
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya, M. Sanusi, mengatakan Musyawarah Daerah (Musda) gabungan Hidayatullah Papua Barat Daya menjadi tonggak penting penguatan konsolidasi organisasi di wilayah timur Indonesia.
“Forum ini sebagai ruang peneguhan komitmen dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat yang berkelanjutan, sejalan dengan spirit keislaman dan kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Sanusi dalam sambutannya pada Musda Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se–Papua Barat Daya yang digelar di Kampus Hidayatullah Kota Sorong pada Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025).
Musda gabungan tersebut diikuti oleh unsur inti DPD dari Kabupaten Sorong, Kota Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat. Adapun Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Tambrauw masih berada dalam tahap perintisan organisasi.
Kegiatan Musda turut dihadiri unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya.
“Partisipasi kita semua pada Musda ini menunjukkan semangat kebersamaan serta keseriusan dalam menata arah gerak dakwah dan tarbiyah umat secara terstruktur,” kata Sanusi.
Salah satu agenda utama Musda adalah pelantikan empat Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah di wilayah Papua Barat Daya. Pelantikan ini menandai dimulainya masa amanah baru bagi para pengurus daerah untuk menjalankan roda organisasi secara lebih sistematis dan profesional, sesuai dengan visi dan misi Hidayatullah dalam membina umat dan memperkuat kontribusi sosial-keagamaan di daerah.
Sanusi dalam sambutannya menempatkan amanah kepengurusan sebagai pokok pembahasan utama. Ia menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada para pengurus bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dijalankan dengan keikhlasan, kesungguhan, dan rasa tanggung jawab.
Amanah tersebut, menurutnya, bertujuan menghadirkan kebaikan nyata bagi daerah melalui wasilah dakwah dan tarbiyah umat.
“Kesabaran adalah kunci dalam mengelola organisasi. Amanah yang tidak ringan ini merupakan ladang ibadah yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan,” ujar Sanusi. Ia juga menekankan pentingnya penguatan aspek ekonomi sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian organisasi dan umat, sehingga dakwah dapat berjalan lebih kokoh dan berdaya tahan.

Selain itu, Sanusi mengingatkan agar kepengurusan yang baru segera melengkapi aspek administrasi organisasi, khususnya yang berkaitan dengan legalitas pemerintahan. Ia menyoroti pentingnya pendaftaran dan pelaporan ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sebagai bentuk tertib organisasi sekaligus wujud kepatuhan terhadap regulasi negara.
Sementara itu, Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah, Nasran, dalam arahannya menegaskan bahwa amanah kepengurusan merupakan sarana pembinaan diri bagi kader. Ia menekankan bahwa tanggung jawab organisasi seharusnya mendorong peningkatan kualitas iman, kepribadian, dan kesiapan dakwah di mana pun kader ditempatkan.
“Kita ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi. Di mana pun kita berada, di situlah tanggung jawab dakwah dan perbaikan umat harus dijalankan,” tegasnya.
Seluruh rangkaian Musda berlangsung tertib dan lancar. Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur serta harapan agar seluruh pengurus diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam menjalankan amanah. Sesi foto bersama menandai soliditas dan kebersamaan organisasi dalam melangkah ke fase pengabdian berikutnya di Papua Barat Daya.






