Beranda blog Halaman 690

Mengintip Geliat Ponpes Hidayatullah Sambong

0

Hidayatullah.or.id — Kiprah Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Sambong yang beralamat di JL. Cepu-Blora, KM 5, Sambong, Blora, Kecamatan Sambong, Jawa Tengah, terus menggeliat. Selain kegiatan dakwah pembinaan keummatan, Hidayatullah Sambong juga telah menyelenggarakan layanan pendidikan untuk tingkat dasar.

Selain itu, sejumlah bangunan fisik pun mulai di bangun di pesantren yang terletak di wilayah yang juga dikenal sebagai kedudukan proyek migas Blok Cepu. Berikut ini beberapa foto yang berhasil dihimpun redaksi Hidayatullah.or.id:

Santri kerjabakti pagi Ahad di kampus
Santri kerjabakti pagi Ahad di kampus
Suasana kerja bakti pagi
Suasana kerja bakti pagi
Menggali saluran air
Menggali saluran air
Masjid yang sudah bisa digunakan di tengah ilalang kebun jagung
Masjid yang sudah bisa digunakan di tengah ilalang kebun jagung

 

 

 

Sinergi Harakah dan Dakwah Eratkan Persatuan Umat

0
Training Marhalah Wustha / FOTO: Masykur
Training Marhalah Wustha / FOTO: Masykur

Hidayatullah.or.id — Tidak ada rumus kalah atau rugi bagi orang beriman. Buat dirinya sendiri terlebih ketika ia berinteraksi dengan orang lain. Bagi orang beriman, semua yang ia lakukan sebatas mujahadah (usaha maksimal) dalam meraih ridha Allah di dunia.

Demikian yang tersimpul dalam pemaparan disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah, Dr (cand) Nashirul Haq, di hadapan peserta Training Marhalah Wustha yang diadakan di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kaltim, Kamis (9/01/2014).

Termasuk saat bergaul dengan orang lain. Kata Nashirul, orang beriman hanya mengenal sinergi positif dengan saudaranya serta membuang jauh hal-hal negatif yang bersifat dzhan (dugaan) yang timbul dari perasaan semata.

“Orang beriman itu tak pernah rugi jika ia memang sudah berusaha maksimal. Sebab orang beriman itu “hanya” bertugas bekerja sedang hasil usahanya senantiasa kembali kepada kuasa dan ketetapan Allah semata,” terang ustadz yang mengampu kajian materi “Mengenal Harakah-harakah Islam” dalam training ini.

Ketika seorang Muslim dituntut untuk bekerja sama dalam urusan dakwah di tengah masyarakat. Ia tak perlu merasa tersaingi atau dikalahkan oleh saudaranya sesama Muslim. Sebab, terang Ustadz Nashirul, dakwah dan hasil dari berdakwah itu bukan tujuan utama dia.

Sehingga, tegasnya, seorang Muslim tidak perlu merasa jadi pecundang atau bersikap “win win solution”. Karena sikap yang benar bagi seorang Muslim menurut Nashirul, tidak lain adalah saling bersinergi dan senantiasa husnudzhan (prasangka baik) kepada orang lain.

Menurut Ustadz Nashirul, inilah kelemahan internal pada tubuh umat Islam. Hari ini umat Islam kehilangan kepercayaan di antara sesama mereka sendiri. Alih-alih bekerja sama membina umat Islam. Mereka sendiri sibuk bertikai dalam urusan yang sejatinya hanya bersifat furu’iyah. Padahal kesamaan yang menyatukan mereka begitu banyak. Sebagaimana potensi umat Islam begitu kuat andai mereka saling bersinergi satu sama lain.

Ibarat bangsa semut, Nashirul bertamsil, hidup berjamaah menjadi fitrah yang telah digariskan Allah kepada manusia sebagai makhluk sosial. Lebih dari itu, berjamaah adalah sunnatullah syar’iyah. Bahwa untuk menjalani kehidupan beragama yang lebih baik, maka berjamaah menjadi sebuah keniscayaan bagi orang beriman.

Nashirul mengingatkan, di dunia ini hanya ada dua jamaah yang senantiasa saling berseteru dalam pertikaian abadi.

“(Perseteruan) yang ada hanyalah antara jamaah al-haq versus jamaah al-batil. Antara hizbullah melawan hizbu as-syaitan,” ujar ustadz kandidat doktor bidang Islamic Revealed Knowledge and Heritage di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.

Terakhir, Ustadz Nashirul mengingatkan para peserta training sebuah ungkapan dari Ali bin Abi Thalib, sebuah kejahatan yang dimenej dengan baik ternyata mampu mengalahkan kebaikan yang hanya dikelola apa adanya saja. Ia berharap semoga ini semua menjadi kesadaran kita bersama untuk tidak lagi ragu bekerja sama dengan saudara seiman dan kelompok-kelompok dakwah yang lain sesama ahlus sunnah.

“Buang jauh-jauh kecurigaan sesama Muslim. Sebab ia hanya merusak hati dan ukhuwah di antara umat Islam saja,” pungkas Nashirul Haq semangat.*

_______________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media langsung dari arena acara

Kader Harus Optimal Sebagai Dai dan Penggerak Organisasi

0
Bincang-bincang santai sejumlah peserta rakor usai acara / FOTO: Bashori
Bincang-bincang santai sejumlah peserta rakor usai acara / FOTO: Bashori

Hidayatullah.or.id — Seluruh kader-kader Hidayatullah di lapangan dituntut harus mahir memerankan dirinya sebagai dai tauladan yang baik di masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak organisasi. Setiap dai setidaknya harus memiliki agenda dan program dakwah harian sebagai cemeti untuk perbaikan diri dan lingkungan sosialnya.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat (PW Hidayatullah Sulbar) Drs. Abu Bakar Muis, dalam temu koordinasi dan silaturrahim awal tahun seluruh Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Sulbar di balai-balai Rumah Adat Mandar tepian pantai Kota Mamuju, Kamis (10/01/2014) kemarin.

Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulbar sengaja mengundang seluruh pengurus daerah pada Kamis (9/1) kemarin untuk mengkordinasikan program dan agenda kerja dalam rangka upaya cerdas dalam memberikan layanan keummatan di masyarakat Sulbar.

“Tugas pokok kita dan prioritasnya di sini adalah perjuangan membangun peradaban Islam baik tingkat pribadi maupun kolektif melalui wadah bernama Hidayatullah. Adapun tugas di unit-unit usaha (milik organisasi-red), itu nilai kehidupan pribadi kita,” terang Abu Bakar Muis mengawali arahannya di depan ketua-ketua penegurus daerah dan wilayah.

Abu Bakar menambahkan, organisasi Hidayatullah adalah sebagai wadah kita dalam mensosialisasikan dan mempraktikkan ajaran agama ke kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat luas menuju kehidupan mulia yang diridhai Allah subhanahu wa taala.

“Bukan justeru sebaliknya, merasa telah berbuat banyak ketika memiliki indikator keberhasilan menjalankan amanah di unit-unit usaha. Lembaga kita ini ibaratnya rumah besar, tidak memperhatikan atapnya saja ketika kita diamanahkan memelihara lantai. Jadi jangan timpang, unit usaha harus berbanding lurus dengan maksimalisasi kerja kerja dakwah dan keummatan,” jelasnya.

Kader harus bisa memetakan perkerjaan secara proporsional dan memprioritaskan dakwah. Sebab, kata Abu Bakar, dikhawatirkan kader-kader yang memiliki tugas ganda di unit-unit usaha yang diharap dengan lancarnya sumber ekonomi itu bisa menopang tugas pokok dalam dakwah justeru lupa pada tujuan awalnya.

Untuk itu, Abu Bakar Muis mengatakan pihaknya akan berkomitmen secara bertahap dan berkelanjutan untuk melakukan mapping job deskripsi sesuai potensi agar kader Hidayatullah di wilayah kepemimpinannya dapat berperan maksimal di bidang-bidang masing masing tanpa geran ganda.

“Sehingga agenda dakwah, amal usaha, dan layanan-layanan keummatan yang kita selenggarakan dapat berjalan sinergis, terpadu, dan semata-mata bararus utama kepada penegakan peradaban Islam yang mengistimewakan semua potensi yang ada,” kata Muis.

Bertempat di salah satu balai-balai Rumah Adat Mandar di tepian pantai kota Mamuju, ketua PW Hidayatullah Sulbar juga mengingatkan bahwa keberadaan unit usaha Hidayatullah Sulbar kelak bentukan organisasi agar bisa memudahkan untuk menjalankan misi organisasi.

Mendiami wilayah propinsi Sulawesi Barat yang penduduknya beragama Islam sebesar 83,1% dari total 1.158.336 jiwa adalah tantangan tersendiri bagi Hidayatullah di wilayah ini.
Sebab, dari angka jies tadi tidak otomatis menjadi jumlah muslim yang paham dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya secara utuh. Salah satu faktornya luasnya bentangan wilayah yang terbagi di enam kabupaten, dari kabupaten Polman, Majene, Mamuju, Mamasa, Mamuju Tengah dan Mamuju Utara.

Di enam kabupaten itu hanya tinggal kabupaten Mamasa yang belum terbentuk pengurus daerah Hidayatullah.
Adapun Mamuju Tengah pengurus daerahnya mulai beroperasi sejak awal Oktober tahun 2013 lalu dan memiliki bergainning cukup bagus karena bisa bersinergi dengan pemerintah setempat dan langsung mengembangkan dakwah ke kecamatan-kecamatan.

Secara spesifik kondisi Sulbar menjadi tantangan dakwah bagi kader Hidayatullah. Kader dituntut untuk lebih cermat dan terus membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, sembari menguatkan niat untuk tetap terus istiqamah di jalan dakwah ini.

“Karena sambil memberikan pencerahan kepada ummat, dai juga dituntut piawai mengembangkan organisasi Hidayatullah, wadah tempat mengaplikasikan konsep keislaman di setiap kampus-kampus sebagai miniatur peradaban yang dibangun,” tandas Abu Bakar Muis.

_____________
Laporan Muhammad Bashori, kontributor tetap Hidayatullah.or.id wilayah Sulawesi Barat

Memberikan yang Terbaik untuk Masyarakat

0
Oleh Dr H Abdul Mannan*
Oleh Dr H Abdul Mannan*

NABI Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik–baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (Riwayat Thabrani).

Redaksi Hadits di atas sangat sederhana, tapi berat dalam aksi. Kata manfaat mengandung makna yang sangat dalam. Apalagi manfaat dalam kaitan hidup bermasyarakat.

Makna manfaat berarti suatu nilai positif seseorang yang ditransfer kepada publik atau lingkungan dimana ia berinteraksi. Nilai positif adalah dambaan bagi semua orang yang berpikiran positif pula. Dan, tiada manusia yang tidak mendambakan nilai–nilai positif dalam hidup dan kehidupan.

Al-Qur`an adalah sebagai pedoman hidup umat manusia dan nabi serta rasul sebagai pelaksana dalam membangun masyarakat. Oleh karena itu, atas dasar fungsi kenabian dan kerasulan Muhammad SAW yang berdimensi kepemimpinan memberikan suatu statement bahwa sebaik–baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Dengan demikian, seruan tersebut berdimensi kemaslahatan umat manusia agar dapat menciptakan suatu masyarakat yang saling membangun dalam kebersamaan hidup berdasarkan nilai–nilai ajaran Allah.

Lantas, apakah semua manusia menghendaki aturan hidup dan kehidupan yang datangnya dari Allah? Secara ideal adalah semua manusia berlapang dada dan berkemauan untuk melaksanakan ajaran Allah yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul. Tetapi realitas sejarah manusia menunjukkan bahwa mayoritas umat manusia enggan menerima ajaran-Nya.

Sejak Nabi Adam alaihisalam hingga saat ini dan sampai akhir zaman, bahwa manusia saling tarik menarik dalam kebenaran dan kejahatan.

Para nabi dan rasul sengaja diutus oleh Allah untuk mengarahkan semua manusia pada zamannya agar hidup di bawah naungan ajaran Allah. Dan, keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah diutus untuk kaumnya sejak zamannya hingga akhir zaman untuk umat seluruh dunia.

Ajaran yang diwahyukan Allah kepadanya tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Sebab itu, Nabi Muhammad SAW konsen terhadap pembangunan manusia yang berdimensi kepemimpinan. Rumus menejemen modern juga mengatakan bahwa pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang berkemampuan melahirkan pelanjut kepemimpinannya.

Dengan demikian, misi perjuangan hidup dan kehidupan yang senantiasa melestarikan lingkungan dengan nilai-nilai positif berdasarkan ajaran Allah akan berlanjut hingga akhir zaman.

Sekarang, kita hidup jauh berselang dari zaman Rasulullah SAW. Namun, kita beriman kepadanya bahwa ia seorang nabi dan rasul penuntun umat manusia menuju sukses di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai hal tersebut lahannya adalah membangun peradaban manusia atas dasar ajaran Allah yaitu Islam. Konsep peradaban Islam adalah al-Qur`an dan as-Sunnah.

Kini, kita menyaksikan peradaban manusia yang jauh dari ajaran Islam. Dengan segala dalih bahwa al-Qur’an sebagai wahyu sudah tidak up to date, sehingga harus direvisi. Akhirnya, umat Islam berkutat seputar dialog non produktif, yang berujung tidak sempat berkarya demi kemaslahatan umat.

Di sisi lain, umat manusia yang tidak beriman kepada al-Qur’an dan as-Sunnah terus menggulirkan isu-isu negatif tentang Islam. Misalnya, Islam literal adalah sarang teroris dan Islam liberal adalah pemersatu umat manusia.

Dalam kondisi degradasi keimanan seperti ini, maka hendaknya di antara kita ada yang bangkit memberikan pencerahan kepada umat. Marilah kita berikan sesuatu yang terbaik menurut ajaran Islam demi kemaslahatan bangsa dan negara. *
*Penulis adalah Ketua Umum PP Hidayatullah

Dewan Syura: Jangan Lupakan Piagam Gunung Tembak

Ustadz Hamim Thohari saat memberikan taushiah / FOTO: Masykur
Ustadz Hamim Thohari saat memberikan taushiah / FOTO: Masykur

Hidayatullah.or.id — Sejak acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah bulan Juni 2013 lalu, seluruh kader dan jamaah Hidayatullah kini memiliki Piagam Gunung Tembak.

Sebuah piagam kesepakatan yang berisi seruan untuk menegakkan peradaban Islam dengan memakmurkan masjid, menuntut ilmu, bersilaturrahim, berjiwa sosial, mendirikan shalat berjamaah, tawadhu’, berdakwah, dan menjadi teladan yang baik di masyarakat.

Bagi kader dan jamaah Hidayatullah, Piagam Gunung Tembak tentunya bukan sekedar simbol yang menghiasi penutupan gawe besar seperti Silatnas lalu. Tapi ia adalah spirit yang menjadi energi dalam setiap perlangkahan dakwah di seluruh penjuru nusantara.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Syura Hidayatullah, K.H. Hamim Thohari, ketika menyampaikan taushiyah di hadapan peserta Training Marhalah Wustha hari ini yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Kalimantan Timur, 8-11 Januari 2014.

“Hendaknya hal ini menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai ada diantara kita yang lupa dengan Piagam Gunung Tembak,” ucap Hamim yang lebih karib disapa ustadz ini.

“Kita telah berbuat dzalim jika ada diantara kita yang tidak pernah lagi menengok apa isi piagam tersebut. Ia adalah janji sekaligus kontrak kita bersama dalam dakwah menegakkan peradaban Islam,” lanjut beliau.

Beliau menegaskan, jika kita sendiri tidak mengindahkan hasil kesepakatan sendiri, maka Bagaimana kita bisa berharap agar umat juga peduli dengan urusan dakwah ini.

Kehadiran Ustadz Hamim di acara pembukaan marhalah ini sekaligus menjadi narasumber pertama di acara yang digelar selama 4 hari di Gedung Unit Pelaksana Teknis Bersama (UPTB) Balai Penelitian Pertanian (Bapeltan) Samarinda, Kaltim.

Masih menurut Hamim, Gunung Tembak adalah akar sejarah dari perjuangan dakwah Hidayatullah. Itu juga yang menjadi alasan mengapa piagam yang dicetus lalu dinamai Piagam Gunung Tembak. Sebagai contoh, Muhammadiyah meskipun kini kian berkembang pesat di sejumlah daerah. Tetap saja Muhammadiyah tidak bisa melepaskan jati dirinya yang lahir di kota Jogjakarta. Sebagaimana juga Nahdhatul Ulama yang kental dengan celupan dari Jawa Timur.

Untuk itu, terang beliau, Gunung Tembak adalah milik semua kader Hidayatullah. Dari sanalah seluruh juru dakwah –pada awalnya- ditembakkan ke seluruh penjuru nusantara.

Sementara itu dalam momen yang sama, Hamzah Akbar, Ketua PW Hidayatullah Kaltim mengajak seluruh peserta untuk memperbanyak syukur atas kegiatan Training Marhalah Wustha ini.
Hamzah menuturkan, training Marhalah Wustha sebagai langkah dakwah yang sangat strategis dalam mengawali gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah di tahun 2014.

“Semoga dari acara ini lahir para ideolog-ideolog Muslim yang siap mentransformasikan dan mendakwahkan nilai-nilai agama Islam ke tengah umat, khususnya medan dakwah Kalimantan Timur,” ucap Hamzah semangat.

Menurut Hamzah, kebutuhan umat hari ini tidak berbanding dengan para juru dakwah dan ideolog Muslim yang siap terjun ke lapangan. Untuk itu Hamzah berharap agar para alumni Training Marhalah Wustha bisa menjadi jawaban akan kebutuhan dakwah di tengah umat.

Training Marhalah Wustha ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai utusan daerah se-Kalimantan Timur seperti dari Tarakan, Nunukan, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, Samarinda, Balikpapan, dan lainnya. Juga diikuti sebanyak 7 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISD) Balikpapan.*

________
Laporan Masykur Suyuthi, wartawan Hidayatullah Media langsung dari arena acara

Dunia Islam Punya Potensi 150 Juta Akademisi, Indonesia 32 Juta

0
IST
IST

Hidayatullah.or.id — Persentase akademisi di dunia Islam, yang populasinya saat ini mencapai 1,5 miliar jiwa dan tersebar di 50 negara, mencapai 10 persen atau sekitar 150 juta. Demikian dikatakan profesor riset bidang sistem informasi spasial di Badan Informasi Geospasial (BIG), Fahmi Amhar, di Jakarta.

“Di Indonesia estimasi kalangan akademisi mencapai 13,28 persen dari total populasi atau sekitar 32 juta jiwa,” kata Fahmi Amhar belum lama ini.

Dia mengatakan potensi sumber daya intelektual di dunia Islam ini semakin tampak dengan munculnya beberapa gagasan yang berkaitan dengan pembangunan peradaban Islam.

“Mereka telah mengusulkan banyak sekali solusi dalam topik-topik seperti politik global dan dampaknya terhadap dunia Islam yang mencakup geopolitik, hubungan internasional, interdependensi antarnegara hingga isu militer dan keamanan,” jelas Fahmi.

Selain itu para ilmuwan Islam di dunia juga membahas isu ekonomi, kesehatan dan keamanan pangan, energi dan sumber daya alam, masalah perempuan dan keluarga serta pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi, tambahnya.

Namun demikian, menurut dia, hasil pemikiran para ilmuan tersebut masih parsial sehingga topik yang dibahas berhenti pada teori dan konsep sehingga belum mampu menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya.

“Pendidikan yang fokus hanya pada bidang kajian yang sempit justru kehilangan konteks atau kerangka berpikir yang melingkupi persoalan tersebut,” ujar Fahmi.

Dia mengatakan permasalahan di dunia Islam seperti ekonomi yang terpuruk, degradasi moral masyarakat, pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang tertinggal telah dibahas dan diupayakan penyelesaiannya melalui perdagangan, sekolah-sekolah Islam, beasiswa ke perguruan-perguruan tinggi internasional.

“Tapi dunia Islam belum melihat ujung dari benang kusut permasalahan-permasalahan ini,” kata Fahmi.

Menurut dia, sekulerisme dan liberalisme menjadi paham yang menghalangi intelektual Muslim dunia untuk merumuskan penyelesaian yang menyeluruh dan tuntas atas permasalahan-permasalahan masyarakat tersebut.

Sekulerisme melahirkan manusia-manusia sombong yang menganggap dirinya lebih tahu daripada Tuhan yang menciptakan alam semesta sehingga Islam terpisah dari kehidupan dan urusan masyarakat. Sementara liberalisme telah menjauhkan manusia dari aturan-aturan Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan.

Intelektual Muslim seharusnya mengintegrasikan dan menyinergikan sistem dan hukum Islam dalam setiap upaya ilmiah mereka untuk menyelesaikan masalah masyarakat hingga pada level dunia, tandas Fahmi. (antara)

Kemenpera Teruskan Pembangunan Rusunawa untuk Pondok Pesantren

0
Kemenpera Djan Faridz
Kemenpera Djan Faridz

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren merupakan sarana pendidikan tertua di Indonesia. Sayangnya masih banyak lembaga pendidikan para santri itu kondisinya mengenaskan. Karena itulah pondok pesantren menjadi perhatian khusus Kementerian Perumahan Rakyat untuk diperbaiki menjadi lebih layak huni dan bagus.

“Pendidikan pondok pesantren sudah ada sejak jaman penjajahan. Saat ini kita punya 27 ribu ponpes di seluruh Indonesia. Kondisi asramanya jauh dari layak huni,” kata Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dalam siaran pers yang diterima media, Selasa (7/1) kemarin.

Djan mengaku telah berkeliling Indonesia untuk melihat kondisi pesantren dari dekat. Saat baru ditunjuk sebagai menteri, dia langsung turun ke ponpes-ponpes di seluruh pelosok daerah.

“Ternyata kondisinya masih banyak yang memprihatinkan. Kamar tidurnya sempit, ruangan kecil diisi banyak santri. Mereka tidur umpel-umpelan. Bayangkan, ukuran 3 x 4 meter persegi diisi 20 santri,” papar Djan.

Ia pernah mendapati sebuah pesantren dengan jumlah santri mencapai 18 ribu. Mck-nya di empang. Itu pun harus antri. Tidur, tempat sholat dan tempat berlajarnya di musholla. Mereka juga tidak dipungut bayaran. Hebatnya dalam sehari mereka dapat makan sampai 3 kali. “Nah, Kalau bukan pemerintah yang memerhatikan pondok pesantren, siapa lagi,” ujarnya.

Anggaran untuk perbaikan pondok pesantren pun sangat minim. Sebelum jadi menteri perumahan, lanjut Djan, anggaran setahun hanya cukup untuk perbaikan 8 pondok pesantren. Djan pun berusaha meyakinkan Presiden SBY bahwa pendidikan pesantren harus mendapat perhatian ekstra. Upayanya berhasil.

Sejak 2012, anggaran bantuan pembangunan pondok pesantren berupa Rusunawa yang semula hanya cukup untuk 8 ponpes, melesat menjadi 300 pembangunan Rusunawa pesantren. Yang semula anggarannya hanya Rp 900 miliar di 2011, di 2014 mencapai Rp 4,6 triliun.”Insya Allah di 2014 bertambah menjadi 400 pesantren,” ujar Djan.

Menurut Djan, pendidikan pesantren itu, selain murah, sebenarnya kualitas pendidikannya tak kalah bagus dengan pendidikan formal.

“Karena itu kita bantu pembangunan pondokannya berupa Rusunawa. Dengan kualitas pondokan yang bagus akan meningkatkan pendidikan yang bagus pula. Meski pendidikannya masih berpegang pada tradisi, tapi lebih terlihat moderen,” jelasnya.

Untuk keseluruhan Jawa Timur Djan mengungkapkan akan dibangun 175 twinblok dengan nilai mencapai Rp 600 miliar. (pr/hio)

Ustadz Lathif Usman: Mengabdi di Hidayatullah Sebagai Pengawal

Ustadz Latif (depan kedua dari kiri) bersama sejumlah pengurus berfoto dengan Presiden SBY
Ustadz Latif (depan kedua dari kiri) bersama sejumlah pengurus berfoto dengan Presiden SBY

Hidayatullah.or.id — Siapa yang tak kenal Ustadz Abdul Latif Usman? Di kalangan Hidayatullah, beliau termasuk ustadz senior. Tapi adakah yang tahu jabatan beliau selama ini? Ustadz Latif, demikian biasa dipanggil, mengaku dirinya selama di lembaga menjadi pengawal.

“Sejak dulu tugas saya ini jadi pengawal, mulai pimpinan (pertama, Allahuyarham Ustadz Abdullah Said) hingga pimpinan sekarang (Ustadz Abdurrahman Muhammad),” ujar Ustadz Latif di depan para jamaah usai shalat shubuh di Masjid Ummul Quro, Komplek Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Beliau berkisah, ada kesan-kesan tersendiri khususnya saat mengawal Ustadz Abdurrahman. Misalnya, Ustadz Latif kerap dikira pimpinan Hidayatullah oleh orang-orang yang belum mengenal keduanya dengan baik.

“Saat kami (saya, Red) mengawal beliau (pimpinan) ke Pakistan, di markas sebuah harakah besar, kami yang dikira sebagai pimpinan Hidayatullah,” tuturnya.

Hal ini, menurut Ustadz Latif, karena penampilan keduanya yang berbeda. Seperti diketahui, saat bepergian Ustadz Abdurrahman kerap “berseragam” khas; peci hitam, baju koko, dengan sorban merah disampir di bahu, serta celana panjang di atas mata kaki. Sementara Ustadz Latif, “seragam” khasnya adalah peci putih dan gamis putih panjang layaknya orang Arab.

“Karena penampilan beliau yang begitu, dan penampilan kami yang begini, maka kami yang dikira pimpinan Hidayatullah,” ujar Ustadz Latif disambut senyum jamaah.

Dalam hal ini, beliau menyebut dirinya bisa “mengalahkan” bapak pimpinan. Namun, beliau mengakui belum bisa “mengalahkan” Ketua Umum (Ketum) PP Hidayatullah Dr Abdul Mannan.

“Tapi ada satu yang bisa kami kalahkan beliau,” ujar Ustadz Latif.

Beliau berkisah lagi, suatu ketika pernah mengawal Ustadz Mannan ke suatu tempat selama beberapa hari. Saat Ketum menanyakan makanan yang hendak disantap, Ustadz Latif menjawab “sate”.

Makan yang kedua kalinya, ditanya lagi apa yang mau dimakan, jawabnya sate lagi. Ketum meladeni.

Ketiga kalinya, “Mau makan apa?” tanya Ketum.

“Sate!” jawab Ustadz Latif dengan mantapnya.

Demikian seterusnya, tawaran dan jawaban yang sama hingga makan keempat, kelima, bahkan keenam. Setiap tawaran makan, Ustadz Latif selalu menjawab “sate”.

Tapi rupanya pada “tantangan” sate yang terakhir ini, Ketum sudah tak sanggup meladeni sang pengawal.

“Di sinilah kami berhasil mengalahkan Ustadz Mannan,” seloroh Ustadz Latif lagi-lagi disambut tawa ringan jamaah. (Liputan Skr aljihad, wartawan portal nasional Hidayatullah.com).

Hindari Mudharat, Pesantren Hidayatullah Minta Lokalisasi di Bintan Ditutup

0
Salah satu pantai di Pulau Bintang / Kompasiana
Salah satu pantai di Pulau Bintang / Kompasiana

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Bintan Meydi meminta lokalisasi di Bintan ditutup karena dinilai akan sangat banyak sisi mudharat (buurknya) dan rentan menjadi tempat penyebaran HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Menurut Meydi, penyebaran semakin berkembang di tengah masyarakat Bintan, salah satu lokasi penyebarannya melalui tempat-tempat lokalisasi. Untuk itu, ia meminta pemerintah menutup lokalisasi yang terdapat di dua lokasi di Bintan yakni Bukit Senyum dan Toapaya.

“Berangkat dari kekhawatiran kita, setiap tahun semakin berkembang virus HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat. Salah satu faktor yang mendukung penyebarannya adalah di tempat-tempat lokalisasi,” kata Meydi saat berkunjung ke Haluan Kepri, Jumat (3/1) lalu.

Dia menyampaikan, diperlukan campur tangan pemerintah sebagai pemangku kekuasaan dan yang memiliki kewenangan menutup lokalisasi tersebut.

“Kalau hanya sekedar sosialisasi saja itu sudah sering dilakukan. Tapi tetap saja banyak. Solusi konkretnya pemerintah harus menutup tempat lokalisasi,” katanya.

Menurutnya, Bintan perlu belajar dari beberapa pemerintah daerah di Indonesia yang serius menangani persoalan ini dengan menutup lokalisasi yang ada di daerahnya.

“Belajar dari beberapa daerah seperti di Pekanbaru, lokalisasi sudah ditutup dan dijadikan perumahan oleh pemerintah di sana. Tentunya sangat ironis kalau ini (lokalisasi) terus berkembang di Bintan ini,” katanya.

“Ini suara kami. Harapan kami, ada respon dari pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. Dengan berkembangnya Bintan, jangan sampai lokalisasi dan HIV/AIDS juga ikut berkembang,” katanya.

Meydi mengatakan tidak ada aturan, baik undang-undang atau aturan lainnya, yang melegalkan lokalisasi di suatu daerah. “Miris rasanya Bintan dan Tanjungpinang yang mayoritas masyarakat dan pemimpinnya Islam, tempat maksiat berkembang dengan subur,” katanya.

Ponpes Hidayatullah Bintan, kata dia, kerap melakukan pengajian di salah satu lokalisasi yang ada di Bintan, namun menurutnya hal itu tidakl cukup jika pemerintah tidak ikut campur tangan. Pemerintah diminta mengambil tindakan tegas dan serius terhadap penyebaran HIV di masyarakat. (hk/ybh/hio)

Hidayatullah Dukung Gagasan Kembangkan Pesantren Berwawasan Bahari

0
Kekayaan maritim Indonesia
Kekayaan maritim Indonesia

Hidayatullah.or.id — Potensi perikanan dan maritim Indonesia, merupakan sumber ekonomi masyarakat di kepulauan dan pesisir. Dari sinilah masyarakat muslim hadir membentuk komunitas pesantren pesisir di beberapa wilayah kelautan dan kepulauan di tanah air.

Dari sinilah pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memandang perlu memperkuat komunitas pesantren berwawasan bahari di Indonesia.

“Potensi lokal pesantren di wilayah maritim ini perlu dikembangkan dan dibantu,” ujar Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Ace Saepudin, beberapa waktu lalu.

Menurut Ace pentingnya pengembangan pesantren bahari dikarenakan dari komunitas pesantren pesisir inilah masyarakat muslim tradisional menjaga potensi kelautan. Dengan pengembangan pesantren bahari ini, tidak hanya meningkatkan kualitas pemahaman agama masyarakat pesisir. Tapi juga berbagai pengetahuan potensi ekonomi dan perikanan disana.

Ace mengungkapkan, Kemenag akan bekerjasama dengan Fakultas Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. “Beberapa dosen pun akan diajak ke beberapa pesantren pesisir melihat potensi perikanan dan tambak yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ini kata Ace sekaligus transfer pengetahuan antara akademisi ke masyarakat pesisir. Agar ilmu kelautan dan perikanan langsung bisa dirasakan pesantren pesisir.

Saat ini, kata Ace, setidaknya sudah 120 pesantren yang tergabung di pesantren bahari. Beberapa pesantren bahari tersebut terdapat di wilayah, pantai utara Jawa Tengah dan Timur, dan wilayah pesisir dan kepulauan di Gorontalo. Kedepan ia pun berharap ada kerjasama yang terus menerus bersama dengan pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengelolaan perikanan lebih jauh.

Ia mengungkapkan, Pesantren Bahari merupakan Ponpes yang letak geografisnya berada tidak jauh dari laut atau yang memiliki kegiatan produksi di bidang kelautan dan perikanan serta melaksanakan pelatihan kelautan dan perikanan, baik formal maupun non formal. Saat ini sudah ada sebuah komunitas pesantren bahari yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Pesantren Bahari (FSPB).

Hidayatullah kini telah menjadi salah satu pioner pesantren bahari itu dengan terlibat aktif dalam program pengembangan sumberdaya manusia kelautan dan perikanan dalam meningkatkan kemampuan anggota masyarakat, khususnya pelaku utama kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Pesantren Hidayatullah Balikpapan dirangkul oleh KKP dalam sinergi program unggulan pembentukan dan pengembangan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) di kota tersebut.

Belum lama ini bersama dengan RM Torani digelar pelatihan pengelolaan tataboga ikan bandeng yang dilaksanakan secara paralel sebanyak 2 angkatan yaitu angkatan 5 dan 6 sejak Agustus 2013 dengan jumlah peserta 20 orang masing-masing angkatan berjumlah 10 orang yang seluruhnya berasal dari Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.

Program diantaranya melatih peserta dapat membuat bandeng tanpa duri, membuat bakso bandeng, nugget bandeng dan bandeng crispy juga dibekali dengan materi PMMT untuk mengetahui mutu ikan dan penanganannya, mengemas produk olahan bandeng, pemasaran hasil olahan bandeng dan kewirausahaan.

Pelatihan pengolahan dan pemasaran ikan bandeng ini dilaksanakan di salah satu lokasi milik Torani Food Restoran yang juga sebagai lokasi P2MKP dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta pelatihan terhadap pengolahan bandeng tanpa duri dan diversifikasi olahannya. (rep/hio/ybh)