Beranda blog Halaman 3

Kuliah Ahad Sekolah Dai Dorong Mahasiswa Membaca sebagai Proses Membangun Nalar

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Membaca adalah kemampuan menangkap makna dan pesan yang membangun nalar. Pesan tersebut disampaikan Public Relations BMH Pusat, Imam Nawawi, dalam kuliah Ahad di Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Bogor, pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026). Dalam forum pembinaan tersebut, ia mengajak para peserta didik untuk mengembangkan kemampuan membaca secara mendalam sekaligus melatih kecakapan berpikir sebagai bagian dari proses pembentukan kapasitas intelektual seorang dai.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan pendidikan kader dakwah itu diikuti oleh para peserta Sekolah Dai Hidayatullah. Dalam pemaparannya, Imam menjelaskan bahwa aktivitas membaca tidak berhenti pada proses melafalkan teks, melainkan merupakan upaya memahami pesan yang terkandung dalam bacaan secara komprehensif.

“Membaca sejatinya adalah memahami pesan yang menghidupkan imajinasi dan cara berpikir kita,” ujarnya.

Nawawi menjelaskan, membaca adalah proses intelektual yang berkaitan langsung dengan pembentukan cara berpikir. Melalui kegiatan membaca, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan menelaah gagasan serta menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas.

Dalam sesi tersebut, Nawawi juga menekankan bahwa kemampuan berpikir tidak muncul secara spontan, melainkan melalui proses latihan yang berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa kecakapan berpikir terbentuk melalui kegiatan membandingkan berbagai pandangan, menganalisis fakta yang tersedia, serta menyusun kesimpulan secara sistematis.

“Cakap berpikir itu dengan membandingkan, menganalisis, dan mensintesis berbagai fakta serta pandangan, dengan bimbingan nilai Al-Qur’an,” jelasnya.

Menurutnya, kebiasaan membaca yang dilakukan secara benar akan menjadi fondasi penting bagi kemampuan menulis. Proses menulis, terang Nawawi, sebagai kelanjutan dari proses berpikir yang lahir dari interaksi seseorang dengan berbagai bacaan.

Kuliah ini menjadi bagian dari pembinaan Laznas BMH yang diberikan kepada para peserta Sekolah Dai Hidayatullah. Materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian dakwah, tetapi juga menyentuh aspek metodologis dalam membangun cara berpikir yang sistematis dan terarah.

Melalui kegiatan tersebut, peserta Sekolah Dai Hidayatullah diharapkan memiliki kemampuan membaca yang lebih mendalam serta kecakapan berpikir yang terlatih dalam memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Penguatan Budaya Menulis sebagai Pembentukan Pemikiran dan Pengembangan Peradaban Islam

0

SEORANG kader organisasi Islam didambakan untuk menulis. Bukan sekedar tuntutan zaman atau intelektualitas, menulis merupakan tuntunan Qur’ani. Wahyu pertama dan kedua Al-Qur’an, Al-‘Alaq dan Al-Qalam, menyampaikan perihal baca dan tulis sebanyak dua kali.

Tentu ada maksud penting di balik tuntunan ini. Pertama, berkaca pada karya para ulama, tulisan meninggalkan jejak sepanjang masa. Bukan hanya satu generasi yang membaca karya-karya itu, tapi juga generasi berikutnya. Jumlah pembaca tak lagi bisa dihitung jari.

Dampaknya tidak sederhana. Selain mencercap ilmu, generasi berikutnya juga menyerap semangat para ulama terdahulu. Struktur berpikir para ulama juga diambil. Terjadilah saling sokong antara warisan satu ulama dengan lainnya, melahirkan sebuah kerangka berpikir integratif yang memandu zaman agar perjalanan kehidupan umat Islam senantiasa terdepan di antara berbagai peradaban manusia.

Kedua, menulis membantu seseorang menstrukturisasi pemikirannya. Sehingga keruntutan pemikiran terbangun. Berikutnya derivasi-derivasi deduktif berpotensi terbentuk. Di sinilah sebuah pemikiran menemukan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

Tanpa menulis, pemikiran seseorang lebih banyak bersifat acak. Struktur pemikiran tak terbangun, seibarat puzzle yang terserak. Sehingga pemikiran tersebut sulit digunakan sebagai alat menelaah kehidupan sehari-hari, apalagi menghasilkan solusi.

Ketiga, menulis membantu seseorang untuk melacak perjalanan pemikirannya. Mungkin contoh paling mudah adalah qaul qadim dan qaul jadid dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Bukan hanya beliau sendiri yang mampu melacak perjalanan pemikiran beliau, generasi berikutnya juga bisa melakukan hal yang sama.

Secara subjektif, seseorang bisa melakukan muhasabah atas perjalanan pemikirannya, apakah pemikirannya semakin mendekati kebenaran dan kebaikan hakiki. Bila iya, situasinya patut disyukuri. Sebaliknya jika tidak, maka semoga Allah ta’ala memberikan jalan perbaikan ke depan.

Secara objektif, sang pemilik pemikiran dan juga pihak lain bisa menelaah konsistensi terhadap konstruksi pemikiran. Apabila ditemukan deviasi yang lebar, maka dapat dikatakan konstruksi pemikiran tersebut bersifat lemah. Namun bila deviasinya masih rendah dan bisa ditoleransi, maka konstruksi pemikirannya harus diakui sebagai entitas yang kuat.

Konsistensi pemikiran tidak menutup kemungkinan atas perubahan. Bagaimanapun adaptasi pemikiran dengan perkembangan zaman perlu dilakukan. Bahkan sangat baik jika perubahan pemikiran mendahului zaman, sehingga layak dinobatkan sebagai pemandu zaman.

Salah satu syarat terpenting dari perubahan pemikiran adalah akuntabilitas argumentasi. Bahwa perubahan didasarkan pada serangkaian argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta mengokohkan konstruksi pemikiran berikutnya. Derivasi-derivasi mutakhir kemudian tercipta. Relevansi pemikiran atas realitas semakin meningkat.

Paling tidak, dengan tiga alasan tersebut, semoga seorang kader organisasi Islam berkenan menulis. Sebagai ikhtiar pendukung, organisasi di berbagai level memberikan ruang pajangan karya tulis. Bisa saja sifatnya ruang virtual.

Selain itu para kader diberi insentif atas tulisannya, minimal ‘sekarung syukran’ alias apresiasi verbal. Syukur jika apresiasi material juga bisa diberikan. Tidak harus mewah, apresiasi yang diberikan mungkin berupa hadiah sederhana. Akan tetapi getaran motivasi untuk terus menulis terasakan dari hadiah ini. Sehingga hari demi hari tak akan terlewati tanpa ada satu tulisan tercipta.

Menulis terkadang masih dianggap sebagai aktivitas elit. Hanya kaum intelek pelakunya. Benarkah?

Jawabannya, mungkin iya atau tidak. Jika jawabannya iya, maka sesungguhnya ini menimbulkan satu kemirisan tersendiri. Bahwa banyak orang belum mencapai derajat intelek. Padahal dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang dengan kepakaran tinggi. Akan tetapi mereka tidak terbiasa menulis.

Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan berikutnya muncul, apa penyebab sedikit sekali orang menulis. Padahal menulis bisa di media apa saja.

Di sini terbukalah satu kemungkinan, tingkat kesejahteraan ekonomi menyulitkan keluarga menyediakan sarana menulis. Selain itu kultur bicara yang kuat mempersempit kesempatan menulis.

Sehubungan dengan semua faktor tersebut, bagus kiranya organisasi menyebarkan kampanye menulis. Para kader dan keluarganya diedukasi tentang urgensi menulis. Keterampilannya juga diajarkan. Semoga kader ke depan semakin semangat dan kompeten dalam menulis. Penyebaran Islam akan merata ke penjuru dunia dan juga melintasi era demi era.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Tutup Forum RMH 2026, KH Naspi Arsyad Dorong Penguatan Jati Diri dalam Mewujudkan Ekosistem Pesantren Unggul

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., secara resmi menutup forum Silaturrahim Nasional Rabithah Ma’ahid Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026). Naspi menguraikan arah baru organisasi yang berfokus pada konsolidasi jati diri dan transformasi menuju pesantren yang unggul, mandiri, serta berpengaruh.

Dengan penutupan resmi Silaturrahim Nasional ini, seluruh pengelola pesantren di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Hidayatullah diharapkan membawa pulang komitmen baru untuk mentransformasi institusi mereka menjadi pusat keunggulan yang mandiri dan memiliki pengaruh luas bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

KH Naspi Arsyad menekankan bahwa dinamika Hidayatullah sejak awal berdirinya sangat identik dengan energi kaum muda. Naspi menjelaskan bahwa secara historis, lembaga ini memang ditakdirkan untuk diinisiasi oleh anak muda yang memiliki karakteristik progresif. Mengutip pandangan Ustaz Abdul Latif Utsman, ia menyebutkan bahwa karakteristik anak muda identik dengan dua puluh tindakan berbanding satu pertimbangan, sementara orang tua sebaliknya.

“Min awwali yaumin, Hidayatullah dari hari pertama dirintis memang ditakdirkan diinisiasi oleh anak muda,” ujar Naspi Arsyad, yang menekankan bahwa meskipun usia para pengelola pesantren terus bertambah, semangat muda dalam berinisiatif dan bekerja cerdas tidak boleh kendor atau tereduksi sedikit pun.

Mengkaji eksistensi pesantren dalam konteks nasional, KH Naspi Arsyad memaparkan bahwa lembaga pendidikan Islam ini telah memulai kiprahnya sejak abad ke-15 Masehi. Ia mengakui bahwa kontribusi pesantren mencapai puncaknya secara populer melalui resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945 dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini, lanjutnya, apresiasi negara terhadap kontribusi panjang tersebut semakin nyata dengan rencana peresmian Direktorat Jenderal Kepesantrenan di Kementerian Agama. Naspi memandang posisi Direktur Jenderal sebagai jabatan strategis yang berfungsi sebagai panglima dalam konteks operasional di lapangan.

“Hal ini menunjukkan adanya pengakuan resmi terhadap partisipasi pesantren yang telah berlangsung selama berabad-abad. Pembentukan Dirjen khusus ini menjadi momentum bagi Hidayatullah untuk semakin meningkatkan standar pengelolaan institusinya agar selaras dengan pengakuan negara,” katanya.

Keunggulan, Kemandirian, dan Pengaruh

Lebih lanjut, KH Naspi memaparkan bahwa visi strategis periode 2025-2030 yang diusung Rabithah Ma’ahid Hidayatullah menitikberatkan pada tiga pilar utama, yaitu keunggulan, kemandirian, dan pengaruh. Ia menjelaskan bahwa kemandirian didefinisikan secara spesifik sebagai kemandirian finansial organisasi.

Sementara itu, aspek berpengaruh merujuk pada kemampuan organisasi dalam menawarkan visi dan misi Hidayatullah secara superior di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, budaya, hingga politik. Naspi menekankan bahwa ketiga pilar ini merupakan satu kesatuan yang setara dan saling mendukung. Aspek keunggulan bahkan dipandang mencakup segala hal atau bersifat komprehensif sebagaimana istilah jami’ mani’ . Namun, ia juga bersikap realistis dengan menekankan bahwa fokus utama yang harus dicapai dalam periode ini adalah kemandirian finansial dan pengaruh nyata di tengah masyarakat.

Tantangan internal dalam mengelola pesantren Hidayatullah juga menjadi sorotan tajam dalam pidato tersebut. Naspi mengungkapkan adanya fenomena unik di mana para kader seringkali mengemban tugas ganda dalam struktur organisasi. Ia mengistilahkan fenomena ini sebagai “poligami” dalam jabatan, di mana seseorang bisa menjabat sebagai ketua yayasan sekaligus ketua di tingkat daerah atau bidang lainnya.

Meskipun hal ini merupakan tantangan besar, dinamika tersebut dipandang dia memiliki sisi spiritual yang positif. Mengacu pada pesan pendiri, Ustaz Abdullah Said, kesibukan dalam menjalankan berbagai amanah tersebut justru membuat kualitas ibadah seperti salat menjadi lebih khusyuk.

“Dinamika itulah yang menurut Ustaz Abdullah Said membuat shalat kita lebih khusyuk, membuat tidur kita tidak nyenyak, dan membuat tangan kita ini selalu terangkat,” kutip KH Naspi Arsyad. Kesibukan yang tinggi ini dianggap sebagai pemicu bagi para pengelola untuk selalu bersandar pada kekuatan Tuhan.

Lebih lanjut, KH Naspi Arsyad memberikan peringatan agar banyaknya jabatan struktural yang diemban harus berbanding lurus dengan aksi nyata di lapangan. Dia mengingatkan agar para pengelola tidak terjebak dalam formalitas jabatan tanpa adanya kontribusi konkret. Kritik terhadap adanya anggapan pengangguran meskipun memiliki banyak jabatan struktural dijadikan sebagai pelecut semangat.

Ia menegaskan bahwa jabatan hanyalah sarana, sementara tujuan utamanya adalah kristalisasi komitmen dalam mengelola pesantren secara profesional. Kehadiran para tokoh senior dalam mendampingi kader muda juga diapresiasi Naspi sebagai bentuk sinergi antargenerasi dalam organisasi. Hal ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pesantren dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

KH Naspi Arsyad menegaskan bahwa keberadaan pesantren merupakan sebuah tawaran teologis dan ideologis bagi umat Islam. Pesantren diharapkan menjadi peraga nyata dari ajaran Islam yang pernah dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabat sebagai generasi terbaik. Visi pesantren yang unggul, mandiri, dan berpengaruh diposisikan sebagai instrumen daya tawar untuk menarik minat umat dalam mewujudkan peradaban Islam. “Dan kita adalah peraga-peraga Islam itu di zaman sekarang ini,” tegas KH Naspi.

RMH Diproyeksi Menjadi Mesin Penggerak bagi Kemajuan Pondok Pesantren

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Forum Silaturrahim Nasional (Silatnas) Rabithah Ma’ahid Hidayatullah (RM) merupakan langkah strategis dalam mengonsolidasi jaringan pesantren di bawah naungan Hidayatullah untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks melalui transformasi sistem dan peneguhan jati diri. Demikian disampaikan Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D.

Hal itu disampaikan Muzakkir Usman dalam sambutan penutupan acara Silaturrahim Nasional Rabithah Ma’ahid Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026).

Ia mengungkapkan bahwa agenda ini mendapatkan perhatian penuh dari jajaran pengurus harian DPP Hidayatullah karena signifikansinya dalam memetakan masa depan institusi. Koordinasi itu menegaskan penyamaan persepsi di tingkat pimpinan mengenai urgensi kehadiran Rabithah Ma’ahid Hidayatullah sebagai instrumen vital organisasi.

“Pengurus pusat menyadari potensi besar lembaga ini yang awalnya mungkin belum terlihat sepenuhnya namun setelah dipelajari ternyata sangat strategis,” katanya.

Muzakkir menjelaskan bahwa RMH diproyeksikan menjadi mesin penggerak bagi kemajuan pesantren di seluruh daerah. Melalui koordinasi yang dilakukan, terdapat fokus utama pada transformasi sistem menuju pesantren yang unggul, mandiri, dan berpengaruh. Menurutnya, ada satu hal di mana RMH ini bisa menjadi katalisator sekaligus fasilitator ya untuk kemajuan jaringan pesantren-pesantren Hidayatullah.

“Upaya ini bertujuan untuk memperpendek rentang kendali manajemen agar tidak lagi bersifat kaku atau sekadar top down dari pusat ke daerah, melainkan menjadi milik bersama seluruh jaringan pengelola pesantren,” terangnya.

Pilar utama dari transformasi ini adalah peneguhan kembali jati diri pesantren yang berlandaskan pada manhaj Sistematika Wahyu. Muzakkir menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan representasi dari tatanan sosial yang ideal.

“Kehadiran pesantren itu visinya adalah untuk menjadi miniatur peradaban Islam. Dengan framework manhaj Sistematika Wahyu, Hidayatullah menawarkan opsi pembangunan peradaban yang dimulai dari penguatan keyakinan kepada Allah Subhanahu wa taala yang kemudian diwujudkan dalam sistem tata kelola yang konkret,” jelasnya.

Dalam aspek operasional, Muzakkir mendorong implementasi prinsip good governance yang memadukan nilai-nilai luhur dengan standar profesional modern. Salah satu wujud nyata dari profesionalitas tersebut adalah adaptasi terhadap teknologi informasi. Dia menjelaskan, digitalisasi sebagai kebutuhan mendesak karena mampu mempercepat proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek pengelolaan lembaga.

“Harus ada tata kelola yang dikelola bukan hanya secara profetik, tapi profetik itu tergambar dengan profesionalitas,” ujarnya.

Lebih lanjut, DPP Hidayatullah kini tengah mengarahkan kebijakan strategis pada penyediaan dashboard organisasi yang memungkinkan pemantauan data secara real time di seluruh Indonesia. Hal ini memungkinkan pimpinan pusat untuk melakukan intervensi kebijakan secara cepat tanpa harus menunggu rapat pleno tahunan.

Menurutnya, penguasaan sistem dan data ini adalah bentuk kekuatan yang harus dibangun sesuai amanat Al-Quran dalam surah al-Anfal ayat 60 mengenai persiapan kekuatan. Muzakkir juga mengutip adigium Latin, si vis pacem para bellum, yang dimaknai bahwa jika ingin meluaskan pengaruh, maka pesantren harus memiliki kekuatan yang disegani.

Muzakkir Usman mengingatkan bahwa tanpa keunggulan di berbagai lini, institusi pendidikan Islam akan mudah ditaklukkan oleh arus perubahan global. Oleh karenanya, kehadiran RMH diharapkan menjadi jembatan bagi Departemen Kepesantrenan dalam meneguhkan kembali jaringan pesantren untuk memasuki fase 50 tahun kedua perjalanan Hidayatullah dengan penuh optimisme dan pengaruh yang luas.

“Kalau pesantren-pesantren kita tidak memiliki keunggulan sebagaimana tema Silaturahim Nasional Rabithah Ma’ahid Hidayatullah ini, maka orang terus akan menaklukkan kita dalam berbagai lini,” tukasnya.

Hasil Silatnas Rabithah Ma’ahid Hidayatullah Menuju Pesantren Unggul dan Mandiri

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Penutupan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Rabithah Ma’ahid Hidayatullah (RMH) menandai babak baru dalam pengelolaan jaringan pesantren di bawah naungan organisasi Hidayatullah. Bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta, pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026), Ketua Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat DPP Hidayatullah, KH. Muhammad Syakir Syafi’i, Lc., menyampaikan tujuh poin kesepakatan dan rekomendasi strategis sebagai hasil dari pertemuan nasional tersebut.

KH. Muhammad Syakir Syafi’i menyebutkan, rekomendasi ini merupakan sebuah peta jalan yang dirancang untuk memperkuat fondasi institusi pendidikan Islam di lingkungan Hidayatullah.

Ia menekankan bahwa seluruh butir kesepakatan tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui mekanisme penandatanganan resmi untuk kemudian disampaikan secara formal kepada pengurus harian DPP Hidayatullah, khususnya kepada Ketua Umum.

Poin pertama yang menjadi tonggak sejarah dari pertemuan ini adalah konsensus kolektif para peserta untuk mendirikan sebuah lembaga koordinasi pesantren yang permanen. KH Syakir menyatakan bahwa silatnas RMH ini bersepakat untuk mengukuhkan lembaga yang bernama Rabithah Ma’ahid Hidayatullah di singkat RMH.

“Kehadiran lembaga ini diproyeksikan menjadi wadah integrasi bagi seluruh unit pesantren dalam mencapai standar kualitas yang seragam namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata KH Syakir.

Guna merealisasikan pembentukan lembaga tersebut secara profesional dan akuntabel, forum menyepakati penunjukan Kelompok Kerja (Pokja) sebagai mesin penggerak utama. Proses pembentukan RMH secara resmi diserahkan sepenuhnya kepada Pokja, sementara mandat untuk membentuk personalia dalam Pokja itu sendiri diberikan kepada Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah.

KH. Muhammad Syakir Syafi’i memaparkan bahwa Pokja tidak akan bekerja tanpa arah yang jelas, melainkan dipandu oleh lima parameter utama. Panduan pertama adalah tema besar dari silaturahim itu sendiri, yaitu pesantren unggul, mandiri dan berpengaruh.

Ketiga pilar ini, yakni keunggulan dalam aspek akademik dan spiritual, kemandirian dalam pengelolaan ekonomi serta manajerial, dan pengaruh positif terhadap lingkungan sosial, menjadi inti dari setiap kebijakan yang akan dilahirkan oleh RMH.

Syakir menyebut parameter selanjutnya mencakup Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang telah dipresentasikan, struktur organisasi yang terdiri dari penasihat, pembina, pengurus, dan perwakilan, serta arah program strategis dan regulasi organisasi lainnya yang berlaku.

Aspek efisiensi waktu juga menjadi perhatian dalam laporan tersebut. Forum memberikan mandat kepada Pokja dengan tenggat waktu selama 60 hari atau dua bulan untuk menyelesaikan penyusunan personalia RMH sejak kesepakatan ditandatangani.

KH Syakir menegaskan bahwa transparansi informasi menjadi prioritas dalam proses ini. Hasil penyusunan struktur kepengurusan tersebut nantinya akan dilaporkan secara terbuka kepada seluruh peserta silaturahim nasional melalui saluran komunikasi digital yang ada.

Momentum peresmian RMH direncanakan akan menjadi peristiwa penting bagi keluarga besar Hidayatullah secara nasional. Forum merekomendasikan agar peresmian lembaga tersebut dilakukan pada momentum 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertempat di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Syakir menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen yang telah menyukseskan agenda tersebut. Ia secara khusus menyebutkan peran penting Ketua Umum DPP Hidayatullah, tim penyelenggara, serta seluruh panitia yang terlibat secara langsung.

Ia memohon maaf atas segala kekurangan yang mungkin terjadi selama penyelenggaraan acara. KH Syakir juga memberikan catatan khusus mengenai komposisi peserta yang hadir dari berbagai lintas generasi, mulai dari para tokoh senior hingga generasi muda yang merupakan murid-murid dari para perintis terdahulu. Keberagaman ini diharapkan dia menjadi kekuatan sinergis bagi kemajuan Rabithah Maahid Hidayatullah ke depan.

Simpul Sinergi Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal Digelar di Kampung 99 Pepohonan Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Simpul sinergi Kampung 99 Pepohonan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Juru Sembelih Halal di kawasan peternakan Kampung 99 Pepohonan, Depok, pada Ahad, 1 Zulkaidah 1447 (19/4/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di wilayah Depok dan sekitarnya.

Pelatihan tersebut untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai tata cara penyembelihan hewan yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan standar halal yang berlaku. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup penyampaian materi teori serta praktik penyembelihan hewan secara langsung di lokasi peternakan.

Pemilihan lokasi di area peternakan memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengamati kondisi hewan secara langsung serta memahami pengelolaan peternakan dalam konteks penyediaan hewan yang memenuhi standar halal. Peserta juga mempraktikkan teknik penyembelihan dengan pendekatan yang mengacu pada ketentuan kebersihan dan keamanan pangan yang dikenal dengan prinsip ASUH, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

Materi pelatihan mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan proses penyembelihan, mulai dari ketentuan syariat, teknik penyembelihan yang benar, penanganan hewan sebelum dan setelah disembelih, hingga pengelolaan kegiatan penyembelihan dalam skala besar seperti pada momentum Hari Raya Idul Adha.

Pemateri yang juga Ketua Lembaga Sembelih Halal Hidayatullah Pusat, KH Nanang Hanani, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan sistem halal dalam rantai produksi pangan.

“Menjadi juru sembelih halal bukan sekadar keterampilan, tetapi juga amanah besar dalam menjaga kehalalan konsumsi umat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan terhadap tenaga juru sembelih yang memahami standar syariat dan memiliki kompetensi teknis terus meningkat, terutama menjelang pelaksanaan ibadah kurban setiap tahun.

Pihak MUI Depok juga menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan pelatihan tersebut. Kegiatan ini dipandang sebagai upaya meningkatkan kapasitas pengurus masjid dalam menjalankan proses penyembelihan hewan kurban sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Selain pelatihan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan program penyediaan hewan kurban yang memenuhi kriteria kesehatan dan kelayakan. Hewan yang disediakan telah melalui proses seleksi berdasarkan standar kesehatan serta ketentuan syariat.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang memadai mengenai prosedur penyembelihan hewan yang sesuai dengan prinsip halal serta mampu menerapkannya dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di lingkungan masyarakat.

Ruang Belajar Terdampak Kebakaran di Pesantren Hidayatullah Mamuju, Tak Ada Korban Jiwa

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Kebakaran melanda Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju pada Ahad, 2 Dzulqaidah 1447 (19/4/2026) sekitar pukul 12.30 WITA. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Musibah terjadi di kompleks pesantren yang berlokasi di Jalan Abdul Syakur, Kabupaten Mamuju.

Ketua Yayasan Pendidikan Cerdas Mandiri (YPCM) Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Ustadz Gunawan, menjelaskan bahwa kebakaran diduga dipicu oleh gangguan arus listrik di area pos satpam. Ia menyebutkan bahwa api dengan cepat menjalar ke beberapa bangunan di lingkungan pesantren.

“Dugaan awal pemicu kebakaran adalah korsleting arus pendek di pos satpam,” ujarnya.

Menurut keterangan pengelola pesantren, warga pondok segera berupaya memadamkan api menggunakan peralatan yang tersedia sebelum bantuan datang. Sejumlah bangunan yang terdampak di antaranya lima ruang belajar tingkat TK dan SD serta sebuah kantor BMH yang berada di area kompleks pesantren.

Petugas pemadam kebakaran kemudian tiba di lokasi dan melakukan penanganan bersama personel Polresta Mamuju. Proses pemadaman juga dibantu oleh unit water cannon milik kepolisian. Api berhasil dikendalikan setelah sekitar satu jam upaya pemadaman dilakukan.

Kapolresta Mamuju, Kombes Pol Ferdyan Indra Fahmi, turut meninjau lokasi kejadian bersama sejumlah personel untuk melakukan pemeriksaan awal terkait sumber kebakaran.

“Dari olah TKP yang dilakukan, ditemukan indikasi kuat api berasal dari pos satpam. Di dalamnya terdapat tumpukan sakelar terminal colokan listrik,” ujarnya kepada awak media di lokasi kejadian.

Selama proses pemadaman berlangsung, warga sekitar turut membantu upaya penanganan dengan memindahkan barang-barang yang masih dapat diselamatkan dari dalam bangunan. Sebagian peralatan pendidikan berhasil diamankan, sementara sejumlah fasilitas lainnya mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Beberapa perlengkapan belajar seperti lemari buku, meja, kursi, serta buku pelajaran siswa masih ditemukan dalam kondisi yang dapat digunakan kembali setelah peristiwa tersebut. Namun sejumlah fasilitas pendidikan lain, termasuk buku dan mushaf Al-Qur’an, dilaporkan ikut terbakar.

Bangunan yang terdampak diketahui merupakan fasilitas pendidikan yang telah digunakan sejak awal berdiri pada tahun 2009. Hingga laporan ini disusun, warga pesantren masih melakukan pembersihan sisa material bangunan yang terbakar serta menginventarisasi barang-barang yang masih dapat dimanfaatkan.

Menghadapi Fenomena Brainrot Melalui Penguatan Koneksi Anak dan Orang Tua

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Konsultan Pendidikan dan Tenaga Ahli Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Abdul Munir, berbagi inspirasi dalam rangkaian acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Rabithah Ma’ahid Hidayatullah (RMH) yang bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Sabtu, 29 Syawal 1447 (18/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Munir membedah fenomena keretakan hubungan dalam keluarga serta tantangan destruksi kognitif pada generasi muda akibat paparan media digital yang tidak terkendali.

Abdul Munir menyoroti realitas empiris mengenai minimnya keterbukaan antara anak dan orang tua. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat fakta yang memprihatinkan bahwa sebagian besar anak enggan berbagi perasaan atau masalah dengan orang tua mereka.

“Pernah nggak anak cerita masalahnya ke orang tua. Ada 25 persen berani cerita, 75 persen gak berani cerita, hubungan anak dan orang tua menjadi retak halus,” katanya, seraya menekankan kondisi ini menyebabkan anak-anak mengalihkan pencarian solusi atas permasalahan mereka ke ranah digital atau lingkaran pertemanan.

Lebih lanjut, keterputusan koneksi ini berdampak pada pergeseran otoritas sumber belajar. Saat mengalami kesulitan, anak-anak kini lebih cenderung mencari jawaban di YouTube atau internet dibandingkan bertanya kepada guru atau orang tua mereka. Fenomena ini diperparah dengan munculnya ancaman serius bagi perkembangan otak anak.

“Media sosial mengakibatkan brainroot pada anak, menjadi salah satu masalah yang serius pada anak menjadi pembusukan otak konsentrasi dan nalar anak”,” katanya. Kondisi ini, terang Munir melanjutkan, sering kali diperumit dengan adanya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat memicu depresi berat bahkan tindakan fatal seperti bunuh diri.

Menanggapi krisis tersebut, Abdul Munir menekankan perlunya reorientasi fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan.

Pesantren, imbuh dia, harus mampu melakukan inovasi agar pengajaran agama tidak berlangsung monoton atau tradisional, melainkan interaktif dan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini. “Sekolah maju karena keberanian berinovasi,” tekannya.

Disamping itu, dengan mengadopsi teknologi dalam metode dakwah dan membangun jiwa wirausaha sejak dini, pesantren dapat menjadi benteng yang kuat dalam menjaga nalar dan karakter santri.

Abdul Munir mengajak seluruh pengelola lembaga pendidikan dan orang tua untuk kembali menghadirkan keberadaan yang bermakna bagi anak.

Dia menegaskan, penyelamatan generasi dari ancaman pembusukan otak digital harus dimulai dari pemulihan komunikasi di tingkat keluarga dan inovasi berkelanjutan dalam institusi pendidikan.

“Hal ini penting agar potensi besar jamaah dan santri yang ada dapat bertransformasi menjadi kekuatan produktif bagi umat,” tegasnya.

Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Kukuhkan 17 Pengurus Daerah dan Gelar Seminar Nasional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) menggelar pelantikan akbar 15 Pengurus Daerah se-Indonesia yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional pada Sabtu, 29 Syawal 1447 (18/4/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting ini menjadi bagian dari agenda konsolidasi organisasi sekaligus penguatan jaringan gerakan mahasiswa di berbagai wilayah.

Pelantikan tersebut diikuti oleh pengurus daerah dari sejumlah provinsi serta dihadiri jajaran pimpinan nasional Hidayatullah dan tokoh kepemudaan. Beberapa tokoh yang hadir antara lain Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perkaderan Dr. Abdul Ghaffar Hadi, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Haniffudin Chaniago, serta pimpinan PP GMH yang terdiri dari Ketua Umum Rizki Ulfahadi, Sekretaris Jenderal Ahmad Jailani, dan Ketua Bidang Organisasi dan Pengembangan Jaringan Giri Nopela.

Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelantikan pengurus daerah merupakan bagian dari penguatan struktur organisasi sekaligus langkah memperluas basis kader di lingkungan mahasiswa.

PP GMH menegaskan upaya penguatan organisasi mahasiswa yang melibatkan pengurus daerah sebagai bagian dari struktur gerakan mahasiswa Hidayatullah di berbagai wilayah Indonesia.

“Pelantikan ini adalah peneguhan arah gerakan. Kita sedang membangun fondasi organisasi yang lebih kokoh dan memperluas basis kader di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan pengurus daerah diharapkan dapat memperkuat peran organisasi mahasiswa di berbagai kampus serta menjadi penggerak kaderisasi kepemimpinan di kalangan generasi muda.

“Kami ingin GMH tumbuh sebagai gerakan nasional yang hidup di kampus-kampus dan mampu melahirkan pemimpin muda yang siap berkontribusi bagi umat dan bangsa,” kata Rizki.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan Seminar Nasional yang membahas dinamika gerakan mahasiswa di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. Rizki menyebut forum tersebut disiapkan sebagai ruang penyelarasan visi organisasi serta penguatan orientasi gerakan.

“Struktur penting, tetapi penguatan gagasan dan nilai perjuangan juga sama pentingnya. Karena itu, konsolidasi organisasi harus berjalan bersama penguatan ide dan kepemimpinan,” ujarnya.

Relevansi Organisasi Mahasiswa

Dalam sesi seminar, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, menyoroti pentingnya organisasi mahasiswa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia menyampaikan bahwa penguatan tata kelola organisasi dan budaya kolaboratif menjadi bagian penting dalam pengembangan gerakan mahasiswa.

Haniffudin juga menyinggung perlunya perhatian terhadap keberlanjutan kaderisasi sebagai dasar penguatan organisasi. Menurutnya, organisasi mahasiswa memerlukan sistem pengelolaan yang mampu menjaga kesinambungan kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rizki Ulfahadi menambahkan bahwa seminar tersebut menjadi forum untuk merumuskan arah gerakan mahasiswa yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

“Seminar ini menjadi uang konsolidasi gagasan untuk membangun organisasi mahasiswa yang relevan, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman,” ujarnya.

Penyaluran Bantuan Logistik dan Dana untuk Guru Honorer di Ngrayun

0

PONOROGO (Hidayatullah.or.id) — Penyaluran bantuan berupa logistik keluarga dan uang tunai kepada guru honorer di pedalaman Ngrayun, Ponorogo, Jawa Timur, dilakukan sebagai bagian dari program dukungan sosial bagi tenaga pendidik di wilayah terpencil. Bantuan tersebut disalurkan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) melalui kerjasama dengan kegiatan Pelari Baik Sedulurrun 2025.

Program ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar para guru honorer yang bertugas di daerah dengan keterbatasan akses dan pendapatan. Kondisi tersebut sering memengaruhi ketahanan pangan keluarga para pendidik yang tetap menjalankan aktivitas mengajar di wilayah pedalaman.

Melalui penyaluran bantuan ini, BMH memberikan paket logistik keluarga serta dukungan dana tunai kepada para penerima manfaat. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga para guru dapat menjalankan tugas pendidikan dengan kondisi yang lebih stabil.

Salah satu penerima bantuan, Soiran, seorang guru honorer penyandang tunanetra yang mengajar di wilayah tersebut, menyampaikan bahwa bantuan yang diterimanya memberikan dorongan moral dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Bantuan ini sangat berarti dan menambah semangat kami untuk terus mengabdi,” ujarnya.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari perhatian lembaga terhadap keberlanjutan peran guru di wilayah terpencil.

“Kami ingin para guru tetap kuat dalam mendidik generasi, meski dalam keterbatasan,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa dukungan terhadap tenaga pendidik di daerah terpencil memiliki kaitan dengan keberlangsungan proses pendidikan di masyarakat. Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan peran guru dalam kehidupan sosial.

“Dukungan yang tepat sasaran tidak hanya membantu hari ini, tetapi juga menjaga keberlanjutan peran guru dalam membangun masa depan masyarakat,” tambahnya.

Program bantuan ini menunjukkan keterlibatan lembaga sosial dalam mendukung sektor pendidikan di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya. Melalui kolaborasi yang terbangun dari kegiatan Pelari Baik Sedulurrun 2025, BMH menyalurkan dukungan kepada guru honorer yang bertugas di daerah pedalaman Ngrayun.