
BERBICARA Ramadhan spektrumnya sangat luas. Namun dalam tulisan ini saya tarik ke satu titik fokus, yaitu bagaimana manusia memantapkan kualitas pribadi. Dalam psikologi, kualitas pribadi adalah tentang sekumpulan sifat batin, kebiasaan berpikir dan cara seseorang merespon kehidupan secara matang, bermakna dan bermanfaat.
Dalam tinjauan spiritual, Ramadhan adalah momentum membangun integritas (kesatuan antara nilai dan tindakan). Karena kualitas pribadi itulah yang menjadi unit terkecil pembentuk budaya. Jika individunya kokoh, masyarakatnya lebih mudah solid dalam kebaikan.
Dan, kalau kita cermati bagaimana sebuah peradaban lahir, tumbuh, kokoh, maka itu tidak lepas dari aspek integritas. Dari integritas lahir ilmu, institusi, ekonomi dan tata kelola hingga keamanan yang menunjang kehidupan manusia semakin baik dalam hal akhlak dan teknologi.
Lihat saja bagaimana Islam bisa menjelma sebagai peradaban yang agung, yang menyinari banyak negara di bumi ini, tidak lepas dari sosok Nabi Muhammad SAW yang tentu saja sangat-sangat berintegritas.
Integritas beliau SAW pun akhirnya menjadi standar moral, yang memimpin generasi awal. Kemudian dari fakta itulah tumbuh kepercayaan, disiplin kolektif dan keberanian membangun tatanan hidup berdasarkan Wahyu. Jadi tidak heran kalau semua sahabat Nabi memiliki sistem sosial yang saling menguatkan dalam kerja-kerja kolektif yang begitu kuat.
Secara konsep, kita bisa memahami dengan mudah bahwa peradaban bukan semata soal peristiwa, tapi perilaku dan sistem hidup manusianya yang cakap dalam menghasilkan makna, kekuatan dan keberlanjutan sejarah.
Oleh karena itu, terlepas dari pasang surutnya peradaban Islam, kalau kita merujuk sejarah awal Islam tumbuh dan berkembang, begitu banyak tersaji fakta tentang individu-individu yang memiliki karakter unggul, penuh dedikasi dan tentu saja punya komitmen tinggi terhadap nilai-nilai luhur.
Pembentukan Kualitas Diri dengan Budaya Iqra’ Bismirabbik
Jika kualitas pribadi adalah kematangan batin dan kebiasaan berpikir, maka kita perlu bertanya: apa yang paling efektif melatih cara berpikir? Salah satu jawabannya adalah budaya membaca. Membaca membuat kita bertemu gagasan, menguji emosi, dan menata pilihan—di situlah kualitas diri diasah.
Ust. Abdullah Said, sang pendiri gerakan dakwah Hidayatullah telah lama melakukan pencarian, perenungan dan pemikiran secara komprehensif tentang bagaimana bisa menjadi Muslim yang punya kekuatan tinggi dalam mengejawantahkan keimanan. Hingga akhirnya bertemu dengan Tafsir Sinar karya Buya Malik Ahmad dan terkesan dengan ayat pertama dalam Al-Qur’an, “Iqra’ Bismirabbik”.
Ia pun memandang bahwa perintah membaca itu adalah prinsip paling mendasar dalam Islam. Prinsip ini menegaskan bahwa membaca adalah perintah Allah yang wajib diwujudkan dalam aksi nyata, ilmu, serta membangun peradaban Islam.
Dalam kata yang lain, kalau kita tarik kesadaran Iqra’ Bismirabbik dalam konteks Ramadhan, maka sebenarnya umat Islam memang harus menjadikan aktivitas prinsip ini sebagai kebutuhan esensial. Setidak-tidaknya kita berupaya menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan membuat budaya membaca ini naik kelas. Sebab, membaca adalah asbab atau wasilah seseorang bisa menguatkan kualitas iman, akal dan amal.
Ust. Abdul Mannan, sebagai murid dan kader Ust. Abdullah Said adalah orang yang memberikan keteladanan baik dalam hal membaca. Ust. Jamaluddin Noor, juga sama. Ia bahkan pernah mengatakan kepadaku, saat aktif bekerja bakti, sebuah buku selalu diselipkan di balik pinggangnya. “Nanti istirahat, saya baca-baca, meski sudah lelah,” ucapnya. Demikian pula dengan Ust. Hamzah Akbar, sekarang menjadi Ketua Pembina Pesantren Hidayatullah Samarinda, setiap hari tak lepas dari kegiatan membaca.
Orang Berkualitas
Ketika kita coba matangkan dari sisi konsep, bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik meningkatkan kualitas diri, maka targetnya pun jelas, kita harus menjadi orang yang berkualitas.
Bagaimana orang yang berkualitas itu? Jelas adalah pribadi yang bertakwa. Bagaimana bertakwa itu? Dalam ayat ke-134 Surah Ali Imran dijelaskan bahwa salah satu kriteria bertakwa itu adalah orang yang tidak termakan amarah, mau memaafkan kesalahan orang.
Nah, dalam konteks ingin mengetahui kualitas pribadi, kita perlu melihat ke dalam. Apakah selama ini kita mampu meregulasi emosi. Apakah motif kita jernih. Apakah kita sadar betul kelebihan dan kelemahan diri.
Kalau mau menggunakan gaya bahasa Buya Hamka, apakah kita bisa memastikan bahwa akal lebih baik daripada hawa nafsu dalam menentukan keputusan tindakan.
Pangkal akal memang pahit, tapi ujungnya manis. Karena orang yang berakal akan memiliki sistem kontrol (kemampuan memikirkan akibat). Sedangkan pangkal hawa nafsu memang manis, tapi ujungnya pahit. Hal ini karena hawa nafsu membentuk sistem impuls, yang mana orang selalu ingin cepat, instan.
Dengan demikian, menata sisa hari Ramadhan berarti memperkuat latihan batin: menjaga integritas, menahan impuls, dan menumbuhkan kesadaran. Salah satu latihan yang paling nyata—dan sering kita lalaikan—adalah membaca, “Iqra’ bismirabbik”: membaca yang menautkan ilmu dengan iman, dan iman dengan amal. Ini akan terasa sangat penting kalau kita sadar akan visi “Membangun Peradaban Islam.*
Mas Imam Nawawi






