
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘Dan (saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Terjemah Q.S. Al-Baqarah: 124)
Ayat ini memiliki beberapa pelajaran. Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sosok yang lolos ujian. Kedua, Allah subhanahu wa ta’ala mengapresiasinya dengan mengangkatnya sebagai pemimpin manusia. Ketiga, ada kepedulian dalam dirinya agar keturunannya diangkat sebagai pemimpin juga.
Keempat, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa anak keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkemungkinan menjadi pemimpin manusia juga terkecuali mereka bertabiat zhalim. Maka di lima ayat berikutnya terekam doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, semoga anak keturunannya terus mendapatkan penjagaan dan bimbingan.
Kelima, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki kepekaan tinggi tentang kaderisasi. Kepekaan ini kemudian memandu keturunannya menjadi orang-orang terpilih, nabi dan juga rasul. Wajar jika gelar “abul anbiya (bapak para nabi)” diberikan kepadanya dengan sepenuh hormat.
Proses panjang melintasi waktu dan tempat, sekali lagi, diawali kepekaan oleh seorang perintis. Kepekaan ini melahirkan berbagai ikhtiar. Ada doa, penyiapan tempat, dan juga proses pembinaan.
Jika kemudian model kaderisasi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam direfleksikan terhadap model kaderisasi Ustadz Abdullah Said rahimahullah, dapat ditemukan kemiripan pola. Ada kepekaan, doa, tempat, dan proses pembinaan. Hampir tidak ada perbedaan.
Kepekaan beliau diwujudkan dengan mengajak siapapun ke Hidayatullah. Beliau juga mendoakan para kadernya, terutama saat memberikan tugas. Tentang tempat, beliau menyediakan tempat pembinaan kaderisasi yang penuh dengan inspirasi.
Adapun dalam proses pembinaan, beliau mengenalkan Manhaj Sistematika Wahyu sebagai konten utama. Sebagai ikhtiar internalisasi manhaj, beliau memberikan pembinaan lewat ceramah-ceramah inspiratif, munajat yang intensif, penugasan, dan pendampingan. Sehingga para keyakinan para kader sedemikian kuat.
Ke depan mungkin akan ada perbedaan dalam teknis kaderisasi. Akan tetapi sendi-sendi kaderisasi tidak boleh berubah: Kepekaan, doa, tempat, dan kurikulum.
Tentang kepekaan, seorang murabbi (pengkader) perlu memiliki idealitas tinggi dan kesiapan mujahadah untuk mewujudkan idealitas tersebut. Mujahadahnya kemudian menjadi inspirasi orang lain. Sehingga orang lain tertarik untuk mengikuti langkahnya.
Berikutnya, sang murabbi mengajak orang lain untuk bergerak bersama menuju idealitas yang diharapkan. Dalam gerakan ini ada bimbingan dari murabbi kepada mutarabbi (orang yang dikader). Ada juga kerjasama (ta’awun) antara murabbi dengan mutarabbi dalam pelaksanaan aktivitasnya.
Tentang doa, ada satu pesan implisit yang penting: Penerimaan murabbi atas situasi mutarabbi.
Sebuah hadits yang masyhur riwayat Muslim, “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan).”
Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya membutuhkan penerimaan. Orang yang mendoakan menerima, peduli, bahkan menyayangi orang yang didoakan. Tanpa penerimaan, tentu sulit doa dipanjatkan.
Dalam hal ini murabbi perlu menerima kondisi mutarabbi. Mungkin ada yang kurang dari mutarabbi, hendaklah murabbi menerimanya dengan jiwa besar. Perihal ini dituntunkan Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 28:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.”
Jika mungkin murabbi ikut mencarikan solusi atas kekurangan yang dihadapi mutarabbi. Salah satunya membangun sinergi dengan jejaring organisasi. Jika tidak, maka cukup murabbi mendukung mutarabbi dalam mencari solusi atas masalahnya.
Tentang tempat, murabbi perlu menyadari bahwa saat ini ada dua tempat bagi kebanyakan manusia: realitas dan virtual.
Fisik manusia itu menempati satu wilayah, tapi pikirannya mungkin berada di area virtual. Dalam hal ini murabbi perlu memiliki strategi yang hibrid. Secara kewilayahan, mungkin murabbi bisa melakukan kunjungan dan pertemuan fisik. Adapun secara virtual, sangat baik jika murabbi mengadakan pertemuan virtual sesekali. Selain itu murabbi bisa membuat konten yang inspiratif, sekaligus mendorong mutarabbi untuk membuat konten yang sama.
Terakhir, tentang kurikulum, murabbi dianjurkan untuk melakukan pengorganisasian ilmu. Awal dan fondasinya adalah ilmu tauhid. Selanjutnya ada ilmu tentang iman, syariah, dan adab. Perihal ini disebutkan dalam pengantar kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim, “Barangsiapa tidak memiliki adab, maka ia tidak memiliki syariah, iman, dan tauhid.”
Murabbi perlu menguasai kesemua ilmu tersebut, walaupun tidak sampai mendalam. Minimal murabbi mengetahui karakteristik ilmu serta koneksi antarcabang ilmu. Sehingga murabbi memiliki konstruksi keilmuan yang benar.
Seiring era informasi, murabbi bisa mendorong mutarabbi untuk menyerap berbagai pengetahuan. Selanjutnya berbagai pengetahuan itu dibawa ke pertemuan. Mudzakarah (diskusi) dilakukan. Jika perlu, murabbi bisa melakukan koreksi.
Tanpa motivasi mencari pengetahuan dan mudzakarah, akan ada resiko yang dihadapi mutarabbi. Mutarabbi menggunakan gawainya untuk keburukan. Atau mutarabbi mengalami miskonsepsi dengan menonton berbagai konten yang ada.
Sebagai penutup, murabbi merupakan sosok pelanjut cita-cita nabawi. Oleh karena itu ia diharapkan untuk terus mengasah diri. Kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ia terus mendekat. Kepada diri sendiri, ia senantiasa berbenah. Kepada orang lain, ia senantiasa peduli.
Dengan terus mengasah diri, semoga murabbi dikuatkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mampu mengantarkan dirinya dan orang lain ber-Islam kaffah. Lebih jauh ada jamaah yang terbangun. Sehingga jangkauan dakwah terus berkembang. Wallah a’lam.
*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah






