Beranda blog Halaman 3

Hidayatullah Kupang Dorong Transformasi Pendidikan Berbasis Tauhid dan Tata Kelola Profesional

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong transformasi pengelolaan lembaga pendidikan melalui penerapan tata kelola profesional yang tetap berlandaskan tauhid dan nilai-nilai Al-Qur’an.

Gagasan tersebut disampaikan Pembina Hidayatullah Kota Kupang, Ust. Syaiful Bahri, S.Ag., M.H., dalam Halaqah Pekanan yang diikuti jajaran pengurus DPD, yayasan, kepala sekolah, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Raudhatul Athfal (RA), serta pengelola Rumah Qur’an (RQH) di Kupang, Sabtu (12/09/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Ust. Syaiful yang juga Direktur Islamic Leadership School (iLEADS-RQH) menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam mengelola lembaga pendidikan. Menurutnya, lembaga pendidikan Hidayatullah tidak cukup hanya berorientasi pada keberlangsungan operasional, tetapi harus dibangun menjadi institusi yang unggul, sehat, profesional, mandiri, dan mampu bertahan lintas generasi.

“Kita harus mengubah pola pikir. Jangan lagi bertanya sekadar bagaimana sekolah bisa berjalan besok, tetapi bagaimana kita membangun institusi pendidikan yang unggul, sehat, profesional, dan mampu bertahan lintas generasi,” ujarnya.

Membangun Sistem yang Tidak Bergantung pada Figur

Ust. Syaiful juga menyoroti pentingnya menggeser pola pengelolaan lembaga dari ketergantungan pada figur individu menuju sistem kelembagaan yang kuat.

Menurutnya, keberlanjutan lembaga pendidikan Islam harus ditopang tata kelola yang mampu memastikan seluruh proses berjalan secara konsisten meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.

“Sekolah unggul tidak boleh bergantung pada satu atau dua orang saja. Jika figurnya berganti, sistem yang baik harus tetap berjalan konsisten. Inilah inti dari pendekatan korporasi, yaitu menghadirkan efisiensi, akuntabilitas, dan standardisasi,” jelasnya.

Meski mengadopsi prinsip manajemen korporasi modern, ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut hanyalah alat untuk memperkuat tata kelola, bukan tujuan akhir pendidikan Hidayatullah.

Tujuan utama lembaga pendidikan, lanjutnya, tetap dakwah dan pembentukan peradaban yang berlandaskan Al-Qur’an.

“Pendekatan korporasi tanpa nilai ruhiyah hanya akan menjadikan sekolah seperti mesin pencari angka atau peringkat. Di Hidayatullah, indikator keberhasilan (KPI) tidak hanya soal finansial atau jumlah siswa, melainkan kualitas ibadah, kedekatan dengan Al-Qur’an, adab, dan karakter kepemimpinan siswa juga menjadi prioritas,” tambahnya.

Pembagian Peran yang Jelas

Dalam pemaparannya, Ust. Syaiful turut menjelaskan pentingnya pembagian peran dalam tata kelola lembaga pendidikan agar setiap unsur dapat bekerja sesuai fungsi dan tanggung jawabnya.

Yayasan diarahkan sebagai pemilik sistem yang berfokus pada visi strategis, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pendanaan, serta suksesi kepemimpinan.

Sementara manajemen dan direksi berperan memastikan sistem berjalan melalui penyusunan kurikulum, standar operasional prosedur (SOP), indikator kinerja (KPI), dan pengelolaan operasional sesuai arah strategis lembaga.

Adapun kepala sekolah memiliki peran penting dalam menggerakkan tenaga pendidik dengan menempatkan orang sesuai kompetensinya serta memimpin melalui keteladanan.

Sedangkan guru dan wali kelas tidak hanya menjalankan fungsi pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai murabbi yang membina akal, adab, dan karakter ruhiyah peserta didik secara utuh.

Pendidikan sebagai Investasi Peradaban

Lebih lanjut, Ust. Syaiful mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memandang dukungan terhadap pendidikan bukan sekadar sumbangan karitatif, melainkan sebagai bagian dari investasi peradaban.

Melalui penguatan tata kelola tersebut, unit-unit pendidikan Hidayatullah di Kota Kupang, khususnya Islamic Leadership School (iLEADS), diharapkan mampu melahirkan generasi Qur’ani yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kesiapan menghadapi tantangan zaman.

Transformasi pendidikan tersebut sekaligus menjadi ikhtiar untuk membangun lembaga yang tidak hanya unggul secara manajerial, tetapi juga kokoh dalam nilai tauhid dan visi dakwah.

Wujudkan Ekosistem Mandiri, Ponpes Hidayatullah Cilengkrang Garap Unit Usaha Peternakan Domba

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Hidayatullah-Cilengkrang-Launching-Domba-Farm.jpg
Peluncuran Villa Domba Farm di Ponpes Hidayatullah Cilengkrang yang diawali dengan pengelolaan 62 ekor domba sebagai langkah memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Cilengkrang, Jawa Barat, resmi memulai pengembangan unit usaha peternakan melalui Launching Domba Farm Hidayatullah Cilengkrang, Sabtu (12/09/2026).

Sebanyak 62 ekor domba menjadi bagian awal dari unit usaha produktif yang dikembangkan di kawasan Villa Domba Farm, Pondok Pesantren Hidayatullah Cilengkrang.

Launching tersebut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat Ustaz Ahmad Maghfur, didampingi Sekretaris Wilayah Ustaz Suhendar, serta jajaran pengurus Yayasan Hidayatullah Cilengkrang.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya mengembangkan kemandirian ekonomi pesantren melalui usaha produktif yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad menyambut baik hadirnya Domba Farm tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pengembangan badan usaha di Hidayatullah Cilengkrang sebenarnya telah menjadi harapan yang cukup lama.

“Ini termasuk doa lama yang terkabulkan. Saya ingat Ustaz Naufal sudah lama ingin ada badan usaha di Hidayatullah Cilengkrang ini. Niat awalnya 10 ekor, namun Allah SWT mengabulkan dengan enam kali lipat, langsung 62 ekor,” ujarnya.

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Peluncuran-Villa-Domba-Farm.jpeg

KH Naspi juga menyampaikan apresiasi kepada H. Deden atas kepercayaan dan kerja sama yang diberikan dalam pengadaan 62 ekor domba tersebut.

Ia berharap amanah tersebut dapat dikelola dengan sungguh-sungguh sehingga Domba Farm Hidayatullah Cilengkrang dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Sementara itu, Ustaz Naufal, Kadep Ekonomi DPW Hidayatullah Jawa Barat, mengatakan bahwa Domba Farm diarahkan sebagai unit ekonomi produktif yang tumbuh dari lingkungan pesantren.

“Ini kita arahkan menjadi unit ekonomi atau unit produktif di Pondok Pesantren Hidayatullah Cilengkrang. Mudah-mudahan bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi pesantren,” ungkapnya.

Ke depan, Domba Farm Hidayatullah Cilengkrang diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu sumber kemandirian ekonomi pesantren sekaligus memenuhi kebutuhan hewan kurban bagi keluarga besar Hidayatullah, khususnya di wilayah Bandung dan Jawa Barat.

Launching ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan ekosistem ekonomi pesantren yang tidak hanya berorientasi pada usaha, tetapi juga mendukung keberlangsungan gerakan tarbiyah dan dakwah.

“Semua ini tidak lain tidak bukan adalah untuk memperkuat mainstream Hidayatullah: tarbiyah dan dakwah,” tegas KH Naspi.

‎KH. Naspi Arsyad Ungkap Pentingnya Pengorbanan dan Ibadah Nyata

0

Di tengah maraknya pemaknaan agama yang cenderung serba instan, umat Islam diingatkan kembali bahwa keimanan sejati membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan modal ibadah yang nyata. Hal tersebut menjadi pokok penekanan dalam khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Graha Riung, Harapan Indah, Kabupaten Bekasi. Jum’at (11/09/2026)

‎Mengawali khotbahnya, Kiai Naspi menyoroti pergeseran prinsip ekonomi klasik. Prinsip lama yang berbunyi “dengan modal sekecil-kecilnya untuk meraih untung sebesar-besarnya” kini mulai ditinggalkan para pelaku bisnis karena mereka menyadari bahwa investasi terbesar adalah kepercayaan jangka panjang. Prinsip baru pun lahir: “dengan modal sebesar-besarnya untuk meraih keuntungan yang jauh lebih besar”.

‎Kiai Naspi menjelaskan bahwa logika ini sejalan dengan prinsip spritual Islam yang telah ditegaskan sejak 14 abad lalu. Untuk meraih kemaslahatan dunia dan akhirat, diperlukan “modal” ibadah dan pengorbanan yang tidak sedikit.

‎Pengakuan Keimanan Butuh Pembuktian

‎Menyitir Surah Al-Hujurat ayat 14–15, khatib mengingatkan kisah Arab Badui yang mengklaim telah beriman. Allah SWT menegaskan bahwa iman bukan sekadar ucapan syahadat di lisan, melainkan menuntut pengorbanan harta, tenaga, waktu, hingga jiwa.

‎”Ada kewajiban, ada konsekuensi dari iman. Ada konsekuensi dari syahadat jikalau kita ingin klaim keimanan kita diterima dan diakui oleh Allah SWT. Apa itu? Wa jaahaduu bi’amwaalihim wa anfusihim. Berkorban dengan harta, berkorban dengan tenaga, berkorban dengan waktu, bahkan berkorban dengan nyawa.” Tegas Kiai Naspi

‎Menghindari Sikap “Kuat Meminta, Lemah Berbuat”

‎Banyak umat Islam yang gigih berdoa memohon surga dan perlindungan dari neraka, namun aktivitas hariannya tidak mendukung doa tersebut. Shalat sering sekadar menggugurkan kewajiban, sedekah seadanya, dan Al-Qur’an hanya dibaca saat musibah atau bahkan sekadar jadi hiasan dinding.

‎Dalam ungkapan disebutkan bagaikan asap jauh dari apinya. Kita hanya kuat dalam meminta, kita hanya kuat dalam bermunajat, kita hanya kuat dalam berdoa. Tapi kemudian aktivitas harian kita tidak menjadi daya dukung bagaimana kuatnya kita meminta surga kepada Allah.

‎Kesungguhan Menjemput Rahmat Allah

‎Merujuk pada Hadis Qudsi (Anā ‘inda ẓanni ‘abdī), Allah SWT bertindak sesuai dengan prasangka, ikhtiar, dan mujahadah hamba-Nya. Jika manusia mendekat dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih melimpah.

‎”Saya tergantung dari prasangka hamba-Ku. Saya tergantung dari perjuangan hamba-Ku. Saya tergantung dari usaha hamba-Ku. Jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat padanya satu hasta. Jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.”

‎Seringkali kita meremehkan kebaikan Allah SWT yang berdasarkan upaya kita. Seringkali secara faktual, kitalah yang meminta Allah SWT aktif mendekati kita di sela-sela minimnya ibadah kita. Di sela-sela rendahnya proses pendekatan kita kepada Allah, kita yang meminta Allah untuk lebih aktif mendekati kita.

‎Padahal Allah SWT menegaskan: “Saya tergantung dari prasangka hamba-Ku. Saya tergantung dari usaha dan mujahadahnya.” Maka jikalau mujahadah kita, usaha kita adalah usaha dan mujahadah yang mampu meyakinkan Allah bahwa kita tidak sekadar kuat dalam bermunajat, kita tidak sekadar kuat dalam meminta dan berdoa, tapi kita juga kuat dalam praktik ibadah kita, maka Allah janjikan: “Saya akan datang lebih dari apa yang engkau berikan kepada-Ku.” Tegas  Kiai Naspi

‎Diakhir khotbahnya, Kiai Naspi mengajak jama’ah untuk do’a bersama, memohon ampunan, kekuatan dalam beribadah, keselamatan menjelang bulan suci Ramadan, serta solidaritas dan kedamaian bagi umat Islam yang sedang tertindas di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina.

‎Audiensi dengan Menteri Kebudayaan RI, Hidayatullah Siap Bersinergi Lestarikan Warisan Budaya Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Fadli Zon, di kantor Kementerian Kebudayaan RI, Jakarta, Kamis (10/09/2026). Pertemuan tersebut membahas peluang sinergi dalam pemajuan dan pelestarian kebudayaan Indonesia, khususnya melalui jaringan pendidikan dan pesantren Hidayatullah di berbagai daerah.

‎Ketua Umum DPP Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan bahwa Hidayatullah berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun Indonesia yang semakin bermartabat, termasuk melalui penguatan kebudayaan.

‎“Hidayatullah tetap pada komitmennya, membangun Indonesia yang bermartabat, salah satunya dengan menjaga dan melestarikan warisan budaya dari para pendiri Bangsa. Sehingga kami siap menjadi mitra pemerintah termasuk Kementerian Kebudayaan RI,” ujar Kiai Naspi.

‎Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat luas dan banyak di antaranya memiliki nilai yang sejalan dengan ajaran Islam. Karena itu, warisan budaya tersebut perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

‎Kiai Naspi menambahkan, Hidayatullah memiliki jaringan sekolah dan pesantren yang tersebar di 37 provinsi di Indonesia. Jaringan tersebut dinilai dapat menjadi ruang strategis untuk ikut melestarikan warisan ulama dan kekayaan budaya lokal.

‎“Masih banyak budaya kita yang sejalan dengan nilai-nilai agama Islam. Warisan para ulama juga perlu dilestarikan dan diwariskan melalui sekolah-sekolah Hidayatullah di seluruh Indonesia,” jelas Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.

‎Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Hidayatullah tengah mempersiapkan program pendidikan bahasa daerah di sekolah-sekolah Hidayatullah. Program ini diarahkan untuk memperkenalkan dan menjaga bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas kebudayaan Indonesia.

Selain bahasa daerah, Hidayatullah juga mempersiapkan seni bela diri pencak silat yang diharapkan menjadi salah satu ciri khas Hidayatullah. Seni bela diri tersebut direncanakan akan diperkenalkan secara resmi dalam Rakernas Hidayatullah yang akan digelar pada 1–3 Desember 2026 di Semarang, Jawa Tengah.

‎Dalam audiensi tersebut, Dr. Dudung Amadung Abdullah sebagai Ketua Pelaksana Rapat Kerja Nasional juga menyampaikan harapan agar Menteri Kebudayaan RI berkenan hadir membuka Rakernas sekaligus meluncurkan secara resmi seni bela diri khas Hidayatullah tersebut.

‎Fadli Zon Usulkan Nama “Satria Hidayatullah”

‎Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, menyambut positif rencana sinergi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Kementerian Kebudayaan memiliki jaringan 33 Balai Pelestarian Kebudayaan yang dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam pemajuan kebudayaan.

‎Fadli Zon menyebut pemajuan kebudayaan mencakup berbagai aspek, antara lain bahasa, tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, seni, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya masyarakat.

‎Dalam konteks tersebut, ia melihat jaringan pesantren dan sekolah Hidayatullah memiliki potensi besar untuk menjadi mitra Kementerian Kebudayaan.

‎“Pondok pesantren Hidayatullah bisa menjadi mitra Kementerian Kebudayaan dalam mengembangkan kebudayaan Indonesia,” kata Fadli Zon.

‎Ia membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, mulai dari pelestarian bahasa, seni, pencak silat, hingga bidang perfilman.

‎“Mulai dari bahasa, seni, pencak silat, film, musium bersejarah dan berbagai bidang kebudayaan lainnya,” ujarnya.

‎Menariknya, terkait rencana seni bela diri pencak silat khas Hidayatullah, Fadli Zon memberikan usulan nama “Satria Hidayatullah.” Nama tersebut diharapkan dapat merepresentasikan karakter generasi muda yang memiliki ketangguhan, kedisiplinan, keberanian, sekaligus nilai-nilai luhur.

‎Terkait agenda Rakernas Hidayatullah di Semarang, Fadli Zon menyampaikan bahwa pihaknya akan mengagendakan kehadiran tersebut.

‎“Insya Allah kami agendakan hadir membuka acara Rakernas Hidayatullah di Semarang,” ungkapnya.

‎Fadli Zon juga menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan mengajak Hidayatullah untuk membangun sinergi dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan kebudayaan Indonesia.

‎“Kementerian Kebudayaan mengajak Hidayatullah untuk bersinergi dalam mengembangkan dan menjaga warisan kebudayaan,” tegasnya.

‎Audiensi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara Hidayatullah dan Kementerian Kebudayaan dalam menjadikan pendidikan, pesantren, dan komunitas keagamaan sebagai bagian dari ekosistem pemajuan kebudayaan nasional.

‎Melalui jaringan pendidikan dan pesantren yang tersebar di berbagai daerah, Hidayatullah berkomitmen ikut menjaga kekayaan budaya lokal sekaligus memastikan nilai-nilai luhur tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda Indonesia.

‎Agenda audiensi turut dihadiri oleh Bunda Neno Warisman, Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan RI. K.H. Drs. Hamim Thohari, M.Si., Ketua Pimpinan Majelis Syuro Hidayatullah. Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H., Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si., Ketua DPP Hidayatullah Bidang Rekrutmen dan Pembinaan Anggota. Adam Sukiman Lenggu, S.Pd., Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah. Dadang Kusmayadi, S.Sos., Redaktur Majalah Suara Hidayatullah.

HiSuF Dorong Santri Jadi Pemimpin dan Berpikir Ilmiah

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Student Forum (HiSuF) wilayah Pekanbaru-Dumai resmi bergulir pada Rabu (09/09/2026). Kegiatan yang diikuti sejumlah santri tersebut digelar secara daring melalui Google Meet.

Meski berlangsung secara virtual, forum berjalan interaktif. Para peserta aktif menyimak materi, berdiskusi, serta mengajukan pertanyaan terkait peran dan masa depan mereka sebagai kader Hidayatullah.

Hari pertama HiSuF menghadirkan sejumlah narasumber dari tingkat pusat. Materi yang disampaikan diarahkan untuk membantu peserta memahami sejarah dan identitas diri, sekaligus menumbuhkan keberanian berpikir, semangat belajar, serta kesadaran bahwa masa muda merupakan momentum penting untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin dan pembangun peradaban.

Belajar dari Muhammad Al-Fatih

Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Riau, Ustadz Abdul Ja’far Shadiq, dalam sambutan pembukaan mengajak peserta mengambil pelajaran dari perjalanan Sultan Muhammad Al-Fatih.

Menurutnya, keberhasilan Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel tidak lahir secara tiba-tiba. Sejak kecil, gurunya telah menanamkan keyakinan bahwa sosok yang dimaksud dalam kabar gembira Rasulullah SAW tentang penakluk Konstantinopel adalah dirinya.

Pendidikan tersebut, menurut Abdul Ja’far, turut membentuk keberanian berpikir dan bertindak hingga akhirnya mengubah arah sejarah dunia.

“Jangan pernah merasa terlalu muda untuk melakukan sesuatu yang besar. Justru masa muda adalah kesempatan terbaik memulai tindakan yang benar, positif, dan bernilai,” pesannya.

Ia juga mengingatkan ungkapan Bung Karno, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” sebagai gambaran besarnya potensi yang dimiliki generasi muda.

Meneguhkan Identitas Santri

Pada sesi berikutnya, Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, Imam Nawawi, mengajak peserta memahami identitas seorang Muslim.

Menurutnya, identitas seorang pelajar tidak berhenti pada nama atau status yang tercantum dalam kartu pelajar, tetapi berakar pada jati diri sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

“Sejak sekarang kita perlu menyiapkan kapasitas diri untuk menjadi pemimpin di masa depan. Itulah identitas yang seharusnya tumbuh dalam diri seorang santri,” jelasnya.

Imam yang juga dikenal melalui media sosial dengan nama Mas Imam Nawawi itu kemudian mengajak peserta membiasakan diri berpikir ilmiah.

Ia menilai, berbagai persoalan umat dapat diurai ketika generasi muda terbiasa membangun pendapat berdasarkan ilmu dan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Setiap ungkapan yang kita tulis atau sampaikan harus memiliki dasar ilmu dan referensi yang valid. Itulah disiplin berpikir ilmiah yang perlu terus kita latih,” ujarnya.

Menemukan Identitas Diri

Suasana forum semakin hidup ketika salah seorang santriwati, Zhafira, mengajukan pertanyaan tentang bagaimana menemukan identitas diri sebagai santri Hidayatullah.

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membahas arah hidup seorang kader. Menanggapi hal itu, Imam menjelaskan bahwa misi seorang santri tidak berhenti pada keberhasilan pribadi.

Lebih dari itu, setiap kader memikul amanah untuk ikut membangun peradaban melalui budaya membaca, menulis, berdakwah, serta membiasakan amalan-amalan utama yang terkandung dalam Surah Al-Muzzammil.

Sesi berikutnya dilanjutkan Ketua Departemen Perkaderan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH), Beny Soleh, yang saat ini sedang menempuh studi di LIPIA Jakarta.

Rangkaian HiSuF Pekanbaru-Dumai akan berlanjut pada Kamis (10/9/2026). Pada hari kedua, peserta dijadwalkan mengikuti materi yang disampaikan Wasekjen PP Pemuda Hidayatullah, Bang Refra, dan Kepala Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, Fuadz Fahruddin.

LPH Hidayatullah Babel Perkuat Kolaborasi Sertifikasi Halal bagi UMKM

0

BANGKA BELITUNG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah Bangka Belitung (Babel) melakukan audiensi dengan Dinas Koperasi dan UKM (DKUKM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (08/09/2026).

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong semakin banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bangka Belitung memiliki sertifikat halal.

Kepala DKUKM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Arie Primajaya, menyampaikan bahwa pemberlakuan Wajib Halal Oktober menjadi momentum penting bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk semakin aktif mendorong UMKM memenuhi ketentuan sertifikasi halal.

Menurutnya, kolaborasi dengan semakin banyak lembaga pemeriksa dan pendamping halal diperlukan agar informasi, pendampingan, serta akses sertifikasi halal semakin dekat dengan para pelaku UMKM.

“DKUKM Babel selama ini telah melakukan kerja sama dengan LPPOM MUI Babel dalam mendukung fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku UMKM,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pada 2025 sebanyak 244 sertifikat halal berhasil difasilitasi. Sementara pada 2026, tercatat sebanyak 45 sertifikat halal telah difasilitasi.

Sementara itu, perwakilan LPH Hidayatullah Babel, Furadi Mansur, menjelaskan bahwa LPH Hidayatullah merupakan lembaga pemeriksa halal berskala nasional yang telah hadir di 35 provinsi di Indonesia.

Menurut Furadi, audiensi tersebut selain menjadi sarana memperkenalkan keberadaan LPH Hidayatullah di Bangka Belitung, juga membuka peluang kolaborasi untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi pelaku usaha.

“LPH Hidayatullah tidak hanya melayani pemeriksaan untuk sertifikasi halal reguler, tetapi juga dapat mendukung proses sertifikasi melalui skema self declare melalui LP3H Hidayatullah,” jelasnya.

Furadi menambahkan, sertifikasi halal tidak semata-mata untuk memenuhi kewajiban regulasi. Lebih dari itu, sertifikasi halal menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen, meningkatkan daya saing, serta membuka peluang bagi produk UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pemeriksa dan pendamping halal, serta pelaku usaha diharapkan dapat semakin memperluas akses sertifikasi halal bagi UMKM di Bangka Belitung.

Dengan demikian, semakin banyak produk UMKM Babel diharapkan memiliki sertifikat halal, terpercaya, dan mampu bersaing di pasar yang semakin luas.

Keteladanan Sang Daiyah dan Warisan Pengasuhan Ustadzah Ummi Latifah

0
Warisan terindah seorang ibu: menanamkan Al-Qur’an dan kecintaan pada agama dalam jiwa anak-anaknya. Mengenang keteladanan Almarhumah Ustadzah Ummi Latifah bersama keluarga.

Kabar duka datang dari Balikpapan. Ustadzah Ummi Latifah, Pembimbing Muslimat Hidayatullah Balikpapan sekaligus istri KH Anwari Hambali, telah berpulang pada Rabu, 27 Rabiul Awwal 1448 H, bertepatan dengan 9 September 2026.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan lingkungan dakwah yang selama bertahun-tahun menjadi ruang pengabdiannya.

Almarhumah mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan, bertepatan dengan berkumandangnya azan Zuhur. Jenazahnya kemudian dimakamkan pada Rabu malam di TPU Gunung Tembak 1, Teritip, Balikpapan.

Namun, kepergian seorang hamba bukan berarti berakhirnya seluruh jejak pengabdian. Ada amal, keteladanan, dan nilai-nilai kebaikan yang terus hidup melalui orang-orang yang pernah disentuh oleh perjuangannya.

Nama Ummi Latifah tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang dakwah Hidayatullah. Dalam sebuah profil Hidayatullah.com pada 2020, ia dikenang sebagai daiyah senior yang telah berkecimpung dalam dunia dakwah setidaknya selama 25 tahun.

Dakwah baginya bukan sekadar perjalanan menemui masyarakat. Dakwah adalah jalan pengabdian yang dijalani dengan kesungguhan. Ia mengajar dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya di berbagai wilayah Balikpapan, bahkan ketika harus membawa serta anak-anaknya.

Setia Meniti Jalan Dakwah

Perjalanan dakwah itu berlangsung bersamaan dengan perannya sebagai ibu dan pendamping seorang dai.

Ummi Latifah dan Anwari Hambali menikah pada 1985, tidak lama setelah diperkenalkan oleh seorang penghubung dalam sebuah pengajian di Probolinggo.

Ketika sang suami harus berdakwah ke berbagai daerah, ia menjalani tanggung jawab keluarga di rumah. Ketika anak-anak telah dewasa, ia bahkan kerap mengikuti suaminya berdakwah ke berbagai daerah.

Prinsip yang dipegangnya begitu kuat: suami dan istri harus saling mendukung dan saling menopang dalam menjalankan amanah.

Di sinilah dakwah menemukan makna yang lebih luas. Ia tidak selalu hadir di atas mimbar atau di hadapan banyak orang. Terkadang, dakwah tumbuh dalam kesabaran seorang ibu, dalam kesetiaan seorang istri, dalam pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, serta dalam keteguhan menjaga keluarga agar tetap berada di jalan Allah.

Keluarga sebagai Ladang Pengabdian

Keluarga menjadi salah satu ruang penting dari pengabdian Ummi Latifah.

Dari sembilan putra-putri mereka, lima masih hidup dan empat telah lebih dahulu berpulang. Pada 2017, keluarga tersebut dicatat sebagai keluarga yang menempatkan pendidikan agama dan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupan anak-anak.

Empat dari lima anak yang masih hidup saat itu tengah menghafal Al-Qur’an di sejumlah pesantren, sementara seorang lainnya mengabdikan diri sebagai guru pesantren.

Apa yang ditanamkan dalam keluarga pada akhirnya menjadi bagian dari warisan yang paling berharga. Sebab, seorang ibu tidak hanya membesarkan anak untuk menjadi dewasa, tetapi juga menanamkan nilai yang diharapkan terus hidup dalam diri mereka.

Dari sini kita dapat belajar bahwa rumah bukan sekadar tempat beristirahat. Rumah adalah madrasah pertama. Di sanalah karakter dibentuk, kecintaan kepada Al-Qur’an ditanamkan, dan semangat pengabdian kepada agama diwariskan.

Sosok Pendidik

Di lingkungan Hidayatullah, pengabdian Ummi Latifah juga hadir melalui pendidikan.

Ia pernah diamanahi selama enam tahun sebagai pembimbing asrama putri di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak.

Ia kemudian dipercaya dalam kepengurusan Muslimat Hidayatullah sebagai anggota Majelis Penasehat Pusat (MPP) dan Ketua Majelis Murabbiyah.

Pesan yang pernah ia sampaikan kepada kader Muslimat memperlihatkan orientasi hidupnya untuk berjuang dan berkorban dengan harta, tenaga, dan pikiran untuk Islam melalui lembaga dakwah.

Keteladanan seperti ini mengingatkan kita bahwa usia dan waktu adalah amanah. Keduanya akan menjadi berarti ketika digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi agama, keluarga, dan umat.

Seseorang mungkin tidak selamanya berada di tengah-tengah kita. Namun, ilmu yang diajarkan, anak yang dididik, kader yang dibina, dan nilai yang ditanamkan dapat terus menjadi amal yang mengalir.

Warisan yang Harus Dijaga

Kini sosok itu telah tiada.

Namun, yang ditinggalkan Ummi Latifah bukan hanya kenangan personal, melainkan sebuah teladan tentang bagaimana dakwah, keluarga, pendidikan, dan pengabdian dapat dirajut dalam satu perjalanan hidup.

Model kepengasuhan yang ia dan Kiai Anwari jalankan juga merupakan warisan penting yang layak terus dikaji dan dikembangkan.

Sebab, pada akhirnya, ukuran sebuah pengabdian bukan hanya berapa lama seseorang hadir, melainkan seberapa jauh nilai yang ia tanam terus hidup setelah dirinya pergi.

Kepergian Ummi Latifah menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan adalah perjalanan menanam. Setiap kebaikan yang ditanam dengan ikhlas akan menemukan jalannya untuk tumbuh, meskipun orang yang menanamnya telah kembali menghadap Allah.

Dalam pengertian itulah, kepergian Ummi Latifah bukan sekadar kehilangan seorang daiyah dan ibu bagi keluarganya, tetapi juga kehilangan seorang pendidik yang jejaknya telah berakar pada manusia-manusia yang pernah ia dampingi.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kebaikannya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keteguhan, serta mampu melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan.

Dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup dapat mengambil pelajaran: bahwa sebaik-baik kehidupan adalah kehidupan yang meninggalkan jejak kebaikan, dan sebaik-baik warisan adalah nilai yang terus hidup setelah kita tiada.

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

KHUTBAH JUMAT Merekonstruksi Keimanan di Era Digital

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Bersyukur kita kepada Allah atas segala nikmat-Nya, dan kita berdoa kepada-Nya, agar sholawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Aamiin.

Selanjutnya,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan sekadar takut kepada Allah, tetapi kesadaran bahwa Allah Yang Mahapengasih dan Penyayang selalu hadir dalam seluruh kehidupan kita, sehingga respon yang perlu kita biasakan adalah selalu berfikir yang baik, percaya diri, senang dan bahagia.

Hadirin rahimakumullah,

Hari ini kita hidup di era digital, yakni zaman ketika informasi bergerak sangat cepat, pengetahuan berada di ujung jari, dan manusia dapat berinteraksi dengan dunia tanpa batas ruang dan waktu.

Dulu kita mencari informasi. Sekarang informasi berseliweran tiap saat. Dulu kita memilih apa yang ingin kita lihat. Sekarang algoritma ikut memilihkan apa yang perlu kita lihat.

Dulu guru, orang tua dan ulama menjadi sumber utama pengetahuan. Sekarang anak-anak kita bisa mendapatkan ribuan informasi hanya dalam beberapa detik.

Pertanyaannya: Apakah iman kita juga sudah siap menghadapi perubahan sebesar ini?

Jamaah rahimakumullah,

Karena itulah kita membutuhkan rekonstruksi keimanan. Apa itu rekontruksi keimanan? Mengapa perlu rekonstruksi?

Rekonstruksi bukan berarti mengganti iman. Iman tidak kita ubah. Yang kita rekonstruksi adalah cara kita memahami, menghayati dan mengaktualisasikan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab dunia cepat berubah. Cara manusia memperoleh ilmu berubah. Cara manusia bekerja berubah. Cara manusia berkomunikasi juga berubah.

Maka cara kita menghadirkan iman dalam kehidupan juga harus semakin dewasa dan matang.

Tujuannya apa?

Agar iman tidak monoton dan berhenti sebagai identitas. Tetapi menjadi landasan berpikir, bersikap, mengambil keputusan dan pondasi menjalani kehidupan di era digital.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Tentu, yang pertama-tama perlu kita rekonstruksi adalah:

CARA PANDANG KITA TERHADAP ALLAH

Al-Qur’an memulai wahyu dengan sebuah perintah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Mari kita perhatikan!

Allah tidak mengatakan sekadar “bacalah”. Tetapi:  اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu. Artinya, semakin kita membaca dunia, seharusnya semakin mengenal Allah, Rabb kita.

Ada beberapa point yang perlu kita pahami terkait rekontruksi keimanan ini :

1. Beriman kepada Allah secara logis dan rasional

Iman bukan anti akal. Bukan anti pikiran. Akal dan pikiran adalah alat yang Allah ciptakan agar manusia mendapat pemahaman iman yang benar dan utuh. Keimanan yang kokoh dibangun melalui proses yang benar. Bukan ala kadarnya, bukan asal-asalan, bukan pula paksaan.  

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an justru mengajak manusia berpikir.   

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ 

Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ 

Tidak seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak mau mengerti (tidak berfikir). (Yūnus [10]:99-100)

Agama ini memang dibangun dengan akal pikiran yang benar. Bukan sekedar taklid buta atau ikut-ikutan belaka. Yang mana Allah justru akan menimpakan adzab kepada orang yang tidak berfikir dalam menjalankan agamanya.

Dengan beragama demikian, mestinya islam cocok dengan kaum millennial yang cenderung skeptis dan mengandalkan akal dalam setiap keputusannya.

Keimanan di zaman digital ini harus bisa menjelaskan secara logis dan rasional bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana Nabi Ibrahim menjelaskan kepada ummatnya.

قَالَ بَلْ رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الَّذِيْ فَطَرَهُنَّۖ وَاَنَا۠ عَلٰى ذٰلِكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ 

Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya, Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya dan aku adalah salah satu saksi atas itu.” (QS Al-Anbiyā’  [21]:56)

2. Tuhan tidak mungkin banyak

Allah berfirman:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا

“Sekiranya pada keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Logikanya sederhana. Kalau ada dua penguasa mutlak dengan kehendak yang berbeda, bagaimana alam semesta bisa berjalan begitu teratur? Justru akan berantakan.

3. Tuhan mestilah Maha Besar.

Dan Maha Meliputi segalanya. Sehingga Dia mengetahui peristiwa apa saja di jagad raya. Tuhan mestilah tidak berada di dalam alam semesta ini. Tetapi justru sebaliknya, alam semesta berada di dalam Diri-Nya. Surga, neraka, dan alam akhirat berada di dalam Diri-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطًا ࣖ

Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS.An-Nisā’  [4]:126)

4. Tuhan Sangat Dekat

Allah berfirman:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.” (QS. Qaf: 16)

Al Qur’an menggambarkan sedemikian dekatnya Allah dengan kita. Lebih dekat dengan urat leher. Padahal urat leher ada di dalam leher kita sendiri. Berarti sejatinya kita tidak berjarak dengan-Nya. Subhanallah. Yang karena dekatnya itu, segala bisikan hatipun Allah tahu.

CARA PANDANG KEPADA MALAIKAT

Membangun kesadaran bahwa segala perilaku kita selalu diawasi dan dicatat oleh malaikat

اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ 

(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya). Yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Qāf [50]:17)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ 

Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).  (QS Qāf [50]:18)

Apa relevansinya di era digital?

Hari ini orang bisa melakukan sesuatu di ruang digital karena merasa tidak ada yang melihat. Tetapi orang beriman memiliki kesadaran: Tidak ada ruang yang benar-benar tersembunyi dari Allah dan para malaikat-Nya.

Boleh jadi manusia tidak melihat. Boleh jadi orang tua tidak melihat. Boleh jadi guru tidak melihat. Tetapi Allah melihat. Dan para malaikat mencatat. Maka iman kepada malaikat membangun integritas digital.

CARA PANDANG TERHADAP AL QUR’AN SEBAGAI STANDARD KEBENARAN

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

 “Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi penjaga terhadapnya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Di era digital, problem kita bukan kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi. Masalahnya adalah mana yang benar? Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang banyak like itu benar. Tidak semua yang dikatakan tokoh terkenal itu benar. Tidak semua yang muncul di mesin pencarian itu benar.

Maka orang beriman membutuhkan filter wahyu. Al-Qur’an menjadi kompas untuk membedakan haq dan batil, benar dan salah, baik dan buruk, bermanfaat dan merusak.

CARA PANDANG TERHADAP RASULULLAH SEBAGAI ROLE MODEL

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا… وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ…

 “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub… dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa…” (QS. Al-Baqarah: 136)

Hari ini manusia mencari role model. Anak-anak kita mencari figur. Mereka melihat influencer. Melihat artis. Melihat pengusaha. Melihat tokoh media sosial. Tidak salah belajar kepada manusia.

Tetapi seorang mukmin harus memiliki standar keteladanan tertinggi. Rasulullah ﷺ.

Kita tidak hanya mengagumi beliau. Kita belajar bagaimana beliau berpikir, berbicara, memimpin, memperlakukan keluarga, berdagang, menghadapi orang yang membencinya dan bagaimana beliau membangun umat.

CARA PANDANG TERHADAP KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ  ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ 

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan? (QS Al-Baqarah  [2]:28)

Era digital membuat manusia sangat mudah mengejar sesuatu yang instan. Iingin cepat kaya, ingin cepat terkenal, ingin cepat viral, ingin cepat mendapatkan pengakuan. Tetapi iman kepada akhirat mengajarkan, hidup bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan hari ini, tetapi bagaimana pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

CARA PANDANG TERHADAP TAKDIR

Jamaah rahimakumullah,

Takdir bukan alasan untuk pasif.

Allah menggambarkan orang-orang yang mau berubah dan bertumbuh.

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

“Bagi siapa di antaramu yang mau maju atau mundur.” (QS. Al-Muddatstsir: 37)

Karena itu, iman kepada takdir harus melahirkan optimisme, bukan fatalisme. Maka di era digital, tetap semangat belajar, beradaptasi, berinovasi, dan meningkatkan kemampuan.

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam ridho-Nya. Aamiin.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ…

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

SDIT Hidayatullah Yogyakarta Salurkan Donasi Siswa untuk Korban Gempa NTT dan Palestina

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Semangat kepedulian terhadap sesama ditanamkan SDIT Hidayatullah Yogyakarta melalui aksi donasi untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan masyarakat Palestina. Donasi tersebut disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Yogyakarta, Senin (07/09/2026).

Mengusung semangat “Yang Dekat Dibantu, Yang Jauh Juga Dibantu,” bantuan tersebut merupakan hasil donasi para siswa yang secara sukarela menyisihkan sebagian uang jajan mereka selama beberapa waktu terakhir.

Penyerahan donasi berlangsung di halaman SDIT Hidayatullah Yogyakarta dan disaksikan jajaran guru serta para siswa. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan kepedulian sosial dan empati kepada peserta didik sejak dini.

Kepala SDIT Hidayatullah Yogyakarta, Muhammad Rifki Saputra, mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan para siswa. Menurutnya, aksi tersebut bukan sekadar penggalangan dana, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak-anak.

“Kami ingin menanamkan jiwa kepedulian dan empati sejak dini. Melalui aksi ini, anak-anak belajar bahwa rezeki yang mereka miliki ada bagian untuk saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” tegas Muhammad Rifki Saputra.

Dalam penyalurannya, SDIT Hidayatullah Yogyakarta mempercayakan donasi tersebut kepada BMH Perwakilan Yogyakarta yang selama ini aktif dalam pelayanan dan aksi kemanusiaan di berbagai wilayah.

Melalui penyaluran tersebut, donasi siswa diharapkan dapat turut meringankan beban masyarakat terdampak gempa di NTT sekaligus menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat Palestina.

Aksi ini juga menjadi pembelajaran nyata bagi para siswa bahwa kepedulian dan berbagi dapat dilakukan sejak dini, termasuk melalui hal sederhana dengan menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki.

Hidayatullah Perkuat Halaqah sebagai Fondasi Perkaderan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Halaqah kembali ditegaskan sebagai jantung sekaligus episentrum perkaderan Hidayatullah. Penguatan peran tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Koordinasi Perkaderan se-Indonesia yang digelar secara daring, Rabu (09/09/2026).

Forum yang dipimpin Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antardaerah sekaligus memperkuat arah pembinaan kader di seluruh Indonesia.

Pada pertemuan kali ini, Jawa Timur mendapat kesempatan pertama untuk berbagi praktik baik dengan mengangkat tema “Halaqah Episentrum Perkaderan.”

Jawa Timur dipilih bukan semata karena luasnya wilayah organisasi, tetapi juga karena dinilai berhasil membangun pengelolaan halaqah secara tertata, mulai dari pelaksanaan, evaluasi, hingga tindak lanjut pembinaannya.

“Ruang ini adalah tempat kita bertukar informasi, saling menguatkan, dan berbagi pengalaman. Ke depan, wilayah lain juga akan mendapat kesempatan untuk membagikan kekuatan masing-masing,” ujar Abdul Ghofar Hadi.

Penguatan Murabbi

Dalam pemaparannya, Ketua Departemen Perkaderan Jawa Timur, Ust. Abdullah Ridho, menegaskan bahwa kekuatan perkaderan bertumpu pada halaqah. Sementara kualitas halaqah sangat ditentukan oleh kapasitas dan kualitas murabbi.

“Hakikat perkaderan itu halaqah. Dan halaqah sangat bergantung pada murabbi,” ungkapnya.

Berangkat dari prinsip tersebut, Hidayatullah Jawa Timur membentuk Majelis Murabbi Wilayah (MMW) sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas para murabbi.

“Forum ini menjadi ruang belajar bersama, pendalaman materi, evaluasi halaqah, sekaligus pembinaan regenerasi murabbi yang dibimbing langsung oleh perintis Hidayatullah Jawa Timur, Ust. Abdurrahman,” imbuh Ridho.

MMW diselenggarakan setiap dua bulan sekali selama dua hari, mulai Sabtu sore hingga Ahad siang. Setelah mengikuti MMW, para murabbi kembali ke enam rayon yang tersebar di Jawa Timur untuk melanjutkan pembinaan.

Dalam prosesnya, para murabbi juga didampingi asisten murabbi sehingga pendampingan kader di daerah dapat berlangsung lebih efektif.

Memperkuat Pendalaman Al-Qur’an

Materi dalam MMW tidak hanya berfokus pada pendalaman tafsir. Para murabbi juga mengkaji Tafsir As-Sa’di, mulai dari Surah Al-‘Alaq hingga Al-Fatihah dan Juz Amma.

Selain itu, forum tersebut membahas karya-karya Izzat Darwazah, isu-isu kontemporer, serta melakukan evaluasi dan pemecahan berbagai persoalan yang dihadapi halaqah di masing-masing daerah.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Jawa Timur, Ust. Juweni, menjelaskan bahwa gagasan MMW telah dirintis sekitar lima tahun lalu. Tujuannya untuk menjaga kesinambungan ilmu dan semangat perkaderan agar tetap tersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Kami ingin spirit dan ilmu perkaderan itu nyambung, sanadnya juga nyambung. Karena murabbi harus terus belajar. Semangat menuntut ilmu itu tidak boleh berhenti,” tuturnya.

Menurut Juweni, pertumbuhan seorang murabbi akan berpengaruh langsung terhadap mutarabbi yang dibinanya.

“Ketika murabbi terus bertumbuh, mutarabbi pun akan mengikuti dan meneladaninya,” imbuhnya.

Saat ini, MMW diikuti sekitar 25 murabbi, sebagian di antaranya merupakan pengurus tingkat pusat. Dari forum tersebut, pembinaan kemudian diteruskan kepada sekitar 50 murabbi wustha yang tersebar di enam rayon dan membina 38 DPD Hidayatullah se-Jawa Timur.

Halaqah Tidak Menunggu Banyaknya Kader

Koordinasi perkaderan tersebut juga membahas tantangan yang dihadapi sejumlah wilayah di Indonesia Timur, terutama terkait keterbatasan sumber daya manusia.

Namun, forum menegaskan bahwa keterbatasan kader tidak semestinya menjadi alasan untuk menunda atau melemahkan halaqah. Sebaliknya, halaqah yang hidup dan terjaga justru menjadi ruang lahirnya kader-kader baru.

Semangat menguatkan murabbi dan menghidupkan halaqah pun kembali ditegaskan sebagai bagian penting dari penguatan fondasi perkaderan Hidayatullah.

“Sebab, dari halaqah yang terjaga, akan lahir kader-kader yang memiliki kedalaman ilmu, kematangan ruhiyah, serta kesiapan melanjutkan estafet perjuangan dakwah,” tutur Kadep Rekrutmen DPP Hidayatullah, Imam Nawawi, yang memoderatori forum tersebut.

Forum koordinasi pekanan itu kemudian ditutup secara resmi oleh Imam Nawawi pada pukul 07.01 WIB.