Beranda blog Halaman 3

Rakerwil Maluku, Muslimat Hidayatullah Didorong Hadir dan Adaptif Hadapi Perubahan Zaman

0

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku, Naharuddin, menegaskan bahwa Muslimat Hidayatullah harus hadir sebagai pelaku perubahan dengan pendekatan yang relevan terhadap zaman. Pernyataan tersebut disampaikan dia saat membuka Rapat Kerja Wilayah Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Maluku digelar selama dua hari yang dibuka pada Sabtu, 21 Dzulqa’dah 1447 (9/5/2026).

Dalam sambutannya, Naharuddin menyebut rapat kerja wilayah bukan sekadar agenda administratif organisasi melainkan momentum konsolidasi perjuangan, penguatan jati diri, dan peneguhan arah gerak Muslimat Hidayatullah. Ia menyoroti posisi Hidayatullah yang telah memasuki usia 50 tahun kedua perjalanan organisasi.

“Hidayatullah tidak lagi hanya dituntut bertahan, tetapi harus mampu melompat lebih jauh, lebih matang, dan lebih memberi pengaruh bagi peradaban,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa organisasi saat ini menghadapi tantangan internal berupa percepatan organisasi, penguatan sumber daya insani, serta kebutuhan regenerasi kepemimpinan dan kaderisasi. Menurutnya, organisasi besar harus mampu melahirkan generasi penerus yang kuat secara ruhiyah, intelektual, dan profesional.

Selain itu, Naharuddin juga menyoroti perubahan eksternal yang berlangsung cepat akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang memengaruhi pola hidup, pola belajar, hingga pola dakwah masyarakat. Ia turut menyinggung kondisi ekonomi yang menurutnya menghadirkan tekanan sosial di tengah keluarga dan umat.

Dalam forum tersebut, ia menegaskan posisi strategis Muslimat Hidayatullah dalam pembentukan keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Kita tidak boleh menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Muslimat Hidayatullah harus hadir sebagai pelaku perubahan. Mandiri dalam pemikiran, kuat dalam spiritualitas, matang dalam organisasi, dan luas pengaruhnya di tengah masyarakat,” katanya.

Naharuddin juga mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menekankan pentingnya iman dan ilmu sebagai fondasi penguatan umat. Ia mendorong Muslimat Hidayatullah Maluku mempersiapkan penguatan keluarga Qur’ani, pendidikan bertauhid, dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, serta penguatan sistem organisasi dan kemandirian ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Wulan Sari, yang hadir secara virtual menyampaikan bahwa Muslimat memiliki peran sentral dalam keluarga, pendidikan, dan masyarakat.

“Transformasi organisasi harus memberi ruang untuk tampil mandiri namun tetap menjaga kultur yang menjadi diri Hidayatullah,” ujarnya yang mendampingi forum ini hingga usai.[]

Kunjungan PP Mushida ke Institut Muslim Cendekia Perkuat Ukhuwah dan Dakwah Mahasiswi

0

SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah berkunjung ke kampus Institut Muslim Cendekia (IMC) Sukabumi, Jawa Barat, pada Sabtu, 21 Dzulqa’dah 1447 (9/5/2026). Kunjungan tersebut diisi dengan agenda pembinaan, pengarahan, dan motivasi kepada 30 mahasiswi Institut Muslim Cendekia yang merupakan kader Hidayatullah dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat ukhuwah dan penguatan dakwah di kalangan mahasiswi. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Bidang Keputrian PP Muslimat Hidayatullah, Mutiah Najwati, S.H.I., M.Pd., menjelaskan posisi Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung Hidayatullah yang telah hadir di 38 provinsi dengan sekitar 310 pengurus daerah di seluruh Indonesia.

“Mushida bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, dan pemberdayaan perempuan,” ujarnya di hadapan peserta kegiatan.

Ia juga menerangkan bahwa Muslimat Hidayatullah memiliki enam visi organisasi yang dijalankan melalui berbagai program untuk mendukung visi besar pembangunan keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam. Dalam arahannya, Mutiah Najwati mendorong para mahasiswi untuk menjaga konsistensi dalam menuntut ilmu serta mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya, semoga adik-adik mahasiswi istiqamah dalam menuntut ilmu serta mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Selain penguatan akademik dan dakwah, para mahasiswi juga diarahkan untuk menjadi bagian dari keberlanjutan perjuangan Muslimat Hidayatullah di masa mendatang.

Salah satu peserta, Rufaidah Amani, mahasiswi semester dua asal Jakarta, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. “Alhamdulillah, terima kasih kepada para ustadzah atas kunjungannya dengan membawa materi-materi bermanfaat yang sangat luar biasa. Semoga kunjungan ini bisa menjadi wasilah untuk memperkuat silaturahmi,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Davina Naylah Izzah, mahasiswi semester dua asal Balikpapan. “Alhamdulillah, kami sangat senang dan berterima kasih atas kesempatan ustadzah sekalian yang telah meluangkan waktunya untuk bersilaturahmi ke tempat kami,” ungkapnya.[]

Yayasan Al-Firdaus Hidayatullah Serpong Buka Beasiswa Penuh untuk Santri Dhuafa dan Berprestasi

SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Pendidikan Integral Al-Firdaus Pondok Pesantren Hidayatullah Serpong, Kota Tangerang Selatan, menghadirkan program beasiswa penuh bagi santri berprestasi, berakhlak baik, dan berasal dari keluarga kurang mampu melalui Program Beasiswa Anak Kader Prestasi.

Program ini dibuka sebagai bagian dari upaya kaderisasi pendidikan dan penguatan akses pembelajaran bagi peserta didik yang memiliki potensi akademik dan keagamaan.

Melalui program tersebut, yayasan mengajak para asatidzah untuk merekomendasikan santri terbaiknya agar melanjutkan pendidikan di Sekolah Integral Al-Firdaus Serpong.

Lembaga pendidikan ini menerapkan sistem pendidikan integral yang memadukan penguatan akademik, pembinaan tauhid, serta pembentukan karakter Islami dalam proses pembelajaran.

Ketua Yayasan Al-Firdaus Serpong, Muhammad Irwan, menjelaskan bahwa program beasiswa ini merupakan bentuk komitmen lembaga dalam mendukung keberlanjutan pendidikan kader umat.

“Kami menyediakan beasiswa penuh bagi santri yang berprestasi, memiliki akhlak yang baik, dan berasal dari keluarga kurang mampu sebagai bagian dari ikhtiar kaderisasi pendidikan,” katanya dalam keterangannya, Sabtu, 21 Dzulqa’dah 1447 (9/5/2026).

Muhammad Irwan menambahkan bahwa program tersebut dihadirkan agar potensi peserta didik tidak terhenti akibat keterbatasan ekonomi.

Menurut Irwan, pendidikan di lingkungan Al-Firdaus dirancang untuk membentuk lulusan yang memiliki kemampuan akademik sekaligus kesiapan menjadi kader dakwah dan calon pemimpin umat. Ia menegaskan bahwa penguatan ilmu pengetahuan, akhlak, dan wawasan keislaman menjadi bagian penting dalam proses pendidikan yang dijalankan lembaga.

Program beasiswa tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan berbasis pesantren bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan pembiayaan pendidikan.

Yayasan membuka ruang partisipasi masyarakat dan tenaga pendidik untuk terlibat melalui rekomendasi santri, dukungan informasi, serta penguatan jaringan pendidikan yang dapat membantu menjangkau calon peserta didik potensial.

Dia menambahkan, pendaftaran program dilakukan melalui jalur yang telah disediakan yayasan untuk tahun ajaran 2026–2027.

Informasi lebih lanjut disampaikan melalui kontak resmi yayasan dan saluran pendaftaran yang telah dibuka kepada masyarakat di tautan di sini dan kontak 08131963212 (putra) dan 081291349592 (putri).

Relevansi Organisasi dan Tantangan Individualisasi di Era Society 5.0

0

ERA Society 5.0 sudah dimulai sejak lama, tercatat tahun 2016. Akan tetapi gaungnya masih terasa. Paling tidak isu individualisasi masih berada di puncak perbincangan khalayak ramai. Bahkan dapat dikatakan isu individualisasi semakin menguat sejalan dengan menguatnya kepedulian terhadap kesehatan mental.

Dalam konteks perkaderan, individualisasi membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Sejumlah pertanyaan diajukan. Di seberang sana organisasi harus sudah memiliki jawabannya, jika organisasi ingin terus tumbuh bersama para kadernya.

Salah satu pertanyaan mendasar yang diajukan adalah urgensi dan relevansi organisasi saat ini, mengapa seseorang perlu menjadi kader di sebuah organisasi?

Beberapa perspektif dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Akan tetapi kali ini perspektif Qur’ani lebih dikedepankan. Agar fondasi ruhiyah dan ilmiahnya kuat.

Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 7 menyampaikan, “Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi diri kalian sendiri.”

Seseorang yang berbuat baik, maka baginya pahala. Semakin besar dampak sosial dari kebaikannya, maka pahalanya pun semakin besar. Di sisi lain kebaikan yang dilakukan individual biasanya memiliki dampak sosial terbatas.

Berbeda jika suatu kebaikan dilakukan secara kolektif yang terorganisir, dampaknya bisa sangat luas. Tidak hanya lintas ruang, keluasannya berpotensi melintasi waktu. Dengan seseorang mendukung gerakan kebaikan yang kolektif terorganisir, maka pahalanya akan kembali padanya jua.

Sebagai ikhtiar agar dukungan semakin konkret, jadi kader merupakan pilihan tepat. Karena dengan menjadi kader, peluang berpartisipasi secara total terbuka lebar. Bukan hanya pikiran yang disumbangkan, tapi juga dana, tak ketinggalan sumber daya lainnya.

Semoga, dengan semua partisipasi itu, Allah ta’ala akan semakin sayang kepadanya. Selanjutnya seluruh manusia akan sayang pula. Hidup terasakan kebaikannya, lahir dan batin.

Individualisasi dalam Narasi Kebijakan Organisasi

Organisasi punya kepentingan, baik secara internal ataupun eksternal. Kepentingan itu diwujudkan melalui program dan kebijakan organisasi. Sosialisasi kemudian dilakukan.

Dalam sosialisasi tersebut, narasi butuh disusun. Agar program dan kebijakan organisasi dapat dipahami secara utuh. Sehingga tindak lanjut, reviu, dan evaluasi lebih mudah dilakukan.

Sehubungan dengan individualisasi, sangat baik apabila organisasi menjadikan kader sebagai isu sentral. Bahwa program dan kebijakan organisasi memberikan manfaat kepada langsung, baik langsung ataupun tidak. Semoga koneksi organisasi dengan kader semakin kuat. Sehingga daya dukung kader kepada organisasi semakin kuat.

Tidak dipungkiri ada kesan bahwa organisasi berada di posisi melayani kader. Padahal pemahaman yang sudah umum itu sebaliknya, kaderlah yang memberikan pelayanan kepada organisasi melalui atensi dan kontribusi. Bahkan sebagian wujudnya berupa fasilitasi.

Menanggapi kesan tersebut, kiranya perlu diuraikan kembali perihal kepemimpinan Islami. Bahwa dalam Al-Qur’an dan hadits, ditemukan dua saja kewajiban makmum, yakni mendengar dan taat. Sedangkan kewajiban imam begitu banyak. Sebagiannya bersifat top-down semisal mobilisasi (taharrudh) dan sebagian lainnya bottom-up semisal pelayanan (khidmah).

Dengan demikian pelayanan organisasi kepada kader sebenarnya tidak bermasalah secara konsepsi ilmiah. Justru penyelarasan telah terjadi. Bahwa kepemimpinan berhasil diimplementasikan sesuai perkembangan zaman dengan penekanan yang lebih kuat pada sisi tertentu. Dalam hal ini sisi bottom-up lebih ditonjolkan.

Sebagai penutup, semoga pelayanan organisasi kepada kader ditempatkan sebagai investasi untuk keberlangsungan organisasi. Saat kader terlayani, semoga komitmen kader kepada organisasi meningkat kuat. Organisasi memiliki peluang lebih besar untuk terus eksis dan berpengaruh.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Rakornas 2026, Nanang Hanani Tekankan LSH Hidayatullah sebagai Penjaga Gerbang Halal Bangsa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, KH. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., menegaskan pentingnya penguatan tata kelola lembaga penyembelihan halal sebagai bagian dari upaya menjaga jaminan kehalalan pangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LSH Hidayatullah 2026 yang digelar secara hibrida dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 20 Dzulqaidah 1447 H (7/5/2026).

Nanang Hanani menjelaskan bahwa posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menuntut hadirnya sistem penyembelihan halal yang kuat, terstandar, dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, persoalan halal bukan hanya menyangkut aspek konsumsi, tetapi juga berkaitan dengan amanah keagamaan, perlindungan umat, dan keberlanjutan industri halal nasional.

Ia menegaskan bahwa LSH Hidayatullah memikul tanggung jawab strategis dalam memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai syariat Islam sekaligus memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.

“Lembaga Sembelih Halal Hidayatullah memiliki tugas penting yang menjaga gerbang halal bangsa,” ujarnya.

Nanang menjelaskan bahwa fungsi lembaga penyembelihan halal tidak berhenti pada aspek teknis pemotongan hewan. Dalam pandangannya, aktivitas tersebut merupakan bagian dari dakwah pelayanan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan dasar masyarakat Muslim.

Karena itu, ia menilai edukasi publik mengenai pentingnya jaminan halal harus terus diperluas agar kesadaran masyarakat terhadap proses halal tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga pada keseluruhan rantai prosesnya.

“Dakwah dan pelayanan kita adalah meningkatkan kontribusi kita pada edukasi masyarakat tentang pentingnya jaminan kehalalan produk,” katanya.

Lebih lanjut, Nanang Hanani menekankan bahwa penguatan kelembagaan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kebutuhan terhadap tenaga juru sembelih halal yang memahami syariat sekaligus standar teknis modern semakin meningkat seiring berkembangnya industri pangan halal di Indonesia.

Karena itu, LSH Hidayatullah mendorong pengembangan pelatihan dan sertifikasi bagi tenaga penyembelih halal agar lahir SDM yang profesional, kompeten, dan memiliki integritas keagamaan.

Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya tengah memperkuat legalitas kelembagaan dengan mengajukan pengesahan resmi kepada Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) sebagai lembaga penyelenggara pelatihan penyembelihan halal. Langkah tersebut dipandang penting untuk memperluas kontribusi LSH Hidayatullah dalam mendukung sistem jaminan produk halal nasional yang semakin terintegrasi.

Dalam konteks internal organisasi, Nanang mengingatkan pentingnya penguatan koordinasi antarwilayah agar seluruh jaringan LSH Hidayatullah memiliki arah gerak yang sama. Ia menilai pekerjaan pelayanan halal membutuhkan soliditas organisasi, kualitas spiritual, dan kekuatan ukhuwah.

Menurutnya, pekerjaan menjaga halal tidak dapat dijalankan secara individual, tetapi harus dibangun melalui semangat kebersamaan dan kesatuan visi.

“Kita di LSH Hidayatullah ini harus meluruskan niat, merapikan shaf, dan kuatkan ukhuwah karena pekerjaan ini tidak ringan,” ujarnya.

Ia kemudian menegaskan bahwa seluruh elemen di LSH Hidayatullah harus bergerak sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Dalam istilah yang digunakannya, organisasi harus bekerja layaknya satu tubuh yang saling menguatkan dalam menjalankan amanah pelayanan umat.

“Kita super team, kaljasadil wahid,” katanya.

Forum yang diikuti 25 perwakilan wilayah LSH Hidayatullah ini juga diisi dengan berbagai pemaparan teknis dan strategis terkait penguatan kelembagaan. Muhammad Syarif dari LSH Pusat menyampaikan materi mengenai Training of Trainers (TOT) dan pelatihan juru sembelih halal (juleha).

Berikutnya, Fahrur Rozi memaparkan pengembangan aplikasi portal LSH Hidayatullah sebagai bagian dari digitalisasi layanan, sementara Iwan Abdullah membahas strategi rekrutmen SDM. Adapun Zaenal Abidin menyampaikan materi mengenai penguatan strategi pemasaran lembaga.

Pembinaan Keluarga Menentukan Keberlanjutan Dakwah dan Peradaban

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si, menyampaikan bahwa keluarga memiliki posisi mendasar dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat sekaligus menjadi ruang utama pewarisan nilai dan pembentukan karakter manusia.

Keluarga, terang dia, selain sebagai institusi sosial juga menjadi fondasi awal bagi lahirnya generasi dan kesinambungan peradaban.

Menurut Hamim Thohari, seluruh proses pembentukan nilai kehidupan pada dasarnya bermula dari keluarga. Dari lembaga inilah manusia pertama kali mengenal norma, budaya, akhlak, dan orientasi hidup yang kemudian membentuk wajah masyarakat secara luas.

“Keluarga adalah organisasi terkecil yang bertugas meneruskan pewarisan nilai-nilai, norma, budaya yang ada di masyarakat,” ujarnya dalam forum Workshop Pekaderan Nasional di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta belum lama ini yang dinukil media ini pada Kamis, 20 Dzulqaidah 1447 (7/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa keluarga menjadi titik awal berlangsungnya regenerasi kehidupan. Karena itu, kualitas sebuah masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas keluarga yang menopangnya. Dalam konteks gerakan dakwah dan pembinaan umat, keluarga memiliki fungsi strategis yang jauh melampaui hubungan biologis semata.

Hamim Thohari menegaskan bahwa dalam perspektif Hidayatullah, keluarga kader memiliki posisi fundamental dalam menjaga kesinambungan perjuangan Islam. Keluarga tidak hanya menjadi tempat tumbuh kembangnya generasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan visi perjuangan dan pewarisan nilai dakwah.

“Bagi Hidayatullah, keluarga kader memiliki nilai dan peranan yang sangat strategis dan fundamental untuk melanjutkan perjuangan membangun peradaban Islam,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kekuatan dakwah tidak mungkin berdiri kokoh tanpa adanya dukungan keluarga yang kuat. Menurutnya, rumah tangga yang hidup dengan semangat pembinaan akan melahirkan kesinambungan gerakan yang stabil dan berjangka panjang.

“Tugas mulia ini akan semakin kokoh dalam perjalanannya ketika keluarga menjadi penopang utama dalam gerakan dakwah,” ujarnya.

Hamim Thohari juga mengaitkan pembinaan keluarga dengan dasar-dasar normatif dalam Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa perhatian terhadap keluarga merupakan bagian penting dari risalah dakwah para nabi. Salah satu ayat yang ia sebut adalah firman Allah dalam Surah Asy-Syura yang memerintahkan agar dakwah dimulai dari lingkungan keluarga terdekat.

Ia menjelaskan bahwa perintah Tuhan dalam surah Asy-Syu’ara ayat 214 “wa andzir ‘asyirataka al-aqrabin” atau “berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” menunjukkan bahwa pembinaan keluarga merupakan pondasi awal sebelum dakwah berkembang ke ruang sosial yang lebih luas.

Selain itu, Hamim Thohari juga mengingatkan bahwa sejarah para nabi memperlihatkan kesungguhan dalam membina keluarga sebagai bagian dari perjuangan tauhid. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Adam, Nabi Nuh, dan Nabi Luth menghadapi dinamika keluarga dalam menjalankan misi dakwah. Menurutnya, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa keluarga merupakan medan perjuangan yang menentukan arah keberlangsungan nilai-nilai keimanan.

Untuk menggambarkan pentingnya kaderisasi dalam keluarga, Hamim Thohari ketengahkan ilustrasi sederhana. Ia mengibaratkan kader dakwah seperti pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah, bahkan tetap tumbuh kembali meski telah ditebang.

“Begitulah sejati seorang kader yang militan tak akan mati sebelum melahirkan kader. Dan, kader akan terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Perumpamaan tersebut, menurutnya, menggambarkan pentingnya kesinambungan perjuangan melalui regenerasi yang terus berlangsung. Dakwah, dalam pandangannya, bukan hanya tentang aktivitas hari ini, tetapi tentang memastikan nilai dan perjuangan tetap hidup pada generasi berikutnya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa organisasi tidak akan memiliki daya hidup tanpa keterlibatan manusia di dalamnya. Karena itu, dakwah harus dibangun dengan pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif agar mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Hamim memberikan ilustrasi bahwa organisasi tanpa anggota ibarat pertandingan tanpa pendukung yang kehilangan semangat dan energi sosialnya.

“Karenanya, hendaknya ke depan dakwah kita semakin inklusif sehingga semakin banyak anggota,” katanya.

KHUTBAH JUM’AT Membangun Keluarga dan Melahirkan Generasi Shalih

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن
يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du…

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Aku berwasiat kepada diriku dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab hanya dengan takwa, kehidupan akan terarah, dan akhir perjalanan akan berujung bahagia.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan rumah tangga, betapapun harmonisnya hubungan suami istri, betapapun mapannya kondisi ekonomi—rumah yang megah, kendaraan yang mewah, serta harta yang melimpah—semuanya belum tentu menghadirkan kebahagiaan yang sempurna.

Seringkali, ada satu hal yang dirasakan sangat kurang: kehadiran anak keturunan. Karena itu tidak sedikit pasangan yang rela berkorban apa saja demi mendapatkan buah hati.

Namun jamaah sekalian,

Perlu kita sadari, bahwa memiliki anak bukan jaminan kebahagiaan. Banyak orang tua justru diuji dengan perilaku anak-anaknya. Bahkan ada yang sampai merasa malu, kecewa, dan tersakiti oleh darah dagingnya sendiri.

Allah ﷻ telah mengingatkan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka.”
(QS. At-Taghabun: 14)

Ayat ini bukan untuk menumbuhkan kebencian, tetapi sebagai peringatan: bahwa keluarga bisa menjadi jalan menuju surga, atau justru sebaliknya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat dalam melalui dua kisah yang kontras.

Kisah pertama, adalah tentang ketaatan luar biasa seorang anak, yaitu Nabi Ismail ‘alaihis salam. Allah berfirman:

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Lalu Ismail menjawab dengan penuh keimanan:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jamaah sekalian,

Ini bukan sekadar ketaatan biasa. Ini adalah puncak kepatuhan seorang anak kepada Allah dan kepada orang tuanya. Ia memahami risikonya: nyawa. Namun imannya lebih besar daripada rasa takutnya.

Bandingkan dengan kondisi hari ini, ketika seorang anak diminta berhenti sejenak dari gawai saja, seringkali sulit untuk taat.

Pertanyaannya: apa rahasia lahirnya anak seperti Ismail?

Salah satu jawabannya adalah kualitas orang tuanya, khususnya ibunya. Ismail dibesarkan oleh seorang wanita agung, penuh keimanan, yaitu Siti Hajar.

Allah ﷻ juga berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ

“Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun)…” (QS. Al-Furqan: 74)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kisah kedua, adalah kebalikan dari yang pertama. Yaitu kisah anak Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika banjir besar melanda, Nabi Nuh memanggil anaknya:

يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)

Namun dengan penuh kesombongan ia menjawab:

سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِۗ

“Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.”

Lalu Nabi Nuh berkata:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَۚ

“Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari azab Allah selain orang yang dirahmati-Nya.”

Dan akhirnya anak itu pun tenggelam.

Jamaah sekalian,

Padahal ayahnya seorang Nabi. Namun itu tidak menjamin keselamatan anaknya. Mengapa? Allah memberikan petunjuk dalam firman-Nya:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh…” (QS. At-Tahrim: 10)

Ini menunjukkan bahwa lingkungan keluarga, terutama peran ibu, sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan anak.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari dua kisah ini kita belajar bahwa: Anak shalih tidak lahir secara kebetulan. Ia adalah hasil dari iman, pendidikan, dan lingkungan yang benar. Dan, dimulai dari pemilihan pasangan yang tepat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup. Jangan sampai kecantikan dan harta mengalahkan pertimbangan agama.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya. Seorang ayah bertanggung jawab atas anak-anaknya. Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Ini adalah perintah yang tegas: didik keluarga kita dengan agama. Bagi yang belum menikah, pilihlah pasangan yang kuat agamanya. Bagi yang sudah menikah, bimbinglah keluarga dengan ilmu dan ketakwaan.

Sebab kelak di akhirat, tidak ada seorang pun yang rela menanggung dosa sendiri. Bahkan keluarga bisa saling menuntut. Allah ﷻ berfirman:

رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ اَضَلُّوْنَا فَاٰتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ

“Dan mereka berkata: Ya Rabb kami, siapa saja yang menyesatkan kami, maka timpakanlah kepadanya azab dua kali lipat.” (QS. Al-A’raf: 38)

Na’udzubillah…

Jangan sampai keluarga yang kita cintai menjadi sebab kesengsaraan kita di akhirat. Sebaliknya, jadikanlah mereka sebagai jalan menuju surga.

اللهم أصلح لنا أزواجنا وذرياتنا، واجعلهم قرة أعين لنا، واجعلنا للمتقين إمامًا
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى

أقم الصلاة

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Stunting Ideologi dan Revitalisasi Halaqah

SEPEKAN lalu, tepatnya pada Rabu (29/4/2026) penulis berkesempatan menjadi pemateri dalam Workshop Nasional Perkaderan yang digagas oleh Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah. Acara yang diikuti utusan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dan Departemen Perkaderan DPW dari seluruh Indonesia dilaksanakan selama lima hari.

Dalam sesi brainstorming dengan peserta, muncul kekhawatiran gerakan dakwah yang dibangun hanyut pada dua godaan besar, kuantitas dan pragmatisme.

Pertama, jebakan kuantitas. Dimana pertumbuhan sering dibanggakan dengan angka-angka, berapa banyak kader, berapa luas ekspansi, berapa cepat perkembangan dan lain sebagainya. Sesuatu yang bisa  terlihat besar, tetapi rapuh dari dalam. Bahkan ketika angka-angka tersebut tanpa diiringi kualitas memadai, bisa saja hanya ilusi kekuatan. Gerakan bisa, kader banyak, tetapi mudah goyah.

Kedua, godaan pragmatisme. Ukuran keberhasilan bergeser dari nilai ke hasil instan. Yang penting terlihat bergerak, yang penting ada capaian, yang penting diakui. Idealisme dianggap beban, bahkan kadang dicurigai sebagai penghambat. Padahal, tanpa idealisme, gerakan hanya akan menjadi mesin tanpa arah—bergerak cepat, tetapi tidak tahu ke mana.

Jika keduanya berpilin dalam jangka waktu lama, tanpa diringi dengan kualitas pembinaan, maka akan lahir kader dengan kondisi malnutrisi, stunting ideologi. Kondisi ketika kader kehilangan kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang diperjuangkannya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melahirkan krisis identitas, bahkan pada organisasi yang secara struktur terlihat besar. Jelas ini sangat berbahaya, karena secara perlahan akan menggerus arah, komitmen, dan ketahanan sebuah gerakan.

Pertanyaan menggelitik kemudian muncul, mengapa stunting ideologi bisa terjadi? Menurut hemat penulis setidaknya ada empat hal yang menjadi pemicu.

Pertama, dangkalnya proses kaderisasi. Tidak sedikit proses pembinaan yang lebih menekankan formalitas daripada substansi. Kader hadir dalam forum, tetapi tidak benar-benar mengalami proses pembentukan. Materi disampaikan, namun proses internalisasi nilai  tidak terjadi.

Kedua, orientasi pragmatis yang semakin menguat. Pada saat ukuran keberhasilan bergeser hanya pada capaian-capaian praktis, seperti jabatan, program, atau angka-angka, maka aspek ideologis sering kali terpinggirkan. Kader sibuk bergerak dalam jabatan formal, tetapi kehilangan arah. Kader bergabung dalam gerakan karena adanya kesempatan lowongan kerja di amal usaha. Kader konsentrasi pada orientasi jabatan, sementara penanaman nilai tidak dilakukan, maka pada kondisi ini harakah hanya sebatas ikatan korporat.

Ketiga, lemahnya budaya literasi dan berpikir kritis. Ideologi tidak akan tumbuh dalam ruang yang miskin literasi. Kader yang tidak terbiasa membaca dan mendalami gagasan akan cenderung memahami nilai secara dangkal dan hitam-putih.

Keempat, minimnya keteladanan murabbi. Ideologi tidak cukup diajarkan, ia harus dicontohkan. Ketika murabbi tidak menghadirkan integritas antara ucapan dan tindakan, kader akan kehilangan rujukan hidup. Di titik ini, nilai yang diharapkan tumbuh menjadi panduan langkah, hanya menjadi benih yang teronggok di laci meja wacana.

Pada saat keempatnya berpadu, disinilah stunting ideologi menemukan ruang hidupnya, yang berimbas pada kondisi kader semakin kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang diperjuangkannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melahirkan krisis identitas dalam tubuh organisasi.

Bagi lembaga kaderisasi seperti Hidayatullah, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius. Sebab, kekuatan organisasi bukan semata pada jumlah anggota, melainkan pada kualitas ideologis kadernya. Tanpa fondasi ideologi yang kokoh, pertumbuhan organisasi justru berisiko menjadi rapuh, besar secara struktur tetapi lemah dalam substansi.

Di tengah tantangan tersebut, halaqah kader menemukan relevansinya. Selain forum pengajian rutin, halaqah juga menjadi instrumen strategis pembinaan yang membentuk cara berpikir, sikap, dan orientasi hidup kader. Di dalamnya, nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan melalui interaksi, keteladanan, dan proses refleksi bersama.

Namun, kita juga perlu jujur melihat kenyataan. Tidak semua halaqah berjalan efektif. Dalam beberapa kasus, halaqah terjebak menjadi sekedar rutinitas, sekadar menggugurkan kewajiban. Materi disampaikan, tetapi tidak menyentuh persoalan riil kader. Diskusi berlangsung, tetapi tidak menghasilkan perubahan berarti. Jika ini terus dibiarkan, halaqah justru kehilangan daya transformasinya.

Oleh karenanya, revitalisasi halaqah menjadi keharusan, karena sejatinya ia menjadi ruang pemulihan sekaligus penguatan. Murabbi  harus dipersiapkan dengan baik, tidak hanya secara keilmuan, tetapi juga keteladanan. Kurikulum pembinaan perlu dirancang secara sistematis dan kontekstual, menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Evaluasi juga harus menjadi bagian penting, agar proses pembinaan tidak berjalan di tempat.

Tantangan lainnya, halaqah hari ini berhadapan langsung dengan realitas baru, kemajuan teknologi dan perubahan karakter generasi. Lalu pertanyaanya, seperti apa halaqah yang relevan hari ini? Halaqah yang bisa jadi magnet bagi kader untuk mendatanginya dengan rindu.

Untuk menjawab kondisi ini, hemat penulis, halaqah memberikan solusi, bahwa, pertama, halaqah mampu mengelola ketegangan antara kuantitas dan kualitas. Ekspansi kader memang penting, tetapi pertumbuhan tanpa kualitas hanya akan melahirkan kerentanan baru. Dalam konteks ini, kualitas bukan lawan dari kuantitas, melainkan fondasi bagi pertumbuhan kuantitas yang sehat.

Kedua, halaqah harus tegas dalam menavigasi tarik-menarik antara pragmatisme dan idealisme. Realitas memang menuntut hasil yang konkret, tetapi gerakan tanpa idealisme akan kehilangan arah. Sebaliknya, idealisme tanpa pijakan realitas akan menjadi utopis. Halaqah harus menjadi ruang sintesis, ia bisa menanamkan nilai yang kuat sekaligus melatih kader membaca realitas dan bertindak secara strategis. Kader tidak hanya diajarkan “apa yang benar”, tetapi juga “bagaimana mewujudkannya”.

Ketiga, halaqah perlu menumbuhkan daya tahan intelektual dan spiritual. Di era banjir informasi, kader tidak cukup hanya diberi jawaban, tetapi harus dilatih cara berpikir. Diskusi harus lebih hidup, literasi harus ditingkatkan, dan perenungan harus menjadi bagian dari proses. Dengan begitu, kader tidak mudah goyah oleh narasi yang datang silih berganti.

Keempat, halaqah harus bertransformasi tanpa kehilangan ruh. Teknologi bukan ancaman, melainkan alat. Platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pembinaan—melalui kelas daring, grup diskusi, atau materi multimedia. Namun, yang tidak boleh hilang adalah kedalaman interaksi. Halaqah tidak cukup hanya menjadi “konten”, tetapi harus tetap menjadi ruang pembentukan, di mana di dalamnya ada dialog, kedekatan, dan keteladanan

Jika halaqah mampu menjawab tantangan-tantangan ini, maka ia tidak hanya relevan, tetapi juga menjadi solusi utama dalam mengatasi stunting ideologi. Ia akan melahirkan kader yang tidak sekadar banyak, tetapi berkualitas; tidak sekadar bergerak, tetapi berarah; tidak sekadar realistis, tetapi juga berprinsip.

Pada akhirnya, masa depan sebuah gerakan sangat ditentukan oleh kualitas kadernya hari ini. Jika kita ingin membangun peradaban yang kuat, maka memastikan tidak adanya stunting ideologi dalam tubuh kader adalah langkah yang tidak bisa ditawar. Dan halaqah, sejauh ini, tetap menjadi salah satu jalan terbaik untuk mewujudkannya.[]

*) Dudung A. Abdullah, penulis Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Forum Koordinasi Hybrid Bahas Kerjasama Penguatan Dakwah Lintas Batas Indonesia-Timor Leste

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan koordinasi dakwah lintas batas membahas persiapan dan langkah-langkah strategis guna mendorong perkembangan dakwah di kawasan menjadi fokus utama dalam forum yang digelar secara hybrid, dengan pertemuan luring pada 30 April 2026 dan dilanjutkan secara daring pada 4 Mei 2026.

Agenda ini menghadirkan Ketua Departemen Dakwah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Agung Tranajaya, dai dari Nusa Tenggara Timur Ali Linggie dan Usman Mamang, serta Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Pusat Abdul Muin.

Pembahasan dalam forum diarahkan pada penguatan strategi dakwah lintas negara, dengan salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Timor Leste. Dalam forum tersebut disampaikan bahwa meskipun terdapat batas negara, hubungan keumatan tetap terhubung oleh semangat ukhuwah Islamiyah yang membuka peluang penguatan dakwah di kawasan tersebut.

“Sebagai tindak lanjut, direncanakan agenda silaturahmi langsung ke Dili dalam waktu dekat. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan pemetaan awal terhadap potensi kerja sama dakwah yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan di wilayah tersebut,” kata Muhammad Agung Tranajaya dalam keterangan tertulisnya kepada media ini, Selasa, 8 Dzulqaidah 1447 (5/5/2026).

Selain itu, sejumlah program juga mulai dirancang, di antaranya penguatan ekonomi berbasis pemberdayaan umat serta pembinaan masyarakat melalui masjid. Program ini diarahkan untuk mendukung kemandirian masyarakat sekaligus memperkuat peran dakwah dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks pengembangan regional, kegiatan ini juga berkaitan dengan program South East Asia (SEA) Loves Al-Quran yang telah dilaksanakan pada Ramadhan 1446 dan 1447 Hijriah lalu. Program tersebut mencakup beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, Malaysia, dan Timor Leste.

Ditambahkan, koordinasi ini menjadi bagian dari langkah konsolidasi antar pelaku dakwah untuk memperluas jangkauan program serta memperkuat sinergi lintas wilayah dalam pelaksanaan kegiatan dakwah.

KH Naspi Arsyad Ingatkan Kader Hidayatullah Tampilkan Islam dalam Kehidupan Nyata

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Naspi Arsyad menyampaikan bahwa nilai kebaikan harus disampaikan dengan cara yang baik agar dapat diterima oleh masyarakat, disamping kader Hidayatullah harus mampu menunjukkan rasa syukur tidak hanya secara lisan tetapi juga melalui praktik kehidupan yang mencerminkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Hal tersebut disampaikan saat menyapa jamaah Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur, Ahad, 16 Dzulqaidah 1447 (3/5/2026).

Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda silaturahim yang telah direncanakan sejak Musyawarah Nasional VI Hidayatullah di Jakarta pada akhir 2025. KH Naspi Arsyad menyebutkan bahwa kunjungan ke Bontang telah dilakukan secara berkala, termasuk kunjungan terakhir sekitar enam bulan sebelumnya.

Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya kesadaran kader terhadap peran Hidayatullah dalam membimbing umat. Ia menegaskan bahwa ekspresi syukur tidak cukup pada tataran verbal, tetapi harus tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari.

“Kader Hidayatullah diharapkan mampu menunjukkan rasa syukur tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui praktik kehidupan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Hidayatullah mengajarkan Islam melalui pendekatan manhaj nubuwwah dengan sistematika wahyu, yang menurutnya merupakan metode memahami ajaran Islam dengan meneladani praktik Nabi Muhammad ﷺ secara langsung.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan bahwa penyampaian nilai kebaikan harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat agar dapat diterima oleh masyarakat.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Hidayatullah tidak hanya menghadirkan konsep, tetapi juga membangun praktik kehidupan Islami melalui pembentukan mujtama’ atau kehidupan berjamaah di lingkungan kampus.

“Di kampus-kampus Hidayatullah, Islam tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

KH Naspi Arsyad juga menekankan pentingnya kekhusyukan dalam ibadah, khususnya shalat, serta mengingatkan bahwa pelaksanaan ibadah yang tergesa-gesa dapat mengurangi penghayatan terhadap nilai iman.

Ia turut menyinggung kondisi masyarakat yang mudah terpengaruh oleh arus informasi, termasuk fenomena di media sosial. “Indonesia membutuhkan individu dengan keimanan yang kuat, doa yang mustajab, dan keimanan yang benar-benar menuntun hidupnya,” tegasnya.