
GAMBARLAH sebuah garis, katakanlah 10 cm. Lalu tebalkan garis itu selebar 10 cm juga. Apa yang nampak? Apakah masih seperti garis?
Jawabannya garis itu telah tiada. Kini yang ada adalah sebuah bangun dua dimensi dengan keempat sisi berukuran sama. Di persekolahan, bangun ini dikenal dengan nama persegi, sementara di kehidupan sehari-hari dikenal dengan sebutan kotak.
Sekarang bagaimana jika garis 10 cm itu ditebalkan 3 cm saja, apa yang nampak? Apakah masih seperti garis?
Jawabannya kurang lebih, iya, garis itu masih nampak meskipun sudah mirip dengan persegi panjang. Akan tetapi karakteristik garis masih terlihat, yakni panjang garis dengan lebarnya memiliki perbandingan yang signifikan. Secara visual, dimungkinkan orang-orang masih menerima jika itu dinamakan garis.
Satu pelajaran yang bisa didapatkan dari kesemua uraian tersebut adalah urgensi karakteristik khas, dalam contoh ini berkaitan dengan visual. Bahwa sesuatu diberi nama tertentu karena memiliki satu atau lebih karakteristik khas. Karakteristik ini tidak berdiri sendiri, tapi hasil hubungan atau perbandingan satu komponen dengan lainnya. Sebagaimana pada contoh, panjang dengan lebar dibandingkan. Pada perbandingan tertentu, ditetapkanlah sesuatu itu sebagai persegi panjang, persegi, atau ‘sekedar’ garis.
Padahal proses yang dilalui garis menjadi persegi dan persegi panjang sama saja: Penebalan garis. Akan tetapi karena suatu tindakan berbasis perbandingan ukuran dilakukan, maka hasil akhirnya tidaklah sama. Alhasil penamaannya juga berbeda.
Demikian dalam kehidupan nyata. Suatu proses yang dilakukan dua orang atau kelompok mungkin sama. Akan tetapi karena ada perbedaan tindakan khas, maka sangat dimungkinkan hasilnya akan berbeda. Satu pihak menghasilkan A, sementara lainnya B.
Inilah dasar terhadap apa yang disebut transformasi. Sesuatu tidak dikenai tindakan acak, tapi khas. Ada prinsip-prinsip yang senantiasa dijaga dalam prosesnya. Alhasil semoga hasil yang diharapkan benar-benar tergapai.
Demikian halnya dengan transformasi organisasi. Tidak serta merta organisasi digerakkan tetapi ada sederetan prinsip yang memandu. Misalkan bentuk akhirnya seperti apa, sisi mana yang perlu digerakkan terlebih dahulu, serta siapa yang menjadi penggerak utama di berbagai jenjang.
Penguasaan organisatoris terhadap prinsip-prinsip transformasi organisasi diharapkan menjadi jaminan agar organisasi berubah ke bentuk yang benar-benar diharapkan. Jika tidak, organisasi mungkin akan berubah tetapi tidak sesuai ekspektasi. Meminjam kembali permisalan awal, rancangan organisasi awalnya persegi, namun hasil akhirnya menjadi persegi panjang.
Ada tiga hal dasar yang melahirkan prinsip-prinsip transformasi organisasi. Pertama, hasil akhir yang ingin dicapai, biasa diistilahkan dengan visi atau orientasi. Kedua, kapasitas kepemimpinan yang efektif, agar berkemampuan menggerakkan dan memberdayakan orang-orang di organisasi ke hasil akhir yang diharapkan. Sementara ketiga, keterampilan manajerial, mencakup seluruh aktivitas menata berbagai sumber daya untuk mendukung pergerakan orang-orang ke arah yang telah ditetapkan pemimpin.
Terkait visi atau orientasi, semua pihak di organisasi perlu memahaminya. Perihal ini sesuatu yang pokok agar energi individual, sosial, dan organisasional bergerak ke arah yang sama. Dengan demikian gerakan menjadi efektif.
Adapun kapasitas kepemimpinan dan keterampilan manajerial, keduanya dapat dibagi. Walaupun memiliki kesamaan, keduanya memiliki distingsi yang signifikan. Sehingga person-person yang perlu menguasai salah satu dari keduanya lebih mudah diidentifikasi.
Para pimpinan puncak merupakan pihak yang diharapkan memiliki kapasitas kepemimpinan tinggi. Sementara pimpinan di bawahnya atau bahkan staf perlu memiliki keterampilan manajerial yang mampu menyokong para pimpinan puncak. Keduanya menggerakkan organisasi ke arah yang diinginkan.
Lebih jauh, ketiga hal dasar yang melahirkan prinsip-prinsip transformasi organisasi tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya terikat oleh nilai-nilai yang diyakini organisasi. Semakin kokoh keyakinan atas nilai-nilai tersebut, semakin terikat ketiga hal dasar tersebut. Secara simultan, ketiganya lebih mudah saling menguatkan. Sehingga prinsip-prinsip transformasi organisasi lebih mudah dirumuskan serta dipahami orang-orang di organisasi.
Terakhir, organisasi disilakan memilih satu pendekatan atau pola transformasi organisasi. Para ahli telah mengenalkan aneka ragamnya. Pendalaman akademis perlu dilakukan organisasi jika ingin transformasinya berjalan lebih mulus. Wallah a’lam.[]
*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah






