Beranda blog Halaman 3

DPW Hidayatullah Jatim Rampungkan Validasi Data, Perkuat Tata Kelola Organisasi

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: DPW-Hidayatullah-Jatim-Rampungkan-Validasi-Data-1.jpeg

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur merampungkan proses validasi data organisasi melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Semester Ganjil 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola organisasi berbasis data sebagai landasan penyusunan program yang lebih terarah dan tepat sasaran.

Monitoring dan evaluasi yang digelar di Kantor DPW Hidayatullah Jawa Timur, Jumat (17/7/2026), juga menjadi forum untuk mengukur keterlaksanaan program kerja semester ganjil sekaligus menyusun strategi pelaksanaan program pada semester berikutnya.

Ketua Umum DPP Hidayatullah sekaligus Pendamping DPW Hidayatullah Jawa Timur, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting dalam memastikan seluruh program organisasi berjalan sesuai dengan perencanaan.

“Tujuan kegiatan ini adalah mengukur keterlaksanaan program yang telah direncanakan pada awal tahun 2026, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang menghambat pelaksanaan program kerja agar dapat segera diperbaiki,” ujarnya.

Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Drs. Amun Rowi, M.Pd., menjelaskan bahwa selama semester ganjil 2026, organisasi memfokuskan perhatian pada konsolidasi jatidiri, penguatan tata kelola organisasi, dan peningkatan wawasan kader. Salah satu program utama yang dijalankan adalah validasi data organisasi di seluruh wilayah Jawa Timur.

“Alhamdulillah, semester ganjil ini kami memusatkan perhatian pada konsolidasi jatidiri, organisasi, dan wawasan. Seluruh ketua departemen kami tugaskan turun langsung ke daerah untuk memastikan data organisasi benar, akurat, dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Data yang valid menjadi landasan penting dalam penyusunan kebijakan dan pengembangan organisasi ke depan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muh. Idris, melaporkan bahwa hasil validasi menunjukkan Hidayatullah Jawa Timur saat ini memiliki 38 Dewan Pengurus Daerah (DPD), 138 Dewan Pengurus Cabang (DPC), 1.474 kader, 50 sekolah, 35 unit badan usaha ekonomi, 81 Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), serta 22 amal usaha sosial yang meliputi Darul Hijrah, Pondok Tahfidz Al-Qur’an, dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

Menurutnya, pembaruan data tidak hanya dilakukan pada aspek kuantitatif, tetapi juga dilengkapi dengan sistem klasifikasi dan leveling untuk memetakan kondisi masing-masing daerah secara lebih objektif.

“Dengan data yang telah diklasifikasikan dan diberi leveling, organisasi dapat menyusun program kerja yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan dan tingkat perkembangan masing-masing daerah,” jelas Muh. Idris.

Menutup kegiatan, KH. Naspi Arsyad mengapresiasi capaian DPW Hidayatullah Jawa Timur selama semester ganjil 2026. Ia menilai berbagai program yang telah dijalankan menunjukkan perkembangan positif, sekaligus menjadi modal penting dalam pelaksanaan program pada semester genap.

“Alhamdulillah, pencapaiannya sangat baik. Rencana program semester genap juga sangat mendukung ketercapaian target yang telah ditetapkan. Beberapa hal yang masih perlu disempurnakan adalah konsolidasi aset, pendampingan organisasi pendukung, serta dukungan terhadap program DPP, khususnya Gerakan Sedekah Subuh,” tutupnya.

Nursyamsa Hadis: Ujian adalah Kepastian bagi Orang Beriman, Hadapi dengan Sabar dan Shalat

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Setiap orang yang mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian kehidupan. Karena itu, kesabaran dan kualitas shalat menjadi bekal utama agar seorang mukmin mampu melewati berbagai cobaan sekaligus terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, saat mengisi Kajian Jumat Ummahat Muslimat Hidayatullah di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Jumat (10/7/2026), bertepatan dengan 25 Muharram 1448 H.

Menurutnya, shalat yang diterima Allah SWT akan melahirkan perubahan nyata dalam akhlak dan perilaku seseorang.

“Kita bisa mengukur indikator diterimanya shalat kita oleh Allah dari perubahan diri kita. Kalau tahun lalu kita masih mudah marah, kemudian tahun ini Allah menjadikan kita lebih sabar, itu salah satu indikator,” ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan sekecil apa pun dalam perilaku sehari-hari merupakan tanda bahwa ibadah memberikan pengaruh terhadap kehidupan.

“Kalau seorang santri sudah tidak lagi memakai atau mengambil sandal temannya tanpa izin, itu juga menjadi indikator. Sebab shalat yang diterima akan mencegah perbuatan keji dan mungkar,” katanya.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Nursyamsa mengajak jamaah merenungkan hakikat kehidupan melalui Surah Al-Baqarah ayat 28 yang menjelaskan bahwa manusia berasal dari keadaan tidak bernyawa, kemudian Allah menghidupkan, mematikan, membangkitkan kembali, dan pada akhirnya seluruh manusia akan kembali kepada-Nya.

Renungan itu semakin kuat ketika ia menceritakan pengalamannya berziarah ke makam KH Abdullah Said Rahimahullah beserta para tokoh Hidayatullah lainnya di kompleks Kampus Gunung Tembak.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada Januari 2027 usianya akan memasuki 60 tahun. Kesadaran akan terbatasnya usia, menurutnya, menjadi pengingat agar setiap muslim terus memperbanyak amal yang bermanfaat.

“Kalau mengikuti usia Rasulullah ï·º, berarti waktu saya tinggal sekitar tiga tahun lagi. Karena itu saya ingin memanfaatkan sisa usia ini untuk terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat,” tuturnya.

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155, Ustadz Nursyamsa menegaskan bahwa ujian berupa rasa takut, kelaparan, kehilangan harta, jiwa, maupun berbagai kesulitan lainnya merupakan sunatullah yang akan dialami setiap mukmin.

Karena itu, ia mengingatkan agar setiap ujian dihadapi dengan kesabaran dan memperbanyak memohon pertolongan kepada Allah melalui shalat.

Ia juga mengenang salah satu nasihat KH Abdullah Said ketika menghadapi santri yang bermasalah.

“Beliau mengajarkan agar nama santri itu disebut dalam setiap sujud dan didoakan dengan sungguh-sungguh. Doa adalah bagian dari ikhtiar dalam membina manusia,” kenangnya.

Menutup kajiannya, Ustadz Nursyamsa mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 2 bahwa orang-orang yang mengaku beriman pasti akan diuji.

Menurutnya, ujian bukanlah tanda Allah meninggalkan hamba-Nya, melainkan sarana untuk meningkatkan kualitas iman. Karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan kesabaran, doa, dan shalat sebagai kekuatan utama agar mampu menghadapi setiap ujian sekaligus menghadirkan perubahan akhlak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Berpikir Sejenak Jelang HUT RI

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: image-1.png

Di kampung-kampung dan pemukiman, denyut peringatan HUT RI ke-81 sudah terasa. Panitia mulai rapat. Lomba antar-RT sebentar lagi diumumkan.

Lalu, bagaimana?

Iya, sebagaimana biasanya, setiap tokoh agama akan menyerukan perbaikan bangsa. Begitu juga tokoh masyarakat dan akademisi melakukan hal yang sama. Beliau-beliau dengan gelar guru bangsa pun demikian.

Adakah perubahan setiap tahun setelah semua seruan itu?

Mungkin ada, hanya kurang terasa. Riuh kehidupan berbangsa dan bernegara, mungkin lebih tepatnya kehidupan berpolitik, seakan melahap habis semua seruan tersebut. Kembalilah kehidupan anak bangsa ini ke pola semula. Hampir tidak ada yang berubah.

Masih adakah optimisme?

Dalam perspektif kebangsaan dan keumatan, optimisme perlu terus dipupuk. Salah satu langkah praktisnya adalah membangun kemandirian individual sebagai basis kekuatan komunal. Ada sinergi di sana.

Harapan untuk sinergi terbangun merupakan sesuatu yang sulit. Berkali-kali jiwa anak bangsa tergores luka. Konflik horizontal yang dirancang pihak-pihak tertentu hampir menghabiskan seluruh modal sosial, sehingga anak bangsa satu sama lain sulit untuk saling percaya apatah lagi bersinergi.

Oleh karena itu salah satu gerakan yang harus terus hidup adalah gerakan amanah, memegang teguh janji. Perihal ini sangat sulit. Apalagi di zaman edan ini, sebagaimana suara yang sering diperdengarkan, “Ora edan, ora keduman (tidak ikut gila, tidak kebagian).”

Gila di konteks ini bermakna tidak peduli halal-haram, abai terhadap amanah, dan ingkar terhadap janji. Mungkin seperti itulah gila di atas gila. Sebutan lainnya gila yang sebenar-benar gila.

Apa yang dituju hanya senang bagi diri dan kelompoknya. Tidak ada kepedulian tentang nasib pihak lain. Empati hanya sebuah kata tanpa esensi, ibarat debu yang diterbangkan angin ke sana dan ke sini.

Sekali lagi, semoga sebuah gerakan menjaga amanah senantiasa hadir di tubuh bangsa ini. Sifatnya istiqomah. Sehingga bisa menjadi oase di tengah kegalauan yang sudah terasa di ubun-ubun.

Dalam panduan kenabian, sebuah hadits riwayat Ahmad dan Baihaqi menyampaikan, “Tidak ada iman bagi ia yang tidak memiliki amanah.”

Jelas dipahami bahwa amanah lahir dari iman. Tanpa iman, sulit sekali amanah hadir. Jika pun hadir, amanah tidak tembus hingga esensi ruhiyah, hanya menggapai penjagaan nama baik. Maka kesuburan iman mesti terus dilakukan.

Secara individual, kesuburan iman dijaga dengan lafazh tahlil, laa ilaaha illallaah. Secara komunal amar ma’ruf nahi munkar itu penting untuk selalu dihidupkan. Hendaklah keduanya dipadukan terus-menerus.

Pada akhirnya, setiap momen HUT RI semoga jadi momen doa yang khusyu’, berharap Allah ta’ala masih mencintai bangsa dan negara ini. Paling tidak kecintaan-Nya didasarkan pada persembahan darah para ulama, santri, dan kaum muslimin untuk melahirkan entitas bernama Indonesia. Mereka telah berjihad, statusnya mujahid. Mereka mulia di sisi-Nya.

Spontan, sebuah pertanyaan muncul, mungkinkah perayaan-perayaan HUT RI selama ini selaras dengan apresiasi kepada para mujahid?

FU’AD FAHRUDIN

Islam Bergerak dan Menggerakkan Sesuai Zaman, Ketua DPW Sulbar Sampaikan Empat Pilar Kebangkitan Umat

PASANGKAYU (Hidayatullah.or.id) — Kejayaan Islam tidak cukup diwujudkan melalui keyakinan semata, tetapi harus ditopang oleh iman yang kokoh, ilmu yang memadai, dakwah yang berkelanjutan, dan persatuan umat. Gagasan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Najamuddin, M.Pd., saat mengisi Pengajian Bulanan Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bulutaba di Masjid Jihadul Ummah, Desa Lilimori, Kecamatan Bulutaba, Kabupaten Pasangkayu, Ahad (21/6/2026).

Dalam tausiahnya bertema “Islam Bergerak dan Menggerakkan Sesuai dengan Zaman”, Najamuddin menegaskan bahwa ajaran Islam tetap relevan sepanjang masa. Namun, relevansi tersebut harus diwujudkan melalui peran aktif umat dalam mengamalkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat.

“Islam adalah agama yang selalu relevan dengan setiap zaman. Namun, kejayaan Islam hanya akan terwujud apabila umatnya bergerak mengamalkan dan memperjuangkan nilai-nilai yang diajarkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebangkitan umat bertumpu pada empat pilar utama, yakni iman, ilmu, dakwah, dan persatuan.

Menurutnya, iman menjadi fondasi utama perjuangan seorang muslim. Keimanan yang kuat akan melahirkan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT serta keberanian menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Para nabi, sahabat, dan ulama terdahulu mampu menghadapi berbagai ujian karena memiliki keimanan yang kokoh. Karena itu, umat Islam harus terus memperkuat hubungan dengan Allah melalui ibadah dan amal saleh,” katanya.

Selain iman, Najamuddin menekankan pentingnya ilmu sebagai kunci kemajuan umat. Islam, kata dia, sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan mendorong umatnya untuk terus belajar sepanjang hayat.

Ia mengutip nasihat yang masyhur di kalangan ulama bahwa siapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya juga harus dengan ilmu.

“Melalui ilmu, umat Islam dapat menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan peradaban,” ujarnya.

Pada aspek dakwah, Najamuddin menegaskan bahwa tugas menyampaikan nilai-nilai Islam bukan hanya menjadi tanggung jawab para dai, melainkan kewajiban setiap muslim sesuai kapasitasnya.

“Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah di mimbar, tetapi juga melalui keteladanan akhlak, pendidikan, pelayanan sosial, dan berbagai aktivitas yang membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia mengajak jamaah untuk menjadi agen kebaikan yang aktif menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta berkontribusi membangun masyarakat yang berakhlak mulia.

Menutup pemaparannya, Najamuddin menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki umat tidak akan berkembang optimal apabila terhambat oleh perbedaan-perbedaan yang bersifat nonprinsip.

“Persatuan akan melahirkan kekuatan besar yang mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Pengajian bulanan yang dihadiri warga persyarikatan dan simpatisan Muhammadiyah tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Para peserta mengikuti rangkaian acara dengan antusias hingga selesai, kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara penceramah, pengurus Muhammadiyah, dan jamaah yang hadir.

Hidayatullah Perkuat Pembinaan Wali Murid Lewat Kurikulum Berbasis Aqidah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jumat, 17 Juli 2026 – Departemen Perkaderan Hidayatullah se-Sumatra menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Materi Pembinaan yang dihadiri oleh Dr. Abdul Ghaffar Hadi, M.Si. (Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah), Iwan Abdullah, M.Si. (Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah), serta Drs. Nur Fuad, M.Pd. (Anggota Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah).

Dalam sambutannya, Dr. Abdul Ghaffar Hadi, M.Si. menyampaikan bahwa tugas kita (para pembina) bukan sekadar melakukan pembinaan, tetapi harus memiliki visi dan arah yang jelas.

“Kita harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu hendak membawa umat yang kita bina ke arah yang benar. Bimtek Materi Pembinaan ini menjadi panduan agar proses pembinaan mengantarkan para wali murid semakin dekat kepada agama Allah, Al-Qur’an, dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya mengenal ajaran Islam, tetapi juga bersedia mengamalkan kehidupan berjamaah, menjadi anggota Hidayatullah, serta menjadi pejuang agama Allah, Pejuang Al-Qur’an, dan Pejuang Sunnah Rasulullah SAW.”

Sementara itu, Iwan Abdullah, M.Si. menegaskan pentingnya menyediakan wadah pembinaan yang terstruktur bagi para wali murid melalui: Madrasah Wali Murid Hidayatullah.

Menurutnya, madrasah ini bukan hanya menjadi sarana untuk mendekatkan wali murid kepada sekolah, tetapi juga sebagai media thalabul ‘ilmi serta wasilah berbagai program kebaikan lainnya.

Beliau menjelaskan bahwa kurikulum yang disiapkan sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan wali murid, di antaranya:

  • Materi Al-Qur’an (Tahsin, Tilawah, Terjemah, dan Tafsir);
  • Materi Bina Aqidah;
  • Materi Fikih;
  • Sirah Nabawiyah;
  • Parenting;
  • Kajian tematik; dan berbagai materi lainnya.

Karena itu, beliau mengimbau seluruh sekolah Hidayatullah untuk menghadirkan Madrasah Wali Murid di sekolah masing-masing sebagai bagian dari upaya pembinaan yang berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Drs. Nur Fuad, M.Pd., selaku penulis Materi Bina Aqidah, menekankan pentingnya sistematika materi dalam proses pembinaan umat. Menurut beliau, aqidah merupakan fondasi utama dari seluruh proses pembinaan. Dengan pemahaman aqidah yang benar, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi yang memiliki ketakwaan yang hakiki.

Beliau juga menyampaikan bahwa Hidayatullah telah menyiapkan Training Bina Aqidah yang dilanjutkan dengan 10 jadwal Bayani Bina Aqidah sebagai program pembinaan rutin (Halaqah Taklim). Melalui pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan tersebut, diharapkan umat memiliki pemahaman Islam yang kaffah (menyeluruh) sehingga mampu mengamalkan ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.

Program ini menjadi salah satu ikhtiar Hidayatullah dalam memperkuat pembinaan umat, khususnya para wali murid, agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, bertakwa, dan siap berkontribusi dalam dakwah serta perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam.

Silaturahmi DPW Hidayatullah Babel ke PW Muhammadiyah Babel

0
Jajaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Bangka Belitung berfoto bersama pimpinan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bangka Belitung usai audiensi dan silaturahmi di Pangkalpinang.

PANGKALPINANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Bangka Belitung dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bangka Belitung menjajaki kerja sama strategis di bidang pendidikan, kaderisasi, dan pemberdayaan ekonomi umat. Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi yang berlangsung di Pangkalpinang, Rabu (15/7/2026).

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu dihadiri jajaran pimpinan PWM Bangka Belitung, perwakilan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel), serta pengurus DPW Hidayatullah Kepulauan Bangka Belitung. Audiensi menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antarlembaga Islam dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi umat.

Salah satu agenda utama yang dibahas ialah peluang kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia di lingkungan pendidikan. DPW Hidayatullah mengusulkan kerja sama penyediaan tenaga pendidik dari Muhammadiyah untuk mendukung proses pembelajaran di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Selain itu, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung membuka peluang bagi lulusan Pondok Pesantren Hidayatullah untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui berbagai program akademik yang tersedia, termasuk akses beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi calon mahasiswa yang memenuhi persyaratan.

Tak hanya membahas sektor pendidikan, kedua organisasi juga bertukar pandangan mengenai pengembangan usaha produktif sebagai fondasi penguatan ekonomi umat. Kolaborasi di bidang ekonomi dinilai menjadi langkah penting untuk membangun kemandirian lembaga sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat.

Audiensi tersebut juga menjadi forum untuk mempererat komunikasi dan membangun kerja sama jangka panjang di berbagai sektor strategis. Sinergi antara Hidayatullah dan Muhammadiyah diharapkan mampu memperkuat dakwah, meningkatkan mutu pendidikan, memperluas kaderisasi, serta menghadirkan program-program pemberdayaan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Melalui pertemuan ini, kedua belah pihak menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun ekosistem pendidikan Islam yang berkualitas serta mendorong lahirnya masyarakat yang mandiri, berdaya, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Guru, Penggerak Perubahan Peradaban

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Mengapa-Kita-Harus-Menghormati-Orang-Tua-dan-Guru_.jpeg

Di tengah derasnya perubahan zaman, peran guru justru semakin penting. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, dan perubahan karakter generasi tidak cukup dijawab hanya dengan memperbarui kurikulum atau menghadirkan fasilitas pendidikan yang lebih baik. Pada akhirnya, kualitas pendidikan tetap bertumpu pada sosok guru yang berada di ruang-ruang kelas.

Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran. Ia adalah pembimbing, motivator, sekaligus teladan yang membentuk cara berpikir dan karakter peserta didik. Seorang guru yang baik mampu menyalakan semangat belajar, membangkitkan rasa percaya diri, serta menginspirasi murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Profesi guru adalah amanah yang mulia. Kemuliaan itu tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu yang diajarkan, tetapi juga dari ketulusan dalam mendidik. Karena itu, menjadi guru menuntut kesungguhan. Penguasaan materi, kesiapan mengajar, penggunaan metode yang tepat, hingga kemampuan membangun suasana belajar yang menyenangkan merupakan bagian dari tanggung jawab profesional seorang pendidik. Guru tidak cukup hanya hadir di kelas, tetapi harus benar-benar hadir dalam proses tumbuh kembang setiap peserta didiknya.

Di sisi lain, guru juga patut mensyukuri profesinya. Di saat banyak pekerjaan hanya berorientasi pada rutinitas, guru memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup melalui ilmu yang diajarkan dan karakter yang dibentuk. Setiap keberhasilan murid sejatinya menjadi bagian dari keberhasilan seorang guru dalam menjalankan amanahnya.

Membangun pendidikan yang unggul tidak mungkin dilepaskan dari kualitas pendidiknya. Karena itu, seorang guru perlu terus mengembangkan diri, baik dari sisi spiritual, intelektual, sosial-emosional, maupun keterampilan dalam mengajar. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi agar guru mampu menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang sekaligus menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Pada akhirnya, perubahan besar selalu berawal dari pribadi-pribadi yang bersedia berubah. Guru adalah salah satu aktor utama dalam proses tersebut. Ketika guru terus belajar, memperbaiki diri, dan mengajar dengan hati, ia bukan hanya mencetak murid yang cerdas, tetapi juga melahirkan generasi yang berakhlak, berkarakter, dan siap membangun peradaban.

Itulah sebabnya, investasi terbaik dalam dunia pendidikan bukan hanya pada gedung, teknologi, atau kurikulum, melainkan pada lahirnya guru-guru yang mampu menginspirasi perubahan. Sebab dari tangan merekalah masa depan bangsa sedang dipersiapkan.

*Ust. Najamuddin / Penulis adalah Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat.

KHUTBAH JUMAT Istiqamah dalam Beribadah sebagai Tanda Iman Sejati

DI TENGAH derasnya arus kehidupan modern, menjaga konsistensi dalam beribadah menjadi tantangan yang semakin besar. Kesibukan pekerjaan, tuntutan kehidupan, dan derasnya arus informasi kerap membuat seorang Muslim lalai dari kewajiban dan ibadah kepada Allah SWT. Padahal, istiqamah dalam ketaatan merupakan salah satu tanda keimanan yang sejati.

Melalui khutbah berjudul “Istiqamah dalam Beribadah sebagai Tanda Iman Sejati”, Ust. Fathul Adhim mengajak umat Islam untuk terus menjaga keikhlasan, memperkuat iman, menuntut ilmu, memilih lingkungan yang baik, serta senantiasa memohon pertolongan Allah agar tetap teguh di jalan-Nya. Istiqamah bukanlah tentang banyaknya amal, tetapi tentang konsistensi dalam menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan hingga akhir hayat.

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) edisi 2 Safar 1448 H / 2026 M sebagai pengingat untuk terus menjaga kualitas iman melalui ibadah yang istiqamah di tengah berbagai tantangan zaman.

Unduh : KHUTBAH JUMAT Istiqamah dalam Beribadah sebagai Tanda Iman Sejati

Wahdah Islamiyah Ajak Hidayatullah Perkuat Kolaborasi Dakwah dan Hadiri Muktamar V

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Hidayatullah-dan-Wahdah-Islamiyah-Perkuat-Sinergi-2.jpeg
Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah Ustaz Dr. H. Rahmat Abdurrahman, Lc., M.A. memberikan sambutan saat kunjungan silaturahmi di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa (15/7/2026).
(Foto: Al-Qo’im Biamrillah/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah mengajak Hidayatullah memperkuat kolaborasi dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat melalui sinergi antarlembaga. Ajakan tersebut disampaikan dalam kunjungan silaturahmi jajaran Pengurus Pusat Wahdah Islamiyah ke Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah di Pusat Dakwah Hidayatullah (PDH), Jakarta Timur.

Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah, Dr. H. Rahmat Abdurrahman, Lc., M.A., mengatakan Indonesia yang luas dengan jumlah umat Islam yang besar membutuhkan kerja sama antarlembaga agar pelayanan dakwah dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Dengan luasnya Indonesia dan besarnya jumlah umat Islam, tidak mungkin seluruh kebutuhan dakwah ditangani oleh satu organisasi saja. Karena itu, kolaborasi antarlembaga merupakan sebuah keniscayaan,” ujarnya.

Menurut Rahmat, hubungan antara Hidayatullah dan Wahdah Islamiyah telah terbangun sejak lama dan terus berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama, termasuk dalam bidang pendidikan, pembinaan kader, dan pelayanan umat.

Ia menilai kedekatan kedua organisasi tidak hanya lahir karena memiliki akar geografis yang sama, tetapi juga karena memiliki visi perjuangan yang sejalan dalam membangun umat melalui dakwah dan pendidikan.

“Di berbagai forum nasional, Hidayatullah dan Wahdah Islamiyah sering dianggap memiliki kedekatan yang sangat erat. Hal itu menunjukkan bahwa kedua organisasi memiliki banyak kesamaan dalam perhatian terhadap dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rahmat juga menyampaikan undangan resmi kepada keluarga besar Hidayatullah untuk menghadiri pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah yang akan diselenggarakan pada 21-25 Agustus 2026 di Jakarta.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut sekaligus mendoakan agar Muktamar V Wahdah Islamiyah berjalan lancar dan membawa manfaat bagi umat.

“Semoga Allah SWT memberikan kemudahan, perlindungan, dan keberkahan sehingga muktamar tersebut berjalan sukses serta semakin menguatkan kontribusi Wahdah Islamiyah bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Naspi menambahkan bahwa Hidayatullah dan Wahdah Islamiyah memiliki sejarah persaudaraan yang panjang sehingga perlu terus dipelihara melalui komunikasi, silaturahmi, dan kerja sama yang berkesinambungan.

“Spirit persaudaraan itulah yang ingin terus kita rawat dan kuatkan,” katanya.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: WhatsApp-Image-2026-07-15-at-11.19.21.jpeg
Ketua Umum DPP Hidayatullah K.H. Nashpi Arsyad, Lc., menyerahkan cenderamata sebagai simbol penguatan ukhuwah dan sinergi antarlembaga dakwah kepada Ketua Harian DPP Wahdah IslamiyahDr. H. Rahmat Abdurrahman, Lc., M.A.., usai pertemuan silaturahmi di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta,

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Selain menjadi ajang mempererat ukhuwah, silaturahmi tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, serta berbagai program pemberdayaan umat di masa mendatang.

Seribu QRIS Personal Mulai Didistribusikan untuk Gerakan Subuh Bersedekah (GSB)

0
Ketua Umum DPP Hidayatullah K.H. Nashpi Arsyad, Lc. menyampaikan sambutan pada peluncuran Aplikasi Sedekah Subuh, hasil kolaborasi DPP Hidayatullah, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan Maybank Syariah, dalam rangka mendukung Gerakan Subuh Bersedekah (GSB)
(Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — DPP Hidayatullah bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Maybank Syariah mulai mendistribusikan 1.000 QRIS Personal Campaign sebagai bagian dari penguatan Gerakan Subuh Bersedekah (GSB). Langkah ini menjadi tahap awal sebelum gerakan tersebut diperluas kepada masyarakat secara lebih luas.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menegaskan bahwa Gerakan Subuh Bersedekah akan terus dimasifkan melalui berbagai strategi agar semakin dikenal dan menjadi budaya di tengah masyarakat. Menurutnya, respons kader Hidayatullah terhadap gerakan ini terus menunjukkan tren positif sejak pertama kali diperkenalkan di lingkungan internal.

“Gerakan ini harus kita maksimalkan. Insya Allah akan terus kita viralkan dan masifkan dengan berbagai cara. Sejak digaungkan di internal Hidayatullah, grafik partisipasinya selalu meningkat. Apalagi setelah hadir QRIS Personal yang didukung Maybank Syariah, pertumbuhannya cukup signifikan. Binaan-binaan Hidayatullah merasakan proses bersedekah yang jauh lebih mudah,” ujar KH. Naspi Arsyad dalam konferensi pers bersama wartawan di Bangi Coffee, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2026).

Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id

Ia menjelaskan, fokus utama saat ini adalah menyelesaikan sosialisasi di seluruh jaringan internal Hidayatullah. Setelah itu, Gerakan Subuh Bersedekah akan diperluas agar semakin banyak masyarakat dapat berpartisipasi dalam gerakan kebaikan tersebut.

Sementara itu, Direktur Maybank Syariah, Romy Hardiansyah, menyampaikan bahwa distribusi QRIS Personal telah berjalan melalui sinergi dengan jaringan BMH dan Hidayatullah di berbagai daerah. Menurutnya, seribu QRIS yang telah disiapkan merupakan langkah awal dari pengembangan program yang akan terus diperluas.

“Distribusi tentunya sudah berjalan melalui kerja sama dengan teman-teman di BMH dan Hidayatullah kepada kader-kader yang ada. Ini saya rasa baru permulaan. Insya Allah jumlahnya akan semakin banyak ke depan,” kata Romy.

Melalui distribusi QRIS Personal Campaign tersebut, DPP Hidayatullah, BMH, dan Maybank Syariah berharap Gerakan Subuh Bersedekah semakin mudah diakses masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital ini diharapkan mampu memperluas partisipasi publik dalam budaya bersedekah sekaligus memperkuat ekosistem filantropi Islam yang inklusif, modern, dan berkelanjutan.