
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Memasuki bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari, persiapan menjadi hal yang sangat penting untuk meraih keberkahan maksimal.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., menegaskan bahwa niat yang tulus akan mengarahkan seseorang pada ibadah yang khusyuk, tekad yang kuat akan menuntun kepada konsistensi dalam beribadah, dan fisik yang prima akan mendukung pelaksanaan ibadah secara optimal.
“Bekal penting menghadapi Ramadhan adalah niat, tekad, dan fisik,” katanya saat menyampaikan tausiyah dalam acara Tarhib Ramadhan bertajuk “Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa” di Masjid Baitul Karim, Komplek Wisma dan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jatinegara, pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22 Februari 2025).
Sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadhan memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mendapatkan kebaikan yang terus mengalir.
“Bulan Ramadhan adalah bulan keberkahan yakni kebaikan yang terus menerus mengalir tanpa henti,” katanya. Keberkahan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun intelektual. Oleh karena itu, penting untuk memahami esensi dari keberkahan ini dengan persiapan yang matang.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan, kenapa Ramadhan disebut bulan barokah karena ada berbagai keutamaan di dalamnya. Keutamaan tersebut meliputi peluang dikabulkannya doa, pahala ibadah yang dilipatgandakan, serta kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
“Doa itu diterima jika orang berusaha meninggalkan dosa dan banyak berdoa. Kita maksimalkan melakukan itu di bulan Ramadhan,” katanya. Oleh karena itu, lanjutnya, bulan ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak istighfar, taubat, serta memohon ampunan kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
Dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, keikhlasan menjadi faktor utama. KH. Nashirul Haq mengingatkan bahwa lawan ikhlas adalah riya’ dan syirik.
“Kalau kita beribadah tapi kurang ikhlas itu namanya menyelingkuhi Allah. Wa maa umiruu illaa liya’budullaaha mukhliṣiina lahud-diina ḥunafaa`a,” imbuhnya, menekankan ibadah yang tidak didasari keikhlasan akan kehilangan esensi spiritualnya, sehingga harus dijauhkan dari sifat riya’ atau keinginan pamer.
Kesimbangan Ibadah Ritual dan Sosial
Lebih jauh Nashirul menjelaskan, Ramadhan juga mengajarkan keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial.
Dakwah dan aksi sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menjalani bulan Ramadhan, karena Islam tidak hanya mengajarkan ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga kepedulian terhadap sesama.
“Ramadhan itu mengajarkan keseimbangan ibadah sosial dan ibadah ritual. Jangan meninggalkan tugas-tugas sosial, bahkan para dai harus menghidupkan dakwah,” ujarnya.
Persiapan menyambut Ramadhan tidak hanya sekadar niat, tetapi juga perencanaan matang. Dengan perencanaan yang baik, kita dapat menjalani Ramadhan secara optimal, baik dari segi ibadah, pemahaman Al-Qur’an, maupun kontribusi sosial.
“Menjalani Ramadhan perlu perencanaan yang dibarengi dengan tekad yang kuat, target-target yang maksimal, dan terus meneguhkan tugas-tugas keumatan. Tekad ini harus dibiasakan sejak kecil dengan motivasi yang kuat dari orangtua atau pendidik tak terkecuali di lingkungan pendidikan Hidayatullah,” katanya.
Salah satu aspek penting dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak tadabbur Al-Qur’an. Dia menekankan, tadabbur tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami, merenungi, serta mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus berusaha mentadabburi Al-Qur’an,” tegasnya, seraya mengimbuhkan keberhasilan dalam menjalani Ramadhan dengan baik memerlukan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh.
Dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut, KH. Nashirul Haq menukil pepatah Arab yang artinya, “Kalau jiwa sudah punya obsesi yang kuat, maka fisik jasmani akan berlelah-lelah untuk mewujudkannya.”
Beliau juga memberikan panduan tentang bagaimana mewujudkan persiapan optimal dalam menyambut Ramadhan melalui empat konsep utama. Pertama Mu’ahadah (komitmen), yakni memperbarui janji kepada Allah untuk menjalani Ramadhan dengan penuh kesungguhan.
Kedua, mujahadah (kesungguhan usaha), yakni bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah dan menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi pahala Ramadhan.
Ketiga, muroqabah (evaluasi), yakni mengintrospeksi diri dalam menjalani ibadah agar tetap berada di jalur yang benar. Dan, Keempat, muaqobah (menghukum diri), artinya memberikan konsekuensi bagi diri sendiri jika lalai dalam menjalankan ibadah. (ybh/hidayatullah.or.id)