
ACEH (Hidayatullah.or.id) — Relawan kemanusiaan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyasar kedai dan warung milik warga di Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk dibersihkan agar dapat segera difungsikan kembali sebagai ruang usaha.
Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025. Dengan mengaktifkan kembali aktivitas jual beli di tingkat lokal, relawan berharap roda ekonomi warga dapat berputar secara bertahap.
Fokus utama aksi kali ini diarahkan pada fasilitas usaha kecil milik warga yang terdampak endapan lumpur dan sisa material banjir, khususnya kedai dan warung yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.
Berbeda dari tahap awal tanggap darurat yang menitikberatkan pada evakuasi dan bantuan kebutuhan dasar, fase pemulihan saat ini diarahkan pada penguatan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Relawan menilai bahwa keberfungsian warung dan kedai memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai tempat usaha, tetapi juga sebagai pusat interaksi warga di tingkat gampong.
Aksi pembersihan dipimpin oleh Nur Huda Ramadihan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian panjang pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang. Menurutnya, hingga awal Januari 2026, proses rehabilitasi masih terus berjalan di berbagai sektor, meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala di lapangan.
“Pemulihan pascabanjir bandang November 2025 masih terus dilakukan. Fokusnya tidak hanya pada pembersihan rumah warga, tetapi juga fasilitas publik seperti sekolah, layanan trauma healing bagi anak-anak, pembangunan hunian sementara, serta pemulihan layanan dasar seperti air bersih, listrik, dan kesehatan,” ujar Nur Huda dalam laporan lapangannya kepada media ini, Selasa, 15 Rajab 1447 (6/1/2025).
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan relawan tidak berdiri sendiri. Upaya pemulihan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah daerah, relawan lintas organisasi, serta unsur swasta. Sinergi tersebut diarahkan untuk membersihkan lumpur yang masih menutupi sejumlah kawasan, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan memulihkan fungsi layanan publik yang sempat terhenti.
Dalam keterangannya, Nur Huda juga mengungkapkan bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar. Beberapa wilayah di Aceh Tamiang belum dapat diakses secara optimal akibat lumpur tebal dan kerusakan jembatan. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi bantuan serta mobilitas warga yang hendak kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Masih ada wilayah yang sulit dijangkau karena lumpur tebal dan jembatan yang rusak. Puluhan sekolah belum dapat beroperasi normal, dan sebagian warga masih mengandalkan penerangan bohlam kecil karena listrik belum sepenuhnya pulih,” katanya.

Pembersihan kedai dan warung, jelas Nur Huda, sebagai langkah praktis yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan lingkungan usaha yang kembali bersih dan layak, warga memiliki kesempatan untuk memulai kembali aktivitas ekonomi, meskipun dalam skala terbatas. Relawan membantu membersihkan lantai, peralatan, serta area sekitar warung agar aman dan higienis untuk digunakan.
Nur Huda menegaskan harapannya agar aksi-aksi serupa dapat terus berlanjut. Ia menyadari bahwa kapasitas relawan memiliki keterbatasan, namun pendampingan tetap diupayakan secara konsisten agar warga tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi dampak pascabencana.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berjalan. Dengan segala keterbatasan yang ada, relawan berupaya tetap mendampingi masyarakat agar perlahan bisa bangkit dan kembali beraktivitas,” ujarnya.
Di tengah kerusakan infrastruktur dan keterbatasan layanan dasar, pengaktifan kembali ruang-ruang ekonomi lokal diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi masyarakat untuk menata ulang kehidupan pascabencana secara bertahap dan berkelanjutan.






