
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah, KH. Abdul Latif Usman, menyampaikan seruan dakwah fardiyah kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Benjamin Netanyahu, Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping.
Dalam taushiyahnya, ia meminta agar kekerasan, agresi militer, dan ancaman perang dihentikan, termasuk terhadap Palestina, Iran, Ukraina, Hong Kong, dan Taiwan. Ia mengingatkan bahwa perang tidak membawa kemaslahatan, melainkan kerugian besar, penderitaan, dan kematian massal.
Hal itu disampaikan KH. Abdul Latif Usman dalam acara Tarhib Ramadhan yang digelar di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah, Teritip, Balikpapan, pada Rabu, 9 Syaban 1447(28/1/2026). Seperti diketahui, geopolitik global saat ini tengah diuji dengan kekhawatiran akan meletusnya perang dunia ke-III
KH. Abdul Latif Usman juga menyampaikan seruan terbuka kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres. Ia meminta agar diplomasi internasional dijalankan dengan ketegasan terhadap negara-negara besar yang dinilai melanggar hukum internasional. Pernyataan tersebut ia sampaikan sejalan dengan apresiasinya terhadap peringatan Guterres tentang terkikisnya tatanan dunia ketika supremasi hukum digantikan oleh kekuatan sepihak.
Ia juga menyebut besarnya biaya perang Rusia–Ukraina selama tiga tahun pertama, yang menurutnya mencapai hampir 300 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp4.973,41 triliun, sebagai contoh kerugian akibat mengabaikan petunjuk Ilahi. Ia mengaitkan hal tersebut dengan makna Surah Al-Baqarah ayat 185 tentang Al-Qur’an sebagai hudal lin-nas, petunjuk bagi seluruh manusia, serta al-furqan sebagai pembeda antara yang hak dan batil dalam kehidupan global.
Dalam taushiyah tersebut, ia menempatkan kesiapan spiritual menyambut Ramadhan dalam konteks situasi global yang sedang bergejolak dan mengarah pada eskalasi konflik bersenjata di berbagai kawasan dunia.
Ia mengaitkan momentum Ramadhan dengan tanggung jawab moral para pemimpin dunia. Ia menyebut peran regional Asia Tenggara dengan menyinggung Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang mengemban amanah kepemimpinan di kawasan ASEAN, serta mengajak agar Ramadhan menjadi ruang kebersamaan lintas negara. Dalam konteks tersebut, ia juga mengundang masyarakat Malaysia untuk merasakan suasana ibadah Ramadhan di lingkungan pesantren Hidayatullah.
KH. Abdul Latif Usman menyampaikan taushiyahnya dengan membacakan Surah Al-Baqarah ayat 1–2 yang menegaskan Al-Qur’an sebagai petunjuk tanpa keraguan, dilanjutkan dengan penggalan Surah Al-Baqarah ayat 185 tentang Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dari ayat-ayat tersebut, ia menekankan pentingnya keyakinan penuh terhadap wahyu Ilahi sebagai pedoman hidup manusia, baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun dalam tata kelola dunia.
Ia menyampaikan bahwa di tengah kecenderungan dunia yang semakin menjauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan, Al-Qur’an tetap hadir sebagai rujukan moral yang tidak berubah.
“Kiranya kita diberi hati yang tidak meragukan Al-Qur’an. Kita harus yakin bahwa Al-Qur’an tidak ada keraguan di dalamnya, inilah petunjuk yang sangat orisinal dari Pencipta alam dan Pencipta manusia,” ujarnya.
Dalam taushiyah yang sama, KH. Abdul Latif Usman juga memanjatkan doa untuk Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Ia berharap kepemimpinan nasional dijalankan dengan keadilan dan keberpihakan pada kesejahteraan rakyat, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak Indonesia.
Ia menyampaikan harapan agar kepemimpinan nasional melahirkan generasi yang shaleh dan kuat secara moral, serta mendoakan agar Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Menutup taushiyahnya, KH. Abdul Latif Usman mengajak umat Islam memperkuat dakwah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rahmat bagi semesta. Ia menyerukan penguatan Gerakan Nawafil Hidayatullah sebagai wujud ibadah dan amal sosial, seraya menegaskan bahwa seruan perdamaian tersebut merupakan bagian dari kewajiban dakwah fardiyah di tengah dunia yang berada di ambang konflik berskala luas.
“Demikian surat terbuka luapan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Kami sudah melakukan kewajiban dakwah fardiyah, kita sama-sama menjaga perdamaian,” katanya.






