
DALAM tiga dekade terakhir, peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) telah bereskalasi menjadi isu sentral dan investasi strategis, baik di tingkat global maupun nasional. Untuk menjawab tantangan ketersediaan talenta yang kompeten, Indonesia telah membangun arsitektur pengembangan SDM yang terintegrasi
Program sederhana dengan membangun fasilitas dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pengangkatan guru honorer menjadi ASN, peningkatan gaji guru. Makan Bergizi Gratis (MBG) ceritanya juga dalam rangka peningkatan kualitas SDM anak bangsa.
Di setiap perusahaan membentuk Human Resources Development (HRD) atau Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) untuk mendapatkan SDM yang berkompeten. Berbagai kegiatan seperti training, pelatihan, upgrading dilakukan dengan mendatangkan pakar SDM internasional dan nasional.
Islam memiliki konsep yang sederhana tapi terjamin bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan diakui sebagai paling mulia yaitu taqwa. Allah menyampaikan dengan sangat jelas dengan firman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13).
Taqwa adalah puncak kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Ia bukan sekadar simbol ketakwaan lahiriah, tetapi cahaya yang menerangi hati dan membimbing setiap langkah dalam kehidupan
Derajat taqwa bukan diwariskan, bukan pula ditentukan oleh status duniawi, melainkan diperjuangkan. Namun, jalan menuju taqwa tidaklah mudah. Ia membutuhkan mujahadah, kesabaran, dan keikhlasan yang tak tergoyahkan. Salah satunya dengan jalan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan.
Taqwa di hadapan Allah adalah SDM terbaik apalagi di hadapan manusia. SDM yang bekerja dengan prinsip taqwa tidak akan bekerja “asal bapak senang” (ABS), sekadar memenuhi SOP atau bukan karena pengawasan CCTV. Ia akan memberikan performa terbaiknya karena ia tahu bahwa Allah mencintai hamba yang jika melakukan pekerjaan, ia melakukannya secara itqan (profesional/sempurna)
Pertanyaannya mengapa taqwa menjadi salah satu indikator SDM terbaik.
Pertama, bertaqwa memiliki kemampuan problem solving (Makhraja)
“… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Thalaq: 2)
Dalam dunia profesional, SDM berkualitas tinggi dinilai dari kemampuannya menyelesaikan masalah (pemecahan masalah) atas pertolongan Allah. Bukan lari dari masalah atau membuat masalah. Orang bertaqwa memiliki ketenangan batin yang memungkinkannya berpikir jernih saat krisis. Sebuah jalan keluar yang seringkali tidak terpikirkan oleh logika linear manusia. Ini adalah SDM yang transformatif, bukan sekadar administratif.
Kedua, bertaqwa mempunyai efisiensi rezeki dan sumber daya (Min Haitsu La Yahtasib)
“… dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq: 3)
SDM yang bertaqwa seringkali Allah memberikan kemudahan akses, kemitraan yang jujur, dan hasil yang melimpah meskipun dengan sumber daya terbatas. Inilah SDM yang mampu menghasilkan high impact dengan cara-cara yang tak terduga.
Ketiga, memiliki akselerasi dan kemudahan urusan (Yusra)
“… dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)
SDM berkualitas adalah mereka yang bekerja secara efektif dan efisien. Dalam ayat ini, Allah menjanjikan Yusra (kemudahan). Bagi SDM bertaqwa, hambatan birokrasi, teknis, maupun sosial tidak menjadi alasan. Mereka adalah SDM yang urusannya selalu tuntas dengan cepat bukan karena orang dalam, melainkan karena jalur langit yang mempermudah langkahnya.
Keempat, mempunyai akurasi kerja dan penghapusan kesalahan (Yukaffir ‘Anhu Sayyi’atihi)
“… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Thalaq: 5)
Manusia pasti salah, namun SDM yang bertaqwa memiliki mekanisme self-correction (taubat/muhasabah) yang sangat kuat. Kesalahan-kesalahan masa lalu ditutup dengan perbaikan performa yang luar biasa. Mereka tidak hanya bekerja untuk hari ini, tapi untuk nilai yang abadi. SDM bertaqwa bisa meminimalisir kesalahan.
Taqwa bukan sekadar tentang seberapa lama di atas sajadah, seberapa banyak memutar tasbih, seberapa lama di hadapan mushaf al-Qur’an, tapi seberapa profesional dan tangguh dalam menemukan jalan keluar di tengah kebuntuan dunia kerja dan menyelesaikan problematika keummatan.
Tujuan utama puasa Ramadhan adalah mendapatkan taqwa, bukan sekedar memperoleh baju taqwa, THR, parcel ataupun aksesioris duniawi. Taqwa sebagai sebuah karakter sehingga menjadi SDM yang unggul.
Ramadhan dihadirkan untuk upgrading dan update diri orang-orang beriman mencapai derajat taqwa.
Bagaimana puasa Ramadhan yang menghasilkan insan taqwa?
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah






