
KURANG lebih sudah sebulan ketegangan dan perang Amerika-Iran berlangsung. Tanda-tanda mereda belum terlihat. Bahkan cakupan wilayah perang semakin meluas.
Bagi seorang muslim, perang ini bukan sesuatu yang sederhana dan bisa diabaikan begitu saja. Sebaliknya perang ini penting. Karena negara-negara Islam di Timur Tengah terlibat di dalamnya, baik di kubu Amerika ataupun Iran.
Oleh karena itu sangat baik seandainya para kader Hidayatullah memberikan perhatian yang serius atas perang ini. Diskusi di halaqah kader butuh diisi dengan topik ini. Subtopiknya sangat banyak, dari akar perang, membangun ketahanan bangsa, hingga konflik antarnegara Islam. Isu hubungan Sunni-Syiah juga bisa dimasukkan dalam daftar subtopik diskusi.
Hal terpenting dari diskusi di halaqah kader adalah perspektif. Selain keilmuan, Jatidiri Hidayatullah merupakan satu perspektif yang perlu senantiasa hadir. Agar telaah bersifat komprehensif, dari deskripsi-narasi hingga aksi.
Lahirnya aksi dari diskusi halaqah kader merupakan keharusan. Hal ini dilandasi beberapa pemikiran, sebagaimana berikut.
Pertama, sebagaimana masyhur dipahami, ilmu perlu dilengkapi dengan amal shaleh. Tanpa amal shaleh, sang pemilik ilmu berpotensi jatuh ke golongan dimurkai (al-maghdhub).
Kedua, sejak awal pendirian, Hidayatullah mendidik kader-kadernya untuk membangun aksi nyata. Diskusi dan kegiatan ilmiah lainnya merupakan titik awal dari lahirnya aksi nyata. Semakin dalam dan kompleks suatu diskusi, aksi nyata diharapkan semakin berkualitas.
Ketiga, perang besar mutakhir ini akan memberikan dampak yang sangat luas. Sifatnya global. Salah satunya dampak ekonomi. Diskusi halaqah kader perlu menghasilkan rencana-rencana aksi jika situasi ekonomi semakin runyam. Tentu harapannya rencana aksi dibingkai dengan ta’awun, minimal tiga unsur: Organisasi, amal/badan usaha, dan kader.
Ada satu instrumen halaqah kader yang tidak bisa dianggap sepele, yakni infak halaqah. Besar atau kecil nominalnya, hendaklah infak dikuatkan kembali. Berikutnya infak bisa digunakan sebagai salah satu dana ta’awun nantinya, saat ekonomi memburuk. Sehingga kemanfaatannya semakin terasakan.
Melalui aktivitas halaqah kader yang diperkaya dengan diskusi mendalam berbasis keilmuan dan Jatidiri Hidayatullah, disertai peningkatan kuantitas dan kualitas infak, semoga kader semakin merasakan manfaat halaqah.
Ke depan, seiring harapan perang berakhir, halaqah terus diperkaya dengan aktivitas serupa bahkan lebih baik. Sehingga halaqah menjadi tumpuan kader untuk memperluas cakrawala sekaligus memperdalam ruhiyah.
Di sinilah kemudian dapat dipahami bahwa sebuah krisis atau problema bisa menjadi daya ungkit untuk meningkatkan kualitas aktivitas perkaderan, baik problema internal ataupun eksternal. Hal ini selaras dengan Al-Qur’an surat Al-Insyirah ayat 5-6 yang senantiasa memberikan motivasi, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Wallahu a’lam.
FU’AD FAHRUDIN






