
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, KH Hamim Thohari, menyampaikan bahwa Ramadhan menjadi momentum untuk melatih kemampuan mengendalikan emosi agar tidak mudah marah.
Ia menegaskan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan kemarahan, melainkan segala bentuk sikap yang berlebihan dalam diri manusia. Pesan tersebut disampaikannya dalam Kajian Ramadhan yang berlangsung di Masjid Ummul Qura Pesantren Hidayatullah Depok pada Ahad, 25 Ramadhan 1447 (15/3/2026).
Kajian yang rutin diselenggarakan setiap Sabtu dan Ahad selama bulan Ramadhan tersebut menghadirkan KH Hamim Thohari sebagai narasumber dengan moderator tokoh literasi Hidayatullah, Imam Nawawi. Forum tersebut menjadi ruang pembelajaran keislaman yang diikuti jamaah untuk memperdalam pemahaman tentang nilai ketakwaan dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, KH Hamim menjelaskan empat indikator utama yang menggambarkan karakter orang bertakwa. Penjelasan tersebut merujuk pada kandungan Al Qur’an ayat 133 hingga 136 dalam Surah Ali Imran. Ia memulai dengan menjelaskan pentingnya kecerdasan dalam mengelola aspek ekonomi.
“Pertama, orang yang bertakwa itu punya kecerdasan finansial. Ia pandai mencari rezeki juga pandai membelanjakannya di jalan Allah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kemampuan mencari penghidupan dan menyalurkannya untuk kemaslahatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Menurutnya, keterampilan bekerja dan kemampuan berbagi harus berjalan bersamaan.
“Tidak boleh ada kader dan umat Islam yang tidak punya skill, sehingga tidak pandai mencari rezeki, termasuk tidak pandai membagikannya di jalan kemaslahatan,” katanya.
KH Hamim juga mengingatkan bahwa kecakapan ekonomi tidak hanya diukur dari kemampuan memperoleh penghasilan. Penggunaan rezeki secara proporsional menjadi bagian penting dari nilai ketakwaan.
“Jangan sampai pandai mencari rezeki, tapi kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah. Hidup menjadi bermegah-megahan, itu tidak cerdas finansial namanya,” ujarnya.
Selain kecerdasan finansial, ia menyoroti pentingnya kecerdasan emosional sebagai kualitas yang perlu dilatih, terutama selama bulan Ramadhan. Menurutnya, ibadah puasa memberikan kesempatan bagi seorang Muslim untuk mengendalikan berbagai dorongan emosi dalam dirinya.
“Kedua, kecerdasan emosional. Ramadhan mesti mengasah kemampuan kita dalam hal pandai mengendalikan emosi. Tidak mudah marah. Namun perlu kita tekankan, emosi itu bukan sebatas marah. Tetapi apapun yang berlebih-lebihan dalam diri,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa berbagai bentuk perasaan yang melampaui batas juga termasuk dalam kategori emosi yang perlu dikendalikan, seperti kesedihan, keberanian, atau kegembiraan yang berlebihan.
“Sedih berlebih-lebihan, berani berlebih-lebihan, bahkan senang berlebih-lebihan, itu adalah emosi yang harus kita kendalikan,” kata Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah ini.
KH Hamim juga menjelaskan pentingnya kecerdasan sosial sebagai ciri lain dari orang yang bertakwa. Menurutnya, sikap memaafkan kesalahan orang lain merupakan bagian dari karakter tersebut.
“Ini orang yang selalu bisa dan sadar, mau memberi maaf atas kesalahan-kesalahan orang lain. Para ibu, para istri, akan sehat dan baik rumah tangganya kalau bisa memberi maaf kepada suaminya,” ujarnya yang disambut respons hangat dari para hadirin.
Sebagai penutup, ia menyinggung kecerdasan spiritual yang berkaitan dengan kesadaran manusia terhadap kesalahan yang dilakukan. Ia menegaskan bahwa manusia tidak luput dari dosa, namun orang bertakwa memiliki kesadaran untuk segera kembali kepada Allah.
“Tidak ada orang hidup tanpa dosa. Tapi orang yang takwa, kalau ia melakukan dosa atau kezaliman, ia segera sadar dengan mengingat Allah SWT,” ucapnya.
Kajian Ramadhan di Pesantren Hidayatullah Depok tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pembinaan spiritual selama bulan suci. Melalui forum kajian ini, jamaah iktikaf diajak memahami nilai-nilai ketakwaan yang mencakup aspek pengelolaan rezeki, pengendalian emosi, sikap sosial, serta kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.






