Beranda blog Halaman 94

Lingkungan Bersih Jadi Pesan Mushida dalam Jamnas Pramuka Hidayatullah 2025

0
Juri lomba kebersihan lingkungan Mushida melakukan pemantauan langsung kawasan (Foto: Dok. Mushida)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Semarak Jambore Nasional ke-3 Sako Pramuka Hidayatullah (ISCH) disambut dengan inisiatif Muslimat Hidayatullah (Mushida) Balikpapan yang menggelar lomba kebersihan rumah dan lingkungan. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap tema #lingkunganhijau dan #backtonature yang diusung pada acara Islamic Scout Camp of Hidayatullah tersebut.

“Ini dukungan riil Mushida untuk sukses ISCH. Kita sambut para peserta Jamnas dengan wajah tersenyum dan lingkungan yang bersih lagi berseri,” ujar Ustadzah Sholehah, Ketua Pengurus Daerah (PD) Mushida Balikpapan, dalam keterangannya, Selasa, 25 Safar 1447 (19/8/2025).

Lomba kebersihan tidak hanya diikuti oleh anggota Mushida, melainkan juga melibatkan warga sekitar dan mahasiswa.

Kegiatan ini bertepatan dengan momentum perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia.

Suasana kebersamaan terlihat di berbagai sudut lingkungan kampus tarbiyah dan dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

“Alhamdulillah, benar-benar semarak. Luar biasa dukungan warga RT khususnya di lingkungan kampus tarbiyah dan dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak,” kata H. Syamsul Ma’arif, Ketua Departemen Kampus dan Kewargaan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan.

Menurut H. Syamsul, partisipasi masyarakat tahun 2025 menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu terlihat dari upaya warga dalam memperindah lingkungan, mulai dari kebersihan halaman rumah, penataan bunga, pengecatan dinding rumah, hingga pemasangan umbul-umbul dan pembangunan gapura di berbagai lorong perumahan.

“Alhamdulillah, sekali lagi terima kasih atas partisipasi semua warga dan ibu-ibu sekalian,” tambah H. Syamsul.

Pesan Lingkungan dan Harapan Mushida

Tagline Jamnas yang menekankan kelestarian lingkungan selaras dengan visi Mushida dalam menjaga lingkungan rumah dan pesantren. “Tagline Jamnas ini sejalan dengan harapan Mushida, bagaimana berkontribusi mewujudkan lingkungan hijau di seluruh lingkungan rumah dan pesantren secara umum,” ungkap Ustadzah Sholehah.

Seorang ibu warga RT 46 Villa Madani menuturkan manfaat lomba kebersihan tersebut. “Senang, sering-sering saja bikin lomba, biar rumahnya ikut bersih selalu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menciptakan kebersamaan karena warga turun bersama-sama membersihkan lingkungan sekitar.

ISCH III dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Agustus 2025, di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan.

Panitia menyampaikan sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir pada pembukaan acara, di antaranya Menteri Pemuda dan Olahraga RI Ario Bimo Nandito Ariotedjo, Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Komjen Pol (Purn) Drs. Budi Waseso, serta Ketua Umum DPP Hidayatullah K.H. Dr. Nashirul Haq.

Napak Tilas Sejarah dan Momentum Besar Hidayatullah di Bulan Kemerdekaan

0
Peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan oleh Menteri Agama Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. K.H. Mukti Ali, M.A., tampak juga salah satu tokoh mengenakan seragam Gerakan Pramuka (Foto: Dok. Hidayatullah)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Bulan Agustus yang identik dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, juga menyimpan catatan penting dalam sejarah perjalanan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Selain sebagai bulan proklamasi bangsa pada Jumat, 17 Agustus 1945, Agustus juga menjadi momentum bersejarah berdirinya lembaga dakwah dan pendidikan Islam ini.

Peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dilaksanakan pada Kamis, 5 Agustus 1976. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. K.H. Mukti Ali, M.A.

Sebelum resmi berdiri, cikal bakal pesantren ini dimulai pada Senin, 1 Muharram 1393 Hijriah atau 5 Februari 1973.

Ustadz Abdullah Said merintis pendirian pesantren yang sempat berpindah lokasi beberapa kali di Kota Balikpapan, hingga akhirnya menetap di kawasan Gunung Tembak, Balikpapan Timur. Lahan pesantren berasal dari hibah H. Darman, seorang dermawan setempat.

Dalam catatan Manshur Salbu melalui buku Mencetak Kader, peresmian tersebut dihadiri sejumlah tokoh agama dan pejabat pemerintahan. Di antaranya, K.H. Abdullah Syafi’i selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta yang turut membawa putrinya, Hj. Tuti Alawiyah.

Turut hadir pula Gubernur Kalimantan Timur H. Ahmad Wahad Sjahranie, Walikota Madya Balikpapan H. Asnawie Arbain, serta Drs. Awang Faisjal yang menjabat Sekretaris Kota Madya Balikpapan.

Suasana peresmian berlangsung meriah dan penuh syukur. Kegiatan tersebut dimeriahkan oleh perkemahan siswa Pramuka se-Kota Balikpapan yang diadakan di halaman masjid kampus Gunung Tembak.

“Atas anjuran Walikota Madya, Asnawie Arbain, malamnya anak-anak Pramuka dari Kota Balikpapan mengadakan perkemahan di kampus,” tulis Manshur Salbu dalam Mencetak Kader.

Selain itu, simpatisan dari berbagai daerah turut hadir meramaikan acara. Kehadiran mereka memberi semangat baru bagi pesantren yang kala itu masih memiliki jumlah santri terbatas.

Pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dalam kesempatan tersebut menyampaikan pidato penuh semangat untuk membakar tekad para sahabat perjuangan dan santri.

“Kami dicap orang sebagai penghayal-pengkhayal agung, tapi insya Allah kami akan wujudkan khayalan itu dalam kenyataan,” ungkapnya.

Empat puluh sembilan tahun setelah momentum bersejarah itu, Gunung Tembak kini kembali menjadi pusat kegiatan besar pada Agustus 2025. Hidayatullah akan menyelenggarakan Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) atau Jambore Nasional Sako Pramuka Hidayatullah III.

Jika pada 1976 peresmian pesantren dimeriahkan siswa Pramuka se-Balikpapan, maka tahun ini ribuan santri pramuka Hidayatullah dari berbagai daerah akan berkumpul di bumi perkemahan Gunung Tembak.

Ketua Panitia Pelaksana ISCH III, Kak Haji Abdul Malik, menyampaikan estimasi jumlah peserta. “Ditaksir hingga 2500 peserta, insya Allah,” ujarnya.

Dengan demikian, bulan Agustus bagi Hidayatullah bukan hanya peringatan kemerdekaan bangsa, tetapi juga tonggak perjalanan sejarah pendidikan, dakwah, dan pengkaderan yang terus berlanjut lintas generasi.

Semangat Pramuka Hidayatullah Sambut Jambore Nasional 2025

0
Foto: Dok. ISCH/ Muh Abdus Syakur

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – H-3 menjelang pelaksanaan Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III yang juga dikenal dengan sebutan Jambore Nasional (Jamnas) Sako Pramuka Hidayatullah, dukungan dari berbagai kalangan masyarakat dan pejabat terus berdatangan.

Kegiatan akbar yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Gunung Tembak, Balikpapan, ini dijadwalkan akan dihadiri oleh lebih dari 2.500 santri Hidayatullah dari seluruh Nusantara.

Panitia pelaksana mencatat antusiasme tinggi dari para peserta. Persiapan dilakukan mulai dari latihan santri hingga pemenuhan perlengkapan keberangkatan. Sejumlah video persiapan dari berbagai daerah juga dikirim ke panitia media sebagai bentuk syiar dan penyemarak acara.

“Alhamdulillah, teman-teman santri di daerah terus bersemangat menyambut acara Jamnas ini,” ujar Syakur, panitia media ISCH III.

Dukungan Pemerintah Daerah

Dukungan terhadap kegiatan nasional ini turut datang dari kepala daerah. Walikota Makassar, Sulawesi Selatan, Munafri Arifuddin, S.H., menyampaikan apresiasi dan doa bagi kelancaran acara.

“Saya, Munafri Arifuddin, atas nama Pemerintah Kota Makassar mengucapkan selamat dan sukses ISCH Jambore Nasional III Sako Pramuka Hidayatullah,” ungkapnya dalam video yang diterima panitia media, baru-baru ini.

Tidak hanya Makassar, dukungan juga mengalir dari Maluku Utara. Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Ternate Merlisa Marsaoly, menyampaikan langsung dukungannya saat melepas keberangkatan kontingen santri Hidayatullah asal Ternate menuju Balikpapan.

Pelepasan Kontingen Ternate

Acara pelepasan kontingen Ternate dilaksanakan di lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate pada Selasa (12/8/2025). Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan kebersamaan, dihadiri para pengurus dan keluarga peserta.

Dalam kesempatan tersebut, Merlisa Marsaoly yang juga istri daripada Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman ini menegaskan rasa bangganya kepada santri yang terpilih mewakili daerah.

“Kakak bangga dengan adanya Sako Pramuka Hidayatullah di Maluku Utara, khususnya Ternate, yang memiliki warna kabilah tersendiri. Gunakan kesempatan ini untuk menambah wawasan, mempererat persaudaraan, dan membawa pulang pengalaman yang bermanfaat bagi kemajuan Pramuka dan generasi muda di Kota Ternate,” ujarnya.

Panitia mencatat bahwa kegiatan ISCH III dirancang bukan hanya sebagai ajang perkemahan, tetapi juga sebagai wahana pendidikan karakter, kepemimpinan, dan kebangsaan bagi generasi muda.

Para peserta dari berbagai daerah diproyeksikan dapat saling berinteraksi, berbagi pengalaman, dan memperkuat semangat kebersamaan dalam bingkai nasionalisme dan keislaman.

Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Buka Pelatihan Kepemimpinan Amil Leader BMH Batch3

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Candra Kurnianto, membuka secara remsi Pelatihan Kepemimpinan Amil Leader Baitul Maal Hidayatullah (BMH) 2025 Batch3 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Senin, 24 Shafar 1447 (18/8/2025).

Kegiatan ini akan berlangsung hingga 22 Agustus 2025 dengan mengusung tema “Pemimpin Manhaji: Profesional dan Transformatif.”

Candra Kurnianto dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan kader menghadapi era disrupsi teknologi.

“Kita hidup pada sebuah era yang ditandai oleh disrupsi besar dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Harapan hidup manusia tidak lagi berdiri di atas kepastian, melainkan dipengaruhi oleh dinamika perubahan yang begitu cepat dan kompleks,” katanya.

Kemajuan zaman menurutnya menghadirkan tantangan baru, di mana tenaga manusia perlahan diposisikan sejajar bahkan digantikan oleh kecerdasan buatan, robotika, serta berbagai inovasi teknologi lainnya.

Fenomena ini, jelas Candra, menuntut adanya kesiapan kolektif, terutama dari para pemimpin, untuk mampu membaca arah perubahan zaman dengan cermat.

Kepemimpinan tidak lagi cukup hanya berlandaskan pada pengalaman masa lalu, melainkan harus disertai visi strategis yang berorientasi pada masa depan.

“Seorang pemimpin dituntut mampu merancang strategi adaptif, bukan hanya untuk mempertahankan keberlangsungan, tetapi juga untuk memastikan kemajuan dalam menghadapi arus perubahan yang terus bergerak,” katanya.

Dengan demikian, tambahnya, kepemimpinan pada era disrupsi bukan sekadar soal manajemen sumber daya, tetapi juga kemampuan merespons perubahan dengan kebijaksanaan, keberanian, dan kecerdikan.

“Inilah tantangan nyata bagi para pemimpin, yakni menjadikan perubahan sebagai peluang, bukan sekadar ancaman,” tekannya.

Dalam rancangan kurikulum, peserta akan dibekali beragam modul mulai dari kepemimpinan Islam dan Hidayatullah, shariah compliance, tata kelola lembaga amil zakat, literasi keuangan dasar, hingga decision making berbasis data.

Selain itu, materi seperti logical framework analysis, komunikasi efektif, networking, serta keterampilan negosiasi juga menjadi bagian penting dari program.

Direktur BMH Supendi dalam sambutannya di kesempatan yang sama mengatakan program ini diharapkan mampu melahirkan pemimpin amil yang manhaji, profetik, dan profesional, sehingga pengelolaan zakat dapat semakin transparan, akuntabel, dan berdampak serta menjadi langkah strategis dalam memperluas kebermanfaatan gerakan zakat bagi umat.

“Seorang pemimpin sejati dituntut untuk senantiasa belajar dan memperbarui kapasitas dirinya. Sebagai alumni Hidayatullah Institute, saya memperoleh banyak pengetahuan yang relevan dalam memperkaya wawasan serta mengasah keterampilan kepemimpinan,” katanya.

Diskusi Intelektual Bersama Sejarawan Soroti Demokrasi dalam Umur Harakah Islam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pusat Dakwah Hidayatullah pada Jumat, 21 Safar 1447 (15/8/2025) menjadi ruang diskusi intelektual dalam acara Ngopi Bareng Sejarawan bersama Dr. Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum.

Acara ini mengangkat tema “Umur Gerakan Islam” yang memantik perhatian para peserta, terutama terkait dinamika sejarah, tantangan kontemporer, serta arah masa depan gerakan Islam.

Dr. Tiar, yang juga Ketua Bidang Tarbiyah Pengurus Pusat Persatuan Islam (Persis), menyampaikan pendapatnya ketika menanggapi pertanyaan mengenai posisi demokrasi dalam konteks Islam.

Salah seorang peserta bertanya apakah demokrasi dapat dianggap sebagai anugerah Allah bagi umat Islam setelah lama hidup di bawah kekuasaan monarki absolut, serta apakah harakah Islam perlu mengusung gagasan “demokrasi terpimpin”.

Menanggapi hal tersebut, Tiar menekankan pentingnya sikap kritis dalam memahami realitas politik. “Teruslah mengkritik dan memperbanyak bacaan. Itu penting untuk memperbaiki gerakan,” ujarnya.

Menurut Tiar, umat Islam telah memasuki arena demokrasi sejak dekade 1950-an, ketika ruang partisipasi politik mulai terbuka. Namun, ia menilai bahwa sistem demokrasi juga memaksa gerakan Islam untuk membuat banyak kompromi terhadap nilai-nilai prinsipilnya.

Ia lantas mengutip gagasan Abul A’la Maududi tentang “teo-demokrasi” yang kemudian oleh Mohammad Natsir diterjemahkan sebagai “Demokrasi Berketuhanan”. Akan tetapi, seiring waktu, sistem demokrasi dinilai semakin jauh dari nilai ideal tersebut.

“Semakin ke sini kita semakin sadar, pada demokrasi yang mengendalikan permainan itu bukan kaum cendekiawan atau ulama, tapi para pemilik modal alias oligarch,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini membuat ruang bagi gerakan Islam untuk memperjuangkan nilai-nilainya semakin menyempit, bahkan mendekati ketiadaan. Oleh karena itu, diperlukan penyegaran dalam orientasi perjuangan. Dalam hal ini, ia menyinggung pemikiran Ibnu Khaldun mengenai pentingnya ashabiyah dalam mekanisme kekuasaan Islam.

Tiar kemudian meluruskan pemahaman tentang konsep ashabiyah. Menurutnya, ashabiyah tidak selalu bermakna negatif sebagaimana dipahami dari sejumlah hadits, melainkan dapat dipahami dalam konteks positif. Ia mencontohkan praktik yang berlangsung sejak zaman Rasulullah.

“Misalnya, dari zaman Rasulullah ada Ashabiyah Ahlu Badr (Veteran Perang Badr). Sampai zaman Ali, meskipun berbagai kelompok sudah membaiat Ali jadi khalifah, Ali tak mau menjalankan kepemimpinannya sebelum seluruh Ahlu Badr yang masih hidup membaiat beliau. Ini ashabiyah yang baik,” terangnya.

Namun, dalam perkembangan berikutnya, kriteria ashabiyah bergeser menjadi dinasti politik. Dr. Tiar menyebutkan contoh Dinasti Umayyah, Abbasiyyah, dan Ayyubiyah. Menurutnya, para pendiri dinasti tersebut masih memiliki semangat tajdid al-harakah atau pembaruan gerakan, yakni usaha mengembalikan kepemimpinan ke arah syariah yang benar.

“Yang awalnya juga masih jauh lebih baik karena para awalun dinasti itu semangatnya tajdid al-harakah. Agar sistem kepemimpinan kembali ke rel orientasi syariah yang benar. Ini masih jauh lebih baik daripada demokrasi,” katanya.

Selain membahas teori dan sejarah gerakan Islam, acara ini juga membuka wacana kerja sama antara Hidayatullah dan Persis. Diskusi tersebut mencakup gagasan mengenai sinergi dakwah bersama di pedalaman, penguatan kaderisasi ulama muda, hingga dakwah antarbangsa.

Forum yang dipandu oleh Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah Dzikrullah W. Pramudya ini tidak hanya menyajikan analisis kritis terhadap sistem politik modern, tetapi juga menghadirkan gagasan praktis dalam memperkuat basis gerakan Islam di tengah tantangan zaman.

Suku Togutil Kibarkan Merah Putih di Pedalaman Halmahera pada HUT RI ke-80

0

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh haru dan bersejarah mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di pedalaman Halmahera pada Ahad, 23 Shafar 1447 (17/8/2025). Untuk pertama kalinya, Suku Togutil atau Tobelo Dalam ikut serta dalam upacara pengibaran bendera Merah Putih bersama masyarakat desa sekitar.

Sebanyak 70 warga Suku Togutil keluar dari hutan dan menempuh perjalanan selama dua hari demi menghadiri peringatan nasional tersebut.

Mereka bergabung dengan 80 warga desa sekitar yang bermukim di kawasan sungai belakang Desa Woda, Oba, Halmahera.

Kehadiran mereka menciptakan suasana kebersamaan yang hangat serta menunjukkan kuatnya ikatan persaudaraan antarwarga bangsa.

Kegiatan peringatan ini diprakarsai oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara dengan dukungan berbagai pihak. Sejumlah lembaga yang turut serta dalam penyelenggaraan antara lain Koramil 1505-04/Oba, Polsek Oba, serta Polisi Hutan (Polhut) Resort Tayawi Taman Nasional Aketajawe Lolobata.

Selain itu, para relawan dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Masure Desa Bale Hijrah dan Gerakan Sedekah Alif Ternate juga hadir membantu jalannya acara.

Dalam amanatnya saat upacara, Babinsa Desa Woda, Serma Habibi, menekankan pentingnya kesetaraan di antara seluruh lapisan masyarakat.

“Jangan pernah membeda-bedakan antara masyarakat suku yang tinggal di hutan dengan masyarakat kampung. Mereka semua adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama,” ujarnya. Pesan tersebut disampaikan di hadapan peserta upacara yang terdiri dari masyarakat adat Togutil dan warga desa.

Setelah prosesi pengibaran bendera selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lomba tradisional khas peringatan 17 Agustus. Warga desa dan Suku Togutil berpartisipasi bersama dalam berbagai perlombaan yang berlangsung meriah.

Suasana kegembiraan semakin terasa saat pembagian hadiah bagi para pemenang, diikuti dengan pemberian paket sembako serta pakaian untuk seluruh peserta.

Kepala BMH Maluku Utara, Nurhadi, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar perayaan tahunan.

“Momentum kemerdekaan ini menjadi ajang menguatkan persaudaraan dan merangkul saudara-saudara kita di pedalaman. Semoga bendera Merah Putih yang mereka kibarkan menambah semangat untuk terus bangkit bersama dalam bingkai NKRI,” ungkapnya.

Kehadiran Suku Togutil dalam upacara kemerdekaan ini menjadi simbol nyata persatuan bangsa. Peristiwa tersebut tidak hanya menunjukkan partisipasi masyarakat adat dalam kehidupan berbangsa, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan di wilayah pedalaman.

Upacara ini menandai eratnya sinergi antara masyarakat desa, lembaga kemasyarakatan, dan komunitas adat dalam merawat nilai persatuan di tengah keberagaman.

Dengan bergandengan tangan antara masyarakat adat dan warga kampung, peringatan kemerdekaan ke-80 tahun Republik Indonesia di pedalaman Halmahera ini menjadi bukti bahwa semangat kebangsaan terus tumbuh dan terjaga hingga ke pelosok nusantara.

Sejarawan Tiar Anwar Bachtiar Bahas Umur Gerakan Islam di Acara Ngopi Bareng

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pusat Dakwah Hidayatullah menggelar acara Ngopi Bareng Sejarawan bersama Dr. Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum., pada Jumat, 21 Safar 1447 (15/8/2025).

Dalam forum ini, Tiar membawakan materi bertema “Umur Gerakan Islam”, yang menelaah dinamika sejarah harakah Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga perkembangan kontemporer.

Dalam paparan awalnya, Tiar menjelaskan kerangka dasar gerakan Islam yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Menurutnya, fase awal dakwah Islam di Makkah berfokus pada penyebaran gagasan iman, ibadah, dan akhlak. Sementara fase Madinah ditandai dengan institusionalisasi syariah dalam kehidupan masyarakat.

“Institusionalisasi, terutama percepatannya di Zaman Umar, sangat penting karena dengan ini penyebaran gagasan risalah Ilahiyah dalam semua sektor kehidupan bisa dilakukan secara massif dengan perluasan wilayah yang cepat lewat dakwah dan jihad,” jelas Tiar.

Namun, lanjutnya, fase institusionalisasi tidak selalu berjalan mulus. Ketika proses tersebut mulai mapan dan menimbulkan kejenuhan, biasanya muncul disorientasi dalam gerakan.

“Puncak disorientasi itu konflik internal. Biasa itu dalam sejarah. Ada pihak yang melakukan percepatan institusionalisasi, ada yang melihat efek disorientasi. Konfliknya begitu,” ungkapnya.

Untuk menjawab kondisi tersebut, Tiar menekankan pentingnya kehadiran ulama yang berperan sebagai mujaddid atau pembaru. Ia mengutip nubuwah Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa setiap 100 tahun akan ada tajdid (pembaruan) yang dilakukan oleh para ulama pewaris Nabi.

“Maka, harakah wajib selalu memelihara dan meningkatkan kualitas para ulamanya dan memberikan independensi keilmuan, supaya selalu mentajdid gagasan harakah, agar mereka bersuara keras, jernih, dan berani mengembalikan harakah ketika ada tanda-tanda disorientasi,” tegasnya.

Sejarawan yang juga pengajar ini menuturkan bahwa perjalanan sejarah umat Islam mengalami perubahan signifikan setelah masa Khulafaur Rasyidin. Jika sebelumnya tantangan utama lebih banyak berasal dari internal, maka pada periode setelahnya dunia Islam menghadapi kondisi yang sangat berbeda.

“Setelah Khulafaur Rasyidin, lalu Dinasti-dinasti, Alam Islami memasuki zaman yang berbeda sama sekali yaitu zaman dijajahnya negeri-negeri Muslim oleh bangsa-bangsa Kafir. Ini belum pernah terjadi sebelumnya terutama dalam skala wilayah yang luas. Konfliknya bukan internal, tapi lawan kuffar,” ujarnya.

Dari konteks inilah, lanjut Tiar, muncul berbagai gerakan Islam modern yang dikenal hingga saat ini. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif sejarah, umur sebuah gerakan Islam dapat dipahami dari dua dimensi yaitu gagasan dan institusi.

“Jadi umur harakah atau gerakan Islam itu ada dua dimensi yaitu umur gagasan (risalah) dan umur institusi,” terang sejarawan Universitas Indonesia ini.

Tiar menggarisbawahi bahwa tidak jarang terjadi perbedaan antara keberlangsungan institusi dan relevansi gagasan. Sebuah institusi, kata dia, dapat saja bertahan lama secara formal, tetapi tidak lagi membawa misi awal yang diembannya.

“Bisa saja institusinya berumur panjang, tapi gagasannya sudah mati, setelah mengalami disorientasi. Slogannya masih ada, tapi institusinya sudah tidak benar-benar membawa gagasan awal,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan besar dalam perjalanan institusionalisasi adalah kecenderungan kader untuk lebih berfokus pada capaian-capaian administratif.

“Karena, institusionalisasi secara alamiah menyibukkan para kader pada angka dan program. Sampainya gagasan ke akal dan hati orang bukan lagi ukuran,” terangnya.

Acara Ngopi Bareng Sejarawan di Pusat Dakwah Hidayatullah ini dihadiri oleh pengurus, unsur pemuda, dan mahasiswa.

Forum yang dipandu oleh Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah Dzikrullah W. Pramudya ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai dinamika sejarah gerakan Islam serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga kesinambungan gagasan dan institusi.

IAI Hidayatullah Mantapkan Arah Peta Jalan Menuju Daya Saing Global

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menggelar Rapat Kerja (Raker) dimlai pada Jumat, 21 Safar 1447 (15/8/2025), di Kampus 3 Hidayatullah Marina Kota Batam.

Kegiatan ini mengambil semangat Kemerdekaan RI ke-80, berlandaskan Q.S. Al-Insyirah ayat 5–6, sebagai pijakan moral dan visi strategis lembaga.

Rapat Kerja ini menjadi forum evaluasi capaian dan perencanaan langkah ke depan. Berdasarkan peta jalan yang disusun, periode 2022–2025 ditargetkan seluruh program studi meraih akreditasi, termasuk akreditasi institusi. Target tersebut telah tercapai sebelum berakhirnya semester genap tahun akademik 2024–2025.

Ketua Yayasan Hidayatullah Batam, Dr. Khairul Amri, menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam membentuk peradaban.

“Perguruan tinggi bagian dari pembentukan karakter dan adab, serta harus menjadi pionir cikal bakal miniatur peradaban Islam, sebagai bagian dari satuan Pendidikan Tinggi Hidayatullah,” ujarnya.

Dr. Khairul Amri menambahkan bahwa setiap proses dan kultur yang berkembang di IAI Hidayatullah Batam diharapkan menjadi ciri khas dan keunggulan kampus.

Insyaallah, hal ini akan menjadi sesuatu yang mengkristal sebagai sebuah keistimewaan dan keunggulan bagi perguruan tinggi Hidayatullah,” lanjutnya.

Khairul lantas memaknai Al Qur’an surah Al-Insyirah 5–6 sebagai pemecut agar selalu optimis dalam menjalankan agenda khidmat keumatan termasuk dalam memajukan umat melalui pendidikan.

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” kata Khairul menukil arti dari kedua ayat tersebut.

Khairul menjelaskan, ayat ini menegaskan dua kali bahwa setiap kesulitan selalu diiringi kemudahan. Bukan setelahnya, melainkan bersamanya, sehingga tantangan dan solusi berjalan seiring.

Ayat ini, terangnya, menanamkan optimisme, keteguhan, dan kesabaran dalam menghadapi beban tugas besar.

“Dalam kerangka pendidikan tinggi, pesan ini relevan untuk mengelola dinamika pembangunan kampus, di mana tantangan kelembagaan, SDM, maupun regulasi pasti muncul, tetapi peluang kemajuan juga selalu terbuka,” katanya.

Dalam rangka menuju daya saing global, maka ayat ini hendaknya menjadi motivasi untuk kemajuan perguruan tinggi dimana pemimpin dan civitas akademika dituntut untuk melihat setiap hambatan sebagai peluang penguatan.

Disamping itu, setiap fase pengembangan kampus perlu dijalani dengan kesabaran, mengingat kemudahan akan selalu ada bila strategi dijalankan secara konsisten.

“Perencanaan berbasis data dan visi keilmuan harus diiringi dengan doa serta tawakal agar kemudahan yang dijanjikan Allah terwujud,” tambahnya.

Dalam arah kebijakan strategis, Yayasan menetapkan visi untuk menjadikan kampus sebagai salah satu pilar miniatur peradaban Islam. Misi yang diemban mencakup pembentukan masyarakat kampus yang berjamaah, bersyariat, unggul, dan berpengaruh di tingkat nasional maupun global.

Salah satu langkah konkret yang disebutkan adalah mendorong Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melakukan kajian terhadap kultur pesantren yang ada di lingkungan kampus. Penelitian tersebut diharapkan menghasilkan riset tentang praktik ibadah dan kehidupan kepesantrenan yang dapat menjadi rujukan akademik.

Rapat Kerja yang berlangsung selama dua hari ini juga menjadi ajang untuk memperkuat komitmen dan kekompakan pengelola perguruan tinggi. Ketua IAI Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Sidik, menyampaikan harapannya agar pengurus mampu melanjutkan dan memperkuat arah kebijakan yang telah ditetapkan yayasan.

“Komitmen dan kekompakan diharapkan bisa dibangun dan dijalin dalam pengurusan tahun ini,” ungkapnya.

Sidik menambahkan, peta jalan ke depan mencakup target meningkatkan daya saing global kampus, sejalan dengan visi dan misi yang diemban. Harapan tersebut diiringi doa agar segala upaya mendapatkan keberkahan dan ridha Allah SWT.

Silaturrahim Penyuluh Kemenag ke Pesantren Hidayatullah Namrole Perkuat Sinergi Pendidikan

0
(Foto: Dok. Kemenag Maluku)

BURU SELATAN (Hidayatullah.or.id) – Empat Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku, melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren Hidayatullah Namrole. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 19 Safar 1447 (13/8/2025) ini disambut langsung oleh pimpinan pesantren, Ustadz Sulaiman Sandre.

Keempat penyuluh yang hadir adalah Afandi Syam Palo, S.Fil.I., Rifay Booy, S.Sos., Talib Hatau, S.Sos., dan Nidaul Kamsini, S.Ag.. Menurut keterangan yang disampaikan dalam pertemuan, tujuan kunjungan ini adalah mempererat komunikasi antara Kemenag dan pihak pesantren sekaligus membahas sejumlah agenda penting, khususnya terkait pengembangan kelembagaan dan kelengkapan administrasi.

Dalam dialog yang berlangsung di lingkungan pesantren, para penyuluh menekankan pentingnya kelengkapan izin pesantren di tingkat Kemenag Kabupaten Buru Selatan. Meskipun pesantren telah terdaftar secara resmi di tingkat pusat, data di Kemenag setempat dinilai perlu dilengkapi untuk mempermudah berbagai proses administratif.

Para penyuluh menjelaskan, kelengkapan data tersebut akan memudahkan proses saat santri mengikuti ujian resmi. Dengan data yang terverifikasi, santri dapat memperoleh nomor ujian yang sah sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain membahas administrasi, para penyuluh juga menyampaikan informasi mengenai peluang bantuan yang dapat disalurkan ke pesantren di masa mendatang. Bantuan tersebut meliputi program pembinaan, peningkatan fasilitas, dan dukungan lainnya sesuai dengan program kerja Kemenag.

Sebagai bentuk kepedulian langsung, para penyuluh menyatakan niat untuk mewakafkan mushaf Al-Qur’an kepada santri. Mereka juga menegaskan kesiapan untuk membantu pesantren dalam berbagai kebutuhan yang terkait dengan pembinaan keagamaan.

Kunjungan ini ditutup dengan kesepahaman bersama bahwa sinergi antara Kemenag dan pesantren perlu terus diperkuat. Hal ini diharapkan dapat mendorong perkembangan pesantren sebagai pusat pendidikan agama yang konsisten melahirkan generasi Qur’ani dan berakhlak mulia.

Ustadz Sulaiman menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan dukungan dari Kemenag Buru Selatan. Ia berharap komunikasi yang terjalin akan memberi manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan dan layanan di pesantren.

64 Tahun Gerakan Pramuka Membentuk Kader Bangsa Beriman, Berakhlak, dan Patriotik

0
Ketua Pimpinan Satuan Komunitas Gerakan Pramuka Hidayatullah Kak Syarif Daryono (Foto: Dok. Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hari ini, Kamis, 14 Agustus 2025, bangsa Indonesia memperingati Hari Gerakan Pramuka ke-64. Ketua Pimpinan Satuan Komunitas (Pinsako) Gerakan Pramuka Hidayatullah Kak Syarif Daryono mengatakan momentum ini bukan sekadar seremonial mengenang berdirinya organisasi kepanduan nasional, tetapi juga menjadi refleksi strategis tentang bagaimana Gerakan Pramuka berperan dalam membentuk manusia Indonesia yang berkarakter, sebagaimana amanat Pancasila dan cita-cita kemerdekaan.

Sejak awal dikenalkan pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka dirancang sebagai wadah pembinaan generasi muda secara menyeluruh, bukan hanya melatih keterampilan teknis kepanduan, tetapi juga membentuk watak, kepribadian, dan rasa kebangsaan.

Kak Syarif Daryono menegaskan tujuan mulia Pramuka yaitu mendidik generasi muda agar memiliki kepribadian beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, serta memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa.

“Di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan seperti saat ini seperti arus globalisasi, revolusi teknologi, hingga krisis identitas budaya, nilai-nilai Pancasila yang diinternalisasikan melalui Gerakan Pramuka menjadi pilar penting,” kata Kak Dion, sapaannya, dalam keterangannya, Kamis, 20 Safar 1447 (14/8/2025).

Tujuan Pramuka ini senafas dengan Pancasila sebagai falsafah berbangsa dan bernegara. Kak Dion menjelaskan, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa meneguhkan fondasi iman dan takwa; Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab membentuk akhlak mulia; Sila Persatuan Indonesia mengokohkan rasa kebangsaan; Sila Kerakyatan mengasah kemampuan bermusyawarah dan demokrasi; serta Sila Keadilan Sosial membangun kepedulian sosial dan keadilan bagi semua.

“Bila ditautkan dengan nilai-nilai Islam, semangat Pramuka memiliki landasan moral yang kuat. Prinsip iman dan takwa selaras dengan konsep taqwa yang menjadi kunci kemuliaan seorang Muslim,” terang Kak Dion.

Akhlak mulia sejalan dengan teladan Rasulullah sebagai uswatun hasanah bagi umat manusia. Jiwa patriotik mencerminkan semangat hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman).

Kak Dion melanjutkan, ketaatan pada hukum dan kedisiplinan merupakan perwujudan dari perintah Allah untuk menepati janji dan aturan. Kecakapan hidup (life skills) juga selaras dengan ajaran Islam tentang ikhtiar, kerja keras, dan kesiapan menghadapi ujian kehidupan.

“Gerakan Pramuka, jika dijalankan dengan kesungguhan, dapat menjadi laboratorium kebajikan yang menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati diri. Mereka belajar mencintai tanah air bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata dengan peduli lingkungan, siap membantu masyarakat, disiplin, dan mandiri,” katanya.

Kak Dion berharap peringatan ke-64 tahun ini hendaknya dimaknai sebagai ajakan untuk memperkuat sinergi antara nilai Pancasila, ajaran Islam, dan semangat Pramuka. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya di ruang kelas; ia harus dihidupkan dalam kegiatan lapangan, latihan kepanduan, penugasan sosial, dan keteladanan para pembina.

“Dengan demikian, generasi muda Indonesia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual,” imbuhnya.

Pada akhirnya, terang Kak Dion, membangun manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, dan berdaya saing global adalah cita-cita besar yang memerlukan kesungguhan semua pihak.

“Gerakan Pramuka adalah salah satu instrumen yang sudah terbukti efektif dan relevan untuk mewujudkan cita-cita itu. Di tengah gempuran budaya instan dan hedonisme, Pramuka hadir sebagai pengingat bahwa masa depan bangsa bergantung pada generasi muda yang memegang teguh nilai-nilai luhur,” katanya.

“Selamat Hari Gerakan Pramuka Indonesia ke-64. Semoga semangatnya terus hidup, membimbing langkah generasi penerus, dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan bangsa menuju kejayaan,” pungkasnya menandaskan.