AdvertisementAdvertisement

Halaqah dan GNH sebagai Episentrum Spiritual, Moral, dan Keilmuan Kader Hidayatullah

Content Partner

الحمد لله رب العالمين حمدا يوافي ويكافئ مزيده . ياربنا لك الحمد ولك الشكر كما ينبغي لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك . سبحانك لا نحصي ثناء عليك كما اثنيت على نفسك . سبحان الله عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 35).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 200).

Al-Hamdulillah pada momentum ini sebagai umat dan bangsa kita akan menyongsong dua peristiwa penting, yang mengawali keberkahan dibumi, yaitu pilpres 2024 dan bulan suci Ramadhan 1445 H. Ramadhan kurang 38 hari lagi (sebulan dan sepekan).

Tentu saja ini semua bentuk pengaturan Allah Subhanahu Wa ta’ala. Kita berharap kepada-Nya agar mengangkat seorang pemimpin yang shalih. Atau dalam lintasan perjalanan kepemimpinan, Allah men-shalihkan para pemimpin yang ada. Itu doa yang seringkali kita munajatkan.

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٍ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan (25) : 74)

Kita ingin menjaga keshalihan kita dengan hidup berdampingan dengan shalih, sebagaimana doa tasyahud kita.

السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

Semoga salam dan kesejahteraan dicurahkan kepada kita dan kepada hamba Allah yang shalih.

Menjaga kebersamaan ini dengan cara lebih mengaktifkan dalam berhalaqah, bermajelis ilmu. Mereka itulah teman yang terbaik kita.

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقًا

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ (4) : 69)

Inilah yang harus terus diupayakan. Bisa saja terjadi, Allah membolak-balikkan keadaan pada realitas di medan kehidupan. Dan itu tergantung kualitas doa, iman dan amal shalih kita.

وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ

“Dan masing-masing orang ada tingkatannya, (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan (amal shalih). Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am 6: 132)

Halaqah (belajar melingkar) merupakan supra dari umat, untuk meniupkan ruh pada jasad umat. Untuk melahirkan lapisan inti umat (pemimpin). Halaqah merupakan kerja besar, titik awal peletakan (episentrum) kekuatan tersentral.

Transformasi halaqah sebagai majelis ilmu adalah awal sebuah kemenangan, bahkan kemenangan itu sendiri. Karena, rangkaian ayat pada surat Al-Fatihah secara teori dan praktiknya adalah pembuka kemenangan (Al-Fatihah) atau kemenangan itu sendiri.

Muatan surat Al-Fatihah memberi titik tekan pada ajaran tauhid secara lebih tuntas. Dimulai dengan Bismillah, huruf bi mengandung tiga makna sekaligus. Bi-Al istianah (dengan mohon pertolongan kepada Allah). Bi- tabarrukan (mohon keberkahan). Bi-alma’iyyah (mohon penyertaan Allah).

Dalam surat Al-Fatihah telah dituntaskan pembahasan Tauhid Uluhiyyah (bismillah), setelah ayat-ayat sebelumnya diproses dengan tauhid Rububiyyah (iqra bismi rabbik). Proses (amaliyyah) tidak bertentangan dengan hasil (natijah).

Hasil yang berkualitas ditentukan oleh proses yang berkualitas pula. Setelah diproses dengan bismi rabbik, maa anta binikmati rabbik, rabbul masyriqain…wa rabbaka fakabbir, maka lolos memasuki fase bismillahirrahmanirrahim. Jadi, surat Al-Fatihah sudah menggabungkan Trilogi Tauhid sekaligus. Baik dalam teori dan prakteknya.

Hamdalah membangun moral dan tauhidul ilmi (al Hamdulillahirabbil alamin). Tauhid rububiyyah identik dengan tauhidul ilmu (intelektual). Bismillah disandingkan dengan sifat rahman dan rahim. Diulangi lagi pada ayat ketiga sifat rahman dan rahim.

Sekalipun engkau pintar dan jago tetapi jika miskin moral maka telah jatuh. Misalnya, bersikap kasar dengan makhluk lemah (perempuan). Orang Arab Baduwi saja pantang menyakiti perempuan.

Memperlakukan perempuan yang dikategorikan melanggar itu jika sudah nusyuz. Ada mekanisme syariat dalam mengelolanya.

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)..

Barangsiapa yang tidak menghargai wanita, tidak akan mendapatkan keberkahannya. Demikian pula sebaliknya, wanita yang tidak menghormati laki-laki, dijauhkan dari keberkahannya pula (peny.).

Yang paling berat adalah konsisten. Istiqomah dalam berhalaqah. Harapan yang tinggi (mathalib ‘aliyah) harus diimbangi dengan himmatul ‘aliyah (semangat yang tinggi) pula. Semangat berilmu dan semangat dalam beramal shalih. Ilmu yang tidak diamalkan sama jeleknya dengan amal yang tidak didasari oleh ilmu.

Hadits Hanzalah berikut menjelaskan bahwa iman itu dinamis, fluktuatif, bisa berkurang.

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ – وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا ذَاكَ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzholah Al-Usayyidiy -beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”
Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”
Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan kalian. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali.
(HR. Muslim, no. 2750).
 
Saya sendiri tidak mungkin lepas dari Al-Quran. Seakan-akan tidak bisa hidup yang lebih berstamina tanpa Al-Quran. Inilah yang aku selalu bawa kemana pun pergi. Inilah tradisi ilmu yang ditanamkan orang tua yang guru ngaji di kampung dan paman.

Kadang-kadang saya menjesal, banyak proyek yang saya tangani langsung, menghambat interaksi saya dengan Al-Quran. Berta’amul ma’al quran perlu waktu khusus.

Sehingga perlu kelompok tawajjuh. Yang lebih fokus bermujahadah untuk taqarrub ilallah. Wirid tawajjuhat spiritnya adalah untuk taqarrub ilallah. Jangan sampai pekerjaan kita sebagai wasilah taba’ud ‘anillah (menjauhkan pemiliknya dari Allah). Tetapi pekerjaan yang kita tangani seharusnya satu dari rangkaian jihad.

Ilmu, iman dan amal adalah senyawa. Kesadaran berislam yang kaffah inilah yang terus-menerus kita introdusir. Demikian format kepemimpinan kita terintegrasi antara kekuatan hamasatus syabab (semangat pemuda) dan hamasatus suyukh (kearifan generasi tua).

Mengkoneksikan spirit manajerial dan leadership. Pemimpin halaqah peka terhadap keadaan mutarabbinya. Kedepankan tabayyun dan tatsabbut, mengapa sering bolos halaqah. Mungkin ada problem di rumah, dll.

Berhalaqah quran juga media efektif anggota tubuh kita terkelola secara tersentral, terkomando. Yang sudah berumur dan terbiasa baca quran sendiri tanpa guru, merubahnya tidak mudah dan tidak sederhana. Belum terbiasa terpimpin dan terkomando.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ

“Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 16).

إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ

“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 17)

فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ

“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 18)

ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُ

“Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 19)

Iman seharusnya melahirkan gerakan amal. Iman yang tidak berwujud amal sama jeleknya dengan amal yang tidak dimotivasi oleh iman (keyakinan).

Surat Al-Fatihah sendiri diakhiri dengan semangat jihad untuk melawan ancaman yahudi dan nasrani, ghoiril maghdhubi ‘alaihim waladhollin.

Jangan sampai setelah shalat tahajjud justru tidur. Itu, justru kontradiksi dengan spirit surat Al-Muzzammil, inna laka finnahari sabhan thawilan (seharusnya pada siang harinya tenggelam dalam proyek-proyek keummatan). Quwwatur ruhiyyah, quwwatul ilmi, quwwatul akhlak dilanjutkan dengan quwwatul jihad. Itulah anashirul quwwah dalam Islam.

*) Ust. Sholih Hasyim, penulis adalah Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah. Naskah ini merupakan resume arahan Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad dalam acara Madrasah Murabbi, Sabtu, 22 Rajab 1445 (3/2/2024).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Rapimnas SAR Hidayatullah Kukuhkan Jatidiri sebagai Potensi Pencarian dan Pertolongan Nasional

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) -- Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Search and Rescue (SAR) Hidayatullah 2024 digelar di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 20-22...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img