AdvertisementAdvertisement

Menjadikan Bulan Sya’ban sebagai Ruang Refleksi Spiritual dan Kesadaran Kemanusiaan

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., mengajak umat Islam menjadikan bulan Sya’ban sebagai momentum untuk menyelami kembali spiritualisme Islam dalam makna yang lebih luas dan mendalam. Menurutnya, Sya’ban tidak sekadar fase transisi menuju Ramadhan, tetapi periode penting untuk menata kesiapan spiritual, moral, dan sosial umat.

Dalam konteks tersebut, Naspi mengingatkan doa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang berbunyi: “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan,” yang berarti, “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah umur kami hingga bulan Ramadhan.”

Doa ini, jelasnya, merupakan tuntunan Nabi Muhammad saw yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak munajat sebagai persiapan batin disamping persiapan fisik sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Di pertengahan bulan ini, sebagian umat Islam juga memperingati Nisfu Sya’ban. Naspi memaknai peringatan ini sebagai ruang refleksi untuk menyucikan jiwa, baik secara personal maupun dalam konteks kehidupan berbangsa. Dalam kerangka refleksi tersebut, ia juga mengajak umat Islam untuk terus mendoakan Palestina yang hingga saat ini masih berada dalam kondisi terjajah dan mengalami ketidakadilan struktural.

“Ini adalah momentum yang mengingatkan umat pada pentingnya kesungguhan perjuangan dan kesungguhan ibadah. Persiapan menuju Ramadhan sebagaimana spirit yang terkandung dalam bulan Sya’ban ini memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan,” katanya di Jakarta, Senin, 15 Sya’ban 1447 (3/2/2026) sembari menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari kepekaan terhadap realitas penderitaan dan ketidakadilan yang dialami sesama manusia.

Kesungguhan ibadah, jelas Naspi, harus berjalan seiring dengan kesadaran moral untuk memperjuangkan keadilan. Ia menekankan bahwa dimensi spiritual dalam Islam selalu memiliki implikasi sosial, termasuk dalam bentuk dukungan moral dan spiritual terhadap perjuangan pembebasan Palestina dari penjajahan. Dengan demikian, tegasnya, ibadah tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga mewujud dalam kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan global.

Oleh karena itu, periode Sya’ban dipandang Naspi relevan sebagai titik jeda untuk melakukan evaluasi diri sebelum memasuki fase ibadah yang lebih intensif di bulan Ramadhan.

Momentum ini, menurutnya, juga dapat dimanfaatkan untuk meneguhkan kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui peningkatan kualitas spiritual, umat Islam diharapkan mampu memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan membangun solidaritas sosial yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Naspi menegaskan bahwa aktualisasi ibadah ritual dalam momentum istimewa ini seharusnya bermuara pada pembentukan laku hidup yang positif dan berkeadaban. Ia mengaitkan hal tersebut dengan spirit Surah Al-‘Alaq yang menekankan pentingnya membaca dan pengetahuan sebagai fondasi pembebasan manusia.

“Spirit membaca yang dibingkai dengan iqra’ bismirabbik merupakan proses pembacaan realitas yang berlandaskan kesadaran ketuhanan, sehingga melahirkan masyarakat yang berpengetahuan,” katanya menandaskan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img