AdvertisementAdvertisement

Ketua Umum Hidayatullah Ingatkan Tanggung Jawab Publik Menuntut Keteladanan Pribadi

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Naspi Arsyad mengingatkan pemangku amanah bahwa tanggung jawab publik menuntut keteladanan pribadi karena setiap peran yang bersentuhan dengan kepentingan orang banyak selalu membawa konsekuensi moral dan sosial.

Demikian hal itu ditekankan Naspi saat menjadi pengisi dalam program pembinaan spiritual dan kelembagaan yang diselenggarakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Jakarta pada Rabu, 2 Sya’ban 1447 (21/1/2025).

Menurutnya, dalam ruang publik, individu tidak hanya dinilai dari kapasitas struktural atau kewenangan formal yang dimilikinya, tetapi juga dari konsistensi antara ucapan, kebijakan, dan perilaku sehari-hari. Dia menegaskan, keteladanan pribadi menjadi titik temu antara legitimasi sosial dan kepercayaan publik.

Naspi menguraikan bahwa dalam berbagai bidang tidak hanya dalam dunia filantropi seperti pendidikan, pemerintahan, pelayanan sosial, keagamaan, maupun dunia profesional, tanggung jawab publik menempatkan seseorang sebagai rujukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan dan tindakan yang diambil memiliki dampak yang melampaui kepentingan personal, karena memengaruhi persepsi, sikap, dan bahkan tindakan orang lain.

“Oleh karena itu, amil harus terdepan dalam kebaikan karena tanggung jawab sosial publik tidak dapat dipisahkan dari kualitas pribadi yang menopangnya,” katanya.

Disamping itu, amil harus terus update dan upgrade pengetahuan, wawasan bahkan skill serta tidak cukup berhenti sampai pada posisi mengajak orang lain dalam kebaikan tetapi harus terdepan dalam kebaikan.

KH. Naspi Arsyad menjelaskan bahwa menjadi teladan dalam kebaikan diwujudkan melalui praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong para amil untuk memiliki sejumlah amalan utama yang dijaga secara konsisten, sembari tetap mengajak orang lain untuk berbuat baik. Dalam penjelasannya, ia mengaitkan antara ajakan kepada donatur dan muzakki dengan keteladanan personal amil.

“Kalau kita mengajak orang lain, donatur dan muzakki berbuat baik, kita jangan kalah. Orang kita ajak infak, kita infak dengan tekun dan disiplin,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa amil memiliki keterikatan kuat dengan ibadah personal. Dalam pemaparannya, ia mengatakan bahwa amil tidak meninggalkan ibadah, mulai dari tahajud, tilawah, hingga salat sunnah lainnya. Penekanan ini disampaikan sebagai bagian dari gambaran aktivitas spiritual yang dijalani oleh amil dalam keseharian.

KH. Naspi Arsyad mengaitkan kualitas ibadah dengan perilaku sosial. Ia menyampaikan bahwa kualitas salat berhubungan dengan kualitas zakat dan infak, serta tercermin dalam perilaku amil. “Karena dasar dari perintah salat agar kita tidak melakukan keburukan dan kekejian apalagi kemunkaran,” ucapnya.

Selain aspek ibadah, pembinaan ini juga menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas diri amil. KH. Naspi Arsyad mendorong para amil untuk terus memperbarui dan meningkatkan pengetahuan, wawasan, serta keterampilan.

“Ini tuntutan zaman kata orang. Tapi ini perintah Allah kepada kita, jangan berhenti belajar dan terus belajar,” katanya, seraya menegaskan proses belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peran amil.

Reporter: Herim Achmad
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Pelatihan Juleha di Lombok Utara Dorong Penguatan Ekosistem Halal

LOMBOK UTARA (Hidayatullah.or.id) -- Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Perwakilan Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img