Beranda blog Halaman 2

Krisis Geopolitik Global dan Tanggung Jawab Intelektual Halaqah Kader

0

KURANG lebih sudah sebulan ketegangan dan perang Amerika-Iran berlangsung. Tanda-tanda mereda belum terlihat. Bahkan cakupan wilayah perang semakin meluas.

Bagi seorang muslim, perang ini bukan sesuatu yang sederhana dan bisa diabaikan begitu saja. Sebaliknya perang ini penting. Karena negara-negara Islam di Timur Tengah terlibat di dalamnya, baik di kubu Amerika ataupun Iran.

Oleh karena itu sangat baik seandainya para kader Hidayatullah memberikan perhatian yang serius atas perang ini. Diskusi di halaqah kader butuh diisi dengan topik ini. Subtopiknya sangat banyak, dari akar perang, membangun ketahanan bangsa, hingga konflik antarnegara Islam. Isu hubungan Sunni-Syiah juga bisa dimasukkan dalam daftar subtopik diskusi.

Hal terpenting dari diskusi di halaqah kader adalah perspektif. Selain keilmuan, Jatidiri Hidayatullah merupakan satu perspektif yang perlu senantiasa hadir. Agar telaah bersifat komprehensif, dari deskripsi-narasi hingga aksi.

Lahirnya aksi dari diskusi halaqah kader merupakan keharusan. Hal ini dilandasi beberapa pemikiran, sebagaimana berikut.

Pertama, sebagaimana masyhur dipahami, ilmu perlu dilengkapi dengan amal shaleh. Tanpa amal shaleh, sang pemilik ilmu berpotensi jatuh ke golongan dimurkai (al-maghdhub).

Kedua, sejak awal pendirian, Hidayatullah mendidik kader-kadernya untuk membangun aksi nyata. Diskusi dan kegiatan ilmiah lainnya merupakan titik awal dari lahirnya aksi nyata. Semakin dalam dan kompleks suatu diskusi, aksi nyata diharapkan semakin berkualitas.

Ketiga, perang besar mutakhir ini akan memberikan dampak yang sangat luas. Sifatnya global. Salah satunya dampak ekonomi. Diskusi halaqah kader perlu menghasilkan rencana-rencana aksi jika situasi ekonomi semakin runyam. Tentu harapannya rencana aksi dibingkai dengan ta’awun, minimal tiga unsur: Organisasi, amal/badan usaha, dan kader.

Ada satu instrumen halaqah kader yang tidak bisa dianggap sepele, yakni infak halaqah. Besar atau kecil nominalnya, hendaklah infak dikuatkan kembali. Berikutnya infak bisa digunakan sebagai salah satu dana ta’awun nantinya, saat ekonomi memburuk. Sehingga kemanfaatannya semakin terasakan.

Melalui aktivitas halaqah kader yang diperkaya dengan diskusi mendalam berbasis keilmuan dan Jatidiri Hidayatullah, disertai peningkatan kuantitas dan kualitas infak, semoga kader semakin merasakan manfaat halaqah.

Ke depan, seiring harapan perang berakhir, halaqah terus diperkaya dengan aktivitas serupa bahkan lebih baik. Sehingga halaqah menjadi tumpuan kader untuk memperluas cakrawala sekaligus memperdalam ruhiyah.

Di sinilah kemudian dapat dipahami bahwa sebuah krisis atau problema bisa menjadi daya ungkit untuk meningkatkan kualitas aktivitas perkaderan, baik problema internal ataupun eksternal. Hal ini selaras dengan Al-Qur’an surat Al-Insyirah ayat 5-6 yang senantiasa memberikan motivasi, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Wallahu a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Geopolitik 2026 dan Menguji Daya Baca

0

FILOSOFI Iqra’ (Bacalah!) menyadarkan kita pada satu kebenaran fundamental: ketidaktahuan dan keengganan untuk membaca realitas secara utuh adalah musuh terbesar peradaban. Hari ini, perintah untuk “membaca” bukan sekadar mengeja teks, melainkan membedah konstelasi dunia yang tengah berada di ambang pergolakan. Badai krisis energi 2026 sudah di depan mata. Sebagaimana peringatan keras dari Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, pada Maret 2026, kita sedang berhadapan dengan ancaman sistemik yang masif. Ini adalah sebuah konvergensi krisis energi yang eskalasinya melampaui guncangan minyak 1970-an maupun imbas invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Tidak ada satu pun negara yang kebal, termasuk Indonesia.

Secara geopolitik, perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kini telah memasuki pekan keempat. Eskalasi ini tidak lagi bersifat teritorial, melainkan membidik urat nadi ekonomi global: Selat Hormuz. Jalur maritim sempit ini adalah chokepoint (titik kritis) geopolitik yang menjadi rute transit bagi 20% pasokan minyak dunia. Meskipun Iran menerapkan strategi perang ekonomi asimetris dengan membiarkan kapal-kapal dari negara yang tidak terafiliasi dengan AS dan Israel tetap melintas, ancaman gangguan pasokan (supply shock) telah memicu ketidakpastian ekstrem di pasar global.

Di tengah ancaman fisik ini, kita juga menghadapi krisis epistemologis. Arus informasi beredar liar—bercampur baur antara fakta objektif, hoaks, hingga rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang manipulatif. Menghadapi “infodemi” dan ancaman krisis nyata ini, masyarakat  terbelah. Melalui kacamata sosiologi krisis, kita dapat memetakan respons masyarakat ke dalam empat tipologi utama:

Golongan pertama adalah mereka yang memilih untuk menutup mata bukan karena tidak peduli, melainkan karena kelelahan eksistensial (kelelahan krisis). Ini umumnya dialami oleh masyarakat prasejahtera dan kelompok marginal. Bagi mereka, ancaman krisis geopolitik global terasa abstrak dan berjarak, karena setiap hari mereka sudah hidup dalam kehidupan serba krisis dengan mode “bertahan hidup” (mode bertahan hidup). Terhimpit oleh beban ekonomi harian, mereka kehilangan kapasitas kognitif untuk memikirkan krisis makro. Kemiskinan telah merampas kemewahan mereka untuk merasa risau terhadap ancaman masa depan.

Golongan kedua adalah masyarakat yang secara literasi mampu mengakses informasi, namun memilih sikap pasrah atau skeptis absolut. Secara psikologis, mereka mengidap normalcy bias. Sebuah keyakinan keliru bahwa segala sesuatu akan berjalan baik-baik saja karena badai seolah hanya rekayasa atau konspirasi elite global. Golongan yang kerap terjebak dalam gaya hidup hedonis ini memilih jalur eskalasi pelarian (escapism): tenggelam dalam rutinitas kerja, hiburan, game, dan senda gurau. Mereka mengabaikan mitigasi karena memandang krisis sebagai tontonan bahkan lelucon, bukan ancaman yang akan meruntuhkan zona nyaman mereka.

Golongan ketiga adalah kelompok menengah terdidik yang rajin “membaca” dan mengikuti perkembangan global, namun justru terjebak dalam doomscrolling (obsesi membaca berita buruk). Tingginya paparan informasi tanpa diimbangi oleh kapasitas mitigasi melahirkan kecemasan akut, keresahan, dan ketakutan. Dalam psikologi perilaku, kondisi ini disebut learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari). Mereka sadar kapal sedang bocor, namun merasa terlalu kecil dan tidak berdaya untuk menambalnya. Mereka berakhir pada kepasrahan pasif, sekadar bertahan dengan aset dan pekerjaan yang tersisa tanpa langkah antisipasi struktural dengan dalih tawakkal

Golongan keempat adalah manifestasi sejati dari spirit Iqra’. Mereka tidak hanya membaca teks dan konteks, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam praksis (tindakan nyata). Memahami bahwa krisis 2026 adalah keniscayaan, mereka membangun kapasitas adaptif (kapasitas adaptif). Di tingkat mikro, mereka melakukan audit energi keluarga, transisi ke efisiensi konsumsi, membangun lumbung pangan komunitas, dan menyiapkan skenario terburuk jika rantai pasok global benar-benar runtuh. Mereka menolak menjadi korban keadaan dan secara proaktif membangun resiliensi (ketangguhan) dari tingkat akar rumput.

Ancaman krisis energi 2026 adalah ujian seleksi alam bagi peradaban modern. Menyelamatkan Indonesia dari hantaman badai ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan intervensi negara. Dibutuhkan lompatan kesadaran kolektif agar mayoritas masyarakat bergeser dari sekadar penonton yang cemas (Golongan 3) atau apatis (Golongan 1 dan 2), menjadi aktor proaktif (Golongan 4).

Pada akhirnya, hanya dengan Iqra’ secara mendalam, memahami geopolitik, mengakui kerentanan domestik, dan memetakan solusi masa depan. Iqra’ Bismirabbik yang benar adalah membuahkan aksi, mitigasi, kemandirian dan ketergantungan kepada Allah dengan mempersiapkan diri sedini mungkin dan bersikap optimis. []

*) Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.S.I., penulis Ketua Bidang Perkaderan & Pembinaan Anggota Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Rais Aam Hidayatullah Tekankan Etos Jihad dan Amal dalam Taujih Momentum Syawal

Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad pada acara Silaturahim Syawal 1438 H di Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Senin, 10 Juli 2017‎ (Foto: Abdus Syakur / Hidayatullah)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga semangat perjuangan dalam kehidupan umat Islam saat memberikan Taujih Shubuh bertema Spirit Momentum Syawal di Masjid Ar-Riyadh Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad, 2 Syawal 1447 (22 Maret 2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya bergantung pada pengampunan dan rahmat Allah SWT.

Dalam pemaparannya, Abdurrahman Muhammad menjelaskan bahwa keselamatan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh amal yang dilakukan, melainkan oleh karunia Allah.

Namun, menurutnya, rahmat dan ampunan tersebut ditempuh melalui perjuangan yang sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.

Ia menegaskan bahwa jalan perjuangan tersebut merupakan bagian dari upaya manusia mendekatkan diri kepada Allah.

“Hanya dua yang bisa menyelamatkan manusia, (yaitu) hanya kalau Allah mengampuni dosa dan hanya dengan rahmat-Nya. Dan, wasilahnya, hanya jihad saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdurrahman Muhammad menjelaskan bahwa konsep jihad tidak terbatas pada makna perjuangan dalam konteks tertentu, melainkan mencakup berbagai bentuk kesungguhan dalam menjalani kehidupan.

Ia mencontohkan bahwa keseriusan dalam ibadah, pencarian ilmu, maupun tanggung jawab pekerjaan merupakan bagian dari manifestasi jihad dalam kehidupan sehari-hari.

“Maka bersungguh-sungguh beribadah itu jihad. Bersungguh-sungguh mengambil ilmu itu jihad. Bersungguh-sungguh menyelasaikan pekerjaan itu jihad,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kesuksesan tidak mungkin dicapai tanpa adanya kesungguhan dan pengorbanan. Dalam pandangannya, setiap capaian yang diraih manusia selalu melalui proses perjuangan yang tidak ringan.

“Tidak ada kesuksesan tanpa ada jihad di dalamnya. Tidak ada!” ujarnya.

Pada bagian akhir tausiyahnya, Abdurrahman Muhammad mengajak seluruh warga Hidayatullah untuk terus menjaga semangat perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Ia menekankan pentingnya menghidupkan etos jihad sebagai dorongan spiritual dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.

“Maka bagaimana warga (Hidayatullah) ini kita semua ini digerakkan terus untuk berjihad. Berjihad, berjihad, berjihad,” katanya.

Krisis Global dan Tanggung Jawab Pemimpin Menjaga Ketahanan Masyarakat

0

“SETIAP lima tahun sekali, ada krisis di industri penerbangan. Harapan untuk bertahan pasti ada. Namun, krisis semacam ini hanya dapat diatasi oleh pemimpin-pemimpin brilian yang bekerja cerdas bersama tim terbaiknya”.

Demikian ungkapan Yashihiro Fukada, Direktur Operasional ZipAir Tokyo (Kompas.id, 27/3/2026), yang menarik untuk kita cermati, terutama dalam memahami bagaimana seharusnya kita memandang krisis.

Kalimat Fukada itu menarik setidaknya karena dua hal. Pertama, krisis pasti terjadi dan melanda. Kedua, menghadapi krisis dengan menyiapkan generasi pemimpin dan tim yang andal, siap menghadapi, bukan yang terampil main lari.

Krisis adalah kondisi yang penuh ketidakpastian. Ia sering disertai kepanikan, ketergesaan, bahkan menurunnya kepercayaan antar pihak. Dalam situasi seperti ini, keadaan menjadi tidak stabil, bahkan menyerupai kondisi bencana atau konflik.

Dalam konteks kepemimpinan, krisis harus dipahami sebagai bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang dihindari. Menang dalam pemilu tidak berarti jalan akan selalu mulus.

Jika seorang pemimpin terlalu berfokus pada dirinya (self-oriented), maka krisis yang datang justru akan memperbesar dampak negatif. Dan itu sangat mungkin, karena biasanya, pemimpin yang terlalu sempit sudut pandangnya akan cenderung membangun tim yang tidak cukup kuat secara mental.

Mengatasi Krisis

Dalam situasi global yang tidak stabil, misalnya konflik geopolitik yang berdampak pada energi, masyarakat mulai merasakan keresahan terhadap kebutuhan dasar seperti BBM dan gas.

Sahabat saya di pedalaman Kalimantan Timur, kawasan yang sering disebut sebagai lumbung sumber energi kandungan alam, telah mengabarkan bahwa dirinya lambat membalas pesan Whatsapp karena seharian berputar-putar mencari gas. “Mulai langka gas di kampung, bro,” tulisnya.

Pertanyaannya apakah fakta seperti ini, meski hanya di satu desa, sudah sampai ke level pemimpin yang seharusnya tahu dan paham mengatasinya?

Pemimpin yang visioner dan bijaksana, biasanya akan memiliki kemampuan mendeteksi, mitigasi, dan melakukan persiapan untuk mengatasi krisis yang terjadi. Seperti sekarang, ketika perang Iran berkelanjutan dan dampak pada BBM dunia mulai menguat, masyarakat mulai berada dalam kondisi resah akan ketersediaan BBM, bahkan gas.

Situasi ini menuntut kepemimpinan yang mampu memberikan kepastian arah dan solusi yang jelas bagi masyarakat. Tanpa itu, krisis benar-benar akan merontokkan semua optimisme. Situasi ini tentu tidak memberi keuntungan bagi siapapun. Dalam bahasa yang sederhana, orang lain yang perang, kita yang kesakitan.

Dalam situasi seperti ini pemimpin tertinggi dan tim terbaiknya harus memiliki konsep tegas dan jelas untuk mengurai krisis ini. Krisis tak dapat dicegah, tapi dampaknya bisa diminimalisir.

Oleh karena itu pemimpin harus merasakan langsung keresahan rakyat. Pada saat yang sama, mengerahkan tim bekerja semaksimal mungkin. Bukan masanya lagi dalam situasi krisis pemimpin membiarkan opini sebagai isu. Tapi ia harus menjadikan pandangannya sebagai kebijakan yang mengatasi krisis.

Pemimpin Sejati Diuji dalam Krisis

Pemimpin sejati bukan sekadar yang menduduki jabatan, tetapi yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat.

Krisis satu sisi menakutkan, tapi sisi itu adalah peluang bagi semua pihak untuk menjadi lebih kuat. Dalam konteks ini pemimpin harus benar-benar mampu memberi respons yang memadai.

Dalam dunia kepemimpinan dikenal istilah inspire trust. Artinya, pemimpin harus mampu membangun kepercayaan, bahkan menginspirasi masyarakat untuk tetap optimis di tengah krisis.

Salah satu langkah penting adalah evaluasi. Evaluasi terhadap cara berpikir, kebijakan, dan arah keputusan. Selain itu, evaluasi terhadap tim juga krusial: apakah tim benar-benar bekerja dan mampu menghadirkan solusi.

Maknanya adalah pemimpin dan timnya harus memiliki langkah yang jelas. Bisa memahami masalah, merumuskan kebijakan, dan mengeksekusi solusi secara terukur.

Pada akhirnya, krisis tidak selalu menjadi ancaman, tetapi juga ujian kualitas kepemimpinan.

Krisis akan berlalu, tetapi cara pemimpin menghadapinya akan menentukan apakah rakyat tetap kuat atau justru menjadi korban. Karena itu, jangan takut menghadapi krisis—yang perlu ditakuti adalah ketika kita tidak siap menghadapinya.[]

Imam Nawawi

KHUTBAH JUM’AT Menjaga Takwa Setelah Ramadhan

0

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ التَّقْوَى مِفْتَاحَ الْجِنَانِ، وَأَنْزَلَ الْقُرْآنَ نُوْرًا لِلْأَنَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ قَامَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita memulai khutbah ini dengan memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT. Dialah yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta kesempatan untuk terus beribadah kepada-Nya.

Tidak ada karunia yang lebih berharga daripada iman yang tertanam di hati dan kemampuan untuk menjalani hidup dalam ketaatan kepada Allah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik bagi umat manusia. Melalui beliau, kita mengenal jalan hidup yang benar, jalan yang membawa manusia menuju kebahagiaan dunia dan keselamatan di akhirat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan telah berlalu. Namun semangat ibadah yang kita jalani selama bulan suci tidak boleh ikut berlalu. Puasa, tadarus Al-Qur’an, infak, zakat, dzikir, dan berbagai amal saleh yang kita lakukan di bulan Ramadhan sesungguhnya bukan sekadar ibadah musiman. Semua itu diarahkan kepada satu tujuan besar: membentuk pribadi yang bertakwa.

Allah SWT mengingatkan kita agar menjalani Islam secara utuh dan tidak setengah-setengah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam bukan sekadar label atau identitas, melainkan jalan hidup yang harus dijalankan sepenuhnya. Takwa bukan hanya hadir dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap hidup, cara berpikir, dan perilaku sosial.

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Takwa adalah derajat mulia yang ingin dicapai oleh setiap mukmin. Bahkan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada manusia-manusia tertentu yang dirindukan oleh surga. Beliau bersabda:

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِي الْقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ، وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ، وَصَائِمٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

“Surga merindukan empat golongan manusia: orang yang membaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lisannya, orang yang memberi makan orang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.”

Hadis ini menggambarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak hanya tampak dalam ibadah personal, tetapi juga dalam kepedulian sosial dan akhlak yang baik.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Salah satu tanda utama orang bertakwa adalah kuatnya tauhid dalam dirinya. Ia meneguhkan keyakinan bahwa tidak ada yang layak disembah selain Allah. Hatinya tidak bergantung kepada kekuasaan, kekayaan, ataupun manusia, melainkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ dengan ikhlas mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tauhid yang kuat membuat seorang mukmin mampu menghadapi berbagai keadaan hidup dengan sikap yang seimbang. Ketika memperoleh nikmat ia bersyukur, dan ketika menghadapi kesulitan ia bersabar.

Rasulullah juga mengingatkan agar iman senantiasa diperbarui. Beliau bersabda:

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ … أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Perbaruilah iman kalian.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana cara memperbarui iman?” Beliau menjawab, “Perbanyaklah mengucapkan Laa ilaha illallah.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ciri lain dari orang bertakwa adalah akhlak yang mulia. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya.

Ketika Rasulullah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab:

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Akhlak Rasulullah sendiri adalah gambaran nyata dari ajaran Al-Qur’an. Ketika seseorang bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Nabi, beliau menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Orang bertakwa juga memiliki kedekatan spiritual yang kuat dengan Allah melalui ibadah. Ia menjaga shalat wajib, memperbanyak ibadah sunnah, membaca Al-Qur’an, dan menghidupkan hatinya dengan dzikir.

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya. Dan ia terus mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Salah satu ibadah yang memiliki kedudukan tinggi adalah shalat malam. Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat di tengah malam.” (HR. Muslim)

Selain itu, Al-Qur’an menjadi cahaya bagi kehidupan seorang mukmin. Rasulullah bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dzikir juga menjadi sumber ketenangan hati. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Takwa tidak berhenti pada kesalehan pribadi. Orang bertakwa juga memiliki kepedulian untuk mengajak manusia menuju kebaikan.

Allah berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Fussilat: 33)

Dakwah tidak selalu berarti ceramah di mimbar. Dakwah bisa dilakukan dengan teladan, dengan nasihat yang baik, dengan mengajak keluarga dan masyarakat menuju kebaikan.

Rasulullah bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Jika nilai-nilai takwa tumbuh dalam diri seorang individu, maka ia akan melahirkan kehidupan yang baik. Allah menjanjikan:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Kehidupan yang baik ini bermula dari pribadi yang saleh, lalu melahirkan keluarga yang penuh kasih sayang, masyarakat yang diberkahi, hingga negeri yang damai.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ

“Allah menyeru manusia menuju negeri keselamatan.” (QS. Yunus: 25)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita menjaga nilai-nilai yang telah kita bangun selama Ramadhan. Jadikan iman semakin kuat, akhlak semakin baik, ibadah semakin kokoh, dan kepedulian sosial semakin luas.

Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa, yang hidupnya dipenuhi kebaikan dan kelak dipanggil memasuki surga-Nya dengan penuh kemuliaan. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Hidayatullah Serukan Gerakan Siaga dan Hemat Energi di Tengah Eskalasi Global

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nanang Noepatria, M.Pd, menyampaikan seruan kepada warga dan seluruh kader serta jaringan lembaga Hidayatullah di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan energi nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis, 6 Syawal (26/3/2026), menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada stabilitas pasar energi global.

Nanang menekankan bahwa eskalasi konflik di kawasan penghasil energi utama dunia berpotensi memengaruhi rantai pasok bahan bakar minyak global. Gangguan distribusi energi tersebut bahkan telah memicu lonjakan harga minyak dunia serta menimbulkan kekhawatiran terjadinya kelangkaan bahan bakar di sejumlah negara.

Laporan internasional menunjukkan bahwa konflik di kawasan tersebut telah mengganggu pasokan energi global hingga sekitar 12 juta barel per hari, atau sekitar 12 persen dari total permintaan minyak dunia.

Selain itu, penutupan atau pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia—memperburuk tekanan terhadap pasar energi global dan mendorong harga minyak melampaui 100 dolar per barel.

Nanang menjelaskan bahwa struktur energi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap impor minyak dan bahan bakar. Data sektor energi menunjukkan bahwa kebutuhan BBM nasional pada 2025 mencapai rata-rata sekitar 232.417 kiloliter per hari, dengan hampir setengah kebutuhan tersebut dipenuhi melalui impor.

Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi minyak Indonesia terus meningkat, dengan penggunaan minyak mencapai sekitar 1,63 juta barel per hari pada 2024.

Berdasarkan kondisi tersebut, Nanang mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk melakukan langkah antisipatif melalui penghematan energi secara kolektif.

“Kami mengajak setiap warga dan keluarga kader Hidayatullah memastikan pemanfaatan energi di rumah benar-benar dalam mode hemat, baik listrik maupun energi lainnya. Kesadaran kolektif ini penting sebagai bagian dari tanggung jawab sosial menghadapi situasi global yang tidak menentu,” ujar Nanang.

Ia menambahkan bahwa gerakan penghematan energi tidak hanya dilakukan pada tingkat keluarga, tetapi juga di seluruh jaringan lembaga Hidayatullah di Indonesia. Ribuan Rumah Qur’an, pondok pesantren, kantor organisasi, serta lembaga pendidikan yang berada dalam jaringan Hidayatullah diminta menerapkan kebijakan serupa.

Menurut Nanang, langkah tersebut mencakup pengaturan penggunaan listrik secara efisien, pengurangan konsumsi energi yang tidak mendesak, serta penyesuaian aktivitas operasional agar lebih hemat energi.

“Semua kantor, pondok pesantren, dan ribuan Rumah Qur’an di bawah jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia diharapkan melakukan hal yang sama sebagai bentuk disiplin kolektif dalam menghadapi potensi gangguan pasokan energi,” katanya.

Seruan tersebut juga sejalan dengan rekomendasi lembaga energi internasional yang mendorong negara-negara dan masyarakat untuk mengurangi konsumsi energi, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar, serta memanfaatkan energi secara lebih rasional selama periode krisis energi global.

Melalui langkah tersebut, Hidayatullah berharap jaringan masyarakat sipil dapat berkontribusi dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tengah dinamika global yang berdampak pada sektor energi.

Nanang menegaskan bahwa disiplin penggunaan energi merupakan bagian dari upaya bersama untuk menghadapi ketidakpastian pasokan energi dunia serta menjaga ketahanan energi nasional.

Ubah Foto Menjadi Kartun agar Pembelajaran Lebih Visual dan Menarik

0

Pembelajaran visual sangat membantu meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa. Metode pengajaran konvensional yang dipenuhi teks sering kali kurang menarik dan kurang melibatkan siswa. Visual bergaya kartun dapat membuat pelajaran lebih menyenangkan serta mudah dipahami karena mampu menyederhanakan konsep yang rumit. Dengan Pippit, guru dapat mengubah foto biasa menjadi gambar pembelajaran yang personal dan menarik. Pendekatan ini membantu meningkatkan pengalaman belajar di kelas sekaligus menumbuhkan kreativitas dan rasa ingin tahu. Penambahan visual kartun pada materi belajar juga membuat proses belajar lebih interaktif, imersif, dan mudah diingat sehingga membantu menjembatani konsep abstrak dengan pemahaman siswa.

Pentingnya Pembelajaran Visual dalam Pendidikan Modern

Pembelajaran visual berperan penting dalam membantu siswa memahami konsep abstrak karena menghadirkan contoh ilustratif yang jelas. Contoh visual dapat menarik perhatian siswa sekaligus mendorong pemikiran kreatif. Grafik kartun sangat efektif untuk menjelaskan konsep kepada pelajar usia muda. Teknik storytelling juga menjadi lebih mudah diingat ketika visual digunakan dalam materi pendidikan. Alat seperti Pippit memungkinkan guru edit foto jadi kartun secara instan sehingga visual pembelajaran terlihat lebih menarik. Media visual dalam proses belajar mengajar juga dapat menyesuaikan berbagai gaya belajar, sehingga siswa yang cenderung visual maupun auditori dapat memahami materi dengan
lebih baik. Gambar interaktif sering memberi motivasi tambahan yang berdampak positif pada performa belajar secara keseluruhan.

Manfaat Visual Kartun dalam Materi Pengajaran

Gambar kartun membantu menggambarkan konsep yang kompleks melalui ilustrasi yang lebih sederhana. Visual seperti ini dapat memicu diskusi kelas dan kerja kelompok. Materi pembelajaran seperti slide, lembar kerja, dan presentasi menjadi lebih menarik ketika dilengkapi ilustrasi kartun. Lingkungan pembelajaran digital juga terasa lebih hidup ketika materi multimedia menggunakan visual bergaya kartun. Guru dapat memanfaatkan fitur Pippit untuk edit foto background, sehingga gambar kartun dapat disesuaikan dengan tema pelajaran. Visual berbentuk gambar membantu siswa menghubungkan konsep dengan hal yang mudah diingat sehingga informasi lebih mudah tersimpan dalam ingatan. Pembelajaran jarak jauh atau hybrid juga menjadi lebih menarik karena kartun mampu melibatkan siswa dari berbagai usia.

Bagaimana Gambar Kartun Mendukung Berbagai Gaya Mengajar

Penggunaan gambar kartun memudahkan metode pengajaran berbasis cerita karena karakter dan situasi dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar yang menyenangkan. Ilustrasi visual membantu siswa memahami konsep abstrak dengan cara yang lebih konkret. Demonstrasi visual juga sangat bermanfaat dalam mata pelajaran sains dan teknologi untuk menjelaskan proses atau mekanisme. Diagram bergambar dapat membantu siswa mempelajari topik yang sulit seperti matematika atau biologi dengan lebih mudah. Penggunaan platform seperti Pippit bersama pemotong video online juga memungkinkan pendidik memasukkan kartun animasi ke dalam video pembelajaran sehingga variasi metode pengajaran menjadi lebih kaya dan menarik secara visual. Pendekatan project-based learning juga dapat diterapkan melalui ilustrasi kartun ketika siswa diminta membuat gambar untuk menjelaskan materi yang mereka pelajari.

Langkah Membuat Kartun dari Foto agar Pelajaran Lebih Visual dan Menarik

Langkah 1: Tambahkan gambar pengajaran ke editor

  1. Masuk ke akun Pippit lalu buka Studio Gambar dari panel navigasi dashboard.
  2. Klik Editor Gambar pada bagian Alat Cepat untuk mulai mengubah gambar pembelajaran dengan mudah.
  3. Pilih ukuran rasio aspek yang diinginkan atau tata letak preset yang sesuai untuk presentasi atau visual kelas.
  4. Impor gambar dengan memilih Unggah Gambar atau seret langsung dari penyimpanan perangkat.

Langkah 2: Ubah gambar menjadi visual kartun edukatif

  1. Setelah gambar diunggah, buka Alat Cerdas pada panel pengeditan di sisi kanan.
  2. Pilih Transfer Gaya Gambar untuk menerapkan efek kartun berbasis AI pada visual pembelajaran.
  3. Pilih gaya seperti Hong Kong, Oil painting, atau Manga sesuai dengan tema pelajaran.
  4. Tingkatkan kejelasan visual dengan memotong gambar, menyesuaikan kecerahan, menambahkan label, atau menerapkan filter selama proses pembuatan kartun.

Langkah 3: Ekspor visual untuk kelas atau presentasi

  1. Setelah proses pengeditan selesai, klik Unduh Semua pada bagian kanan atas.
  1. Pilih pengaturan format, ukuran, dan kualitas yang sesuai untuk slide, lembar kerja, atau pelajaran daring.
  1. Klik Unduh untuk mengekspor file resolusi tinggi atau gunakan opsi Salin sebagai PNG.

Penggunaan Praktis Gambar Kartun di Kelas

  • Cerita sejarah menjadi lebih mudah diingat ketika peristiwa divisualisasikan melalui ilustrasi kartun.
  • Avatar kartun yang mewakili tokoh dalam pelajaran sastra dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap karakter cerita.
  • Konsep kompleks dapat dijelaskan melalui diagram sains dengan visual kartun yang lebih sederhana.
  • Keterlibatan siswa meningkat ketika pelajaran disampaikan melalui ilustrasi visual yang interaktif.

Presentasi kelas yang terasa membosankan dapat menjadi lebih menarik dengan bantuan gambar kartun. Guru dapat membuat setiap topik terasa lebih hidup dan membantu menyederhanakan materi yang sulit atau abstrak. Visual tersebut juga mudah disesuaikan dengan berbagai rencana pelajaran menggunakan Pippit sehingga proses belajar menjadi lebih dinamis bagi guru maupun siswa.

Kesimpulan

Grafik kartun memberikan pendekatan baru dalam proses belajar karena membuat pelajaran lebih interaktif. Pendidik dapat menciptakan materi pendidikan yang menarik secara visual dengan bantuan alat berbasis AI seperti Pippit. Penggunaan kartun membantu meningkatkan pemahaman, imajinasi, serta keterlibatan siswa di kelas. Foto yang diubah menjadi visual kartun mampu menarik perhatian siswa sekaligus membangkitkan minat belajar. Visual storytelling dalam pengajaran membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan dan membantu siswa mengingat konsep dengan lebih baik. Pendekatan ini menjadi cara belajar modern yang kreatif dan menarik.

Perubahan Geopolitik Global dan Pertanyaan tentang Masa Depan Peradaban Dunia

0

DUNIA tak pernah statis. Sejarah dan realitas kekinian menunjukkan bahwa peradaban manusia selalu datang silih berganti. Peristiwa perang Iran memunculkan spekulasi bahwa tatanan dunia baru akan segera terbentuk, terlepas dari siapa yang unggul.

Dalam konteks tersebut, pandangan Ibn Khaldun tentang siklus peradaban terasa semakin relevan, terutama jika dibandingkan dengan tesis Francis Fukuyama yang menyatakan bahwa peradaban Barat merupakan akhir sejarah manusia melalui bukunya, “The End of History and the Last Man”.

Pertanyaan berikutnya, mungkinkah Amerika Serikat akan tetap dominan dalam konflik ini?

Jika melihat dinamika yang berkembang, muncul indikasi bahwa Iran memiliki daya tahan militer dan kesiapan konflik yang cukup tinggi. Kemampuan Iran merespons serangan menunjukkan bahwa konflik ini tidak berjalan satu arah.

Di sisi lain, jika dilihat dari aspek politik domestik, publik global melihat bahwa Trump menghadapi tantangan dalam membangun konsensus politik domestik. Pada saat yang sama pemimpin Iran tidak mengalami tekanan semacam itu.

Isu penolakan opsi perang terhadap Iran selain menjadi aspirasi sebagian besar warga negara AS, keputusan perang itu sendiri tak melalui mekanisme yang seharusnya melibatkan persetujuan kongres. Dalam kata yang lain secara internal Trump lebih problematik daripada pemimpin Iran, terutama secara politik domestik.

Pada saat yang sama, dinamika di tingkat aliansi juga menunjukkan gejala yang menarik. Spanyol, sebagai sekutu AS di Eropa, mengambil posisi berbeda dengan Trump.

Alhasil, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menolak keinginan Trump menjadikan pangkalan militer Spanyol, yaitu Pangkalan Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Angkatan Udara Morón, sebagai basis dalam operasi militer melawan Iran. “Not to war,” tegas Sanchez.

Sikap Sanchez ini seakan menjadi tanda bahwa pengaruh AS bahkan di kalangan sekutunya, mulai kendur dan bahkan pudar. Jika ini gagal diatasi, maka perpecahan aliansi penting ini sudah sampai pada ajalnya.

Jika Amerika Serikat mengalami pelemahan dalam konflik ini, maka dampaknya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan geopolitik. Spekulasi dominasi Barat memudar pun akan semakin kuat. Setidaknya bermula dari dua hal. Pertama, sisi ekonomi.

Sangat mungkin mata uang dunia akan bergeser dari Dollar ke Yuan. Kondisi seperti itu tentu akan melemahkan kekuatan AS sendiri dalam banyak aspek kehidupan.

Kedua, dunia akan memandang bahwa kalahnya AS adalah babak baru munculnya dominasi baru di tingkat global. Pertanyaannya nilai apa yang akan mendominasi itu? Apakah otomatis Iran akan menjadi super power baru?

Peradaban Baru

Dalam konstalasi peradaban besar, dunia hari ini memandang setidaknya ada tiga, yaitu Islam, Barat dan Komunis. Kalau kita cermati, komunis sudah lama tumbang, meski masih menyisakan residu.

Sedangkan Barat, sepertinya sedang dalam kondisi “sakaratul maut”. Tinggal satu lagi, yaitu Islam. Peradaban Islam terakhir kali runtuh kala Khilafah Utsmaniyah jatuh pada 1924. Kini telah memasuki masa 100 tahun berlalu dan Islam belum tampil sebagai peradaban yang dominan.

Jika konflik ini benar-benar melemahkan dominasi Barat, pertanyaan berikutnya bukan hanya siapa yang menang, tetapi nilai dan peradaban apa yang siap mengisi ruang yang kosong. Apakah Islam akan kembali tampil sebagai peradaban yang mewarnai dunia?

Peradaban Islam akan tampil kembali jika ada pemimpin dan masyarakat yng memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan dengan tulus dan jujur. Kalau meminjam pandangan Malik Bin Nabi, peradaban itu akan bangkit kalau ada kepemimpinan ruh.

Hanya dengan kepemimpinan ruh sebuah peradaban akan terhindar dari noda-noda moral. Kemudian yang mengembangkan nilai dan pengaruh peradaban itu sendiri adalah akal.

Jika syarat kebangkitan peradaban adalah ruh dan akal, maka pertanyaan praktisnya: siapa yang mulai menyiapkannya dari sekarang?

Tentu kita tidak perlu terburu-buru mencari jawaban, bangsa dan negara mana dari umat Islam yang telah sampai pada kekuatan ruh dan akal itu. Akan tetapi, itulah dua syarat yang harus segera umat Islam miliki, jika ingin peradaban Islam kembali memimpin dunia.

Namanya memimpin, tentu saja mesti ada keunggulan, ruh dan akal. Itulah yang harus diasah terus menerus sampai lahir generasi yang kompeten, mumpuni, dan siap mewujudkan peradaban Islam dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks Indonesia, apakah negara mampu melakukan ini? Atau, inilah kesempatan gerakan Islam untuk segera siaga menyiapkan diri?

Napas Panjang

Menyadari penjelasan tersebut, perjalanan munculnya peradaban baru masih memerlukan napas panjang. Tidak ada istilah otomatis apalagi cepat dalam hal jatuhnya satu peradaban yang disusul atau digantikan oleh peradaban lainnya.

Oleh karena itu, perang Iran ini harus menjadi alarm bagi segenap umat Islam untuk melakukan konsolidasi secara intens dan berkelanjutan.

Dalam konteks peradaban, sebuah bangsa atau negara perlu mengorkestrasi keunggulan pada semua sisi. Tidak cukup hanya politik dan militer, tetapi juga spiritual dan ilmu pengetahuan, sebagaimana pandangan Malik Bin Nabi. Pertanyaan yang lebih dalam, bagaimana dengan umat Islam di Indonesia?

Kita tentu saja harus memandang dengan optimisme dan melakukan berbagai persiapan moral dan intelektual secara sungguh-sungguh. Umat Islam di Indonesia mesti menyiapkan konsep, gagasan, bahkan roadmap untuk masa depan dunia ke depan.

Sejauh hasil dari semua itu memang ilmiah dan bisa diterima secara universal dengan basis data dan argumen yang kokoh, dunia akan menerima. Bahkan boleh jadi dunia sudah lama menantikan itu.

Apakah yang dimaksud itu? Itu bisa bermakna ekonomi yang berkeadilan, politik yang berkadaban, serta kekuasaan yang berhati nurani.

Itulah yang harus jadi kesadaran dan konsentrasi kita ke depan. Agar ketika perang usai, nilai baru telah siap kita susun dan tawarkan.[]

Mas Imam Nawawi

Membangun Tradisi Berpikir Peradaban Islam di Tengah Krisis Global

0

MENGAPA umat Islam sibuk tapi tidak menentukan? Salah satu penyebabnya adalah lemahnya tradisi berpikir peradaban di kalangan umat Islam.

Berpikir peradaban adalah upaya membangun tradisi intelektual untuk mewujudkan sistem nilai Islam dalam kehidupan sosial secara konkret.

Tujuannya, bukan untuk nostalgia, melainkan untuk menjawab krisis global kontemporer, baik dalam aspek moral, lingkungan, maupun kemanusiaan.

Dalam konteks geopolitik global saat ini, konflik antarnegara sering kali tidak menawarkan solusi peradaban. Perlahan mari berpikir sejenak, apa yang akan Amerika tawarkan kepada dunia andaikata Iran kalah.

Bagaimana juga Iran akan memberikan tawaran solusi bagi dunia kalau pun negeri para mullah itu menang. Publik menilai bahwa konflik antara Amerika, Iran, dan Israel menunjukkan keterbatasan pendekatan militer dalam menyelesaikan problem global.

Oleh karena itu, merespon situasi yang berkembang tersebut, mesti ada sebagin dari umat ini yang bergerak sesuai visi, kapasitas dan peluang kontribusi konkretnya kepada dunia benar-benar diupayakan.

Artinya, sekarang ini, diperlukan aktor-aktor intelektual dalam umat Islam yang mampu menawarkan solusi berbasis nilai, bukan kekuatan militer.

Nah, dalam konteks gerakan Islam kontemporer, organisasi seperti Hidayatullah memiliki peluang strategis.

Hidayatullah dengan visi membangun peradaban Islam, sudah semestinya segera melakukan rekonsiliasi bagaimana eksistensinya memberi manfaat bagi bangsa dan dunia dengan menawarkan nilai-nilai peradaban yang diusung selama ini.

Cara Berpikir Ibn Khaldun

Salah satu rujukan penting dalam membangun tradisi berpikir peradaban adalah Ibn Khaldun. Sekarang mari kita perhatikan, mengapa orang merasa perlu membuka pemikiran Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan dan pemikir besar abad ke-14 M. Hal itu karena dia dikenal luas dengan kontribusinya dalam bidang sejarah, sosiologi, ekonomi, dan politik.

Dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, ia mengemukakan teori peradaban yang mengintegrasikan konsep-konsep kekuasaan, ekonomi, moralitas, dan solidaritas sosial (‘asabiyyah), yang memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika masyarakat dan peradaban.

Kalau kita mau meminjam pemikiran Ibn Khaldun, maka sebagai sebuah usulan menjaga peradaban dunia tetap eksis dengan nilai yang seharusnya. Idealnya ada dari umat ini yang menawarkan pendekatan berbasis nilai, bukan dominasi kekuatan (baca militer).

Soal Amerika, Israel dan Iran sudah terlanjur basah dalam arena peperangan, itu hal lain. Akan tetapi sebagai kontribusi pemikiran, langkah ini penting. Sebab perang akan berlalu. Kalau dunia terkuras fokusnya pada perang, maka kita harus menyiapkan fokus pada tatanan nilai peradaban yang menjawab krisis besar ini.

Dalam kata yang lain berpikir peradaban artinya kita punya fokus pada apa yang substansi, bukan pada apa yang sedang menjadi tren dan sensasi. Prinsip ini sejalan dengan konsep Al-Qur’an yang mengharuskan kita fokus pada yang esensial.

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d: 17).

Implementasikan Iqra’ Bismirabbik

Dalam kerangka epistemologi Islam, Hidayatullah mengenal surah Al-‘Alaq sebagai basis membangun kesadaran Muslim. Ayat pertama isinya sangat tegas; Iqra’ bismirabbik!.

Perintah itu semestinya menjadi agenda implementasi paling mendasar dalam kelangsungan kiprah kader dan jamaah. Pertanyaannya bagaimana caranya?

Pertama, mulai membangun tradisi membaca dan menulis secara intens. Langkah ini penting agar ada yang namanya ketangguhan berpikir.

Dalam konteks Iran melawan AS dan Israel, kita dapat mengkap apa yang namanya resiliensi intelektual. Kita tahu Iran adalah negara yang memiliki tradisi berpikir filsafat sangat baik. Bahkan kini mampu menjawab tantangan militer dari Amerika sekalipun.

Kedua, membangun forum-forum ilmiah yang merangsang kesadaran akan visi segenap kader dan jamaah semakin kokoh dalam memahami manhaj gerakan. Dengan begitu akan lahir satu superioritas yang kuat dalam hal visi dan nilai.

Penulis peradaban dari Hidayatullah, Suharsono Darbi, sering memberikan ilustrasi bahwa masyarakat yang superior akan memberi warna kepada masyarakat yang inferior. Begitu pun dalam hal peradaban. Dan dalam perspektif sosiologi peradaban, masyarakat yang memiliki keunggulan intelektual cenderung mendominasi yang lain.

Membuktikan hal itu, bisa kita cek sejarah Indonesia. Ketika Belanda datang ke Indonesia dengan kemajuan teknologi dan militer, maka bangsa ini menjadi inferior. Bukan karena secara ideologi bangsa ini kalah unggul secara nilai, tapi karena memang belum memiliki kesataraan intelektual dalam hal militer, teknologi, bahkan peradaban itu sendiri.

Dan, kalau merujuk pada pemikiran Ibn Khaldun, maka tugas kita sekarang adalah bagaimana memiliki pemahaman mendalam dan utuh tentang konsep-konsep kekuasaan, ekonomi, moralitas, dan solidaritas sosial (‘asabiyyah).

Dengan cara seperti itu, kita tidak sekadar menonton perang yang terjadi, tapi kita juga menyiapkan roadmap kesadaran berpikir bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia dengan tradisi berpikir peradaban yang kita perjuangkan. Tanpa tradisi berpikir peradaban, umat hanya akan menjadi penonton dalam dinamika global.[]

Mas Imam Nawawi

Hidayatullah Tuntaskan 9.541 Layanan Dakwah Selama Ramadhan di Pedalaman Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pembinaan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Iwan Abdullah, M.Si, secara resmi menutup Program Dakwah Pedaalaman Ramadhan 1447 Hijriah pada Jum’at (20/3/2026). Penutupan ini dilaksanakan bertepatan dengan berakhirnya seluruh rangkaian agenda pengabdian dai di berbagai penjuru nusantara selama bulan suci.

Dalam keterangannya, Iwan Abdullah memaparkan laporan jangkauan dakwah dalam membina umat selama bulan suci melalui sinergi Hidayatullah antarwilayah.

Berdasarkan data yang dihimpun secara nasional dari berbagai titik pengabdian, total layanan dakwah yang telah terealisasi mencapai angka 9541 aktivitas. Capaian ini mencakup berbagai instrumen pembinaan ibadah dan literasi keagamaan yang tersebar secara merata dari wilayah barat hingga timur Indonesia.

Tercatat bahwa para dai telah menyelenggarakan 1234 sesi kultum subuh dan 4132 sesi kultum tarawih di masjid-masjid pelayanan yang menjadi basis pembinaan jamaah. Selain itu, peran aktif para kader dalam memimpin ibadah terlihat dari partisipasi 3665 imam tarawih yang bertugas secara konsisten sepanjang bulan Ramadhan.

“Keberhasilan akumulatif sebanyak 9541 layanan yang terdata ini merupakan indikator empiris atas efektivitas mobilisasi dai Hidayatullah dalam merespons kebutuhan spiritual publik yang sangat tinggi selama bulan suci,” kata Iwan.

Peningkatan frekuensi kultum tarawih hingga mencapai angka 4132 sesi merefleksikan bahwa penetrasi nilai-nilai keislaman telah mencapai titik jangkauan yang luas dan inklusif di berbagai lapisan demografis masyarakat.

Secara substansial, kata dia, fenomena ini menjadi basis fundamental bagi Departemen Pembinaan DPP Hidayatullah untuk memformulasikan stratifikasi program dakwah berkelanjutan pasca Ramadhan agar kualitas spiritualitas umat dapat terakomodasi secara sistemik dan institusional.

Lebih lanjut, laporan tersebut menonjolkan beberapa wilayah dengan aktivitas dakwah yang sangat dinamis. Kalimantan Timur tercatat sebagai wilayah dengan partisipasi tertinggi, yang menyumbangkan 438 kultum subuh serta 1889 sesi kultum tarawih. Di wilayah lain, Sumatera Utara melaporkan pelaksanaan 53 sesi kultum tarawih yang didukung oleh 53 imam tarawih untuk melayani jamaah setempat.

Di wilayah timur Indonesia, Papua Tengah turut berkontribusi secara stabil dengan menyelenggarakan 12 sesi kultum tarawih dan melibatkan 12 imam tarawih dalam pelayanan mereka. Sementara itu, Sulawesi Tenggara mencatat aktivitas yang cukup masif dengan 231 sesi kultum tarawih.

Iwan Abdullah juga mengapresiasi kesiapan para dai dalam menyambut hari kemenangan, di mana sebanyak 472 khatib Idul Fitri telah disiapkan untuk melayani masyarakat di berbagai lapangan dan masjid.

Mengakhiri keterangannya, Iwan menekankan bahwa data layanan selama Ramadhan yang sempat tercatat ini tidaklah seberapa dibanding dengan besarnya kebutuhan umat dan luasnya tantangan sebaran wilayah yang ada.

Sehingga, dia mendorong penguatan komitmen dalam melakukan pembinaan umat yang berkelanjutan, terukur, dan berdampak luas bagi kemaslahatan bangsa. Program ini diharapkan dia menjadi modalitas sosial dan spiritual bagi pembangunan masyarakat di masa depan.