
BANYAK orang merasa hidupnya berat. Bukan karena masalahnya selalu besar, tetapi karena cara menyikapinya yang belum tepat. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, yang pertama kali muncul adalah dorongan untuk menyalahkan—orang lain, keadaan, bahkan takdir. Padahal, tidak semua yang kita hadapi harus dilawan dari luar. Ada bagian yang justru harus kita periksa dari dalam.
Realitas kehidupan memang tidak selalu sejalan dengan keinginan. Kita akan bertemu dengan banyak hal yang berbeda, bahkan bertentangan dengan apa yang kita yakini. Di titik inilah banyak orang mulai lelah, kehilangan arah, lalu sibuk mencari siapa yang salah. Namun, semakin kita fokus pada kesalahan di luar diri, semakin kita kehilangan kendali atas diri sendiri.
Di sinilah pentingnya mengubah arah pandang. Bukan berarti kita menutup mata terhadap masalah, tetapi kita menempatkan diri sebagai pihak yang punya kendali untuk merespons. Sebab dalam banyak keadaan, yang menentukan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana kita menyikapinya.
Pasang Sikap Ini
Jangan buru-buru salahkan orang dan keadaan. Kita pasti akan bertemu dengan banyak hal dan bahkan ada yang berbeda, bahkan bertentangan.
Daripada sibuk mengutuk keadaan apalagi orang lain, langkah tepat kalau kita melihat ke dalam. Seperti mobil, kita cek, apakah bensin cukup, oli masih bagus dan sebagainya.
Begitu juga dalam hidup manusia, cek ke dalam. Apakah niat masih kuat, apakah tekad masih membaja. Kalau jawabannya yes, tugas kita satu: “Gas Kebaikan”.
Sebelum Bereaksi
Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan satu prinsip penting dalam menjalani hidup: refleksi diri sebelum reaksi.
Seperti kendaraan yang tidak akan bisa berjalan jauh tanpa perawatan, manusia pun tidak akan mampu melangkah dengan baik tanpa evaluasi diri yang jujur.
Masalahnya, banyak orang ingin hasil yang baik tanpa mau memastikan “mesin dirinya” dalam kondisi prima. Niat mulai melemah, tapi tidak disadari. Tekad mulai goyah, tapi tidak diperbaiki. Akhirnya, ketika hidup terasa berat, yang disalahkan selalu keadaan, bukan kesiapan diri.
Padahal, ketika seseorang berani melihat ke dalam, ia akan menemukan banyak hal yang bisa diperbaiki. Dari situ lahir energi baru. Dari situ muncul kembali semangat untuk melangkah. Dan dari situ pula, kebaikan menjadi sesuatu yang bisa terus digerakkan, bukan sekadar diinginkan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit masalah, tetapi siapa yang paling siap menghadapinya. Dan kesiapan itu tidak lahir dari luar, tetapi dari dalam diri yang terus dirawat, diperbaiki, dan diarahkan.
Maka jika hari ini terasa berat, mungkin bukan karena hidup terlalu keras. Bisa jadi karena kita belum sempat berhenti sejenak untuk mengecek diri sendiri.
Jika niat masih kuat dan tekad masih membaja, maka tidak ada alasan untuk berhenti.
Saatnya kita gas kebaikan!
Mas Imam Nawawi






