AdvertisementAdvertisement

Seni, Budaya, dan Olahraga Jalan Baru Menyapa Generasi Hidayatullah Masa Kini

Content Partner

KELAHIRAN Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) di struktur baru Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah merupakan langkah strategis yang menandai kesadaran baru dalam organisasi dakwah dan pendidikan Islam modern.

Langkah ini bukan hanya soal penambahan unit kerja, melainkan pembukaan ruang kreatif dan dialog bagi generasi muda yang kini hidup di tengah arus deras digitalisasi, hiburan massal, dan transformasi sosial yang cepat.

Dalam hemat saya, keberadaan departemen baru ini adalah terobosan penting. Hidayatullah, yang dikenal dengan basis dakwah dan kaderisasinya yang kuat, kini menegaskan bahwa seni, budaya, dan olahraga adalah bagian integral dari dakwah dan pembinaan umat.

Tiga ranah ini, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi medium penyadaran dan penguatan identitas keislaman di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi nilai dan gaya hidupnya.

Namun, di antara tiga sektor itu, budaya menempati posisi yang paling fundamental. Sebab budaya bukan sekadar ekspresi, melainkan cara hidup. Ia memuat nilai-nilai, kebiasaan, dan sistem makna yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam Islam, budaya (ats-tsaqafah) bukanlah wilayah sekuler yang netral, melainkan wadah spiritualitas, sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir Muslim klasik seperti Ibn Khaldun, bahwa peradaban adalah hasil dari jiwa dan nilai yang hidup dalam diri manusia.

Ruh yang Hidup dalam Kebiasaan

Sejak berdirinya pada 1973 di Gunung Tembak, Balikpapan, Hidayatullah telah membangun budaya organisasi yang khas. Dari sekian banyak kultur itu, tiga di antaranya patut dicatat sebagai identitas yang bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol nilai-nilai terdalam dari visi perjuangan.

Pertama, imbauan 30 menit sebelum waktu shalat melalui pengeras suara masjid atau biasa kita sebut “sholah-sholah”. Praktik sederhana ini memiliki makna yang kuat. Ia menumbuhkan kesadaran waktu, kedisiplinan spiritual, dan suasana batin yang senantiasa terikat pada Allah.

Dalam masyarakat modern yang cenderung terburu-buru, kebiasaan ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak semata soal efisiensi, melainkan juga ritme ruhani. Islam memang menempatkan waktu sebagai unsur moral, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-‘Ashr: “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian…” Imbauan tersebut adalah bentuk pendidikan batin yang menanamkan kesadaran akan nilai waktu dalam bingkai ibadah.

Kedua, wirid berjamaah pagi, sore, dan petang. Tradisi dzikir kolektif ini adalah upaya melestarikan spiritualitas yang aktif dan sosial. Dzikir tidak hanya bermakna mengingat Allah secara personal, tetapi juga mengikat batin antaranggota jamaah dalam satu irama ruhani.

Dalam salah satu sabda Nabi, kebersamaan dalam majelis dzikir seperti ini menjadi tempat turunnya ketenangan dan rahmat. Budaya ini membentuk habitus kolektif yang menjaga atmosfer spiritual kampus Hidayatullah dari rutinitas kosong.

Ketiga, menebarkan salam “Assalamu ‘alaikum” di lingkungan kampus. Sekilas tampak ringan, namun budaya salam adalah bentuk dakwah yang paling mendasar dan efektif. Rasulullah SAW menegaskan, “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Salam adalah simbol penghormatan, kasih sayang, dan kedamaian. Dalam tradisi Hidayatullah, ucapan salam menjadi wujud konkret persaudaraan, kesetaraan, dan pengakuan eksistensi antaranggota dan kaum muslimin. Budaya ini memperhalus suasana sosial, menumbuhkan empati, dan meneguhkan ikatan spiritual di tengah kehidupan modern yang individualistik.

Ketiga kebiasaan ini bukan hanya tradisi internal, melainkan warisan nilai Islam yang kontekstual. Mereka adalah bentuk “budaya yang menghidupkan” – budaya yang menumbuhkan kepekaan ruhani dan kebersamaan sosial. Bila tradisi semacam ini pudar, yang hilang bukan sekadar kebiasaan, melainkan ruh dari sistem pembinaan itu sendiri.

Budaya dan Tantangan Zaman

Di era digital yang penuh distraksi, budaya acapkali direduksi menjadi sekadar hiburan dan gaya hidup instan. Padahal dalam pandangan Islam, budaya adalah wasilah peradaban, medium membumikan nilai ilahiah dalam ruang sosial manusia. Inilah tantangan yang kini dihadapi oleh organisasi keislaman seperti Hidayatullah.

Pembentukan Departemen Seni, Budaya, dan Olahraga adalah respons terhadap tantangan itu. Dalam ruang budaya, Hidayatullah dapat mengembangkan ekspresi seni Islam yang beradab, pola olahraga yang menumbuhkan etos jihad dan disiplin, serta pelestarian tradisi luhur yang telah menjadi identitas. Seni dapat menjadi bahasa dakwah yang lembut, budaya menjadi konteks nilai, dan olahraga menjadi wadah pembentukan karakter.

Namun demikian, kunci keberhasilan bukan pada banyaknya program, melainkan pada kemampuan menjaga nilai. Dalam kerangka gerakan Hidayatullah, budaya tidak boleh tercerabut dari akar tauhid. Semua ekspresi seni, aktivitas budaya, dan ajang olahraga harus berporos pada nilai ilahiah, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Menjaga Ruh, Menyapa Generasi

Refleksi atas tiga budaya khas Hidayatullah ini menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar aktivitas, melainkan energi keberimanan. Tradisi ini perlu terus dihidupkan dan dikontekstualisasikan agar mampu menjawab tantangan generasi kini tanpa kehilangan ruhnya.

Departemen SBO menjadi wadah yang tepat untuk merawat nilai-nilai tersebut dalam bentuk baru yang kreatif dan komunikatif. Seni bisa menjadi jembatan antar generasi; budaya bisa menjadi sarana pendidikan karakter; olahraga bisa membentuk ketahanan fisik dan mental kader dakwah.

Ketika budaya dipelihara dalam ruh tauhid, maka seni menjadi ibadah, olahraga menjadi jihad, dan kehidupan sehari-hari menjadi dakwah. Inilah makna terdalam dari visi kultural Islam yang ingin dihidupkan kembali oleh Hidayatullah, bahwa budaya sejati bukan hanya yang indah di mata, tetapi yang menenangkan hati dan menghidupkan iman.

*) Deden Sugianto Darwin, penulis adalah Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Sambut Ramadhan, Dana Umat Hadirkan Air Bersih untuk Santri dan Warga Cimanggu

BANDUNG BARAT (Hidayatullah.or.id) -- Menjelang Ramadhan 1447 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) rampungkan program pipanisasi...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img