
MELETUSNYA perang Iran bukan semata soal politik dan militer Amerika Serikan-Israel. Lebih jauh ini juga menyentuh soal peradaban. Setidaknya karena dua alasan utama.
Pertama, Amerika baru saja menginisiasi dan meresmikan berdirinya satu badan perdamaian yang disebut Board of Peace dengan Donald Trump sebagai ketua.
Kedua, tindakan Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran berdampak cukup luas. Korban berjatuhan dari berbagai negara kawasan. Tentu ini fakta yang potensial menajdikan perang semakin meluas dan mengganas.
Fakta pertama, Amerika ternyata gagal berkomitmen dan konsisten dengan diksi perdamaian (peace). Wajar jika kemudian ada pihak yang menilai bahwa BOP secara faktual telah berubah menjadi Borad of War (BOW). Sebuah indikasi ada pihak yang menilai langkah Amerika menyerang Iran adalah bahaya besar bagi dunia.
Menyikapi situasi tersebut Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melayangkan surat ke berbagai media, termasuk Kompas untuk Indonesia segera mengambil tindakan jelas dan tegas, keluar dari BOP. MUI menilai langkah AS-Israel menyerang Iran melanggar hukum internasional dan bertentangan dengan konstitusi Indonesia.
Kemudian fakta kedua, memancing negara kawasan mau tidak mau ikut menyerang Iran, kalau senjata Iran juga menghujani wilayah mereka.
Laporan Kompas menyebutkan, “Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, mengecam serangan rudal Iran di wilayahnya. Doha memperingatkan, mereka berhak sepenuhnya menanggapi serangan ini. Sementara Jordania mendesak deeskalasi sembari memperingatkan akan membela kepentingan nasionalnya dengan segenap kekuatan.”
Dampak Bagi Peradaban
Secara politik, konflik Iran dengan negara-negara besar bukan sekadar urusan dua atau tiga negara yang saling berhadap-hadapan. Kondisi itu seperti bom yang dilempar ke tengah laut; riaknya menjalar ke mana-mana, mengubah peta, menggoyang arah angin, bahkan memaksa kapal-kapal besar dunia menyesuaikan layar.
Alhasil, negara-negara besar dipaksa memilih: berdiri di mana, bersama siapa, dan untuk kepentingan apa. Setiap pilihan melahirkan konsekuensi—mengubah kebijakan luar negeri, merombak hubungan diplomatik, hingga menyusun ulang aliansi yang selama ini dianggap mapan.
Konflik itu pun menjadi arena pertarungan ideologi dan kepentingan. Keseimbangan kekuatan yang sebelumnya stabil bisa bergeser. Ketegangan yang awalnya regional berpotensi meluas menjadi percikan konflik yang lebih besar. Maka, apa yang tampak sebagai konflik satu kawasan, sejatinya sedang membentuk ulang percaturan dunia.
Dan, lebih dari apapun, masyarakat sipil akan menjadi korban dari pertarungan berbagai kepentingan itu. Saat itu terjadi, maka semua ilmu akan runtuh, karena terkikis oleh ambisi menang dalam perang. Ketika itu terjadi, maka sebenarnya peradaban dunia sedang terkoyak dengan dahsyat.
Itu belum berbicara aspek yang paling dunia butuhkan, yaitu minyak. Selat Hormuz sebagai “Jantung Energi” yang sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini segera akan terganggu. Apalagi kalau penutupan atau gangguan di jalur ini terjadi lama, jelas itu akan mendatangkan akibat perang yang akan memicu guncangan energi global seketika.
Peradaban Nilai
Sekarang kita semua patut bertanya, apa dan siapa yang bisa menghentikan perang ini. Jawaban ringkasnya adalah kembalinya kesadaran setiap manusia, termasuk yang terlibat perang akan makna dan pentingnya menjaga peradaban dunia.
Akhirnya dunia terbuka kesadarannya bahwa kemajuan militer dan teknologi bisa membahayakan eksistensi peradaban di dunia. Orang sudah mengalami pergeseran pandangan bahwa peradaban tidak semata materi dan kemajuannya. Tetapi peradaban yang kita harapkan adalah ada tidaknya kapasitas nilai yang mampu menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan meredam hasrat satu bangsa untuk melukai, melemahkan apalagi mengenyahkan bangsa yang lain.
Kalau Indonesia ingin berperan pada konteks ini maka harus melihat celah. Indonesia mesti mampu memandang krisis ini sebagai katalis untuk refleksi kolektif tentang pentingnya diplomasi, penghormatan terhadap keragaman budaya, dan pembangunan sistem keamanan global yang lebih inklusif. Dan, Indonesia akan didengar seluruh dunia kalau bisa berdiri tegak secara netral, bebas aktif dan non blok. Inilah yang kita harapkan dari pemimpin Indonesia hari ini.[]
Mas Imam Nawawi






