AdvertisementAdvertisement

Ramadhan Menjawab Kesulitan Ekonomi Masyarakat

Content Partner

SEBAGIAN orang mulai memikirkan dampak dari perang Iran yang tengah terjadi, terutama terhadap ekonomi global. Nama Selat Hormuz pun menjadi akrab dalam perbincangan warga. Jika jalur ini terganggu, distribusi minyak dunia ikut tersendat. Mata rantainya jelas: ancaman kenaikan harga BBM.

Tetapi fakta yang sebenarnya terjadi, jauh sebelum perang ini pecah, sudah banyak masyarakat Indonesia bekerja lebih dari 21 jam sehari dengan waktu kerja tujuh hari untuk kerja utama dan kerja tambahan.

Kompas mencatat setidaknya 22.849 pekerja kelas menengah harus menjalani dua pekerjaan sekaligus untuk menjaga kestabilan penghasilan keluarga.

Ada dosen, guru dan ASN yang rela melakukan kerja tambahan demi tambahan income. Satu dari data itu adalah Ayun (45) guru swasta di Jakarta Utara.

Ayun bekerja lebih dari 60 jam dalam sepekan, baik untuk mengajar maupun berjualan makanan. Ia mulai bekerja pada pukul 06.30 – 15.30, kemudian lanjut jualan makanan hingga pukul 22.00. Ini belum data pengangguran yang kita potret.

Artinya, bahkan dalam situasi normal pun banyak masyarakat sudah bekerja sangat keras hanya untuk menjaga dapur tetap menyala. Pada bulan Ramadhan umumnya belanja keluarga akan mengalami peningkatan. Masalahnya pemasukan tidak bertambah.

Dalam realitas seperti ini, pertanyaannya menjadi penting: bagaimana Ramadhan menjawab kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat?

Perkuat Sedekah

Namun secara makro, merujuk pada ajaran Islam, inilah saatnya kaum Muslimin—terutama yang ekonominya tidak terlalu terdampak keadaan—memperkuat semangat peduli kepada sesama melalui sedekah.

Setidak-tidaknya, segerakan untuk membayar zakat fitrah, karena semakin cepat kita lakukan, semakin banyak masyarakat yang terancam kelaparan bisa kita selamatkan. Hal ini karena zakat fitrah merupakan wujud dari konsep redistribusi ekonomi massal.

Di sisi lain, masjid dan lembaga amil zakat perlu turun memotret masalah ini, lalu menghadirkan langkah konkret sebagai tindak lanjut.

Mungkin terlihat sederhana berbagi takjil, bantuan sembako, santunan yatim dan dhuafa, atau bahkan buka puasa bersama. Tapi bagi keluarga yang terbatas secara ekonomi, itu adalah penyelamatan yang urgen.

Sisi lain, program yang kelihatan sederhana itu juga memberi jaminan terjaganya roda ekonomi masyarakat. Pedagang kecil tetap bisa jualan, dapur umum juga bisa berjalan.

Lebih jauh, anak-anak orang miskin tak kehilangan harapan selama Ramadhan. Kalau ini berhasil kita lakukan, maka umat Islam telah melakukan satu kebaikan besar, berupa empati yang menjadi kebijakan sosial tanpa perlu menunggu regulasi negara.

Oleh karena itu Islam mendorong kita untuk menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin. Dalam Ramadhan, siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.

Sebuah seruan bahwa sunnah dalam Ramadhan tak semata aktif ke masjid, tapi juga giat membantu kesulitan masyarakat. Sisi lain, Rasulullah SAW juga sangat ringan dalam sedekah, lebih ringan daripada angin yang berhembus.

Tentu itu riwayat dan keteladanan yang indah, tapi itu adalah sebuah haluan hidup yang umat Islam seharusnya mengambil sikap dan tindakan itu sebagai perilaku hari ini, terutama dalam Ramadhan.

Solidaritas

Dengan data yang semacam itu, maka Ramadhan mendidik kita untuk berekonomi secara benar. Ramadhan mendorong kita untuk memilih sikap dan tindakan nyata menerapkan ekonomi yang berdiri di atas kepedulian, kemanusiaan dan peradaban, bukan ekonomi yang berdiri di atas ego dan animus dominandi—hasrat untuk menguasai.

Oleh karena itu, Ramadhan juga harus bisa kita jadikan momentum menjawab penderitaan kolektif masyarakat. Segera menghitung zakat, bukan semata amal pribadi, karena begitu zakat kita tunaikan dampaknya akan memberi perlindungan dan jaring pengaman bagi ekonomi masyarakat dhuafa.

Jadi, Ramadhan bukan sekadar bulan menata hati, tetapi menjadikan hati sebagai basis kesadaran untuk peduli. Begitu manusia sadar, bergerak dan melakukan kebaikan atas basis hati, maka distribusi ekonomi pun ikut berubah.

Ramadhan mengajak kita berpikir dan memahami bahwa ada kalkulasi Tuhan yang akan bekerja, ketika kita tunduk dan taat kepada-Nya.[]

Mas Imam Nawawi

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Dzikir sebagai Nafas Hati

RAMADHAN selalu membuat hati bergetar. Bulan penuh rahmat, penuh ampunan, penuh kesempatan untuk kembali mendekat kepada Allah. Di bulan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img