
MU’AWIYAH adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang mendapat amanah sebagai penulis Al-Qur’an. Namun ia bukan saja pribadi religius, tapi juga sosok Muslim yang cerdas dan visioner.
Terlepas dari sisi kontroversinya, kita tetap dapat mengambil pelajaran dari putra Abu Sofyan itu. Utamanya kala berbicara tentang kekuatan visi.
Ketika menjadi Gubernur Syam pada era Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra, Mua’wiyah memang sosok yang ingin menjadikan kekuatan Islam unggul dari Bizantium. Salah satu sisi lemah umat Islam di Syam kala itu adalah armada laut. Umat Islam belum mengenal soal laut apalagi angkatan laut.
Sadar akan posisinya yang harus mentaati Amirul Mukminin, Mu’awiyah mengkonsultasikan idenya itu dengan penuh semangat. Namun Umar bin Khattab ra memberikan pertimbangan berbeda. Al-Faruq itu khawatir umat Islam akan kalah, karena memang belum memiliki pengalaman perang di laut.
Singkat cerita, Umar wafat, kemudian masuk era kepemimpinan Utsman bin Affan ra. Sebagai sahabat Umar, Utsman tidak ingin mengambil kebijakan yang berbeda dengan Umar. Sahabat dan menantu Rasulullah SAW itu meminta Mu’awiyah menahan diri.
Mu’awiyah pun menaati dua pemimpinnya itu. Hingga tiba masa, ia menjadi pemimpin umat Islam sebagai khalifah, Mu’awiyah baru merealisasikan idenya itu, membangun armada laut. Ia bahkan sampai pada level mampu mengembangkan angkatan laut dengan mendirikan pabrik pembuatan kapal di Iskandariyah dan Akka (Maroko sekarang).
Sadar akan keterbatasan SDM, Mu’awiyah pun bergerilya merekut tenaga-tenaga terampil yang memahami seluk-beluk dunia maritim.
Melihat Masa Depan
Sekarang mari kita bedah, mengapa Mu’awiyah konsisten dengan ide dan visinya itu?
Pertama, jelas karena Mu’awiyah langsung head to head dengan peradaban lain, yaitu Bizantium. Mu’awiyah langsung merasakan hawa pertempuran jangka panjang. Ia berpikir kalau umat Islam kalah secara armada laut, maka pengembangan Islam ke wilayah lain akan terhambat.
Kedua, Mu’awiyah memandang bahwa demi dakwah yang lebih luas, maka langkah-langkah relevan pada masa itu mendesak untuk dilakukan. Ia tidak bisa menggunakan cara berpikir kala masih di Makkah atau Madinah dalam memandang kemajuan dakwah.
Ini memberikan ibrah kepada kita bahwa cara berpikir harus semakin progresif. Meski demikian sistem nilai dalam kepemimpinan Islam tetap kita junjung tinggi.
Kemajuan
Hasil dari visi Mu’awiyah akhirnya membuahkan kemenangan. Umat Islam bisa melakukan futuhan ke Mediterania, seperti Siprus, Arwad, hingga Rhodes. Kota-kota itu kemudian menjadi benteng pertahanan maritim umat Islam dalam menghadapi ancaman angkatan laut Bizantium.
Fakta sejarah ini penting menjadi inspirasi bagi kaum muda Islam hari ini untuk memiliki visi yang menjawab tantangan dakwah dan kemajuan umat.
Jangan takut memiliki visi, jangan lelah mengawal visi dan terus kobarkan semangat mewujudkannya. Jika Mu’awiyah bisa pada masanya, maka sebenarnya dengan izin Allah siapapun dari umat ini bisa untuk melakukannya. Hanya memang butuh kekuatan sistem kesadaran Islam pada dada dan pikirannya.*
Mas Imam Nawawi






