Beranda blog Halaman 3

Dr. Nashirul Haq, Melahirkan Generasi Unggul dari Pondok Pesantren

0

TERNATE (Hidayatullah or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara sukses menggelar Seminar Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid Menyongsong Indonesia Emas” ini dilangsungkan di Aula Pemerintah Kota Ternate pada Sabtu (24/10/2026).

Seminar strategis ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah yang juga Wasek Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., M.A., Asisten I Pemprov Maluku Utara, Kadri La Etje, S.Pi., M.Si., serta Walikota Ternate, Dr. H. Tauhid Soleman, M.Si.

Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Drs. Nasri Bohari, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa rangkaian peringatan Hari Santri tahun ini tidak hanya diisi oleh Seminar Kebangsaan, tetapi juga dirangkaikan dengan Daurah Marhalah Wustha yang diikuti lebih dari 33 peserta, serta ditutup dengan Tabligh Akbar di Masjid Raya Ternate.

Pembangunan SDM dan Pendidikan Holistik

Tampil sebagai narasumber kedua, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., M.A., memaparkan materi mendalam mengenai investasi pendidikan generasi unggul menuju Indonesia 2045. Di awal pemaparannya, ia menegaskan bahwa kebangkitan suatu bangsa mutlak berakar dari kualitas sumber daya manusianya.

“Membangun peradaban suatu bangsa harus dimulai dari pembangunan sumber daya manusianya melalui pendidikan,” tegas Nashirul di hadapan para peserta.

Nashirul menjelaskan bahwa pendidikan Islam memiliki sifat yang holistik dan menyeluruh. Tujuannya adalah membentuk manusia utuh dalam seluruh aspek kehidupan spiritual, intelektual, emosional, fisik, dan sosial yang dikembangkan secara seimbang demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lanjut alumni Universitas Islam Madinah tersebut, arah tujuan pendidikan nasional yang menempatkan iman, takwa, dan akhlak sebagai fondasi sangat selaras dengan pesan luhur lagu kebangsaan Indonesia Raya, yakni “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Landasan inilah yang membuat pendidikan Islam kokoh dalam membangun jiwa sekaligus mengembangkan potensi fisik serta intelektual manusia.

Di lingkungan Hidayatullah, konsep tersebut diimplementasikan secara nyata melalui Pendidikan Islam Berbasis Tauhid, yakni sistem pendidikan di mana seluruh praktik dan konsepnya didirikan di atas fondasi tauhid yang kokoh.

Kunci Keberhasilan: Peran Pendidik dan Sinergi Lingkungan

Untuk melahirkan generasi yang benar-benar unggul, Nashirul Haq memaparkan bahwa setiap pendidik harus menjalankan tiga peran secara simultan, meliputi pembentukan adab, mengajarkan ilmu, dan melatih keterampilan.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi yang padu dari tiga unsur utama rumah, sekolah, dan lingkungan yang masing-masing harus mengambil tanggung jawab secara bersama-sama.

Menutup pemaparannya, Dr. Nashirul Haq menarik sebuah konklusi penting: “Pendidikan pesantren memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang unggul, cerdas, dan beradab menyongsong Indonesia Emas.” Tegasnya

Membangun Peradaban Bangsa, Nashirul Haq Tekankan Pentingnya Pendidikan Berbasis Tauhid

0

TERNATE — DPW Hidayatullah Maluku Utara sukses menggelar Seminar Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Kegiatan yang mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid Menyongsong Indonesia Emas” ini dilangsungkan di Aula Pemerintah Kota Ternate, Sabtu (24/10/2026).

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syuro Hidayatullah yang juga Wasek Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., Asisten I Pemprov Maluku Utara, Kadri La Etje, S.Pi., M.Si., serta Walikota Ternate, Dr. H. Tauhid Soleman, M.Si.

Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Drs. Nasri Bohari, M.Pd.I. dalam sambutannya menyampaikan bahwa selain Seminar Kebangsaan, rangkaian peringatan Hari Santri Nasional tahun ini juga diisi dengan kegiatan Daurah Marhalah Wustha yang diikuti oleh lebih dari 33 peserta, serta Tabligh Akbar di Masjid Raya Ternate.

  • Pendidikan Holistik dan Fondasi Tauhid

Tampil sebagai pembicara kedua, Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., memaparkan materi strategis mengenai investasi pendidikan generasi unggul menuju Indonesia 2045. Di awal pemaparannya, ia menegaskan bahwa upaya membangun peradaban suatu bangsa harus dimulai dari pembangunan sumber daya manusianya melalui jalur pendidikan.

“Membangun peradaban suatu bangsa harus dimulai dari pembangunan sumber daya manusianya melalui pendidikan,” tegas Nashirul Haq di hadapan para peserta seminar.

Ia menjelaskan, pendidikan Islam bersifat holistik dan menyeluruh, yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya dalam seluruh aspek kehidupan demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Aspek spiritual, intelektual, emosional, fisik, dan sosial harus dikembangkan secara seimbang.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa tujuan pendidikan nasional yang menempatkan iman, takwa, dan akhlak sebagai fondasi sejalan dengan pesan luhur dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, yakni “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Oleh karena itu, pendidikan Islam memiliki landasan kuat untuk mewujudkan pembangunan jiwa sekaligus mengembangkan potensi fisik dan intelektual manusia.

Dalam konteks Hidayatullah, konsep tersebut diwujudkan melalui Pendidikan Islam Berbasis Tauhid. Sebuah sistem di mana seluruh konsep dan praktik pendidikan dibangun di atas fondasi tauhid yang kokoh.

Tiga Peran Pendidik dan Sinergi Tripusat Pendidikan

Untuk melahirkan generasi yang unggul, Nashirul Haq menekankan bahwa setiap pendidik perlu menjalankan tiga peran secara simultan, yaitu membentuk adab, mengajarkan ilmu, dan melatih keterampilan.

Selain peran pendidik, keberhasilan proses pendidikan juga sangat ditentukan oleh sinergi yang kuat antara tiga unsur utama (tripusat pendidikan), yakni rumah, sekolah, dan lingkungan, yang masing-masing harus menjalankan tanggung jawabnya secara terpadu.

    Mengakhiri pemaparannya, Nashirul Haq menarik sebuah kesimpulan penting. “Pendidikan pesantren memiliki peran penting dalam melahirkan generasi yang unggul, cerdas, dan beradab menyongsong Indonesia Emas,” pungkasnya. (J. Ruwais)

    Hidayatullah Malut Gelar Seminar Kebangsaan, Perkuat Karakter Generasi Menuju Indonesia Emas 2045

    0

    TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara menggelar Seminar Kebangsaan bertema “Transformasi Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Aula Kantor Wali Kota Ternate, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

    Seminar tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Ternate, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Maluku Utara. Ratusan peserta dari berbagai kalangan hadir untuk membahas penguatan pendidikan karakter, nilai-nilai ketauhidan, serta peran pendidikan Islam dalam mempersiapkan generasi unggul.

    Kegiatan dibuka oleh Asisten I Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Kadri La Etje, S.Pi., M.Si., yang hadir mewakili Wakil Gubernur Maluku Utara sekaligus menyampaikan keynote speech. Ia menekankan pentingnya pendidikan dan semangat berkompetisi bagi generasi muda dalam mempersiapkan Indonesia Emas 2045.

    Menurutnya, santri dan mahasiswa perlu meningkatkan kapasitas diri serta menghindari sikap apatis agar mampu menjadi generasi yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

    Hadir sebagai narasumber, Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si., dan tokoh nasional Hidayatullah, Dr. KH. Nashirul Haq, Lc., M.A., dari Majelis Syura DPP Hidayatullah yang juga menjabat Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat.

    Dalam pemaparannya, Nashirul Haq menekankan bahwa Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, beriman, berakhlak mulia, berpendidikan, kreatif, produktif, dan mandiri.

    Ia menjelaskan bahwa pendidikan integral berbasis tauhid menjadi salah satu landasan penting untuk membentuk generasi yang memiliki keseimbangan antara iman, ilmu, akhlak, dan keterampilan. Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

    Sementara itu, Wali Kota Ternate, Tauhid Soleman, menyoroti pentingnya integrasi pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masjid. Ketiganya dinilai saling berkaitan dalam membentuk pribadi yang utuh dan berkarakter.

    Seminar yang dipandu Arief Ismail, M.H., dengan Abu Rahmat Ibrahim, S.TP., M.Sc., sebagai moderator tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan Islam, organisasi kepemudaan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan Universitas Khairun, hingga perwakilan pesantren, tenaga pendidik, dan santri.

    Melalui kegiatan ini, DPW Hidayatullah Maluku Utara mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, ulama, lembaga pendidikan, pesantren, dan masyarakat dalam membangun generasi yang unggul secara intelektual, kokoh dalam keimanan, berakhlak mulia, serta memiliki semangat kebangsaan.

    Seminar tersebut sekaligus menegaskan komitmen Hidayatullah Maluku Utara dalam mendorong pendidikan karakter berbasis tauhid sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

    Wisuda ke-XIV STIE Hidayatullah Depok, KH Naspi Arsyad: Daya Saing Harus Ditopang Integritas

    0
    Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: HI.OR_.ID-2026-10-27-at-10.56.06.jpeg
    Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan sambutan dalam Wisuda XIV STIE Hidayatullah Depok di Harris Hotel Cibinong, Bogor, Ahad (25/10/2026).

    BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa daya saing sumber daya manusia tidak cukup dibangun melalui kompetensi akademik dan keterampilan profesional. Integritas menjadi fondasi penting agar kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki seseorang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Pesan tersebut disampaikan Naspi dalam sambutannya pada Wisuda ke-XIV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok di Harris Hotel Cibinong, Ahad (25/10/2026).

    Menurut Kiai Naspi, bangsa Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia dengan kemampuan yang dapat diandalkan, baik dalam bidang akademik, sains, olahraga, maupun berbagai bidang profesional lainnya. Namun, kemampuan tersebut perlu disertai karakter yang kuat agar melahirkan pribadi yang dapat dipercaya.

    Ia mengibaratkan integritas seperti fondasi dan tiang sebuah bangunan. Rumah yang tampak megah tidak akan berdiri kokoh apabila fondasi dan tiang penyangganya rapuh, meskipun bagian luarnya terlihat kuat dan meyakinkan.

    “Integritas adalah kata yang sangat agung yang sudah mulai dirasakan kehilangan dari jati diri bangsa dan negara kita,” ungkap Kiai Naspi.

    Kiai Naspi menyoroti fenomena penyimpangan yang melibatkan individu berpendidikan tinggi maupun oknum yang membawa identitas akademik. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa gelar akademik dan pengetahuan tidak secara otomatis menjamin seseorang memiliki integritas.

    Karena itu, ia mengingatkan para wisudawan dan wisudawati agar menjadikan pendidikan sebagai sarana membangun kompetensi sekaligus memperkuat karakter. Lulusan perguruan tinggi harus mampu menunjukkan keselarasan antara ilmu yang dikuasai, nilai yang diyakini, dan tindakan yang dilakukan.

    Dari Pernyataan Menuju Kenyataan

    Dalam sambutannya, Naspi juga mengangkat pemikiran pendiri Hidayatullah, K.H.Abdullah Said, yang mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh berhenti pada alam pernyataan, tetapi harus bergerak menuju alam kenyataan.

    Pesan tersebut menjadi penting bagi para lulusan yang akan memasuki dunia profesional. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari gelar yang diperoleh atau pekerjaan yang didapatkan, tetapi juga dari kontribusi nyata yang diberikan.

    Ia mengajak para lulusan untuk tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi memiliki kesadaran untuk mengabdi dan memberikan manfaat yang lebih luas.

    Kiai Naspi mengaitkan semangat tersebut dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 78, khususnya penggalan ayat wa jāhidū fillāhi haqqa jihādih, yang mengandung seruan untuk bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah.

    Dalam konteks kehidupan profesional, semangat itu dapat diwujudkan melalui kesungguhan bekerja, tanggung jawab terhadap amanah, dan kesediaan memberikan kemampuan terbaik.

    Ia berharap para lulusan STIE Hidayatullah mampu mengintegrasikan kompetensi, daya saing, dan integritas dalam perjalanan mereka ke depan.

    Dengan bekal tersebut, para lulusan diharapkan tidak hanya mampu menghadapi persaingan, tetapi juga menjadi pribadi yang dapat dipercaya serta memberikan kontribusi positif bagi umat, bangsa, dan negara.

    Peringati HSN 2026, Hidayatullah Banten Komitmen Teguhkan Peran Santri Masa Depan sebagai Pemimpin Bangsa

    0

    SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Santri tidak cukup dipersiapkan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an dan menguasai ilmu agama. Mereka juga perlu dibina agar mampu mengambil tanggung jawab kepemimpinan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

    Demikian komitmen peneguhan dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang diselenggarakan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Banten pada 22–24 Oktober 2026 di Komplek Yayasan Al-Firdaus Serpong, Kota Tangerang Selatan, dengan melibatkan 167 santri penghafal Al-Qur’an dari berbagai daerah di Banten.

    Ketua DPW Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, menegaskan posisi penting generasi muda santri hari ini dalam keberlanjutan bangsa. “Kalian adalah generasi penerus bangsa selanjutnya,” kata Dadan di acara puncak peringatan HSN 2026 itu.

    Dadan mengatakan, menyiapkan penerus bangsa berarti menyiapkan calon pemimpin. Kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara atau menduduki jabatan, tetapi juga oleh keluasan pengetahuan, keteguhan prinsip, kedisiplinan, integritas, dan kesanggupan melayani masyarakat.

    “Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman hendaknya hadir dalam tindakan kita sehari hari, termasuk ketika antum (Anda) menghadapi perbedaan, mengambil keputusan, dan menjalankan amanah,” katanya.

    Dalam konteks Indonesia yang majemuk, santri juga berhadapan dengan tanggung jawab menjaga hubungan antara identitas keagamaan dan kehidupan kebangsaan. Dadan menegaskan, penguasaan ilmu agama menjadi fondasi, tetapi perlu berjalan bersama pemahaman terhadap persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, dan perkembangan teknologi.

    “Tanpa membekali diri dengan keluasan wawasan dan kemampuan membaca perubahan, Anda sebagai generasi masa depan berisiko kesulitan menjawab persoalan masyarakat yang semakin kompleks,” katanya.

    Butuh Kesinambungan

    Peringatan Hari Santri di Serpong menjadi ruang pertemuan bagi 167 santri dari berbagai daerah di Banten. Ketua Yayasan Al-Firdaus, Muhammad Irwan, menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah menyukseskan rangkaian kegiatan tersebut.

    Dia menyampaikan, pembinaan santri sebagai calon pemimpin pada dasarnya menuntut kesinambungan antara pendidikan, keteladanan, dan praktik tanggung jawab. Dia berpesan bahwa hafalan Al-Qur’an merupakan capaian penting, tetapi relevansinya juga harus tercermin dalam akhlak, kejujuran, keadilan, serta kemanfaatan bagi sesama.

    “Melalui kegiatan ini, kami selaku tuan rumah dan Hidayatullah Banten secara umum ingin mengangkat kembali peran generasi santri dalam keberlanjutan bangsa,” kata Irwan kepada media ini.

    Dia menambahkan, tantangan penyiapan lahirnya generasi berkualitas kedepan adalah memastikan pembinaan tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi berlanjut dalam proses pendidikan yang membentuk generasi berilmu, berintegritas, dan siap memikul amanah kepemimpinan. “Kita mendoakan semoga kelak santri santri kita hari ini menjadi pemimpin di hari esok,” katanya menutup.

    DPP Hidayatullah Buka Dauroh Marhala Wustho, Perkuat Kapasitas Kepemimpinan Kader

    0

    JAWA TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah resmi membuka kegiatan Dauroh Marhala Wustho di Hidayatullah Jawa Timur, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan kader sekaligus mengonsolidasikan sistem perkaderan organisasi.

    Pembukaan kegiatan dipimpin Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Ustadz Fuad Fachruddin, M.Pd. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kedekatan kader dengan murobbi sebagai bagian dari proses menuntut ilmu, pembentukan adab, serta penguatan nilai-nilai perjuangan dakwah.

    Menurutnya, perkaderan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan spiritual melalui bimbingan serta keteladanan para murobbi.

    Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz Amun Rowie, turut memberikan arahan mengenai dinamika dan tantangan penugasan kader di lapangan. Ia menegaskan bahwa setiap daerah memiliki peluang untuk mengembangkan dakwah apabila kader mampu membaca potensi dan mencari solusi atas berbagai tantangan.

    Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti tahapan perkaderan secara utuh dan berjenjang, mulai dari Dauroh Marhala Ula, Wustho, hingga Ulya. Setiap jenjang memiliki tujuan dan kurikulum tersendiri untuk membentuk kesiapan mental, intelektual, serta kemampuan manajerial kader.

    Dauroh Marhala Wustho dinilai memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap mengemban amanah organisasi. Melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan, Hidayatullah berupaya memastikan regenerasi kepemimpinan dan keberlangsungan perjuangan dakwah tetap terjaga.

    Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman kader terhadap asas dan garis perjuangan organisasi sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam menjalankan amanah dakwah di berbagai wilayah penugasan.

    Hidayatullah dan Atdikbud KBRI Dili Teken MoU, Perkuat Kerja Sama Pendidikan Indonesia–Timor-Leste

    Perwakilan DPP Hidayatullah bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili dalam penandatanganan MoU kerja sama pendidikan Indonesia–Timor-Leste.

    DILI, TIMOR-LESTE (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili, Timor-Leste, Kamis (22/10/2026). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan jejaring kelembagaan kedua negara.

    Penandatanganan berlangsung di Pusat Budaya Indonesia KBRI Dili. DPP Hidayatullah diwakili Ketua Bidang Organisasi, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H., sedangkan pihak KBRI Dili diwakili Prof. Dr. Tasrifin Tahara, M.Si., selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan.

    Dalam kunjungan tersebut, Dudung didampingi Kepala Departemen Hubungan Antarbangsa (HAB) DPP Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy., MIRK. Turut hadir Sekretaris Wilayah Hidayatullah Nusa Tenggara Timur, Direktur MI Pemimpin RQH Kupang, serta Muhammad Sholeh.

    Perluas Akses Pendidikan Tinggi

    Nota Kesepahaman ini menjadi landasan bagi pengembangan program pendidikan yang melibatkan perguruan tinggi di lingkungan dan jaringan Hidayatullah dengan lembaga pendidikan di Timor-Leste.

    Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah memperluas akses masyarakat Timor-Leste terhadap pendidikan tinggi di perguruan tinggi dalam lingkungan dan jaringan Hidayatullah.

    Kedua pihak juga membuka peluang pengembangan program beasiswa sesuai kemampuan masing-masing, pertukaran mahasiswa dan dosen, penyebarluasan informasi pendidikan tinggi, serta penyelenggaraan kuliah umum, seminar, lokakarya, konferensi, dan kegiatan akademik lainnya.

    Selain itu, kerja sama diarahkan pada peningkatan kapasitas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pengelola lembaga pendidikan melalui program pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Timor-Leste.

    Kepala Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dapat segera ditindaklanjuti melalui program konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara.

    Perguruan tinggi dalam jaringan Hidayatullah diharapkan dapat berkontribusi melalui program pendidikan, penelitian, beasiswa, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

    Dorong Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

    Kerja sama ini tidak hanya mencakup pendidikan formal, tetapi juga membuka peluang penelitian bersama mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan Indonesia dan Timor-Leste.

    Bidang yang dapat dikembangkan meliputi ekonomi, manajemen, kewirausahaan, pendidikan, sosial, keagamaan, budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    Kolaborasi juga mencakup pertukaran pengetahuan, pengembangan publikasi ilmiah bersama, penyelenggaraan seminar dan konferensi, serta peningkatan kapasitas peneliti.

    Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, program kerja sama diarahkan pada pendampingan UMKM, pengembangan kewirausahaan masyarakat dan generasi muda, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, pendidikan masyarakat, pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, serta kegiatan sosial dan kemanusiaan.

    Pelibatan dosen dan mahasiswa diharapkan dapat memperluas manfaat kerja sama sehingga kolaborasi internasional tidak hanya berlangsung pada tingkat kelembagaan, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

    Perkuat Jejaring Pendidikan Indonesia–Timor-Leste

    Penandatanganan MoU ini juga membuka peluang lebih luas bagi perguruan tinggi di lingkungan Hidayatullah untuk membangun kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga pendidikan, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya di Timor-Leste.

    Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili diharapkan mendukung komunikasi dan koordinasi kerja sama pendidikan, membantu pengembangan jejaring dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Timor-Leste, serta memberikan informasi mengenai kebutuhan dan peluang pengembangan pendidikan di negara tersebut.

    Sementara itu, DPP Hidayatullah akan mengoordinasikan perguruan tinggi dalam lingkungan dan jaringannya untuk mengambil bagian dalam pelaksanaan kerja sama, termasuk menyiapkan sumber daya akademik berupa dosen, peneliti, mahasiswa, dan tenaga ahli sesuai kebutuhan program.

    Kerja sama ini sekaligus menegaskan peran pendidikan sebagai salah satu jembatan untuk mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Timor-Leste serta memperkuat kontribusi lembaga pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia.

    Ditindaklanjuti dengan Program Konkret

    MoU tersebut selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh perguruan tinggi di lingkungan Hidayatullah melalui Memorandum of Agreement (MoA), Perjanjian Kerja Sama (PKS), Implementation Arrangement (IA), maupun program teknis lainnya.

    Melalui tindak lanjut tersebut, perguruan tinggi Hidayatullah berpeluang mengembangkan kerja sama yang lebih spesifik dengan mitra di Timor-Leste sesuai bidang keilmuan dan kapasitas masing-masing.

    DPP Hidayatullah berharap penandatanganan MoU ini menjadi awal dari hubungan kelembagaan yang lebih erat dan berkelanjutan. Kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan pendidikan dan penelitian, pemberdayaan masyarakat, serta perluasan hubungan Indonesia dan Timor-Leste.

    Kesepahaman ini juga menjadi bagian dari upaya Hidayatullah memperluas kiprah dan jejaring internasional agar lembaga pendidikan serta sumber daya yang dimiliki dapat memberikan manfaat lebih luas, melampaui batas geografis Indonesia.

    Nota Kesepahaman antara DPP Hidayatullah dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili tersebut berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua pihak.

    Halaqoh Kubro Hidayatullah Jawa Barat: KH. Naspi Arsyad Tekankan Peran Dai sebagai Solusi atas Permasalahan Bangsa

    0
    Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan taujih dalam Halaqoh Kubro Hidayatullah Jawa Barat di Sumedang.

    SUMEDANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam perhelatan Halaqoh Kubro Hidayatullah Jawa Barat yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri Nasional, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menjadi narasumber di hadapan ratusan santri dan dai dari berbagai perwakilan kabupaten dan kota di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Sumedang, Jawa Barat, Rabu (21 Oktober 2026)

    Kiai Naspi dalam pemaparannya menegaskan bahwa seorang da’i dan santri harus mampu hadir secara nyata di tengah masyarakat untuk menjadi solusi atas berbagai permasalahan bangsa.

    Dalam taujihnya, Kiai Naspi menyampaikan bahwa keberadaan da’i dan santri bukan sekadar pelengkap, melainkan harus menjadi elemen kunci pembawa perubahan dan peradaban. Mengarahkan pada pesan Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 43, beliau menekankan pentingnya kader dakwah menempa diri menjadi sosok ahladz dzikri—yakni figur yang berilmu, bertakwa, dan memiliki kedalaman spiritual sehingga siap menjadi marja’ atau tempat bertanya dan rujukan bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kegelisahan.

    “Keberadaan da’i dan santri bukanlah sekadar pelengkap, melainkan harus menjadi elemen kunci pembawa perubahan dan peradaban. Kader dakwah harus menempa diri menjadi sosok ‘ahladz dzikri’—yakni figur yang berilmu, bertakwa, dan memiliki kedalaman spiritual sehingga siap menjadi rujukan serta tempat bertanya bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kegelisahan.” tegas alumni Universitas Islam Madinah tersebut.

    Mantan Ketua STIS Balikpapan ini juga menggarisbawahi pentingnya memiliki karakter kepemimpinan sejati yang lahir dari proses perjuangan dan tempaan lapangan, bukan dari kenyamanan atau “kasur empuk”. Kepemimpinan menurutnya bukanlah sebuah jabatan struktural yang dikejar, melainkan karakter kuat yang berlandaskan integritas, keberanian, dan keikhlasan dalam berjuang (Wa laa tamnun tastaktsir).

    Selain itu, Kiai Naspi Arsyad mengingatkan bahwa dalam mengusung misi dakwah dan menggerakkan peradaban Islam, para da’i dan kader Hidayatullah harus selalu mengedepankan semangat persaudaraan (ukhuwah) serta membuka diri untuk bersinergi dengan berbagai elemen umat dan bangsa.

    “Kepentingan dan kemaslahatan masyarakat jauh lebih berharga dibandingkan mempertahankan ego kelompok”. tegas Naspi

    Kegiatan Halaqoh Kubro ini ditutup dengan semangat kebersamaan seluruh peserta untuk terus menguatkan ukhuwah, menyatukan langkah dakwah, serta siap diterjunkan ke berbagai penjuru daerah untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan agama dan bangsa.

    Hidayatullah Perkuat Komite Pakar, Percepat Langkah Membangun Peradaban Islam

    0

    JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah mendorong penguatan sinergi dengan kalangan pakar dari berbagai bidang keilmuan melalui Komite Pakar sebagai bagian dari upaya mempercepat pembangunan peradaban Islam.

    Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan daring bertajuk “Urgensi Komite Pakar dalam Akselerasi Membangun Peradaban” yang digelar Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini diikuti unsur Dewan Murabbi Wilayah serta Ketua Departemen Rekrutmen, Pembinaan Anggota, dan Perkaderan (RPAP) wilayah se-Indonesia.

    Ketua Bidang RPAP DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, menegaskan bahwa pembangunan peradaban Islam membutuhkan kolaborasi dengan individu yang memiliki keahlian dan kapasitas di bidang masing-masing.

    “Kita tidak mungkin membangun peradaban ini dengan kekuatan sendiri, kita butuh sinergi dan berkolaborasi dengan orang-orang yang berkualitas pada bidangnya masing-masing,” ungkapnya.

    Menurut Ghofar, pelibatan pakar merupakan bagian penting dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Ia menekankan pentingnya merujuk kepada ahli, mempertimbangkan kompetensi dan keterpercayaan, serta menghormati kedudukan orang-orang berilmu.

    Ia mencontohkan, pembinaan spiritual perlu berjalan beriringan dengan keahlian teknis dalam menyelesaikan persoalan sosial dan lingkungan. Jika pembinaan manusia menjadi salah satu fokus gerakan, persoalan seperti banjir juga membutuhkan keterlibatan ahli tata ruang dan pembangunan.

    Contoh tersebut menunjukkan bahwa pembangunan peradaban memerlukan pendekatan multidisipliner. Keahlian yang beragam perlu dipertemukan agar program organisasi mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih tepat dan berkelanjutan.

    Ghofar juga menilai interaksi dengan para pakar dapat memperluas wawasan, membuka jaringan kolaborasi, serta mempercepat pelaksanaan program organisasi.

    “Berinteraksi dengan pakar selalu ada inspirasi dan insight baru, perluasan jaringan untuk percepatan program juga sangat terbuka. Seperti pengalaman kita dengan Prof. Icuk RB dari Unsoed Purwokerto,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Komite Pakar dapat menjadi ruang untuk menjaring talenta sekaligus memperkuat kualitas intelektual dalam pengembangan program Hidayatullah. Upaya tersebut sejalan dengan nilai kinerja profetik profesional, yakni memadukan nilai-nilai kenabian dengan profesionalitas dalam menjalankan amanah.

    Perkuat Pendekatan Berbasis Kebutuhan Wilayah

    Menanggapi paparan tersebut, Ketua RPAP DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Barat, Sholihin, menilai pembahasan mengenai Komite Pakar relevan bagi pengembangan gerakan di daerah.

    Ia menekankan pentingnya konsep dan pendekatan yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing wilayah.

    “Kami mengira konsep dan pendekatan penting, syukur Alhamdulillah juga telah dijelaskan dengan lengkap oleh Ust. Ghofar Hadi,” tuturnya.

    Diskusi ini menegaskan pentingnya pengembangan Komite Pakar yang berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Dengan mempertemukan kapasitas keilmuan, pengalaman profesional, dan kebutuhan masyarakat, Hidayatullah diharapkan dapat mengembangkan program yang lebih terarah dan berdampak.

    Melalui sinergi tersebut, Komite Pakar diharapkan menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperkuat kontribusi Hidayatullah bagi umat, bangsa, dan pembangunan peradaban Islam.

    Sekjen DPP Hidayatullah Tekankan Digitalisasi untuk Perkuat Kemandirian Organisasi

    0
    Sekjen DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Nurpatria, M.Pd., memimpin Monev Organisasi 2026 DPW Hidayatullah Jawa Timur di Surabaya.

    SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Nurpatria, M.Pd., memimpin kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Organisasi Tahun 2026 yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (17/10/2026).

    Mengusung tema “Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh”, kegiatan ini menjadi momentum evaluasi pelaksanaan program kerja sekaligus penguatan konsolidasi dan tata kelola organisasi di tingkat wilayah.

    Dalam arahannya, Nanang menegaskan bahwa transformasi organisasi menjadi agenda penting untuk mewujudkan Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh. Menurutnya, digitalisasi merupakan salah satu strategi utama untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut.

    “Kata kunci kita dalam berorganisasi pada periode ini adalah transformasi organisasi dengan tujuan mandiri dan berpengaruh. Dan strategi yang paling tepat untuk mewujudkannya adalah dengan digitalisasi,” tegasnya.

    Kegiatan tersebut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Drs. Amun Rowi, M.Pd., bersama jajaran pengurus wilayah. Kehadiran jajaran pengurus ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pengurus pusat dan wilayah dalam menjalankan arah kebijakan organisasi.

    Perkuat Tata Kelola dan Kemandirian Organisasi

    Melalui kegiatan Monev, DPW Hidayatullah Jawa Timur mengevaluasi pelaksanaan program kerja sekaligus mengidentifikasi langkah-langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan organisasi.

    Digitalisasi menjadi salah satu perhatian utama, terutama dalam mendukung tata kelola administrasi, pelaksanaan program, dan aktivitas dakwah agar berjalan lebih efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    Sinergi antara DPP dan DPW diharapkan dapat memperkuat implementasi program organisasi secara terukur dan berkelanjutan. Upaya ini juga diarahkan untuk mendorong kemandirian organisasi, baik dari sisi manajerial maupun pengembangan sumber daya.

    Melalui transformasi yang berkelanjutan, Hidayatullah Jawa Timur diharapkan semakin optimal dalam menjalankan peran dakwah dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.