AdvertisementAdvertisement

Ust H Suharsono Darbi Tekankan Peran Kader sebagai Juru Bicara Peradaban

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemikir muslim kontemporer Ust. H. Suharsono Darbi mengemukakan bahwa internalisasi peradaban tidak berhenti pada pemahaman konsep semata, tetapi harus menyentuh kesadaran nilai serta arah perjuangan kader dalam membangun peradaban Islam.

Penegasan tersebut disampaikan dia dalam kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa, 14 Ramadan 1447 (3/3/2026), yang dihadiri para pengurus dari berbagai tingkatan dan staf.

Suharsono menegaskan pembangunan peradaban sebagai proses yang tidak hanya bertumpu pada pelaksanaan program organisasi, melainkan pada kekuatan gagasan yang mampu dijelaskan secara rasional dan dipertanggungjawabkan di ruang publik. Ia menyampaikan bahwa setiap kader perlu memahami posisi strategisnya sebagai pengemban ide dan nilai yang memiliki daya jelaskan terhadap dinamika masyarakat modern.

“Menjadi Juru Bicara Peradaban memerlukan dua hal sekaligus sebagai syarat utama. Pertama, kemampuan untuk melakukan internalisasi apa itu peradaban. Kedua, memiliki kapasitas untuk mengartikulasikannya,” ujar Suharsono.

Ia menjelaskan bahwa internalisasi yang dimaksud bukan sekadar penguasaan terminologi atau teori, melainkan proses pembentukan kesadaran mendalam terhadap nilai yang diperjuangkan. Menurutnya, tanpa kesadaran nilai tersebut, gagasan peradaban berpotensi berhenti sebagai slogan yang tidak memiliki daya transformasi sosial.

Dalam pemaparannya, Suharsono Darbi menekankan bahwa tahap berikutnya setelah internalisasi adalah kemampuan artikulasi gagasan secara sistematis. Ia menyebut artikulasi sebagai instrumen penting agar narasi peradaban dapat diterima dalam diskursus publik yang lebih luas.

“Artikulasi itu harus bisa masuk ke dalam model common platform yang memadai sebagai model argumentasi. Dengan begitu narasi peradaban Hidayatullah akan memiliki determinasi yang jelas,” tegasnya.

Menurutnya, keberadaan common platform menjadi kebutuhan strategis agar gagasan yang dibangun memiliki kerangka argumentatif yang dapat diuji secara akademik maupun sosial. Ia menambahkan bahwa kematangan kerangka berpikir kolektif akan menentukan kekuatan nilai yang diusung organisasi.

“Karena itu nanti akan berdampak pada superioritas nilai,” lanjutnya, sembari menegaskan bahwa kekuatan ide tidak lahir secara spontan, tetapi melalui proses konsolidasi pemikiran yang berkelanjutan.

Sebagai langkah konkret, Suharsono Darbi mendorong peningkatan kapasitas komunikasi kader, baik dalam penyampaian lisan maupun tulisan. Ia menilai kemampuan argumentasi menjadi prasyarat utama bagi kader untuk menghadirkan gagasan peradaban secara efektif di tengah masyarakat.

“Langkah memperbaikinya pun jelas, asah terus kemampuan argumentasi baik secara lisan maupun tulisan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keberanian kader membawa gagasan peradaban ke ruang-ruang strategis, khususnya lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus merupakan ruang pertemuan berbagai gagasan dan tempat bertumbuhnya calon pemimpin masa depan bangsa.

“Kalau itu bisa dimiliki oleh segenap kader terutama Juru Bicara Peradaban, maka keberanian untuk ‘menjual’ gagasan peradaban ke kampus-kampus bisa segera dimulai. Kita tahu di kampus-kampus negeri itulah bibit-bibit pemimpin masa depan berhimpun,” tuturnya.

Pada bagian penutup, Suharsono Darbi mengingatkan bahwa peran Juru Bicara Peradaban bukan sekadar simbol organisasi, tetapi amanah intelektual dan moral yang menuntut kesiapan pribadi kader secara utuh.

“Kuatkan peran Juru Bicara Peradaban, karena tugas ini sangat mulia. Dan, mulailah segera. Karena tugas ini bukan sekadar jargon,” pungkasnya.

Reporter: Herim Achmad
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Menghindarkan Kecelakaan dengan  Mengejar Ampunan

SUATU ketika, saat Rasulullah menaiki mimbar, beliau berucap "Amin" sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya-tanya penasaran, dan beliau menjelaskan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img