Beranda blog Halaman 619

Peradaban Islam yang Mulia Kedepankan Perdamaian

menag lukman hakim sHidayatullah.or.id — Esensi peringatan Isra Mi’raj adalah mendorong umat terus membangun dan mengembangkan peradaban Islam yang mulia. Demikian dikatakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Peradaban Islam yang mengedepankan perdamaian, kemajuan, keadilan, keseimbangan, dan persamaan,” kata Menag dalam peringatan Isra Mi’raj di Jakarta, belum lama ini dan ditulis Hidayatullah.or.id, Selasa (26/5/2015).

Menurut dia, pengembangan peradaban itu bertumpu pada konsep Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Ia menyebutkan penyatuan dimensi sosial dan dimensi spiritual pada ibadah salat itu ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maun yang mengecam orang-orang yang mengerjakan salat, tetapi tidak berusaha mengejawantahkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Menag, pada era post-modern ini, Islam kembali dihadapkan pada tantangan baru untuk merevitalisasi dimensi kekayaan spiritual yang terdapat dalam ajaran-ajarannya.

“Isra Mi’raj tidak hanya memiliki dimensi kekayaan spiritual serta pesan-pesan kehidupan, tetapi juga mengandung dimensi ilmu pengetahuan yang cukup menantang di kalangan para ilmuwan,” katanya.

Menurut dia, akan bijaksana jika peringatan Isra Mi’raj juga dimaknai sebagai wahana transformasi peradaban ilmu pengetahuan.

“Paling kurang, melalui Isra Mi’raj, umat Islam tidak hanya diperkenalkan dengan ilmu pengetahuan yang bersumber dari hasil observasi, tetapi juga diperkenalkan tentang ilmu pengetahuan yang bersumber dari kitab suci, yang disebut sebaga ayat-ayat ‘qauliyah’,” katanya.

Dengan pemahaman integralistik, dia berharap melahirkan bentuk dan praktik pendidikan yang tepat sehingga akhirnya melahirkan manusia yang berkepribadian utuh.

“Selain itu, berwawasan iptek dan imtak yang siap memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Lukman Hakim.

Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW suatu malam sekian abad yang lalu yang fantastis dan dramatik.

Ada dua etape perjalanan, yaitu etape horizontal dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Etape kedua adalah etape vertikal dari Masjidil Aqsa ke sidratul muntaha di langit ke tujuh.

Menag menyebutkan peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW itu merupakan tonggak sejarah penting dari rangkaian perjuangan Nabi dalam membangun masyarakat berkeadaban dan berkeadilan bagi seluruh umat.

“Kewajiban salat tidak hanya ditafsirkan sebagai kewajiban yang sifatnya ritual individual semata, tetapi juga sebagai wahana transformasi sosial untuk mencegah kemungkaran,” kata Menag (ybh/hio)

Laznas BMH Salurkan Bantuan untuk Pengungsi Rohingya

laznas bmh untuk rohingnyaHidayatullah.or.id — Sejak kedatangan pekan pertama, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) terus aktif terlibat menanggulangi masalah pengungsi Rohingnya dan Banglades di Kuala Langsa, Aceh.

Tim kemanusiaan BMH langsung bergerak untuk menyalurkan makanan tambahan gizi sebagai bagian dari situasi tanggap darurat terhadap saudara muslim dari Rohingya.

Dilaporkan, pengungsi yang berjumlah sedikitnya 1.364 terapung di laut selama dua bulan sepuluh hari setelah kapal yang mereka tumpangi ditinggalkan oleh nakhodanya. Dan, ironisnya mereka kehabisan makanan sejak 10 hari sebelum mereka diselamatkan oleh nelayan Aceh

Hari sabtu, tanggal 23 mei lalu, Laznas BMH kembali melakukan penyaluran tahap kedua untuk pengungsi Rohingya. BMH mendatangakan Tim Thibbun Nabawi Hidayatullah dan juga menyalurkan bantuan logistik seperti beras, air mineral, pakaian, mukena, jilbab dan bantuan obat obatan serta makanan dan susu untuk bayi.

“Senyum tulus dan bahagia terpancara pada anak anak muslim Rohingya ketika tim kemanusiaan memasangkan mukena dan peci kepada mereka. senyum itu begitu tulus terpancar,” ujar Rahmat Efendi selaku ketua tim kemanusiaan BMH dalam misi ini.

Dikatakan Rahmat, saat ini pengungsi telah berada pada posko yang disediakan oleh pemerintah kota Langsa. Wakil ketua DPR RI, Fadli Zon menyempatkan diri mengunjungi pengungsi di posko yang disupport BMH tersebut.

Menurut, Rahmat Efendi dalam penanganan pengungsi dari Rohingya untuk saat ini sudah bukan lagi kebutuhan logistik, namun sudah melangkah pada penanganan jangka panjangnya.

“Alhamdulillah kebutuhan logistik saat ini sudah mencukupi, jadi kita perlu desain penanganan untuk jangka waktu ke depan, ” ujar Rahmat.

Sementara menurut Humas BMH Pusat, Imam Nawawi menjelaskan bahwa ke depan program untuk saudara muslim Rohingya harus lebih terintegrasi, mulai dari penanganan kepada anak anak dan juga kepada orang tua mereka.

“BMH dibawah naungan Hidayatullah memiliki jaringan ratusan pesantren, khusus di Aceh dan Medan kita ada pesantren, sehingga desain penanganan anak anak Rohingya bisa kita masukkan dan kita biayai untuk sekolah di pesantren,” ungkapnya.

Selain itu, harus diintensifkan koordinasi dengan berbagai pihak untuk pengadaan shelter, pengadaan air bersih, fasilitas mushola seperti tempat wudhu, perlengkapan sholat dan juga harus dipikirkan aktivitas produktif apa yang dapat dilakukan oleh pengungsi Rohingya di Aceh. sehingga mereka dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat.

“Hal ini yang sementara kami rumuskan di BMH sebagai bentuk tanggung jawab kepada saudara-saudara dari muslim Rohingya kita yang ada di Aceh,” tukas Imam. (ybh/hio)

Rakornas Depdik Hidayatullah Tekankan Pentingnya Nawaitu

rakornas pendidikan hidayatullah surabaya 2015Hidayatullah.or.id — Bagusnya sebuah lembaga pendidikan atau sekolah ditentukan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamya. Karenanya, penyelenggara pendidikan harus meluruskan niat (nawaitu) karena Allah Ta’aala semata dalam mendidik. Dengan demikian akan lahir anak didik dan keberlangsungan pendidikan yang unggul, takwa, cerdas, dan mandiri.

Ditegaskan pula bahwa bukanlah uang yang menjadikan sekolah berkualitas melainkan person-person penyelenggara pendidikan yang bervisi ukhrowi dan menjadikan pekerjaaannya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Demikianlah salah satu simpulan atau benang merah yang mencuat dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah ke-V yang berlangsung selama 3 hari di Surabaya yang ditutup hari ini, Selasa (26/05/2015).

Dalam kesempatan Rakornas ini, hadir praktisi pendidikan Ir. H. Abdulkadir Baraja yang menjadi narasumber seminar di sela acara. Beliau dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa Islam Indonesia saat ini sejatinya telah menjadi minoritas. Karena itu dia meminta umat Islam berhati-hati jika masih berfikir bahwa Islam Indonesia mayoritas.

Dalam rangka menyegarkan kembali semangat kependidikan Islam yang mencerahkan, beliau mendorong sekolah jangan sampai takut tidak dapat murid atau kehilangan murid. Justru yang harus ditakutkan, tegas beliau, adalah sekolah kehilangan visi misi.

Beliau pun menegaskan bahwa setiap guru wajib meniatkan dan menegaskan di dalam hati ketika keluar dari rumah menuju sekolah adalah dalam rangka berjuang, bukan bekerja yang akhirnya berorientasi uang.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya peran komite sekolah sebagai penyedia dan controller untuk menyiapkan kualitas bagi sekolah yang proses serta pelaksananya dilakukan oleh tim profesional.

“Sekolah dan wali murid harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengantarkan anak anaknya menuju gelar insan kamil yang akan memperjuangkan Islam,” imbuh beliau.

Beliau menegaskan, jika sekolah dan rumah tidak ada komitmen bersama yang kuat dalam meningkatkan mutu pendidikan maka sekolah hanya membangun sebuah bangunan yang rapuh karena rumah tempat penghancurnya.

Hendaknya, lanjut beliau, setiap wali kelas dan guru, memandang murid bukan sekedar anak didik yang siap diajari. Tapi jadikanlah mereka obyek penelitian untuk menemukan metode belajar, gaya belajar, dan menggali potensi mereka.

Abdulkadir Baradja tak lupa mengingatkan bahwa sudah menjadi tugas setiap yayasan atau pengelola pendidikan untuk berfikir bagaimana mampu menciptakan pemasukan dana bagi keberlangsungan misi yang dilakukan oleh sekolah.

Sebab, itu, lanjut beliau, paradigma lama harus dibuang bahwa komite sekolah atau wali murid bukan lagi sebagai tempat bagi sekolah untuk meminta dan mencari bantuan dana bagi sekolah.

“Makanya menjadi tugas bagi yayasan untuk mem-backup dana ke sekolah dan untuk kesejahteraan guru,” tukasnya.

Acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) V Pendidikan Integral ini diikuti ratusan peserta termasuk pelaku bidang pendidikan di lingkungan persyarikatan Hidayatullah.

Dalam acara ini Depdik PP Hidayatullah menghadirkan tokoh-tokoh dan ahli seperti Prof. Dr Imam Suprayogo, Abdulkadir Baradja, dan tokoh serta pemerhati pendidikan lainnya.

Sebagaimana diketahui, pendidikan Integral Hidayatullah telah memiliki jaringan seluruh Indonesia. Sekolah yang terdiri dari TK hingga SMA itu kini telah memiliki sedikitnya 50.000 murid dari seluruh Indonesia. (Rifqi A. Rafiq)

Hidayatullah Medan Pelopor Pendidikan Islam Terbaik

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pendidikan Hidayatullah Medan meraih penghargaan bergengsi sebagai “Pelopor Pendidikan Pesantren Terbaik Tahun Ini” (The Best Leading Education Islamic School Of The Year) dari Indonesian Achievement Center (IAC) dalam rangkaian acara tahunan bertajuk “School Challenges Award 2015”.

Acara malam penganugerahan School Challenges Award 2015 ini bertempat di Ballroom I Santika Premiere Dyandra Hotel – Medan, yang diselengarakan pada Jum’at, 24 April 2015, pukul 19.00 WIB lalu.

Penyelenggaraan acara bergengsi digelar IAC bekerjasama dengan Tre Uno Event Management ini berlangsung semarak yang dihadiri oleh berbagai tokoh.

Indonesian Achievement Center atau IAC merupakan institusi independen yang telah dipercaya dalam tingkat nasional sebagai panduan standard kualitas terbaik, penghargaan untuk kualitas tertinggi dan bergengsi di Indonesia.

IAC memberikan apresiasi kepada pendidik dan lembaga pendidikan terbaik yang berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan.

Melalui event prestigious “School Challenges Award 2015”, ini merupakan pembuktikan keunggulan dalam memberikan layanan pendidikan yang terbaik sehingga mampu menghasilkan citra positif dari tahun ke tahun.Hidayatullah Medan The Best Leading Education Islamic School Of The Year

Penghargaan ini diberikan setelah melakukan penilaian dengan mengacu pada beberapa kriteria yaitu meliputi quality, performance, responsibility dan attractiveness dengan atribut pengukuran seperti mempunyai layanan pendidikan inovatif dan berkualitas, pengelolaan manajemen yang baik, mampu berkembang mengikuti perubahan dan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.

Sebagai Pendidik atau Lembaga pendidikan yang dinilai memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan signifikan dan serasi dengan akselerasi kemajuan pendidikan Indonesia tentu layak diberi sebuah pengakuan. Publik memberi pujian, apresiasi dan anugerah buat mereka yang berprestasi, pekerja keras, energik, dan jujur, serta sebagai bentuk pengakuan yang tinggi dari masyarakat atas kinerja dan kerja nyata yang telah dilakukan.

Dengan bangga Anugerah “School Challenges Award 2015” dipersembahkan kepada Yayasan Pendidikan Hidayatullah dan Bapak Drs. Choirul Anam, S.Sos.I selaku ketua yayasan Hidayatullah Medan, menerima Award dalam kategori: “The Best Leading Education Islamic School Of The Year”.

Ketua Penyelenggara Rere Swastika Tanjung, mengatakan pihaknya menyampaikan ucapan selamat atas anugerah yang diterima Yayasan Pesantren Hidayatullah Medan.

“Semoga apresiasi tertinggi ini dapat bermanfaat sebagai komitmen untuk menciptakan karya dan prestasi yang lebih tinggi untuk masyarakat dan regenerasi,” kata Rere Swastika.

Dia menambahkan, Hidayatullah Medan harus terus bertumbuh sebagai panutan model suri tauladan sehingga pada akhirnya dapat membantu pemerintah guna menunjang sukses pembangunan nasional, menghadapi tantangan serta menggugah semangat kebangkitan.

“Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala upaya kita membangun Bangsa dan Negara,” imbuh Rere memungkasi.

IAC adalah lembaga manajemen yang mengkhususkan diri pada pemberian penghargaan kepada para pelaku pembangunan diberbagai bidang yang telah memberi sumbangsih prestatif bagi kemajuan bangsa dan negara baik nasional maupun regional sebagai inspirasi dan informasi yang berkualitas.

Para pelaku pembangunan tersebut telah menunjukan inisiatif dan kreatifitas yang inovatif sehingga sangatlah tepat dan merupakan hal penting apabila para pelaku pembangunan memperoleh suatu penghormatan dan pengakuan atas kemampuannya untuk melakukan perubahan signifikan dan serasi dengan akselerasi kemajuan perekonomian indonesia.

Apresiasi dan penghargaan tersebut, merupakan pengakuan tertinggi atas keberaniaan, kesuksesan dan dedikasi dalam menghasilkan berbagai karya dan prestasi diatas rata-rata.

IAC berharap, para penerima penghargaan akan menjadi sumber inspirasi dan memacu perusaahaan, lembaga, individu serta instansi untuk menghasilkan produk, kinerja maupun inovasi-inovasi baru yang lebih baik.

Penghargaan juga diharapkan mendorong perusahaan atau lembaga untuk membangun keunggulan bersaing pada tingkat global, menjadi cambuk pelecut untuk berbuat lebih baik, berprestasi lebih bersinar dan menjadi mercusuar bagi kehidupan di sekitarnya.

Dengan visi misi yang diusung yaitu turut membantu dalam mensukseskan pembangunan Indonesia serta mendukung program dalam rangka mencerdaskan bangsa, dukungan dari berbagai pihak seperti Pemerintah Republik Indonesia, Swasta, pengamat, Tokoh, LSM, Media, dan Lembaga-lembaga yang terkait turut andil dalam berbagai program yang diselenggaran oleh Indonesian Achievement Center. (ybh/hio)

Hidayatullah Bontang Miliki Gedung Dakwah Tengah Kota

pesantren hidayatullah bontang (1) pesantren hidayatullah bontang (3) Hidayatullah.or.id — Alhamdulillah, atas dukungan banyak pihak terutama pemerintah, Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, kini telah memiliki gedung dakwah representatif sebanyak 3 lantai yang berlokasi di tengah kota Bontang.

Gedung dakwah yang dibangun atas bantuan pemerintah kota Bontang ini berlokasi di Jln Letjen Suprapto No 12 sekemuka dengan RS Amalia Bontang. Gedung ini nampak mencolok di Kota Bontang sebab berada di jalan protokol kota yang mermotto Kota Taman ini.

Ketua PD Hidayatullah Bontang, Muhammad Nurdin AR, mengatakan keberadaan gedung dakwah ini diharapkan akan semakin menopang kiprah dan peran aktif Hidayatullah dalam pembangunan di Kota Bontang.

Nurdin mendorong seluruh komponen Hidayatullah di Bontang untuk senantiasa bergerak dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar. Dia menambahkan dengan hadirnya gedung dakwah ini akan turut meningkatkan keeratan singeri antar sesama dalam rangka menggiatkan dakwah Islam, peran kemasyarakatan, dan pendidikan kepesantrenan yang telah menjadi corak khas Hidayatullah.
pesantren hidayatullah bontang (2)
Hadir di Bontang sejak tahun akhir tahun 1979, Nurdin mengatakan Hidayatullah berkomitmen terus mendedikasikan diri untuk berkhidmat kepada umat melalui dakwah Islam, sosial, pendidikan, dan pengembangan kemandirian ekonomi warga dan masyarakat.

“Puncaknya adalah terbangunnya peradaban Islami yang luhur yang mengesankan bagi segenap umat,” imbuhnya.

Karenanya, lanjut dia, kader Hidayatullah, khususnya di Bontang, harus memerankan diri sebagai agen perubahan sosial yang mengejawantah keteladanan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Gedung Dakwah Hidayatullah Bontang terdiri dari 3 lantai yang dapat menampung ratusan orang. Di sini saat ini telah berkantor diantaranya Lembaga Dakwah Hidayatullah Bontang (LDHB), Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), PD Pemuda Hidayatullah, PD Muslimat Hidayatullah, dan terdapat ruang meeting, ruang kegiatan, dan kamar untuk menginap.

Kantor Gedung Dakwah Hidayatullah ini tidak terlalu jauh dari kampus Yayasan Pesantren Hidayatullah Bontang yang berada di bilangan Gunung Sari Kota Bontang. Hanya sekitar 10 menit berkendaraan umum.  (hio/ybh)

Generasi Patah Leher dan Momentum Kebangkitan

bangsa patah leher text neck 2Oleh Yacong B. Halike*

DI LINGKUNGAN Pesantren Hidayatullah, ada kelakar jenaka yang populer khususnya di kalangan para santri; patah leher. Seperti berzikir khusyuk, memang, tapi sebenarnya berdengkur nikmat.

Frasa ini sejatinya adalah seloroh sindiran untuk santri yang ngantukan. Umumnya santri yang dijuluki demikian bisa tidur duduk bersila lepas shalat dengan tengkuk layaknya patah.

Merujuk sejarah awal perintisannya tahun 1970-an, Pesantren Hidayatullah ketika itu masih berupa hutan belukar. Karena itu, alih-alih duduk di ruang kelas seraya mengkaji kitab dengan khusyuk, orang-orang yang datang mau nyantri, ketika itu malah lebih banyak kerja bakti membabat rumput dan berkebun.

Nah, tersebab oleh kelelahan karena banyak bekerja di waktu terang hari membuat santri bisa “patah leher” di mana saja bahkan tak jarang ketika sedang shalat. Utamanya waktu tahajjud dan shubuh. Disinilah kemudian istilah itu bermula.

Namun, sekarang kita tidak sedang membahas itu. Belakangan menyembul gejala “patah leher” baru yang rasanya lebih menarik untuk kita bincangkan.

Bedanya, patah leher era baru ini bukan bermuasal karena olah fisik melelahkan, tetapi lebih dipengaruhi gaya hidup modern yang oleh Sammy Margo dari Chartered Society of Physiotherapy, Inggris, disebut sebagai fenomena text neck.

Istilah text neck sebenarnya kali pertama dikemukakan oleh chiropractor (ahli terapis tulang) asal Amerika Serikat, Dean Fishman. Fenomena yang disebut Fishman sebagai epidemik global ini merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh keranjingan gadget.

Peneliti di bidang ini menitikberatkan kajiannya pada bagaimana penggunaan gadget/ smartphone dapat mempengaruhi kesehatan terutama karena kepala yang kerap menunduk dalam tempo lama.

Di sebuah laporan medis diketahui bahwa saat kondisi normal, kepala kita beratnya sekitar 4,5 sampai 5,5 kilogram. Pada saat menunduk sebanyak 15 derajat saat menggunakan ponsel, beratnya menjadi 12 kilogram. Berat kepala dapat mencapai 27 kilogram jika menunduk pada 60 derajat.

Bagi maniac gadget, boleh jadi akan segera menepikan riset-riset yang dianggap tidak penting dan mengganggu tersebut. Tapi faktanya, memang, kita melihat dan juga mungkin merasakan ada gejala abnormal terhadap pemanfaatan perangkat teknologi hari ini.

Tanpa bermaksud menggeneralisir atau mencoba mendemoralisasi, namun kasus asusila belum lama ini seperti prostitusi anak usia belia di apartemen Kalibata City, praktik pelacuran kelas kakap oknum selebriti dan Deudeuh Alfisahrin di Tebet, serta marak prostitusi online lainnya, adalah fenomena gunung es yang terutama dipicu oleh “leher yang patah”.

Kita melihat gejala bahwa ada hal ihwal gasal yang ironi dan patut diperhatikan dimana umumnya anak-anak muda kita, nampaknya, -meminjam istilah santri Hidayatullah- sedang terjangkit hawar patah leher.

Patah leher di sini adalah padanan metaforis untuk sengaja mencela kita yang tak sempat lagi menyapa kanan kiri. “Leher yang patah” telah menihilkan kedekatan empatik dan di waktu yang sama menawarkan keramaian palsu. Tak ternyana, ia kemudian terakumulasi menjadi egosentrisme akut yang tak lagi menganggap penting relasi komunal.

Sehingga akhirnya terjadilah, misalnya, peristiwa penelantaran anak meski orangtua secara akademik (juga ekonomi) sangat mumpuni. Pun fenomena hunian indekos dan apartemen yang menjadi tempat prostitusi di tengah pemukiman elit nan ramai secara zahir.

Patah leher telah menggiring pribadi (dan bangsa) menjadi tak acuh, menegasikan interaksi verbal, yang puncaknya meminggirkan imanensi seraya memungut irasionalitas sebagai pedoman arah. Lalu tak lama mencuatlah narasi angkuh: “Dosa urusan gue dengan Tuhan, bukan urusan lu”.

Nahasnya, terdapat jurang menganga yang sewaktu-waktu bisa saja menyedot anak-anak muda hari ini menjadi “generasi patah leher” menahun. Kita jelas khawatir dengan masa depan generasi bangsa yang tidak ringan di tengah jumpalitan anomali bangsa ini.

Momentum Kebangkitan

Kita tentu khawatir akan sakit dan meluasnya epidemi global text neck meski di Indonesia sendiri gangguan kesehatan ini relatif baru terdengar. Karenanya, sudah waktunya kita untuk segera menegakkan leher yang sudah cukup lama menunduk. Mari menengadah, mari berpaling ke kanan dan kiri. Sapalah istri, anak, jenguk tetangga, sapalah setempat duduk kita.

Kita optimis di tengah pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia yang menunjukkan peningkatan grafik yang luar biasa dan umumnya dilakoni oleh anak-anak muda kreatif. Namun di waktu yang sama kita miris dengan laku pemanfaatan teknologi yang justru jauh dari kata smart.

Saat ini ada setidaknya 30 juta orang remaja di Indonesia yang mengakses internet secara reguler. Diprediksi masyarakat Indonesia saat ini memiliki 75 juta pengguna internet, maka itu berarti hampir setengah pengguna internet di negeri ini adalah remaja.

Dari data yang dirilis Menkomnfo tahun lalu tersebut bisa ditebak anak-anak Indonesia, yakni kita kita ini, telah menjadi konsumen jumbo untuk komoditas pasar global termasuk di dalamnya gadget teknologi. Tak heran setiap kali ada rilis terbaru produk smartphone selalu ludes bahkan dalam hitungan menit. Memang tak dielakkan, perubahan dalam dunia teknologi informasi selalu mengalami percepatan setiap waktu.

Ekonom Muhaimin Iqbal mengemukakan bahwa perubahan cepat semacam ini turut merotasi jenis-jenis profesi yang juga berubah secara drastis. Dia mencontohkan, hanya dalam dua atau tiga generasi di Amerika (sekitar 150 tahun), pekerjaan petani yang dahulunya dilakukan oleh 90 % penduduk Paman Sam, kini tinggal 2 %-nya saja yang tetap bekerja di sektor ini.

Dengan perkembangan teknologi saat ini menjadikan berbagai profesi “terpaksa” menyesuaikan diri dengan perkembangan agar tidak tergusur oleh solusi teknologi sebagaimana tergusurnya sebagian besar profesi para petani di negeri maju tersebut di atas.

Kita kini hidup dalam belantara informasi. Namun, ditegaskan Muhaimin, bahwa di belantara era informasi inipun petunjuk kita tetap sama, yaitu petunjuk Tuhan yang menjamin kita tidak akan celaka, tidak akan tersesat, bersedih dan khawatir.

Mari lebih sering memandang ke sekitar kita dengan mata hati dan rasa empati. Mari mulai menyapa dalam dekat sebab kita masih punya asa dan peduli sesama. Kiranya kepala masih terus menunduk dalam pekur sibuk di ranah maya, kita rasanya pesimis kebangkitan bangsa mewujud nyata.

Saya lalu teringat dengan pesan elektronik bergerak yang menempel pada panel atap KRL Commuter Line Bogor-Jakarta Kota sejak beberapa hari ini dalam rangka menyambut peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei.

Pesan itu berbunyi: Hanya Bangsa yang Sakit yang Tak Pernah Bangkit!

___________
YACONG B. HALIKE, penulis adalah aktifis Hidayatullah. Saat ini sebagai kerani di portal www.pinopini.com. Pasca sunting artikel ini telah dimuat pertama kali oleh portal nasional www.hidayatullah.com

Majelis Taklim Bali Puji Dakwah Simpatik Hidayatullah

Pengajian gabungan majelis taklim muslimah Bali / YUS
Pengajian gabungan majelis taklim muslimah Bali / YUS
Kunjungan edukatif murid RA Yaa Bunayya Hidayatullah Denpasar Bali / YUS
Kunjungan edukatif murid RA Yaa Bunayya Hidayatullah Denpasar Bali / YUS
Pengajian gabungan majelis taklim muslimah Bali / YUS
Pengajian gabungan majelis taklim muslimah Bali / YUS
Kunjungan edukatif murid RA Yaa Bunayya Hidayatullah Denpasar Bali / YUS
Kunjungan edukatif murid RA Yaa Bunayya Hidayatullah Denpasar Bali / YUS

Hidayatullah.or.id — Kaum muslimah Bali mengaku haus akan siraman rohani yang simpatik sebagaimana telah dilakukan dai Hidayatullah di wilayah tersebut. Karenanya, mereka memujii peran pembinaan moral umat melalui dakwah oleh Hidayatullah tersebut seraya berharap upaya tersebut dilakukan berkesinambungan.

Hal itu diutarakan Ketua Panitia Kelompok Pengajian Majelis Taklim Suci Hati Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Bunda Wiwi, pada acara pengajian gabungan muslimat di Masjid Al-Mustaqim Jembrana bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Denpasar, baru baru ini.

Pada kesempatan tersebut Wiwi juga mengucapkan terima kasih kepada Baitul Maal Hidayatullah Cabang Denpasar atas perkenannya mengisi acara sore itu yang juga merupakan program rutin pengajian Majelis Taklim Suci Hati dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

“Bulan Ramadhan sudah di depan mata, kami ingin meningkatkan iman kepada Allah Swt melalui pengajian ini dan beribadah secara nyata dengan berbagi kasih kepada 20 anak asuh dan 80 orang tua dhuafa,” ujarnya.

Sementara itu, dalam paparan taushiahnya yang menyampaikan materi Super Live Revolution (SLR), Ustadz Muhammad Samsudi lebih banyak mengajak para ibu-ibu untuk terus meningkatkan iman kepada Allah Ta’ala melalui alat peraga multimedia.

“Tidak ada gunanya kesempatan hidup yang panjang jika tidak kita bingkai dalam rangka ibadah kepada-Nya. Kita bisa jadi apa pun, tetapi menjadi apa pun yang penting seluruh kegiatan ini dalam rangka mempersiapkan perjumpaan kita kepada Allah,” tuturnya mengingatkan.

Acara ini mengusung tema Meraih Kebahagian Dunia dan Akhirat ini berlangsung sukses dan lancar.

Di hari yang sama, rombongan dai dan tim relawan Laznas BMH Denpasar mengisi materi SLR di Gedung Aula MTSN Gilimanuk yang diikuti oleh ratusan anak-anak yang akan mengikuti proses belajar-mengajar tahun ajaran baru 2015/2016 didampingi oleh orangtua masing-masing yang diundang pihak sekolah untuk mengikuti acara Pelatihan Peningkatan Motivasi Belajar dan Tata Krama Siswa MTSN Gilimanuk.

Rangkaian acara yang dihelat sejak lepas Maghrib ini berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan. Acara semakin menyeruak khidmat dengan siraman rohani lewat materi Super Life Revolution dari BMH setelah sholat Isya.

Agus Subagya, M.Pd selaku kepala Sekolah MTSN Gilimanuk menuturkan, acara ini merupakan kegiatan pengenalan awal untuk calon anak-anak didik di MTSN Gilimanuk ini. Dia berharap dengan acara ini anak-anak mantap menjatuhkan pilihannya sekolah di MTSN Gilimanuk dan mengetahui nilai-nilai yang menjadi semangat dalam keluarga besar MTSN Gilimanuk.

Kunjungan Edukatif

Selain kegiatan tersebut, murid-murid Raudhatul Athfal dan RA Yaa Bunayya Hidayatullah Denpasar yang didampingi oleh orang tua masing-masing mengadakan kunjungan edukatif di dua tempat sekaligus.

Tempat pertama yang akan dikunjungi yakni Bali Bird Park atau taman burung. Beragam jenis burung ada di taman kebanggan warga Bali, khususnya warga Gianyar. Beragam jenis hewan unggas diperkenalkan kepada anak-anak RA, mereka tampak antusias mengikuti perjalanan pagi itu yang dipandu oleh Om Bagus dari Bali Bird Park.

Suasana kunjungan ke Bali Bird Park dilengkapi dengan suguhan terakhir dari pengelola dengan menghadirkan film imigration bird dalam kemasan empat dimensi, suara riuh anak-anak terdengar selama pemutaran film dengan beragam aksi dari burung-burung tersebut.

Sementara di tempak kedua, Bali Fun World, anak-anak menghabiskan ‘dahaga’ bermainnya dengan leluasa, satu persatu mainan yang ada di tempat rekreasi tersebut silih berganti dijajal.

Panitia Ibu Supitri mengucapkan terima kasih atas kerjasama ini kegiatan ini tidak dapat terlaksana jika tidak ada sinergi bersama.  Semoga kerjasama ini ditahun-tahun mendatang menjadi lebih baik lagi, ujarnya.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Sekolah dan Komite RA Yaa Bunayya Denpasar, BMH dan didukung oleh Yayasan Al-Islam Hidayatullah Bali. (Yusran Yauma)

MUI: Jangan karena Mengaji Lalu Orang Dituduh ISIS

0
Kegiatan halaqah santri Ponpes Hidayatullah Depok/ Ilustrasi
Kegiatan halaqah santri Ponpes Hidayatullah Depok/ Ilustrasi

Hidayatullah.or.id — Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta harus ada persamaan pendapat institusi pemerintah mengenai kategori kelompok-kelompok berbahaya, seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, MUI bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sudah membentuk tim untuk membahas kasus tersebut.

“MUI ingin kita memiliki kesamaan pendapat dalam melakukan kategorisasi kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya dan radikal. Jangan sampai keliru yang bukan ISIS di-ISIS-kan, hanya karena mereka berkumpul dan mengaji, padahal tidak ada kaitannya,” ujarnya seperti dikutip ROL, Selasa.

Karenanya, ia menyarankan TNI dan Polri melakukan penelitian untuk mendapatkan data dan bukti yang didapat akurat. Sehingga, kata dia, jangan sampai mereka yang bukan anggota ISIS tapi dituduh ISIS. Tetapi, kalau kelompok itu memang ISIS atau mempunyai indikasi melakukan tindak kekerasan, harus diberi tindakan.

“MUI sudah menugaskan tim khusus untuk menangani masalah-masalah seperti ini. Ada sekitar lima orang, termasuk Pak Slamet Effendy, yang kita minta untuk berdiskusi dengan pihak BNPT,” kata Kiai Ma’ruf.

Isu ini nantinya juga akan menjadi salah satu agenda pembahasan dalam Forum Ijtima’ Ulama MUI di Tegal, bulan depan. Pada Selasa (12/5) lalu, MUI juga telah menyaring masukan-masukan dari sejumlah pimpinan pondok pesantren dan ormas Islam terkait hal ini. (ybh/hio)

Jelang Ramadhan, Kampus Hidayatullah Mantapkan Persiapan

Songsong Ramadhan Mulia, Sejumlah Kampus Hidayatullah Mantapkan PersiapanHidayatullah.or.id — Bulan suci Ramadhan tak terasa telah menjelang. Kurang lebih sebulan lagi bulan mulia ini akan menyapa kita. Dalam rangka menyambut Ramadhan Mulia yang sangat istimewa ini, Kampus Hidayatullah berbenah diri.

Seperti misalnya dilakukan Kampus Hidayatullah Makassar Sulawesi Selatan. Pembangunan berupa pengecoran konstruksi Masjid Umar Al Farouq di Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jalan Poros BTP Tamalanrea, Makassar, ini terus dikebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Irfan Yahya,  mengharapkan pengecoranakan ini segera rampung Juni mendatang, agar bisa digunakan untuk amaliyah Ramadan 1436 Hijriyah.

“Semoga dapat kejar target selesai Ramadan dan semoga dermawan para donaturnya semakin banyak,” ucap Irfan.

Irfan yang juga sektertaris anggota DPD RI Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini mengatakan, pengecoran plat masjid di sisi selatan depan berjalan lancar.

Hingga, awal Mei total donasi jamaah dan dermawan masuk Rp 250 juta. Ada utang dalam bentuk barang senilai Rp 100 juta, utang tunai Rp 200 juta. Jadi total ada Rp 550 juta dari total asumsi kebutuhan pembangunan Rp 2 M.

Masjid ini kana digunakan sekitar 1000-an santri dan warga untuk kegiatan bagian ponpes. Usai finishing seperti mihrab, teras dan tampilan luar, yang agak besar dananya u ke depan rehab bagian atap dan kubahnya.

Sementara itu, penambahan lokal Masjid Arriyadh Kampus Hidayatullah Pusat Gunung Tembak Balikpapan, juga dilakukan pengecoran pada Rabu, pagi ba’da subuh di Masjid Ar-Riyadh, akhir April lalu.

Panitia Pembangunan Masjid Agung ar-Riyadh Balikpapan mengadakan pengecoran lantai dua Masjid. Pengecoran berlangsung hingga pukul pukul 08.30 keesokan harinya.

Proses pengecoran juga melibatkan puluhan santri pilihan, dari MTs dan MA Raadhiyatan Mardhiyyah Putra.Tak ketinggalan seluruh mahasiswa STIS Hidayatullah Balikpapan.

“Terasa indah karena semua orang ingin mengambil bagian dalam kesuksesan pembangunan masjid. Salah satu motivasi para santri dalam pengecoran ini adalah membangun masjid sama halnya kita membangun rumah di Surga. Karena begitulah sabda Nabi melalui Hadits”, ujar Arbain, salah seorang santri.

Pembangunan Masjid memang sengaja dikebut. Sebab sesuai rencana, masjid yang berukuran 40×80 ini akan digunakan untuk acara Munas IV Hidayatullah yang akan digelar pada tanggal bulan Muharram 1437H bertepatan bulan November 2015.

Selain itu Masjid Ar-Riyadh bukan sekedar masjid pada umumya. Shalat wajib lima waktu di masjid ini dihadiri sedikitnya 600-an jamaah setiap shalat 5 waktu. (hio/ybh)

Legislator Pusat Kunjungi Pesantren Hidayatullah Tolitoli

ahmad ali 2Hidayatullah.or.id —  Tokoh muda Sulawesi Tengah yang juga legislator pusat anggota Komisi V DPR RI, Ahmad M Ali, melakukan anjangsana silaturrahim ke Pondok Pesantren Yayasan Hidayatullah di Kota Tolitoli, beberapa waktu lalu (12/5).

Ahmad Ali yang telah dideklrasi partai pengusungnya sebagai calon gubernur (Cagub) Sulawesi Tengah periode 2015-2020 ini tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 wita disambut oleh seluruh santri dan pengurus yayasan di masjid yayasan Hidayatullah Tolitoli.

Ahmad Ali keturunan Cina biasa disapa Mat Sun ini, berkunjung didampingi Ketua DPD Nasdem Tolitoli, Aziz Bestari, dan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Yahdi Basma, melakukan diskusi singkat bersama seluruh pengurus dan santri di ponpes tersebut.

Ia tampak akrab bersama seluruh santri yang terlihat senang menyambut kedatangan anggota DPR RI itu.

Ahmad Ali kepada seluruh santri dan pengurus Hidayatullah mengatakan bahwa kedatangannya dalam rangka reses adalah kewajiban anggota DPR RI, apalagi dana perjalanan selama reses telah dianggarkan oleh pemerintah.

“Saya wajib untuk mengunjungi seluruh daerah di Sulawesi Tengah, karena negara sudah memberikan anggaran untuk perjalanan reses anggota DPR,” kata Ahmad Ali.

Dalam pertemuan tersebut, tokoh muda Sulteng itu memberikan tali asih untuk pembangunan dan kebutuhan perlengkapan yang dibutuhkan yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah. Selain itu, ia juga berharap agar seluruh santri dapat menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh.

Dalam pertemuan tersebut pengurus Pesantren Hidayatullah banyak memberikan masukan dan usulan terkait pembangunan di wilayah tersebut. Juga menyampaikan kebutuhan sarana pendidikan untuk santri Hidayatullah yang ditanggapi positif oleh Ahmad Ali.

Dalam pertemuan itu, pengurus yayasan Hidayatullah berharap agar Ahmad Ali bisa maju untuk memimpin Sulawesi Tengah.

Salah satu pengurus Yayasan Hidayatullah Tolitoli, Ustad Muhaimin, mengatakan pembangunan kota Tolitoli membutuhkan singeri berbagai komponen umat, tidak terkecuali lembaga-lembaga Islam seperti pesantren dan panti-panti asuhan layaknya saat ini diselenggarakan Hidayatullah.

“Karenanya, kunjungan beliau dengan kapasitasnya sebagai legislator yang mewakili provinsi ini, diharapkan dapat terus menguatkan singeri masyarakat dalam membangun Sulteng,” kata Muhaimin.

Setelah melakukan diskusi, Ahmad Ali bersalam-salaman dengan seluruh santri yang tampak senang bisa bertemu langsung dengan anggota DPR RI itu.(ybh/hio)