
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya integritas sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban Islam. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan tausiyah dalam kegiatan buka puasa bersama karyawan PT Lentera Jaya Abadi dan kru Majalah Suara Hidayatullah, Rabu, 21 Ramadhan 1447 (11/3/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid , dengan peserta di Jakarta hadir secara langsung, sementara peserta di Surabaya mengikuti melalui Zoom.
Dalam tausiyahnya, Naspi menekankan bahwa integritas bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis, melainkan nilai yang harus dilatih dan didisiplinkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Integritas itu bukan bawaan sejak lahir, bukan karena jabatan, bukan karena kekayaan. Ia adalah nilai yang harus dilatih dan didisiplinkan,” ujarnya.
Integritas dalam Dunia Media
Naspi secara khusus menyoroti pentingnya integritas bagi pekerja media, terutama dalam memastikan validitas informasi yang disampaikan kepada publik.
Menurutnya, tulisan yang dipublikasikan tidak hanya berhenti sebagai informasi, tetapi dapat menjadi warisan yang mempengaruhi cara berpikir dan praktik keagamaan masyarakat.
“Bagi pekerja media, integritas ini terkait dengan dosa jariyah dan sedekah jariyah. Apa yang kita tulis itu akan dibaca orang dan bisa menjadi warisan,” katanya.
Ia mencontohkan bahaya jika seorang penulis tidak melakukan verifikasi sumber, misalnya dalam penggunaan hadis.
“Kalau hadisnya lemah, bahkan palsu, tetapi ditulis tanpa verifikasi lalu dibaca masyarakat yang tidak punya kapasitas untuk mengecek, kemudian mereka beramal berdasarkan hadis itu. Dari mana asalnya? Dari tulisan kita,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya verifikasi dan kejujuran ilmiah dalam setiap tulisan.
“Kalau dilakukan verifikasi dan disajikan dengan sumber yang terpercaya, itu menjadi sedekah jariyah. Peradaban Islam akan indah jika dibangun di atas dalil-dalil yang terverifikasi,” ujarnya.
Tidak Berbicara di Luar Keahlian
Dalam kesempatan tersebut, Naspi juga mengingatkan agar para dai dan intelektual Muslim tidak berbicara atau memberikan komentar di luar bidang keilmuannya.
Ia menilai fenomena saat ini menunjukkan banyak orang mudah berkomentar tentang isu global tanpa memiliki basis ilmu yang memadai.
“Saya sering ditanya, kenapa tidak membuat pernyataan soal Timur Tengah. Saya jawab, ilmu saya di mana? Saya memang pernah kuliah di Timur Tengah, tapi bukan berarti saya paham semua soal Timur Tengah,” katanya.
Menurutnya, lebih baik menahan diri daripada memberikan pernyataan yang dangkal atau sekadar menyalin pendapat orang lain.
“Daripada nanti pernyataannya cetek, dangkal, atau hanya kopas dari orang lain, itu malah memalukan,” tegasnya.
Ia mengingatkan prinsip Al-Qur’an agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmu.
“Al-Qur’an sudah mengingatkan: jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Itu juga bagian dari integritas,” katanya.
Media sebagai Instrumen Peradaban
Naspi juga menekankan bahwa media seperti Suara Hidayatullah memiliki peran strategis dalam mendukung visi besar organisasi dalam membangun peradaban Islam.
“Majalah Suara Hidayatullah bukan sekadar menerbitkan majalah. Ia harus menjadi instrumen penopang visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong para pengurus dan kader untuk membangun tradisi menulis dan memperkuat wawasan intelektual.
Menurutnya, tradisi menulis tidak hanya penting bagi media, tetapi juga bagi para pemimpin dan kader organisasi agar mampu mengeksternalisasi gagasan dan nilai-nilai peradaban Islam.
Di akhir tausiyahnya, Naspi menyampaikan rasa syukur atas tradisi integritas yang telah dibangun di lingkungan Hidayatullah. Ia menyebut organisasi tersebut memiliki standar spiritual dan etika yang tinggi dalam pembinaan kader.
“Salah satu integritas yang disajikan oleh Hidayatullah adalah penentuan pemimpin berdasarkan kualitas ibadahnya. Itu bukan sesuatu yang mudah ditemukan di banyak organisasi,” katanya.
Ia juga menilai bulan Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat integritas pribadi melalui disiplin ibadah dan kejujuran spiritual.
“Ramadan melatih kita untuk mengkristalkan dan menajamkan integritas. Dari bangun malam, menjaga ibadah, hingga kejujuran dalam amal kita,” ujarnya.
Naspi berharap nilai-nilai integritas yang dibangun selama Ramadan dapat terus terjaga dan menjadi bagian dari upaya membangun peradaban Islam yang lebih kuat.
“Mudah-mudahan integritas yang kita bangun melalui ibadah Ramadan ini semakin mendekatkan kita pada cita-cita besar Hidayatullah, yaitu membangun peradaban Islam,” pungkasnya.






