Beranda blog Halaman 95

Rasfiuddin Sebut Adab sebagai Kunci dalam Empat Pilar Ketahanan Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, mengatakan bahwa cita cita Indonesia Emas 2045 untuk menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur di usianya yang genap satu abad kemerdekaannya hanya akan dapat terwujud bila dibangun di atas fondasi yang benar.

“Dalam pandangan kami, adab adalah pilar pertama yang harus ditegakkan sebelum bicara soal pembangunan dalam sektor lain,” kata Rasfiuddin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 22 Dzulqa’dah 1446 (20//5/2025).

Dia menegaskan bahwa adab bukan sekadar sopan santun, tetapi mencakup keseluruhan sikap hidup yang menghormati tatanan, menjunjung nilai-nilai kebenaran, dan berperilaku sesuai akhlak mulia.

“Ketika adab tegak, maka ketahanan dalam semua sektor akan kokoh,” terangnya, seraya mengajak melihat bagaimana adab menjadi kunci dalam empat pilar ketahanan nasional.

Pertama, adab dalam ketahanan ideologi yang berlandas pada Pancasila dan nilai luhur bangsa.

Rasfiuddin menjelaskan, ketika generasi muda memahami adab terhadap bangsa dan sejarahnya, mereka tidak mudah tergoda oleh ideologi yang menyimpang.

“Pancasila harus dijaga bukan hanya dengan hafalan, melainkan dengan penghayatan yang mendalam, dan pengamalan yang penuh adab dengan dimulai dari ketahanan akidah yang benar dan kuat,” tegasnya.

Kedua, adab dalam ketahanan ekonomi. Dia menjelaskan, ekonomi yang kuat tidak dibangun dari keserakahan, tetapi dari integritas, kerja keras, dan etos kerja.

“Adab melahirkan pelaku ekonomi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab, menjadikan ekonomi tumbuh secara merata tidak dikuasai oleh sekelompok kaum elit saja, sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia betul-betul bisa terealisasi,” terangnya.

Ketiga, adab ketahanan sosial-budaya. Dalam masyarakat majemuk, terangnya, adab menjadi tameng dari perpecahan.

Karena itu, tegas Rasfiuddin, saling menghormati, mendengarkan, dan mengedepankan kepentingan bersama di atas ego kelompok adalah manifestasi dari adab sosial yang tinggi.

Keempat, adab ketahanan keamanan dalam bingkai hukum dan tatanan sosial. Dia menjelaskan, keamanan tidak hanya dijaga oleh aparat, tetapi oleh kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup tertib, damai, dan saling menjaga.

“Generasi beradab tidak mudah terprovokasi dan tidak menjadi sumber kekacauan,” imbuhnya.

Lebih jauh ia menguraikan, pemuda hari ini hidup dalam era keterbukaan informasi yang luar biasa. Namun tanpa adab, keterbukaan bisa berubah menjadi kebisingan. “Tanpa akhlak, kecerdasan menjadi alat untuk menipu. Tanpa moral, kekuasaan bisa menindas,” katanya.

Di sisi lain, Indonesia memiliki bonus demografi, tetapi itu bisa menjadi bencana bila generasi mudanya kehilangan arah dan adab. Di sinilah, terangnya, peran pembinaan kader beradab menjadi sangat penting.

Karenanya ia pun mendorong beberapa langkah konkret untuk mengentaskan masalah tersebut yaitu melakukan revitalisasi pendidikan adab sejak dini, dan menggalang gerakan kepemudaan yang berbasis nilai.

Selain itu, Rasiuddin juga memandang pentingnya kelangsungan sinergi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk organisasi keagamaan dan pemuda, untuk membentuk ekosistem sosial yang beradab.

Ia pun melihat pentingnya peran generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital dengan cerdas dan cerma.

“Mengisi ruang digital dengan konten yang mencerdaskan. Pemuda harus menjadi pelopor literasi digital yang bermoral dan konstruktif,” katanya menukaskan.*/

Sekolah Dai Hidayatullah Bogor Buka Pendaftaran Angkatan ke-11, Tawarkan Beasiswa Penuh

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru angkatan ke-11 untuk tahun akademik 2025/2026.

Melalui program intensif selama satu tahun berasrama dengan skema 100% beasiswa, program kuliah dai ini kembali menegaskan komitmennya mencetak kader dai tangguh yang siap berdakwah ke seluruh penjuru nusantara.

Program ini terbuka bagi lulusan SMA/sederajat yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an, siap mengikuti aturan asrama, dan bersedia menjalani proses wawancara seleksi.

Tiga gelombang pendaftaran telah dijadwalkan, dimulai dari 10 Maret hingga 10 Agustus 2025, dengan masa masuk asrama pada 18–24 Agustus, dan pembelajaran dimulai pada 1 September 2025.

“Program ini mengikhtiarkan pendidikan untuk melahirkan da’i yang mampu berdakwah dalam berbagai kondisi, baik di kota besar maupun pelosok negeri,” ujar Ustaz Saepudin Abdullah, Lc, penanggung jawab program.

Kurikulum Terpadu dan Tenaga Pengajar Berkualitas

Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor menawarkan kurikulum intensif dan aplikatif yang terintegrasi dengan Program Strata 1 (S1) di STAIL Surabaya.

Selain berlatar belakang keilmuan umum dan praksis, pengajar Sekolah Dai Bogor merupakan alumni Timur Tengah dan perguruan tinggi ternama seperti Universitas Al-Azhar Kairo, Universitas Islam Madinah, LIPIA Jakarta, dan sejumlah kampus Islam unggulan di Indonesia.

“Dengan pengalaman akademik para pengajar, pengalaman lapangan, serta mereka telah hidup dalam kultur dakwah internasional. Ini menjadi bekal penting bagi santri untuk memahami realitas dakwah secara global dan lokal,” jelas Ustaz Saepudin.

Tak hanya itu, sekolah ini juga dikenal dengan atmosfernya yang islami, lingkungan yang mendidik, dan semangat kolektif dalam menegakkan nilai-nilai dakwah. Para alumni Sekolah Da’i Hidayatullah telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan aktif dalam kerja-kerja dakwah komunitas.

Fasilitas Lengkap dan Lingkungan Mendukung

Meskipun bersifat beasiswa penuh, para santri akan menikmati fasilitas yang representatif. Asrama yang bersih dan nyaman, masjid yang menjadi pusat kegiatan spiritual, ruang belajar yang mendukung proses akademik, serta sarana olahraga dan perpustakaan menjadi bagian integral dari sistem pembinaan.

“Mereka dibentuk dalam suasana kebersamaan dan kedisiplinan. Semua aktivitas—baik akademik maupun non-akademik—dirancang untuk membentuk pribadi utuh seorang da’i,” tuturnya.

Pendidikan Dakwah Sebagai Ihtiar Peradaban

Di tengah arus globalisasi dan tantangan ideologis yang makin kompleks, Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor hadir sebagai jawaban atas kebutuhan umat terhadap sosok da’i yang intelektual, spiritual, dan sosial.

“Da’i adalah agen perubahan. Maka pembinaannya harus serius, terukur, dan berorientasi pada kontribusi nyata. Kami tidak menjanjikan popularitas, tapi pengaruh yang bermakna dalam kehidupan umat,” pungkas Ustaz Saepudin.

Pendaftaran dilakukan secara daring melalui tautan di sini. Untuk informasi lebih lanjut, calon peserta dapat menghubungi langsung nomor WhatsApp 0812 8348 2527.

Sekolah Da’i Hidayatullah Bogor kembali membuka pintu bagi mereka yang terpanggil untuk berdakwah dan berjuang di jalan Allah.

Dalam situasi umat yang memerlukan pencerahan dan keteladanan, program ini menjadi ladang pengabdian sekaligus investasi spiritual jangka panjang.*/

Jangan Berhenti, Dari Jakarta Suarakan Tuntutan Keadilan Global untuk Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) menggelar aksi besar-besaran di kawasan Monas-Patung Kuda, Jakarta, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).

Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Nakba—15 Mei 1948—sebuah titik awal dari penderitaan panjang bangsa Palestina akibat penjajahan Zionis Israel.

ARI-BP dengan tegas menyatakan bahwa Nakbah, yang berarti “malapetaka”, adalah tragedi sejarah saat ratusan ribu rakyat Palestina dibantai, diusir dari tanah airnya, dan hidup dalam pengungsian hingga kini.

“Nakbah yang terjadi pada tanggal 15 Mei 1948, ketika ratusan ribu rakyat Palestina dibantai oleh kaum Zionis Israel, adalah malapetaka sejarah yang tidak boleh terulang,” tegas pernyataan sikap ARI-BP.

Genosida yang kini berlangsung di Gaza dinilai sebagai penjelmaan modern dari Nakbah yang harus segera dihentikan.

Dalam seruannya, ARI-BP mengusulkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tanggal 15 Mei dijadikan peringatan global sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan.

Usulan ini disertai tuntutan konkret agar Majelis Umum PBB menerbitkan resolusi berdasarkan fatwa International Court of Justice (ICJ) dan amar International Criminal Court (ICC) untuk menghukum Israel serta menangkap Perdana Menteri Benyamin Netanyahu sebagai aktor utama kekejaman tersebut.

Aksi ini juga memuat dukungan terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan komitmen terhadap kemerdekaan Palestina.

“Menghargai pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina, serta mendorong tindakan nyata untuk menghentikan kekejaman Zionis Israel yang didukung oleh Amerika Serikat terhadap rakyat Palestina,” tegas pernyataan bersama ARI-BP.

Lebih jauh, ARI-BP mendesak Indonesia untuk menggalang kekuatan diplomasi bersama negara-negara yang menjunjung keadilan dan perdamaian global, guna menghentikan genosida di Gaza.

Amerika Serikat secara khusus disorot sebagai pendukung utama rezim Zionis yang harus segera menghentikan keterlibatannya dalam aksi brutal terhadap rakyat Palestina.

Sebagai strategi tekanan non-militer, ARI-BP menyerukan penguatan gerakan boikot produk Israel dan afiliasinya.

ARI-BP mendorong seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk melaksanakan Fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait boikot ekonomi sebagai bentuk perlawanan terhadap pendanaan genosida dan penghancuran Gaza.

Terakhir, ARI-BP menutup aksinya dengan seruan konstitusional yang menegaskan sikap moral bangsa Indonesia yang berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan amanat konstitusi—suatu kewajiban historis dan politik yang tidak boleh diabaikan.

“Kepada seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu melaksanakan amanat Konstitusi UUD 1945 demi mewujudkan perdamaian abadi dan menghapus segala bentuk penjajahan dari muka bumi, termasuk penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina,” tukasnya.[]

Wisuda Akbar XI Darul Hijrah, Ustadz Abdul Rahman Sentil ‘Waktu Sisa’ untuk al-Qur’an

PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina Ma’had Darul Hijrah, Ust. Drs. H. Abdul Rahman, menghadiri Wisuda Akbar ke-XI Alumni Ma’had Tahfizh Darul Hijrah, Pasuruan, Jawa Timur, pada Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).

Dalam momen bersejarah itu, sebanyak 229 santri putra-putri merayakan kelulusan mereka sebagai penghafal al-Qur’an, sebuah capaian monumental yang merefleksikan dedikasi tinggi dalam menjaga warisan langit.

Dalam taushiyahnya, Abdul Rahman membuka pidato dengan menekankan makna kehadiran dalam acara tersebut.

“Hadirnya kita dalam Wisuda Akbar ke-11 Alumni Ma’had Tahfizh Darul Hijrah adalah wujud penghormatan kepada anak-anak kita yang telah berusaha menjaga al-Qur’an dengan membaca dan menghapalnya sebagai wujud kecintaan mereka kepada al-Qur’an,” ujarnya.

Ia mengajak menyadari bahwa anak-anak yang menghafal al-Qur’an sedang mengisi kekosongan besar dalam realitas kehidupan umat Islam. Di tengah krisis identitas dan kegamangan arah hidup, kehadiran generasi Qur’ani, menurut Abdul Rahman, adalah kebutuhan mendesak.

“Hadirnya generasi pecinta al-Qur’an adalah kebutuhan mutlak untuk menghindarkan kita dari perjalanan hidup yang menyimpang, baik secara personal, atau secara kolektif apatah lagi secara kenegaraan,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukan sekadar teks kitab suci belaka, tapi fondasi integritas sosial dan arah moral sebuah bangsa.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa institusi seperti Ma’had Darul Hijrah bukanlah tujuan akhir, melainkan pemantik kesadaran.

“Keberadaan Ma’had Tahfizh al-Qur’an seperti Darul Hijrah hanyalah salah satu pemantik untuk kita mau dan berkomitmen untuk hidup di bawah naungan al-Qur’an,” katanya.

Namun demikian, ia mengkritik keras sekaligus menyentil pola relasi umat Islam terhadap al-Qur’an yang masih minim dan bersifat sisa.

“Membacanya kalau ada sisa waktu, mengeluarkan hartanya untuk al-Qur’an jika ada sisanya, maka bagaimana bisa mendapatkan berita gembira dari langit jika al-Qur’an hanya mendapatkan sisa-sisa dari waktu dan harta kita,” ungkapnya, seraya menunjukkan adanya degradasi spiritual dan prioritas hidup umat yang perlu segera dikoreksi.

Ia bahkan memberi peringatan keras yang mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada sikap instrumental terhadap agama, menjadikan wahyu tunduk pada kehendak duniawi, bukan sebaliknya.

“Jika kita memberikan sisa-sisa waktu, tenaga dan harta kepada al-Qur’an, maka dikhawatirkan kita bersikap seperti Yahudi saat mereka memaksa agama yang mengikuti kemauan mereka,” terangnya.

Menggambarkan al-Qur’an sebagai indikator kecerdasan manusia, Abdul Rahman menegaskan kritik terhadap paradigma intelektual modern yang kerap mengabaikan dimensi transendental dalam memaknai kecerdasan.

“Level kecerdasan manusia dapat dinilai dari bagaimana dia memposisikan al-Qur’an. Saat dia yakin secara utuh kepada al-Qur’an, menjadikan al-Qur’an sebagai kurikulum hidupnya, maka itulah tanda kecerdasan manusia,” tukasnya.

Ia pun mengungkapkan alasan fundamental berdirinya Ma’had Darul Hijrah yang memiliki visi menempatkan al-Qur’an bukan sebagai teks suci yang dipajang, melainkan sebagai perangkat hidup, kerangka kerja, dan sumber otoritas moral.

“Salah satu alasan Darul Hijrah ini didirikan adalah untuk melahirkan generasi yang menjadikan al-Qur’an sebagai panduan (guidance) hidupnya, sehingga saat dia nanti menjadi pemimpin maka dia memimpin dengan al-Qur’an, saat dia menjadi tokoh maka dia menuntun dengan al-Qur’an,” jelasnya.

Mengakhiri taushiyahnya, KH. Abdul Rahman yang juga Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) DPP Hidayatullah, menyampaikan doa yang menggugah harapan agar para wisudawan menjadi pemimpin umat yang diridhai Allah yang menempatkan al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupan.*/

Aksi Bela Palestina, KH Nashirul Haq Tegaskan Langkah Konkret yang Dapat Dimaksimalkan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., turut serta dalam Aksi Bela Palestina yang digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Ahad pagi, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025 M).

Aksi ini melibatkan ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP).

Dalam pernyataannya kepada wartawan, pria yang akrab disapa UNH ini menegaskan pentingnya langkah konkret yang dapat dilakukan oleh rakyat dan bangsa Indonesia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Menurutnya, ada empat bentuk dukungan yang dapat dimaksimalkan.

Pertama, melalui diplomasi politik dan kekuatan militer. “Diplomasi bisa dilakukan secara aktif, bahkan termasuk mengirimkan pasukan perdamaian untuk menghentikan genosida yang terjadi di Gaza,” ungkapnya.

Nashirul menegaskan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus ditindaklanjuti dengan kerja politik yang serius dan terkoordinasi secara internasional.

Kedua, menghentikan hubungan dagang dengan Israel serta memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan kepentingan Israel dan Amerika Serikat. Hal ini menurutnya strategi ekonomi-politik sebagai bentuk tekanan terhadap negara penjajah.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab moral bangsa Indonesia yang berdaulat dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” tegas UNH.

Ketiga, peningkatan efektivitas bantuan kemanusiaan. UNH menyarankan agar bantuan ke Gaza dikoordinasikan langsung oleh pemerintah, guna memastikan bahwa distribusi berjalan tepat sasaran. Di tengah blokade dan kehancuran infrastruktur, keakuratan penyaluran bantuan menjadi penentu keberhasilan misi kemanusiaan.

Keempat, peran spiritual melalui doa dan qunut nazilah dalam setiap waktu shalat. Bagi UNH, dimensi spiritual ini merupakan penguatan batin dalam menghadapi realitas ketidakberdayaan struktural yang berlangsung lama.

“Karena kita tidak mampu lagi berbuat apa-apa selama 18 bulan hingga hari ini. Maka doa menjadi senjata terakhir yang kita punya,” tuturnya dengan nada prihatin.

Ia pun menyampaikan panggilan nurani yang mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari solidaritas bangsa Palestina. Oleh karena itu, membela Palestina juga merupakan bagian dari membayar hutang sejarah.

“Semoga kejahatan yang berlangsung hingga hari ini mendekatkan kepada kemenangan dan kemerdekaan. Karena, negara Palestina adalah yang pertama kali memberikan dukungan kepada negara Indonesia. Kita berhutang budi kepada Palestina,” imbuhnya.

UNH menegaskan bahwa aksi seperti ini bukan sekadar seremonial, tetapi memiliki makna strategis dalam membangun kesadaran kolektif dan opini internasional. “Ini adalah instrumen untuk mengkonsolidasikan kesadaran publik, membangun opini internasional, serta menekan aktor-aktor global agar memperhatikan penderitaan rakyat Palestina,” ujarnya.

Desakan ARI-BP Mengenai Hari Nakba

Aksi tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan pemuka lintas agama, seperti Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua Bidang Luar Negeri MUI Prof. Sudarnoto, serta Ketua Komite Pengarah ARI-BP Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin.

Dalam pernyataannya, ARI-BP mengajukan permintaan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar menetapkan tanggal 15 Mei—yang dikenal sebagai Hari Nakba—sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan Internasional. Usulan ini dimaksudkan untuk memberi tekanan global terhadap pengakuan atas penderitaan rakyat Palestina sebagai tragedi besar umat manusia.

ARI-BP juga menyampaikan apresiasi terhadap Presiden Prabowo Subianto yang secara konsisten menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Namun demikian, mereka menegaskan bahwa “dukungan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata.”.*/

Training of Trainer PKAUD 2025 Kuatkan Ketahanan Keluarga Kokohkan Peradaban Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini (PKAUD) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Training of Trainer (ToT) PKAUD 2025 dengan tema “Menguatkan Ketahanan Keluarga, Mengokohkan Peradaban Islam”.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jum’at hingga Ahad, 18-20 Dzul Qa’dah 1446 H / 16-18 Mei 2025 M, bertempat di Wisma Hidayatullah Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak, Otista, Polonia I No. 4, Jakarta.

Sebanyak 32 orang kader Keluarga Sakinah Hidayatullah dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Sulawesi, turut ambil bagian dalam pelatihan ini.

Mereka adalah para pegiat pendidikan keluarga yang berkomitmen memperkuat ketahanan institusi keluarga sebagai pilar utama dalam pembangunan peradaban Islam.

Menjawab Tantangan Zaman

Ketua Departemen Pembinaan Keluarga dan PAUD DPP Hidayatullah Drs. Endang Abdurrahman menjelaskan pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang tengah dihadapi keluarga Muslim saat ini.

Perubahan zaman yang begitu cepat—melalui derasnya arus globalisasi, maraknya penggunaan gawai dan media sosial, serta banjir informasi yang tak terbendung—menjadi tantangan serius dalam mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah (samara).

“Banyak rumah tangga yang mengalami keretakan, anak-anak kehilangan arah pengasuhan, dan peran orang tua yang melemah. Kondisi ini menjadi ancaman serius terhadap fondasi umat,” kata Endang dalam keterangannya diterima media ini, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).

Ia bahwa keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat, namun memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk peradaban Islam yang kokoh dan berkelanjutan.

Melalui ToT ini, jelas Endang, para peserta tidak hanya dibekali dengan materi konseptual tentang ketahanan keluarga, tetapi juga keterampilan praktis dalam mengelola tantangan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini.

“Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelatih andal yang akan memperluas dampak dakwah dan pendidikan keluarga ke seluruh penjuru Nusantara,” katanya.

Dengan semangat kolaborasi dan ukhuwah, para peserta juga saling berbagi pengalaman dan strategi dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Diskusi-diskusi produktif, simulasi pelatihan, dan refleksi keislaman menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kader dalam kegiatan ini.

Endang menambahkan, ToT PKAUD 2025 ini menjadi bagian dari ikhtiar strategis DPP Hidayatullah untuk membangun masyarakat madani yang berakar kuat dari keluarga-keluarga yang tangguh dan visioner.*/

Sinergi Wakaf dan Dakwah Membumikan Al-Qur’an Bersama Generasi Muda

LOMBOK (Hidayatullah.or.id) — Di sudut tenang Pulau Lombok, pada sebuah pondok pesantren bernama Hidayatullah Mataram, Masjid Abdullah Ihsan memantulkan suara syahdu lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.

Suara itu bukan berasal dari pengeras suara, melainkan dari lisan para santri muda yang menghafal dan mengamalkan kalam Ilahi. Di tempat sederhana ini, generasi penerus bangsa sedang ditempa. Mereka tak hanya cakap dalam ilmu dunia, tetapi juga kuat memegang cahaya wahyu.

Pada hari Jum’at yang penuh berkah, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menunaikan amanah besar yaitu menyalurkan 350 mushaf Al-Qur’an kepada para santri penghafal Al-Qur’an di pesantren tersebut. Sebuah kegiatan yang tampak sederhana, namun sarat makna dan visi peradaban.

Setiap mushaf adalah permulaan mimpi baru, semangat baru, dan berkah yang terus mengalir. Ini adalah bagian dari program nasional BMH, “Tebar Sejuta Al-Qur’an,” sebuah ikhtiar strategis dan spiritual untuk membumikan Al-Qur’an ke seluruh penjuru negeri—termasuk daerah-daerah yang masih minim akses terhadap mushaf berkualitas.

Setiap mushaf yang diserahkan bukan hanya kertas dan tinta. Ini adalah doa-doa yang tersusun rapi dalam bentuk kitab suci, yang akan menyemangati para santri dalam perjalanan mereka menjadi hafidz-hafidzah masa depan.

Kebahagiaan sederhana tetapi tulus tampak dalam ekspresi Baharudin, salah satu santri penerima mushaf.

“Alhamdulillah, terima kasih kami sampaikan kepada BMH yang telah memberikan kami Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an baru ini, kami semakin berkembang dan bersemangat dalam menghafal,” ujarnya sambil tersenyum, seperti dalam keterangan diterima media ini, Ahad, 20 Dzulqaidah 1446 (18/5/2025).

Bagi para santri, Al-Qur’an adalah lebih dari sekadar buku. Ia adalah sahabat setia dalam kesunyian malam, guru abadi yang membimbing akhlak, dan bekal kehidupan yang melampaui dunia.

Kebaikan ini lahir dari sinergi antara BMH, para donatur, dan Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah. Sebuah kolaborasi yang menghadirkan kembali makna gotong royong dalam bentuk spiritual. Setiap lembar mushaf adalah titipan cinta dari mereka yang percaya bahwa investasi terbaik adalah untuk kehidupan akhirat.

BMH membuktikan bahwa membangun bangsa tak hanya soal infrastruktur atau ekonomi, tapi juga tentang menjaga warisan ilahiah—Al-Qur’an—agar tetap hidup di dada para pemuda. Lewat gerakan ini, BMH mengokohkan posisinya sebagai institusi dakwah dan pendidikan yang menyatukan iman, ilmu, dan amal.

“Setiap langkah BMH adalah upaya untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan utama bagi masyarakat luas,” ungkap Nurkholis, Kepala BMH NTB.

“Penyaluran Al-Qur’an akan terus kami lakukan, hingga sampai ke pelosok-pelosok yang membutuhkan. Ini adalah bagian dari syiar maksimal Al-Qur’an di bumi pertiwi,” tambahnya.

Program Tebar Sejuta Al-Qur’an tak berhenti di Mataram. Ia terus bergerak, menembus batas geografis dan sosial. Sebuah perjalanan panjang yang menegaskan bahwa gemuruh wahyu tak akan pernah padam, selama masih ada yang rela menghidupkannya dalam dada dan amal nyata.*/

Ketum Hidayatullah Sampaikan Masukan Strategis dalam Forum Ikatan Ulama Muslimin Sedunia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam pertemuan Silaturahim Ulama Nasional bertema “Mengokohkan Peran Ulama Indonesia Dalam Perjuangan Palestina dan Baitul Maqdis”, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, menyampaikan serangkaian masukan strategis yang mencerminkan urgensi keterlibatan aktif umat Islam Indonesia, khususnya ulama dan pemerintah, dalam membela perjuangan rakyat Palestina.

Pertemuan yang digelar oleh Ikatan Ulama Muslimin Sedunia (IUMS) Indonesia ini berlangsung pada Sabtu, 9 Zulkaidah 1446 (17/5/2025), di Jakarta, dan dihadiri puluhan ulama lintas organisasi serta tokoh dari berbagai provinsi.

Dalam paparannya, Dr. Nashirul Haq menekankan bahwa peran ulama tidak boleh berhenti pada retorika moral semata.

“Peran ulama harus diarahkan untuk menyadarkan dan mengedukasi umat tentang perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Baitul Maqdis” katanya.

Ia menegaskan bahwa penyadaran kolektif umat melalui pendidikan dan dakwah adalah fondasi bagi konsolidasi sikap politik yang lebih kuat terhadap isu Palestina.

Kedua, Nashirul Haq mendorong Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk tidak mengambil posisi pasif. Ia mengusulkan keterlibatan negara dalam tiga ranah yaitu politik (siyasi), militer (‘askari), dan kemanusiaan (insani).

Dalam hal krisis Palestina, Nashirul menegaskan pentingnya langkah konkret di bidang pertahanan, seperti pengiriman pasukan perdamaian. Hal ini selaras dengan amanat konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.

“Indonesia perlu mengirim pasukan perdamaian,” tegasnya.

Tak hanya itu, bantuan kemanusiaan yang selama ini telah dikirim juga dinilai perlu ditingkatkan, dengan pengawalan langsung dari pemerintah agar efektif, terarah, dan memiliki dampak yang nyata di lapangan.

Masukan ketiga yang disampaikan Dr. Nashirul adalah pentingnya gerakan rakyat yang terorganisir dalam bentuk doa bersama dan Aksi Akbar.

Kegiatan ini menurutnya bukan sekadar simbolik, melainkan instrumen untuk mengkonsolidasikan kesadaran publik, membangun opini internasional, serta menekan aktor-aktor global agar memperhatikan penderitaan rakyat Palestina.

“Aksi besar ini sebaiknya dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo,” ujarnya, memberi penekanan pada pentingnya kehadiran simbolis kepala negara sebagai bentuk dukungan negara secara utuh.

Forum ini juga dihadiri langsung oleh Habib Dr. H. Salim Segaf Al Jufri, M.A., Wakil Presiden International Union for Muslim Scholars (Al-Ittihad Al-‘Alami li ‘Ulama al-Muslimin), yang merupakan organisasi induk dari IUMS Indonesia.

Forum silaturahim ini juga menyerukan langkah-langkah operasional yang menggabungkan kekuatan spiritual, sosial, dan politik serta menekankan posisi Indonesia yang memiliki peluang untuk memainkan peran strategis dalam percaturan diplomatik dan kemanusiaan global.[]

Profesionalisme Syariah, LSH Hidayatullah Jatim Kukuhkan Pengurus dan Gelar Bimtek

BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat profesionalisme dan legalitas penyembelihan sesuai kaidah syariah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Lembaga Sembelih Halal (PW LSH) Hidayatullah Jawa Timur menyelenggarakan acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) & Pelatihan Manajemen Qurban Sembelih Halal, yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Pengurus Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Wilayah Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di Bojonegoro.

Acara pembukaan kegiatan yang digelar hari ini, Sabtu, 19 Zulkaidah 1446 (17/5/2025) dihadiri oleh unsur Pengurus Wilayah LSH Hidayatullah Jawa Timur, Ketua DPW Hidayatullah Jatim Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.I, beserta jajarannya, serta unsur juru sembelih halal dari berbagai DPD Hidayatullah se-Jawa Timur.

Partisipasi aktif dari seluruh pengurus wilayah dan daerah ini menunjukkan keseriusan organisasi dalam menjadikan standar halal sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem perjuangan dakwah dan ekonomi umat.

Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, pakar sembelih halal sekaligus Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Pusat. Ia tidak datang sendiri, tetapi didampingi oleh Muhammad Syarif, yang juga merupakan unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah.

Kehadiran langsung para pengurus pusat LSH Hidayatullah memperkuat pesan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan juga konsolidasi visi nasional dalam peneguhan standar halal berbasis syariah dan profesionalisme.

Sejalan dengan itu, H. Nanang Hanani menegaskan, bahwa pelatihan juru sembelih halal menjadi instrumen strategis. Ia tidak hanya menjamin kepatuhan terhadap hukum Islam dalam proses penyembelihan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap produk-produk halal yang berasal dari komunitas Hidayatullah.

“Standar halal bukan sekadar label, tetapi amanah syar’i yang harus dijaga dengan ilmu, akhlak, dan ketelitian teknis,” kata Nanang.

Pengukuhan Pengurus LSH Hidayatullah Wilayah Jawa Timur menandai langkah konkret menuju tata kelola kelembagaan yang lebih terstruktur.

Ketua DPW Hidayatullah Jatim Ust. Drs. Amun Rowi, M.Pd.I berharap semoga melalui kepengurusan resmi yang baru ini, LSH Hidayatullah Jatim dapat memainkan peran lebih besar dalam membina, mengawasi, dan mengembangkan kapasitas juru sembelih halal yang profesional dan bersertifikasi.

“Langkah ini juga merupakan respon terhadap dinamika regulasi sertifikasi halal nasional, di mana peran pelaku dan lembaga independen seperti LSH menjadi krusial,” kata Amun.

Dalam ekosistem halal nasional, sinergi antara kapasitas SDM dan legitimasi kelembagaan merupakan syarat utama agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pengelola industri halal yang berdaya saing.

Dengan demikian, Amun menambahkan, acara Bimtek dan Pengukuhan ini diharapkan tidak hanya memperkuat struktur organisasi internal, tetapi juga menegaskan posisi Hidayatullah sebagai bagian dari arsitektur besar sistem halal nasional yang berbasis pada akidah, ilmu, dan integritas.*/

DMU Sulut Menyemai Kepemimpinan Muda Menuju Menuju Indonesia Emas 2045

TOMOHON (Hidayatullah.or.id) — Di tengah udara sejuk Tomohon Utara, sebanyak 32 santri berkumpul di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tomohon, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Jum’at, 18 Dzulqa’dah 1446 (16/5/2025).

Mereka datang dari berbagai penjuru wilayah — Bitung, Minahasa Utara, Tomohon, hingga Bolaang Mongondow — untuk mengikuti Daurah Marhalah Ula (DMU), sebuah program pembinaan mentalitas dan spiritualitas generasi muda.

Program ini bukan sekadar ajang pelatihan, melainkan langkah awal dalam menyiapkan generasi yang tangguh untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutan pembukaan, Ustaz Nuryadin, perwakilan dari Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Sulawesi Utara, menegaskan urgensi pembangunan karakter bagi pemuda Indonesia.

“Momen ini adalah langkah awal untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Hidayatullah hadir untuk membentuk karakter santri yang tangguh, berintegritas, dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Kampus Tomohon dipilih bukan tanpa alasan. Bagi jaringan Hidayatullah di wilayah timur Indonesia, tempat ini memiliki nilai historis yang kuat.

“Kampus ini menjadi saksi awal berkembangnya Hidayatullah di wilayah timur Indonesia,” kata Ustaz Murdianto, Ketua Panitia sekaligus perwakilan Departemen Perkaderan DPW Sulut.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya dibekali materi keislaman, tetapi juga dilatih kepemimpinan dan wawasan kebangsaan.

Serangkaian aktivitas fisik dan mental disusun untuk menguatkan karakter para santri, menjadikan mereka sosok yang siap tampil sebagai pemimpin bangsa masa depan.

Pendekatan yang digunakan Hidayatullah dalam program ini mencerminkan visi pendidikan yang integral. Mendidik tidak hanya berarti mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk cara berpikir dan kepribadian.

Dalam konteks menyongsong Indonesia Emas 2045, Murdianto menjelaskan, pendekatan ini menjadi relevan dan mendesak. Negara membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

“Dan di sinilah Hidayatullah terus berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi terbaik umat,” tegas Ustaz Murdianto dalam penutupan sambutannya.

Murdianto mengatakan, harapan besar disematkan pada para peserta Marhalah Ula agar mereka menjadi bagian dari generasi emas Indonesia yang membawa perubahan positif di masa depan.

Melalui kegiatan seperti ini, Murdianto menambahkan, Hidayatullah mempertegas peran strategisnya dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan karakter.

Di tengah berbagai tantangan zaman, pembinaan semacam ini, menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga arah perjalanan Indonesia menuju visi besarnya di tahun 2045.*/