Beranda blog Halaman 96

Hidayatullah NTB Bentuk Sasambo Halal Center dan Siapkan Helatan Festival

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Persiapan menuju Hidayatullah Halal Festival (HHF) yang akan digelar pada September 2025 mendatang kian dimatangkan. Agenda berskala wilayah ini dirancang sebagai bagian dari penyemarak Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan berlangsung pada Oktober 2025.

Rangkaian persiapan HHF kembali dibahas dalam Rapat Sinergi dan Koordinasi yang digelar pada Selasa, 11 Safar 1447 (5/8/2025) di Kota Mataram.

Pertemuan ini melibatkan tiga unsur kelembagaan halal Hidayatullah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Lembaga Sembelih Halal (LSH), Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), dan Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H).

Hadir dalam forum tersebut antara lain Ketua DPW Hidayatullah NTB Muslihuddin Mustaqim, Ketua LPH Hidayatullah NTB Sibawaih, Ketua LSH Hidayatullah NTB Kholid Zuhri, dan Ketua LP3H Hidayatullah NTB Zainal Amilin.

Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam rapat adalah pembentukan lembaga konsultan halal daerah yang diberi nama Sasambo Halal Center (SHC).

Kehadiran SHC diharapkan menjadi simpul penguatan ekosistem halal di NTB, khususnya dalam rangka mendukung edukasi, pendampingan, dan sertifikasi halal masyarakat dan pelaku usaha.

“Melalui HHF dan terbentuknya Sasambo Halal Center, kita berharap semakin banyak elemen masyarakat memahami pentingnya proses kehalalan produk. Festival ini bukan hanya pameran, tapi juga ruang edukasi publik,” ujar Ketua Panitia HHF, Sibawaih, dalam keterangannya, Kamis, 13 Shafar 1447 (7/8/2025).

Lebih lanjut, Sibawaih menyampaikan bahwa HHF akan dirancang dengan pendekatan partisipatif lintas sektor.

Insya Allah kita libatkan banyak pelaku UMKM, dinas terkait, serta komunitas halal lifestyle agar gaungnya lebih luas dan substansial,” tambahnya.

Hidayatullah Halal Festival dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari pada bulan September 2025 dengan agenda antara lain: seminar halal, workshop penyembelihan sesuai syariah, bazar UMKM halal, serta layanan sertifikasi halal gratis bagi pelaku usaha mikro.

Dengan sinergi antar-lembaga dan partisipasi publik yang terus dibangun, HHF diharapkan menjadi kontribusi nyata Hidayatullah dalam penguatan sistem jaminan produk halal nasional.

HHF NTB 2025 akan digelar di dua lokasi utama, yakni Poltekpar Lombok pada Minggu, 7 September 2025 dan Teras Udayana pada Sabtu–Minggu, 6–7 September 2025.

Agenda yang diusung meliputi seminar sertifikasi halal, lomba poster dan videografi, konsultasi halal gratis, serta puluhan stand kuliner halal. Panitia juga menargetkan penandatanganan lebih dari lima MoU dengan mitra lokal dalam kegiatan tersebut.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Sibawaih menambahkan, Hidayatullah NTB berharap dapat mendorong peningkatan literasi halal dan memperluas jangkauan layanan sertifikasi di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, dengan informasi pendaftaran tersedia melalui tautan: bit.ly/Hidayatullahhalalfestival

MUI Keluarkan Tausiyah Kecam Penyerbuan Masjid Al-Aqsa oleh Pemukim Zionis

Pada 3 Agustus 2025, lebih dari 3.000 pemukim ilegal zionis bersama dengan Menteri Keamanan Nasional Penjajah ‘Israel’, Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjidil Aqsa, Palestina dan melakukan sejumlah tindakan provokasi. Mereka melakukan hal tersebut di bawah perlindungan tentara penjajah ‘Israel’ (Foto: Supplied/Al Arabiya)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan seruan resmi atau tausiyah sebagai respons atas peristiwa penyerbuan Kompleks Masjid Al-Aqsa yang dilakukan oleh pemukim ilegal Zionis Israel baru baru ini.

Dokumen tersebut diterbitkan melalui Surat Nomor: Kep-89/DP-MUI/VIII/2025, dan ditandatangani langsung oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekretaris Jenderal Buya Amirsyah Tambunan.

Penyerbuan itu dipandang oleh MUI bukan sekadar pelanggaran terhadap situs suci umat Islam, tetapi juga sebagai aksi yang mengancam stabilitas global.

Dalam narasi enam poin yang tertuang dalam tausiyah tersebut, MUI menegaskan seruan yang ditujukan kepada umat Islam, negara-negara Arab, komunitas internasional, serta pemuka lintas agama di seluruh dunia.

Dikutip dari laman resmi mui.or.id, seruan pertama menegaskan posisi tegas terhadap aksi Israel. MUI menyatakan bahwa penyerbuan itu merupakan deklarasi perang, provokasi yang disengaja, serta penghinaan bagi seluruh umat Muslim.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sesuai dengan Perjanjian 1967, umat Muslim memiliki kendali eksklusif terhadap kompleks Masjid Al-Aqsa, dan non-Muslim, termasuk Yahudi, dilarang beribadah di dalamnya. Oleh karena itu, tindakan pemukim Yahudi dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak beribadah umat Muslim.

Pada poin kedua, MUI memperingatkan bahwa penyerbuan tersebut adalah tindakan kriminal yang mengancam perdamaian dunia.

MUI menilai bahwa tujuan utama Israel adalah memaksakan kendali penuh atas Masjid Al-Aqsa, mengikuti pola yang sebelumnya dilakukan terhadap Masjid Ibrahim di Hebron. Penekanan diberikan pada fakta bahwa langkah ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Tausiyah kemudian berkembang menjadi seruan luas kepada dunia Islam. Pada poin ketiga, MUI menyatakan bahwa pelanggaran terang-terangan ini tidak akan terjadi seberani itu tanpa adanya kelemahan dan kelalaian dari dunia Arab dan Islam, meningkatnya gelombang normalisasi, serta kolusi sebagian rezim dan diamnya lembaga-lembaga keagamaan resmi.

Poin keempat ditujukan kepada komunitas internasional, yang didorong untuk segera campur tangan mengambil langkah konkret dalam melindungi rakyat Palestina dan situs-situs sucinya, khususnya dalam hal ini Kompleks Masjid Al-Aqsa.

Dalam seruan kelima, MUI mengarahkan umat Islam untuk merespons secara aktif. MUI menyerukan pada umat Islam untuk melakukan aksi dan edukasi terkait masalah ini.

Salah satu langkah nyata yang diminta adalah agar khutbah Jumat pada 8 Agustus 2025 secara khusus membahas keutamaan Masjid Al-Aqsa sebagai tanah suci ketiga umat Muslim, serta mewaspadai potensi serangan kembali dari 23 September hingga 14 Oktober 2025, yang diprediksi sebagai fase agresi paling berbahaya terhadap Al-Aqsa.

Penutup dari tausiyah tersebut menegaskan urgensi solidaritas lintas iman. MUI menyerukan kepada seluruh tokoh, pimpinan dan umat lintas agama di manapun untuk secara bersama, bersatu padu melakukan kecaman dan desakan kepada kekuatan dunia untuk menghentikan kejahatan Zionis yang telah merusak kedaulatan agama, wilayah, dan manusia.

Dengan enam poin seruan ini, MUI sebagai ruang berkhidmat lintas ormas Islam serta wadah para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam, menegaskan komitmennya terhadap perlindungan Masjid Al-Aqsa dan menyerukan respons kolektif lintas kawasan, agama, dan institusi demi menjaga kesucian situs dan hak-hak rakyat Palestina.

Paradigma Kepemimpinan Profetik dalam Perspektif Islam Kontemporer

Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom (Foto: Billy/ Hidayatullah.or.id)

DALAM Islam, kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan, melainkan amanah besar yang diemban dengan tanggung jawab moral dan spiritual. Narasi ini dapat dikembangkan lebih dalam dengan bingkai komunikasi profetik, yaitu gaya komunikasi yang meneladani Rasulullah SAW.

Komunikasi profetik menempatkan kepemimpinan sebagai sarana untuk mendidik, menginspirasi, dan membawa perubahan positif, dengan mengutamakan tiga pilar utama: keteladanan (uswah), kejelasan (tabsyir), dan kebijaksanaan (hikmah).

Melihat Potensi dengan Mata Hati

Seorang pemimpin sejati adalah visioner, yang dalam Islam disebut ulul albab (orang yang berakal dan berpandangan jauh). Mereka tidak hanya melihat potensi fisik, tetapi juga potensi spiritual (fitrah) yang ada pada setiap individu.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau mampu melihat Abu Bakar sebagai sahabat yang setia dan jujur, Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang adil dan tegas, dan Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang tak terkalahkan.

Beliau tidak pernah memandang remeh seseorang, bahkan orang yang dulunya menentang Islam, karena beliau meyakini setiap hati punya potensi untuk beriman.

Pemimpin dengan visi profetik akan selalu memandang positif dan memberikan husnuzan kepada orang lain. Sikap ini selaras dengan firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Pandangan positif ini tidak hanya mencegah dosa prasangka, tetapi juga membuka ruang untuk kepercayaan dan kolaborasi.

Dengan pandangan ini, pemimpin dapat melihat tantangan sebagai ladang amal dan peluang untuk meningkatkan kualitas diri, bukan sebagai penghalang.

Memetakan Tantangan dan Peluang

Kepemimpinan profetik tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga analisis mendalam yang didasarkan pada ilmu dan hikmah.

Rasulullah SAW selalu melibatkan para sahabatnya dalam musyawarah (syura) untuk memetakan tantangan dan peluang, seperti saat Perang Khandaq. Ide Salman Al-Farisi untuk menggali parit adalah hasil dari proses analisis dan musyawarah yang matang.

Pemimpin harus mampu merancang strategi yang efektif dan adaptif. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW berikut:

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (Riwayat Muslim)

Hadits ini mendorong pemimpin untuk bersikap proaktif, bersemangat, dan tidak mudah menyerah. Analisis yang kuat dan strategi yang matang adalah wujud dari sikap bersemangat terhadap apa yang bermanfaat dan tidak merasa lemah.

Bimbingan Ilahi

Puncak dari kepemimpinan profetik adalah kesadaran bahwa segala kekuatan dan keberhasilan datang dari bimbingan dan ridha Allah SWT.

Kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang berlandaskan tauhid. Tanpa bimbingan Allah, setiap rencana dan strategi hanyalah sebuah upaya yang rapuh.

Seorang pemimpin yang meneladani Rasulullah SAW akan senantiasa menguatkan sisi spiritualnya melalui doa, dzikir, dan tawakal.

Ia memahami bahwa kekuasaannya adalah pinjaman dari Allah, dan pertanggungjawabannya bukan hanya kepada manusia, melainkan juga kepada-Nya. Sikap ini menciptakan pemimpin yang rendah hati, adil, dan amanah.

Allah SWT berfirman,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kegagalan atau tantangan adalah cerminan dari usaha manusia, sementara keberhasilan adalah karunia Ilahi.

Oleh karena itu, pemimpin sejati akan selalu berserah diri dan memohon petunjuk kepada-Nya, karena kekuatan spiritual inilah yang akan menjadi kompas dalam setiap langkah dan keputusan.

Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan paripurna yang menggabungkan kecerdasan emosional, analitis, dan spiritual.

Seorang pemimpin profetik tidak hanya melihat potensi pada setiap individu dengan pandangan positif (husnuzan), tetapi juga mampu merumuskan strategi yang matang melalui musyawarah (syura) dan analisis.

Semua upaya ini dibangun di atas landasan spiritual yang kokoh, yaitu kesadaran penuh akan bimbingan Allah SWT.

Dengan demikian, kepemimpinan yang dijalankan bukan sekadar upaya manusia, melainkan ibadah yang bertujuan membawa kemaslahatan bagi umat, dunia, dan akhirat.[]

*) Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom., penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Polresta Balikpapan Dukung Ketahanan Pangan Jelang Jamnas ISCH III

0
Kapolresta Balikpapan, Kombespol Anton Firmanto, S.H., S.I.K., M.Si., melakukan penanaman jagung serentak di lahan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa siang (5/8/2025).* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menjelang pelaksanaan Jambore Nasional (Jamnas) ISCH III Sako Pramuka Hidayatullah, upaya ketahanan pangan terus digalakkan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pada Selasa siang, 11 Safar 1447 (5/8/2025), Kapolresta Balikpapan, Kombespol Anton Firmanto, S.H., S.I.K., M.Si., memimpin kegiatan penanaman jagung secara serentak di area perkebunan milik pesantren.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kapolsek Balikpapan Timur, Kompol Sumarlik Akup, S.H., serta Bhabinkamtibmas Kelurahan Teritip, Bripka Muhammad Firmansyah.

Rombongan disambut oleh unsur pimpinan pesantren, antara lain Sekretaris Pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah (YPPH), Ustadz Abdul Latief Usman, Bendahara Pesantren, H. Sujaib Saud, serta Ketua Bidang 2 YPPH Balikpapan, KH Habib Lukman Hakim Alaththas.

Turut menyambut pula jajaran panitia Jamnas III ISCH, seperti Sekretaris Panitia Kak Sukman, serta anggota panitia lainnya yaitu Ibrahim dan Abdus Syakur.

Penanaman bibit jagung dilakukan bersama Agus Salim, petani lokal yang juga merupakan warga pesantren.

Dalam keterangannya kepada Media Center @Ummulqurahidayatullah, Kombespol Anton Firmanto menjelaskan tujuan kegiatan tersebut.

“Hari ini kita melaksanakan kegiatan penanaman jagung di areal Pesantren Hidayatullah. Alhamdulillah kerja sama yang baik antara pihak kepolisian dengan Pesantren Hidayatullah sehingga memberikan sebagian lahannya untuk ditanami jagung yang Insya Allah nanti jagung pupuk ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya juga untuk pakan ternak,” ujar Kapolresta.

Lebih lanjut, mewakili Kapolda Kaltim Irjen Pol. Endar Priantoro, S.H., S.I.K., C.F.E., M.H., Kapolresta menyampaikan apresiasi atas dukungan Pesantren Hidayatullah terhadap program ketahanan pangan yang digalakkan oleh kepolisian. Ia menyebutkan bahwa upaya ini sejalan dengan komitmen swasembada pangan Presiden RI Prabowo Subianto.

Kapolresta Balikpapan, Kombespol Anton Firmanto, S.H., S.I.K., M.Si., melakukan penanaman jagung serentak di lahan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa siang (5/8/2025).* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Abdul Latief Usman menyampaikan apresiasi pihak pesantren dan memberikan doa khusus untuk jajaran kepolisian.

“Semoga Allah memberikan balasan kebaikan,” ujar Abdul Latief.

Ia juga berharap agar aparat kepolisian dapat menjadi penyelenggara pemerintahan yang beriman demi terwujudnya negara yang aman.

Doa bersama turut dipimpin oleh Habib Lukman Hakim setelah sesi penanaman selesai. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama, sebelum rombongan kepolisian meninggalkan lokasi pada sekitar pukul 15.16 WIT.

Jamnas ISCH III

Jambore Nasional ISCH III Sako Pramuka Hidayatullah dijadwalkan akan dilaksanakan pada 21–24 Agustus 2025 di kawasan Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Kegiatan berskala nasional ini diperkirakan akan melibatkan sekitar 4.000 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sebagai bagian dari persiapan, panitia Jamnas telah melakukan audiensi dengan Wakapolda Kaltim, Brigjen Pol Dr. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si., pada Selasa, 29 Juli 2025, di Mapolda Kaltim, Kota Balikpapan.

KHUTBAH JUMAT Hakikat Kemerdekaan dalam Perspektif Islam

الحمد لله الذي أعزّنا بالإسلام، وحرّرنا من ظلمات الجهل والضلال، وأكرمنا بنعمة الإيمان والتوحيد، وجعل في طاعته العزّة والكرامة، وفي معصيته الذلّ والهوان
نحمده سبحانه ونشكره، ونتوب إليه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
أما بعد:فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي بتقوى الله عزّ وجل، فهي وصية الله للأولين والآخرين ﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita sekarang berada di bulan Agustus, bulan yang begitu istimewa dan penuh makna bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ini adalah nikmat besar dari Allah yang patut kita syukuri, karena setelah sekian lama hidup dalam penjajahan, akhirnya negeri ini memperoleh kemerdekaan.

Namun, sebagai seorang muslim, kita perlu merenungkan kembali: apa sebenarnya makna kemerdekaan? Apakah kemerdekaan hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik oleh bangsa lain?

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan yang sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi ketika seseorang benar-benar lepas dari penghambaan kepada sesama makhluk, dan hanya tunduk serta taat kepada Allah SWT semata.

Rasulullah ﷺ diutus ke dunia bukan hanya untuk membebaskan bangsa Arab dari kekuasaan Romawi atau Persia, tetapi yang jauh lebih penting: untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk, menuju penghambaan yang tulus hanya kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia; spiritual, intelektual, moral, dan sosial.

Kemerdekaan spiritual berarti hati yang hanya bergantung kepada Allah, bukan pada materi, jabatan, atau sesama manusia.

Seorang muslim yang merdeka secara spiritual tidak mudah goyah oleh tekanan dunia, karena hatinya kokoh berpegang pada tauhid.

Kemerdekaan intelektual berarti berpikir merdeka, tidak dibelenggu oleh kebodohan atau tunduk buta pada arus pemikiran yang menyesatkan.

Seorang muslim didorong untuk berpikir kritis, mencari ilmu, dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Kemerdekaan moral berarti memiliki integritas, bebas dari dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan pada kemaksiatan.

Seorang muslim yang merdeka secara moral tidak hanya tahu mana yang benar, tapi juga berani menjalankannya meski di tengah tantangan.

Kemerdekaan sosial berarti terwujudnya keadilan, saling menghargai, serta terbebas dari penindasan dan kezaliman dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang saling menolong, membangun dengan nilai-nilai kebaikan, dan menjunjung tinggi hak serta martabat sesama.

Inilah kemerdekaan sejati menurut Islam, kemerdekaan yang membebaskan manusia, bukan hanya dari rantai penjajahan, tapi juga dari segala bentuk belenggu yang menghalangi manusia untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika seseorang bebas dari belenggu hawa nafsu, bebas dari perbudakan terhadap materi, serta terbebas dari jeratan kemaksiatan dan dosa.

Sudahkah kita merdeka dari belenggu hawa nafsu?

Di antara bentuk kemerdekaan paling mendasar adalah merdeka dari hawa nafsu.

Sebab, tak sedikit orang yang secara lahiriah tampak merdeka, bebas bergerak, berpendapat, dan hidup tanpa tekanan. Namun, di balik itu semua, mereka masih terjajah oleh nafsu mereka sendiri. Allah SWT berfirman:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Islam memandang bahwa tunduk pada hawa nafsu adalah salah satu bentuk perbudakan paling berbahaya. Ia tidak mengikat tubuh, tapi mengekang jiwa.

Diam-diam, hawa nafsu menggerogoti manusia dari dalam, membutakan nurani, melemahkan akal sehat, dan menjauhkan dari kebenaran.

Maka, merdeka sejati bukan sekadar soal kebebasan fisik. Ia adalah kebebasan batin, ketika hati mampu berkata “tidak” pada godaan, dan jiwa kuat untuk memilih jalan yang diridhai Allah.

Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa terhadap kesenangan duniawi yang sering kali bertentangan dengan akal sehat, tuntunan wahyu, dan bisikan hati nurani.

Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai bentuk penyimpangan.

Nafsu bisa mendorong pada syahwat, kesenangan jasmani yang berlebihan, menumbuhkan ketamakan terhadap harta dan jabatan, menumbulkan rasa malas dalam beribadah, hingga menumbuhkan kecintaan pada dunia yang melalaikan akhirat.

Sedikit demi sedikit, hawa nafsu yang dibiarkan liar akan mengikis ketajaman iman dan menjauhkan seseorang dari jalan yang diridhai Allah.

Karena itulah, Islam menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai bagian dari perjuangan menuju kemerdekaan sejati.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Sudahkah kita merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, maksudnya mampu melepaskan diri dari keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi seperti harta, jabatan, popularitas, atau kesenangan sesaat, yang sering kali membuat kita lupa pada tujuan hidup yang sejati: mendekat kepada Allah dan meraih kebahagiaan abadi di akhirat.

Kemerdekaan sejati bukan ketika seseorang punya segalanya, tetapi saat ia tidak diperbudak oleh apa pun. Bukan terpesona oleh gemerlap dunia, melainkan tetap sadar bahwa semuanya hanyalah titipan sementara.

Harta, jabatan, dan kemewahan bukanlah musuh, namun jika hati terlalu terpaut padanya, maka manusia mulai kehilangan arah. Hidup jadi sekadar perlombaan mengejar kepuasan lahiriah, bahkan sampai rela mengorbankan nilai, integritas, dan akhirat hanya demi dunia yang fana.

Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ

“Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan” (QS. Al-Hadid: 20)

Inilah bentuk perbudakan yang paling halus namun berbahaya: ketika manusia mengabdi pada dunia, bukan pada Tuhannya.

Namun, bebas dari perbudakan dunia bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam tidak mengajarkan untuk lari dari kehidupan, tetapi mengatur bagaimana menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Harta bisa jadi sumber kemaslahatan jika digunakan dengan bijak. Jabatan adalah amanah, bukan alat untuk menyombongkan diri.

Kesenangan dunia boleh dinikmati, selama tidak melalaikan kita dari akhirat. Inilah hakikat kemerdekaan batin: saat seseorang bisa menjalani kehidupan dunia dengan tenang.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Sudahkah kita merdeka dari kemaksiatan dan dosa?

Merdeka sejati adalah terbebas dari belenggu maksiat dan dosa. Karena sebenarnya, dosa adalah bentuk perbudakan spiritual, hati jadi gelap, jiwa sempit, dan hidup terasa jauh dari keberkahan.

Orang yang terus-menerus terjebak dalam dosa akan kehilangan rasa peka terhadap kebenaran. Bahkan, hal yang salah bisa terasa biasa saja.

Padahal, setiap dosa adalah tembok penghalang antara kita dan Allah. Maka, saat kita berusaha menjauhi kemaksiatan, itu artinya kita sedang mengembalikan jiwa kita kepada fitrahnya, jiwa yang bersih, suci, dan rindu akan ketaatan.

Bebas dari dosa itu awal dari hidup yang tenang dan hati yang lapang. Ketika kita mampu menahan diri – menjaga pandangan, lisan, dan perbuatan – saat itulah kita sedang memerdekakan diri dari jeratan syahwat yang menipu.

Tentu, bukan berarti kita tak pernah salah, tapi kita terus berusaha kembali kepada Allah dengan taubat, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Allah berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍۢ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا . وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابًۭا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan-kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barang siapa bertaubat dan mengerjakan kebaikan, maka sungguh ia kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 70–71)

Inilah kemerdekaan ruhani yang paling mulia: saat hati bersih, amal diterima, dan hidup hanya ditujukan untuk mencari ridha-Nya. Karena, pada akhirnya, manusia yang paling merdeka adalah mereka yang paling taat kepada Allah.

Kalau kita masih terjebak dalam maksiat dan jauh dari kebaikan, berarti kita sebenarnya masih “terjajah”, hanya saja bentuknya berbeda.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum kemerdekaan ini bukan sekadar seremonial, tapi sebagai titik balik untuk membangun diri dan bangsa yang bertakwa, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

HI-FESS Ramaikan Semarak Munas VI Hidayatullah, Ajang Kompetisi dan Kontribusi untuk Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan digelar pada akhir tahun ini, panitia pusat menghadirkan Hidayatullah Festival Spesial atau HI-FESS sebagai rangkaian kegiatan penyemarak.

Festival ini merupakan ajang terbuka bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa untuk menunjukkan karya dan potensi terbaik mereka melalui kompetisi yang dikemas secara edukatif, inspiratif, dan bernilai dakwah.

Ketua Panitia HI-FESS, Ahmad Maghfur, menjelaskan bahwa festival ini adalah ruang sinergi antara kreativitas, dakwah, nilai-nilai Islam, dan semangat kebangsaan.

“Melalui lomba-lomba ini, kami berharap akan lahir gagasan-gagasan segar dan produktif dari generasi muda untuk kemajuan umat dan bangsa,” kata Ahmad dalam keterangannya, Selasa, 11 Safar 1447(5/8/2025).

Festival ini menghadirkan enam kategori lomba utama yang menggambarkan keberagaman ekspresi dan fokus dakwah Hidayatullah.

Lomba esai, yang diselenggarakan oleh Majalah Suara Hidayatullah, mengusung tema “Dakwah Ekologis Menyeru Manusia Menyelamatkan Alam.” Lomba ini mengajak peserta mengeksplorasi peran dakwah dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.

Sementara itu, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah menggelar dua kategori lomba, yakni lomba video bertema “Halalin Gaya Hidupmu”, serta lomba desain maskot dengan tema “Maskot LPH Hidayatullah.” Keduanya ditujukan untuk menyampaikan pesan moral dan karakter lembaga melalui medium visual yang kreatif.

Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) turut mengadakan lomba video dengan tema “Apa Itu Hidayatullah”, sebuah tantangan terbuka untuk merangkum identitas, nilai, dan perjalanan gerakan Hidayatullah dalam format naratif audiovisual.

PT Digital Impact Nusantara (DIN) menyelenggarakan lomba design thinking bertema “Aku Generasi Hebat, Aku Pemimpin Masa Depan.” Lomba ini menantang peserta anak dan remaja untuk merancang solusi inovatif atas problem kepemimpinan dan pembangunan karakter.

Adapun Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) menghadirkan lomba teks khutbah dengan tema umum “Sistematika Wahyu dan Jatidiri Hidayatullah.” Lomba ini mengajak para peserta untuk mengasah kemampuan menyusun materi dakwah yang sistematis dan berakar pada nilai kenabian.

HI-FESS dibuka untuk tiga kategori peserta, yakni umum, mahasiswa, dan pelajar dari jenjang SD hingga SMA.

Masa pendaftaran dibuka sejak 24 Juli hingga 31 Agustus 2025, sementara karya peserta dapat dikumpulkan paling lambat 30 September.

Proses penilaian akan berlangsung pada 1–15 Oktober, dan para pemenang akan diumumkan pada 21 Oktober 2025.

Panitia menyiapkan berbagai apresiasi menarik, mulai dari trofi, piagam penghargaan, publikasi media, hingga hadiah uang tunai dengan total nilai puluhan juta rupiah.

“Dengan HI-FESS, kami ingin membangun ruang bersama untuk berkarya, berprestasi, dan berkontribusi nyata dalam perubahan masyarakat. Ini adalah bagian dari semangat dakwah yang mencerahkan,” pungkas Ahmad Maghfur.

Informasi dan pendaftaran resmi dapat diakses melalui laman munashidayatullah.id/hifess atau akun Instagram @munashidayatullah.

Titik ke-213 Program Penyediaan Air Bersih bagi Masyarakat di Pesantren Al Fatah

0

MOJOKERTO (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali merealisasikan program penyediaan air bersih bagi masyarakat. Pada kesempatan ini, BMH meresmikan sumur bor ke-213 di Jawa Timur yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Fatah, Dusun Magersari, Desa Temuireng, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto.

Peresmian tersebut menjadi respons konkret terhadap kebutuhan dasar yang selama ini belum terpenuhi secara optimal di lingkungan pesantren tersebut, terutama saat musim kemarau.

Para santri yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al Fatah selama ini harus menempuh jarak ke masjid kampung sebelah untuk sekadar mandi atau mencuci pakaian.

“Jika musim kemarau tiba, kami harus berjalan ke masjid kampung, bergantian untuk mandi dan mencuci. Kadang harus menunggu cukup lama,” ungkap Hafsah Nadhira Salma, salah satu santri yang kini dapat menikmati kemudahan akses air bersih di lingkungan sendiri.

Peresmian sumur tersebut disambut dengan rasa syukur dan haru oleh pengasuh pondok pesantren, Ustadz Kafabih. Ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif BMH dan para donatur yang telah memungkinkan terwujudnya fasilitas vital ini.

“Sumur ini bukan hanya mengalirkan air, tapi juga harapan dan keberkahan bagi ratusan santri yang sedang menimba ilmu. Kami sangat berterima kasih kepada BMH dan para donatur atas perhatian dan bantuannya,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 11 Safar 1447(5/8/2025).

Sumur bor yang dibangun memiliki kedalaman dan debit air yang memadai untuk menunjang seluruh aktivitas harian para santri, termasuk mandi, mencuci, memasak, dan berwudhu. Fasilitas ini sekaligus mengakhiri ketergantungan mereka terhadap sumber air yang jauh dan tidak stabil.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa pembangunan sumur ini merupakan bagian dari komitmen BMH dalam menjawab krisis air bersih, terutama di pesantren-pesantren pelosok yang rentan kekeringan.

“Kami melihat langsung bagaimana air menjadi harapan hidup bagi para santri. Dengan hadirnya sumur ini, semoga proses belajar dan ibadah mereka semakin lancar dan penuh semangat,” jelas Imam Muslim.

Menurut Imam Muslim, pembangunan sumur bor ini juga menjadi cerminan dari semangat kolaborasi antara lembaga zakat, masyarakat, dan para donatur. Ia menegaskan bahwa program serupa akan terus digalakkan untuk memperluas akses air bersih ke berbagai wilayah yang membutuhkan.

“Sumur ini menjadi bukti nyata bahwa setiap aliran air merupakan hasil dari ikhtiar kolektif untuk mendukung kehidupan yang lebih layak bagi para penuntut ilmu,” tuturnya.

Dengan peresmian ini, Imam menambahkan, BMH mempertegas kehadirannya sebagai lembaga yang konsisten menjawab kebutuhan mendesak masyarakat melalui aksi nyata di lapangan.*/

Integrasi Profetik dan Profesional dalam Kepemimpinan Berbasis Nilai

0

BAGI seorang leader, kepemimpinan adalah panggilan hati yang dijalani dengan keyakinan kuat pada dua nilai utama yaitu profetik dan profesional.

Nilai profetik, yang bersumber dari konsep nubuwwah atau kenabian, menjadi fondasi moral dan spiritual dalam setiap langkah kepemimpinannya.

Seorang pemimpin sejati harus hadir tidak hanya sebagai pengatur, tetapi juga sebagai pembimbing dan pengayom.

Dalam keseharian, nilai ini tampak dalam cara ia memegang teguh kejujuran, keadilan, kesabaran, dan amanah. Kepemimpinan baginya bukan semata soal jabatan struktural, melainkan peran moral yang menuntut keteladanan.

Dalam konteks pendidikan misalnya, ketika menghadapi guru yang mengalami penurunan kinerja karena masalah pribadi, ia tidak mengambil langkah tegas yang kaku.

Sebaliknya, ia memilih pendekatan hati, membuka ruang dialog, mendengarkan dengan empati, dan mendampingi dengan kesabaran, mewujudkan nilai profetik dalam tindakan nyata.

Namun demikian, seorang leader juga menyadari bahwa nilai profetik saja tidak cukup dalam dunia kerja yang kompleks.

Maka, nilai profesional menjadi pendamping yang tak terpisahkan dalam kepemimpinannya. Ia membangun sistem kerja yang lebih tertib dan terukur, mulai dari penyusunan program kerja tahunan, pengelolaan rapat dengan agenda yang jelas, hingga penerapan disiplin kerja yang tetap manusiawi.

Profesionalisme, baginya, bukan sekadar soal kecakapan teknis, tetapi juga bentuk penghormatan atas waktu, tanggung jawab, dan potensi semua pihak di sekolah. Ia meyakini bahwa niat baik perlu diwujudkan dengan cara kerja yang baik, agar visi besar dapat diwujudkan secara konkret dan terukur.

Dalam menjalankan nilai-nilai ini, tokoh panutan yang selalu menjadi role model utamanya adalah Rasulullah SAW. Baginya, Rasulullah adalah figur yang luar biasa karena mampu memadukan kepemimpinan spiritual dan administratif secara seimbang.

Sisi profetik Nabi terlihat jelas dalam akhlaknya yang mulia, penuh kasih sayang, sabar, dan amanah. Sementara sisi profesional Nabi tercermin dalam kemampuannya menyusun strategi dakwah, mengelola pemerintahan, serta membangun tatanan masyarakat yang tertib dan adil.

Dua dimensi inilah yang terus ia teladani. Meskipun ia menyadari belum mampu meniru seluruh keteladanan Rasulullah secara utuh, ia yakin bahwa menjadikan beliau sebagai kompas dalam kepemimpinan adalah langkah yang kuat untuk menciptakan perubahan, bukan hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan yang lebih dalam.

Ciri-ciri kepemimpinan profetik dan profesional yang dicontohkan Rasulullah SAW diantaranya tercermin dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159 yang terjemahannya sebagai berikut:

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Ayat ini menjadi dasar bagi seorang leader, bahwa kepemimpinan Rasulullah SAW yang didasarkan pada sikap lemah lembut, saling memaafkan, memintakan ampun dan musyawarah, harus diteladani dalam mewujudkan masyarakat madani, yaitu masyarakat yang berbudaya, adil, makmur, sejahtera, dan damai.

Ya Allah kami mohon kepada-Mu jadikanlah negeri kami, negeri yang Engkau ridhai, negeri yang aman damai, negeri yang adil dan makmur, negeri yang memberikan kenyamanan kepada kami untuk beribadah kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlan pemimpin kami, pemimpin yang meneladani kepemimpinan kenabian, yang memiliki nilai profetik dan profesional secara utuh, sebagaimana yang dicontohkan panutan kami Rasulullah Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam. Aamiinn yaa Robb.

*) Mustabsyirah, penulis pendidik di Pondok Pesantren Hidayatullah Tangerang Selatan, Banten

Kemenangan Badar dan Mandat Kekuatan Berkelanjutan bagi Umat Islam

KEMENANGAN gemilang kaum Muslimin dalam Perang Badar, yang terjadi pada tahun kedua Hijriah, menjadi salah satu tonggak sejarah terpenting dalam Islam.

Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit, kaum Muslimin berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy berkat pertolongan Allah Ta’ala.

Namun, alih-alih merayakan kemenangan dengan berpuas diri, Allah Ta’ala justru menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Anfal ayat 60, yang berbunyi:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Anfal: 60)

Perintah yang turun pasca-kemenangan ini menimbulkan pertanyaan mendasar, mengapa Allah memerintahkan persiapan kekuatan setelah perang, bukan sebelumnya?

Kekuatan sebagai Mandat Berkesinambungan

Perintah untuk mempersiapkan kekuatan yang datang setelah kemenangan Perang Badar bukanlah suatu kebetulan. Hal ini merupakan pesan strategis yang bersifat universal dan abadi.

Ayat ini mengajarkan bahwa persiapan kekuatan bukanlah respons temporer terhadap ancaman yang sudah di depan mata, melainkan sebuah mandat berkesinambungan yang harus dijaga setiap saat.

Kata وَأَعِدُّوا (persiapkanlah) dan مَّا اسْتَطَعْتُم (apa yang kamu mampu) menunjukkan pentingnya kewaspadaan dan usaha maksimal yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kemenangan yang diraih berkat pertolongan ilahi tidak lantas membuat umat Islam berdiam diri. Sebaliknya, hal itu menjadi momentum untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, baik dalam keadaan damai maupun perang, guna mencegah potensi serangan musuh dalam bentuk apa pun.

Makna Multidimensi dari Quwwah

Kata قُوَّةٍ (kekuatan) dalam ayat ini disebutkan dalam bentuk nakirah (umum), yang menurut pandangan Syaikh Prof. Dr. Wahbah Zuhaily, memiliki makna yang luas. Ia tidak hanya merujuk pada kekuatan militer, tetapi juga mencakup kekuatan mental, fisik, dan finansial.

Namun, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam memberikan penekanan spesifik dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir:

“Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat ‘dan persiapkanlah bagi mereka al-quwwah (kekuatan) yang kalian mampu’ (QS. Al-Anfal: 60), Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Ketahuilah bahwa al-quwwah itu adalah memanah (sampai 3 kali)’.” (HR. Muslim 1917)

Penjelasan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang memanah (الرمي) perlu dipahami dalam konteks zamannya, di mana panah merupakan senjata dengan jangkauan dan kecepatan tertinggi.

Dalam konteks modern, makna ini dapat dianalogikan dengan persenjataan paling canggih saat ini, seperti rudal balistik, rudal jelajah, hingga teknologi pertahanan modern lainnya.

Selanjutnya, ayat tersebut menyebutkan:

وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ (dan pasukan berkuda)

Hal ini merupakan simbol kekuatan kavaleri pada masa itu. Pada era modern, pasukan berkuda ini dapat diinterpretasikan sebagai kekuatan angkatan udara dan teknologi nirawak (drone) yang memiliki kecepatan dan daya hancur signifikan.

Dengan demikian, ayat ini tidak hanya memerintahkan pengembangan teknologi militer, tetapi juga kesiapan armada tempur yang mumpuni.

Pilar-Pilar Kekuatan Umat

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama dari persiapan kekuatan adalah: تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ “…untuk membuat gentar musuh Allah dan musuh kalian.”

Ini adalah prinsip deterensi, di mana kekuatan yang dimiliki berfungsi untuk mencegah dan mengurungkan niat jahat pihak lain. Kekuatan ini juga harus dipersiapkan untuk menghadapi:

وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

“…dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya.”

Sebuah pengingat bahwa ancaman dapat datang dari mana saja.

Maka, untuk membangun kekuatan yang kokoh, umat Islam harus berpegang pada tiga pilar utama:

1. Kekuatan Iman

Kekuatan iman adalah fondasi dari segala kekuatan. Seperti yang ditunjukkan oleh para sahabat di Perang Badar dan kaum Muslimin di Gaza saat ini, iman yang kuat menghilangkan rasa takut akan kematian dan menjadi motivasi terbesar untuk berkorban di jalan Allah.

2. Kekuatan Ekonomi

Menghadirkan pasukan berkuda yang tangguh atau persenjataan modern memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ayat ini ditutup dengan kalimat:

وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan militer harus ditopang oleh kekuatan finansial. Pembangunan sistem ekonomi yang kokoh, seperti yang dirintis oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dengan Baitul Maal, menjadi prasyarat untuk membiayai segala bentuk persiapan.

3. Kekuatan Pendidikan

Pendidikan adalah medium untuk menumbuhkan kekuatan iman, ekonomi, dan pertahanan. Pendidikan yang berlandaskan tauhid akan melahirkan individu-individu yang memiliki keyakinan kokoh dan tidak gentar.

Di sisi lain, pendidikan yang berpihak pada sains dan teknologi akan melahirkan entrepreneur untuk membangun kekuatan ekonomi, serta teknokrat dan ilmuwan untuk menciptakan inovasi pertahanan.

Contoh-contoh polymath Muslim pada masa keemasan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Abbas Ibnu Firnas, adalah bukti nyata bahwa kekuatan ilmu pengetahuan dapat disatukan dengan keimanan.

Penutup

Surah Al-Anfal ayat 60 adalah perintah yang melampaui konteks historis Perang Badar. Ia adalah sebuah petunjuk strategis yang menggarisbawahi pentingnya persiapan kekuatan secara komprehensif dan berkesinambungan.

Dengan membangun pilar-pilar kekuatan yang solid—iman yang kokoh, ekonomi yang mandiri, dan pendidikan yang maju—umat Islam dapat mewujudkan amanat ini.

Dengan demikian, umat Islam akan menjadi kekuatan yang disegani, bukan untuk melakukan agresi, melainkan untuk menjaga perdamaian, keadilan, dan stabilitas di muka bumi, serta sebagai wujud nyata dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.

*) Disarikan dari Khutbah Jum’at di Masjid Ummul Qura, Depok, 1 Agustus 2025, yang dibawakan oleh Ust. Muzakkir Usman, M.Ed,. Ph.D

Webinar Parenting Mushida Soroti Krisis Aqil-Baligh dalam Pendidikan Modern

0

DEPOK (Hidayatullah.o.id) — Sekitar 600 peserta mengikuti webinar parenting nasional yang digelar oleh Mushida (Muslimah Hidayatullah) dan Komite Sekolah SD Integral Hidayatullah Depok, Jawa Barat, menghadirkan Ustadz Adriano Rusfi, S.Psi., M.Psi., seorang psikolog dan konsultan SDM serta pendidikan, sebagai narasumber utama.

Kegiatan ini menyoroti pentingnya kembali kepada pendekatan pendidikan Islam yang berbasis fitrah anak.

Dalam paparannya, Ust. Adriano menyampaikan bahwa pemahaman terhadap pertumbuhan anak perlu dikembalikan pada terminologi Islam, yaitu tahapan pra-tamyiz, tamyiz, dan aqil-baligh, dan bukan pada klasifikasi modern seperti “remaja”.

“Istilah ‘remaja’ adalah produk sosial pasca-Revolusi Industri di Inggris,” jelas Adriano Rusfi, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 10 Shafar 1447 H (4/8/2025).

Ia menambahkan bahwa kondisi ini muncul ketika jam kerja para orang tua, khususnya ayah, menjadi semakin panjang di luar rumah, sehingga keterlibatan langsung dalam mendidik anak mengalami penurunan drastis.

Menurut Adriano, fenomena tersebut menyebabkan munculnya generasi yang telah baligh secara fisik namun belum aqil secara akal.

“Dalam Islam, baligh dan aqil harus berjalan seiring sebagai tanda kesiapan menerima beban syariat dan tanggung jawab,” katanya menegaskan.

Lebih lanjut, Adriano menyebutkan bahwa krisis zaman ini berakar dari terpisahnya antara kedewasaan fisik dan akal. “Anak-anak bisa menyelesaikan soal akademik, tapi tidak siap menghadapi tekanan hidup,” tegasnya.

Indikator aqil dalam Islam, menurutnya, mencakup tanggung jawab pribadi dan sosial, kemampuan berpikir, kemandirian, serta kecakapan sosial.

Ia juga menyebut kesiapan menikah sebagai salah satu bukti kedewasaan akal karena kesiapan biologis (baligh) harus diimbangi dengan kesiapan mental dan spiritual (aqil).

Pendidikan aqil, lanjutnya, tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah atau ibu. Ia menekankan pentingnya peran ayah dalam pendidikan anak.

“Ayah sebagai penanam nilai dan ketegasan memiliki peran yang sangat krusial,” ungkapnya. Ia bahkan menyebut Indonesia sebagai fatherless country karena banyak anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan aktif ayah dalam proses pendidikan.

Menurutnya, peran ibu yang persuasif perlu diseimbangkan dengan ayah yang tegas agar anak tumbuh kuat secara akidah dan tangguh dalam kepribadian.

Di akhir webinar, Adriano mengajak peserta untuk kembali mendidik anak sesuai fitrahnya, bukan membebani mereka dengan tuntutan akademik seperti calistung sejak dini.

“Anak perlu dilatih menghadapi kesulitan, bukan dijauhkan darinya. Sebab dari tantangan itulah tumbuh kecakapan hidup yang sejati,” ujarnya.

Ia mengutip QS. Al-Baqarah: 214 sebagai penegasan bahwa ujian adalah bagian dari proses pendidikan sejati. “Orang-orang beriman terdahulu pun diuji dengan kesempitan dan penderitaan yang mengguncang sebelum datang pertolongan Allah.”

Webinar ini ditutup dengan penekanan bahwa proses pendidikan anak harus diarahkan pada pembentukan akhlak, tanggung jawab, dan ketahanan diri untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.