AdvertisementAdvertisement

Penugasan Alumni Ma’had Aly Ikhtiar Membangun Pemahaman Realitas dan Kasih Sayang Antargenerasi

Content Partner

MODEL lembaga pendidikan Islam di Indonesia saat ini sangat beragam. Salah satunya ma’had aly, sebuah model lembaga pendidikan Islam pasca tingkatan SMA dan berfokus pada ulumuddin. Adapun konsentrasi studi ulumuddin bisa berbeda antarma’had.

Sebagian ma’had berkonsentrasi pada satu cabang ulumuddin semisal pembelajaran Al-Qur’an, sebagian lainnya pada dua cabang ulumuddin, dan sebagian lainnya pada tiga cabang. Meskipun demikian masih langka ma’had yang berkonsentrasi pada tiga cabang ulumuddin, atau bahkan lebih.

Setelah lulus, biasanya alumni ma’had aly mendapat penugasan karya selama satu atau dua tahun. Penugasan ini bertujuan mengenalkan dan mengadaptasikan alumni ke kehidupan nyata masyarakat. Sehingga alumni benar-benar matang saat dilepas dari ma’had aly dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Biasanya penugasan karya ini tidak satu lokasi. Sebagian alumni ditugaskan di ma’had aly tersebut. Sebagian lainnya dipencar. Sejumlah pertimbangan dimiliki oleh pengelola ma’had aly dalam penyebaran lokasi penugasan alumni.

Permintaan masyarakat inilah satu pertimbangan utama penugasan alumni ma’had aly. Masyarakat yang dimaksud bisa pesantren, sekolah, ataupun masjid. Masyarakat membutuhkan tenaga pembina keagamaan. Di sisi lain masyarakat percaya terhadap kualitas alumni ma’had aly.

Ada satu catatan penting yang perlu digarisbawahi dari aktivitas penugasan karya ini: Menghubungkan alumni dengan masyarakat (bridging).

Bagaimanapun, selama belajar, alumni memiliki keterbatasan dalam mengenali dan memahami kehidupan nyata masyarakat. Sehingga saat meninggalkan ma’had aly dan mulai berinteraksi dengan masyarakat, alumni butuh dibimbing agar paham. Nah senior di tempat tugas alumni memiliki peranan penting dalam bridging ini.

Dalam teori pendidikan, dikenal zona perkembangan proksimal (ZPP) dari Vigotsky. ZPP memiliki pengertian ‘rentang antara apa yang dapat dilakukan seorang anak secara mandiri dengan apa yang dapat dilakukannya dengan bantuan orang dewasa, bisa juga teman sebaya’.

ZPP tidak hanya digunakan untuk anak saja dan tidak hanya dalam konteks pendidikan. ZPP juga digunakan dalam konteks kepemimpinan dan pengembangan sumber daya insani sebagaimana artikel yang ditulis Enno von Fircks berjudul Between Lewin and Vygotsky: Understanding Leader-Follower Interactions Through a Cultural Psychological Lens dalam buku Culture and Leadership.

Dengan ZPP, seorang pendidik atau pelatih dapat memperkirakan sejauh mana bantuan yang bisa diberikan kepada seseorang agar mencapai hasil maksimal, ketimbang seseorang itu dibiarkan sendiri. Agar terjadi percepatan. Sehingga capaian yang lebih tinggi bisa digapai.

Dalam konteks penugasan alumni, sangat baik jika senior di tempat tugas alumni memiliki pemahaman tentang ZPP. Sehingga alumni dapat dibantu sedemikian rupa untuk melakukan percepatan pemahaman terhadap kehidupan nyata masyarakat. Dengan demikian alumni dapat melakukan aksi-aksi yang sangat relevan dan efektif di masyarakat.

Membiarkan alumni untuk belajar sendiri bukan tindakan bijak. Dalih bahwa alumni sudah dewasa tetap tidak dibenarkan. Karena, sebagaimana telah disampaikan, alumni memiliki keterbatasan dalam memahami kehidupan nyata masyarakat. Beban studi di ma’had aly telah menyita hampir seluruh konsentrasi yang alumni punyai.

Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada ma’had aly untuk mengedukasikan ZPP kepada senior di tempat tugas alumninya. Agar alumninya tertangani dengan baik. Syukur jika ma’had aly memiliki standardisasi dalam penentuan tempat tugas. Misalkan ada senior yang menguasai teknik pembimbingan orang dewasa menuju perkembangan maksimalnya.

Apabila ini tidak dilakukan, maka alumni bisa mengalami banyak masalah di tempat tugas. Berawal dari kesulitan memahami situasi tempat tugasnya, alumni kesulitan beradaptasi. Berikutnya alumni tidak bisa mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya.

Parahnya kemudian senior di tempat tugas alumni menganggap alumni tidak kompeten. Konflik tiga pihak terjadi: Ma’had aly, alumni, dan tempat tugas.

Semoga dengan penjelasan ini, terjadi sinergi para pihak, terutama ma’had aly dengan tempat tugas. Tujuan utamanya satu, yakni alumni mengalami percepatan perkembangan. Apabila ini terjadi, efek dominonya bisa luas. Alumni bahagia dan kontribusinya kepada masyarakat bisa efektif.

Lebih jauh alumni akan mencatat penugasan sebagai satu aktivitas pendidikan yang bermakna dan perlu terus dilestarikan. Karena di penugasan, alumni mendapatkan uluran kasih sayang nyata dari senior. Sebuah mindset tertanam, senior itu pihak yang penuh kasih, bukan penindas.[]

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Silaturrahim Ramadhan di IMC Ketengahkan Ilmu Berlandas Iman Harus Lahirkan Tanggung Jawab Sosial

SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) -- Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah bersinergi dengan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar buka puasa bersama...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img