
FILOSOFI Iqra’ (Bacalah!) menyadarkan kita pada satu kebenaran fundamental: ketidaktahuan dan keengganan untuk membaca realitas secara utuh adalah musuh terbesar peradaban. Hari ini, perintah untuk “membaca” bukan sekadar mengeja teks, melainkan membedah konstelasi dunia yang tengah berada di ambang pergolakan. Badai krisis energi 2026 sudah di depan mata. Sebagaimana peringatan keras dari Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, pada Maret 2026, kita sedang berhadapan dengan ancaman sistemik yang masif. Ini adalah sebuah konvergensi krisis energi yang eskalasinya melampaui guncangan minyak 1970-an maupun imbas invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Tidak ada satu pun negara yang kebal, termasuk Indonesia.
Secara geopolitik, perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kini telah memasuki pekan keempat. Eskalasi ini tidak lagi bersifat teritorial, melainkan membidik urat nadi ekonomi global: Selat Hormuz. Jalur maritim sempit ini adalah chokepoint (titik kritis) geopolitik yang menjadi rute transit bagi 20% pasokan minyak dunia. Meskipun Iran menerapkan strategi perang ekonomi asimetris dengan membiarkan kapal-kapal dari negara yang tidak terafiliasi dengan AS dan Israel tetap melintas, ancaman gangguan pasokan (supply shock) telah memicu ketidakpastian ekstrem di pasar global.
Di tengah ancaman fisik ini, kita juga menghadapi krisis epistemologis. Arus informasi beredar liar—bercampur baur antara fakta objektif, hoaks, hingga rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang manipulatif. Menghadapi “infodemi” dan ancaman krisis nyata ini, masyarakat terbelah. Melalui kacamata sosiologi krisis, kita dapat memetakan respons masyarakat ke dalam empat tipologi utama:
Golongan pertama adalah mereka yang memilih untuk menutup mata bukan karena tidak peduli, melainkan karena kelelahan eksistensial (kelelahan krisis). Ini umumnya dialami oleh masyarakat prasejahtera dan kelompok marginal. Bagi mereka, ancaman krisis geopolitik global terasa abstrak dan berjarak, karena setiap hari mereka sudah hidup dalam kehidupan serba krisis dengan mode “bertahan hidup” (mode bertahan hidup). Terhimpit oleh beban ekonomi harian, mereka kehilangan kapasitas kognitif untuk memikirkan krisis makro. Kemiskinan telah merampas kemewahan mereka untuk merasa risau terhadap ancaman masa depan.
Golongan kedua adalah masyarakat yang secara literasi mampu mengakses informasi, namun memilih sikap pasrah atau skeptis absolut. Secara psikologis, mereka mengidap normalcy bias. Sebuah keyakinan keliru bahwa segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja karena badai seolah hanya rekayasa atau konspirasi elite global. Golongan yang kerap terjebak dalam gaya hidup hedonis ini memilih jalur eskalasi pelarian (escapism): tenggelam dalam rutinitas kerja, hiburan, game, dan senda gurau. Mereka mengabaikan mitigasi karena memandang krisis sebagai tontonan bahkan lelucon, bukan ancaman yang akan meruntuhkan zona nyaman mereka.
Golongan ketiga adalah kelompok menengah terdidik yang rajin “membaca” dan mengikuti perkembangan global, namun justru terjebak dalam doomscrolling (obsesi membaca berita buruk). Tingginya paparan informasi tanpa diimbangi oleh kapasitas mitigasi melahirkan kecemasan akut, keresahan, dan ketakutan. Dalam psikologi perilaku, kondisi ini disebut learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Mereka sadar kapal sedang bocor, namun merasa terlalu kecil dan tidak berdaya untuk menambalnya. Mereka berakhir pada kepasrahan pasif, sekadar bertahan dengan aset dan pekerjaan yang tersisa tanpa langkah antisipasi struktural dengan dalih tawakkal
Golongan keempat adalah manifestasi sejati dari spirit Iqra’. Mereka tidak hanya membaca teks dan konteks, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam praksis (tindakan nyata). Memahami bahwa krisis 2026 adalah keniscayaan, mereka membangun kapasitas adaptif (kapasitas adaptif). Di tingkat mikro, mereka melakukan audit energi keluarga, transisi ke efisiensi konsumsi, membangun lumbung pangan komunitas, dan menyiapkan skenario terburuk jika rantai pasok global benar-benar runtuh. Mereka menolak menjadi korban keadaan dan secara proaktif membangun resiliensi (ketangguhan) dari tingkat akar rumput.
Ancaman krisis energi 2026 adalah ujian seleksi alam bagi peradaban modern. Menyelamatkan Indonesia dari hantaman badai ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan intervensi negara. Dibutuhkan lompatan kesadaran kolektif agar mayoritas masyarakat bergeser dari sekadar penonton yang cemas (Golongan 3) atau apatis (Golongan 1 dan 2), menjadi aktor proaktif (Golongan 4).
Pada akhirnya, hanya dengan Iqra’ secara mendalam, memahami geopolitik, mengakui kerentanan domestik, dan memetakan solusi masa depan. Iqra’ Bismirabbik yang benar adalah membuahkan aksi, mitigasi, kemandirian dan ketergantungan kepada Allah dengan mempersiapkan diri sedini mungkin dan bersikap optimis. []
*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.S.I., penulis Ketua Bidang Perkaderan & Pembinaan Anggota Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah






