AdvertisementAdvertisement

Jaringan Luas Percepat Respons dan Bantuan Kemanusiaan Pascabanjir Aceh Tamiang

Content Partner

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Pemulihan pascabanjir di Desa Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang, menunjukkan wajah lain dari kerja kemanusiaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Gedung Pendidikan Baitina yang sebelumnya dipenuhi lumpur kini kembali bersih dan berfungsi.

Pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), ruang ini menjadi titik pertemuan sekitar 250 warga yang hadir dalam rangka syukuran Milad ke-24 Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Momentum tersebut menjadi penanda bangkitnya harapan masyarakat setelah masa sulit akibat bencana.

Pemilihan lokasi kegiatan tidak terlepas dari nilai historis dan simboliknya. Gedung yang sempat lumpuh akibat banjir kini pulih dan kembali dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan warga.

Kehadiran masyarakat dari berbagai kelompok usia mencerminkan ikatan sosial yang kembali menguat, seiring upaya bersama untuk menata kehidupan pascabencana dalam semangat kebersamaan dan gotong royong, nilai yang lekat dengan keindonesiaan.

Dalam kegiatan tersebut, BMH menghadirkan dai lapangan, Ustaz Aswin Solin, yang memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian dakwah di berbagai daerah. Ia mengajak warga memaknai musibah dengan sudut pandang keimanan.

Menurutnya, setiap peristiwa yang berat selalu menyimpan pelajaran bagi orang beriman. “Kita tidak tahu hari ini, tapi tidak mungkin ini tanpa hikmah,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat persaudaraan dan kebersamaan agar masyarakat dapat bangkit dengan lebih kokoh dan taat.

Sementara itu, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi. Ia menjelaskan bahwa kecepatan dan kesinambungan bantuan BMH tidak terlepas dari jaringan organisasi yang tersebar luas di berbagai wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Jaringan tersebut memungkinkan respons kemanusiaan dilakukan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan. “BMH memiliki dai dan relawan yang menetap di lokasi,” kata Imam. Keberadaan sumber daya lokal ini, lanjutnya, membuat distribusi bantuan lebih akurat sesuai kebutuhan penyintas.

Pendekatan tersebut menunjukkan model kerja filantropi Islam yang terintegrasi antara dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial. BMH menempatkan relawan dan dai sebagai bagian dari masyarakat setempat, sehingga proses pemulihan tidak bersifat sementara, melainkan berkesinambungan.

“Pola ini juga berupaya meneguhkan peran zakat dan sedekah sebagai instrumen penguatan solidaritas sosial dalam konteks kebangsaan,” katanya.

Dampak kegiatan paling terlihat pada anak-anak yang menjadi penyintas banjir. Salah satunya Aninita Khairin Niswa, remaja berusia 15 tahun, yang menerima paket perlengkapan sekolah dan kebutuhan lainnya. Selain itu, anak-anak diajak mengikuti aktivitas kreatif dan pembelajaran interaktif.

“Saya sangat senang karena bisa tetap bermain dengan teman-teman,” ujar Aninita. Kegiatan tersebut memberi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak melalui suasana belajar yang menyenangkan.

Sementara itu, warga dewasa memperoleh perhatian melalui penyediaan makan sore secara gratis. Sri, salah seorang warga, menyebut bantuan tersebut sederhana namun relevan dengan kebutuhan pascabencana.

Kegiatan Milad BMH ke-24 di Aceh Tamiang dinilai menjadi simbol kerja kemanusiaan berbasis nilai Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan, menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang tengah bangkit dari bencana.

Reporter: Herim Achmad
Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Jejak Ayah dalam Jiwa Anak, Pelajaran Moral dari Kisah Nabi Yusuf

MARILAH kita mentadabburi pesan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sampaikan dalam Al Qur'an Surah Yusuf ayat 24, ketika Dia...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img