BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi dampak serius dan kian luas dari wabah Covid-19, LDK Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Rumah Quran Al-Fatih bersama corwdfunding pemuda.org serta Bunda Al-Fatih menggelar aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan berupa pembagian paket sembako itu menyasar warga terdampak Covid-19.
Aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di Desa Padang Kedeper, Kecamatan MErigi, Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Kamis (16/4).
Ketua LDK STAIL Surabaya, Ahlun Nazir mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk tanggung jawab kaum muda yang masih menimba ilmu perihal kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.
“Aksi yang LDK STAIL lakukan hari ini bersama Rumah Quran Al-Fatih, pemuda.org dan Bunda Al-Fatih adalah wujud tanggung jawab sosial guna mengasah kepekaan dan kepedulian kaum muda. Ternyata di lapangan kami mendengar langsung tangisan, keluhan, dan rasa syukur orang-orang yang menerima manfaat dari program ini. Ini adalah pembelajaran sangat berarti bagi kami anak-anak muda,” kata Ahlun Nazir.
Pada tahap awal ini, 20 paket bantuan ketahanan pangan telah disalurkan. Para penerima manfaat adalah 14 orang dari kelompok lansia (14 orang), orang anak yatim (empat orang), orang sakit (satu orang) dan disabilitas (satu orang).
Aksi kemanusiaan ini mendapatkan tanggapan positif Kepala Desa Padang Kedeper, Sudirjono. “Kami tak melihat berapa yang kalian berikan kepada warga kami, tapi kepedulian kalian ini adalah anugerah besar bagi kami. Semoga semakin banyak lahir pemuda-pemuda yang seperti kalian, peduli dan bertindak langsung menolong orang yang membutuhkan uluran tangan,” ucapnya.
Demikian pula para penerima manfaat. Mereka tidak saja berterima kasih, tetapi juga ada rasa haru dan bangga. Sebab, yang datang mengantarkan bantuan adalah sekolompok anak-anak muda.
Sementara itu, General Manager pemuda.org Ainuddin Chalik mengatakan, pihaknya memang selalu membuka diri dalam sinergi kemanusiaan khususnya di tengah wabah seperti sekarang.
“Pemuda.org adalah crowdfunding yang dikelola oleh Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, senantiasa siap dan terbuka untuk sinergi program dan aksi kemanusiaan. Alhamdulillah, kami telah melakukan aksi kemanusiaan tersebut di Depok, Lombok, sekarang Bengkulu dan akan disusul di beberapa daerah lainnya,” tutupnya.
KONAWE (Hidayatullah.or.id) — Tim relawan Hidayatullah bergerak menuju lokasi terdampak banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) dan telah menyalurkan bantuan, Senin (10/06/2019).
Kadiv Operasi SAR Hidayatullah Ahmad Hamim menjelaskan, sejak Senin tadi ada dua tim yang bergerak ke lokasi banjir di Sultra.
Lokasi menuju Konawe masih sulit ditembus hingga Senin sore waktu setempat. Namun demikian, tim SAR terus berusaha agar bisa segera sampai di lokasi bencana.
“Akses jalan banyak yang terputus, saat ini tim sedang berusaha mencari jalur untuk bisa masuk ke Konawe Utara,” ujar Hamim.
Sementara itu, relawan BMH-Hidayatullah sudah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada sebagian korban bencana langsung di TKP.
“Alhamdulillah tadi siang kami juga sudah turunkan bantuan logistik dari BMH untuk bantuan kepada salah satu desa yang terdampak parah banjir,” ujar Ketua DPD Hidayatullah Konawe Utara Sulaiman Muadz kepada hidayatullah.com secara terpisah.
Bantuan tersebut diserahkan ke posko warga yang berada di luar lokasi banjir parah, sebab untuk menuju titik lokasi banjir terparah masih sulit.
“Air masih tinggi sehingga kami nda bisa masuk ke dalam menemui warga setempat,” jelas Sulaiman.
Masyarakat pun sangat menyambut baik kedatangan relawan dan bantuan tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat setempat korban banjir memprihatinkan.
“Memprihatinkan karena baru kami yang bisa bawa bantuan banyak kepada mereka dan baru hari itu juga mereka dapat bantuan setelah beberapa hari mereka terdampak banjir nda ada bantuan masuk dari pemerintah maupun relawan,” ungkapnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, per 9 Juni 2019, banjir di Kabupaten Konawe Utara, mengakibatkan 1.091 KK atau 4.198 jiwa mengungsi.
Sebanyak enam kecamatan terimbas banjir adalah Andowia, Asera, Oheo, Landawe, Langgikima, dan Wiwirano.
Kecamatan Asera merupakan kecamatan dengan jumlah desa terdampak paling tinggi yaitu 13 desa. Banjir ini juga mengakibatkan 72 rumah hanyut dan ribuan lain terendam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Utara masih melakukan pendataan di lapangan. Kerusakan sektor pertanian mencakup lahan sawah 970,3 ha, lahan jagung 83,5 ha dan lainnya 11 ha, sedangkan sektor perikanan pada tambak seluas 420 ha.
Di samping itu, kerusakan fasilitas umum teridentifikasi berupa jembatan, jalan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan.
BPBD setempat melaporkan jembatan penghubung Desa Laronanga ke Desa Puwonua hanyut, jembatan lain di Desa Padalerutama tidak dapat dilalui karena terendam banjir, jembatan putus yang menghubungkan Desa Tanggulari ke Desa Tapuwatu dan jembatan antar provinsi di Asera. Kerusakan bangunan lain berupa masjid 3 unit, puskesmas 2 unit, dan pustu 2 unit.
Berita terkini seputar aksi Hidayatullah Peduli lainnya dapat juga dilihat di Facebook fanpage SAR Hidayatullah di @sarhidayatullah.id atau melalui website www.sarhidayatullah.com. (ybh/hio)
Anak anak buang feces di ruang terbuka / ILUSTRASI
HIDORID — Lembaga layanan kesehatan masyarakat nasional milik Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) Pusat, melakukan penelitian kesehatan kepada 2.400 orang anak di di wilayah Parung Panjang, Kota Bogor, Jawa Barat. Dalam penelitiannya, IMS secara seksama mempelajari dampak akumulasi feses terhadap lingkungan.
Manajer Program dan Pemberdayaan Komunitas IMS, Muhammad Adnan, mengatakan salah satu faktor dipilihnya wilayah Parung, Jawa Barat, menjadi pusat penelitian IMS dikarenakan mayoritas ekonomi serta kesadaran tentang kesehatan masyarakatnya masih terbilang rendah dan berada pada taraf ekenomi tidak mampu
“Wilayah ini tidak jauh dari Ibu Kota Negara Indonesia yang hanya membutuhkan waktu 3-4 jam, namun masih jauh dari kebutuhan layanan kesehatan yang memadai,” kata Adnan dalam siaran persnya, beberapa waktu lalu.
Adnan menerangkan, hasil dari penelitian IMS Center tersebut diharapkan akan menjadi acuan dasar untuk mengetahui dengan pasti infeksi penyakit yang diderita mayoritas anak-anak khususnya di wilayah Jawa Barat sehingga program-program kesehatan yang akan dilakukan baik swasta maupun pemerintah akan lebih tetap sasaran.
Selain melakukan penelitian feces, team medis IMS dekat juga mengadakan penyuluhan kesehatan serta Medical Check-Up (MCU) kepada seluruh anak-anak yang diteliti dan masyarakat di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat, sebagai media pendukung keakuratan hasil penelitian feces terhadap anak-anak dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan anak.
Program penelitian dan kegiatan sosial ini didukung oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Bank Syariah Mandiri. Adnan menyebutkan pihaknya juga membuka dompet donasi untuk mendukung program keummatan untuk layanan sosial IMS.
Bagi Anda pemerhati kesehatan umat dapat mendonasikan bantuannya melalui rekening Bank BCA 496.019.291.1 A.N Layanan Kesehatan Islam. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Majelis Penasehat Hidayatullah Pusat drg. Fathul Adhim, M.K.M., menyampaikan taushiyah dalam acara Halal Bihalal dan Silaturrahim Syawal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersama staf yang digelar di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, pada Rabu, 12 Syawal 1447 (1/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda silaturrahim pasca-Ramadhan yang mempertemukan jajaran pengurus dan staf dalam suasana Syawal.
Dalam taushiyahnya, Fathul Adhim menekankan pentingnya menjaga kesinambungan ibadah setelah Ramadhan melalui amalan sunnah, termasuk puasa Senin dan Kamis serta puasa enam hari di bulan Syawal.
Ia menjelaskan bahwa praktik ibadah tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah lama dikenal dalam kehidupan umat Islam. Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan yang merupakan amanah dari Allah.
Peraih gelar Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat ini menyampaikan bahwa puasa sunnah dapat menjadi bagian dari pola hidup yang teratur bagi seorang Muslim. Ia menegaskan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab personal yang berkaitan dengan aktivitas dakwah.
Menurutnya, para pengurus dan kader di lingkungan organisasi perlu mempertahankan semangat kerja serta menjalankan amanah organisasi secara berkelanjutan.
Fathul Adhim juga mengajak para peserta untuk melanjutkan ibadah puasa Syawal setelah Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa keberlanjutan ibadah menjadi bagian dari pembinaan ruhani yang dapat memperkuat disiplin diri sekaligus menjaga keseimbangan antara aktivitas dakwah dan kesehatan tubuh.
Dia juga mengemukakan berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa puasa memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh. Studi yang dipublikasikan dalam sejumlah jurnal kesehatan internasional menyebutkan bahwa praktik puasa yang teratur dapat membantu proses metabolisme tubuh, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk beristirahat. Selain itu, pola makan yang teratur selama puasa juga berkaitan dengan pengendalian berat badan dan kesehatan metabolik.
Dalam konteks kegiatan organisasi, Fathul Adhim mengingatkan bahwa para pengurus yang baru menerima amanah memiliki tanggung jawab untuk menjalankan program kerja dengan penuh semangat. Ia mendorong agar setiap pengurus memanfaatkan masa kepengurusan untuk memberikan kontribusi nyata melalui program-program yang dapat meninggalkan jejak kebaikan bagi organisasi.
Kegiatan ini mempertemukan para pengurus dan staf dalam suasana kebersamaan sekaligus menjadi forum penyampaian pesan-pesan pembinaan yang berkaitan dengan kehidupan spiritual, kesehatan, serta keberlanjutan tugas dakwah.
SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Maluku Utara menyatukan kader dari Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo dalam ajang Pemhida Cup 2026 yang diselenggarakan pada Rabu, 12 Syawal 1447 (1/4/2026). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian Silaturahmi Syawal setelah Hari Raya Idulfitri.
Melalui kegiatan tersebut, para kader dari berbagai Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dipertemukan dalam satu forum yang memadukan olahraga, silaturahim, serta interaksi lintas wilayah.
Acara berlangsung di Lapangan Futsal Waterboom Kayu Merah dan menghadirkan pertandingan mini soccer yang diikuti oleh puluhan kader yang tergabung dalam sejumlah tim. Selain menjadi ajang kompetisi olahraga, kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang pertemuan antar kader dari berbagai daerah untuk memperkuat komunikasi dan kebersamaan.
Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Nasri Bohari, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemhida Cup selain dipahami sebagai aktivitas olahraga, juga menjadi bagian dari proses pembinaan kader yang dilakukan melalui pendekatan kebersamaan.
“Momentum Silaturahmi Syawal ini kita mengusung tagline U3T: Ukhuwah, Tandang, Tendang, Tanding. Pemhida Cup adalah wadah strategis untuk membangun kebersamaan kader lintas wilayah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga hubungan antar kader dari berbagai wilayah dapat terus terjaga. Menurutnya, forum pertemuan seperti ini dapat memperkuat hubungan personal sekaligus memperluas koordinasi dalam kegiatan dakwah.
Sementara itu, Ketua Pemuda Hidayatullah Maluku Utara, Nashirul Haq, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran kader dari lima wilayah yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ia menilai partisipasi kader dari berbagai daerah menunjukkan semangat kebersamaan yang terbangun dalam momentum Silaturahmi Syawal.
Dia menjelaskan, Pemhida Cup 2026 mengusung tema “Menguatkan Ukhuwah, Menyatukan Langkah, Berjuang Bersama di Lapangan”. Tema tersebut menggambarkan tujuan kegiatan yang tidak hanya menekankan aspek pertandingan, tetapi juga membangun hubungan emosional di antara kader yang berasal dari wilayah yang berbeda.
Melalui kegiatan olahraga bersama, jelasnya, para peserta memiliki kesempatan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan komunikasi dalam lingkup dakwah.
“Kegiatan ini adalah bentuk khidmat kita dalam menyambut tamu-tamu dari lima DPW. Kita tidak hanya bertanding, tetapi juga belajar dan mengambil semangat serta pengalaman dari para orang tua dan sesama kader,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Departemen Dakwah dan Olahraga Pemuda Hidayatullah wilayah setempat, Abdillah, menyampaikan bahwa Pemhida Cup menjadi simbol pertemuan kader muda dalam semangat persatuan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kekompakan dan semangat pengabdian di kalangan kader.
“Harapannya, dari lapangan ini lahir kekompakan, militansi, dan semangat baru untuk terus bergerak dalam dakwah dan pembinaan umat,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan dengan keikutsertaan puluhan kader yang membentuk beberapa tim pertandingan.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pertandingan diwarnai dengan interaksi yang akrab serta semangat sportivitas antar peserta.
PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Barat memanfaatkan momentum Syawal untuk menjalin silaturahim dengan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat.
Langkah ini dilakukan di tengah tradisi Syawalan di mana masyarakat memanfaatkan waktu setelah Idulfitri untuk saling berkunjung dan mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi tersebut tidak terbatas pada beberapa hari setelah hari raya, melainkan dapat berlangsung hingga satu bulan penuh, sehingga menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Dalam konteks tradisi tersebut, pengurus Hidayatullah Kalimantan Barat melakukan kunjungan silaturahim kepada sejumlah tokoh di Pontianak. Selain sebagai pertemuan informal, kegiatan ini juga menjadi sarana bertukar pengalaman serta memperkuat komunikasi dalam aktivitas dakwah.
Salah satu pertemuan berlangsung pada Rabu, 12 Syawal 1447 (1/4/2026), ketika rombongan pengurus DPW Hidayatullah Kalimantan Barat bersilaturahim dengan dai nasional dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dr. H. Harjani Hefni, Lc., M.A., di kediamannya di Pontianak.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah kesibukan Dr. Harjani Hefni yang juga beraktivitas sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri Pontianak. Meskipun memiliki agenda akademik yang padat, ia tetap meluangkan waktu untuk menerima kunjungan tersebut. Sambutan yang diberikan berlangsung dalam suasana hangat dan akrab, dengan percakapan yang berkembang dari berbagai pengalaman dakwah hingga kisah perjalanan pendidikan.
Dalam pertemuan itu, Dr. Harjani Hefni berbagi pengalaman masa studinya di Madinah. Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang pernah dikenalnya dalam perjalanan akademik tersebut, termasuk salah satu senior yang berasal dari lingkungan Hidayatullah, almarhum Ust. H. Amru Rijal Junaid. Nama tersebut, menurutnya, dikenal di kalangan kader Hidayatullah dan menjadi bagian dari memori yang ia ingat ketika menceritakan perjalanan hidupnya.
Sebagai seorang ayah dari lima anak, ia juga menceritakan pengalaman yang pernah dialaminya ketika berada di Surabaya setelah mengisi tausiyah. Ia mengungkapkan bahwa dalam kesempatan tersebut ia pernah diajak mengunjungi Kampus Hidayatullah Surabaya oleh seorang ustaz. Dia mengatakan, pengalaman tersebut ia kenang sebagai bagian dari perjalanan dakwah yang pernah dilalui.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Ust. H. Muhyidin Nur Rabbani, S.Sos.I., memperkenalkan anggota rombongan yang turut hadir dalam kunjungan tersebut. Ia juga menyampaikan pengalaman pribadinya ketika bertugas di Kalimantan Tengah.
Dalam ceritanya, ia menyebut bahwa pernah ada seorang ustaz yang menyarankan agar dirinya bersilaturahim dengan Dr. Harjani Hefni ketika berada di Pontianak. Ustaz yang memberikan rekomendasi tersebut, menurutnya, merupakan rekan saat menempuh studi di Madinah, yaitu Ustaz H. Amanto, Lc.
Muhyidin, yang baru sekitar tiga bulan menjalankan amanah sebagai Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, memanfaatkan pertemuan tersebut untuk meminta nasihat terkait pengembangan dakwah di wilayah Kalimantan Barat. Menanggapi hal tersebut, Harjani Hefni menyampaikan pesan mengenai pentingnya meluruskan niat dalam menjalankan aktivitas dakwah serta menjaga keikhlasan dalam setiap langkah yang ditempuh.
Ia juga menceritakan pengalaman dakwah yang telah membawanya ke berbagai wilayah di Indonesia dan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, serta Inggris sekitar dua tahun yang lalu. Menurutnya, perjalanan tersebut merupakan bagian dari proses yang dijalani dalam aktivitas dakwah.
Selain aktif dalam kegiatan dakwah, Harjani Hefni juga dikenal melalui karya tulis yang telah diterbitkan. Beberapa di antaranya adalah terjemahan tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan buku The 7 Islamic Daily Habits. Karya-karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman sehingga dapat diakses oleh pembaca di tingkat internasional.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, memberi arahan mengenai urgensi penguasaan tiga pilar ilmu utama sebagai prasyarat mutlak dalam menjalankan amal ibadah untuk tegaknya peradaban Islam. Penyampaian tersebut berlangsung di Masjid Ar Riyadh, Kampus Ummulqura Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, belum lama ini.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah gerakan dan diterimanya amal perbuatan sangat bergantung pada pemahaman yang tuntas terhadap ilmu iman, syariat, dan ihsan.
KH Abdurrahman Muhammad menyoroti pentingnya persatuan dalam jamaah kaum muslimin yang direfleksikan melalui semangat persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Ansar. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi dalam ketakwaan merupakan syarat mutlak bagi tegaknya Islam.
Menurutnya, membangun jamaah dan kepemimpinan adalah manifestasi dari penerapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Hal ini menjadi landasan awal sebelum memasuki pembahasan mengenai struktur keilmuan yang lebih mendalam.
Abdurrahman memaparkan bahwa pilar pertama adalah ilmu iman. Ilmu ini bersifat esoteris yang berkaitan dengan aspek-aspek metafisika dan kondisi batiniah manusia.
“Al-Islam itu menerangkan syariat yang nyata. Sedangkan ilmu iman itu menerangkan hakikat yang efeknya kepada hati, pikiran, semua yang gaib,” ujarnya, menjelaskan distingsi antara penerapan syariat dan penanaman iman. Kejelasan mengenai hakikat ini dianggap krusial agar setiap langkah yang diambil oleh seorang mukmin memiliki orientasi spiritual yang benar.
Pilar kedua yang ditekankan adalah ilmu syariat atau ilmu Islam. KH Abdurrahman Muhammad menyoroti fenomena di mana banyak umat Islam yang merasa cukup dengan pengetahuan permukaan tanpa melakukan proses verifikasi atau talaqqi kepada guru yang berkompeten.
Ia mendorong agar setiap individu tidak hanya terpaku pada tilawah Al-Quran, tetapi juga memastikan kaifiat atau tata cara ibadah fardu seperti salat telah sesuai dengan standar yang benar.
Ia bertanya retoris kepada jamaah mengenai sejauh mana perhatian mereka terhadap validitas ibadah harian. Penekanan berupa pertanyaan ini menunjukkan bahwa pemahaman prosedural terhadap syariat, mulai dari tata cara wudu hingga bacaan salat, adalah fondasi teknis yang tidak boleh diabaikan, karena tanpa validitas syariat, ibadah menjadi tidak sah.
“Bukan saja Quran mau di-talaqqi, tetapi sesudah beriman ini bagaimana syariat di-talaqqi? Siapa yang sudah pernah mentalaqikan salatnya? Yang sudah berdiri di depan guru dan melihat, coba lihat salat saya sudah benarkah secara kaifiat,” tegasnya seperti dikutip dari rekaman video siaran live streaming acara Refleksi Akhir Ramadhan & Bekal Perjuangan melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah, Kamis, 14 Syawal 1447 (2/4/2026).
Pilar ketiga yang menjadi pelengkap adalah ilmu ihsan. KH Abdurrahman Muhammad mengakui bahwa istilah ihsan memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam, sehingga sulit untuk disederhanakan hanya ke dalam istilah etika atau estetika saja.
Ihsan menurutnya mencakup kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas, sebagaimana definisi klasik yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Ia mengaitkan konsep ini dengan gelar yang diberikan Allah kepada para nabi dalam Al-Quran.
“Ilmu tentang ihsan, ilmu tentang kebaikan-kebaikan. Ihsan sebenarnya ini sulit juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya mau mengatakan etika dan estetika belum mencakup juga,” tambahnya.
Keterkaitan ketiga pilar ini, menurut beliau, adalah kunci utama agar sebuah amal dapat diterima di sisi Allah SWT. Syariat memastikan kesesuaian amal dengan tuntunan Nabi, sementara ilmu tentang ihsan dan iman memastikan hadirnya keikhlasan dalam hati. Ia memperingatkan bahwa kegagalan dalam menguasai ketiga ilmu ini menyebabkan macetnya kebangkitan Islam di berbagai sektor. Ini tiga pokoknya ilmu yang harus selesai.
“Tidak selesai ini ilmu tidak ada landasannya amal. Karena di sinilah lahir di mana ibadah itu diterima kalau sesuai dengan syariat Nabi. Ibadah itu bisa diterima kalau dia ikhlas. Tapi kalau tidak ada ilmunya tentang ikhlas, bagaimana bisa ikhlas”, katanya menekankan.
KH Abdurrahman Muhammad lantas memaparkan ini dalam perspektif sejarah dengan memberikan tamsil mengenai kebangkitan bangsa Jepang setelah kehancuran luar biasa pada Perang Dunia Kedua. Ia mengisahkan bagaimana Kaisar Hirohito lebih memilih untuk mengumpulkan para guru yang masih hidup sebagai langkah pertama rekonstruksi bangsa daripada fokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata.
Hasilnya, Jepang mampu bertransformasi menjadi negara modern dengan etos kerja yang kuat karena landasan pendidikan yang diletakkan oleh para guru.
Beliau membandingkan etos tersebut dengan apa yang seharusnya dimiliki oleh orang beriman. Jika masyarakat Jepang memiliki loyalitas tinggi kepada Kaisar, maka orang beriman seharusnya memiliki etos yang bersumber dari Rabbul Alamin.
Namun, beliau menyadari, bahwa visi besar ini memerlukan kehadiran sosok pendidik dan pejuang yang mumpuni. Beliau mengajak para mujahid dakwah dan kaum terpelajar untuk datang dan berjuang di Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan, meskipun jalan yang ditempuh tidaklah mudah.
“Panggil para pejuang, kalau engkau mau mengabdikan ilmu datang di Gunung Tembak. Tetapi di Gunung Tembak itu sulit, susah, berat. Tapi kalau kamu mau mengabdikan ya ilmumu itu, datang di sini dan persiapkan diri untuk berjuang,” pesannya, seraya menyeru untuk mentransformasikan ilmu yang dimiliki menjadi sebuah gerakan peradaban yang sistematis di bawah kepemimpinan dan manajemen yang baik.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan KH Abdurrahman Muhammad di Masjid Ar Riyadh ini merupakan refleksi filosofis sekaligus praktis bagi seluruh civitas akademika dan jamaah Hidayatullah.
KH Abdurrahman mengingatkan bahwa amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan, dan ilmu tanpa integrasi antara iman, syariat, serta ihsan hanya akan menghasilkan aktivitas tanpa ruh. Kebangkitan umat hanya dapat dimulai ketika fondasi keilmuan ini telah tuntas dipahami dan diterapkan dalam sebuah bingkai jamaah yang solid.
Marilah kita meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan hidup, kesehatan, dan iman kepada kita.
Nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia bukan hanya kehidupan itu sendiri, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung yang menunjukkan bagaimana iman diwujudkan dalam amal, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ramadhan telah berlalu dan kini kita berada di bulan Syawal. Bulan ini bukan sekadar penanda berakhirnya puasa, melainkan fase penting yang menunjukkan apakah nilai-nilai Ramadhan benar-benar tertanam dalam diri kita.
Ramadhan adalah madrasah spiritual yang membentuk karakter, melatih kesungguhan beribadah, dan membangun kesadaran untuk hidup lebih dekat kepada Allah.
Namun, keberhasilan Ramadhan, tidak diukur dari semaraknya ibadah selama sebulan saja, melainkan dari kemampuan menjaga semangat itu setelah Ramadhan berlalu.
Kesungguhan atau tekad adalah kunci dari perjalanan spiritual seorang muslim. Tekad bukan hanya keinginan sesaat, melainkan kesungguhan hati untuk tetap istiqamah dalam ketaatan.
Tanpa tekad yang kuat, ibadah terasa berat dan mudah ditinggalkan. Tetapi ketika tekad telah tertanam dalam hati, pengorbanan dalam beribadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan jiwa.
Ramadhan telah melatih kita untuk mengendalikan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan disiplin spiritual yang mengajarkan manusia untuk taat pada aturan Allah.
Seorang muslim belajar menahan diri dari hal-hal yang halal pada waktu tertentu karena perintah Allah, sehingga ia semakin mampu menjauhi hal-hal yang haram.
Latihan disiplin ini tidak seharusnya berhenti ketika Ramadhan berakhir. Justru bulan Syawal menjadi ujian pertama untuk melihat apakah kedisiplinan itu tetap terjaga.
Selain disiplin, puasa juga melatih kesabaran. Ketika seseorang menahan lapar, menahan emosi, dan menahan berbagai keinginan selama berpuasa, sesungguhnya ia sedang belajar mengendalikan dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa adalah perisai yang melindungi manusia dari dorongan hawa nafsu yang merusak kehidupan. Orang yang terbiasa bersabar selama berpuasa akan lebih tenang menghadapi berbagai ujian hidup setelahnya.
Puasa juga mendidik manusia untuk jujur dan memiliki integritas. Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat personal. Tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak.
Namun, seorang muslim tetap menahan diri karena ia yakin bahwa Allah Maha Melihat. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan inilah yang melahirkan kejujuran dalam kehidupan.
Di samping itu, Ramadhan juga menumbuhkan empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia menjadi lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan.
Karena itulah Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, terlebih pada bulan Ramadhan. Kepedulian terhadap sesama adalah buah dari hati yang lembut dan iman yang hidup.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu kekuatan besar Ramadhan adalah kedekatan umat Islam dengan Al-Qur’an. Di bulan itu banyak orang memperbanyak tilawah, mendengarkan ayat-ayat Allah, dan merenungkan pesan-pesan ilahi. Interaksi yang intens dengan Al-Qur’an memiliki pengaruh besar terhadap hati manusia.
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, melainkan sumber penyembuhan bagi hati manusia. Hati yang keras karena dosa, kesibukan dunia, dan kelalaian dapat kembali lembut ketika sering mendengar dan membaca ayat-ayat Allah.
Selain melembutkan hati, Al-Qur’an juga memperbaiki cara pandang manusia terhadap kehidupan. Ia mengajarkan tentang tujuan penciptaan manusia, hakikat dunia, serta pentingnya kehidupan akhirat.
Ketika seseorang terbiasa merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur’an, cara berpikirnya menjadi lebih jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh hawa nafsu.
Al-Qur’an juga membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, amanah, keadilan, dan kasih sayang semuanya tertanam dalam ajaran Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ bahkan digambarkan oleh para sahabat sebagai sosok yang akhlaknya adalah cerminan Al-Qur’an. Artinya, semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin tampak pula kebaikan dalam perilakunya.
Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ia baca dan renungkan setiap hari. Jika seseorang terbiasa dengan bacaan yang melalaikan, maka pikirannya akan dipenuhi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat.
Namun, jika ia menjadikan Al-Qur’an sebagai teman harian, maka cara berpikir dan sikap hidupnya akan terbentuk oleh nilai-nilai kebaikan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ramadhan telah membuktikan bahwa manusia mampu berubah. Selama sebulan penuh kita mampu meninggalkan kebiasaan buruk, memperbanyak ibadah, dan menahan diri dari berbagai godaan. Hal itu menunjukkan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan kehidupan dimulai dari perubahan dalam diri manusia. Ketika seseorang memperbaiki niat, iman, akhlak, dan amalnya, maka Allah akan membuka jalan kebaikan baginya.
Bulan Syawal adalah kesempatan untuk menjaga perubahan tersebut. Ia menjadi masa pembuktian apakah nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dalam diri kita.
Ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan seharusnya menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita tidak pernah mengetahui berapa lama lagi usia yang tersisa. Karena itu, setiap kesempatan untuk memperbaiki diri adalah nikmat yang sangat berharga.
Mari kita jadikan Syawal sebagai awal untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah kita bangun selama Ramadhan.
Perkuat tekad, luruskan niat, dan teruslah melangkah dalam ketaatan.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah, memperbaiki amal-amal kita, dan menjadikan kehidupan kita semakin dekat dengan ridha-Nya. Aamiin.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyatakan bahwa jati diri kader harus tercermin dalam sikap hidup sehari-hari, sementara kesinambungan khidmat dalam perjuangan sangat ditentukan oleh keberhasilan menjaga nilai.
Pesan tersebut disampaikan Naspi dalam kegiatan Silaturrahim Syawwal 1447 Hijriah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu, 8 Syawal 1447 (28/3/2026).
Naspi menegaskan bahwa ketakwaan menjadi fondasi utama yang membentuk identitas kader. Ia menjelaskan bahwa nilai tersebut bukan hanya berkaitan dengan dimensi spiritual pribadi, melainkan juga menentukan arah perjalanan organisasi secara keseluruhan.
“Taqwa adalah jati diri seorang kader. Ini bukan sekadar konsep spiritual pribadi, tetapi fondasi utama yang menentukan arah gerak organisasi. Kalau taqwa itu kuat, maka kader akan kokoh, tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, dan tetap berada dalam garis perjuangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dinamika perkembangan organisasi seringkali dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan nilai dasar. Menurutnya, dalam sejumlah pengalaman organisasi, pertumbuhan struktur dan peningkatan jumlah program tidak selalu diiringi dengan penguatan identitas perjuangan. Kondisi tersebut, kata Naspi, dapat terjadi ketika nilai yang menjadi dasar gerakan tidak dijaga secara sadar oleh seluruh elemen organisasi.
“Yang sering terjadi, organisasi tumbuh besar, program semakin banyak, struktur semakin kuat, tetapi jati diri justru melemah. Karena itu, merawat jati diri harus menjadi kesadaran bersama. Ini bukan tugas individu, tetapi tugas jamaah,” tegasnya.
Naspi menekankan bahwa proses pewarisan nilai tidak dapat berlangsung secara otomatis. Ia menyebutkan bahwa kesinambungan nilai hanya dapat terjaga melalui hubungan yang saling menguatkan antara generasi senior dan generasi muda. Ia menilai bahwa interaksi antar generasi menjadi ruang penting untuk mentransmisikan pengalaman, semangat, dan prinsip perjuangan.
“Sinergi dan kolaborasi adalah cara kita merawat jati diri agar bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Yang senior tidak boleh berjalan sendiri, yang muda juga tidak boleh dilepas tanpa bimbingan. Harus ada pertemuan nilai, pertemuan pengalaman, dan pertemuan semangat,” katanya.
Naspi juga menegaskan bahwa identitas kader tidak hanya tampak dalam forum resmi atau simbol organisasi. Ia menyampaikan bahwa nilai yang menjadi dasar perjuangan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalankan amanah yang diemban.
Menurutnya, sinergi yang dimaksud bukan sekadar kerja bersama dalam program-program organisasi, tetapi juga mencakup proses pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan. Dalam proses tersebut, nilai-nilai perjuangan ditransmisikan melalui keteladanan, interaksi, dan kebersamaan dalam aktivitas dakwah.
“Kita tidak ingin jati diri ini hanya hidup dalam slogan atau acara seremonial. Jati diri itu harus tampak dalam cara berpikir, cara bersikap, dan cara menjalankan amanah. Kalau ini terjaga, maka insyaallah generasi berikutnya akan menerima nilai yang sama, bahkan bisa mengembangkannya lebih baik,” ujarnya.
Naspi mengingatkan bahwa keberlanjutan perjuangan sangat berkaitan dengan kemampuan menjaga nilai yang diwariskan. Ia menegaskan bahwa yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya organisasi, tetapi nilai yang menjadi fondasi gerakan.
“Yang kita wariskan bukan hanya organisasi, tetapi nilai. Kalau nilai ini terjaga, maka organisasi akan tetap hidup meskipun zaman berubah. Tetapi kalau nilai ini hilang, maka yang tersisa hanya nama,” tandasnya.
Kegiatan Silaturrahmi Syawwal 1447 H tersebut mengangkat tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”. Acara diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur dengan kepanitiaan kolaboratif yang melibatkan Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, DPD, Mushida, dan Pemuda Hidayatullah.
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH Hamim Thohari, menyampaikan bahwa kader Hidayatullah perlu memiliki empat karakter utama yang dirumuskan dalam istilah Jawa, yaitu Ngandhel, Kendhel, Bandel, dan Kandhel.
Hal tersebut disampaikan Hamim dalam kegiatan Silaturrahim Syawwal 1447 Hijriah digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur di Masjid Aqshal Madinah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu, 8 Syawal 1447 (28/3/2026).
Empat istilah tersebut disampaikan setelah KH Hamim mendengarkan testimoni dari para santri generasi awal Hidayatullah Surabaya yang pernah menjalankan amanah dakwah di berbagai wilayah, termasuk Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali. Pengalaman mereka dalam menjalankan tugas dakwah di berbagai daerah menjadi dasar perumusan karakter yang menurutnya penting dimiliki oleh setiap kader.
“Kalau kita mendengar testimoni para santri awal yang dikirim ke berbagai daerah, kita bisa menangkap bahwa perjuangan ini hanya bisa dijalani oleh kader yang memiliki fondasi kuat. Karena itu saya katakan, kader Hidayatullah harus punya karakter Ngandhel, Kendhel, Bandel, dan Kandhel,” ujar KH Hamim dalam kesempatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa keempat istilah tersebut merupakan ringkasan nilai yang terbentuk dari pengalaman perjuangan generasi perintis. Menurutnya, perjalanan dakwah di berbagai wilayah memperlihatkan bahwa keberhasilan perjuangan membutuhkan kesiapan mental, spiritual, dan sosial yang kuat.
“Ini bukan slogan kosong. Ini adalah fondasi mental, spiritual, dan sosial. Dari testimoni para perintis itu kita belajar, perjuangan dakwah tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi butuh keyakinan, keberanian, ketangguhan, dan bekal yang kuat,” jelasnya.
Karakter pertama yang disebutkan adalah Ngandhel, yang dalam bahasa Jawa bermakna percaya atau memiliki keyakinan yang kokoh. KH Hamim menjelaskan bahwa seluruh aktivitas perjuangan harus berakar pada keyakinan yang kuat kepada Allah, kepada ajaran Islam, dan kepada jalan dakwah yang dijalankan.
“Ngandhel itu akar dari semuanya. Kader harus punya keyakinan utuh kepada Allah SWT, kepada risalah Islam, dan kepada perjuangan ini. Dari para santri awal kita belajar, mereka bisa bertahan di berbagai daerah karena memiliki keyakinan yang kuat. Mereka tidak mudah goyah oleh keraguan, tidak lemah oleh tekanan, dan tidak berhenti hanya karena hasil belum terlihat,” katanya.
Karakter kedua adalah Kendhel, yang diartikan sebagai keberanian. Ia menjelaskan bahwa keberanian merupakan manifestasi dari keyakinan yang hidup dalam diri seorang kader. Pengalaman para perintis yang menjalankan dakwah di berbagai wilayah menjadi contoh bagaimana keberanian diperlukan dalam menghadapi tantangan.
“Mereka yang dahulu dikirim ke Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali tidak berangkat dengan jalan mudah. Mereka berangkat dengan keberanian. Maka kader hari ini juga harus Kendhel, berani menyampaikan kebenaran, berani mengambil keputusan, dan berani menghadapi risiko perjuangan,” ujarnya.
Karakter ketiga adalah Bandel, yang dimaknai sebagai ketangguhan dalam menghadapi berbagai ujian. Ia menyampaikan bahwa perjalanan dakwah seringkali diwarnai oleh berbagai tantangan sehingga membutuhkan daya tahan mental yang kuat.
“Perjuangan itu tidak selalu mulus. Ada penolakan, ada keterbatasan, ada tekanan. Maka kader harus Bandel, tidak mudah menyerah, tidak cepat putus asa, dan tetap istiqamah. Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau gagal, belajar lagi. Kalau berat, tetap jalan,” tegasnya.
Karakter terakhir adalah Kandhel, yang berarti memiliki ketebalan atau kekuatan modal. KH Hamim menjelaskan bahwa modal yang dimaksud tidak terbatas pada aspek materi, tetapi juga mencakup kesiapan spiritual, intelektual, dan jaringan sosial yang kuat.
“Kader harus Kandhel. Tebal ilmunya, kuat jaringannya, kokoh nilainya, dan siap berkorban. Para perintis dulu bisa menjalankan amanah karena punya bekal dan kesiapan. Tanpa modal yang kuat, perjuangan akan mudah rapuh,” katanya.
Menurut KH Hamim, keempat karakter tersebut saling melengkapi dalam membentuk profil kader yang mampu menjalankan amanah dakwah secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi perlu dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan untuk dihafal, tetapi untuk dijalani. Setiap kader harus terus mengasah kepercayaan, melatih keberanian, menguatkan ketangguhan, dan memperbesar modal diri. Dari sinilah akan lahir kader pejuang yang siap mengemban amanah dakwah,” tandasnya.
Kegiatan Silaturrahim Syawal 1447 Hijriah ini mengangkat tema “Merawat Jatidiri dari Generasi ke Generasi”.
Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur bersama Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Dewan Pengurus Daerah, Muslimat Hidayatullah, serta Pemuda Hidayatullah.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad Lc (Foto: dok.hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya sejumlah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon. Peristiwa tersebut terjadi setelah serangan militer yang dilaporkan dilakukan oleh pasukan Israel terhadap markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Serangan yang terjadi pada Ahad, 29 Maret 2026, menyebabkan gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, anggota TNI yang tergabung dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Dalam insiden yang sama, empat prajurit TNI lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Sehari setelahnya, pada Senin, 30 Maret 2026, dua prajurit TNI lainnya yakni Kapten Infanteri Zulmi Aditya dan Sertu Muhammad Nur Ichwan juga dilaporkan gugur akibat eskalasi serangan yang terjadi di wilayah operasi pasukan penjaga perdamaian tersebut.
Naspi Arsyad menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para prajurit yang gugur dalam menjalankan mandat internasional. Ia menegaskan, pengorbanan mereka merupakan bentuk dedikasi luhur bagi keamanan dan stabilitas internasional
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya para prajurit TNI yang sedang menjalankan amanah sebagai penjaga perdamaian dunia,” ujar Naspi Arsyad dalam keterangannya, Selasa, 11 Syawal 1447 (31/3/2026).
Ia juga menyampaikan doa bagi prajurit yang mengalami luka agar segera memperoleh pemulihan kesehatan secara penuh. Menurutnya, seluruh personel yang terlibat dalam misi penjaga perdamaian merupakan representasi komitmen Indonesia dalam mendukung upaya global menjaga stabilitas dan keamanan kawasan konflik.
Misi United Nations Interim Force in Lebanon dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1978 untuk memantau penghentian permusuhan, membantu pemerintah Lebanon memulihkan kendali wilayah selatan, serta memastikan stabilitas di kawasan perbatasan Lebanon-Israel.
Indonesia merupakan salah satu kontributor utama dalam misi tersebut. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa lebih dari 2.700 personel militer dan kepolisian Indonesia terlibat dalam berbagai misi penjaga perdamaian PBB di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon.
Naspi Arsyad menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas penjaga perdamaian PBB merupakan tindakan yang harus mendapat perhatian serius dari komunitas internasional.
“Kami mengutuk keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang berada di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serangan semacam ini memerlukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan,” kata Naspi.
Ia menambahkan bahwa insiden tersebut semakin menegaskan bahwa konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah sering kali menimbulkan korban di kalangan pihak yang tidak terlibat langsung dalam permusuhan. Menurut berbagai laporan internasional, konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut telah menyebabkan ribuan korban sipil serta berdampak pada berbagai fasilitas kemanusiaan dan misi internasional.
Naspi menegaskan pentingnya perlindungan terhadap personel penjaga perdamaian yang menjalankan mandat internasional. Ia juga menekankan bahwa kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian dunia merupakan bagian dari komitmen konstitusional negara dalam mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
SEDIKITNYA delapan juta orang warga Amerika Serikat (AS) rela turun ke jalan guna menolak aksi Trump yang menyerang Iran bersama Israel. Aksi serentak warga AS itu bertajuk “No Kings” dan berlangsung di 50 negara bagian dengan lebih dari tiga ribu titik demonstrasi.
Unjuk rasa itu menjadi satu mobilisasi terbesar dalam sejarah modern AS dan melampaui rekor demonstrasi mana pun dalam setahun terakhir di negara berjuluk negara Uncle Sam (US) itu.
Dalam banyak kasus, presiden suatu negara yang didemo oleh warganya sendiri seringkali karena warga tidak sepakat dengan kebijakan sang pemimpin. Mungkin karena warga menilai kebijakannya merugikan, tidak adil bahkan merusak. Dan, dalam demokrasi, demonstrasi adalah satu cara sah untuk menekan pemerintah agar mau mengubah kebijakan atau mengambil tindakan tertentu.
Dalam konteks AS saat ini, warga menilai Trump telah menjadikan eksekutif sebagai raja, sehingga wajah AS menyerupai negara monarki daripada sistem yang seharusnya demokratis atau republik dengan mengedepankan pembagian kekuasaan.
Dalam bahasa Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku Bagaimana Demokrasi Mati, Trump, dalam hal ini telah memenuhi syarat sebagai pemimpin yang sangat mungkin terang tidak demokratis.
Cirinya sederhana, Trump menunjukkan komitmen yang rendah terhadap aturan main demokrasi. Kebijakan menyerang Iran tanpa mekanisme demokrasi AS sendiri (tidak melibatkan kongres) menjadi bukti paling update.
Di sisi lain, pada 2016 Trump menganggap bahwa dirinya boleh jadi tidak menerima hasil pemilu tahun itu. Yang bagi sejarawan Douglas Brinkley, baru Trump calon presiden AS yang menyatakan keraguan terhadap sistem demokrasi sejak 1860.
Batas Kekuasaan
Tema “No Kings” menunjukkan bahwa warga AS ingin Trump sadar dirinya bukanlah raja yang bisa semena-mena. Trump adalah presiden yang lahir dari proses demokrasi, yang karena itu tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan aspirasi warganya sendiri.
Terlebih, dalam konteks AS, setiap keputusan presiden adalah representasi dari keputusan warga. Kesadaran inilah yang membuat warga AS bergerak, menuntut Trump menghentikan langkah destruktifnya dengan mengatasnamakan rakyat AS.
Angka delapan juga warga yang turun demo menandakan bahwa Trump benar-benar melampaui batas kekuasan. Oleh karena itu rakyat AS merasa perlu untuk melakukan koreksi sosial secara luas dan kuat.
Sebuah indikasi kuat bahwa Trump dalam hal ini memang harus diingatkan dengan peringatan yang tegas, jelas serta serius. Tentu saja ini bukan sebatas hambatan bagi Trump, lebih dalam ini adalah sebuah legitimasi bahwa Trump tidak memadai dalam membawa watak dan karakter warga AS dalam hal berbangsa dan bernegara ala Amerika yang seharusnya menjadi teladan penting dalam praktik demokratisasi.
Tantangan AS
Mengingat AS adalah negara yang selalu mendorong demokrasi tegak dalam banyak negara di dunia, sudah terang AS harus mampu memberi bukti keteladanan. Namun dengan adanya kasus Trump saat ini, apakah demokrasi itu masih menjadi komitmen AS atau seperti apa.
Oleh karena itu gerakan warga AS hendaknya tidak mengarah hanya pada sosok Trump, lebih jauh juga penting mendorong perubahan sistem demokrasi itu sendiri berlangsung secara masif, sehingga AS tidak menjadi negara yang mengaku demokratis, lalu lupa bagaimana nilai-nilai demokratisasi itu ditegakkan.
Pada akhirnya dunia akan melihat, apakah demonstrasi “No Kings” ini benar-benar mampu menekan Trump satu sisi, sisi lain juga punya daya dorong kuat untuk AS terbukti komitmen dengan penegakan nilai-nilai demokrasi secara terbuka, jujur dan objektif.
Sembari menanti hari-hari mendatang, dunia juga mungkin selaras dengan aspirasi warga AS, bahwa langkah-langkah kontraproduktif dari Trump harus benar-benar dihentikan, setidak-tidaknya diluruskan agar tak mencederai napas demokrasi itu sendiri.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Juru Bicara yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menyampaikan pernyataan duka cita atas gugurnya prajurit TNI Praka Farizal Rhomadhon dalam serangan yang dilaporkan dilakukan oleh militer Israel dengan menarget Markas Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) pada Ahad, 29 Maret 2026.
Serangan tersebut juga menyebabkan empat prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka. Kelima personel tersebut tergabung dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang sedang menjalankan mandat misi perdamaian internasional.
Isnaeni menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada almarhum atas pengabdian yang diberikan dalam misi penjaga perdamaian dunia.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya Praka Farizal Rhomadhon yang sedang menjalankan tugas sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB. Pengorbanan beliau merupakan bentuk dedikasi bagi stabilitas dan keamanan internasional,” ujar Isnaeni dalam keterangannnya, Senin, 10 Syawal 1447 (30/3/2026).
Ia juga menyampaikan doa bagi prajurit yang terluka agar segera mendapatkan pemulihan kesehatan secara penuh.
“Kami mendoakan agar para prajurit yang mengalami luka dapat segera pulih dan kembali sehat. Mereka adalah representasi komitmen Indonesia dalam mendukung perdamaian dunia,” katanya.
Indonesia merupakan salah satu negara kontributor terbesar dalam misi penjaga perdamaian PBB. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa hingga 2025 Indonesia menempatkan lebih dari 2.700 personel dalam berbagai misi penjaga perdamaian di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon melalui United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Misi UNIFIL sendiri dibentuk pada 1978 untuk memantau penghentian permusuhan, membantu pemerintah Lebanon memulihkan otoritasnya di wilayah selatan, serta menjaga stabilitas kawasan perbatasan.
Isnaeni menyampaikan bahwa Hidayatullah mengecam keras serangan yang menyebabkan jatuhnya korban dari pasukan penjaga perdamaian tersebut. Ia menegaskan bahwa misi UNIFIL berada di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memiliki status perlindungan internasional.
“Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Isnaeni.
Menurut laporan berbagai lembaga internasional, insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian di Lebanon terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan tersebut. Sejumlah fasilitas sipil, termasuk infrastruktur kemanusiaan dan fasilitas internasional, dilaporkan turut terdampak serangan.
Isnaeni menyerukan dilakukannya penyelidikan menyeluruh terhadap insiden tersebut oleh lembaga internasional yang berwenang.
“Kami menyerukan agar dilakukan investigasi yang transparan dan menyeluruh untuk memastikan akuntabilitas atas serangan yang menyebabkan gugurnya prajurit Indonesia tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peristiwa ini juga menunjukkan pola kekerasan yang sering terjadi dalam konflik kawasan, di mana pihak-pihak yang tidak terlibat langsung dalam permusuhan kerap menjadi korban. Situasi tersebut, menurutnya, juga terlihat dalam berbagai laporan mengenai serangan membabi buta di Palestina yang selama bertahun-tahun menunjukkan tingginya korban sipil akibat operasi militer di wilayah pendudukan itu.
Hidayatullah menyampaikan penghormatan kepada seluruh prajurit TNI yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian dunia. Pengabdian tersebut, tegas isnaeni, adalah sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas internasional serta memperkuat komitmen global terhadap perdamaian dan keamanan.