
GAYA komunikasi dan interaksi sosial seorang mukmin sejatinya telah digambarkan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an melalui apa yang disebut Tuhan sebagai profil ‘Ibadurrahman’. Allah Ta’ala berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan: ‘Salam.’” (QS. Al-Furqan: 63).
Ayat ini menghadirkan dua karakter utama dalam interaksi sosial Ibadurrahman: tawadhu dan al-hilm.
Pertama, tawadhu atau rendah hati. Dalam Tafsir Al-Munir, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan berjalan di atas bumi dengan rendah hati bukanlah berjalan dengan lemah, lunglai, atau dibuat-buat agar tampak saleh. Makna “memijak bumi dengan lembut” adalah metafora tentang kondisi batin yang tenang dan bersih dari kesombongan.
Allah juga mengingatkan dalam firman-Nya:
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).
Lembut di sini mencakup tiga dimensi. Pertama, tidak ada kesombongan. Ia tidak berjalan dengan dada membusung karena jabatan, harta, atau status sosial. Kedua, menghadirkan sakinah dan waqar, ketenangan dan kewibawaan.
Langkahnya terarah, tidak tergesa-gesa tanpa tujuan, tetapi juga tidak dibuat-buat lamban. Ketiga, kehadirannya tidak menjadi ancaman bagi lingkungan. Ia membawa rasa aman, bukan tekanan.
Konsep “tidak menginginkan ketinggian” yang disebutkan para mufassir merujuk pada larangan memiliki ambisi negatif untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Allah berfirman:
لْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًاۗ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qasas: 83).
Ini bukan larangan menjadi pemimpin. Islam tidak melarang jabatan atau kekuasaan. Yang dilarang adalah hasrat batin untuk diagungkan, dipuja, dan ditakuti. Jika kekuasaan datang, ia memandangnya sebagai amanah, bukan alat penindasan.
Menariknya, Rasulullah ﷺ justru digambarkan berjalan dengan penuh tenaga dan ketegasan, seakan-akan sedang turun dari tempat tinggi. Ini menunjukkan bahwa tawadhu tidak berarti lemah. Ia adalah perpaduan antara al-‘izzah dan at-tawadhu: berwibawa di hadapan manusia karena iman, dan tunduk sepenuhnya di hadapan Allah karena iman.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menegur seorang pemuda yang berjalan terlalu lunglai seolah-olah menunjukkan kesalehan. Umar bertanya apakah ia sakit. Ketika dijawab tidak, beliau memerintahkannya berjalan dengan kuat. Pesannya jelas: tawadhu ada di hati, sedangkan fisik tetap menunjukkan kekuatan dan harga diri.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ ( يعني : أقيمت ) فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ ، وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا ؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ ، فَهُوَ فِي صَلَاةٍ
“Kalau shalat akan ditunaikan (iqamah), maka jangan mendatanginya dalam kondisi tergesa-gesa. Datangilah sementara anda dalam kondisi tenang. Apa yang anda dapatkan, maka shalatlah dan apa yang anda lewatkan, sempurnakanlah. Karena salah satu diantara kamu semua jika sengaja ke tempat shalat, maka dia dalam shalat. (HR. Bukhari no. 636 dan Muslim no. 602).
Ketenangan adalah ciri mukmin. Bahkan dalam bergegas menuju ibadah, ia tetap menjaga sakinah.
Allah kembali menegaskan:
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلً
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia, sekuat apa pun, tetaplah kecil di hadapan ciptaan Allah.
Karakter kedua adalah al-hilm, kesantunan dan kemampuan menahan emosi. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Al-Furqan ayat 63 seperti dinukil di awal, bahwa:
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan ‘salam’”
Makna “qalu salama” bukan sekadar mengucapkan salam penghormatan, tetapi memilih ucapan yang menyelamatkan, menenangkan, atau bahkan melepaskan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat. Ini adalah cara elegan untuk tidak terjerumus dalam dosa lisan.
Allah juga berfirman:
وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya.” (QS. Al-Qashash: 55).
Sikap ini menuntut ketahanan mental. Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang seseorang yang membalas cacian dengan ucapan damai. Beliau menjelaskan bahwa ada malaikat yang membela orang yang sabar dan tidak membalas hinaan dengan hinaan (HR. Abu Dawud).
Demikian pula dalam ibadah puasa, Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berucap kotor dan janganlah bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah mentalitas Ibadurrahman. Mereka tidak membalas api dengan api. Mereka menjaga lisan bahkan ketika tertekan. Mereka memilih kedamaian daripada kemenangan sesaat.
Profil ini mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada kerasnya suara atau tingginya posisi, tetapi pada ketenangan jiwa dan kemuliaan akhlaknya. Tawadhu dalam sikap, izzah dalam prinsip, dan hilm dalam komunikasi.
Di tengah dunia yang kini mudah tersulut emosi, karakter Ibadurrahman adalah oase. Ia menenangkan ruang, menyejukkan percakapan, dan menghadirkan wibawa tanpa kesombongan.[]
*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan






