Beranda blog Halaman 691

Mahasiswa STISID Terobos Wilayah Pedalaman

Menyongsong bulan suci Ramadhan, puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISID), Balikpapan, Kaltim, angkatan ke-VIII 2013 dikirim keluar kota untuk dakwah dan pembinaan keumatan di masyarakat.

Pelepasan mahasiswa itu merupakan rangkaian tugas kerja kuliah nyata mahasiswa yang dalam lingkup civitas akademika STISID Balikpapan disebut PKD atau Praktek Kerja Dakwah.

Di antaranya puluhan mahasiswa STISID yang seluruhnya perempuan, ditugaskan ke pulau Sulawesi. Di sana mereka kemudian disebar lagi ke berbagai wilayah yang ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Ketua STISID Balikpapan Abdul Ghofar Hadi, mengatakan, istilah PKD  atau Praktek Kerja Dakwah adalah istilah khusus yang dipakai STIS Hidayatullah Balikpapan untuk menerjunkan para mahasiswa/wi-nya dalam mengemban kuliah praktek di masyarakat.

Adapun perguruan tinggi lain memakai istilah KKN atau Kuliah kerja Nyata untuk mahasiswa di tingkat akhir.

Kata Ghofar, ada beberapa perbedaan PKD dengan KKN. Secara istilah PKD memberikan spirit ruhiyah dari perjalanan para Nabi, sahabat, dan ulama yang telah berjasa melakukan kerja dakwah sehingga Islam bisa kita dinikmati hingga saat ini.

“Sebagaimana saat kuliah, tempat PKD juga tidak dicampur antar mahasiswa dan mahasiswi,” kata Ghofar kepada Hidayatullah.com, Ahad (07/07/2013).

Selain itu, lanjut dia, tempat PKD untuk mahasiswi ditempatkan di pesantren-pesantren Hidayatullah berbagai wilayah yang ada kampus putrinya sebagai basecamp. Ini terkait dengan penjagaan syariat dan hijab yang menjadi prioritas utama.

Lebih dari itu, Ghofar membeberkan, kegiatan PKD ini lebih kongkrit pada kegiatan dakwah dan tarbiyah, tidak simbolis atau seremonial saja.

“Mahasiswi diwajibkan PKD ketika memasuki semester 7 dan ditugaskan tidak secara ramai-ramai, tapi dua-dua. Bahkan ada yang satu orang untuk mengoptimalkan potensinya di PKD,” terang Ghofar.

Putri ke Pedalaman

Abdul Ghofar Hadi menuturkan, sejarah pelaksanaan PKD STIS Hidayatullah, khususnya mahasiswa putri, sempat mengalami pasang surut.

Pada angkatan-angkatan awal, PKD dilaksanakan di Pesantren Hidayatullah Bontang. Jumlahnya kala itu belum banyak, dan jaraknya dengan kampus STISID di Balikpapan relatif dekat, selain masih dalam satu provinsi.

“Tapi waktu itu tidak bisa dilanjutkan karena jumlah mahasiswi semakin banyak dan cenderung monoton atau tidak menantang,” tukas beliau.

Setelah beberapa tahun mengalami kevakuman, dua tahun lalu dimulai lagi dirintis PKD di beberapa Pesantren Hidayatullah daerah Sulawesi Selatan.

Tahun lalu, dilakukan ekspansi PKD dengan jumlah 30-an mahasiswi di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Perjuangan kerja nyata menapaktilasi dakwah itu berlangsung selama dua bulan.

Tahun 2013 ini, STIS Hidayatullah telah memberangkatkan PKD mahasiswi pada akhir bulan Juni lalu ke tiga provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, dengan lebih dari 20 titik.

Di antaranya mereka ada yang bertugas di Sulawesi Selatan, meliputi Makasar, Bone, Palopo, Belopa, Masamba, Lambara, Engrekang, Pare-Pare, dan Wowundula.

Lainnya ada di Sulawesi Barat di daerah Mamuju, Polman, dan Baras. Kemudian ada juga mahasiswa PKD di Sulawesi Tenggara, meliputi Kendari, Bau-Bau, Konawe Selatan, Kolaka, Kolaka Utara, Bombana, dan Raha.

Ghofar menjelaskan, tujuan dari PKD STIS Hidayatullah untuk memberi kesadaran kepada mahasiswi terhadap kebutuhan tenaga dakwah dan tarbiyah di daerah.

Juga untuk menumbuhkan kepekaan kepada mahasiswi terhadap problematika dakwah dan tarbiyah di daerah.

“PKD juga bertujuan memberikan motivasi untuk lebih giat belajar dalam menghadapi medan perjuangan yang nyata di masa depan,” terangnya.

Dengan PKD yang rutin berjalan ini diharapkan mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar yang berharga melalui keterlibatan di daerah secara langsung dengan menemukan, merumuskan, memecahkan, dan menanggulangi permasalahan di daerah secara nyata.

“Mahasiswa juga diharapkan memperoleh dan menularkan seperangkat pengetahuan, sikap dan keterampilan dari dan kepada santri di daerah dalam program PKD ini,” ujar Ghofar.

Dalam pada itu, jelasnya, program reguler PKD ini merupakan modal awal setiap mahasiswa menjadi kader dai/daiyah ideologis.*

Hidayatullah Imbau Umat Islam Jangan Malas Waktu Puasa

Setiap umat Islam hendaknya tidak bermalas-malasan selama menjalani ibadah puasa Ramadhan. Hal itu lantaran esensi puasa mendorong seorang Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih produktif daripada hari biasanya.

Sekretaris Jenderal Hidayatullah Abu A’la Abdullah mengatakan, selama sebulan penuh, jangan sampai aktivitas Umat Islam mengendur gara-gara puasa. Malahan, lebih baik jika setiap umat untuk bisa meningkatkan ibadahnya agar bulan suci ini tidak terlewatkan begitu saja.

Pasalnya, ibadah di bulan Syawal memiliki derajat keistimewaan yang sangat disayangkan jika dilalui dengan tanpa peningkatan.

“Puasa itu termasuk amalan ubudiyah, sehingga segala amalan yang bersifat vertikal jangan disia-siakan selama melewati bulan Ramadhan,” katanya kepada Republika, Senin (8/7).

Dia menegaskan, bulan Ramadhan harus disemarakkan dengan kegiatan ibadah sosial. Hal itu untuk melengkapi ibadah seseorang terkait hubungannya dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Khusus di Hidayatullah, setiap santri digiatkan untuk meningkatkan zakat, infak, maupun membantu anak yatim piatu, serta janda tua yang membutuhkan pertolongan. “Ini agar ibadah kita lengkap.”

Menurut Abu, sangat tidak tepat jika kehadiran Ramadhan malah membuat seorang Muslim bermalas-malasan. Diakuinya, pola tidur memang berubah karena harus menjalani sahur dan ibadah tarawih.

Namun jangan karena disediakannya peluang untuk menambah pahala itu malah bersifat kontraproduktif bagi umat Islam.

Ia menyarankan, setiap orang harus bisa menyesuaikan diri untuk mengurangi aktivitas yang tidak perlu, seperti nongkrong hingga larut malam.

Jika hal itu masih dilakukan terus, ia yakin dampaknya tubuh merasa lelah dan bakal menguap sepanjang keesokan hari. Karena merasa kurang tidur, berimbas pada semangat untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor yang mengendur.

“Paradigma ini yang harus diubah. Manfaatkan semaksimal mungkin waktu untuk ibadah dan istirahat, bukan begadang di malam hari.”

Hidayatullah dan Umat Islam di Malang Tuntut THM Ditutup

Senin, 08 Juli 2013 22:06

Hidayatullah bersama sekitar 900 umat Islam berunjukrasa menuntut penutupan tempat hiburan malam (THM) dan pembatasan minuman keras. Dalam aksinya pengunjukrasa yang tergabung dalam Barisan Santri dan Masyarakat Muslim Malang Raya ini menutup Jalan Raya Tugu depan Balaikota Malang, Senin 8 Juli 2013.

“Tutup segala tempat hiburan selama bulan puasa,” kata koordinator aksi Muhammad Ghozali dalam orasinya.

Mereka meminta pemerintah agar bersikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan selama bulan suci Ramadhan. Jika pemerintah tak menghiraukan tuntutan itu massa mengancam akan menuntup paksa tempat hiburan malam  secara sepihak.

Pengunjukrasa juga mendesak agar pemerintah mengambil sikap tegas terhadap maraknya penjualan minuman keras di minimarket. Apalagi menjual minuman keras dilarang sesuai Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 5 tahun 2006. “Prakteknya banyak supermarket yang menjual miras, ini jelas melanggar peraturan daerah,” kata dia.

Selain tidak sesuai peraturan daerah, penjualan minuman keras juga melanggar Peraturan Presiden nomor 3 tahun 1997. Penjualan minuman keras dikecualikan bila dilakukan di tempat khusus, yakni  hotel, bar, restoran dan tempat yang sudah ditetapkan oleh kepala daerah. “Peraturannya sudah jelas tapi masih banyak yang dilanggar,” kata Ghozali.

Ghozali memberi tenggat sampai bulan puasa. Bila masih banyak pelanggaran terhadap penjualan minuman keras massa  mengancam akan melakukan aksi penertiban dengan melibatkan unsur kepolisian, Majelis Ulama Indonesia dan Forum Kerukunan Umat Beragama.

Aksi massa tersebut didukung oleh berbagai organisasi masyarakat seperti Hidayatullah, Jamaah Ansharut Tauhid dan sejumlah jamaah lain di Malang.

Mereka membetangkan poster dan spanduk  bertuliskan “Wahai wanita muliakan dirimu dengan menutup aurat”; “Berantas kemaksiatan, raih kemulyaan”; “Tutup tempat maksiat”; “Jangan nodai bulan Ramadan dengan kemaksiatan”.

Juru bicara Pemerintah Kota Malang, Ade Herawanto menyatakan menerima aspirasi massa. Mengenai penjualan miras katanya, disesuaikan dengan mekanisme dan aturan yang berlaku. “Selama bulan puasa tempat hiburan ditutup sesuai peraturan wali kota,” katanya seperti dikutip Tempo.

Kemenag dan Hidayatullah Bangkalan Ikut Pantau Hilal

Tim rukyat dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Senin (8/7/2013) sore kemarin, menyatakan gagal melihat hilal di Pantai Desa Gebang, Kecamatan Bangkalan.

“Hilal tidak berhasil kami lihat. Berdasarkan perhitungan masih kurang dari satu derajat di bawah ufuk,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Bangkalan, Amin Mahfud seperti dikutip Kompas.com.

Kemenag selanjutnya melaporkan hasil rukyat yang dilakukan itu ke Menteri Agama sebagai pertimbangan untuk menetapkan tanggal 1 Ramadhan kali ini.

Selain NU dan Hidayatullah, sejumlah organisasi keagamaan lainnya seperti Persatuan Islam (Persis) juga bergabung dengan tim Kemenag Bangkalan untuk melakukan rukyatul hilal.

Desa Gebang, Kecamatan Kota, Bangkalan, merupakan salah satu lokasi yang biasa digunakan Kemenag setempat untuk melakukan rukyatul hilal setiap hendak menentukan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Rukyatul hilal juga digelar di Pantai Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Mahfud MD Dorong Hidayatullah Lanjutkan Kiprah Bangun Integritas Bangsa

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfud MD, mengatakan Indonesia mempunyai semua hal untuk menjadi bangsa yang besar dan berwibawa, namun kita tidak punya orang untuk mengelola. Sebab umumnya pemangku amanah rakyat berprilaku seperti kancil pilek.

Mahfud meminta agar Hidayatullah tidak berhenti berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan kiprah nyata membangun integritas bangsa melalui dakwah dan pendidikan.

Hal itu disampaikan Mahfud dalam sesi diskusi umum bertajuk “Membangun Integritas Bangsa” di arena Silatnas Hidayatullah, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.

“Untuk melakukan perubahan di negeri ini, kita membutuhkan orang yang berani. Bukan hanya berani tapi juga bersih, atau merah putih. Merah berarti berani, putih berarti suci. Tapi nyatanya kebanyak seperti kancil pilek,” kata Mahfud di hadapan ribuan peserta Silatnas Hidayatullah.

Mahfud kemudian menuturkan sebuah anekdot ihwal kancil pilek ini. Konon, ada seekor singa yang menjadi raja hutan yang sangat disegani. Saking gaharnya, rakyat hutan enggan berbicara dengan si raja.

Suatu hari, sang raja mengadu ke ibu singa perihal perilaku rakyatnya yang tidak mau berbicara apalagi menghadap kepadanya. Ibunya pun menyatakan bahwa rakyat hutan tak mau mendekat padanya karena tubuh raja bau.

Mendengar penjelasan ibunya, sang raja rimba itu sedikit murka. Dikumpulkanlah semua rakyatnya untuk membuktikan pernyataan itu. Yang pertama dipanggil adalah kijang, “benarkah tubuhku bau?” Tanya raja. Si kijang menjawab seadanya bahwa tubuh raja memang bau, “bau sekali raja,” kata kijang. Raja murka, dihabisilah kijang itu.

Giliran kedua, anjing dipanggil maju. Ditanya raja dengan pertanyaan serupa, si anjing rupanya ingin mencari selamat. Dia bilang tubuh raja tidak bau bahkan justru harum sekali. Tak dinyana, ternyata si anjing juga dicabik-cabik sampe tewas karena menyinggung perasaan sang raja. “Wong ibuku aja bilang saya bau,” guman raja.

Giliran ketiga, kancil dipanggil maju. Melihat kanan kirinya telah tewas kijang dan anjing, kancil juga khawatir berakhir tragis. Kancil memang cerdik, saat ditanya benarkah tubuh raja bau, dia jawab, “maaf raja, saya lagi pilek tidak bisa membau”. Alhasil si kancil pun aman.

“Umumnya perilaku birokrat dan pejabat kita seperti kancil pilek layaknya anekdot tadi, hanya cari aman, tidak berani, dan penuh kepura-puraan. Tentu tidak semua, yang baik juga banyak tapi kalah populer oleh kancil pilek,” katanya kemudian.

Kata Mahfud, kekayaan Indonesia luar biasa. Soliditas sosial juga terjaga. Yang kita tidak punya, kata dia, adalah integritas dan penegakan hukum. Setiap program pemerintah selalu beranggaran besar. Namun kita tetap saja terpuruk dalam bidang ekonomi karena korupsi, sebab hukumnya tidak pernah ditegakkan dengan benar.

“Kita harus punya komitmen untuk menegakkan hukum. Membangun strong leadership. Negara ini akan beres lebih dari 50 persen kalau hukum ditegakkan. Saya yakin, seyakin yakinnya,” tegasnya.

“Momentum ini sangat penting karena kita menyongsong berbagai agenda nasional ke depan yang diharapkan dapat membangun integrasi bangsa,” kata Mahfud.

Lebih jauh ia mengatakan Hidayatullah telah berhasil dalam gerakan dakwahnya. Sejak tahun 70-an akhir Mahfud mengaku sudah mengenal Hidayatullah ketika dirinya menjadi mahasiswa di Yogyakarta.

Pada waktu itu, akunya, belum banyak organisasi organisasi yang betul betul menonjol kecuali yang sudah ada lebih dulu seperti NU dan Muhammadiyah.

“Tapi waktu itu Hidayatullah muncul memberikan wawasan baru melengkapi yang sudah ada. Sehingga saya merasa Hidayatullah adalah suatu organisasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang saya yakin, berhasil melakukan gerakan Islam Indonesia dan memberi warna terhadap kehidupan politik,” tandasnya.

Isi Lengkap Piagam Gunung Tembak

Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2013 telah berakhir. Hajatan yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur (22-24/6/2013) ini melahirkan Piagam Gunung Tembak. Berikut bunyi lengkap piagam tersebut.

 

Bismillaahirrahmanirrahiim

1. Bahwa membangun Peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman.

 

2. Bahwa pusat Peradaban Islam adalah masjid. Oleh karena itu, setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat.

 

3. Bahwa setiap kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil, terutama qiyamul lail, membaca al-Qur’an dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syari’ah.

 

4. Bahwa setiap kader Hidayatullah adalah generasi Rabbani yang wajib menghidupkan majelis ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam. Oleh karena itu kader Hidayatullah wajib berhalaqah sebagai sarana untuk melakukan transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial.

 

5. Bahwa kader Hidayatullah harus menjadi generasi yang berkarakter, peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu’, militan, qana’ah, wara’ dan mengutamakan kehidupan akhirat.

 

6. Bahwa setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat. Untuk itu setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

 

Gunung Tembak, 24 Juni 2013

 

Atas Nama Seluruh Jamaah dan Kader Hidayatullah

 

1. Abdurrahman Muhammad (Pimpinan Umum)

2. Hamim Thohari (Ketua Dewan Syura)

3. Abdullah Ihsan (Ketua Majelis Pertimbangan Pusat)

4. Abdul Mannan (Ketua Umum)

Silatnas Hidayatullah Hasilkan “Piagam Gunung Tembak”

Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2013 yang digelar selama 4 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, mencetuskan lembar kesepahaman bernama Piagam Gunung Tembak.

Piagam tersebut ditandatangani Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, Ketua Dewan Syura Hamim Thohari, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Abdullah Ihsan, dan Ketua Umum PP Hidayatullah Abdul Mannan. Penandatanganan serta pembacaan piagam itu dilakukan di aula utama arena Silatnas, Senin (24/06/2013).

Piagam Gunung Tembak memuat enam butir komitmen untuk warga Ormas Hidayatullah. Butir-butir piagam tersebut menegaskan bahwa membangun peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman.

Adapun pusat peradaban Islam yang dimaksud yakni masjid. Piagam itu menyerukan setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan ummat.

Untuk itu, masih dalam isi piagam, menekankan setiap warga dan kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil terutama qiyamullail, membaca al-Quran dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syariah.

Piagam tersebut juga menegaskan bahwa setiap kader Hidayatullah adalah generasi rabbani yang wajib menghidupkan ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam.

Sebab itu, piagam ini juga menyeru kader Hidayatullah wajib berhalaqah untuk transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial. Adapun karakter kader Hidayatullah yakni peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu, militan, qanaah, wara’ dan utamakan kehidupan akhirat.

Butir keenam piagam tersebut yakni setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan ummat. Maka setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiah.

Ketua panitia Silatnas Hidayatullah 2013, Hamzah Akbar, mengatakan Piagam Gunung Tembak adalah merupakan seruan untuk merevitalisasi visi Hidayatullah dalam membangun peradaban mulia.

“Peradaban mulia adalah peradaban islami yang di dalamnya mencakup nilai nilai kehidupan yang damai, mengayomi, dan menentramkan dengan penghargaan yang tinggi terhadap pluralitas,” tandas Hamzah. (Hidcom)

Perkumpulan Muallaf Perlu Alquran dan Alat Salat

Mushalla Al-Islami yang berada di komplek Gigantea Town House (Jalan Kafe Doremi) Desa Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota, dalam setahun terakhir ini menjadi salah satu pusat pembinaan umat Islam. Khususnya bagi jamaah muallaf yang ada di wilayah kota Malinau.

Seminggu sekali yakni setiap Minggu, para mualaf yang ada di wilayah Malinau berkumpul untuk mendapat pembinaan di tempat yang juga menjadi sekretariat perkumpulan zikir mualaf tersebut.

“Pembinaan dilakukan secara rutin setiap hari Minggu oleh Pesantren Hidayatullah, mulai pukul 10.00 sampai dzuhur. Yang mau mengikuti silahkan, kami terbuka,” terang Ketua Perkumpulan Zikir Mualaf Kabupaten Malinau, Hj Christina Debora, dikutip Radar Tarakan, Jumat (7/6) lalu.

Sebulan sekali, imbuhnya Hj Chirstina Debora lagi, dilakukan acara pengajian dan dzikir bersama yang diikuti oleh seluruh umat muslim. Saat ini, imbuhnya, jumlah mualaf yang tercatat pada lembaganya sebanyak 600 orang. Pembinaan, lanjut Hj Christina Debora, difokuskan pada pematangan aqidah pribadi.

Pada saat-saat tertentu, selain mendapat pembinaan aqidah, jamaah juga mendapat pengetahuan berupa keterampilan tertentu yang diharapkan dapat menjadi modal untuk meningkatkan perekonomian mereka. “Itu juga kami lakukan di sini. Di samping kegiatan-kegiatan sosial, memberi bantuan yang sakit, meninggal, atau mendapat bencana,” papar Christina Debora.

Untuk lebih dapat menampung dan memberikan kenyamanan pada jamaah yang mengikuti kegiatan, sambung Christina Debora, pihaknya merencanakan untuk membangun dan menambah fasilitas. Termasuk membangun beberapa rumah kontrakan.

Rumah kontrakan diakuinya berperan penting dalam menghidupkan lembaga pembinaan umat yang dikelolanya tersebut. Sebab, sambungnya, dari situlah sumber dana untuk berbagai kegiatan yang dilakukannya.

“Selain dukungan dari Pesantren Hidayatullah dan para dermawan dari berbagai kota. Ada dari Yogyakarta, Bogor dan tempat lainnya,” terang Hj Christina Debora.

Diakui Christina Debora, saat ini pihaknya masih membutuhkan banyak hal untuk memenuhi keperluan umat.

“Yang paling kami butuhkan adalah Alquran yang ada terjemahannya dan alat-alat salat. Juga buku-buku pendidikan keagamaan,” terangnya.

Jika ada kemampuan, imbuhnya lagi, pihaknya berencana untuk membangun taman bacaan/perpustakaan di sekitar kompleks tersebut. Hal ini juga sebagai salah satu upaya meningkatkan pengetahuan tentang keislaman bagi setiap warga mualaf.(rdt)

Guru PAUD Seharusnya Ada Laki-lakinya

“Ambilkan anu di situ, nak cepat” kutip Rita Sahara, S.Pd, menirukan kebiasaan orangtua yang sering menyuruh anak tanpa memberikan keterangan lengkap tentang maksud perintah itu.

Pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Hidayatullah Pati, Jawa Tengah, ini mengkritik kebiasaan buruk para pendidik anak yang lebih mementingkan egonya.

Sebanyak 200 peserta yang kebanyakan kaum hawa memadati acara yang bertema “Orangtua profesional, anak cerdas, sehat mental – spiritual” itu usai hingga menjelang waktu shalat dhuhur. Terlihat antusias mengikuti jalannya seminar.

Bertempat di Wisma Malabbi yang berjarak 200 meter dari kampus Hidayatullah jalan Abdul Syakur kelurahan Karema Utara.

“Acara ini kami lakukan sebagai upaya pencerahan kepada pendidik anak” Sambut Halijah, S. Pd. I ketua panitia seminar.

Acara dibuka oleh wakil ketua Forum PAUD Sulbar Drs. H. Bustamin yang juga pegiat pendidikan anak “Kepengasuhan memang harus oleh semua pihak, baik ayah maupun bunda. Makanya saya mengusul supaya guru di PAUD ada laki-lakinya” kritiknya disambut aplaus peserta.

Senada dengan pemateri, bapak yang murah senyum ini menambahkan “Upaya ini sangat memberikan pengimbangan dalam pembentukan karakter anak, agar tidak didominasi oleh pihak bunda saja atau sebaliknya.

Diaminkan Rita Sahara, “Memang harus keduanya karena tidak boleh ada salah satu yang paling mnendominasi di sana. karena dua-duanya dibutuhkan oleh anak”.

Menariknya, ketika pemateri sedang memberikan pengertian tentang pentingnya mengurangi kalimat larangan dan “jangan” kepada anak, ada anak dari salah seorang peserta maju ke panggung menghadap ke depan proyektor hingga menutupi sebagian tampilan yang menyorot ke dinding. Sontak ada yang nyeletuk “Ssst.. jangan di situ, main di luar saja”.

Hingga usai acara kebanyakan peserta memanfaatkan untuk foto bersama pemateri dan beberapa Pengurus Pusat dan Wilayah Mushida Sulbar. Dan terlihat sukses bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH). (Muhammad Bashori – Mamuju)

Mushida Sulbar Gelar Talkshow PAUD

Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (PW Mushida) Sulawesi Barat, kembali mengadakan event dalam dunia pendidikan berupa takshow pendidikan anak usia dini (PAUD).

Acara ini digelar sekaligus untuk mengisi liburan beberapa sekolah di bawah naungannya. Kali ini Pelatihan Pendidik Anak Usia Dini ini mengambil mengambil tema “Pendidikan Berkarakter Berdasarkan Manhaj Nabawi Mewujudkan Peradaban Islam”.

Bekerja sama dengan lembaga amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah serta organisasi induk Hidayatullah sendiri sepakat untuk melangsungkan acara ini mulai hari ini 28 Mei hingga 2 Juni mendatang.

Puluhan peserta dari pengelola dan guru PAUD se-Sulbar juga dimeriahkan dua pengelola kota PAUD Hidayatullah Palu dan Morowali – Sulawesi Tengah.

Halijah, S. Pd. I sebagai ketua panitia yang juga pengelola TK Al-Furqon menyebutkan “(Acara) ini sudah setahun direncanakan. Saya ingin supaya guru-guru khususnya pendidik Anak Usia Dini memiliki kompetensi, berkualitas dan profesional dalam menghadapi dunia pendidikan anak usia dini”.

Lebih lanjut ketua Departemen Organisasi PW Mushida Sulbar ini menjelaskan bahwa tujuan diadakannya pelatihan ini selain terjalinnya silaturrahmi antar tenaga pendidik juga mampu memberikan transformasi nilai-nilai karakter dalam pencapaian target pembelajaran sebagai manifestasi membentuk peradaban Islam.

Bertindak sebagai pemateri instuktur nasional Mushida Ir. Amalia Husna, MM asal Jakarta, Rita Sarita, S. Pd. didatangkan khusus dari PW Mushida Semarang, Hamriani, S. Ag selaku pengurus Kabupaten Mushida Polman dan Mulyani, S. Pd. dari Palu Sulawesi Tengah.

Keempatnya terlihat sangat antusias menyampaikan materinya di depan peserta yang semuanya ibu-ibu.

Selain kesempatan bertemunya yang terhitung jarang, momen pelatihan serupa juga sangat mahal di kalangan pengelola PAUD di pedalaman semisal TK Lukmanul Hakim di kecamatan Baras Kabupaten Mamuju Utara yang hingga saat ini belum terjangkau jaringan seluler. Namun tidak menyurutkan niat untuk bisa hadir sebagai partisipan.

Hal ini sama yang dialami oleh peserta yang berasal dari kabupaten Polman, Mamuju Utara lainnya, Majene dan dari pengleola TK Al-Furqon Mamuju sendiri.

Ada yang lain dari acara ini. Semua peserta datang dengan keluarga. Anak dan suami turut mendukung jalannya acara yang bertempat di ruang kelas SD Integral Al-Furqon ini. “Biarlah kami yang jaga anak-anak supaya uminya (ibunya) bisa konsentrasi ikut acara” Kata Lasamuri, suami salah seorang peserta dari Morowali ini.

Penyelenggara sendiri berharap “Apa yang telah disampaikan oleh pemateri bisa diterapkan di sekolah masing-masing juga antara personil bisa bekerjasama dengan baik, saling menghargai agar lebih terjaga keharmonisan pendidikan sebagai indikasi pendidikan yang maju dan bersaing” tutup Halijah. (Laporan Bashori – langsung dari Mamuju)