Beranda blog

LDK STAIL Bersama Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusian di Bengkulu

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi dampak serius dan kian luas dari wabah Covid-19, LDK Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Rumah Quran Al-Fatih bersama corwdfunding pemuda.org serta Bunda Al-Fatih menggelar aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan berupa pembagian paket sembako itu menyasar   warga terdampak Covid-19.

Aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di Desa Padang Kedeper, Kecamatan MErigi, Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Kamis (16/4).

Ketua LDK STAIL Surabaya, Ahlun Nazir mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk tanggung jawab kaum muda yang masih menimba ilmu perihal kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Aksi yang LDK STAIL lakukan hari ini bersama Rumah Quran Al-Fatih, pemuda.org dan Bunda Al-Fatih adalah wujud tanggung jawab sosial guna mengasah kepekaan dan kepedulian kaum muda. Ternyata di lapangan kami mendengar langsung tangisan, keluhan, dan rasa syukur orang-orang yang menerima manfaat dari program ini. Ini adalah pembelajaran sangat berarti bagi kami anak-anak muda,” kata Ahlun Nazir.

Pada tahap awal ini,  20 paket bantuan ketahanan pangan telah disalurkan.  Para  penerima manfaat  adalah 14 orang dari kelompok lansia (14 orang),  orang anak yatim (empat orang),  orang sakit (satu orang)  dan  disabilitas (satu orang).

Aksi kemanusiaan ini mendapatkan tanggapan  positif Kepala Desa Padang Kedeper, Sudirjono. “Kami tak melihat berapa yang kalian berikan kepada warga kami, tapi kepedulian kalian ini adalah anugerah besar bagi kami. Semoga semakin banyak lahir pemuda-pemuda yang seperti kalian, peduli dan bertindak langsung menolong orang yang membutuhkan uluran tangan,” ucapnya.

Demikian pula para penerima manfaat.  Mereka tidak saja berterima kasih,  tetapi juga ada rasa haru dan bangga. Sebab,  yang datang mengantarkan bantuan adalah sekolompok anak-anak muda. 

Sementara itu, General Manager pemuda.org Ainuddin Chalik mengatakan, pihaknya memang selalu membuka diri dalam sinergi kemanusiaan khususnya di tengah wabah seperti sekarang.

“Pemuda.org adalah crowdfunding yang dikelola oleh Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, senantiasa siap dan terbuka untuk sinergi program dan aksi kemanusiaan. Alhamdulillah, kami telah melakukan aksi kemanusiaan tersebut  di Depok, Lombok, sekarang Bengkulu dan akan disusul di beberapa daerah lainnya,” tutupnya.

SAR Hidayatullah dan BMH Turun ke Banjir Konawe

KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Tim relawan Hidayatullah bergerak menuju lokasi terdampak banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan telah menyalurkan bantuan, Senin (10/06/2019).

Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Ahmad Hamim menjelaskan, sejak Senin tadi ada dua tim yang bergerak ke lokasi banjir di Sultra.

Lokasi menuju Konawe masih sulit ditembus hingga Senin sore waktu setempat. Namun demikian, tim SAR terus berusaha agar bisa segera sampai di lokasi bencana.

“Akses jalan banyak yang terputus, saat ini tim sedang berusaha mencari jalur untuk bisa masuk ke Konawe Utara,” ujar Hamim.

Sementara itu, relawan BMH-Hidayatullah sudah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada sebagian korban bencana langsung di TKP.

“Alhamdulillah tadi siang kami juga sudah turunkan bantuan logistik dari BMH untuk bantuan kepada salah satu desa yang terdampak parah banjir,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Konawe Utara Sulaiman Muadz kepada hidayatullah.com secara terpisah.

Bantuan tersebut diserahkan ke posko warga yang berada di luar lokasi banjir parah, sebab untuk menuju titik lokasi banjir terparah masih sulit.

“Air masih tinggi sehingga kami nda bisa masuk ke dalam menemui warga setempat,” jelas Sulaiman.

Masyarakat pun sangat menyambut baik kedatangan relawan dan bantuan tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat setempat korban banjir memprihatinkan.

“Memprihatinkan karena baru kami yang bisa bawa bantuan banyak kepada mereka dan baru hari itu juga mereka dapat bantuan setelah beberapa hari mereka terdampak banjir nda ada bantuan masuk dari pemerintah maupun relawan,” ungkapnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi.

Sebanyak enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.

Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan 72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha.

Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentifikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan.

BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit, dan pustu 2 unit.

Berita terkini seputar aksi Hidayatullah Peduli lainnya dapat juga dilihat di Facebook fanpage SAR Hidayatullah di @sarhidayatullah.id atau melalui website www.sarhidayatullah.com. (ybh/hio)

Dorong Kesehatan Masyarakat, Ribuan Anak di Bogor Diteliti IMS Center

Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI

Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI

HIDORID — Lembaga layanan kesehatan masyarakat nasional milik Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) Pusat, melakukan penelitian kesehatan kepada 2.400 orang anak di di wilayah Parung Panjang, Kota Bogor, Jawa Barat. Dalam penelitiannya, IMS secara seksama mempelajari dampak akumulasi feses terhadap lingkungan.

Manajer Program dan Pemberdayaan Komunitas IMS, Muhammad Adnan, mengatakan salah satu faktor dipilihnya wilayah Parung, Jawa Barat, menjadi pusat penelitian IMS dikarenakan  mayoritas ekonomi serta kesadaran tentang kesehatan masyarakatnya masih terbilang rendah dan berada pada taraf ekenomi tidak mampu

“Wilayah ini tidak jauh dari Ibu Kota Negara Indonesia yang hanya membutuhkan waktu 3-4 jam, namun masih jauh dari kebutuhan layanan kesehatan yang memadai,” kata Adnan dalam siaran persnya, beberapa waktu lalu.

Adnan menerangkan, hasil dari penelitian IMS Center tersebut diharapkan akan menjadi acuan dasar untuk mengetahui dengan pasti infeksi penyakit yang diderita mayoritas anak-anak khususnya di wilayah Jawa Barat sehingga program-program kesehatan yang akan dilakukan baik swasta maupun pemerintah akan lebih tetap sasaran.

Selain melakukan penelitian feces, team medis IMS dekat juga mengadakan penyuluhan kesehatan serta Medical Check-Up (MCU) kepada seluruh anak-anak yang diteliti dan masyarakat di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat, sebagai media pendukung keakuratan hasil penelitian feces terhadap anak-anak dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan anak.

Program penelitian dan kegiatan sosial ini didukung oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Bank Syariah Mandiri. Adnan menyebutkan pihaknya juga membuka dompet donasi untuk mendukung program keummatan untuk layanan sosial IMS.

Bagi Anda pemerhati kesehatan umat dapat mendonasikan bantuannya melalui rekening Bank BCA 496.019.291.1 A.N Layanan Kesehatan Islam. (ybh/hio)

Membangun Sumber Daya Insani Unggul, Penentu Utama Pembangunan

0
Foto: Imam Nawawi (kiri), Kepala Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, mengikuti Inspiring Session bertajuk “Membangun Sumber Daya Insani Unggul, Penentu Utama Pembangunan” bersama Prof. Dr. Icuk Rangga Bawono di Grand Kolopaking Hotel, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026).

KEBUMEN (Hidayatulla.or.id) Guru Besar Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Dr. Icuk Rangga Bawono, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau model pembangunan, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya insani yang beriman, berilmu, berintegritas, terampil, dan memiliki kepedulian sosial.

Hal tersebut disampaikannya dalam Inspiring Session bersama jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah di Grand Kolopaking Hotel, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Prof. Icuk, berbagai konsep pembangunan dapat dirancang oleh manusia, namun seluruhnya bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya. Karena itu, pembangunan sumber daya insani harus menjadi prioritas utama dalam setiap gerakan perubahan.

“Kualitas sumber daya insani adalah inti pembangunan. Kita melihat awal dakwah Hidayatullah juga berangkat dari sumber daya insani yang unggul dan totalitas dalam gerakannya. Artinya mereka memiliki iman dan akhlak, ilmu dan keterampilan, integritas, produktivitas dan kepedulian sosial, serta kemampuan beradaptasi,” ujarnya.

Ia menilai Hidayatullah memiliki pengalaman panjang dalam membangun manusia sebagai fondasi peradaban. Model pembinaan yang mengintegrasikan aspek keimanan, keilmuan, akhlak, dan pengabdian dinilai relevan untuk menjawab tantangan perubahan zaman.

Dalam paparannya, Prof. Icuk juga menekankan pentingnya membangun budaya ilmu di tengah masyarakat. Menurutnya, masyarakat yang memiliki tradisi belajar akan lebih siap menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan berbagai bentuk disrupsi.

“Sekarang tugas kita semua, termasuk Hidayatullah adalah bagaimana melahirkan masyarakat yang berbudaya ilmu. Masyarakat yang berilmu akan lebih siap menghadapi perubahan dan disrupsi,” tegasnya.

Pada akhir sesi, ia mengingatkan bahwa gerakan dakwah harus mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dakwah, menurutnya, tidak berhenti pada aktivitas penyampaian nilai-nilai keislaman, tetapi juga harus mendorong lahirnya kemandirian dan pemberdayaan umat.

“Targetnya bagaimana kita bisa menghadirkan bantuan menuju pemberdayaan. Kemudian dari penerima manfaat menuju pemberi manfaat. Dan dari kesejahteraan masyarakat menuju kualitas sumber daya insani,” pesannya.

Kegiatan Inspiring Session tersebut dihadiri Kepala Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah Imam Nawawi, Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Fu’ad Fahruddin, jajaran pengurus DPW dan DPD Hidayatullah, serta perwakilan LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kebumen.

Melalui forum ini, DPP Hidayatullah berharap semakin menguatkan komitmen organisasi dalam membangun sumber daya insani yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing sebagai fondasi utama kemajuan umat, bangsa, dan peradaban.

Menikah Itu Mudah, yang Sulit Itu Gengsinya 

0

Hari-hari ini, perbincangan mengenai pernikahan dipenuhi oleh dua kutub yang sama-sama ekstrem. Di satu sisi, kita disuguhi oleh angka-angka gugat cerai yang meninggi, melahirkan fenomena fobia pernikahan di kalangan anak muda. Ada ketakutan yang menjalar bahwa ruang rumah tangga hanya akan berisi drama dan air mata. Namun di sisi lain, saat pintu ibadah ini dijauhi, pintu-pintu kemaksiatan dan pergaulan bebas justru terbuka lebar, dikampanyekan secara berani, dan mengancam masa depan generasi kita. 

Di sinilah letak keanehannya. Ketika ada anak-anak muda yang memiliki niat luhur untuk menjaga kehormatan diri melalui jalur ibadah, tatanan sosial kita justru mempersulit mereka. Muncul standar baru yang artifisial: pernikahan harus estetis, harus mewah, dan wajib Instagramable. Pesta yang menelan biaya puluhan hingga ratusan juta seolah-olah bergeser menjadi rukun nikah yang baru. Akibatnya, pemuda-pemuda yang jujur, bertanggung jawab, namun berkantong tipis, terpaksa gigit jari. Pintu ibadah menjadi mahal, sementara pintu maksiat menjadi begitu murah dan mudah diakses. 

Saat Akad Kalah oleh Angka 

Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan adalah: Di mana letak kekeliruannya? 

Jika kita mau jujur, yang mahal hari ini bukanlah mahar yang ditetapkan oleh syariat, melainkan ongkos gengsi yang didikte oleh tradisi dan validasi media sosial. Hal ini mengingatkan  pada kritik mendalam yang pernah dilontarkan oleh pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said. Beliau dengan sangat jernih membaca kegelisahan umat yang terjebak pada standar fisik dan materi. 

“Mempersulit pernikahan sama dengan membuka lebar-lebar pintu perzinahan.” 

Beliau memotret empat sindrom akut dalam masyarakat kita yang hari ini justru semakin relevan dan parah: Pertama, sindrom budaya barat (full copy) dengan menjamurnya gaya pacaran bebas pra-nikah yang dianggap lumrah, meniru mentah-mentah nilai yang bukan milik kita. Kedua, pesta sebagai simbol status sehingga munculnya rasa malu yang luar biasa jika pelaminan tidak megah. Energi habis untuk mengoreografi estetika luar, demi memuaskan pandangan kalangan atas dan mengincar isi amplop yang setara.  

Ketiga, “tarif” yang melangit yaitu orang tua menetapkan standar biaya pesta yang tinggi untuk anak gadisnya, yang seketika meruntuhkan harapan pemuda-pemuda mandiri yang baru merangkis karier. Keempat, standar fisik “bintang film” yaitu memilih jodoh yang hanya bersandar pada aspek visual. Terkait hal ini, Ustadz Abdullah Said pernah memberikan kelakar yang segar namun menohok: “Kalau di rumah tidak ada beras, apa hidung mancung bisa menyelesaikan masalah?” 

Merangkai Esensi: Menata Niat  

Mari kembalikan perspektif ini pada tempatnya yang benar. Mengapa kita begitu lelah mengejar pengakuan manusia? Akad pernikahan adalah mitsaqan ghalizha sebuah perjanjian yang kokoh dan sakral di hadapan Allah, bukan pertunjukan di hadapan netizen. Ketika langkah pertama dimulai dengan kepasrahan pada perintah-Nya, maka Allah yang akan melapangkan jalan berikutnya. 

Bayangkan, bagaimana ketenangan (sakinah) bisa hadir di malam-malam pertama sebuah rumah tangga, jika energi pasangan muda habis untuk menghitung utang sisa vendor dekorasi? Pernikahan yang berkah adalah pernikahan yang persiapannya paling memudahkan, karena fokus utamanya adalah membangun ketaatan pasca-akad, bukan kemewahan saat akad. 

Secara psikologis, kita memahami bahwa ego seorang suami dan struktur otak seorang istri membutuhkan ruang yang tenang dan teduh untuk saling memahami. Jika sejak awal bahkan sebelum melangkah ke pelaminan. Ruang itu sudah diintervensi oleh tekanan eksternal, tuntutan keluarga, dan gengsi sosial, maka pondasi rumah tangga tersebut menjadi rapuh dan rentan memicu keretakan di kemudian hari. Kuncinya ada pada keteguhan niat. Anak muda tidak boleh takut miskin karena menikah. Niatkanlah sebagai ibadah, sebagai langkah tatsbitan min anfusihim (memperkokoh jiwa). Siapa yang berniat menjaga kehormatannya, Allah sendiri yang menjamin kelancaran rezekinya. 

Pernikahan Mubarakah: Terobosan Sosial Membangun Peradaban 

Sebagai jawaban konkret atas lingkaran setan biaya sosial yang tinggi ini, sejarah mencatat sebuah gerakan yang sangat progresif yang telah memotong jalur birokrasi gengsi sejak puluhan tahun lalu: Pernikahan Mubarakah yang digagas oleh Hidayatullah. 

Ini bukan sekadar acara “nikah massal” untuk efisiensi biaya. Kata Mubarakah berakar dari sari doa Rasulullah ﷺ: “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair.” Ini adalah sebuah gerakan berburu berkah, menyatukan keserasian (kufu) iman, dan memantapkan visi bahagia dunia hingga akhirat. 

Dalam kacamata literasi kepemimpinan Islam, kita harus melihat bahwa rumah tangga adalah unit peradaban terkecil. Seorang Muslim akan pincang kontribusinya di ruang publik dan masyarakat luas jika urusan domestik kepemimpinannya belum selesai. Menikah adalah ruang pertama untuk memaparkan kemampuan memimpin diri sendiri (self-leadership) sebelum seseorang memimpin umat. Gerakan ini membuktikan bahwa Islam selalu memiliki solusi konkret atas tantangan zaman. 

Kembali ke Khittah: Sebuah Ajakan 

Ada sebuah pesan mendalam yang perlu kita renungkan bersama: “Carilah pasangan yang merindukan surga, agar perjalanan bersamanya tidak selesai di dunia.” Pesta mewah yang menguras energi dan materi itu hanya berlangsung beberapa jam, namun perjalanan membangun keluarga menuju surga adalah ikhtiar seumur hidup. 

Di tengah badai flexing pelaminan yang melelahkan ini, kisah Pernikahan Mubarakah hadir sebagai oase sekaligus sebuah teguran lembut bagi kita semua. Menikah itu sejatinya mudah dan indah; yang membuatnya menjadi rumit adalah standar-standar buatan manusia yang berlebihan dan haus akan pujian. 

Mari kita kembalikan institusi pernikahan pada khittahnya. Kita permudah jalannya, kita runtuhkan tembok gengsi yang semu, kita tutup rapat-rapat pintu kemaksiatan, dan kita jemput keberkahan dari-Nya bersama-sama. 

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah

50 Dai dan Daiyah Ikuti Upgrading Dai Tangguh Kalbar, Perkuat Ruhiyah dan Soliditas Dakwah

0

SANGGAU (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 50 dai dan daiyah dari berbagai daerah di kawasan Pantai Utara (Pantura) Kalimantan Barat mengikuti Upgrading Dai Tangguh Kalbar Batch 2 yang dikemas dalam agenda Lailatul Ijtima’ dan Halaqah Murabbi di Hotel Grand Narita, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada 25–26 Juli 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas, ketangguhan, dan soliditas para dai dalam menghadapi tantangan dakwah yang terus berkembang. Para peserta berasal dari Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Mempawah, hingga Kota Pontianak, dengan latar medan dakwah yang beragam, mulai dari kawasan perkotaan hingga pelosok.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Kalimantan Barat, Ustadz Abd. Syukur, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum pertemuan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat fondasi spiritual para dai.

“Kegiatan ini tidak hanya sekadar seremonial berkumpul. Namun, ada makna luar biasa di dalamnya, yaitu bagaimana kita saling menguatkan ruhiyah dan meneguhkan ukhuwah. Dan yang paling penting adalah pelaksanaan shalat lail secara berjamaah,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga ditopang oleh kekuatan ruhiyah, ukhuwah, dan konsistensi para pelakunya dalam menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Senada dengan itu, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Ustadz Muhyidin Nur Rabbani, mengingatkan bahwa para dai merupakan penerus risalah para nabi yang dituntut memiliki ketangguhan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai dinamika di lapangan.

“Kita sebagai kader penerus risalah Nabi, sebagai dai, harus tangguh dan sabar untuk terus menyampaikan kebaikan. Karena itu, kita harus terus melakukan upgrading diri dan terus belajar,” katanya.

Ia menambahkan, peningkatan kapasitas dai harus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat gerakan dakwah di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta tidak hanya mendapatkan penguatan spiritual melalui qiyamul lail dan halaqah, tetapi juga berdiskusi, bertukar pengalaman, serta mempererat sinergi antardai dalam menghadapi tantangan dakwah di wilayah masing-masing.

LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Kalimantan Barat turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen memperkuat peran para dai dalam membina umat.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan (Prodaya) LAZNAS BMH Kalimantan Barat, Ustadz Baidai, berharap kegiatan ini semakin memperkokoh gerakan dakwah di daerah.

“Alhamdulillah, semoga kegiatan upgrading ini dapat semakin menguatkan soliditas dan mengokohkan gerakan dakwah para Dai Tangguh di Kalimantan Barat. Jazakumullahu khairan kepada seluruh donatur dan Sahabat Kebaikan yang selama ini senantiasa mendukung perjuangan para dai melalui donasi dakwah yang disalurkan melalui BMH,” tuturnya.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: 50-Dai-dan-Daiyah-Ikuti-Upgrading-Dai-Tangguh-Kalbar.jpeg

Para peserta merupakan dai dan daiyah yang selama ini mengabdikan diri di berbagai wilayah Kalimantan Barat, termasuk daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses. Selain menyampaikan ajaran Islam, mereka juga berperan sebagai pembina masyarakat, pendidik, serta penggerak berbagai program pemberdayaan umat.

Melalui Upgrading Dai Tangguh Kalbar Batch 2 ini, Hidayatullah Kalimantan Barat berharap lahir dai-dai yang semakin kuat secara spiritual, matang dalam kapasitas keilmuan, kokoh dalam ukhuwah, serta mampu menjawab tantangan dakwah dengan semangat pengabdian yang berkelanjutan.

Mahasiswa KKN IAI Hidayatullah Batam Terima Dukungan BAZNAS Lingga

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lingga menyerahkan bantuan kepada mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan program pengabdian masyarakat di Kabupaten Lingga.

Penyerahan bantuan berlangsung di Kantor BAZNAS Kabupaten Lingga, Rabu (22/7/2026). Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Lingga, H. Abdullah, M.Si., kepada perwakilan mahasiswa KKN IAI Hidayatullah Batam.

Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS Kabupaten Lingga menyalurkan bantuan berupa 10 karung beras untuk mendukung kebutuhan mahasiswa selama menjalankan program KKN di sejumlah wilayah di Kabupaten Lingga.

Ketua BAZNAS Kabupaten Lingga, H. Abdullah, M.Si., mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus dukungan terhadap kegiatan pendidikan dan pengabdian yang dilakukan mahasiswa di tengah masyarakat.

“Mahasiswa KKN hadir di tengah masyarakat untuk mengabdi, berbagi ilmu, dan memberikan kontribusi positif. Kami berharap bantuan ini dapat menambah semangat para mahasiswa dalam menjalankan tugas pengabdian serta memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi lokasi pelaksanaan KKN,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa KKN IAI Hidayatullah Batam menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan BAZNAS Kabupaten Lingga. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu dalam menunjang kebutuhan mahasiswa selama menjalankan program pengabdian.

Program KKN IAI Hidayatullah Batam Tahun 2026 di Kabupaten Lingga diikuti 13 mahasiswa dari berbagai program studi. Selama kurang lebih dua bulan, mereka akan melaksanakan berbagai kegiatan di bidang pendidikan, dakwah, sosial kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi antara BAZNAS Kabupaten Lingga dan IAI Hidayatullah Batam diharapkan mampu memperkuat semangat pengabdian mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.

Sinergi tersebut juga diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lingga.

Kegiatan penyerahan bantuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran pengurus BAZNAS Kabupaten Lingga dan mahasiswa KKN IAI Hidayatullah Batam.

DPD Hidayatullah Rayon Surabaya Tingkatkan Kualitas Kader Wustho melalui Majelis Murrobi Rayon

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Rayon Surabaya menggelar Majelis Murrobi Rayon (MMR) pada 24–25 Juli 2026 di Masjid Aqshal Madinah dan Aula Rahmad Rahman, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Mengusung tema “Meningkatkan Kualitas Kader Wustho Menjadi Jamaah yang Rabbani dan Solid”, kegiatan ini diikuti 86 murrobi dari Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Pasuruan.

Majelis Murrobi Rayon menjadi bagian dari ikhtiar strategis DPD Hidayatullah Rayon Surabaya dalam memperkuat kualitas pembinaan kader, menyatukan visi para murrobi, serta mengokohkan implementasi manhaj kenabian dalam proses kaderisasi di seluruh wilayah Rayon Surabaya.

Dalam sambutannya, Ketua Departemen Dakwah dan Layanan Umat DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ust. Aep Saepudin, menegaskan bahwa proses tarbiyah merupakan fondasi utama dalam membangun jamaah yang kokoh.

“Berhidayatullah itu berawal dari proses kita ngaji. Dari situlah kita menyusun kekuatan dan membangun kepemimpinan. Untuk itu, kita harus saling menguatkan di antara sesama jamaah,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti pembinaan intensif yang disampaikan oleh Ust. Baihaqi, Ust. Abdul Kholiq, Ust. Marni Mulyana, dan Ust. Nurhuda. Materi difokuskan pada penguatan pemahaman Sistematika Wahyu, yakni kajian terhadap wahyu-wahyu awal yang menjadi fondasi dakwah Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Islam.

Kajian tersebut meliputi Tafsir Surah Al-Qalam ayat 34–39 dan Tafsir Surah Al-Muzzammil ayat 1–12. Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami tahapan pembinaan yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW, mulai dari penanaman pentingnya ilmu, pembentukan karakter, penguatan spiritual, kesiapan memikul amanah dakwah, hingga penyempurnaan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.

Selain memperdalam aspek keilmuan, forum ini juga menjadi ruang penyamaan persepsi para murrobi dalam mengimplementasikan Sistematika Wahyu sebagai landasan pembinaan kader di masing-masing daerah. Diskusi yang berlangsung secara dinamis memberi ruang bagi para peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkuat sinergi dalam menjalankan amanah dakwah.

Sebagai bagian dari pembinaan yang menyeluruh, kegiatan turut diisi agenda jasadiyah melalui Senam Ruhul Jadid yang dipandu oleh Ust. Alim Puspianto dari SAR Hidayatullah Jawa Timur. Kegiatan tersebut menjadi sarana menjaga kebugaran fisik sekaligus mempererat kebersamaan antarpeserta.

Melalui penyelenggaraan Majelis Murrobi Rayon ini, DPD Hidayatullah Rayon Surabaya berharap lahir murrobi yang semakin kokoh dalam pemahaman, matang dalam membina, serta mampu menghadirkan proses kaderisasi yang konsisten dengan manhaj kenabian. Penguatan kapasitas para pembina tersebut diharapkan berdampak pada meningkatnya kualitas kader Wustho sehingga terwujud jamaah yang rabbani, solid, dan siap mengemban amanah dakwah di tengah masyarakat.

Launching Mushida Centre dan Sekolah Lansia, Muslimat Hidayatullah Perkuat Pembinaan Al-Qur’an bagi Usia Senja

Jajaran Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah tampil pada peluncuran Mushida Centre, Majelis Qur’an Lansia, dan Sekolah Lansia yang digelar di Jakarta, Sabtu (25/7/2026). Program tersebut dihadirkan sebagai upaya memperkuat pembinaan Al-Qur’an dan pemberdayaan perempuan, khususnya kalangan lanjut usia. (Foto: Al-Qo’im Biamrillah / Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah melalui Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat resmi meluncurkan Mushida Centre, Majelis Qur’an Lansia, dan Sekolah Lansia sebagai upaya memperkuat pembinaan keislaman sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat lanjut usia. Peluncuran yang mengusung tema “Bahagia Bersama Al-Qur’an di Usia Senja” itu digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan Muslimat Hidayatullah, pengurus wilayah dan daerah dari berbagai provinsi yang mengikuti secara luring maupun daring, tokoh masyarakat, serta para peserta Sekolah Lansia. Acara juga menghadirkan dr. Soeharijanto Ary Soekadi, M.Psi.T. sebagai narasumber yang menyampaikan materi mengenai pembinaan dan peningkatan kualitas hidup lansia.

Kepala Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat PP Muslimat Hidayatullah, Ustazah Sudaryani, S.Ag., S.E., menjelaskan bahwa Mushida Centre dirancang sebagai pusat pembinaan muslimah yang mengintegrasikan dakwah, pendidikan Al-Qur’an, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial, serta pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, peluncuran Majelis Qur’an Lansia dan Sekolah Lansia merupakan bagian dari komitmen Muslimat Hidayatullah dalam menghadirkan ruang pembelajaran sepanjang hayat bagi kalangan lanjut usia.

Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) sehingga pembinaan Al-Qur’an dipadukan dengan edukasi kesehatan, penguatan mental, serta peningkatan kesejahteraan lansia.

“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan ruang yang membuat para lansia tetap semangat belajar, dekat dengan Al-Qur’an, sehat, dan tetap memiliki peran di tengah keluarga maupun masyarakat,” ujar Sudaryani.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penyampaian materi oleh dr. Soeharijanto Ary Soekadi, M.Psi.T. yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial pada masa lanjut usia agar para lansia tetap produktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Selain peluncuran program, panitia menggelar tasmi’ terbuka sekaligus menyerahkan sertifikat kepada peserta Majelis Qur’an Lansia yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an Juz 29 dan Juz 30. Momen tersebut menjadi bukti bahwa semangat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an tidak mengenal batas usia.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Launching-Mushida-Centre-dan-Sekolah-Lansia-Muslimat-Hidayatullah-Perkuat-Pembinaan-Al-Quran-1-scaled.jpeg

Peluncuran Mushida Centre, Majelis Qur’an Lansia, dan Sekolah Lansia diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya kalangan lanjut usia. Melalui program tersebut, Muslimat Hidayatullah berkomitmen menghadirkan wadah yang mendorong para lansia untuk terus belajar, memperdalam pemahaman Al-Qur’an, menjaga kesehatan, serta tetap aktif berkontribusi bagi keluarga, umat, dan masyarakat.

Rakerwil Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Perkuat Konsolidasi dan Kepemimpinan Menuju Indonesia Emas 2045

Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari disrupsi digital, krisis kepemimpinan, hingga dinamika sosial yang terus berkembang, organisasi kepemudaan dituntut tidak hanya menjadi ruang berhimpun, tetapi juga menjadi pusat lahirnya gagasan, kepemimpinan, dan aksi nyata. Berangkat dari semangat tersebut, Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) 2026 mengusung tema “Pemuda Menggerakkan Jakarta Menuju Indonesia Emas 2045” di Auditorium Pangan Kita, BULOG Corporate University, Jakarta Selatan, Sabtu, 25 Juli 2026.

Tema tersebut mencerminkan komitmen Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta dalam memperkuat peran generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan inovasi, Jakarta diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai gerakan kepemudaan yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Rakerwil menjadi forum strategis bagi Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta untuk melakukan konsolidasi organisasi, mengevaluasi pelaksanaan program kerja, serta menyusun arah kebijakan dan agenda organisasi untuk periode 2026–2027. Forum ini juga menjadi ruang musyawarah dalam merumuskan berbagai program yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus mampu menjawab kebutuhan umat dan masyarakat.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Pelaksana Harian (Plh.) Deputi Pelayanan Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng. Hadir pula Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad; jajaran Pengurus DPW Hidayatullah DKI Jakarta; Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah; Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta; Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) DKI Jakarta; serta tamu undangan dari berbagai unsur organisasi dan mitra strategis.

Kehadiran para tokoh dan pimpinan organisasi tersebut mencerminkan sinergi antara organisasi kemasyarakatan, pemerintah, dan elemen kepemudaan dalam memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, berdaya saing, serta memiliki kepedulian terhadap kemajuan bangsa.

Selama pelaksanaan Rakerwil, peserta mengikuti berbagai agenda yang berorientasi pada penguatan kapasitas organisasi dan pengembangan kepemimpinan kader. Selain pembahasan dan pengesahan program kerja organisasi, peserta juga mengikuti seminar kewirausahaan, sosialisasi program strategis Pengurus Wilayah, serta Leadership Training Center (LTC) yang menghadirkan materi mengenai isu-isu keumatan, manhaj Hidayatullah, kepemimpinan profetik, manajemen diri, serta komunikasi yang mampu menggerakkan perubahan.

Melalui forum ini, PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta berkomitmen memperkuat sistem kaderisasi, mengembangkan jiwa kewirausahaan, mendorong ketahanan pangan, meningkatkan literasi digital, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta menghadirkan berbagai program pengabdian masyarakat yang berdampak nyata.

Rakerwil PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta berlangsung selama dua hari, 25–26 Juli 2026. Forum ini diharapkan menghasilkan berbagai rumusan strategis yang tidak hanya memperkuat tata kelola organisasi, tetapi juga menjadi panduan gerakan Pemuda Hidayatullah dalam menjawab tantangan pembangunan Jakarta dan Indonesia.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: image-2.png

Melalui semangat “Pemuda Menggerakkan Jakarta Menuju Indonesia Emas 2045”, Rakerwil ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan kepemudaan yang semakin progresif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengabdian. Dengan memperkuat kualitas kader, membangun kepemimpinan yang berintegritas, serta menghadirkan program-program yang solutif, Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta optimistis menjadi bagian penting dalam mewujudkan Jakarta yang maju sekaligus berkontribusi terhadap tercapainya visi besar Indonesia Emas 2045.

Ketum DPP Hidayatullah Dorong Pemuda Keluar dari Zona Nyaman dan Ambil Peran Strategis

0
Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc. (Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menegaskan bahwa pemuda tidak boleh terlena dengan zona nyaman, tetapi harus menjadi penggerak perubahan yang menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker pada Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta yang mengusung tema “Pemuda Penggerak Bangsa” di Auditorium Pangan Kita, BULOG Corporate University, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026).

Dalam paparannya, Naspi menyampaikan bahwa dunia tidak pernah kehilangan sosok-sosok inspiratif, terutama dari kalangan pemuda. Sejarah membuktikan, perubahan besar selalu dimulai oleh generasi muda yang memiliki keberanian, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.

Karena itu, ia mengajak seluruh kader Pemuda Hidayatullah untuk meneladani semangat para pemuda terdahulu yang mampu mengukir sejarah dan memberikan kontribusi besar bagi peradaban. Menurutnya, semangat tersebut harus diwujudkan melalui gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pemuda harus terus bergerak melakukan kebaikan. Jangan berhenti hanya pada wacana, tetapi hadir dengan karya dan pengabdian yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Naspi juga mendorong kader Pemuda Hidayatullah agar berani mengambil peran di berbagai sektor kehidupan. Menurutnya, dakwah dan pengabdian harus hadir di seluruh ruang strategis, mulai dari lingkungan masyarakat hingga lembaga-lembaga negara, termasuk legislatif dan yudikatif.

“Pemuda harus masuk ke semua kalangan, dari tingkat bawah hingga tingkat atas. Di mana pun berada, jadilah pembawa nilai-nilai kebaikan dan solusi bagi umat,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa setiap perjuangan dalam melakukan kebaikan pasti menghadapi tantangan. Tidak sedikit pihak yang mungkin merasa iri atau tidak menyukai langkah perubahan yang dilakukan. Namun, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bergerak.

“Kalau kita berbuat baik, pasti ada yang iri dan tidak suka. Tetapi teruslah berjalan, nanti kalian akan menemukan jalannya,” pesannya.

Lebih lanjut, Naspi menekankan agar pemuda tidak terjebak dalam zona nyaman. Menurutnya, kenyamanan yang berlebihan dapat menghambat keberanian untuk berubah, berinovasi, dan mengambil peran lebih besar dalam kehidupan.

“Pemuda jangan terjebak zona nyaman. Jangan takut dengan perubahan, karena dari situlah lahir pengalaman, pembelajaran, dan kemajuan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun legacy atau warisan sejarah melalui karya dan pengabdian. Menurutnya, pemuda harus memperbanyak gagasan, kemudian mewujudkannya dalam aksi nyata yang memberikan manfaat luas.

“Perbanyak gagasan, kemudian wujudkan dengan aksi nyata. Kayakan diri dengan pengalaman dan aksi, karena itulah investasi sejarah yang akan dikenang,” pungkasnya.

Rakerwil PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta diharapkan tidak hanya menghasilkan program kerja organisasi, tetapi juga melahirkan gagasan-gagasan strategis yang mampu diwujudkan dalam langkah konkret di tengah masyarakat. Pesan KH. Naspi Arsyad menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh pemuda yang berani bermimpi, mengambil peran, dan meninggalkan jejak kebaikan melalui karya serta pengabdian.

Dengan semangat “Pemuda Penggerak Bangsa”, Pemuda Hidayatullah diharapkan terus menjadi pelopor perubahan dan menghadirkan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara.

Dampak Konflik Iran–AS terhadap Dunia Islam

0
Pengamat geopolitik global Dr. (Cand.) Pizaro Gozali Idrus, S.Sos., M.Sos. (kanan) menyampaikan paparan dalam diskusi umum bertajuk “Dampak Perang Iran vs AS Terhadap Dunia Islam” yang diselenggarakan DPP Hidayatullah di Aula Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu 22/7/2026. ( Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id )

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar diskusi umum bertajuk “Dampak Perang Iran vs AS Terhadap Dunia Islam” di Aula Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan pengamat geopolitik global Dr. (Cand) Pizaro Gozali Idrus, S.Sos., M.Sos., serta diikuti jajaran Pengurus Tingkat Pusat, Organisasi Pendukung (Orpen), Amal Usaha, Badan Usaha Tingkat Pusat, dan DPW Hidayatullah DKI Jakarta.

Diskusi yang berlangsung seusai rangkaian Musyawarah Majelis Syura (MMS) tersebut bertujuan memperluas wawasan para peserta mengenai dinamika politik internasional serta implikasinya terhadap dunia Islam di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam paparannya, Pizaro menjelaskan bahwa konflik Iran–AS tidak dapat dipahami hanya sebagai konfrontasi militer, tetapi juga sebagai persaingan kepentingan geopolitik, ekonomi, keamanan energi, hingga diplomasi internasional yang melibatkan banyak aktor regional dan global.

Salah satu persoalan yang dinilai menjadi titik krusial adalah sengketa mengenai Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia. Perbedaan penafsiran atas sejumlah kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat dinilai berpotensi memperpanjang konflik serta meningkatkan risiko gangguan terhadap stabilitas perdagangan global.

Selain isu Selat Hormuz, diskusi juga mengulas persoalan pengayaan nuklir Iran, sanksi ekonomi, pembekuan aset negara tersebut, hingga hubungan Iran dengan kelompok-kelompok proksinya di kawasan Timur Tengah. Berbagai isu tersebut dinilai saling berkaitan dan menjadi faktor yang mempersulit tercapainya penyelesaian konflik secara menyeluruh.

Pizaro juga menyoroti bahwa dinamika politik domestik di masing-masing negara turut memengaruhi arah konflik. Menurutnya, proses negosiasi sering kali menghadapi tantangan karena adanya kepentingan politik internal yang berbeda-beda, sehingga berbagai kesepakatan yang telah dicapai tidak selalu mudah diimplementasikan.

Di sisi lain, konflik berkepanjangan tersebut membawa dampak luas bagi dunia Islam, baik dari aspek politik, keamanan maupun ekonomi. Ketidakstabilan kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga energi, rantai perdagangan internasional, serta memperbesar tantangan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat di kawasan konflik.

Dalam forum tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya melihat perkembangan geopolitik secara objektif dan komprehensif. Menurut Pizaro, penyelesaian konflik membutuhkan pendekatan diplomasi yang mampu menemukan titik temu di antara kepentingan para pihak, meskipun prosesnya diperkirakan tidak akan berlangsung singkat.

Melalui diskusi ini, DPP Hidayatullah berharap para peserta memiliki perspektif yang lebih utuh terhadap berbagai perkembangan internasional, sehingga mampu membaca perubahan geopolitik global secara kritis sekaligus memahami implikasinya bagi umat Islam.

Foto: Muhammad Azka Alfath / Hidayatullah.or.id

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari stabilitas kawasan Timur Tengah, keamanan jalur perdagangan internasional, hingga tantangan dunia Islam dalam menghadapi perubahan konstelasi politik global. Diskusi ini menjadi bagian dari upaya Hidayatullah untuk meningkatkan literasi geopolitik dan memperkuat kesiapan kader dalam merespons isu-isu global yang terus berkembang.

Festival Sahabat Anak Indonesia 2026 Digelar Serentak di Enam Pulau, Dorong Gerakan Nasional Perlindungan Anak

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Sahabat Anak Indonesia menggelar Festival Sahabat Anak Indonesia 2026 secara serentak di enam pulau besar Indonesia dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Yayasan Marhamah, Cipinang, Jakarta, ini menjadi bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat perlindungan, pendidikan, dan pemberdayaan anak melalui kolaborasi lintas elemen masyarakat.

Festival dilaksanakan secara bersamaan di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera hingga Papua, sebagai upaya menghadirkan layanan dan program yang menyentuh langsung kebutuhan anak-anak Indonesia.

Dalam sambutannya, perwakilan Sahabat Anak Indonesia menegaskan bahwa Hari Anak Nasional tidak boleh dimaknai sekadar sebagai peringatan tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi hak-hak anak.

“Sahabat Anak Indonesia hadir sebagai yayasan sekaligus gerakan sosial yang berkomitmen merangkul, memberdayakan, dan melindungi masa depan anak Indonesia. Kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian terhadap hak-hak anak yang dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pada momentum tersebut, Sahabat Anak Indonesia meluncurkan tiga program unggulan, yaitu Buku Sahabatku, Ceria Anak Indonesia, dan SAI Go To School.

Program Buku Sahabatku diarahkan untuk memperkuat budaya literasi melalui penyediaan buku-buku bacaan edukatif bagi anak-anak. Sementara Ceria Anak Indonesia diwujudkan melalui penyaluran santunan kepada anak yatim dan dhuafa, serta pembagian paket alat tulis dan perlengkapan sekolah yang dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah.

Adapun SAI Go To School menghadirkan edukasi hukum dan perlindungan anak guna meningkatkan pemahaman mengenai hak-hak anak, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, bebas dari kekerasan, perundungan, dan berbagai bentuk pelanggaran terhadap anak.

Selain ketiga program tersebut, Sahabat Anak Indonesia juga menyalurkan Iqra dan Al-Qur’an sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan karakter dan nilai-nilai keagamaan sejak usia dini.

Melalui festival ini, Sahabat Anak Indonesia mengajak pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, media, dan masyarakat untuk membangun ekosistem yang lebih ramah bagi anak.

“Setiap kontribusi, sekecil apa pun, akan menjadi investasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” ungkap perwakilan Sahabat Anak Indonesia.

Festival juga menjadi momentum peluncuran resmi Program Ceria Anak Indonesia, penyerahan piagam penghargaan kepada Abah Dudung Ramadhan, serta pelaksanaan sesi SAI Go To School yang menghadirkan edukasi hukum dan perlindungan anak.

Dalam kesempatan tersebut, Abah Dudung Ramadhan mengapresiasi kehadiran Sahabat Anak Indonesia sebagai mitra dalam memperjuangkan hak-hak anak di Indonesia.

“Semoga anak-anak Indonesia mendapatkan haknya untuk belajar, mengejar cita-cita, dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Semoga Sahabat Anak Indonesia benar-benar menjadi sahabat bagi anak-anak Indonesia serta menjadi lembaga yang membawa keberkahan bagi bangsa,” tuturnya.

Mengusung tema “Satu Gerakan, Satu Semangat, untuk Anak Indonesia”, Festival Sahabat Anak Indonesia 2026 diharapkan menjadi penguat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghadirkan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak. Penyelenggara berharap gerakan ini terus berkembang sebagai ikhtiar bersama untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.