
ADAKALANYA dunia tidak membutuhkan pidato panjang. la hanya butuh satu sikap yang jujur. Ketika seseorang berkata bahwa keamanan harus dijamin, kita patut bertanya, keamanan siapa, dan dengan harga apa. Sebab dalam iman, keamanan tidak pernah berdiri sendiri. la selalu berjalan beriringan dengan keadilan.
Jika satu dijaga sementara yang lain dibiarkan mati perlahan, maka itu bukan ketertiban, melainkan ketimpangan yang dilegalkan.
Palestina jarang disebut dalam kalimat-kalimat resmi. Bukan karena tidak penting, tetapi karena luka selalu merepotkan. la membuat suasana rapat tidak nyaman. la mengganggu keharmonisan diplomasi. Maka luka itu disimpan jauh-jauh, sementara kata damai dipajang rapi di meja.
Padahal agama mengajarkan hal yang sederhana: Tuhan tidak berpihak pada yang kuat, melainkan pada yang benar. Dan, kebenaran tidak pernah butuh banyak alasan. la hanya butuh keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kepentingan.
Indonesia pernah berdiri dengan dada terbuka menolak penjajahan. Doa-doa kemerdekaannya lahir dari keteguhan, bukan dari hitung-hitungan aman.
Maka, ketika hari ini kita terdengar terlalu hati-hati menyebut kezaliman, seolah takut kehilangan undangan dan posisi, yang sesungguhnya terancam
bukanlah hubungan internasional, melainkan harga diri sejarah.
Bergabung dengan forum-forum keamanan global bukanlah dosa. Duduk bersama para pemegang kuasa juga bukan kesalahan. Namun iman selalu memberi satu garis tegas: jangan pernah menukar nurani dengan rasa aman. Jangan pernah menyebut kebijaksanaan sesuatu yang lahir dari ketakutan.
Dalam kisah-kisah lama, banyak orang tidak jatuh karena berbuat jahat, tetapi karena memilih diam. Mereka tahu mana yang salah, namun memilih tidak mengganggu keadaan. Mereka menyebutnya realistis. Tuhan menyebutnya lalai.
Sejarah akan membaca sikap, bukan niat. la tidak mencatat seberapa pintar kita merangkai kalimat, tetapi seberapa berani kita tetap jujur ketika kejujuran berisiko. Dan, di hadapan Tuhan, tidak ada diplomasi yang cukup rapi untuk menutupi satu ketidakadilan yang disengaja.
Kita berdiri tegak untuk kemerdekaan Palestina!
*) Naser Muhammad, penulis dai Hidayatullah di Kalimantan Utara






