
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) didorong menjadi wadah pembinaan, silaturahmi, dan pengembangan kapasitas mahasiswa agar tetap berdaya serta memiliki kepedulian terhadap umat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan pengurus dan alumni Hidayatullah yang berlangsung di Kantor DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Ahad (16/8/2026), selepas Ashar hingga selepas Isya.
Memasuki dunia perkuliahan, santri menghadapi lingkungan baru, tantangan akademik, hingga beragam arus pemikiran. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan pembinaan agar mahasiswa tidak larut dalam urusan pribadi dan tetap memiliki semangat berkontribusi bagi masyarakat.
Pertemuan dihadiri Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah Ustadz Imam Nawawi, Ketua Departemen Pengkaderan Ustadz Ya’rif, Ketua GMH Wira Saguna, serta sejumlah pengurus dan alumni, di antaranya Fariz, Nahdi, Putra, Arya, Lucky, Zufar, dan Fathur.
Dalam forum tersebut, peserta membahas sejumlah langkah strategis, mulai dari mekanisme survei kampus hingga pola pendampingan bagi alumni Hidayatullah yang melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi di Samarinda.
“Pembahasan itu diarahkan agar GMH mampu hadir sebagai rumah bersama bagi mahasiswa secara umum dan khusus bagi alumni Hidayatullah di tengah dinamika kehidupan kampus,” ungkap Imam Nawawi.
Ketua GMH Wira Saguna mengatakan, organisasi tersebut lahir di tengah tantangan yang tidak ringan. Namun, kondisi itu justru menjadi momentum untuk membangun gerakan yang lebih kuat, adaptif, dan mampu menghadirkan perubahan positif.
“GMH harus menjadi wadah yang menjaga silaturahmi sekaligus mengembangkan kemampuan dan keterampilan para alumni agar mereka tetap tumbuh sebagai kader dakwah di lingkungan kampus,” ujarnya.
Menurut Wira, tujuan tersebut membutuhkan sistem pembinaan yang baik, bimbingan para ustadz dan senior yang berpikir progresif, serta kerja sama yang solid di antara seluruh anggota.
Pertemuan juga menegaskan pentingnya membangun ekosistem pendampingan sejak mahasiswa memasuki perguruan tinggi. Pendampingan diharapkan tidak hanya membantu mereka beradaptasi dengan kehidupan akademik, tetapi juga menjaga idealisme, karakter, dan semangat pengabdian kepada umat.
Lebih dari sekadar organisasi mahasiswa, GMH diharapkan menjadi ruang pembentukan kepemimpinan yang melahirkan generasi intelektual berintegritas.
“Mahasiswa didorong untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik semata, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kesadaran dakwah, dan keberanian mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat,” tegas Ya’rif.
Pada akhir pertemuan, peserta menyepakati komitmen untuk memperkuat arah pengembangan GMH sebagai gerakan yang mampu merangkul lebih banyak mahasiswa di berbagai kampus.
Dengan pembinaan yang terstruktur, GMH diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar menyiapkan mahasiswa yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam nilai, dan hadir memberi manfaat bagi bangsa serta umat.






