullah dalam berbagai kegiatan keagamaan, perekonomian, dan dakwah sosial masyarakat.

DPP Hidayatullah Kunjungi SMA Praxis Yogyakarta, Dalami Pembelajaran Berbasis Proyek

0
Suasana diskusi kunjungan studi banding Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah di SMA Praxis Yogyakarta.

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rabu (09/09/2026), rombongan Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah melakukan kunjungan silaturahim sekaligus benchmarking ke SMA Praxis Yogyakarta, sebuah entitas pendidikan yang menarik perhatian para praktisi persekolahan melalui pendekatan pembelajaran yang dinilai berani dan distingtif.

Rombongan yang berjumlah 18 orang tersebut terdiri atas enam orang dari Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, pengelola pendidikan Hidayatullah wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta sejumlah pengurus DPP dari Jakarta.

Rombongan disambut langsung oleh Abdullah Soedarmo, founder sekaligus owner SMA Praxis. Sekolah tersebut tidak menampilkan fasilitas fisik yang mewah. Namun, di balik kesederhanaan sarana dan prasarananya, proses pembelajaran berlangsung secara aktif dan produktif.

SMA Praxis memilih format kelembagaan pendidikan nonformal dalam bentuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Pilihan legal formal tersebut memberikan fleksibilitas dalam pengembangan kurikulum sehingga SMA Praxis lebih leluasa menerapkan pembelajaran interdisipliner berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Dalam kunjungan tersebut, rombongan menyaksikan langsung proses pembelajaran di kelas. Para siswa bertindak sebagai inisiator proyek dengan menerapkan project based learning (PBL). Mereka secara mandiri menginisiasi, merancang, mempresentasikan, hingga mengeksekusi proyek-proyek riset berbasis STEAM yang diarahkan untuk memecahkan persoalan nyata.

Proses pembelajaran tersebut didukung para pengajar yang disebut mentor. Mereka berasal dari kalangan praktisi dan akademisi di bidang masing-masing. Para mentor tidak menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator riset sekaligus pendorong daya kritis siswa.

Pendekatan tersebut membuat sebagian besar siswa SMA Praxis berasal dari keluarga berpendidikan tinggi. Meskipun berstatus PKBM, orang tua siswa bahkan mengeluarkan investasi pendidikan yang tidak sedikit dan cenderung melebihi biaya di sejumlah sekolah unggulan lainnya.

Pilihan keluarga terpelajar tersebut menunjukkan bahwa kredibilitas lembaga pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh label formalitas, tetapi juga oleh kedalaman proses pembelajaran dan dampak yang dihasilkan.

Padahal, SMA Praxis baru berdiri secara resmi pada 2024. Namun, model pendidikan yang berfokus pada substansi pembelajaran tersebut telah melahirkan berbagai portofolio yang membanggakan.

Keberhasilan itu menunjukkan bahwa fleksibilitas ekosistem PKBM yang dipadukan dengan standar kedisiplinan intelektual mampu membentuk siswa yang kreatif, percaya diri, serta mampu menghadirkan solusi inovatif bagi berbagai kebutuhan kehidupan.

Hal tersebut turut terlihat ketika rombongan berdialog dengan sejumlah siswa. Mereka tampak percaya diri menceritakan proyek yang dikerjakan dan menyampaikan bahwa proses pembelajaran di SMA Praxis mendorong mereka untuk berpikir kreatif, kritis, dan terbuka.

Melalui pendekatan PBL, para siswa juga memperoleh beragam pengetahuan yang terintegrasi dalam proyek pembelajaran yang mereka kerjakan. Bahkan, salah seorang siswa pindahan dari sekolah lain memilih kembali memulai dari kelas X, meskipun sebelumnya telah naik ke kelas XI, karena ingin mengikuti pembelajaran berbasis proyek sejak awal.

Kunjungan tersebut memberikan inspirasi sekaligus bahan refleksi bagi para pengelola lembaga pendidikan modern. Di tengah kompetisi pembangunan gedung dan penyediaan fasilitas yang semakin megah, SMA Praxis menunjukkan bahwa esensi pendidikan juga terletak pada kualitas dan kedalaman pengalaman belajar (learning experience) yang dirasakan langsung oleh siswa.

Pelajaran dari Yogyakarta tersebut menjadi bahan evaluasi bagi DPP Hidayatullah untuk terus menyempurnakan kurikulum, meningkatkan kualitas pendidik, serta menghadirkan pengalaman belajar yang transformatif di seluruh jaringan sekolah Hidayatullah.

Tugas pendidikan, pada akhirnya, bukan semata mengejar return of investment (ROI) atau keuntungan finansial (revenue), tetapi menghadirkan pendidikan yang memberikan dampak dan menghasilkan social return of investment (SROI).