
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jarangnya umat Islam duduk bersama secara kolektif untuk merumuskan kesepakatan strategis jangka panjang guna melahirkan kepemimpinan yang kuat menjadi sorotan utama dalam refleksi kebangsaan akhir tahun 2025.
Isu tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., dalam forum Refleksi Akhir Tahun yang digelar oleh Majelis Ormas Islam (MOI) bertajuk “Renungan Peristiwa 2025, Menuju 2026 yang Lebih Baik” yang digelar secara daring, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).
Naspi menegaskan bahwa kebaikan dan kemaslahatan umat tidak mungkin terwujud tanpa kehadiran kepemimpinan yang kokoh. Menurutnya, selama kepemimpinan tidak ditegakkan secara utuh dan terencana, potensi kekacauan sosial akan terus berulang. Kepemimpinan dipandang sebagai elemen mendasar yang menentukan arah dan keberlangsungan kehidupan umat.
Ia merujuk pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah adalah mereka yang memiliki iman dan kepemimpinan yang benar. Rujukan tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa kepemimpinan dalam perspektif Islam bukan semata-mata posisi struktural, melainkan amanah yang berlandaskan keimanan dan tanggung jawab moral.
Namun, Naspi menggarisbawahi adanya kesenjangan antara idealitas ajaran dan realitas yang dihadapi umat Islam saat ini. Ia menyampaikan bahwa umat Islam belum menunjukkan keseriusan kolektif dalam membangun kepemimpinan jangka panjang. Forum-forum bersama yang secara khusus membahas strategi melahirkan pemimpin masa depan dinilai masih sangat terbatas.
Ia menjelaskan bahwa pembicaraan tentang kepemimpinan sering kali terjebak pada kepentingan jangka pendek. Perencanaan strategis yang mencakup rentang waktu panjang, seperti 20 atau 30 tahun ke depan, jarang menjadi agenda utama. Akibatnya, upaya membangun kepemimpinan berjalan sporadis dan tidak berkelanjutan.
Dalam penjelasannya, Naspi menggambarkan kondisi tersebut dengan analogi yang mudah dipahami. Ia menyebut umat Islam kerap berada dalam posisi seperti mendorong kendaraan yang mogok. Ketika kendaraan tersebut kembali berjalan, dorongan dihentikan dan perhatian beralih. Namun, saat kendaraan kembali berhenti, umat Islam kembali dipanggil untuk mendorong. Siklus ini, menurutnya, terus berulang dalam periode lima tahunan.
Pola tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan umat sering kali bersifat reaktif dan temporer. Momentum politik atau pergantian kepemimpinan menjadi titik konsentrasi perhatian, sementara upaya perencanaan jangka panjang tidak mendapatkan porsi yang memadai. Akibatnya, Naspi menekankan, energi umat habis dalam dinamika sesaat tanpa menghasilkan fondasi kepemimpinan yang berkesinambungan.
Naspi menilai bahwa momentum pergantian tahun, baik berdasarkan kalender Hijriah maupun Masehi, seharusnya dimaknai sebagai ruang refleksi yang lebih mendalam. Pergantian waktu bukan hanya penanda kronologis, melainkan sarana untuk mengevaluasi arah perjalanan umat. Ia mengaitkan keteraturan pergantian siang dan malam sebagai bukti adanya kepemimpinan Ilahi yang mengatur alam semesta secara sempurna.
Ia mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Menurutnya, keteraturan tersebut menunjukkan bahwa setiap sistem yang berjalan dengan baik selalu berada di bawah kepemimpinan yang jelas dan terencana.
Naspi melanjutkan bahwa peredaran matahari dan bulan berlangsung secara konsisten karena ada otoritas Ilahi yang mengaturnya. Allah memiliki kekuasaan penuh dalam menempatkan berbagai kebaikan pada setiap fase waktu. Manusia dapat merasakan manfaat nyata dari keteraturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks sosial, ia menyampaikan bahwa realitas tersebut memberikan pelajaran penting tentang urgensi kepemimpinan bagi manusia. Jika alam semesta berjalan teratur karena kepemimpinan Ilahi, maka kehidupan bermasyarakat pun memerlukan kepemimpinan yang disepakati bersama, dirancang secara matang, dan diarahkan untuk tujuan jangka panjang.
Tujuan akhir dari proses tersebut, sebagaimana disampaikan Naspi, adalah lahirnya kepemimpinan Islam yang tumbuh dari perjuangan dan kesadaran kolektif umat. Kepemimpinan yang dimaksud bukan sekadar dipegang oleh individu yang beragama Islam, melainkan pemimpin yang memiliki komitmen maslahat dan keislaman serta lahir dari proses perencanaan umat yang berkesinambungan.






