Beranda blog Halaman 32

Kewirausahaan Harus Berjalan Seiring dengan Etika dan Kebermanfaatan Sosial

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengusaha nasional, Mazz Reza Pranata, mengatakan kemampuan membaca peluang harus disertai nilai dan tujuan yang jelas. Bagi pemuda Islam, tegasnya, kewirausahaan harus berjalan seiring dengan etika, kebermanfaatan sosial, dan semangat pengabdian.

“Dengan demikian, peran pemuda seperti Pemuda Hidayatullah ini tidak hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga nilai kebangsaan dan moralitas umat,” katanya.

Dia menekankan bahwa pemuda adalah sebagai aktor kunci dalam menentukan arah masa depan bangsa. Hal tersebut disampaikan dalam sesi Upgrading Dai pada rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) IX Pemuda Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Kamis, 19 Rajab 1447 (8/1/2025).

Dalam forum tersebut, pengusaha nasional, Mazz Reza Pranata, memaparkan materi bertajuk Peran Strategis Pemuda Indonesia, yang menyoroti tantangan global sekaligus peluang besar yang sedang dan akan dihadapi Indonesia.

Reza membuka pemaparannya dengan menempatkan Sumpah Pemuda sebagai fondasi ideologis pergerakan kepemudaan Indonesia.

“Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa merupakan titik temu visi kolektif yang mempersatukan pemuda lintas latar belakang. Dari sinilah identitas nasional Indonesia dibangun dan terus dirawat hingga hari ini,” kata CEO Anata Development Group ini.

Dalam kerangka tersebut, Reza menekankan pentingnya pola pikir kewirausahaan di kalangan pemuda, khususnya dai muda.

Ia menegaskan bahwa kewirausahaan bukan semata urusan bisnis, melainkan cara pandang dalam melihat dan merespons perubahan. “Entrepreneurship is a mindset that allows you to see opportunity everywhere,” tegasnya.

Reza Pranata menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kesiapan pemudanya dalam merespons perubahan global, tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaan.

“Pemuda mesti mampu menjadi jembatan antara nilai dan inovasi, antara dakwah dan pembangunan, demi Indonesia yang berdaya saing dan berkeadaban,” tandasnya berpesan.

Reza memaparkan proyeksi Indonesia di masa depan yang menunjukkan potensi besar. Data yang disampaikan menunjukkan bahwa pada 2026 Indonesia memiliki sekitar 40,3 juta penduduk berusia di bawah 30 tahun, dengan pendapatan per kapita mencapai 5.520 dolar AS.

Dia menyebutkan, pada 2030, jumlah konsumen diperkirakan menembus 135 juta jiwa, dengan 71 persen populasi tinggal di kawasan urban yang memproduksi sekitar 86 persen produk domestik bruto. Bahkan pada 2050, Indonesia diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia.

Potensi demografi dan ekonomi tersebut, menurut Reza, hanya akan bermakna jika pemuda dibekali keterampilan yang relevan. Ia memetakan sejumlah keahlian yang paling dibutuhkan menuju 2030, di antaranya literasi digital, pemasaran digital, analisis data, kecerdasan buatan, keamanan siber, serta soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis.

“Berbagai keterampilan ini menjadi prasyarat untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Perubahan zaman juga ditandai oleh disrupsi besar dalam dunia bisnis. Reza menampilkan perbandingan antara masa lalu dan masa kini, di mana model bisnis konvensional tergeser oleh platform digital.

Transformasi ini melahirkan apa yang disebut sebagai lonely economy, sebuah fenomena ekonomi yang muncul akibat gaya hidup individual dan digitalisasi yang semakin meluas.

“Ciri utamanya antara lain meningkatnya jumlah rumah tangga yang hidup sendiri, koneksi digital sebagai komoditas, serta perubahan pola relasi sosial,” jelasnya.

Fenomena tersebut melahirkan peluang usaha baru, mulai dari layanan pengantaran, pendampingan berbasis kecerdasan buatan, hingga ekonomi hewan peliharaan. Data global menunjukkan nilai pasar pet economy dunia mencapai 243,5 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan sekitar 10 persen per tahun.

Di Indonesia sendiri, lanutnya, nilai pasar perawatan hewan diperkirakan mencapai 33–40 triliun rupiah pada 2025 dan berpotensi meningkat signifikan dalam satu dekade mendatang.

Naspi Arsyad Buka Munas IX Pemuda Hidayatullah di Jakarta, Ingatkan Indonesia Emas 2045

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-IX Pemuda Hidayatullah yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Kamis, 19 Rajab 1447 (8/1/2025).

Naspi mengatakan Musyawarah Nasional Pemuda Hidayatullah ke-IX ini menjadi ruang refleksi strategis bagi peran generasi muda dalam arah pembangunan bangsa jangka panjang.

Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, Naspi menekankan, pemuda tidak cukup hanya hadir sebagai bagian dari dinamika sosial, tetapi dituntut mampu mengambil posisi sebagai elemen strategis yang terlibat aktif dalam perubahan.

Naspi Arsyad mengingatkan pentingnya keselarasan peran pemuda dengan visi Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa Pemuda Hidayatullah harus mampu memposisikan diri sebagai bagian dari elemen strategis bangsa dan bukan sekadar penonton perubahan.

Menurutnya, pembangunan Indonesia ke depan bukan hanya proyek fisik atau ekonomi, melainkan proyek peradaban dan pembangunan manusia, yang menempatkan pemuda sebagai pemegang amanah utama.

Naspi menyampaikan bahwa peran strategis pemuda telah menjadi spirit dasar dalam visi kepemimpinan organisasi Hidayatullah. Menurutnya, kepemimpinan merupakan syarat mutlak dalam mewujudkan peradaban Islam sebagaimana digariskan dalam Arah Kebijakan Strategis Organisasi.

Dalam pada itu, Naspi menegaskan posisi pemuda sebagai motor perubahan, pembangun peradaban, sekaligus pilar kepemimpinan organisasi dan bangsa di masa depan.

“Pemuda adalah kekuatan hari ini dan pemimpin hari esok. Jika pemudanya baik, maka umat akan baik,” ujar Naspi Arsyad, mengutip buku Pemuda Berdaya karya Rasfiuddin Sabaruddin, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah periode 2023–2025.

Naspi mengungkapkan bahwa komposisi pengurus DPP Hidayatullah periode 2025–2030 menunjukkan kecenderungan usia yang lebih muda, dengan rata-rata berkurang empat tahun dibandingkan periode sebelumnya. Ia menyatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kepercayaan organisasi sekaligus ruang aktualisasi bagi kader-kader muda Hidayatullah.

Naspi, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah periode 2013–2016, menegaskan bahwa regenerasi harus diiringi dengan kesiapan dan tanggung jawab kader muda dalam menjalankan amanah organisasi.

Dalam arahannya, Naspi juga mengingatkan agar dinamika gerakan Pemuda Hidayatullah tidak hanya terasa menjelang momentum musyawarah nasional. Ia menegaskan bahwa eksistensi pemuda seharusnya hadir secara berkelanjutan melalui kerja nyata, program, gagasan, dan kontribusi di berbagai bidang. Menurutnya, peran pemuda harus terlihat setiap saat, bukan hanya dalam forum-forum formal tiga tahunan.

Lebih lanjut, Naspi menggunakan analogi tim sepak bola untuk menggambarkan pentingnya penentuan posisi peran pemuda sejak dini. Ia menyebut bahwa dalam sebuah tim terdapat berbagai elemen, mulai dari pemain utama, cadangan, hingga manajer, yang semuanya memiliki fungsi strategis.

Pemuda Hidayatullah diminta menentukan peran yang jelas agar dapat berkontribusi secara optimal dalam proyek peradaban bangsa.

Pada kesempatan tersebut, Naspi juga mengungkapkan rencana strategis DPP Hidayatullah berupa pembentukan Lembaga Kajian Publik Civitas. Lembaga ini dirancang untuk memperkuat peran organisasi dalam diskursus kebangsaan dan kebijakan publik. Ia mengajak Pemuda Hidayatullah untuk melahirkan kepemimpinan yang berani, visioner, dan produktif melalui karya nyata yang berkelanjutan, sejalan dengan kebutuhan bangsa.

Selain aspek programatik, Naspi menyinggung dukungan anggaran kepada Pemuda Hidayatullah. Ia menyampaikan bahwa DPP Hidayatullah meningkatkan subsidi sebesar 30 persen, dengan ketentuan adanya evaluasi kinerja dalam enam bulan ke depan. Dukungan tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya karya dan kontribusi yang berdampak luas bagi organisasi dan masyarakat.

Munas Pemuda Hidayatullah ke-IX diikuti oleh perwakilan pengurus wilayah dan daerah dari berbagai provinsi di Indonesia. Forum ini menjadi ajang konsolidasi organisasi, penyusunan arah program strategis, serta pemilihan kepemimpinan Pemuda Hidayatullah untuk periode mendatang.

Pembukaan munas turut dihadiri oleh senior-senior Pemuda Hidayatullah lintas generasi, seluruh pemangku kepentingan organisasi dari tingkat pusat hingga daerah, amal usaha, serta organisasi pendukung Hidayatullah.

Bangkit dari Puing Banjir Aceh, Program Recycle House BMH Pulihkan Asa Ibu Desi

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Program Recycle House menjadi langkah konkret Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dalam mengimplementasikan pilar-pilar Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pengentasan kemiskinan, pemukiman layak, dan konsumsi berkelanjutan. Inisiatif ini diwujudkan melalui rehabilitasi rumah warga terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang, termasuk rumah milik Desi, seorang ibu tiga anak yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut.

Banjir bandang yang melanda Desa Seumadam pada 26 November 2025 mengubah kehidupan Desi secara drastis. Sejak hari itu, ia dan keluarganya terpaksa tinggal di tenda pengungsian selama lebih dari 40 hari. Rumah kayu yang selama ini menjadi tempat berlindung hanyut terseret arus deras hingga puluhan meter, menyisakan trauma mendalam bagi seluruh anggota keluarga.

Desi mengingat saat air datang dengan cepat hingga mencapai pinggul orang dewasa. Dalam situasi gelap dan hujan lebat, ia hanya sempat membawa ketiga anaknya menuju tempat yang lebih tinggi. Tidak ada barang berharga yang dapat diselamatkan. Keputusan tersebut menjadi satu-satunya pilihan untuk menjaga keselamatan keluarga.

Kehilangan rumah berdampak langsung pada kondisi sosial ekonomi keluarga. Setelah bencana, Desi tidak memiliki sumber daya untuk memulai kembali pembangunan hunian. Kebutuhan sehari-hari masih bergantung pada bantuan, sementara biaya material bangunan berada di luar jangkauan kemampuannya.

Kondisi kerentanan tersebut disampaikan oleh Jamal, imam dusun setempat, yang menyebut keluarga Desi sebagai salah satu yang paling terdampak. Menurutnya, keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli kebutuhan dasar pembangunan rumah. Bahkan untuk keperluan kecil seperti paku bangunan, mereka tidak memiliki dana.

Merespons situasi tersebut, BMH bersama relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh menghadirkan program Recycle House sebagai solusi pemulihan pascabencana. Program ini difokuskan pada rehabilitasi rumah warga yang mengalami kerusakan berat, dengan tahap awal menyasar 100 unit rumah di wilayah terdampak.

Direktur Program dan Pendayagunaan BMH, Syamsuddin, menjelaskan bahwa pengerjaan rumah dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas. “Kami memulai pengerjaan tiga rumah hari ini, termasuk milik Ibu Desi,” kata Syamsuddin dalam keterangannya, Selasa, 5 Rajab 1447 (6/1/2026).

Recycle House dirancang dengan pendekatan efisiensi dan keberlanjutan. Material bangunan dari rumah lama yang masih layak digunakan kembali sebagai bagian dari proses rehabilitasi. Pendekatan ini bertujuan menekan biaya pembangunan sekaligus mengurangi limbah konstruksi yang berpotensi mencemari lingkungan.

Selain itu, skema padat karya diterapkan dengan melibatkan warga sekitar dalam proses pembangunan. Melalui pola ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam pemulihan lingkungan tempat tinggal mereka. Keterlibatan tersebut memberikan dampak ekonomi jangka pendek melalui kesempatan kerja serta memperkuat rasa kepemilikan terhadap hasil pembangunan.

Syamsuddin menegaskan bahwa Recycle House tidak berdiri sebagai program bantuan semata. “Program Recycle House merupakan langkah nyata BMH dalam mengimplementasikan pilar SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan melalui penyediaan hunian gratis bagi warga rentan, hingga perwujudan pemukiman berkelanjutan yang tangguh pascabencana,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa prinsip keberlanjutan menjadi fondasi utama program ini. “Kami menerapkan konsumsi yang bertanggung jawab dengan mendaur ulang material layak pakai demi efisiensi lingkungan. Melalui sinergi ini, kami tidak hanya membangun fisik rumah, tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian ekonomi penyintas secara menyeluruh,” ujar Syamsuddin.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, BMH menempatkan pemulihan sosial dan psikologis sebagai bagian penting dari respons kebencanaan. Kehadiran rumah yang layak dinilai berperan besar dalam memulihkan rasa aman dan stabilitas mental penyintas setelah melewati masa krisis.

Musim Dingin, Laznas BMH – PT Indo Anata Kirim Selimut untuk Anak dan Lansia Gaza

GAZA (Hidayatullah.or.id) — Penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama PT Indo Anata Development ke Gaza Utara difokuskan untuk melindungi anak-anak, lansia, dan kaum ibu di tengah musim dingin ekstrem. Kehadiran ratusan selimut hangat diharapkan mampu mencegah risiko hipotermia yang mengancam para pengungsi yang kini bertahan di tenda-tenda darurat dengan perlindungan terbatas.

Upaya ini menjadi respons atas kondisi cuaca yang semakin memburuk dan berdampak langsung pada keselamatan kelompok paling rentan. Musim dingin yang melanda Gaza Utara membawa konsekuensi serius bagi warga sipil, khususnya mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan.

Penurunan suhu secara signifikan memperberat situasi pengungsian, di mana banyak keluarga terpaksa bertahan dalam hunian sementara berbahan tipis dan tidak memadai untuk menahan dingin. Dalam kondisi demikian, ancaman gangguan kesehatan meningkat, mulai dari hipotermia hingga penyakit akibat paparan suhu rendah dalam waktu lama.

Menanggapi situasi tersebut, BMH menyalurkan bantuan selimut musim dingin kepada keluarga pengungsi di wilayah Gaza Utara. Distribusi dilakukan melalui jaringan relawan kemanusiaan yang menjangkau titik-titik pengungsian. Program ini sebagai langkah proteksi dasar untuk menjaga ketahanan fisik para penyintas, terutama anak-anak, orang lanjut usia, dan ibu yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap cuaca ekstrem.

Fokus perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan bantuan. Anak-anak dan lansia diketahui memiliki kemampuan adaptasi tubuh yang lebih terbatas terhadap suhu dingin, sementara kaum ibu sering kali memikul beban ganda dalam memastikan keberlangsungan hidup keluarga di pengungsian. Oleh karena itu, kehadiran selimut hangat diposisikan sebagai kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda.

Selain berfungsi sebagai pelindung dari udara dingin, selimut juga diharapkan dapat meminimalkan risiko penyakit yang kerap muncul selama musim dingin, seperti infeksi saluran pernapasan dan penurunan daya tahan tubuh.

Realisasi program kemanusiaan ini terlaksana melalui sinergi antara BMH dan mitra strategis dari sektor swasta. Seluruh bantuan selimut musim dingin tersebut merupakan amanah dari PT Indo Anata Development, yang menyalurkan dukungannya melalui BMH.

Direktur Utama BMH, Supendi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa dukungan tersebut memiliki arti strategis dalam upaya melindungi warga sipil yang terdampak musim dingin ekstrem.

“Komitmen beliau telah menghadirkan perlindungan dasar yang sangat krusial bagi warga Palestina. Semoga kebaikan ini mendatangkan berkah bagi keluarga besar PT Indo Anata Development dan menghadirkan kehangatan bagi saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Supendi dalam keterangannya pada 7 Januari 2026.

Apresiasi juga disampaikan kepada Mazz Reza Pranata selaku pemilik PT Indo Anata Development yang telah mengamanahkan bantuan tersebut. Dukungan ini dinilai memperkuat keberlanjutan program kemanusiaan, khususnya dalam situasi darurat yang menuntut respons cepat dan tepat sasaran.

BMH menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam penyaluran bantuan kemanusiaan lintas negara sesuai dengan prinsip kemanusiaan universal. Fokus pada keselamatan anak-anak, lansia, dan kaum ibu menjadi penegasan bahwa upaya kemanusiaan harus berpijak pada prioritas perlindungan terhadap mereka yang paling rentan terdampak konflik dan kondisi alam ekstrem.

Relawan Bersihkan Warung Warga untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Relawan kemanusiaan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyasar kedai dan warung milik warga di Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk dibersihkan agar dapat segera difungsikan kembali sebagai ruang usaha.

Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025. Dengan mengaktifkan kembali aktivitas jual beli di tingkat lokal, relawan berharap roda ekonomi warga dapat berputar secara bertahap.

Fokus utama aksi kali ini diarahkan pada fasilitas usaha kecil milik warga yang terdampak endapan lumpur dan sisa material banjir, khususnya kedai dan warung yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.

Berbeda dari tahap awal tanggap darurat yang menitikberatkan pada evakuasi dan bantuan kebutuhan dasar, fase pemulihan saat ini diarahkan pada penguatan kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Relawan menilai bahwa keberfungsian warung dan kedai memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai tempat usaha, tetapi juga sebagai pusat interaksi warga di tingkat gampong.

Aksi pembersihan dipimpin oleh Nur Huda Ramadihan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian panjang pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang. Menurutnya, hingga awal Januari 2026, proses rehabilitasi masih terus berjalan di berbagai sektor, meskipun dihadapkan pada sejumlah kendala di lapangan.

“Pemulihan pascabanjir bandang November 2025 masih terus dilakukan. Fokusnya tidak hanya pada pembersihan rumah warga, tetapi juga fasilitas publik seperti sekolah, layanan trauma healing bagi anak-anak, pembangunan hunian sementara, serta pemulihan layanan dasar seperti air bersih, listrik, dan kesehatan,” ujar Nur Huda dalam laporan lapangannya kepada media ini, Selasa, 15 Rajab 1447 (6/1/2025).

Ia menjelaskan bahwa keterlibatan relawan tidak berdiri sendiri. Upaya pemulihan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah daerah, relawan lintas organisasi, serta unsur swasta. Sinergi tersebut diarahkan untuk membersihkan lumpur yang masih menutupi sejumlah kawasan, memperbaiki infrastruktur yang rusak, dan memulihkan fungsi layanan publik yang sempat terhenti.

Dalam keterangannya, Nur Huda juga mengungkapkan bahwa tantangan di lapangan masih cukup besar. Beberapa wilayah di Aceh Tamiang belum dapat diakses secara optimal akibat lumpur tebal dan kerusakan jembatan. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi bantuan serta mobilitas warga yang hendak kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Masih ada wilayah yang sulit dijangkau karena lumpur tebal dan jembatan yang rusak. Puluhan sekolah belum dapat beroperasi normal, dan sebagian warga masih mengandalkan penerangan bohlam kecil karena listrik belum sepenuhnya pulih,” katanya.

Pembersihan kedai dan warung, jelas Nur Huda, sebagai langkah praktis yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan lingkungan usaha yang kembali bersih dan layak, warga memiliki kesempatan untuk memulai kembali aktivitas ekonomi, meskipun dalam skala terbatas. Relawan membantu membersihkan lantai, peralatan, serta area sekitar warung agar aman dan higienis untuk digunakan.

Nur Huda menegaskan harapannya agar aksi-aksi serupa dapat terus berlanjut. Ia menyadari bahwa kapasitas relawan memiliki keterbatasan, namun pendampingan tetap diupayakan secara konsisten agar warga tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi dampak pascabencana.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berjalan. Dengan segala keterbatasan yang ada, relawan berupaya tetap mendampingi masyarakat agar perlahan bisa bangkit dan kembali beraktivitas,” ujarnya.

Di tengah kerusakan infrastruktur dan keterbatasan layanan dasar, pengaktifan kembali ruang-ruang ekonomi lokal diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi masyarakat untuk menata ulang kehidupan pascabencana secara bertahap dan berkelanjutan.

Dari Madura hingga Tuban, Hidayatullah Dorong Kolaborasi Dakwah dan Pembangunan Daerah

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar oleh Hidayatullah di sejumlah wilayah Jawa Timur menjadi ruang konsolidasi penting antara organisasi kemasyarakatan dan pemangku kepentingan daerah. Dua forum yang berlangsung pada Sabtu, 14 Rajab 1447 (3/1/2026), masing-masing di kawasan Madura dan Kabupaten Tuban, menegaskan arah penguatan dakwah, kemandirian organisasi, serta perluasan kerja kolaboratif untuk kemaslahatan masyarakat.

Di wilayah Madura, Musda DPD Hidayatullah Rayon Madura yang mencakup Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep dihadiri peserta dari unsur pengurus dan kader. Forum Musda adalah sarana evaluasi internal sekaligus perumusan langkah strategis menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.

Kehadiran Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, menandai keterlibatan pemerintah daerah dalam mendorong sinergi program keumatan dan pembangunan.

Dalam sambutannya, Imam Hasyim menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah yang dinilai konsisten berperan dalam penguatan masyarakat. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan dan siap mengawal inisiatif yang disusun secara terencana.

Menurutnya, dakwah dan pembangunan daerah dapat berjalan beriringan selama dibangun di atas komitmen bersama dan kepercayaan yang berkelanjutan.

Sementara itu, arahan organisasi disampaikan oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie. Ia menegaskan bahwa tantangan dakwah pada masa kini semakin kompleks, sehingga menuntut peningkatan profesionalisme dan penataan internal yang lebih serius. Musda, menurutnya, harus menjadi titik tolak pergerakan organisasi agar program tidak berhenti pada wacana, melainkan terimplementasi secara terukur dan berkesinambungan.

Selain agenda persidangan, Musda Rayon Madura juga dirangkaikan dengan kegiatan sosial berupa penyaluran paket sembako kepada anak yatim. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai penegasan bahwa dakwah tidak hanya hadir dalam forum diskusi, tetapi juga terwujud dalam aksi nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Jalannya musyawarah berlangsung tertib dan khidmat, dengan suasana kekeluargaan yang terjaga hingga akhir kegiatan.

Musda di Bumi Wali

Pada hari yang sama, Musda Hidayatullah Kabupaten Tuban diselenggarakan di Aula SD Integral Hidayatullah dengan peserta 50 orang yang berasal dari berbagai unsur struktur dan amal usaha. Forum ini mengusung tema peneguhan jati diri, kemandirian, dan kebermanfaatan, dengan penekanan pada semangat kolaborasi, inovasi, dan karya sebagai arah gerakan ke depan.

Sekreatris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Idris, dalam pemaparannya menekankan pentingnya kualitas kader sebagai fondasi masa depan organisasi. Ia menyampaikan bahwa jati diri organisasi berfungsi sebagai kompas yang menjaga arah dakwah agar tetap relevan di tengah tantangan globalisasi, disrupsi sosial, dan dinamika ideologis.

“Pegangan pada nilai-nilai dasar menjadi faktor utama agar gerakan tetap kokoh dan adaptif,” tegasnya.

Dari unsur legislatif daerah, Ketua DPRD Kabupaten Tuban, Sugiantoro, menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah yang dinilai memiliki program nyata di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Ia memandang keberadaan organisasi kemasyarakatan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang inklusif.

Musda yang berlangsung di kota berjuluk Bumi Wali ini juga menjadi momentum penataan kepemimpinan organisasi. Lajianto terpilih sebagai Ketua DPD Hidayatullah Tuban. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa gerakan ke depan perlu dijalankan secara kolektif, kreatif, dan produktif, sejalan dengan semangat kolaborasi yang dikembangkan pemerintah daerah.

Rangkaian kegiatan Musda Tuban turut diwarnai kehadiran alumni santri yang datang dari berbagai daerah. Seperti halnya di Madura, kegiatan sosial berupa pembagian sembako kepada masyarakat sekitar juga menjadi bagian dari agenda, menegaskan orientasi kebermanfaatan sosial organisasi.

“Forum musyawarah ini sebagai instrumen strategis untuk memastikan keberlanjutan gerakan yang terarah, terukur, dan berdampak luas,” imbuh Idris menandaskan.

Ustadz Ahmad Fitri Teladan Pendidik yang Menyatukan Ketegasan dan Kasih Sayang

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keluarga besar Hidayatullah berduka atas meninggalnya Ustadz Ahmad Fitri, salah satu pendidik dan dai senior Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Beliau wafat pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6/1/2026) pukul 05.09 WITA di RS Medika Utama Manggar, Kota Balikpapan.

Wafatnya Ustadz Ahmad Fitri meninggalkan duka yang mendalam. Kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang pendidik, melainkan perginya sosok guru kehidupan yang membentuk adab, disiplin, dan jiwa para muridnya lintas generasi.

Anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak ini juga dikenal sebagai guru pengabdian KMI Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1971–1976, sebuah fase penting yang menandai jejak panjang pengabdiannya di dunia pendidikan Islam.

Kesan personal tentang almarhum diungkapkan dengan sangat hangat oleh murid murid dan orang yang pernah bersinggungan dengan beliau, salah satunya Ahmad Buchory Muslim Al Floresy. Ia mengenang perjumpaan pertamanya di Gunung Tembak pada waktu Maghrib, saat suasana pesantren terasa begitu sejuk dan teduh.

Menurutnya, keteduhan itu seolah memancar dari wajah dan hati para penghuninya, terutama dari sosok Ustadz Ahmad Fitri yang menyapanya dengan lembut, namun dengan pandangan tajam penuh makna, seakan telah lama saling mengenal.

Senyum khas sang guru, yang lahir dari kebiasaan dzikir dan qiyamullail, menjadikan pertemuan itu terasa seperti perjumpaan antara orang tua dan anak—hangat, nyaman, dan membekas.

Sebagai guru, Ustadz Ahmad Fitri dikenal mengajar Fiqh dan Ushul Fiqh dengan kesungguhan yang konsisten. Ahmad Buchory juga mencatat keistimewaan lain: almarhum adalah seorang khaththath, pemilik tulisan kaligrafi indah yang dahulu menghiasi kantor pondok dan rumah-rumah warga.

Bahkan sebagian karya itu dirangkai dari butiran cengkeh, merefleksikan keterikatan beliau dengan daerah asalnya, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Gaya mengajarnya pun khas—selalu diawali dengan pembacaan Surah Adz-Dzariyat ayat 56, disertai senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.

Kedekatan hubungan guru dan murid semakin terasa ketika Ahmad Buchory dipercaya mendampingi Ustadz Ahmad Fitri dalam perjalanan dauroh ke Jakarta bersama Ustadz Syamsu Rijal Palu.

Dalam perjalanan itu, beliau bersilaturahmi dengan guru-gurunya di Gontor, sahabat, serta keluarga yang menetap di Jakarta, termasuk tokoh-tokoh umat seperti Habib Chirzin dan KH Ahmad Cholil Ridwan. Jejaring keilmuan dan persahabatan itu menunjukkan bahwa almarhum adalah sosok yang menjaga sanad ilmu sekaligus ikatan ukhuwah.

Kedisiplinan dan Pendidikan Karakter

Kesaksian lain datang dari Ustadz Mushaddiq, alumnus Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyah (Marama) Hidayatullah Balikpapan angkatan II tahun 1994. Ia mengenang ketegasan Ustadz Ahmad Fitri sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter.

Menurut Mushaddiq, almarhum sangat disiplin dan detail: buku tidak boleh terlipat, tulisan harus rapi sesuai margin, dan membuka buku pun harus pelan karena di dalamnya terdapat risalah ilmu.

“Bahkan keterlambatan menjawab salam guru atau kerapian berpakaian bisa berujung pada taujih yang mendidik seluruh kelas,” kata Mushaddiq.

Namun di balik ketegasan itu, Mushaddiq juga mengisahkan kelapangan hati sang guru. Suatu ketika, setelah terjadi teguran keras di kelas, seluruh santri sepakat mendatangi rumah beliau untuk meminta maaf. Mereka datang dengan rasa takut, tetapi justru disambut senyum lebar dan hidangan makanan yang telah disiapkan.

Dengan penuh kebapakan, Ustadz Ahmad Fitri mempersilakan mereka makan bersama dan menyatakan bahwa semua telah dimaafkan. Teguran telah selesai, dan kasih sayang kembali mengalir tanpa sisa.

Duka yang sama juga disampaikan oleh murid beliau yang kini menjadi tokoh nasional, Hidayat Nur Wahid. Dalam pesan singkatnya, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya guru yang telah mendidik dengan ilmu dan amal.

Ia mendoakan agar seluruh perjuangan dan pengabdian Ustadz Ahmad Fitri diterima Allah sebagai ibadah, menjadi jalan menuju derajat mulia di surga, serta mengingatkan para murid untuk melanjutkan kiprah dan nilai-nilai yang telah diwariskan.

Kini, meski raga telah kembali kepada Sang Pencipta, hubungan batin itu tetap tersambung—melalui putra-putra beliau, melalui para murid, serta melalui keluarga besar Hidayatullah di berbagai penjuru dunia. Yang tertinggal adalah jejak adab, disiplin, dan cinta pada ilmu yang terus hidup dalam ingatan dan praktik para muridnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat pulang, wahai guru dan pejuang. Engkau telah menunaikan bhakti dengan penuh ketulusan. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya, bersama para pendidik dan orang-orang saleh.

Silaturrahim Turda DPW Sulteng Teguhkan Peran Strategis Kader di Masyarakat

0

PALU (Hidayatullah.or.id) — Kader Hidayatullah diposisikan sebagai muslim tercerahkan yang memakmurkan bumi melalui peran-peran strategis dalam tarbiyah dan dakwah di tengah masyarakat.

Kerangka pemikiran tersebut menjadi pokok pembinaan yang disampaikan dalam rangkaian roadshow kunjungan silaturahim turun ke daerah (turda) dan penguatan kelembagaan yang dilakukan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah, Sarmadani Karani, ke sejumlah daerah pada awal Januari 2026.

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana konsolidasi internal, silaturahim kader, serta penguatan visi dakwah dan tarbiyah organisasi di tingkat daerah.

Rangkaian kunjungan dimulai pada 2 Januari 2026 di Kabupaten Poso. Dalam pertemuan bersama pengurus dan kader setempat, Sarmadani menyampaikan arahan mengenai pentingnya penguatan struktur kelembagaan dan keberlanjutan program dakwah.

Silaturahim tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang dialog untuk menyelaraskan program wilayah dengan kebutuhan riil masyarakat di daerah.

Usai dari Poso, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Tojo Una-Una dengan menggunakan Armada Dakwah Hidayatullah Sulawesi Tengah. Setibanya di Ampana, ibu kota kabupaten tersebut, rombongan DPW didampingi Ketua DPD Hidayatullah Tojo Una-Una, Raihan, serta Bendahara DPW Sulawesi Tengah, Awaluddin Buhari.

Mereka bersilaturahim dengan Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, dalam pertemuan yang berlangsung di masjid yang berada di samping kediaman bupati. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana akrab dan penuh keterbukaan.

Agenda silaturahim kemudian berlanjut ke Kabupaten Banggai, tepatnya di Luwuk. Selama satu hari berada di wilayah ini, rombongan DPW menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh masyarakat, pengurus, serta simpatisan Hidayatullah. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan jejaring dakwah dan sinergi sosial agar program-program keumatan dapat berjalan selaras dengan dinamika lokal.

Rute terakhir dari rangkaian kunjungan wilayah ini adalah Kabupaten Banggai Kepulauan. Rombongan menyeberang menggunakan Kapal Ferry KM Fungka Permata 09 dan tiba di Banggai Kepulauan pada Ahad sore, 4 Januari 2026. Kehadiran Ketua DPW disambut oleh Ketua DPD setempat, Arsil, beserta jajaran pengurus.

Di hadapan para santri dan pengurus, Sarmadani menyampaikan tausiyah pembinaan yang menegaskan posisi kader Hidayatullah dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kader Hidayatullah sebagai seorang muslim tercerahkan adalah pemakmur bumi melalui peran-peran strategisnya dalam tarbiyah dan dakwah di masyarakat,” katanya, seraya menegaskan bahwa pengabdian kader tidak terbatas pada aktivitas internal organisasi, melainkan berorientasi pada kontribusi sosial yang luas.

Dalam penjelasannya, Sarmadani juga mengaitkan visi membangun peradaban Islam dengan kerja-kerja nyata di tengah umat. Menurutnya, visi tersebut mengandung semangat pelayanan dan pencerahan agar masyarakat semakin memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur ajaran Islam.

Oleh karena itu, lanjut Sarmadani, Hidayatullah di Sulawesi Tengah diarahkan untuk menghadirkan majelis-majelis Al-Qur’an sebagai sarana literasi keislaman yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Selain pembinaan keagamaan, kegiatan di Banggai Kepulauan juga diisi dengan aksi kepedulian lingkungan melalui penanaman pohon jambu air di lingkungan pesantren. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap kelestarian alam, sekaligus penguatan kesadaran bahwa dakwah Islam juga mencakup kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Di hadapan sekitar 30 santri, wartawan senior ini turut memberikan pelatihan jurnalistik singkat. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan dasar-dasar jurnalistik dan pentingnya dokumentasi kegiatan dakwah secara akurat dan bertanggung jawab. Pembekalan ini ditujukan agar santri memiliki keterampilan dasar dalam menyampaikan informasi positif kepada masyarakat luas.

Rangkaian kunjungan wilayah tersebut ditutup dengan perjalanan kembali ke Luwuk Banggai pada 5 Januari 2026. Sebelum kembali, rombongan menyempatkan diri bersilaturahim dengan salah seorang tokoh masyarakat di Salakan, Hj. Adha, dalam rangka mempererat ukhuwah, memperkuat konsolidasi organisasi, serta meneguhkan peran Hidayatullah dalam dakwah dan tarbiyah di seluruh wilayah Sulawesi Tengah.

Pemerintah dan Hidayatullah Perkuat Peran Nilai Keagamaan di Balikpapan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Kota Balikpapan menyatakan harapannya agar komunikasi dan kerja sama dengan Pesantren Hidayatullah dapat terus terjalin secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran nilai-nilai keagamaan dalam menjaga stabilitas sosial dan kedamaian kehidupan bermasyarakat.

Harapan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, dalam forum audiensi dan silaturahmi yang mempertemukan jajaran pemerintah daerah dengan pengelola Pesantren Hidayatullah, sebagai wujud komitmen membangun harmoni sosial di tengah dinamika kota yang terus berkembang.

Pertemuan tersebut berlangsung di lingkungan Kantor Pemerintah Kota Balikpapan pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6//1/2026). Bagus Susetyo hadir langsung dan memimpin dialog bersama pengelola Pesantren Hidayatullah.

Forum pertemuan ini menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai peran strategis institusi keagamaan dalam mendukung ketenteraman sosial serta pembangunan sumber daya manusia di daerah.

Bagus menegaskan bahwa keberadaan tokoh agama dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat perkotaan. Menurutnya, kota yang heterogen seperti Balikpapan membutuhkan fondasi moral yang kuat agar keberagaman dapat dikelola secara konstruktif dan tidak memicu friksi sosial.

Isu-isu yang dibahas dalam audiensi meliputi kontribusi agama dalam memperkuat persatuan umat, pembinaan karakter generasi muda, serta peran pesantren dalam mendukung agenda pembangunan manusia. Diskusi juga menggarisbawahi bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga memerlukan penguatan dimensi etika dan spiritual.

Bagus menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan tokoh agama merupakan elemen kunci dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman dan damai. Ia menilai pesantren tidak semata berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun karakter masyarakat yang beradab dan berdaya saing.

“Kami percaya, pembangunan yang berkelanjutan harus dibarengi dengan penguatan nilai moral dan spiritual. Pesantren dan tokoh agama memiliki peran besar dalam membentuk masyarakat yang berakhlak, toleran, dan saling menghargai,” ujar Bagus dalam kesempatan tersebut.

Ia menegaskan pandangan pemerintah daerah bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan sosial kontemporer. Di tengah laju perkembangan teknologi, urbanisasi, dan perubahan pola interaksi sosial, tokoh agama dipandang sebagai penyeimbang yang mampu memberikan rujukan etis bagi masyarakat.

Sementara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Dr. Arfan, M.Pd.I., menekankan bahwa kolaborasi yang terbangun antara pemerintah dan pesantren diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga persatuan serta ketenteraman sosial di Kota Balikpapan.

Arfan mengatakan, audiensi tersebut juga mengangkat pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menghadapi tantangan ke depan.

“Forum pertemuan memandang bahwa kompleksitas persoalan sosial membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur, termasuk institusi keagamaan, masyarakat sipil, dan dunia pendidikan,” kata Arfan dalam keterangannya.

Dia menekankan bahwa kedamaian dan ketenteraman masyarakat tidak dapat dilepaskan dari peran aktif lembaga-lembaga keagamaan dalam menanamkan etika sosial, toleransi, dan semangat persaudaraan.

Dengan terbangunnya kerja sama yang berkelanjutan, terangnya, diharapkan Hidayatullah terus berkontribusi sebagai mitra strategis dalam menjaga kedamaian sosial.

Dia memandang sinergi ini sebagai langkah penting untuk memastikan bahwa pembangunan kota berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai moral yang menjadi perekat kehidupan bermasyarakat di Balikpapan.

Ustadz Ahmad Fitri Berpulang, Ketum Hidayatullah Kenang Keteguhan Prinsip dan Kesederhanaan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan rasa duka dan belasungkawa atas wafatnya Ustadz Ahmad Fitri, Anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak sekaligus guru pengabdian KMI Pondok Modern Darussalam Gontor periode 1971–1976. Almarhum wafat pada Selasa, 17 Rajab 1447 (6/1/2026) pukul 05.09 WITA di RS Medika Utama Manggar, Kota Balikpapan.

Dalam keterangannya, Naspi Arsyad menguraikan kesaksian tentang pribadi almarhum sebagai figur pendidik yang memadukan ketegasan prinsip, keteladanan ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensi dalam amanah. Menurut Naspi, karakter tersebut terbentuk dari keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran dan kesediaan untuk menjaga nilai, meski harus berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

Ia menjelaskan bahwa almarhum dikenal sebagai sosok yang tidak mudah berkompromi dalam urusan prinsip. Ketika telah meyakini suatu perkara sebagai kebenaran, almarhum akan menjaganya secara utuh, bahkan dalam hal-hal yang oleh sebagian orang dipandang remeh. Keteguhan ini, menurut Naspi, bukan keras tanpa arah, melainkan konsistensi pada nilai yang diyakini benar.

“Beliau sosok yang tegas. Ketika telah berpegang dan meyakini satu kebenaran, maka beliau akan memegangnya dengan sungguh-sungguh dan siap berhadapan dengan siapa pun yang melanggar atau tidak sejalan dengan prinsip kebenaran tersebut, bahkan pada hal-hal yang oleh orang lain dianggap sederhana,” katanya kepada media ini.

Sebagai contoh, Naspi mengisahkan sikap almarhum terhadap perkara penampilan. Bagi almarhum, aspek lahiriah tertentu memiliki keterkaitan dengan nilai dan adab. Ketika ia meyakini suatu model rambut tidak sesuai dengan prinsip yang dipegangnya, ia berani menyampaikan sikap, meski sebagian orang menganggapnya sebagai hal lumrah.

Selain keteguhan prinsip, Naspi menekankan keteladanan almarhum dalam ibadah. Ia menggambarkan komitmen almarhum untuk menjaga kualitas shalat, terutama dalam hal kedisiplinan waktu dan posisi shaf. Bagi almarhum, shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi pusat pembentukan karakter.

“Beliau ahli ibadah. Itu terlihat dari komitmen beliau untuk selalu berusaha shalat di shaf pertama atau tepat di belakang imam. Sangat jarang beliau tertinggal atau masbuk,” kata Naspi tentang sosok alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo ini.

Naspi menambahkan bahwa bahkan ketika almarhum datang ke masjid dalam kondisi waktu yang mepet menjelang iqamah, ia tetap berupaya mendapatkan posisi terbaik dalam shalat. Sikap ini merefleksikan kesungguhan batin dan penghormatan terhadap ibadah berjamaah sebagai sarana pembinaan diri.

Dalam aspek kehidupan sehari-hari, Naspi menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang sederhana. Tidak tampak kemelekatan pada kemewahan, baik dalam penampilan maupun gaya hidup. Kesederhanaan itu tidak dibuat-buat, melainkan pilihan sadar yang menyatu dengan kepribadian.

“Beliau orangnya sederhana. Tidak terlihat ada barang-barang mewah yang melekat pada diri beliau, termasuk di rumahnya. Beliau memilih untuk tidak berkendaraan dari rumah ke masjid dan lebih sering berjalan kaki,” tutur Naspi yang pernah berinteraksi lama dengan almarhum sebagai sesama pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Naspi juga menyampaikan bahwa dalam aktivitas mengajar, almarhum kerap memilih menggunakan transportasi umum. Ia tidak meminta perlakuan khusus, tidak meminta dijemput, dan menjaga jarak dari sikap yang dapat menumbuhkan ketergantungan pada fasilitas.

Lebih lanjut, Naspi menekankan konsistensi almarhum dalam memegang amanah. Baik dalam jadwal mengajar, rapat, maupun kesepakatan organisasi, almarhum dikenal sebagai figur yang dapat diandalkan. Komitmen terhadap waktu dan kesepakatan menjadi bagian dari etos kerja dan keteladanan pendidikannya.

“Beliau konsisten dengan kesepakatan. Baik jadwal mengajar, jadwal rapat, maupun hal-hal yang telah disepakati bersama. Beliau adalah orang yang teguh memegang kesepakatan-kesepakatan itu,” ujar Naspi.

Dia menambahkan, Ustadz Ahmad Fitri sebagai pendidik yang meninggalkan warisan nilai, keteguhan prinsip, kedalaman ibadah, kesederhanaan hidup, dan konsistensi amanah yang diembannya menjadi teladan yang relevan bagi dunia pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat di tengah tantangan zaman.

Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Gunung Tembak 1, Kelurahan Teritip, tepat di samping Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak. Pria kelahiran Lingadan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, ini wafat pada usia 81 tahun.

Ustadz Ahmad Fitri telah mengajarkan keteguhan sikap, ketulusan ibadah, dan kesederhanaan hidup yang mengajarkan makna istiqamah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal baktinya sebagai amal saleh yang tak terputus, melapangkan kuburnya, dan meninggikan derajatnya bersama para pendidik, shiddiqin, dan orang-orang saleh, Aamiin.