
ACEH (Hidayatullah.or.id) — Ustadz Maimun, imam masjid di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, harus bertahan selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum di atas plafon rumahnya.
Ia menjebol plafon demi menyelamatkan diri setelah banjir bandang tiba-tiba merendam kawasan permukiman. Kisah tersebut menjadi gambaran nyata kerasnya dampak bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah timur Provinsi Aceh dan meninggalkan trauma mendalam bagi para penyintas.
Peristiwa itu terungkap dalam rangkaian kegiatan pemulihan pascabanjir bandang yang dilakukan secara kolaboratif oleh Tim Siaga Bencana Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Aksi kemanusiaan tersebut dilaksanakan secara bertahap sebagai bagian dari upaya recovery sosial dan lingkungan di wilayah terdampak.
Pada Ahad, 8 Rajab 1447 (28/12/2025), tim gabungan melanjutkan kegiatan bersih-bersih lingkungan di Desa Banai setelah sebelumnya melakukan pembersihan fasilitas pendidikan.
Sejumlah rumah warga menjadi sasaran kerja bakti, termasuk rumah Maimun yang masih berdiri di tengah kerusakan parah rumah-rumah di sekitarnya. Lumpur tebal yang mengendap di lantai dan perabot menjadi penanda kuat terjangan banjir bandang yang melampaui kapasitas sungai.
Tanggung Jawab Kemanusiaan
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid, memimpin langsung kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa gerakan gotong royong ini merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan untuk memulihkan kondisi masyarakat pascabencana banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Berdasarkan data terkini geoportal data bencana di laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kabupaten Aceh Tamiang tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat dampak paling berat, selain Aceh Utara yang berada pada kategori tertinggi. Kondisi geografis Aceh Tamiang yang dilalui sungai-sungai besar, seperti Sungai Tamiang, turut memengaruhi besarnya risiko banjir ketika curah hujan ekstrem terjadi secara beruntun.
Aceh Tamiang sendiri dikenal sebagai wilayah paling timur Provinsi Aceh yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam berupa minyak, gas, dan perkebunan kelapa sawit, sekaligus menjadi jalur strategis yang sering disebut sebagai gerbang timur Aceh. Namun, potensi tersebut beriringan dengan kerentanan bencana hidrometeorologi akibat kondisi alamnya.
Dalam kegiatan pemulihan, tim relawan tidak hanya membersihkan rumah warga, tetapi juga memusatkan perhatian pada rumah ibadah. Lantai masjid dibersihkan dari endapan lumpur, sementara sajadah yang terendam banjir dicuci meski sebagian sudah tidak layak pakai. Langkah ini dilakukan agar masjid tetap dapat difungsikan sebagai pusat ibadah dan penguatan spiritual warga.
Rumah Warga Hanyut

Harun Rasyid menuturkan bahwa rumah Maimun masih berdiri utuh, namun rumah-rumah warga di sisi kiri dan kanan telah hancur rata dengan tanah dan hanyut terbawa arus, menyisakan pondasi bangunan.
Dalam situasi itulah Maimun bertahan di atas plafon selama berhari-hari, menunggu air surut dan pertolongan datang. Kisah tersebut menjadi simbol ketabahan dan ikhtiar bertahan hidup di tengah keterbatasan ekstrem.
Menurut Harun, kehadiran relawan di masa pemulihan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan fisik masyarakat terdampak, tetapi juga memberikan penguatan moral. Spirit keislaman diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, sementara nilai keindonesiaan tercermin dalam gotong royong lintas elemen masyarakat yang bahu-membahu membantu penyintas.
Ia menegaskan bahwa program recovery diupayakan dapat berjalan secara berkelanjutan, dengan menyesuaikan ketersediaan logistik dan dukungan dari masyarakat luas. Keberlanjutan tersebut sangat bergantung pada sinergi antara lembaga kemanusiaan, komunitas lokal, dan para donatur yang mempercayakan amanahnya.
Dukungan Laznas BMH
Dalam kesempatan itu, Harun juga menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH yang telah memberikan dukungan nyata dalam pelaksanaan program pemulihan. Dukungan tersebut dinilai memperkuat daya jangkau bantuan sekaligus memastikan proses recovery berjalan lebih terstruktur.
Di tengah situasi darurat yang masih menyisakan ketidakpastian, kehadiran relawan menjadi ruang empati bagi warga terdampak. Interaksi sederhana, kerja bersama membersihkan lumpur, dan perhatian terhadap rumah ibadah menghadirkan kembali rasa kebersamaan.
“Dari situ, harapan untuk bangkit perlahan tumbuh, seiring keyakinan bahwa ujian bencana dapat dihadapi dengan kesabaran, doa, dan solidaritas,” kata Harun dalam keterangannya.
Harun mengajak masyarakat untuk terus mendoakan agar ikhtiar kebaikan ini dapat berjalan konsisten selama masa pemulihan. Ia berharap, setiap langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi jalan keberkahan dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat pascabencana.






