AdvertisementAdvertisement

KHUTBAH JUM’AT Iman dan Akhlak, Kunci Meraih Kemenangan

Content Partner

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Segala puji bagi Allah, Tuhan pencipta dan pemelihara alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya.

Shalawat dan salam kepada Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ, keluarga beliau dan para sahabat, serta seluruh umat Islam yang mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Beberapa Jum’at berlalu, para khatib menyampaikan khutbah berkenaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Materi yang mengingatkan peristiwa bersejarah tersebut memang perlu diulang-ulang sebagai refleksi rasa syukur atas bebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan.

Rasa syukur juga dengan iringan do’a semoga Allah Ta’ala membalas jasa para pejuang yang memberikan pengorbanan untuk kemerdekaan bangsanya.

Sidang Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia,

Tidak terkira nilai pengorbanan yang dipersembahkan para pejuang patriot dalam meraih kemerdekaan. Pengorbanan mereka yang membuahkan kemerdekaan tersebut telah dinikmati sampai saat ini.

Namun, kita tidak boleh lengah, para pendiri bangsa berpesan bahwa memperjuangkan kemerdekaan adalah melawan penjajah asing, itu sangat berat.

Kendati demikian, Bung Karno mengingatkan kita bahwa akan lebih berat tantangan yang kalian hadapi nanti, karena akan melawan penjajah dari negara sendiri, musuh dalam selimut. Dan, itu telah menjadi kenyataan.

Menghadapi kenyataan hari ini, harus ada rasa prihatin (sense of crisis) yang bisa memantik kepedulian seluruh anak bangsa untuk mengisi kemerdekaan ini. Hal paling mendasar dalam mengisi kemerdekaan adalah membangun sumber daya manusia.

Eksistensi manusia adalah faktor paling menentukan nasib suatu bangsa. Kalau manusianya baik, maka baiklah bangsa tersebut.

Falsafah bernegara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berarti setiap warga negara wajib meyakini bahwa nilai tertinggi dari hidup di Indonesia adalah yakin kepada Tuhan Yang Esa.

Wujud keyakinan kepada Tuhan adalah lahirnya manusia-manusia yang adil dan beradab. Hal ini menegaskan bahwa jatidiri manusia Indonesia adalah beragama dan berakhlak mulia.

Dengan agama dan akhlak inilah yang menjadi perioritas harus dicapai dalam menguatkan cita-cita kemerdekaan.

Sidang Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah,

Dalam perspektif Islam, keyakinan iman dan akhlak adalah fondasi dan basis nilai semua aspek kehidupan. Iman dan akhlak inilah yang mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik. Dengan modal dasar ini pula, Islam mencapai puncak peradaban kemanusiaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surah An-Nur Ayat 55:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi”

Dengan iman yang kuat akan melahirkan akhlak mulia. Urgensi akhlak dimulai dari pemimpin sebagai teladan kepada semua masyarakat yang dipimpinnya. Itulah predikat yang diberikan Allah Ta’ala kepada Rasulullah di awal turunnya wahyu:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”

Ayat-ayat ini mempertegas bahwa Iman dan akhlak adalah dua pilar utama dalam membangun masyarakat perperadaban.

Keduanya saling terkait erat dan tidak bisa dipisahkan—iman menjadi fondasi spiritual, sementara akhlak adalah manifestasi nyata dari keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kondisi negara kita tidak sedang baik-baik saja. Korupsi, narkoba, prostitusi merebak di mana-mana dan dapat dikatakan praktek hidup biadab seperti ini membudaya, dan secara tidak sadar telah merusak sistem kehidupan berbangsa, sekaligus menodai nilai-nilai kemerdekaan.

Semua perilaku yang menyimpang tersebut disebabkan tergerusnya keyakinan, hilangnya rasa takut kepada Tuhan, yang secara otomatis seseorang lepas kontrol, berbuat semaunya sesuai hawa nafsunya.

Jama’ah Jum’at yang Berbahagia,

Keyakinan bukan sekadar urusan pribadi antara manusia dan Tuhan, tetapi juga menjadi sumber motivasi untuk berbuat baik, jujur, dan adil dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, keyakinan menjadi landasan untuk saling menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan memperkuat solidaritas antarwarga.

Ideologi bangsa telah merangkum nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang menjadi fondasi spiritual dan etis dalam kehidupan bernegara.

Akhlak, di sisi lain, adalah cerminan dari kedalaman keyakinan seseorang. Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari kemajuan teknologi atau ekonomi, tetapi dari kualitas akhlak warganya.

Ketika akhlak dijadikan pedoman dalam berpolitik, berbisnis, dan bersosialisasi, maka akan tercipta tatanan masyarakat yang berkeadilan, berintegritas, dan saling menghargai.

Akhlak yang baik melahirkan pemimpin yang amanah, rakyat yang bertanggung jawab, serta sistem sosial yang harmoni dan saling memuliakan.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi, arus informasi, dan krisis identitas, bangsa Indonesia perlu kembali meneguhkan keyakinan dan memperkuat akhlak sebagai benteng moral.

Pendidikan karakter harus menjadi prioritas, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan. Media dan teknologi harus diarahkan untuk membangun kesadaran etis, bukan hiburan yang mengumbar nafsu dan hura-hura.

Umat Islam mencapai tingkat peradaban tertinggi di zaman nabi, sebagaimana ungkapan Rasulullah, khairul quruni qarnii.

Saat itu, infrastrruktur bangunan masih sangat sederhana, Masjid Nabawi sebagai pusat peradaban masih berlantai tanah dan beratapkan daun kurma.

Belum layak dari segi fisik material, tetapi mereka itulah yang disebut umat terbaik yang menginspirasi kemajuan peradaban secara global.

Allah Ta’ala mengabadikan mereka sebagai sebaik-baik umat dalam firman-Nya dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”

Jama’ah Jum’at yang Berbahagia,

Umat Islam pernah menghegemoni dunia karena ketinggian akhlak, baik dalam kepemimpinan maupun dalam sistem sosial. Selama kurang lebih 7 abad Islam menjadi kiblat peradaban dunia.

Namun, kita juga sangat sadar, bahwa keagungan peradaban Islam mengalami keruntuhan, dan puncaknya setelah Khilafah Utsmani Turki berakhir.

Penyebab keruntuhan itu, penyebab intinya adalah degradasi iman dan akhlak yang berawal dari para pemimpinnya.

Runtuhnya Khilafah Utsmani pada tahun 1924 bukan hanya akibat faktor politik dan militer, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh krisis iman dan moral di kalangan elit dan masyarakatnya.

Kalau kita telaah lebih dalam, ada beberapa aspek spiritual dan etis yang turut mempercepat keruntuhan ini.

Pada masa awal, Khilafah Utsmani dikenal sebagai pelindung umat Islam dan penyebar dakwah. Namun, semangat ini memudar seiring waktu, digantikan oleh kepentingan duniawi dan kekuasaan.

Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya di dalam surah Al-A’raf Ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”

Sangat jelas pada ayat ini, bahwa syarat lahirnya peradaban dan hidup penuh berkah adalah adanya komunitas yang tumbuh di atas nilai keimanan dan ketaqwaan.

Dan, sebaliknya, ketika nilai itu runtuh, akhlak pemimpin dan masyarakatnya mengalami degradasi, maka Allah Ta’ala memberikan siksaan akibat perbuatannya.

Demikian pentingnya akhlak dalam kehidupan, baik secara pribadi, komunitas, dan dalam kepemimpinan, sampai kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa tugas utama yang beliau emban adalah menyempurnakan akhlak manusia.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia”

Alangkah bermartabatnya suatu bangsa ketika para pemimpin dan masyarakatnya berakhlak mulia.

Di sana akan tumbuh sikap hidup jujur, taat aturan, saling mencintai, mengasihi, dan saling menolong dalam kebaikan. Sebuah gambaran hidup yang berkemajuan dan berperadaban.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Terima Penghargaan BAZNAS Award 2025, BMH Teguhkan Komitmen Jembatan Kebaikan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Sebuah kabar membanggakan datang dari dunia filantropi Islam. Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img