Beranda blog Halaman 94

Menyembelih dengan Ilmu, DQM Gandeng LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Manajemen Qurban

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Ia adalah ibadah dengan dimensi spiritual, sosial, dan teknikal yang menuntut pemahaman mendalam atas syariat dan praktik lapangan.

Demikian pesan utama yang digaungkan dalam Pelatihan Manajemen Qurban & Sembelihan Halal yang diselenggarakan Darul Quran Mulia (DQM) Bogor, bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, pada Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Acara ini menghadirkan pakar sembelihan halal nasional, H. Nanang Hanani, S.Pd.I., MA., Ketua LSH Hidayatullah Pusat.

Dalam pemaparannya, Nanang menekankan bahwa praktik penyembelihan halal bukan hanya persoalan keterampilan teknis, tapi juga integritas spiritual dan kepatuhan syariah.

“Qurban bukan hanya soal memotong hewan, tapi mengelola amanah dengan prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, Halal,” ujar Nanang dalam sesi pelatihan. “Jika prinsip ini dijaga, maka daging qurban menjadi berkah, bukan sekadar daging.”

Nanang tidak hadir sendiri. Ia didampingi oleh Ust. H. Muhammad Syarif, S.Pd.I., unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah, yang turut menguatkan sisi fiqih dan tata laksana ibadah qurban dalam bingkai pendidikan masyarakat muslim.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen civitas DQM. Ketua Panitia Qurban DQM, Ustadz Asep Roni Hermansyah, M.Si., menyatakan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari program pendidikan karakter dan kompetensi keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin para santri dan guru tidak hanya paham fiqih qurban secara teoritis, tapi juga mampu mengelolanya secara profesional di masyarakat,” terang Asep.

Para peserta yang terdiri dari guru, karyawan, mahasiswa STIU, serta santri SMP dan SMA DQM, mendapatkan materi berjenjang mulai dari fiqih Udhiyah, manajemen qurban berbasis konsep ASUH, hingga kesejahteraan dan kesehatan hewan. Salah satu bagian yang paling antusias disambut adalah praktik merebahkan dan menyembelih 2 ekor domba secara syar’i.

Turut hadir pula Ustadz Musthofa, alumni Pelatihan LSH Hidayatullah angkatan pertama, yang kini menjadi edukator sembelihan halal di lingkungan pesantren.

“Pelatihan ini memberi daya hidup baru dalam tradisi qurban kita. Bukan sekadar warisan budaya, tapi ibadah yang terus ditumbuhkan dengan ilmu,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi praktik penyembelihan unggas di lapangan, di mana peserta dilatih langsung oleh para instruktur bersertifikat. Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta memperoleh sertifikat penghargaan dari LSH Hidayatullah.

Melalui kegiatan ini, DQM menegaskan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menyebarkan praktik keislaman yang profesional, etis, dan bertanggung jawab.*/

Evaluasi Kompetensi dan Karakter, Lomba PAI SD Tunjukkan Indikator Pembinaan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Tamalanrea menyelenggarakan Lomba Keterampilan Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Sekolah Dasar di Kompleks SD Integral Al Bayan, Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Sabtu, 26 Dzulqa’dah 1446 (24/5/2025).

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kemenag Kota Makassar, Dr. H. Syaifullah Rusmin, Lc., M.Th.I., yang menekankan bahwa kegiatan ini berfungsi ganda yang bukan hanya mengukur kemampuan siswa, tetapi juga menjadi indikator pembinaan yang dilakukan para guru.

“Lomba ini menjadi indikator sejauh mana pembinaan yang dilakukan guru terhadap siswanya, baik dalam aspek akademik maupun nilai-nilai keagamaan,” ujar Syaifullah dalam sambutannya.

Lomba PAI yang sudah memasuki tahun ketiga ini memperebutkan Piala Bergilir KKG PAI Tamalanrea.

Kompetisi ini melibatkan berbagai sekolah dasar dari lingkungan Kecamatan Tamalanrea, dengan partisipasi kepala sekolah negeri maupun swasta, serta pengurus KKG PAI tingkat Kota Makassar.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Tamalanrea, Arifuddin, S.Pd., M.Pd., hadir dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan harapannya agar lomba ini bisa berlanjut pada skala yang lebih luas.

“Saya berharap ke depan kegiatan seperti ini bisa berjenjang sampai ke tingkat kota, agar memberi ruang lebih luas untuk siswa berprestasi,” ucap Arifuddin.

Ketua Yayasan Hidayatullah Makassar Ust. H. Suwito Fattah, turut hadir dan menyatakan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan di lingkungan kampus Al Bayan, yang menjadi tuan rumah tahun ini. Kegiatan ini memperlihatkan dukungan aktif dari berbagai elemen pendidikan di wilayah tersebut.

Dalam kompetisi tahun ini, SD Inpres Tamalanrea 6 Blok F BTP berhasil keluar sebagai juara umum dan berhak membawa pulang Piala Bergilir KKG PAI Tamalanrea.

Penutupan acara dilakukan oleh Ketua Pokjawas PAI Kota Makassar, Sahid, S.Ag., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa nilai utama dari lomba bukanlah pada simbol piala, melainkan pada proses pembentukan motivasi dan semangat siswa.

“Piala bisa dibeli, harganya murah. Tapi semangat juang dan motivasi anak-anak kita dalam lomba ini tidak bisa dibeli. Itulah yang paling berharga,” tegas Sahid.

Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara pendidik, lembaga, dan pemerintah dalam mendukung pendidikan agama Islam yang tidak hanya akademik, namun juga membentuk karakter dan nilai.*/

Hidayatullah Farm Desa Gunung Binjai Model Kemandirian Ekonomi Pesantren Era Baru

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kemandirian pesantren bukan lagi sekadar cita-cita. Di Balikpapan, langkah nyata mulai terwujud lewat kolaborasi antara Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur dan Pesantren Tahfidz Ahlussuffah.

Dengan menjadikan Hidayatullah Farm, yang berlokasi di Desa Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, sebagai pusat kegiatan, program pemberdayaan ekonomi ini mendorong para santri dan ustadz untuk terlibat langsung dalam usaha peternakan sapi dan domba. Di sinilah titik temu antara nilai-nilai keagamaan dan semangat kewirausahaan mulai terbangun.

Beberapa waktu lalu, tim Laznas BMH melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Di sana tampak geliat baru berupa lahan yang sebelumnya hanya menjadi tempat belajar kini hidup sebagai sentra ekonomi produktif. Energi para santri dan pembimbingnya terasa mengalir dari semangat baru: kemandirian yang tumbuh dari kerja nyata.

“Program ini tidak hanya tentang hasil ternak. Tapi lebih jauh, kami ingin menjadikan peternakan sebagai sumber penghasilan bagi pesantren. Sekaligus tempat belajar kewirausahaan bagi para santri,” ujar Achmad Rifai, Kepala Divisi Pemberdayaan BMH Kaltim, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Program ini tidak hanya bersifat pragmatis, tetapi juga transformatif. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan daging, terutama menjelang Idul Adha, melainkan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemandirian. Santri dilibatkan dari hulu ke hilir dari merawat hewan ternak hingga memahami dinamika pasar dan manajemen usaha.

Ustadz Najib, Kepala Peternakan Hidayatullah Farm, menambahkan semangat positif terhadap keberlangsungan program ini.

“Kami sangat bersyukur atas dukungan BMH. Ini membuka sumber ekonomi baru bagi pesantren dan menjadi sarana belajar yang nyata bagi santri. Semoga bisa terus berkembang dan menjadi program berkelanjutan,” katanya.

Lokasi peternakan yang berada dalam kompleks pesantren dinilai strategis, baik secara lingkungan maupun secara sosial. Kedekatannya dengan para pelaku utama—santri dan guru—membuat proses pembelajaran berlangsung organik dan berkelanjutan.

Di sisi lain, komitmen kuat dari pengelola menjadi modal penting dalam memastikan kesinambungan usaha ini.

Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, inisiatif ini merupakan bukti bahwa pesantren tidak hanya tempat mencetak hafidz Qur’an, tetapi juga calon pemimpin yang tangguh secara spiritual dan mandiri secara ekonomi.

Dengan pendekatan holistik ini, diharapkan pesantren bukan hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga memberi arah baru bagi pemberdayaan umat secara berkelanjutan.*/

Khidmat Pembinaan Umat Upaya Bersama Menghapus Buta Aksara Al-Qur’an di Pedalaman

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Dalam lanskap geografis Indonesia yang luas dan beragam, tantangan pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang kompleks. Terutama di wilayah-wilayah terpencil seperti pedalaman Halmahera, akses terhadap pendidikan dasar keislaman, termasuk pembelajaran Al-Qur’an, sangat terbatas.

Di tengah realitas ini, program khidmat pembinaan umat Hidayatullah yang didukung oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Maluku Utara kembali menegaskan perannya sebagai agen perubahan dengan menyelenggarakan program pembagian buku Iqro kepada anak-anak Muslim di pelosok Halmahera.

Kegiatan mulia ini berlangsung pada 19 hingga 22 Mei 2025, menandai upaya konkret untuk menghadirkan “cahaya ilmu di tengah keterbatasan”.

Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Maluku Utara, Nurhadi, mengatakan program distribusi buku Iqro oleh ini dilakukan dengan menempuh medan berat, menyusuri desa-desa terpencil yang terputus dari arus utama pembangunan.

Di wilayah seperti ini, buku mengaji menjadi barang langka—suatu fakta yang memprihatinkan dan sekaligus memotivasi.

“Dengan menempuh medan yang tidak mudah, tim menyusuri desa-desa terpencil di Halmahera, membawa harapan dalam bentuk buku Iqro sebagai alat utama pembelajaran membaca Al-Qur’an,” kata Nurhadi seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Jelas bahwa buku Iqro, dalam konteks ini, bukan sekadar alat bantu baca, melainkan simbol harapan dan kesempatan bagi generasi muda Muslim.

“Penyaluran buku Iqro yang dibarengi dengan pembinaan rutin membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah—sebuah masa depan di mana anak-anak dari pedalaman pun memiliki peluang yang setara untuk menjadi insan berilmu dan berakhlak mulia,” harap Nurhadi penuh optimisme.

Keceriaan pun memancar dari anak-anak yang menerima buku Iqro tersebut. Antusiasme itu menjadi refleksi sederhana namun menyentuh bahwa akses terhadap pendidikan dasar dapat membangkitkan semangat belajar yang luar biasa, meskipun dalam kondisi serba terbatas.

“Anak-anak sangat bahagia. Mereka langsung membuka dan membaca Iqro yang baru saja mereka terima,” ujar Wahid Hanif, Kadiv Prodaya dari BMH Maluku Utara yang turut serta dalam distribusi.

Program ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari dukungan para donatur dan dermawan yang meyakini pentingnya pendidikan Al-Qur’an sebagai fondasi moral dan intelektual anak bangsa.

“Program ini merupakan hasil dari kepedulian para donatur dan orang-orang baik yang percaya pada pentingnya pendidikan Al-Qur’an bagi masa depan generasi penerus bangsa. Tanpa dukungan mereka, langkah-langkah kecil namun bermakna ini tidak akan mungkin terwujud,” jelasnya.

BMH terang dia secara konsisten berupaya menjadi garda terdepan dalam mendukung penanggulangan buta aksara Al-Qur’an di pedalaman pelosok Nusantara.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan yang telah diberikan oleh para donatur dan relawan dengan ganjaran yang berlipat ganda. Dan semoga langkah BMH terus mengiringi perjalanan cahaya Al-Qur’an hingga ke ujung negeri,” tutup Wahid Hanif.

Ketua Umum Hidayatullah Sampaikan Komitmen Bersama Pemerintah Membangun Peradaban Bangsa

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Peresmian Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok pada Sabtu, 26 Dzulqaidah 1446 (24/5/2025), menjadi momentum strategis yang tidak hanya ditandai oleh aspek simbolik bangunan fisik, tetapi juga sebagai manifestasi konkret sinergi antara institusi keagamaan dan negara.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH., hadir secara langsung untuk meresmikan masjid dan meletakkan batu pertama pembangunan gedung Taman Kanak-Kanak (TK) Ya Bunayya dan Sekolah Dasar Integral.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA., menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas kehadiran Wamenag.

“Kehadiran Wamenag sebuah kebahagiaan bagi Hidayatullah karena sejak lama kenal dan sering komunikasi dengan Menteri Agama. Tetapi Pak Wamen ini yang baru pertama kali ke Hidayatullah, itulah suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujar Nashirul.

Momentum ini semakin semarak dengan pelaksanaan khitanan massal gratis bagi 2000 anak. Sedikitnya 40 orang dokter terlibat dalam kegiatan ini, dan Wamenag Romo Syafi’i juga menyempatkan diri meninjau langsung proses khitanan ini.

Dalam sambutannya, Nashirul mennyampaikan komitmen Hidayatullah terus menguatkan kolaborasi bersama pemerintah dalam rangka membangun peradaban bangsa serta menegaskan posisi Hidayatullah sebagai ormas keagamaan dan pendidikan yang bernaung di bawah Kementerian Agama, serta sebagian berkoordinasi dengan Kemendikbud.

“Semua itu menjadi jalan kebaikan untuk saling kolaborasi dan sinergi dengan pendidikan Hidayatullah seluruh Indonesia,” katanya, seraya menekankan pentingnya integrasi kelembagaan sebagai fondasi penguatan pendidikan Islam yang modern dan intergral.

Lebih jauh, Nashirul pada kesempatan itu melaporkan bahwa Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI di Jakarta pada November mendatang. Ia menyampaikan komitmen untuk terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Sinergi dan kolaborasi Hidayatullah dan segenap elemen pemerintah selalu kita jalin dan kami akan mengundang semua pemerintahan Pak Prabowo untuk hadir dan bersinergi dan kolaborasi dengan Hidayatullah,” katanya.

Pada aspek ideologis, Nashirul menegaskan nilai utama dari misi besar Hidayatullah yang tidak berhenti pada aspek spiritual semata, tetapi menjangkau dimensi sosial-ekonomi sebagai sarana pembumian nilai-nilai Islam.

“Perpaduan iman, ilmu, dan amal shaleh dengan membentuk komunitas dalam bentuk pesantren, pengajian, serta halaqah dalam keluarga untuk membangun peradaban Islam yang ditopang dengan kegiatan sosial dan ekonomi,” katanya.

Hidayatullah juga berkiprah dalam pengelolaan pendidikan secara profesional, serta aktif di berbagai bidang seperti sosial, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan masyarakat, termasuk melalui keberadaan para dai di pelosok negeri.

Disamping itu, Hidayatullah juga terus berinovasi dan senantiasa melakukan adaptasi pemikiran agar Islam tetap kontekstual.

“Hidayatullah berperan secara aktif dalam melaksanakan proses pembaharuan atau tajdid di bidang pemikiran Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman, inilah upaya Hidayatullah hadir untuk mengaktualisasikan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad,” katanya.

Menutup sambutannya, Nashirul kembali menekankan pentingnya kerja sama lintas elemen umat dan bangsa.

Ia pun menegaskan posisi Hidayatullah sebagai pelaku strategis dalam pembangunan bangsa berbasis nilai-nilai keislaman universal.

“Hidayatullah terbuka untuk semua itu. Hidayatullah tidak bisa berjalan sendirian, sehingga kita semua harus bersama-sama. Semua ini wujud Hidayatullah untuk membangun kultur dan membangun peradaban Islam yang kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamiin,” tandasnya.*/

Wakil Menteri Agama Resmikan Masjid Ummul Quraa Hidayatullah Depok, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Sekolah dan Tinjau Khitan Massal 2000 Anak

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menegaskan peran strategisnya dalam pembangunan bangsa melalui peresmian Masjid Ummul Quraa yang dirangkai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung Taman Kanak-Kanak (TK) Ya Bunayya dan Sekolah Dasar Integral.

Kegiatan monumental ini dilaksanakan di Kampus Hidayatullah Depok, Jalan Raya Kalimulya, Cilodong, dengan dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) Republik Indonesia, Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH, Sabtu, 26 Dzulqaidah 1446 (24/5/2025).

Tak hanya peresmian masjid dan seremoni peletakan batu pertama proyek pembangunan gedung, acara juga dirangkai dengan kegiatan sosial berupa khitanan massal gratis yang diikuti oleh 2.000 anak.

Wamenag Romo Syafi’i juga meluangkan waktu meninjau langsung kegiatan khitanan massal yang digelar Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ini.

Dalam sambutannya, Romo Syafi’i menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah dalam sistem pendidikan nasional yang uga menegaskan peran historisnya dalam membentuk karakter bangsa.

“Hidayatullah sebagai mitra strategis bangsa dalam membangun Indonesia yang beradab dan sejahtera untuk Indonesia Emas 2045,” katanya.

Dalam konteks pemerintahan saat ini, Romo Syafi’i menegaskan arah baru kebijakan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam bidang pendidikan.

Salah satu terobosan signifikan adalah pemisahan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjadi tiga lembaga berbeda: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek), serta Kementerian Kebudayaan. Restrukturisasi ini diharapkan mampu memberikan perhatian yang lebih terfokus dan terukur pada tiap jenjang pendidikan.

Tidak berhenti di situ, kata Wamenag, pemerintah juga menargetkan pembangunan satu sekolah unggulan di setiap kabupaten/kota dengan mendirikan 200 Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial.

“Ini merupakan bentuk keberpihakan terhadap masyarakat lapis bawah dan komitmen pemerataan akses pendidikan berkualitas,” katanya.

Pada sektor strategis lainnya, seperti pertanian dan energi, pemerintah mengambil langkah-langkah besar. Di antaranya adalah pencapaian surplus pangan nasional serta target pengurangan impor minyak sebesar satu juta barel per hari melalui pembangunan kilang baru dan peningkatan produksi dalam negeri.

Semua ini, terang Wamenag, bertujuan memperkuat ketahanan nasional dan kemandirian bangsa dalam jangka panjang. Romo Syafi’i juga menyentuh isu global dan posisi Indonesia dalam dunia Islam.

“Presiden bersungguh-sungguh dalam tugasnya, termasuk dalam isu utama keislaman dan Palestina, agar Indonesia dihormati di tingkat internasional,” tegasnya.

Apresiasi terhadap peran Hidayatullah tidak hanya terbatas pada sektor pendidikan, tetapi juga pada pembangunan karakter bangsa. “Kita membutuhkan tenaga-tenaga terampil. Apa yang Hidayatullah siapkan itu sangat berguna dan membantu pemerintah serta menjadi tonggak peradaban melalui pendidikan,” tambahnya.

Menanggapi stigma lama yang menyudutkan pesantren, Wamenag meluruskan persepsi yang keliru. Ia merujuk pada peran historis pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama.

“Jangan mudah memberikan label teroris, karena pesantren yang mendidik dan menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk bangsa. Hidayatullah hadir untuk itu,” katanya tegas.

Dengan gaya setengah berseloroh, namun serius maknanya, Romo Syafi’i menutup sambutannya dengan menyatakan, “Apa saja yang Hidayatullah butuhkan, saya langsung tanda tangan. Tidak perlu lobi sana sini, keluar uang. Tinggal telepon saya. Saya langsung tanda tangan sekarang juga”.

Pada kesempatan tersebut hadir Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf, Bunda Aisah selaku Pengawas Vanilla Hijab, dan H. Susilo, penasehat sekaligus salah satu penyokong setia perjuangan pesantren.*/

Pelatihan Ekonomi Inklusif Perkuat Kemandirian Umat dan Dukung Program Pemerintah

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi umat dan mendukung program pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat, Hidayatullah menyelenggarakan Pendampingan & Pelatihan Ekonomi dan Kelembagaan di Pondok Putri Hidayatullah Kendari, Jalan Orinunggu, Padaleu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis, 24 Dzulqaidah 1446 (22/5/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh kader, pengurus, dan perwakilan lembaga dari berbagai wilayah, termasuk kelompok rentan dan difabel, untuk memastikan partisipasi inklusif .

Pelatihan ini fokus pada penguatan tata kelola kelembagaan yang profesional serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

“Kita ingin membangun ekosistem ekonomi yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga ramah terhadap kebutuhan semua pihak, termasuk kelompok marjinal,” ujar Wahyu Rahman, Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Hadir bersamanya dalam pelatihan ini Ketua Departemen Wirausaha DPP Hidayatullah Ruhyadi.

Materi pelatihan mencakup manajemen usaha produktif, strategi penguatan ekonomi umat, dan pembinaan organisasi berbasis nilai keislaman.

Peserta juga dibekali pendampingan teknis untuk merancang program ekonomi yang adaptif dengan kearifan lokal, seperti pemanfaatan data alternatif dalam perencanaan usaha .

Metode pelatihan dirancang interaktif dengan pendekatan inclusive data, memastikan suara kelompok minoritas turut terwakili dalam diskusi .

Kegiatan ini selaras dengan agenda pemerintah dalam meningkatkan partisipasi ekonomi masyarakat melalui pendekatan berbasis data yang inklusif, seperti diamanatkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) .

Diharapkan, para peserta menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi ekonomi berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Hidayatullah sebagai lembaga dakwah yang peduli pada kesejahteraan umat .

“Kolaborasi antara lembaga, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci membangun ketahanan ekonomi yang inklusif,” tambah Wahyu Rahman .

Rencana tindak lanjut dari pelatihan ini akan difokuskan pada penerapan program ekonomi di tingkat grassroot, dengan pemantauan berbasis data untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal .

Dengan pendekatan ini, tambah Wahyu, Hidayatullah berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.*/

Refleksi dan Relevansi Ayat Tauhid dalam Krisis Peradaban Kontemporer

SURAH Al-Mu’minun ayat 91 adalah ayat tauhid yang menegaskan keesaan Allah secara logis dan rasional. Ayat ini membantah klaim-klaim musyrik yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak atau ada tuhan lain di samping-Nya.

مَا اتَّخَذَ اللّٰهُ مِنْ وَّلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهٗ مِنْ اِلٰهٍ اِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ اِلٰهٍ ۢ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَۙ

“Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, maka masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 91)

Jika memang ada lebih dari satu tuhan, kata ayat ini, maka akan terjadi pertarungan kekuasaan dan kekacauan dalam pengaturan alam semesta. Namun, kenyataannya, alam ini berjalan harmonis, teratur, dan penuh keseimbangan. Maka, ini menjadi bukti kuat akan keesaan dan kemahakuasaan Allah.

Refleksi Ayat dalam Kontekstual Kekinian

Dalam konteks kekinian, ayat ini mengajarkan nilai-nilai penting yang bisa kita refleksikan setidaknya dalam berbagai aspek kehidupan.

Pertama, aspek kesatuan dan kepemimpinan yang tegas. Di tengah gempuran tantangan duniawi yang kompleks dan penuh kepentingan, ayat ini memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan yang majemuk tanpa kesatuan visi akan melahirkan konflik.

Dalam organisasi, negara, bahkan rumah tangga — jika terlalu banyak “tuhan-tuhan kecil” yang ingin mengatur tanpa arah yang sama, maka kehancuran dan kekacauan akan terjadi. Prinsip tauhid mengajarkan bahwa satu visi yang adil dan bijaksana harus menjadi poros dalam pengambilan keputusan.

Kedua, menolak politeisme modern seperti kapitalisme, fanatisme, dan pengkultusan. Meski tidak lagi menyembah berhala fisik, masyarakat modern sering terjebak dalam bentuk ketuhanan baru: uang, jabatan, popularitas, atau ideologi yang dikultuskan.

Ayat ini menjadi pengingat untuk meletakkan Allah sebagai pusat kehidupan dan tidak tunduk kepada berhala-berhala kontemporer yang merusak makna hidup.

Misalnya, dominasi korporasi raksasa yang tak terbendung bisa menciptakan ketimpangan sebagaimana tuhan-tuhan yang bersaing sebagaimana digambarkan dalam ayat ini: saling menjatuhkan, saling memperebutkan kendali.

Ketiga, aspek harmoni dalam tata kelola alam dan sosial. Alam yang tunduk pada satu aturan Tuhan menjadi cerminan bahwa keberhasilan sebuah sistem terletak pada keterpaduan dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip kebenaran.

Dalam konteks lingkungan dan sosial, manusia perlu kembali kepada sistem ilahi — yang mementingkan keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan. Krisis iklim, konflik geopolitik, dan kemiskinan global hari ini adalah akibat dari manusia yang ingin menjadi “tuhan” dengan aturan sendiri.

Keempat, menguatkan argumentasi Tauhid secara rasional. Ayat ini menawarkan argumentasi logis yang bisa digunakan dalam dialog lintas iman atau dalam pendidikan akidah.

Ayat ini menunjukkan bahwa keesaan Tuhan adalah kebutuhan logis untuk stabilitas ciptaan. Maka, umat Islam didorong untuk menggunakan pendekatan rasional dalam berdakwah dan membela nilai-nilai tauhid, tidak sekadar secara emosional atau simbolik.

Surah Al-Mu’minun ayat 91, dengan demikian, bukan hanya menjawab tuduhan teologis di masa lalu, tetapi juga menegur perilaku sosial-politik dan budaya hari ini.

Hubungan Surah Al Mu’minun ayat 91 dan Surah Al Ikhlas

Di sisi lain, surah Al-Mu’minun ayat 91 dan Surah Al-Ikhlas memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam mengokohkan fondasi tauhid — yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang setara dengan-Nya.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ . اَللّٰهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَد. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Surah Al-Mu’minun ayat 91 menyatakan bahwa Allah tidak punya anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Surah Al-Ikhlas juga menegaskan bahwa “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan”.

Kedua ayat ini sama-sama membantah ajaran-ajaran yang menyekutukan Allah, seperti trinitas, politeisme, atau pengkultusan manusia sebagai anak Tuhan.

Kedua surah ini pula menolak segala bentuk penyamaan Allah dengan makhluk-Nya. “Tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya” (Al-Ikhlas) dan “Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan” (Al-Mu’minun:91) sama-sama menolak antropomorfisme (penyerupaan Tuhan dengan manusia).

Di era modern, banyak “tuhan-tuhan buatan” seperti harta, teknologi, kekuasaan, bahkan manusia yang dikultuskan. Kedua ayat ini mengajarkan kita untuk hanya menggantungkan diri kepada Allah (sebagaimana dalam Al-Ikhlas: 2, “Allahus-Shamad”) dan tidak menyandarkan kekuatan pada sistem duniawi yang fana.

Surah Al-Ikhlas memberi fondasi teologis tauhid yang bersih dan absolut, sedangkan Surah Al-Mu’minun ayat 91 menunjukkan konsekuensi logis dan praktis dari menyimpang dari tauhid. Bila tauhid goyah — dalam bentuk syirik teologis maupun “syirik modern” (penghambaan terhadap dunia) — maka tatanan hidup akan hancur.

Keduanya mengajarkan bahwa stabilitas batin, sosial, dan alam semesta hanya dapat terwujud jika kita kembali kepada Allah yang Esa, tempat bergantung, dan tak ada yang menyerupai-Nya.

Surah Al-Mu’minun ayat 91 dan Surah Al-Ikhlas sama-sama menegaskan Tauhid sebagai inti dari ajaran Islam. Namun, tauhid bukan sekadar dogma. Ia adalah hasil dari proses pencarian, perenungan, dan penyucian dari segala bentuk penyekutuan terhadap Tuhan.

Maka, untuk benar-benar memahami dan meyakini tauhid, manusia perlu menggunakan akal — namun tetap dibimbing oleh wahyu.

Akal sebagai Jalan Awal Pencarian

Setiap nabi, termasuk yang kita pelajari dari perikehidupan Nabi Ibrahim, memulai pencarian Tuhan dengan membaca realitas: alam, langit, benda-benda langit, dan gejala-gejala eksistensi.

Ha ini menunjukkan bahwa agama sejati tidak mengabaikan akal, justru mengundang akal untuk berpikir. Bahkan dalam banyak ayat, Allah mengajak manusia untuk “afala ta’qilun”, “afala tatafakkarun”, dan “afala yanzhurun” — bukti bahwa iman dalam Islam bukan buta, tapi berakal.

Surah Al-Mu’minun ayat 91, dengan penalaran logisnya — “kalau ada tuhan selain Allah, pasti mereka akan bersaing dan saling mengalahkan” — mencontohkan bagaimana Al-Qur’an mendidik logika manusia untuk sampai pada kesimpulan tentang keesaan Tuhan.

Keterbatasan Akal dan Peran Wahyu

Namun, akal manusia memiliki keterbatasan. Ia hanya bisa menjangkau yang fisik, yang empiris, dan yang rasional secara terbatas.

Ketika akal mencoba menjelaskan hakikat Tuhan yang transenden, ia bisa keliru — bahkan bisa menciptakan tuhan-tuhan yang dibayangkan seperti makhluk.

Di sinilah peran Surah Al-Ikhlas sangat penting sebagai sistem penjelas. Ia hadir bukan sebagai hasil logika, tetapi sebagai wahyu yang menyempurnakan pencarian manusia:

“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Ini bukan hasil filsafat, tapi kebenaran transenden yang melampaui batas rasio, namun tidak menafikan rasio. Wahyu menjadi kompas yang memandu akal agar tidak tersesat dalam pencarian makna ketuhanan.

Begitulah Nabi Ibrahim yang menggunakan akalnya untuk menyimpulkan bahwa matahari, bulan, dan bintang bukanlah Tuhan karena sifatnya yang tenggelam, berubah, dan fana. Ia melakukan proses penyaringan logis: “Sesungguhnya aku tidak suka kepada yang tenggelam.” (QS. Al-An’am: 76)

Proses ini menunjukkan bahwa akal sehat dapat mengenali bahwa Tuhan bukan makhluk, bukan yang berubah atau tunduk pada hukum alam. Tetapi setelah sampai pada kesimpulan tersebut, Ibrahim tidak menyatakan Tuhan berdasarkan asumsi, melainkan tunduk kepada wahyu:

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am: 79)

Artinya, setelah akal menyingkirkan yang batil, hanya wahyu yang mampu menuntun manusia kepada hakikat kebenaran yang sejati — yakni Tuhan yang Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak serupa dengan makhluk apa pun, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas.

Sinergi antara Akal dan Wahyu dalam Mewujudkan Tauhid

Surah Al-Mu’minun ayat 91 menunjukkan pendekatan rasional bahwa logika tauhid lebih kuat daripada keyakinan terhadap tuhan jamak yang saling bersaing.

Surah Al-Ikhlas melampaui pendekatan logis itu dengan menyajikan definisi Tuhan secara transenden dan absolut, yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia sepenuhnya.

Tanpa akal, manusia akan mengikuti agama secara taklid dan rentan tersesat oleh simbol-simbol palsu. Tanpa wahyu, akal bisa terjebak dalam spekulasi dan membuat “tuhan-tuhan” sesuai khayalan manusia, seperti dalam filsafat Yunani, politeisme kuno, atau ideologi modern.

Islam tidak mengajarkan pemutusan antara iman dan akal, melainkan menyatukannya dalam jalan kebenaran. Namun ketika akal mencapai batasnya, wahyu hadir sebagai cahaya penuntun yang menyempurnakan pencarian.

Di sinilah Tauhid bukan hanya keyakinan teologis, tapi juga panduan hidup rasional, spiritual, dan eksistensial serta pengakuan sadar dari akal dan jiwa yang menemukan cahaya Tuhannya.[]

*) Ust. Dr. HM. Tasyrif Amin, M.Pd.I, Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah. Ditranskrip oleh redaksi dari taushiyah beliau dalam acara Halaqah Wustho Ibnu Mas’ud Depok, Jawa Barat, Rabu malam (21/5/2025)

PosDai Ajak Menyapa Mualaf dan Dai Pedalaman Lewat Qurban Pelosok Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyambut Idul Adha 1446 H/2025, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) kembali meluncurkan Program Qurban Dakwah Pedalaman 1446. Program ini bukan sekadar penyaluran daging kurban, tetapi merupakan gerakan sosial dan dakwah yang menjangkau saudara-saudara Muslim di pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian publik.

Ketua PosDai Pusat, Ustadz Abdul Muin, menegaskan bahwa momen Idul Adha harus dimaknai lebih dari sekadar ritual penyembelihan hewan. “Idul Adha bukan sekadar hari raya, tetapi juga momen berbagi yang penuh makna,” ujarnya. “Di pelosok negeri, ada saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, namun tetap teguh dalam iman.”

Menurut Muin, penerima manfaat dari program ini mencakup para mualaf yang baru mengenal Islam, para dai dan guru ngaji di desa terpencil, serta pesantren-pesantren kecil yang menjadi pusat pendidikan Islam bagi anak-anak pedalaman.

“Bagi mereka, kurban bukan sekadar daging, tetapi bukti cinta dan kepedulian,” ungkapnya, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 24 Dzulqaidah 1446 (22/5/2025).

Ia menjelaskan, melalui program ini, PosDai ingin menyampaikan pesan bahwa kaum Muslimin di kota-kota besar tidak melupakan saudara-saudara seiman yang tinggal jauh dari pusat peradaban.

Program Qurban Dakwah Pedalaman ini dirancang tidak hanya untuk menyalurkan hewan kurban, tetapi juga memperkuat jaringan dakwah dan membangun solidaritas spiritual antarumat Islam.

PosDai, yang telah berpengalaman menjangkau komunitas Muslim di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), mengorganisir pengiriman hewan kurban ke titik-titik strategis di berbagai wilayah pelosok Indonesia.

“Di sana, ada dai yang tanpa lelah membimbing generasi muda mencintai Al-Qur’an, ada pesantren kecil yang berdiri kokoh di tengah keterbatasan. Kehadiran kurban adalah bentuk penguatan moral dan spiritual yang sangat mereka butuhkan,” jelas Muin.

Lebih dari sekadar distribusi daging, program ini juga menjadi ajang silaturahmi dan edukasi keislaman. Relawan PosDai dan para dai lokal memberikan pengajaran agama, membagikan Al-Qur’an, dan memotivasi masyarakat agar tetap semangat menjalani kehidupan dalam nilai-nilai Islam.

“Ini adalah cara kita menyampaikan bahwa mereka tidak sendirian. Kita hadir bersama mereka, dalam suka dan duka,” tegas Ustadz Muin.

PosDai mengajak masyarakat luas untuk ikut ambil bagian dalam program ini. Melalui dukungan kurban, para donatur dapat menyampaikan kepedulian nyata kepada komunitas-komunitas yang jarang tersentuh oleh program sosial arus utama.

“Mari wujudkan kepedulian kita. Jadilah bagian dari program kurban untuk pedalaman, untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ajak Ustadz Muin.

Ia pun menutup dengan harapan dan doa agar setiap amal baik yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. “Semoga Allah menerima setiap amal baik kita, melipatgandakan pahala, dan mengaruniakan keberkahan dalam hidup kita,” tutupnya.

Dengan semangat kolaborasi dan empati, Program Qurban Dakwah Pedalaman 1446 menjadi momentum penting untuk membangun keadilan sosial berbasis iman.

PosDai memastikan setiap kontribusi disampaikan secara transparan dan tepat sasaran, demi merajut ukhuwah Islamiyah dari kota hingga pelosok. Call center Program Qurban Dakwah Pedalaman 1446 PosDai 0822-6002-3005 atau +62 813-6290-8866 | www.posdai.or.id

[KHUTBAH JUM’AT] Optimisme yang Profetik, Menyala di Tengah Gelapnya Kehidupan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah Nya pada kesempatan Jum’at hari ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan memberikan anugerah kepada kita semuanya untuk bisa hadir memenuhi panggilan-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam beserta seluruh keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Di tengah berbagai tantangan dan cobaan hidup yang tak henti-hentinya menerpa, baik itu kesulitan ekonomi, masalah sosial, hingga konflik global, seringkali hati kita merasa berat, pikiran diliputi kekhawatiran, dan bahkan muncul rasa putus asa.

Namun, sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk tidak pernah kehilangan harapan. Islam mengajarkan kita sebuah konsep penting yang relevan dalam setiap zaman, yaitu optimisme yang profetik.

Apa itu optimisme yang profetik? Ini bukan sekadar optimisme buta tanpa dasar, bukan pula sikap acuh tak acuh terhadap realita.

Optimisme yang profetik adalah optimisme yang berakar kuat pada keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengikuti teladan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan dilandasi dengan usaha serta ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Insyirah ayat 5-6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Ayat ini diulang dua kali, menunjukkan penegasan dan jaminan dari Allah bahwa setelah setiap kesulitan, pasti akan datang kemudahan.

Ini adalah janji yang harus menguatkan hati setiap mukmin. Keyakinan pada janji ini adalah pilar pertama optimisme profetik. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Al Qur’an surah Yusuf ayat 87:

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir”

Ayat ini secara tegas melarang kita untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Keputusasaan adalah sifat orang-orang kafir, karena mereka tidak memiliki keyakinan yang benar akan kekuasaan dan kasih sayang Allah.

Bagi seorang mukmin, putus asa adalah dosa hati yang harus dihindari.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah teladan terbaik dalam optimisme.

Di saat hijrah ke Madinah, ketika kaum Muslimin tertindas di Mekah dan menghadapi ancaman berat, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak putus asa.

Beliau merencanakan hijrah ke Madinah dengan penuh keyakinan akan pertolongan Allah, meskipun jalur yang ditempuh sangat berbahaya. Hasilnya, Islam berkembang pesat di Madinah.

Begitu juga dalam perang Badar, dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dan perlengkapan seadanya, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tetap memancarkan optimisme dan memotivasi para sahabat, hingga akhirnya meraih kemenangan yang gemilang.

Demikian pula, kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dalam membangun semangat optimisme ketika peristiwa Thaif, setelah ditolak dan dilempari batu oleh penduduk Thaif, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tetap mendoakan mereka dan tidak menyimpan dendam.

Beliau yakin bahwa dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beriman.

Realitas ini menunjukkan bahwa optimisme profetik bukanlah pasif, melainkan optimisme yang aktif, disertai dengan doa, usaha, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Optimisme profetik mengharuskan kita untuk beriman pada takdir. Ketika menghadapi musibah, kita yakin bahwa di balik itu ada hikmah dan kebaikan yang belum kita ketahui.

Sebagaimana sabda Nabi Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya.”

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Optimisme bukan berarti berdiam diri menunggu keajaiban. Justru sebaliknya, optimisme profetik mendorong kita untuk terus berikhtiar semaksimal mungkin, setelah itu baru bertawakal kepada Allah.

Doa adalah senjata mukmin. Dengan doa, kita menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah dan keyakinan kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”

Jika kita berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan yang terbaik bagi kita, maka insya Allah demikianlah adanya.

Sebaliknya, jika kita berprasangka buruk, maka hal itu bisa jadi mengundang hal yang tidak baik pula.

Oleh karena itu, optimisme profetik menuntut kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan.

Optimisme profetik juga berarti menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi orang lain.

Di tengah masyarakat yang seringkali diselimuti keluh kesah, seorang muslim yang optimis akan menjadi lentera yang menerangi, memberikan semangat, dan mengajak kepada kebaikan.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam selalu memberikan kabar gembira dan tidak pernah membuat orang merasa putus asa.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Optimisme yang profetik adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ia adalah kekuatan yang membangkitkan dari keterpurukan, cahaya di tengah kegelapan, dan motivasi untuk terus berjuang di jalan Allah.

Marilah kita senantiasa memupuk optimisme ini dalam diri kita, dalam keluarga kita, dan dalam masyarakat kita.

Dengan optimisme yang berlandaskan iman, insya Allah kita akan mampu menghadapi segala cobaan dan meraih keberkahan hidup.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjadi hamba-Nya yang optimis, yang selalu berprasangka baik kepada-Nya, dan yang tidak pernah berputus asa dari rahmat dan pertolongan-Nya. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)