Beranda blog Halaman 30

Penutupan Rakernas 2026, Ketua Umum Hidayatullah Tekankan Kesabaran Mengelola Manusia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, menyampaikan sambutan penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu malam, 19 Rajab 1447 (14/1/2026).

Dalam arahannya, Naspi menekankan pentingnya merawat nilai kebaikan, kesabaran, dan soliditas sebagai fondasi utama kepemimpinan dan pengabdian dalam organisasi dakwah.

Naspi melakukan refleksi tentang karakter dasar kader Hidayatullah. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa mereka yang bergabung dalam Hidayatullah pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang memiliki kecenderungan pada kebaikan atau setidaknya keinginan kuat untuk menjadi baik. Nilai inilah, menurutnya, yang harus terus dijaga dan dirawat sebagai ikhtiar jangka panjang.

“Orang yang masuk Hidayatullah itu pasti baik. Kalau bukan orang baik pasti tidak tahan lama,” katanya, setengah berkelakar.

Dari titik itu, Naspi mengajak seluruh peserta Rakernas memahami bahwa tugas kepemimpinan dalam organisasi dakwah tidaklah sederhana. Mengelola manusia, katanya, jauh lebih kompleks dibanding mengelola sistem atau program, karena berhadapan dengan latar belakang, watak, kebiasaan, dan budaya yang beragam. Tantangan ini, menurutnya, adalah bagian tak terpisahkan dari amanah kepemimpinan di semua level.

Ia menjelaskan bahwa para pemimpin struktural, baik di pusat maupun daerah, akan selalu berhadapan dengan dinamika tersebut. Karena itu, kualitas utama yang harus dibangun oleh seorang pemimpin adalah kesabaran dan kelapangan jiwa.

“Tugas berat pemimpin itu adalah karena mengurus orang. Oleh karena itu harus selalu membesarkan hati dan melapangkan jiwa,” katanya.

Naspi juga menyinggung keluhan yang kerap muncul dari sebagian pengurus daerah terkait sumber daya manusia yang dikirim dari perguruan tinggi Hidayatullah. Ia memahami bahwa ekspektasi sering kali tidak sepenuhnya terpenuhi. Namun, ia mengingatkan agar persoalan ini dihadapi dengan kedewasaan dan kesabaran.

Menurutnya, kader yang ditugaskan bukanlah alat atau mesin yang langsung mampu menyesuaikan diri dengan segala tuntutan. Mereka adalah manusia yang memerlukan proses adaptasi, pembinaan, dan pendampingan.

“Mereka yang dikirim ini bukan iron man, yang langsung bisa apapun yang diminta. Perlu proses dan ini butuh kesabaran, kebesaran jiwa, dan doa,” katanya.

Semangat Pengabdian kepada Agama

Lebih lanjut, Naspi mengingatkan agar hasil Rakernas tidak berhenti di tingkat pusat, tetapi benar-benar diturunkan dan diimplementasikan hingga ke wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Ia menekankan bahwa seluruh kerja organisasi harus dilandasi semangat pengabdian kepada agama dan bangsa.

Ia juga menekankan pentingnya kesederhanaan dan fokus dalam penyusunan program kerja. Menurutnya, program yang sedikit tetapi berjalan efektif jauh lebih bernilai daripada banyak program yang tidak terlaksana.

“Tiga program kerja saja cukup, yang penting jalan dan efektif. DPP memaklumi jika ada program kerja yang tidak berjalan maksimal, tapi ini jangan jadi legitimasi untuk tidak melakukan apa-apa,” imbuhnya.

Selain internal organisasi, Naspi menaruh perhatian besar pada pentingnya membangun jejaring eksternal. Ia mendorong para pengurus untuk memperkuat silaturrahim dengan berbagai elemen umat, tokoh masyarakat, dan pemangku kebijakan di daerah.

“Ketemu tokoh dan perbanyak jaringan. Harus punya koneksi dan konfidensi serta harus mampu membangun komunikasi yang selevel dengan pemimpin pemerintah daerah,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan komunikasi yang setara dan berwibawa menjadi syarat penting agar dakwah dan pengabdian Hidayatullah dapat diterima dan berdampak lebih luas di masyarakat.

Menutup pidato sambutannya, Naspi menegaskan kembali pentingnya menjaga kekompakan, soliditas, dan solidaritas di seluruh jajaran organisasi. Tanpa kerja sama yang tulus dan sinergis, kesepakatan yang telah dirumuskan dalam Rakernas tidak akan pernah terwujud.

“Apa yang telah kita sepakati tidak akan terwujud jika tidak ada kerjasama. Mari memaksimalkan potensi para kader yang ada di lingkup amanahnya masing-masing,” tandasnya.

Peran Penting Murabbi dan Seruan Menjaga Identitas di Tengah Kemajuan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. H. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd., menekankan bahwa visi peradaban tidak akan hidup tanpa ruh keberislaman yang menjadi napas gerakan. Menurutnya, kemajuan lahiriah yang dicapai organisasi harus selalu ditimbang dengan kekokohan identitas dan energi ruhani agar gerakan tidak kehilangan arah.

“Jangan sampai kemajuan lahiriyah yang ada membuat kehilangan identitas dan kehilangan energi,” kata Tasyrif Amin pada sesi Taujih Kelembagaan dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, selepas shalat subuh, Selasa, 19 Rajab 1447 (14/1/2026).

Ia menegaskan bahwa visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam menuntut kesiapan kader untuk memahami, mengilmui, dan mentransmisikan nilai-nilai inti gerakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Dalam konteks menjaga energi gerakan, Tasyrif Amin mengingatkan kembali tradisi dasar dalam Islam yang telah diwariskan Nabi Muhammad SAW, yakni halaqah. Ia menyebut halaqah sebagai instrumen pencerahan paling efektif dalam membentuk kepribadian, pemahaman, dan komitmen perjuangan.

“Halaqah harus menjadi lokomotif gerakan,” katanya.

Menurutnya, halaqah selain sebagai forum belajar rutin juga menjadi ruang pembentukan ruhiyah dan intelektual yang menjaga kesinambungan dakwah. Tanpa tradisi halaqah yang hidup, gerakan berisiko mengalami kekosongan makna meskipun tampak aktif secara struktural.

Lebih lanjut, Tasyrif Amin menyoroti posisi Hidayatullah sebagai gerakan yang membawa nilai-nilai Qur’ani. Ia menilai bahwa secara konseptual, nilai tersebut sangat layak dikenal luas oleh umat. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak pihak belum memahami secara utuh konsep Hidayatullah.

“Kenapa orang gamang dengan konsep Hidayatullah karena bisa jadi konsep ini tidak kita jurubicarai,” terangnya.

Oleh karena itu, Tasyrif mengingatkan agar kader dan pengurus tidak terjebak dalam aktivitas internal semata. Menurutnya, konsep yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan kehilangan daya pengaruhnya, betapapun kuat landasan ideologinya.

Tasyrif Amin mendorong agar kader Hidayatullah berani keluar dari zona internal dan tampil di ruang publik sebagai pembawa gagasan. Ia menekankan bahwa umat membutuhkan figur yang mampu menjelaskan arah dan menawarkan pencerahan.

“Umat ini mencari figur. Harus ada figur yang tampil di etalase umat melalui dakwah yang menerangi jalan umat,” katanya.

Dalam kerangka itu, ia menegaskan bahwa pengurus struktural, termasuk di tingkat DPD dan DPW, sejatinya memikul peran murabbi. Murabbi, menurutnya, bukan hanya pembina internal, tetapi figur publik yang merepresentasikan nilai dan konsep Hidayatullah.

“Murabbi adalah juru bicara peradaban. Tidak mungkin mengajak orang kalau tidak ada figur dan power yang muncul dengan spiritual, akhlak, dan kemampuan menjadi juru bicara peradaban,” katanya mengingatkan.

Tasyrif Amin kemudian menegaskan bahwa Islam sebagai ajaran universal yang diturunkan untuk seluruh alam. Karena itu, kader Hidayatullah dituntut menjadi transformator gagasan Islam, menerjemahkan nilai luhur Al-Qur’an agar dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

“Konsep ini untuk masyarakat secara universal. Kita harus hadir membawa Al Qur’an menjadi jalan pencerahan bagi umat manusia,” katanya.

Dalam penutup taujihnya, Tasyrif Amin menekankan pentingnya implementasi nilai Qur’ani secara menyeluruh. Ia menyebut bahwa konsep sistematika wahyu tidak boleh berhenti sebagai teori, tetapi harus termanifestasi dalam kehidupan nyata.

“Manifestasi Al Qur’an melalui konsep sistematika wahyu harus terejawantah secara pribadi, keluarga, komunitas, dan masyarakat,” katanya.

Dia menambahkan, para pemimpin Hidayatullah pada semua level struktural harus memahami konsep dan berjuang menegakkan konsep ini pada diri, keluarga, dan komunitas.

Dukungan Rumah hingga Air Bersih, Pemulihan Pascabencana Kampung Rel Berjalan Bertahap

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Depot air minum yang dikelola dengan melibatkan Pengurus Musholla menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana di Kampung Rel, Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.

Selama masa pemulihan, fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia air minum layak konsumsi, tetapi juga menjadi pusat distribusi galon air bersih bagi warga terdampak melalui armada khusus yang dioperasikan secara terkoordinasi.

Inisiatif tersebut berjalan beriringan dengan penyerahan 18 unit rumah hasil rehabilitasi yang dilaksanakan oleh Laznas Baitulmaal Hidayatullah (BMH).

Rumah-rumah tersebut diserahkan kepada 18 kepala keluarga dalam sebuah rangkaian kegiatan tasyakuran dan doa bersama yang berlangsung pada Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2026). Acara ini dihadiri ratusan warga Kampung Rel serta sejumlah perwakilan BMH dan tokoh masyarakat.

Program rehabilitasi hunian ini merupakan bagian dari skema Recycle House digulirkan BMH yang dirancang untuk mempercepat pemulihan tempat tinggal warga pascabencana.

BMH menargetkan penyelesaian rehabilitasi 100 unit rumah sebelum memasuki bulan Ramadhan. Namun, rumah yang telah rampung secara teknis diserahkan lebih awal agar dapat segera ditempati kembali oleh warga yang selama ini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Direktur Program dan Pendayagunaan BMH, Syamsuddin, menyampaikan bahwa percepatan penyerahan rumah merupakan bagian dari strategi pemulihan berbasis kebutuhan riil warga.

“Kami berharap warga yang selama ini tinggal di pengungsian bisa segera kembali ke rumah masing-masing dan menjalani aktivitas secara lebih layak,” ujarnya dalam sambutan kegiatan tersebut.

Selain hunian, kebutuhan dasar lainnya juga menjadi perhatian utama. Dalam kesempatan yang sama, BMH menyerahkan satu unit mesin filterisasi air bersih yang difungsikan sebagai depot air minum bagi warga.

Pengelolaan depot ini dipercayakan kepada Pengurus Musholla setempat, yang sejak fase pemulihan awal telah aktif membantu warga dengan mendistribusikan galon air bersih menggunakan armada khusus ke rumah-rumah dan titik-titik hunian sementara.

Pelibatan pengurus Musholla dinilai penting karena mereka memiliki kedekatan sosial dengan warga dan memahami kondisi lapangan secara langsung. Skema ini memungkinkan distribusi air minum dilakukan secara lebih tertib dan merata, terutama bagi keluarga lansia dan warga dengan keterbatasan mobilitas.

Rangkaian kegiatan pemulihan juga dilengkapi dengan Lapak Bahagia, yakni layanan distribusi kebutuhan prioritas warga berupa paket sembako dan pakaian layak pakai. Bantuan ini disalurkan untuk mendukung keberlangsungan hidup warga yang masih dalam tahap penyesuaian pascabencana.

Syamsuddin menjelaskan bahwa pendekatan pemulihan yang dijalankan BMH tidak berdiri sendiri. “Alhamdulillah, program-program ini berjalan secara paralel dan kolaboratif dengan berbagai pihak, dengan tujuan mendorong transformasi sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat pascabencana,” katanya.

Apresiasi terhadap program tersebut disampaikan oleh Jamal, tokoh masyarakat Kampung Rel yang juga menjabat sebagai imam Musholla. Ia menyatakan bahwa sejak masa tanggap darurat hingga fase pemulihan, kehadiran BMH dirasakan konsisten. “Atas nama pribadi dan masyarakat Kampung Rel, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan,” ujarnya.

Menurut Jamal, program yang dijalankan dirancang dengan melibatkan partisipasi warga sehingga selaras dengan kebutuhan lapangan. “Kami melihat langsung bahwa setiap program direncanakan dengan baik, melibatkan masyarakat, dan terasa tepat sasaran,” tambahnya.

Suasana haru turut mewarnai kegiatan ketika salah satu penerima manfaat, pasangan lansia yang dikenal sebagai Kakek Nasib dan istrinya, menerima simbolis kunci rumah hasil rehabilitasi. Keduanya tampak tidak kuasa menahan air mata saat rumah yang telah lama ditinggalkan akhirnya dapat ditempati kembali.

“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa kembali ke rumah sendiri dan tidak harus tinggal di tenda pengungsian lagi. Terima kasih kepada BMH dan semua orang baik yang telah membantu. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih besar,” ucap Kakek Nasib.

Kegiatan ini menandai satu fase penting dalam proses pemulihan Kampung Rel, di mana penyediaan hunian, akses air bersih, dan pemenuhan kebutuhan dasar dijalankan secara terpadu untuk mendukung keberlanjutan kehidupan warga terdampak.

Nursyamsa Hadis Tekankan Kemandirian dan Pengaruh Harus Berjalan Seimbang

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris dan Anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, Ust. H. Drs. Nursyamsa Hadis menekankan pentingnya konsolidasi jatidiri dan transformasi organisasi sebagai prasyarat bagi terwujudnya kemandirian dan pengaruh Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam.

Demikian disampaikan Nursyamsa saat menyampaikan pengarahan pada sesi pasca shalat subuh dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, selepas shalat subuh, Senin, 18 Rajab 1447 (13/1/2026).

Nursyamsa membuka pemaparannya dengan menegaskan bahwa tekad menjadi organisasi yang mandiri dan berpengaruh merupakan konsekuensi logis dari komitmen Hidayatullah terhadap pembangunan peradaban. Menurutnya, posisi tersebut tidak dapat diraih tanpa penguatan identitas ideologis dan pembaruan tata kelola organisasi secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa konsolidasi jatidiri merupakan proses strategis untuk mempertegas identitas dan tujuan organisasi. Dalam konteks Hidayatullah, konsolidasi ini berarti memperkuat pijakan nilai dan memperdalam kesadaran kolektif atas arah perjuangan.

“Konsolidasi jatidiri di Hidayatullah bermakna meneguhkan komitmen pada nilai-nilai Sistematika Wahyu, Ahlussunnah Waljama’ah, al harakah al jihadiyah al islamiyah, Imamah Jamaah, Jama’atun Minal Muslimin, serta Washatiyah. Di saat yang sama, ini memperkuat identitas sebagai gerakan perjuangan Islam yang menjadi bagian dari arus utama tarbiyah dan dakwah umat,” jelasnya.

Menurut Nursyamsa, penguatan identitas tersebut tidak cukup berhenti pada deklarasi nilai, tetapi harus melalui refleksi dan evaluasi yang jujur terhadap praktik organisasi. Proses ini, katanya, bertujuan menyelaraskan nilai dasar dengan visi dan misi agar gerak organisasi tetap konsisten dan relevan.

Ia menambahkan bahwa upaya membangun kemandirian tidak boleh dilepaskan dari kemampuan memberi pengaruh positif kepada masyarakat. Dalam pandangannya, kemandirian internal dan pengaruh eksternal merupakan dua sisi yang saling menguatkan.

Kemandirian internal baik finansial, manajerial, maupun kaderisasi harus berjalan beriringan dengan pengaruh eksternal melalui program sosial, komunikasi, dan kolaborasi.

“Keduanya saling melengkapi. Tanpa kemandirian, pengaruh mudah rapuh, dan tanpa pengaruh, kemandirian kehilangan makna,” katanya.

Semangat Kaljasadil Wahid

Lebih jauh, Nursyamsa mengingatkan bahwa kerja membangun peradaban menyentuh seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, para pelaku dakwah dituntut meluruskan niat semata-mata karena Allah serta menghindari bibit perpecahan yang dapat melemahkan jamaah.

Ia menekankan pentingnya membangun semangat kebersamaan yang utuh di internal organisasi.

“Pemimpin Hidayatullah harus memastikan seluruh jajarannya menumbuhkan semangat kaljasadil wahid, semangat satu tubuh,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kaljasadil wahid bermakna kesatuan jamaah yang saling terhubung seperti satu tubuh; ketika satu bagian merasakan sakit, bagian lain ikut merasakannya. Makna ini menuntut empati, loyalitas, dan kerja kolektif, sehingga organisasi bergerak sebagai satu kesatuan yang harmonis.

Dalam konteks menjaga persatuan, Nursyamsa menegaskan pentingnya musyawarah atau syura sebagai tradisi kepemimpinan. Menurutnya, syura bukan sekadar forum formal, melainkan proses yang menjunjung penghargaan terhadap setiap anggota.

“Syura adalah proses yang memberi ruang kepada anggota untuk menyampaikan pandangan. Itu bentuk penghargaan, dan pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan ketua,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa soliditas organisasi menjadi prasyarat mutlak bagi lahirnya kepemimpinan yang efektif. “Tanpa soliditas, kepemimpinan tidak mungkin berdiri kokoh,” tegasnya.

Menutup arahannya, Nursyamsa menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat lahir dari konsistensi antara perkataan dan tindakan.

“Jika menginginkan kepemimpinan yang kuat, kuncinya adalah syura. Sampaikan apa yang dikerjakan, dan kerjakan apa yang telah disampaikan,” tandasnya.

Rais Aam Hidayatullah Ingatkan Membangun Peradaban Harus dengan Kerja Keras

0
Sesi taujih Rais ’Aam Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad pada pembukaan Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Taz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rais ’Aam Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad menekankan makna strategis Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah sebagai forum kerja yang menuntut kesungguhan, ketekunan, dan tanggung jawab kolektif dalam membangun peradaban Islam.

Hal itu disampaikan beliau dalam taujih pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Ia mengawali taujih dengan ungkapan syukur atas kesempatan berkumpul dalam forum nasional tersebut. Menurutnya, pertemuan ini momentum untuk mempertegas orientasi kerja dan pengabdian organisasi ke depan.

Ia kemudian menekankan urgensi Rakernas sebagai rapat kerja yang sesungguhnya. Forum ini, katanya, tidak boleh berhenti pada formalitas atau kenyamanan seremonial, tetapi harus melahirkan daya dorong kerja yang nyata.

“Karena ini rapat kerja, maka kita harus kuat kerja. Jangan ada rapat kerja hanya kuat makan, tapi tidak kuat kerja. Rakernas ini menuntut kerja keras,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Rais ’Aam mengaitkan etos kerja dengan pesan Al-Qur’an. Ia mengingatkan penggalan Surah Al-Ahqaf ayat 19 yang menegaskan bahwa setiap manusia memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Ayat ini, menurutnya, menanamkan prinsip keadilan Ilahiah bahwa keberhasilan tidak hadir tanpa usaha.

“Semua keberhasilan hanya bisa karena dikerjakan. Masing-masing orang memperoleh derajat sesuai dengan apa dikerjakan,” katanya.

Lebih lanjut, KH. Abdurrahman Muhammad mengajak seluruh pengurus, baik di tingkat pusat maupun wilayah, untuk memposisikan diri sebagai penegak peradaban. Ia menegaskan bahwa setiap kader memikul peran kepemimpinan dalam skala dan tanggung jawab masing-masing.

“Kita semua pengembang peradaban. Kita semua pemimpin. Kita semua harus memperhatikan kerja keras,” imbuhnya.

Dalam konteks itu, ia mengutip makna Surah At-Taubah ayat 105, yang memerintahkan untuk bekerja karena Allah, Rasul, dan kaum beriman akan melihat hasil kerja tersebut. Ayat ini, menurutnya, menegaskan bahwa kerja bukan hanya aktivitas duniawi, tetapi juga bentuk pertanggungjawaban ruhani.

Ia kemudian menekankan peran pemimpin sebagai penggerak utama perubahan. Namun, kepemimpinan yang efektif harus ditopang oleh dua kekuatan utama, yakni ilmu dan amal.

“Pemimpin itu lokomotif utama dari sebuah perubahan. Namun, pemimpin harus memiliki dua kekuatan, yaitu harus memiliki kekuatan ilmu dan amal,” jelasnya.

Rais ’Aam menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada aspek lahiriah semata. Ia membagi ilmu ke dalam dua ranah, yakni ilmu fisik dan ilmu metafisik, seraya mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dengan demikian, kepemimpinan harus dilandasi pemahaman rasional sekaligus kesadaran spiritual.

“Ilmu itu ada dua, ilmu fisik dan metafisik. Allah menjelaskan dirinya bahwa Dia mengetahui yang ghaib dan nyata,” terangnya.

Dalam taujihnya, ia juga menarik pelajaran dari perjalanan para peserta Rakernas yang datang dari berbagai daerah. Ia menyadari bahwa kehadiran mereka tidak lepas dari keterbatasan dan rintangan, mulai dari persiapan hingga perjalanan. Kondisi ini, menurutnya, mencerminkan sunnatullah dalam perjuangan.

“Kamu akan diuji dengan sungai, dengan tawaran-tawaran untuk minum. Ini tantangan, dan semua menawarkan kemudahan. Menawarkan urusan dunia. Ini tantangan,” katanya.

Afirmasi Sejati
Sesi taujih Rais ’Aam Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad pada pembukaan Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Taz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

Masih dalam taujihnya, Rais ’Aam Hidayatullah ini kemudian menekankan pentingnya dzikir sebagai sumber afirmasi sejati. Menurutnya, kekuatan tidak lahir dari pembesaran diri, tetapi dari penguatan hubungan dengan Allah melalui dzikir yang terus-menerus.

“Bagi saya, dzikir itu sebuah afirmasi. Yang selalu diulang dan akan menghasilkan kekuatan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahaya ketidaksinkronan antara ucapan dan perbuatan. Ilmu yang hanya berhenti pada kata-kata tanpa menghasilkan kerja nyata, katanya, tidak bernilai di sisi Allah.

“Ilmu qaul yang tidak menghasilkan sesuatu, maka itu kaburamaktan indallah. Bahwa kekuatan itu sesungguhnya terlihat dari hasilnya,” terangnya.

Menutup taujihnya, KH. Abdurrahman Muhammad menegaskan identitas Rakernas sebagai forum para pejuang nilai, ideologi, dan peradaban. Ia mengingatkan bahwa dampak Rakernas harus dirasakan umat dan bangsa, termasuk dalam ranah politik yang dipahami sebagai amanah dan kehormatan.

“Karena kepemimpinan itu amanah kenabian, tanggung jawab rasul. Jangan berdakwah kamuflase dalam nilai itu. Jangan dakwah karena ada keinginan dunia,” katanya.

Ia menutup dengan peringatan agar tidak terjebak pada kamuflase amal, seraya mengutip makna Surah An-Nazi’at ayat 40 tentang keutamaan orang yang menahan diri dari hawa nafsu dan takut kepada Tuhannya.

“Kita harus menghindari kamuflase-kamuflase dunia. Kelihatannya kerja akhirat, tapi dunia yang dikejar. Ada juga kelihatannya kerja dunia tapi akhirat yang dikejar,” tandasnya.

Gelar Diklat Water Rescue, SAR Hidayatullah Dorong Standar Kompetensi Relawan Perairan di Papua Barat

0

RAJA AMPAT (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Water Rescue yang digelar oleh SAR Hidayatullah Papua Barat menjadi bagian dari upaya sistematis penguatan kapasitas relawan kebencanaan di kawasan perairan timur Indonesia.

Program ini dilaksanakan selama enam hari, 10–15 Januari 2026, di kawasan wisata Pantai Saleo, Kabupaten Raja Ampat. Sebanyak 45 peserta mengikuti rangkaian diklat secara intensif dengan latar belakang yang beragam.

Peserta berasal dari unsur Pemuda dan SAR Hidayatullah Papua Barat serta Papua Barat Daya, Garda Bangsa Papua Barat, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah Sorong, Tagana Kabupaten Sorong, Gabungan Relawan Pecinta Kopi Hitam (PKH) Sorong, serta mahasiswa Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.

Koordinator Pelaksana kegiatan, Fadhlurrahman Anshari, menjelaskan bahwa diklat ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kesiapsiagaan sumber daya manusia dalam menghadapi situasi darurat di laut, seiring dengan meningkatnya aktivitas transportasi dan pariwisata bahari di wilayah kepulauan.

Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui bantuan dana hibah, yang memungkinkan kegiatan berjalan dengan fasilitas dan instruktur sesuai standar.

“Dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam memastikan pelatihan berlangsung optimal, baik dari sisi sarana maupun kualitas materi,” katanya.

Potensi SAR Menjadi Kebutuhan Strategis

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Pos Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Raja Ampat, Joko Prasetyo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kolaborasi antar-potensi SAR merupakan kebutuhan strategis, khususnya di wilayah perairan yang berkembang sebagai destinasi wisata internasional.

Menurutnya, keterpaduan antara relawan, lembaga sosial, dan institusi pemerintah berperan penting dalam mempercepat penanganan kecelakaan laut secara terkoordinasi.

“Wilayah perairan wisata membutuhkan kesiapsiagaan tinggi. Kolaborasi menjadi kunci agar respons penanganan dapat berlangsung cepat, tepat, dan terarah,” ujarnya.

Joko Prasetyo juga menyoroti tantangan geografis Raja Ampat yang menuntut kehadiran relawan dengan kompetensi teknis memadai, tidak hanya bermodal semangat kemanusiaan.

Oleh karena itu, jelas Joko, pelatihan berjenjang seperti Diklat Water Rescue dipandang relevan untuk memperkuat kapasitas lokal dalam mendukung tugas-tugas pencarian dan pertolongan di wilayah perairan yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Dukung Sistem Kemanusiaan Nasional

Hadir pula dalam pembukaan kegiatan, Ketua Umum SAR Hidayatullah, Alfarobi Nurkarim Enta. Dia menegaskan arah kebijakan organisasi dalam membangun relawan yang profesional, disiplin, dan berakhlak.

Ia menegaskan bahwa penguatan kompetensi relawan bukan semata kebutuhan kelembagaan, melainkan kontribusi nyata bagi sistem kemanusiaan nasional, khususnya di wilayah kepulauan yang rawan kecelakaan laut.

Menurutnya, diklat ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk membangun standar kompetensi yang selaras dengan kebutuhan lapangan dan tantangan geografis Indonesia sebagai negara maritim.

“Kegiatan ini sangat penting untuk mempersiapkan sumber daya potensi dalam aksi pencarian dan pertolongan, terutama di wilayah perairan. Relawan harus dibekali keterampilan yang terukur, disiplin yang kuat, serta semangat pengabdian yang berlandaskan nilai kemanusiaan,” ujar Alfarobi Nurkarim Enta.

Ia juga menekankan bahwa kerja-kerja SAR dipandang sebagai bagian dari amanah keislaman dan tanggung jawab kebangsaan. Nilai tolong-menolong, kepedulian terhadap keselamatan jiwa, serta pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi etik yang sejalan dengan spirit keislaman dan keindonesiaan.

“Karena itu, penguatan kapasitas teknis melalui pelatihan berjenjang seperti diklat kali ini adalah sebagai ikhtiar serius agar relawan mampu bekerja secara aman, terkoordinasi, dan sesuai prosedur,” katanya.

Selama pelatihan, peserta menerima pembekalan teori dan praktik lapangan secara seimbang. Materi meliputi teknik renang penyelamatan, pengoperasian perahu karet, manajemen keselamatan di perairan, serta prosedur bantuan hidup dasar bagi korban tenggelam.

Seluruh rangkaian dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis sekaligus membangun koordinasi tim dalam situasi darurat. Dia menambahkan, penguatan relawan di wilayah kepulauan seperti Raja Ampat menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan warga dan wisatawan, sekaligus mendukung peran Indonesia sebagai negara maritim yang bertanggung jawab.

Menteri Transmigrasi Apresiasi Peran Hidayatullah dalam Dakwah dan Pembangunan Manusia

0
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, menyampaikan apresiasi terhadap peran strategis Hidayatullah yang selama ini aktif berkontribusi dalam pembangunan manusia di kawasan transmigrasi. Kontribusi tersebut dinilai nyata melalui kerja-kerja pendidikan, dakwah, pembentukan karakter, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Apresiasi itu disampaikan saat Menteri Iftitah membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2026 yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Forum nasional tersebut dihadiri pengurus pusat, wilayah, dan daerah dari 38 provinsi, bersama unsur organisasi pendukung, badan usaha, serta pengelola amal usaha tingkat pusat.

Dalam sambutannya, Menteri Iftitah menempatkan isu pembangunan manusia sebagai fondasi utama kebijakan transmigrasi nasional. Ia menegaskan bahwa paradigma transmigrasi telah mengalami pergeseran mendasar. Program ini tidak lagi dipahami sebatas perpindahan penduduk, melainkan sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan sosial yang terintegrasi.

“Transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan orang dari satu daerah ke daerah lain. Transmigrasi adalah instrumen pembangunan nasional untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iftitah.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan kawasan transmigrasi sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni optimalisasi produktivitas lahan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor yang melibatkan masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, serta organisasi kemasyarakatan sebagai mitra strategis negara.

Dalam konteks inilah, peran Hidayatullah mendapat perhatian khusus. Menteri Iftitah menilai bahwa gerakan pendidikan dan dakwah yang dijalankan Hidayatullah memiliki keselarasan dengan visi pembangunan nasional, khususnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter masyarakat di wilayah-wilayah pengembangan.

“Hidayatullah memiliki visi yang sejalan dengan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Membangun Indonesia yang besar harus dimulai dengan membangun manusianya, membangun jiwa, pola pikir, dan perilaku,” tegasnya.

Menurutnya, pendidikan yang menjadi fondasi pembangunan tidak terbatas pada proses belajar formal di ruang kelas. Pendidikan harus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter, etos kerja, dan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Aspek inilah yang disebutnya sebagai prasyarat utama kemajuan bangsa.

Selain membahas peran organisasi kemasyarakatan, Menteri Iftitah juga memaparkan sejumlah agenda strategis Kementerian Transmigrasi. Salah satunya adalah Program Transmigrasi Patriot, yang dirancang untuk melibatkan generasi muda terdidik dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Program ini membuka ruang pengabdian berbasis keilmuan dan pengalaman lapangan.

Program Transmigrasi Patriot akan didukung skema beasiswa jenjang magister di tujuh perguruan tinggi nasional, dengan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan riset lapangan dan pengabdian masyarakat. Melalui skema tersebut, pemerintah berharap tercipta kader pembangunan yang memahami kebutuhan riil kawasan transmigrasi.

Menteri Iftitah menegaskan bahwa arah kebijakan transmigrasi ke depan menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama pembangunan. “Yang kita dorong sekarang adalah transmigrasi lokal. Masyarakat setempat harus menjadi aktor utama pertumbuhan ekonomi. Lapangan kerja harus memberi manfaat pertama dan utama bagi masyarakat lokal,” jelasnya.

Kerja Dakwah dan Profesionalisme
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

Pada kesempatan yang sama, ia juga menyoroti pentingnya profesionalisme dalam kerja dakwah. Menteri Iftitah mengusulkan perlunya standarisasi dan sertifikasi dai secara nasional sebagai upaya menjaga kualitas dakwah dan memperkuat persatuan bangsa. Menurutnya, dakwah merupakan kerja intelektual dan moral yang membutuhkan kompetensi serta pemahaman yang utuh.

“Dai adalah profesi yang membutuhkan keahlian. Dengan standar dan sertifikasi, dakwah akan lebih berkualitas, moderat, dan mampu menjaga persatuan Indonesia,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Menteri Transmigrasi secara resmi membuka Rakernas Hidayatullah 2026. “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 saya nyatakan resmi dibuka. Semoga Rakernas ini menghasilkan keputusan dan program yang bermanfaat, bukan hanya bagi Hidayatullah, tetapi juga bagi bangsa dan negara,” tutupnya.

Rakernas Hidayatullah 2026 menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah gerakan organisasi dalam memperkuat kontribusi di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat, sejalan dengan agenda pembangunan nasional di seluruh wilayah Indonesia.[]

Transmigrasi Kini Menjadi Instrumen Pembangunan Manusia dan Ekonomi Nasional

0
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus pusat, wilayah, dan daerah dari 38 provinsi. Dihadiri pula organisasi pendukung Muslimat Hidayatullah, dan Pemuda Hidayatullah. Termasuk badan usaha, serta para pengelola amal usaha tingkat pusat.

Dalam sambutan itu, Menteri Iftitah menegaskan bahwa transmigrasi tidak lagi dimaknai sebagai program pemindahan penduduk, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia Indonesia.

“Transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan orang dari satu daerah ke daerah lain. Transmigrasi adalah instrumen pembangunan nasional untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iftitah dalam pidatonya.

Iftitah mengatakan bahwa kunci utama pembangunan kawasan transmigrasi terletak pada peningkatan produktivitas lahan dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan.

Menteri Iftitah secara khusus mengapresiasi peran Hidayatullah yang selama ini aktif berkontribusi dalam pembangunan manusia di kawasan transmigrasi, terutama melalui pendidikan, dakwah, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Hidayatullah memiliki visi yang sejalan dengan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Membangun Indonesia yang besar harus dimulai dengan membangun manusianya membangun jiwa, pola pikir, dan perilaku,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan yang dimaksud tidak semata pendidikan formal di bangku sekolah, melainkan proses pembentukan mindset dan karakter, yang menurutnya menjadi pondasi utama kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Iftitah juga memaparkan sejumlah program strategis Kementerian Transmigrasi, di antaranya Program Transmigrasi Patriot, yang melibatkan generasi muda terdidik untuk terjun langsung mengembangkan kawasan transmigrasi.

Program ini akan didukung dengan beasiswa S2 di tujuh perguruan tinggi terbaik nasional, dengan skema pembelajaran berbasis lapangan dan pengabdian masyarakat. Ia menegaskan bahwa orientasi transmigrasi ke depan adalah memberdayakan masyarakat lokal sebagai penerima manfaat utama pembangunan, bukan sebaliknya.

“Yang kita dorong sekarang adalah transmigrasi lokal. Masyarakat setempat harus menjadi aktor utama pertumbuhan ekonomi. Lapangan kerja harus memberi manfaat pertama dan utama bagi masyarakat lokal,” jelasnya.

Standarisasi Dai Nasional
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

Pada kesempatan yang sama, Menteri Iftitah juga mengusulkan pentingnya standarisasi dan sertifikasi dai sebagai bagian dari profesionalisme dakwah. Menurutnya, dakwah merupakan kerja intelektual dan moral yang membutuhkan kompetensi, standar, dan pemahaman yang utuh agar pesan Islam yang disampaikan benar-benar rahmatan lil ‘alamin serta menjaga persatuan bangsa.

“Dai adalah profesi yang membutuhkan keahlian. Dengan standar dan sertifikasi, dakwah akan lebih berkualitas, moderat, dan mampu menjaga persatuan Indonesia,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Menteri Transmigrasi secara resmi membuka Rakernas Hidayatullah 2026. “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 saya nyatakan resmi dibuka. Semoga Rakernas ini menghasilkan keputusan dan program yang bermanfaat, bukan hanya bagi Hidayatullah, tetapi juga bagi bangsa dan negara,” tutupnya.

Rakernas Hidayatullah 2026 diharapkan menjadi forum strategis untuk merumuskan arah gerakan organisasi dalam memperkuat kontribusi dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat di seluruh pelosok Indonesia.[]

Menteri Transmigrasi Buka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026

0
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus pusat, wilayah, dan daerah dari 38 provinsi. Dihadiri pula organisasi pendukung Muslimat Hidayatullah, dan Pemuda Hidayatullah. Termasuk badan usaha, serta para pengelola amal usaha tingkat pusat.

Dalam sambutan itu, Menteri Iftitah menegaskan bahwa transmigrasi tidak lagi dimaknai sebagai program pemindahan penduduk, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia Indonesia.

“Transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan orang dari satu daerah ke daerah lain. Transmigrasi adalah instrumen pembangunan nasional untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iftitah dalam pidatonya, Senin 12 Januari 2026.

Iftitah mengatakan bahwa kunci utama pembangunan kawasan transmigrasi terletak pada peningkatan produktivitas lahan dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan.

Menteri Iftitah secara khusus mengapresiasi peran Hidayatullah yang selama ini aktif berkontribusi dalam pembangunan manusia di kawasan transmigrasi, terutama melalui pendidikan, dakwah, pembentukan karakter, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

“Hidayatullah memiliki visi yang sejalan dengan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Membangun Indonesia yang besar harus dimulai dengan membangun manusianya membangun jiwa, pola pikir, dan perilaku,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan yang dimaksud tidak semata pendidikan formal di bangku sekolah, melainkan proses pembentukan mindset dan karakter, yang menurutnya menjadi pondasi utama kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Iftitah juga memaparkan sejumlah program strategis Kementerian Transmigrasi, di antaranya Program Transmigrasi Patriot, yang melibatkan generasi muda terdidik untuk terjun langsung mengembangkan kawasan transmigrasi.

Program ini akan didukung dengan beasiswa S2 di tujuh perguruan tinggi terbaik nasional, dengan skema pembelajaran berbasis lapangan dan pengabdian masyarakat. Ia menegaskan bahwa orientasi transmigrasi ke depan adalah memberdayakan masyarakat lokal sebagai penerima manfaat utama pembangunan, bukan sebaliknya.

“Yang kita dorong sekarang adalah transmigrasi lokal. Masyarakat setempat harus menjadi aktor utama pertumbuhan ekonomi. Lapangan kerja harus memberi manfaat pertama dan utama bagi masyarakat lokal,” jelasnya.

Standarisasi Dai Nasional
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media Pro/ Hidayatullah.or.id)

Pada kesempatan yang sama, Menteri Iftitah juga mengusulkan pentingnya standarisasi dan sertifikasi dai sebagai bagian dari profesionalisme dakwah. Menurutnya, dakwah merupakan kerja intelektual dan moral yang membutuhkan kompetensi, standar, dan pemahaman yang utuh agar pesan Islam yang disampaikan benar-benar rahmatan lil ‘alamin serta menjaga persatuan bangsa.

“Dai adalah profesi yang membutuhkan keahlian. Dengan standar dan sertifikasi, dakwah akan lebih berkualitas, moderat, dan mampu menjaga persatuan Indonesia,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Menteri Transmigrasi secara resmi membuka Rakernas Hidayatullah 2026. “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 saya nyatakan resmi dibuka. Semoga Rakernas ini menghasilkan keputusan dan program yang bermanfaat, bukan hanya bagi Hidayatullah, tetapi juga bagi bangsa dan negara,” tutupnya.

Rakernas Hidayatullah 2026 diharapkan menjadi forum strategis untuk merumuskan arah gerakan organisasi dalam memperkuat kontribusi dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat di seluruh pelosok Indonesia.[]

Hidayatullah Menyatukan Keragaman Daerah dalam Gerakan Pelayanan Bangsa

0
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., dalam acara pembukaan Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy Tadz Media/ Hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa Rapat Kerja Nasional Hidayatullah 2026 menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat arah organisasi, dalam gerakan dakwah, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat di tengah dinamika bangsa.

Kegiatan strategis yang dihadiri, dari 38 provinsi terdiri atas jajaran pengurus pusat, wilayah, organisasi pendukung, badan usaha, serta perwakilan amal usaha, badan Hidayatullah dari seluruh Indonesia.

“Rakernas ini adalah ikhtiar bersama untuk meneguhkan pengabdian Hidayatullah bagi Indonesia, dengan pendekatan yang relevan, adaptif, dan berakar pada kearifan lokal,” ujar Naspi dalam sambutannya pembukaan Rakernas ini di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Naspi menyampaikan apresiasi atas kehadiran peserta dari berbagai daerah, termasuk wilayah-wilayah yang menghadapi tantangan geografis dan cuaca ekstrem. Menurutnya, kehadiran utusan dari Aceh hingga Papua mencerminkan semangat persatuan dan komitmen kelembagaan di Hidayatullah.

Naspi Arsyad menekankan bahwa kader Hidayatullah juga datang dari keragaman suku, budaya, dan latar belakang. Jadi yang hadir dalam Rakernas merupakan miniatur Indonesia. Hal ini, sambung Naspi menjadi modal besar bagi Hidayatullah dalam menjalankan program pelayanan umat dan bangsa.

“Hidayatullah membina dua suku pedalaman, satu di Halmahera, Maluku Utara, Suku Togutil. Satu di Sulawesi Tengah, Suku Wana,”ujar Naspi.

Dalam kesempatan tersebut, Naspi juga menyoroti kontribusi nyata Hidayatullah di kawasan transmigrasi, baik melalui pendampingan masyarakat, pengelolaan pesantren agro, penguatan ketahanan pangan, hingga pembinaan masyarakat adat dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

“Hidayatullah memahami Indonesia bukan hanya dari pusat ke daerah, tetapi dari daerah ke pusat. Dakwah harus hadir di tempat-tempat yang membutuhkan, termasuk wilayah transmigrasi dan pedalaman,” tegasnya.

Naspi menambahkan bahwa penguatan sisi spiritual tetap menjadi pondasi utama dalam membangun masyarakat yang berdaya, seiring dengan layanan pendidikan, sosial, dan ekonomi yang terus dikembangkan.

Pembukaan Rapat Kerja Nasional Hidayatullah Tahun 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Senin, 12 Januari 2025 (Foto: Billy via Tadz Media/ Hidayatullah.or.id)

Rakernas Hidayatullah 2026 dibuka oleh Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. Kehadiran pemerintah, menurut Naspi, menjadi penanda pentingnya kolaborasi antara ormas Islam dan negara dalam membangun Indonesia.

“Dengan seluruh sumber daya yang dimiliki, Hidayatullah akan terus melayani masyarakat, berkhidmat untuk bangsa, dan berkontribusi nyata bagi Indonesia yang berkarya dan berdaya,” pungkas Naspi Arsyad.

Rakernas Hidayatullah 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 14 Januari. Dengan pembahasan sejumlah agenda strategis organisasi , termasuk evaluasi program nasional, perumusan arah kebijakan organisasi, serta penguatan sinergi antar lini perjuangan Hidayatullah di seluruh Indonesia.[]