
LITERASI memiliki banyak definisi. Akan tetapi unsur-unsur utamanya jelas, antara lain baca, tulis, media, dan penangkapan makna. Unsur-unsur tersebut berpadu dalam proses yang kompleks.
Dalam perkembangan mutakhir, literasi tidak hanya tertuju pada teks dan visual. Sejumlah media lain dianggap sebagai sasaran literasi. Misalkan video dan audio book. Sebuah istilah dikenalkan untuk mewakili media-media non-teks tersebut, yakni teks multimodal.
Para ahli memperluas cakupan teks dan aktivitas literasi dikarenakan divergensi media yang cepat. Penggunaan media-media tersebut untuk menyampaikan pesan juga meningkat. Dengan memasukkan berbagai media dalam cakupan teks, semoga pengkajian ilmiah atas aktivitas literasi semakin intensif. Hasilnya masyarakat dapat menggunakan berbagai media untuk bertukar pesan secara efektif.
Kesungguhan para ahli terkait literasi menunjukkan pentingnya literasi dalam kehidupan manusia. Semakin baik literasi suatu komunitas, hampir dapat dipastikan kualitas kehidupan mereka juga semakin baik. Sebaliknya, literasi yang buruk menjadi pertanda buruknya kualitas kehidupan.
Hampir semua kegiatan manusia menggunakan literasi. Salah satunya kegiatan kaderisasi yang dapat dimaknai sebagai “serangkaian upaya untuk mengantarkan seseorang atau sekumpulan orang agar siap mengemban tugas tertentu”.
Kaderisasi tidak dapat dipisahkan dari organisasi, formal ataupun nonformal. Karena dalam kaderisasi, minimal tiga unsur: Pengkader, kader, dan sistem.
Ketiga unsur tersebut perlu berliterasi. Pengkader berliterasi dengan menelaah berbagai bahan kaderisasi serta menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam berbagai bentuk media. Gagasan-gagasan tersebut mencakup sistem dan materi kaderisasi.
Sementara kader berliterasi dengan menelaah pesan-pesan yang dikirimkan lewat berbagai media. Pesan-pesan tersebut utamanya dari pengkader. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan antarkader saling menulis dan menelaah pesan.
Kader juga berliterasi saat merefleksikan hasil belajarnya. Sebelum media elektronik maju, refleksi belajar lebih banyak berbentuk fisik. Sementara saat ini semakin beragam, salah satunya lewat media sosial.
Oleh karena itu hendaklah setiap organisasi memiliki ikhtiar meningkatkan kualitas literasi kadernya. Semoga dengan peningkatan kualitas literasi kader, peningkatan kapasitas berpikir dan bertindak kader mengalami kemajuan. Organisasi terimbas, semakin laju dan progresif.
Aktivitas literasi kader, terutama organisasi Islam, dilegitimasi oleh Al-Qur’an. Bahkan serangkaian ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun memiliki kaitan jelas dengan literasi, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah, yang mengajari dengan pena, yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Terjemah Q.S. Al-‘Alaq: 1-5)
Dapat dipahami dari serangkaian ayat tersebut bahwa baca dan tulis tidak dapat dipisahkan. Sifatnya saling menguatkan. Ujungnya adalah manusia mengetahui perkara-perkara yang tadinya tidak diketahuinya.
Dalam hal ini dua aktivitas pokok tersebut perlu menjadi sentral aktivitas literasi kader. Kader yang membaca saja tapi tidak menulis, bagaikan makan tapi tidak beraktivitas sehingga lemak menumpuk. Maknanya akal kader mungkin terisi dan terasah, namun bisa kemudian segera tumpul kembali.
Hal ini dikarenakan menulis bisa mengantarkan insan (termasuk kader) menstrukturisasi pemikirannya. Pikirannya relatif lebih rapi setelah menulis. Selain itu menulis mengantarkan insan untuk membuat koneksi antar konsep dan gagasan. Koneksi tersebut, jika terus dilakukan dan dikuatkan, membuka peluang besar lahirnya kreativitas serta inovasi.
Satu perkara penting dalam baca-tulis adalah bismirabbik, menyebut nama Tuhan. Maknanya baca-tulis diarahkan pada pembangunan keyakinan bertuhan, mengenal dan taat kepada Allah ta’ala. Karena keyakinan ini fondasi bagi kehidupan berkualitas manusia.
Perkara penting berikutnya adalah memperluas objek bacaan dengan tetap mempertahankan integrasi yang didasarkan pada keimanan. Sehingga hasil aktivitas literasi memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Pengkader diharapkan menjadi contoh terkait literasi yang luas dan integratif, lalu mengarahkan kader-kadernya untuk melakukan hal yang sama.
Wujud konkritnya adalah pengkader menugaskan kader-kader membaca aneka teks multimodal dengan satu tema. Setelah itu diskusi dilakukan. Pelurusan dapat dilakukan pengkader dalam diskusi, jika diperlukan.
Wujud konkrit lainnya kader mendapatkan tugas menelaah satu dalil dengan sejumlah perspektif, lalu menjelaskan hasil telaahnya di forum diskusi. Berbagai masukan didapatkannya. Kematangan berpikir komunal semoga terbentuk.
Wujud konkrit yang tidak kalah penting adalah bahasa internasional. Minimal kader menguasai bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab diperlukan untuk menelaah sumber-sumber keagamaan yang bersifat primer. Sedangkan bahasa Inggris penting untuk memperluas cakupan sosialisasi.
Sebagai penutup, satu orientasi utama dalam kader berliterasi adalah kekokohan sekaligus kemandirian berpikir. Kader memiliki struktur berpikir yang sistemik dan sistematis. Sehingga perihal makro dan mikro, serta korelasi keduanya dapat dijelaskan kader secara gamblang.
Dengan demikian harapan lahir pengkader baru semakin terbuka. Bahkan tidak mustahil ideolog baru tumbuh. Apalagi basisnya adalah iqro’ bismirabbik.
*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah






