
ACEH (Hidayatullah.or.id) — Program Recycle House menjadi langkah konkret Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dalam mengimplementasikan pilar-pilar Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pengentasan kemiskinan, pemukiman layak, dan konsumsi berkelanjutan. Inisiatif ini diwujudkan melalui rehabilitasi rumah warga terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang, termasuk rumah milik Desi, seorang ibu tiga anak yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut.
Banjir bandang yang melanda Desa Seumadam pada 26 November 2025 mengubah kehidupan Desi secara drastis. Sejak hari itu, ia dan keluarganya terpaksa tinggal di tenda pengungsian selama lebih dari 40 hari. Rumah kayu yang selama ini menjadi tempat berlindung hanyut terseret arus deras hingga puluhan meter, menyisakan trauma mendalam bagi seluruh anggota keluarga.
Desi mengingat saat air datang dengan cepat hingga mencapai pinggul orang dewasa. Dalam situasi gelap dan hujan lebat, ia hanya sempat membawa ketiga anaknya menuju tempat yang lebih tinggi. Tidak ada barang berharga yang dapat diselamatkan. Keputusan tersebut menjadi satu-satunya pilihan untuk menjaga keselamatan keluarga.
Kehilangan rumah berdampak langsung pada kondisi sosial ekonomi keluarga. Setelah bencana, Desi tidak memiliki sumber daya untuk memulai kembali pembangunan hunian. Kebutuhan sehari-hari masih bergantung pada bantuan, sementara biaya material bangunan berada di luar jangkauan kemampuannya.
Kondisi kerentanan tersebut disampaikan oleh Jamal, imam dusun setempat, yang menyebut keluarga Desi sebagai salah satu yang paling terdampak. Menurutnya, keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli kebutuhan dasar pembangunan rumah. Bahkan untuk keperluan kecil seperti paku bangunan, mereka tidak memiliki dana.
Merespons situasi tersebut, BMH bersama relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh menghadirkan program Recycle House sebagai solusi pemulihan pascabencana. Program ini difokuskan pada rehabilitasi rumah warga yang mengalami kerusakan berat, dengan tahap awal menyasar 100 unit rumah di wilayah terdampak.
Direktur Program dan Pendayagunaan BMH, Syamsuddin, menjelaskan bahwa pengerjaan rumah dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas. “Kami memulai pengerjaan tiga rumah hari ini, termasuk milik Ibu Desi,” kata Syamsuddin dalam keterangannya, Selasa, 5 Rajab 1447 (6/1/2026).
Recycle House dirancang dengan pendekatan efisiensi dan keberlanjutan. Material bangunan dari rumah lama yang masih layak digunakan kembali sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Pendekatan ini bertujuan menekan biaya pembangunan sekaligus mengurangi limbah konstruksi yang berpotensi mencemari lingkungan.
Selain itu, skema padat karya diterapkan dengan melibatkan warga sekitar dalam proses pembangunan. Melalui pola ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam pemulihan lingkungan tempat tinggal mereka. Keterlibatan tersebut memberikan dampak ekonomi jangka pendek melalui kesempatan kerja serta memperkuat rasa kepemilikan terhadap hasil pembangunan.
Syamsuddin menegaskan bahwa Recycle House tidak berdiri sebagai program bantuan semata. “Program Recycle House merupakan langkah nyata BMH dalam mengimplementasikan pilar SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan melalui penyediaan hunian gratis bagi warga rentan, hingga perwujudan pemukiman berkelanjutan yang tangguh pascabencana,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa prinsip keberlanjutan menjadi fondasi utama program ini. “Kami menerapkan konsumsi yang bertanggung jawab dengan mendaur ulang material layak pakai demi efisiensi lingkungan. Melalui sinergi ini, kami tidak hanya membangun fisik rumah, tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian ekonomi penyintas secara menyeluruh,” ujar Syamsuddin.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, BMH menempatkan pemulihan sosial dan psikologis sebagai bagian penting dari respons kebencanaan. Kehadiran rumah yang layak dinilai berperan besar dalam memulihkan rasa aman dan stabilitas mental penyintas setelah melewati masa krisis.






