
SEBUAH pemerintahan, organisasi bahkan keluarga, akan tidak efektif peran dan fungsinya jika sistem kepemimpinan yang berlangsung tidak kokoh. Apa sistem kepemimpinan itu?
Sederhananya, sistem kepemimpinan adalah keselarasan antara pemimpin, pengikut, budaya, struktur, dan proses kerja. Kelima unsur itu harus bergerak serempak agar arah organisasi jelas dan tujuan bersama dapat dicapai.
Jadi, kalau relasi pemimpin dan pengikut berjalan baik tetapi struktur dan proses kerja tidak mendukung, maka budaya kerja yang sehat sulit tumbuh. Budaya bukan sekadar niat, tetapi lahir dari kebiasaan yang difasilitasi oleh sistem.
Dalam buku Leadership & Culture karya Edgar H. Schein bisa kita temukan satu penjelasan bahwa kepemimpinan bukan soal siapa memerintah siapa, tetapi bagaimana rasa bersama dibangun agar tindakan kolektif bisa mengalir. Itu artinya, kepemimpinan memerlukan sistem yang kuat dan berjalan dengan semestinya.
Lebih lanjut buku itu menjelaskan, bahwa kadang kala yang membuat sistem kepemimpinan tidak berjalan dengan baik adalah adanya keretakan sistem. Retak dalam hal ini bukan karena perintah kurang tegas, tetapi karena konteks emosional dan simbolik gagal dibangun.
Pemimpin dan bawahan, serta budaya tidak sinkron dalam menangkap peristiwa dengan pemaknaan yang standar. Akhirnya debat kusir lebih mudah tersaji daripada tukar pikiran yang bermutu dan menjawab persoalan.
Jika dalam organisasi diperlukan standar makna bersama, maka dalam konteks negara standar itu tentu lebih mendasar lagi. Di Indonesia, standar tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, dan aspirasi rakyat.
Gaya Pembelajaran
Menjawab akan pentingnya siapapun menghadirkan sistem kepemimpinan kita perlu meningkatkan gaya pembelajaran. Ya, kita harus belajar, meski tidak lagi sekolah atau kuliah.
Pertanyaannya, bagaimana sistem kepemimpinan itu diperkuat? Salah satu jawabannya adalah melalui gaya pembelajaran pemimpin dan anggota organisasi.
David Kolb dalam karyanya yang monumental, Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development , menyatakan bahwa empat gaya pembelajaran yang saling terkait diperlukan agar orang dewasa dapat belajar dan berubah.
Empat gaya pembelajaran itu adalah pengalaman konkret, pengamatan reflektif, konseptualisasi abstrak dan eksperimen aktif.
Jadi, orang dewasa umumnya menggunakan pengalaman sebagai basis untuk belajar. Artinya pemimpin perlu membaca laporan kinerja di lingkup tanggung jawabnya, baik itu keluarga, lembaga, maupun institusi yang lebih besar.
Seorang pemimpin juga mesti menjadwalkan waktu khusus untuk merenungkan pengalamannya, sehingga ia bisa mendapatkan makna darinya. Saat seorang pemimpin menyaring pengalamannya melalui struktur berpikir yang jelas, maka narasi baru yang segar akan berhasil ia ciptakan. Ia pun bisa memberi makna unik dari pengalaman tersebut. Alhasil ia tidak berkata, “Dulu tidak begini. Dulu itu begitu”.
Selanjutnya konseptualisasi abstrak, itu bermakna pemimpin harus bisa merefleksikan pengalaman masa lalu dari berbagai sudut pandang, mulai teori, prinsip atau konsep, sehingga muncul jenis situasi kepemimpinan tertenu yang menguat dan itu dibutuhkan.
Kemudian, eksperimen aktif. Pemimpin harus memutuskan untuk mendapat pelajaran baru dengan cara mempraktikkan serangkaian eksperimen perilaku. Dengan begitu pemimpin paham, mana dari bagian sistem yang sudah kuat, mana yang lemah dan bagaimana menguatkan yang masih lemah.
Teladan Ustadz Abdullah Said
Kalau kita cermati, teori tentang sistem kepemimpinan di atas bisa kita temukan teladannya dari Ust. Abdullah Said.
Berdasarkan berbagai kisah dan catatan sejarah, tampak bahwa beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi membangun budaya, pola kaderisasi, dan distribusi tugas yang terstruktur. Di sinilah sistem kepemimpinan itu terlihat.
Ketika itu, semua kader dan santri masuk dalam satu budaya tersendiri. Awalnya mungkin semua kader dan santri menyangka bahwa mereka cukup berada di Gunung Tembak. Namun, ketika tiba masa untuk mengembangkan dakwah dengan pola yang kuat yang ada di Balikpapan yang telah berjalan dengan mendarah daging, kader dan santri awal itu pun mendapat tugas merintis pesantren.
Ketika tugas itu datang kepada mereka, ternyata sambutan kader dan santri sangat positif. Mereka berangkat dengan keimanan dan ketakwaan sebagai fondasi moral, yang kemudian diperkuat dengan manhaj, disiplin organisasi, dan eksperimen kepemimpinan di lapangan.
Alhasil mereka yang awalnya hanya santri, tumbuh dengan berbagai macam eksperimen kepemimpinan yang unik dan menarik.
Pertanyaannya sekarang, kalau dahulu Ust. Abdullah Said mampu membangun sistem kepemimpinan sedemikian rupa, maka apa yang membuat kita tidak efektif dalam sistem kepemimpinan ke depan. Ini adalah salah satu sudut pandang yang semoga semakin membuat seluruh komponen sistem dari Hidayatullah ini mampu berfungsi dan berperan secara sistemik dalam kepemimpinan yang eksis sekarang.
Karena pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa kekuatan umat tidak lahir dari figur tunggal, tetapi dari sistem yang menyatukan visi, budaya, dan struktur dalam satu jamaah yang tertib. Dan, kesini kita harus melangkah, agar visi membangun peradaban Islam bisa kita tegakkan.[]
Mas Imam Nawawi






