Beranda blog Halaman 34

Ustadz Supri Melawan Buaya dan Menjaga Amanah Dakwah di Toili

0
Ustadz Supri (Foto: Sarmadani/ Hiayatullah.or.id)

ADA kisah yang tidak lahir dari mimbar megah, tetapi dari sunyi medan pengabdian. Kisah tentang kesetiaan pada amanah, tentang iman yang diuji bukan dengan kata-kata, melainkan dengan nyawa.

Kisah itu adalah kisah Ustadz Supri, dai Hidayatullah yang telah puluhan tahun menanamkan hidupnya di Toili, Luwuk Banggai.

Menjelang keberangkatan ke Musdagab VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah, ujian datang bertubi-tubi.
Pertama, dompetnya hilang.
Kedua, sang istri jatuh sakit.
Ketiga, anak-anak harus kembali ke pondok setelah libur semester.

Banyak alasan untuk tidak berangkat. Banyak pembenaran untuk menunda.
Namun Supri memilih satu sikap: tegak dalam ketaatan.

“Alhamdulillah, saya bisa hadir di tempat ini untuk mengikuti Musdagab sebagai bentuk ketaatan kepada lembaga,” ungkapnya lirih, saat diberi kesempatan menyampaikan tausiyah di hadapan peserta Musdagab.

Kalimat itu bukan retorika. Ia lahir dari perjalanan panjang hidup seorang pejuang.

Jejak Pengabdian

Ustadz Supri mulai mengenal Hidayatullah pada tahun 1993 di Tomohon, saat organisasi ini masih dipimpin oleh almarhum Ustadz Abdul Kadir Abdullah. Tiga tahun menimba tempaan di Sulawesi Utara, ia kemudian memilih pulang kampung ke Luwuk Banggai.

Tahun 1998, ia bergabung kembali dengan Hidayatullah Luwuk Banggai, dan setahun kemudian—bersama Ustadz Rasyid Ridho—mulai merintis dakwah di Toili. Saat itu, Toili masih sunyi. Pesantren baru dirintis. Lahan masih berupa semak belukar. Pondok-pondok berdiri dengan segala keterbatasan.

Semua serba awal. Semua serba kurang.
Namun dakwah tidak pernah menunggu keadaan sempurna.

Hari yang Mengubah Segalanya

Desember 2007 menjadi bulan yang tak pernah hilang dari ingatan keluarga Supri.

Tanggal 17 Desember 2007, sang istri sedang mencuci pakaian di sungai. Tanpa peringatan, seekor buaya besar menerkamnya. Gigitan itu mengenai perut dan sebagian lengan. Buaya berusaha menyeret tubuh sang istri ke tengah sungai, memutar-mutar mangsanya—cara alamiah untuk mematikan.

Saat itu, Supri tidak sempat berpikir panjang.
Yang ada di benaknya hanya satu: istri harus diselamatkan.

“Ini tanggung jawab saya sebagai suami,” katanya dalam hati.

Ia melompat ke sungai, berjibaku dengan buaya. Air bercampur darah. Buaya terus berputar. Supri berusaha mencari mata buaya untuk dicolok—namun gagal. Dalam satu celah, ia memasukkan tangan kiri ke dalam mulut buaya, berharap bisa mencapai tenggorokan.

Upaya itu gagal.
Tangan kirinya justru digigit, patah, dan cacat permanen hingga hari ini.

Namun Supri tidak menyerah.

Dengan sisa tenaga, ia kembali memasukkan tangan kanan ke mulut buaya. Kali ini ia berhasil meraih bagian tenggorokan. Buaya tercekik. Cengkeramannya melemah. Sang istri terlepas.

Dalam kondisi setengah sadar, Supri menarik istrinya ke tepi sungai. Buaya itu belum menyerah. Ia kembali menyambar. Supri meraih sepotong balok kayu di pinggir sungai dan menghalau buaya tersebut hingga akhirnya menjauh.

Sekitar 30 menit kemudian, warga setempat datang menolong. Keduanya dilarikan ke Puskesmas.
Istri Supri mengalami luka robek parah di perut.
Tangan Supri hancur dan cacat seumur hidup.

Namun keduanya selamat.
Atas izin Allah.

Ibrah dari Medan Dakwah

Hampir tiga puluh tahun Ustadz Supri mengabdikan hidupnya di Toili. Suka, duka, lapar, bahaya, dan kehilangan—semua pernah ia rasakan. Namun satu hal tidak pernah ia lepaskan: kesetiaan pada dakwah dan lembaga.

Kisah ini bukan untuk mengundang iba.
Ia adalah cermin keteguhan iman.

Bahwa dakwah bukan sekadar program, tetapi pengorbanan.
Bahwa ketaatan bukan sekadar slogan, tetapi pilihan hidup.
Dan bahwa para pejuang sering bekerja dalam sunyi, tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan.

Semoga kisah Ustadz Supri menjadi ibrah bagi kita semua—terutama para pejuang Hidayatullah—tentang makna istiqamah, keberanian, dan cinta kepada amanah.

Semoga Allah menjaga beliau dan keluarganya, menerima seluruh pengorbanannya, dan menempatkannya di barisan orang-orang yang ikhlas. Amin.

Menulis sebagai Fondasi Intelektual Mahasiswa di Tengah Budaya Visual

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah arus deras budaya visual yang serba cepat dan ringkas, aktivitas menulis kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam pembentukan tradisi intelektual.

Pesan tersebut mengemuka dalam sesi berbagi literasi bersama mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq di Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang posisi menulis sebagai instrumen pengolah nalar, bukan sekadar keterampilan akademik formal.

Hadir sebagai narasumber, Imam Nawawi, Ketua Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, menyampaikan pandangan yang menempatkan menulis sebagai kerja intelektual yang menuntut kedisiplinan berpikir.

Dengan pengalaman panjang sebagai praktisi literasi sejak tahun 2000, ia menggarisbawahi bahwa tantangan utama mahasiswa hari ini bukan hanya menyelesaikan pendidikan tinggi, melainkan membangun keberanian intelektual melalui kebiasaan membaca dan menulis secara konsisten.

Menurut Imam, menulis memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Ia menegaskan bahwa proses menulis memaksa otak untuk mengorganisir informasi yang diperoleh dari aktivitas membaca menjadi sebuah gagasan yang utuh dan terstruktur. Dengan demikian, menulis berperan sebagai jembatan antara pengetahuan yang tersebar dan pemahaman yang terintegrasi.

Dalam pemaparannya, Imam mengkritisi pandangan yang memosisikan menulis sebagai beban tata laksana rutin, seperti tugas makalah atau skripsi. Ia menyampaikan bahwa kualitas tulisan tidak ditentukan oleh formula instan, melainkan oleh sistem yang dibangun secara sadar dalam kehidupan sehari-hari. Menulis, menurutnya, harus diperlakukan sebagai bagian dari ritme hidup intelektual.

“Jika ingin menghasilkan tulisan yang baik, tidak ada rumus singkat. Yang dibutuhkan adalah membangun sistem agar dalam 24 jam, sepanjang pekan, bulan, hingga tahun, kita terbiasa dan mencintai aktivitas menulis,” ujarnya di hadapan para mahasiswi. Dia menekankan pentingnya pembiasaan sebagai sarana melatih kedisiplinan mental dan ketajaman berpikir.

Imam menjelaskan bahwa dengan membangun sistem menulis, mahasiswa secara simultan sedang membentuk pola pikir yang sistematis. Proses tersebut melatih kemampuan menyusun argumen, memilah informasi, serta menyampaikan gagasan secara runtut.

Dalam konteks keislaman, aktivitas ini ditekankan Imam sebagai sejalan dengan tradisi ilmiah yang menempatkan ilmu dan pena sebagai sarana pencerahan umat. Dalam pada itu, kebiasaan menulis menjadi kontribusi nyata dalam membangun wacana publik yang berakar pada nalar dan nilai.

Lebih lanjut, Imam memaparkan sejumlah manfaat strategis yang dapat diperoleh mahasiswa apabila memulai keseriusan menulis sejak masa kuliah. Pertama, menulis melatih ketajaman analisis karena menuntut penulis memahami secara mendalam apa yang dibacanya sebelum menuangkannya kembali dalam bentuk gagasan.

Kedua, tulisan berfungsi sebagai rekam jejak intelektual yang memungkinkan pemikiran seorang mahasiswa tetap hidup dan dapat ditelusuri melampaui masa studinya. Ketiga, keterampilan menulis merupakan kompetensi profesional yang bernilai tinggi, mengingat dunia kerja membutuhkan individu yang mampu menyampaikan ide secara jelas, logis, dan bertanggung jawab.

Pengalaman pribadi Imam yang telah menekuni dunia literasi selama lebih dari dua dekade menjadi ilustrasi bahwa konsistensi menulis merupakan investasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa aspek teknis dalam menulis dapat dipelajari secara bertahap, namun dorongan internal untuk mencintai proses menulis harus dibangun dengan kesadaran penuh.

Menutup sesi tersebut, Imam menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak semata diukur dari kemampuan menyelesaikan tugas akhir.

“Mahasiswa yang berhasil adalah mereka yang mampu menjadikan menulis sebagai bagian dari identitas dirinya,” pungkasnya, seraya menegaskan menulis sebagai jalan pembentukan karakter intelektual yang berkelanjutan.

Banjir Sempat Hentikan Usaha Gorengan Bu Nur, Program Pemulihan Mulai Menyapa

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Bu Nur, penjual gorengan asal Dusun Karya, Kabupaten Aceh Tamiang, sempat kehilangan satu-satunya tumpuan ekonomi ketika air banjir menerjang warung kecil tempat ia mencari nafkah. Peristiwa tersebut memutus aktivitas usaha harian yang selama ini menopang kebutuhan keluarga.

Namun, di tengah sisa lumpur banjir yang masih membekas di lingkungan tempat tinggalnya, secercah harapan mulai tumbuh ketika tim kemanusiaan mendatangi kediamannya di Lorong Rel, Desa Seumadam, Rabu, 11 Rajab 1447 (31/12/2025).

Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghentikan denyut ekonomi masyarakat kecil. Para pelaku usaha mikro menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan sarana usaha sekaligus sumber pendapatan. Kondisi inilah yang menjadi perhatian utama tim Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dalam rangkaian peninjauan dan perencanaan pemulihan pascabencana.

Kehadiran tim BMH di Aceh Tamiang tidak berhenti pada pendataan dampak banjir. Mereka melakukan penyisiran wilayah terdampak untuk memetakan kebutuhan warga secara menyeluruh. Program yang disiapkan mencakup dua aspek utama, yakni perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan serta pemulihan ekonomi masyarakat melalui penguatan kembali usaha kecil dan menengah.

Bagi Bu Nur, kunjungan tersebut membawa arti penting. Sebelum banjir, ia menggantungkan penghasilan dari berjualan gorengan, es, dan kopi. Warung sederhana yang ia kelola menjadi sumber utama penghidupan keluarga. Ketika banjir datang, seluruh aktivitas tersebut terhenti. Air merusak peralatan usaha dan membuat warung tidak lagi bisa digunakan. Dalam situasi itulah Bu Nur merasakan langsung rapuhnya ekonomi keluarga ketika bencana melanda.

Rencana pendampingan dan pemulihan yang disampaikan tim BMH memberikan dorongan semangat baru. Bu Nur menyambut positif inisiatif tersebut karena membuka peluang baginya untuk kembali berjualan. Harapan untuk bangkit secara ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, seiring tuntutan hidup yang terus berjalan meski bencana baru saja berlalu.

Dampak banjir juga dirasakan warga lain di Desa Seumadam. Abu Yamin, salah seorang warga terdampak, menyampaikan rasa lega atas rencana perbaikan rumah yang disiapkan BMH. Menurutnya, kerusakan hunian akibat banjir menyulitkan warga untuk kembali menjalani kehidupan normal. Program perbaikan rumah dinilai sebagai langkah yang sangat dibutuhkan dalam fase awal pemulihan.

Pemulihan tidak hanya dimaknai sebagai perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan rasa aman dan keberlanjutan hidup masyarakat. Rumah yang layak huni menjadi fondasi penting, sementara ekonomi warga berfungsi sebagai penopang jangka panjang agar keluarga dapat kembali mandiri.

Kepala Departemen Kreator Program BMH Pusat, Rohsyandi Santika, menjelaskan bahwa program pemulihan ini dirancang sebagai upaya konkret agar penyintas tidak berlarut-larut dalam dampak bencana. Ia menegaskan bahwa warga terdampak perlu didorong untuk bangkit melalui langkah nyata yang menyentuh kebutuhan paling dasar.

Menurutnya, penguatan ekonomi warga dan pembenahan rumah yang rusak menjadi dua instrumen utama dalam proses tersebut. Program ini dijalankan dengan koordinasi bersama aparat setempat, mulai dari kepala dusun hingga kepala desa, agar pelaksanaannya tepat sasaran dan selaras dengan kondisi lapangan.

Pendekatan berbasis koordinasi lokal dinilai penting untuk memastikan bahwa setiap bantuan dan program pemulihan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat. Selain itu, keterlibatan aparat desa membantu menjaga transparansi serta memperkuat kepercayaan warga terhadap proses pemulihan yang sedang berjalan.

Perpanjangan Izin BMH Teguhkan Sinergi Zakat, Syariah, dan Tata Kelola Negara

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung tahun 2025, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mencatatkan capaian penting dalam penguatan tata kelola kelembagaan zakat di Indonesia. Capaian tersebut menegaskan posisi BMH sebagai mitra strategis negara dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang berlandaskan prinsip keislaman, kepatuhan regulatif, serta tanggung jawab kebangsaan.

Pada Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025), Kementerian Agama Republik Indonesia secara resmi menyerahkan Surat Keputusan Perpanjangan Izin Operasional LAZNAS BMH. Penyerahan berlangsung di Kantor Kementerian Agama RI, Lantai 9, Gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Keputusan ini menjadi dasar hukum keberlanjutan peran BMH dalam penghimpunan dan pendistribusian dana zakat secara nasional.

Surat keputusan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghofur, kepada Ketua Dewan Pengurus LAZNAS BMH, Firman ZA.

Dalam sambutannya, Prof. Waryono menegaskan bahwa perpanjangan izin operasional tidak dapat dipahami semata sebagai prosedur administratif rutin, melainkan sebagai bentuk pengakuan negara terhadap kinerja kelembagaan dan tingkat kepatuhan BMH terhadap regulasi zakat nasional.

“Perpanjangan izin ini mencerminkan konsistensi LAZNAS BMH dalam menjalankan fungsi pemberdayaan umat sekaligus menjaga kepatuhan terhadap kerangka regulasi yang ditetapkan negara,” ujar Prof. Waryono. BMH sebagai bagian dari ekosistem zakat nasional diharapkan mampu menjawab tantangan sosial-ekonomi umat secara terukur dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Prof. Waryono menjadikan empat pilar utama sebagai pokok pembahasan dalam penilaian terhadap kinerja BMH. Pertama, tata kelola yang amanah, yakni kemampuan lembaga dalam mengelola dana umat secara transparan dan bertanggung jawab sesuai prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan. Kedua, kedisiplinan pelaporan melalui Sistem Informasi Manajemen Zakat (SIMZAT), yang berfungsi memastikan keterlacakan dan akurasi data pengelolaan zakat.

Pilar ketiga adalah komitmen berkelanjutan terhadap perbaikan hasil audit syariah. Menurut Prof. Waryono, audit tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai mekanisme pembelajaran institusional agar kualitas pengelolaan dana umat terus meningkat.

Adapun pilar keempat adalah fungsi audit sebagai penjaga kepatuhan syariah, yang berperan mencegah potensi kemudaratan dalam pengelolaan zakat, baik dari sisi hukum Islam maupun tata kelola publik.

Respons terhadap kepercayaan negara tersebut disampaikan Ketua Dewan Pengurus LAZNAS BMH, Firman ZA. Ia menegaskan bahwa perpanjangan izin operasional menjadi pengingat sekaligus penguat komitmen internal lembaga untuk menjaga integritas dan akuntabilitas.

“Amanah ini menjadi penguat semangat kami untuk terus meningkatkan tata kelola, menjaga transparansi, dan memastikan keberpihakan kepada mustahik,” ujarnya.

Firman juga menekankan pentingnya sinergi antara lembaga zakat dan pemerintah dalam konteks pembangunan nasional. Menurutnya, pengelolaan zakat tidak hanya berdimensi ibadah individual, tetapi juga memiliki implikasi sosial dan kebangsaan yang luas. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap sistem pengawasan negara dipandang sejalan dengan spirit Islam dalam menjaga kemaslahatan umum.

Dengan diterbitkannya perpanjangan izin operasional tersebut, Laznas BMH secara hukum tetap memiliki kewenangan penuh untuk menjalankan aktivitas penghimpunan, pengelolaan, dan pendistribusian dana zakat di seluruh wilayah Indonesia. Legalitas ini sekaligus menjadi jaminan bagi masyarakat bahwa dana yang dititipkan dikelola melalui sistem yang diaudit secara syariah dan berada dalam pengawasan negara.

Integrasi Ibadah dan Kinerja Jadi Pokok Bahasan Sharing Kultural DPP di Deli Serdang

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Mengakhiri tahun dengan penguatan dimensi spiritual dan kelembagaan, Departemen Rekrutmen Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyelenggarakan agenda sharing kultural di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah, Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan orientasi kader dakwah dalam memadukan nilai keislaman, profesionalisme, dan tanggung jawab kebangsaan.

Hadir sebagai narasumber utama, Imam Nawawi, Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, menyampaikan pokok pembahasan mengenai karakter Muslim sejati yang tidak terjebak pada dikotomi antara kesalehan ritual dan kualitas kerja. Dalam paparannya, Imam Nawawi menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang Muslim harus tercermin secara nyata dalam etos kerja, kinerja lapangan, dan kontribusi sosial bagi umat dan bangsa.

Di hadapan peserta yang terdiri atas unsur pengurus yayasan, perwakilan Dewan Pengurus Wilayah (DPW), serta mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq, ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca sebagai teks ritual, melainkan menjadi sumber energi moral dan intelektual dalam menjalankan amanah dakwah.

“Kita diperintahkan untuk senantiasa bersemangat dalam menguatkan kebaikan, kebenaran, dan kesabaran,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya menjadikan wahyu sebagai penggerak kerja nyata.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung dialogis, Imam Nawawi menguraikan tiga garis besar penguatan militansi kader dakwah. Pertama, ia menyoroti makna mendalam dari perintah membaca dalam wahyu pertama Al-Qur’an. Membaca, menurutnya, tidak berhenti pada aktivitas literasi, tetapi merupakan proses pembentukan cara pandang yang bertumpu pada tauhid.

Ketika perintah membaca dilaksanakan dengan kesadaran Bismirabbik—dengan menyebut dan melibatkan nama Allah—maka aktivitas intelektual akan melahirkan kejernihan visi, ketajaman analisis, dan keberanian moral dalam menjawab persoalan umat.

Kedua, Imam Nawawi menegaskan pentingnya integrasi antara ibadah dan etos kerja. Ia menyampaikan bahwa seorang Muslim tidak cukup dinilai dari intensitas ibadah ritual semata, tetapi juga dari kualitas kontribusinya dalam tugas dan tanggung jawab yang diemban.

“Orang Islam itu tidak hanya dituntut baik dalam ibadah, tetapi juga harus unggul dalam etos kerja dan kinerja,” katanya. Menurutnya, profesionalisme, disiplin, dan ketuntasan kerja merupakan manifestasi dari iman yang hidup dan bernilai sosial.

Poin ketiga yang ditekankan adalah kesadaran posisi kader dalam dunia dakwah dan pendidikan. Imam Nawawi mengingatkan bahwa keterlibatan seseorang dalam jalan dakwah bukan hasil perencanaan pribadi semata, melainkan karunia dari Allah SWT yang harus dijaga dengan kesungguhan.

Ia mengajak peserta untuk menjaga fokus perjuangan tanpa terjebak pada keraguan atau distraksi yang melemahkan langkah. “Teruslah bergerak maju, jangan larut menengok ke kanan dan ke kiri hingga kehilangan arah,” pesannya.

Agenda sharing kultural ini merupakan bagian dari tradisi internal Hidayatullah yang secara konsisten dirawat sebagai sarana konsolidasi nilai dan visi. Selain berfungsi sebagai media penyampaian arah kebijakan organisasi, forum ini juga menjadi ruang penyatuan orientasi batin antara pengelola lembaga dan generasi muda yang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan.

Dengan menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber energi spiritual dan etos kerja, pertemuan di Tanjung Morawa tersebut diharapkan dapat memperkuat karakter kader dakwah yang religius, produktif, dan berdaya saing. Spirit keislaman yang terintegrasi dengan semangat keindonesiaan ditegaskan sebagai fondasi untuk menjawab tantangan dakwah dan pembangunan umat pada masa-masa mendatang.

Refleksi Akhir Tahun, Naspi Arsyad Tekankan Momentum Menata Arah Kepemimpinan Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jarangnya umat Islam duduk bersama secara kolektif untuk merumuskan kesepakatan strategis jangka panjang guna melahirkan kepemimpinan yang kuat menjadi sorotan utama dalam refleksi kebangsaan akhir tahun 2025.

Isu tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., dalam forum Refleksi Akhir Tahun yang digelar oleh Majelis Ormas Islam (MOI) bertajuk “Renungan Peristiwa 2025, Menuju 2026 yang Lebih Baik” yang digelar secara daring, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Naspi menegaskan bahwa kebaikan dan kemaslahatan umat tidak mungkin terwujud tanpa kehadiran kepemimpinan yang kokoh. Menurutnya, selama kepemimpinan tidak ditegakkan secara utuh dan terencana, potensi kekacauan sosial akan terus berulang. Kepemimpinan dipandang sebagai elemen mendasar yang menentukan arah dan keberlangsungan kehidupan umat.

Ia merujuk pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah adalah mereka yang memiliki iman dan kepemimpinan yang benar. Rujukan tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa kepemimpinan dalam perspektif Islam bukan semata-mata posisi struktural, melainkan amanah yang berlandaskan keimanan dan tanggung jawab moral.

Namun, Naspi menggarisbawahi adanya kesenjangan antara idealitas ajaran dan realitas yang dihadapi umat Islam saat ini. Ia menyampaikan bahwa umat Islam belum menunjukkan keseriusan kolektif dalam membangun kepemimpinan jangka panjang. Forum-forum bersama yang secara khusus membahas strategi melahirkan pemimpin masa depan dinilai masih sangat terbatas.

Ia menjelaskan bahwa pembicaraan tentang kepemimpinan sering kali terjebak pada kepentingan jangka pendek. Perencanaan strategis yang mencakup rentang waktu panjang, seperti 20 atau 30 tahun ke depan, jarang menjadi agenda utama. Akibatnya, upaya membangun kepemimpinan berjalan sporadis dan tidak berkelanjutan.

Dalam penjelasannya, Naspi menggambarkan kondisi tersebut dengan analogi yang mudah dipahami. Ia menyebut umat Islam kerap berada dalam posisi seperti mendorong kendaraan yang mogok. Ketika kendaraan tersebut kembali berjalan, dorongan dihentikan dan perhatian beralih. Namun, saat kendaraan kembali berhenti, umat Islam kembali dipanggil untuk mendorong. Siklus ini, menurutnya, terus berulang dalam periode lima tahunan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan umat sering kali bersifat reaktif dan temporer. Momentum politik atau pergantian kepemimpinan menjadi titik konsentrasi perhatian, sementara upaya perencanaan jangka panjang tidak mendapatkan porsi yang memadai. Akibatnya, Naspi menekankan, energi umat habis dalam dinamika sesaat tanpa menghasilkan fondasi kepemimpinan yang berkesinambungan.

Naspi menilai bahwa momentum pergantian tahun, baik berdasarkan kalender Hijriah maupun Masehi, seharusnya dimaknai sebagai ruang refleksi yang lebih mendalam. Pergantian waktu bukan hanya penanda kronologis, melainkan sarana untuk mengevaluasi arah perjalanan umat. Ia mengaitkan keteraturan pergantian siang dan malam sebagai bukti adanya kepemimpinan Ilahi yang mengatur alam semesta secara sempurna.

Ia mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Menurutnya, keteraturan tersebut menunjukkan bahwa setiap sistem yang berjalan dengan baik selalu berada di bawah kepemimpinan yang jelas dan terencana.

Naspi melanjutkan bahwa peredaran matahari dan bulan berlangsung secara konsisten karena ada otoritas Ilahi yang mengaturnya. Allah memiliki kekuasaan penuh dalam menempatkan berbagai kebaikan pada setiap fase waktu. Manusia dapat merasakan manfaat nyata dari keteraturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks sosial, ia menyampaikan bahwa realitas tersebut memberikan pelajaran penting tentang urgensi kepemimpinan bagi manusia. Jika alam semesta berjalan teratur karena kepemimpinan Ilahi, maka kehidupan bermasyarakat pun memerlukan kepemimpinan yang disepakati bersama, dirancang secara matang, dan diarahkan untuk tujuan jangka panjang.

Tujuan akhir dari proses tersebut, sebagaimana disampaikan Naspi, adalah lahirnya kepemimpinan Islam yang tumbuh dari perjuangan dan kesadaran kolektif umat. Kepemimpinan yang dimaksud bukan sekadar dipegang oleh individu yang beragama Islam, melainkan pemimpin yang memiliki komitmen maslahat dan keislaman serta lahir dari proses perencanaan umat yang berkesinambungan.

Hidayatullah Perkuat Pendidikan di Perbatasan, PPTQ di Watatu Donggala Diresmikan

0

DONGGALA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Donggala, Dr. H. Haerolah Muh. Arief, S.Ag., M.H.I., meresmikan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Hidayatullah Putri, Pendidikan Anak Usia Dini dan Kelompok Bermain (PAUD–KB) Hidayatullah, serta Mushalla Ar-Raudhah di Desa Watatu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, baru baru ini dan ditulis pada Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Haerolah mengatakan bahwa kehadiran PPTQ, PAUD–KB, dan Mushalla Ar-Raudhah merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat pendidikan keagamaan di Kabupaten Donggala. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, memakmurkan, dan mendukung keberlanjutan lembaga-lembaga tersebut.

“Kalau hendak cepat memanen maka tanamlah palawija, tetapi jika hendak panennya langgeng maka tanamlah kebaikan,” ujarnya berpantun sebagai pesan motivatif.

Kakan Kemenag Donggala mengatakan, peresmian ini sekaligus perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di kawasan perbatasan Kabupaten Donggala dengan Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Kehadiran lembaga pendidikan dan sarana ibadah ini menurutnya amat strategis dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an serta pembinaan karakter generasi muda di wilayah yang selama ini relatif terbatas dari pusat-pusat pendidikan formal keagamaan.

Dengan diresmikannya kawasan pendidikan integral ini, Haerolah berharap, Hidayatullah Watatu semakin berperan aktif dalam pembinaan umat, penguatan dakwah di wilayah perbatasan, serta penumbuhan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

“Kehadiran lembaga ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan dalam membangun generasi Qur’ani yang berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Profil Hidayatullah Putri Watatu

PPTQ Hidayatullah Putri Watatu berada di bawah kepemimpinan Abdul Hafidz Al-Mandary. Lembaga ini dirancang sebagai pusat pembinaan tahfizhul Qur’an dan pendidikan keislaman yang terintegrasi, sekaligus menjadi penggerak dakwah berbasis Al-Qur’an di tingkat lokal.

Bersamaan dengan itu, PAUD–KB Hidayatullah Yaa Bunayya diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, akhlak, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.

Dewan Pembina PPTQ Hidayatullah Watatu, Taufik Abdul Muin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendirian dan pengembangan lembaga tersebut. Ia menegaskan bahwa keberadaan PPTQ dan PAUD–KB diharapkan menjadi pusat pembinaan karakter Islami yang berkesinambungan, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dalam menyiapkan generasi berakhlak dan berilmu.

Penguatan visi kelembagaan juga disampaikan oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Tengah, Ustadz Ahmad Arsyad, S.Pd.I. Ia menekankan pentingnya pendidikan berbasis Al-Qur’an sebagai landasan pembangunan peradaban umat.

Menurut Arsyad, keberadaan PPTQ dan PAUD–KB menjadi sarana strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan spiritual dan akhlak mulia.

Apresiasi Pemerintah

Ikhtiar pelayanan umat Hidayatullah Donggala ini juga mendapat apresiasi pemerintah daerah disampaikan oleh Alwin, S.Pd., yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala.

Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah menyambut baik pengembangan lembaga pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Peran Hidayatullah dalam menghadirkan pendidikan berbasis nilai keislaman dinilai sejalan dengan tujuan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter,” katanya.

Acara peresmian dihadiri oleh unsur pemerintah dan keamanan setempat, antara lain perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Donggala, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepolisian Sektor Banawa Selatan, Komando Rayon Militer, pemerintah desa, serta unsur kecamatan, juga pengurus yayasan, Majelis Murabbiyah Wilayah, serta unsur Pemuda dan Muslimat Hidayatullah.

Layanan Sosial dan Pendidikan Hidayatullah sebagai Jawaban Kebutuhan Lintas Generasi

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, mengatakan bahwa Hidayatullah konsisten pada dua arus utama gerakan, yaitu dakwah dan tarbiyah, dengan pendekatan inklusif yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.

“Hidayatullah terus bersinergi dengan seluruh elemen keummatan. Kami mendorong penguatan dakwah yang wasathiyyah agar menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Muzakkir.

Hal itu disampaikan Muzakkir dalam sambutan pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VI Hidayatullah Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025)

Ia juga menguraikan konteks demografi Kalimantan Barat yang menuntut pendekatan adaptif. Data yang disampaikan menunjukkan dominasi generasi Z hingga sekitar 70 persen dari populasi, sementara kelompok lanjut usia mencapai kurang lebih 9 persen. Kondisi ini, menurutnya, menuntut penguatan layanan pendidikan dan sosial yang relevan dengan kebutuhan lintas generasi.

Pada sektor pendidikan, Muzakkir menekankan prinsip Pendidikan Bermutu untuk Semua. Ia menyatakan bahwa model Sekolah Rakyat yang kini digagas pemerintah sejatinya telah lama dipraktikkan oleh Hidayatullah melalui sistem pendidikan yang terbuka dan terjangkau, seraya terus meningkatkan mutu layanan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pendekatan ini, jelas Muzakkir, diposisikan sebagai kontribusi nyata Hidayatullah dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkeadilan. Dia menegaskan, layanan sosial dan pendidikan Hidayatullah merupakan jawaban kebutuhan lintas generasi.

Di bidang sosial, Muzakkir menyoroti layanan panti asuhan yang menjadi salah satu keunggulan Hidayatullah termasuk di Kalimantan Barat dan diterima luas oleh masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa pengelolaan panti asuhan berpotensi dikembangkan menjadi layanan pendidikan unggulan, mencontoh tata kelola madrasah di Turki, salah satunya Hamidie Wakfe.

Selain itu, transformasi panti asuhan lansia menjadi pusat dakwah husnul khatimah dinilai sebagai potensi strategis yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peresmian gedung dakwah sekaligus Kantor DPW Hidayatullah di pusat Kota Pontianak oleh Muzakkir Usman bersama para tokoh senior dan pimpinan terpilih. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah KH Abdul Latif Usman.

Muzakkir berharap kantor ini berfungsi melampaui peran administratif. “Kantor ini harus menjadi penghubung antara Hidayatullah dengan masyarakat luas serta menjadi pusat aktivitas keummatan yang inklusif,” pungkasnya.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh Lanjutkan Recovery Pascabanjir, Keharuan Dirasakan Dzulfirman

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Upaya pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang terus dilakukan secara bertahap oleh relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh bersama Laznas BMH.

Pada Senin, 9 Rajab 1447 (29/12/2025), kegiatan difokuskan pada pembersihan rumah salah satu tokoh agama setempat, Dzulfirman Batubara, Imam Rawatib Masjid Syuhada di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Dzulfirman dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an 30 juz dan figur keagamaan yang aktif membina masyarakat.

Dalam keterangannya, Dzulfirman menuturkan pengalaman saat banjir besar melanda kawasan permukiman tempat tinggalnya. Ia bersama keluarga dan warga sekitar berusaha menyelamatkan diri dengan mengungsi ke sebuah rumah bertingkat dua di kompleks tersebut. Rumah itu satu satunya yang bisa dijangkau korban di kawasan ditengah gelombang banjir yang sangat cepat.

Di lantai dua berukuran sekitar 4 x 4 meter, ribuan warga bertahan selama tiga hari tiga malam. Kondisi darurat memaksa mereka mengonsumsi apa pun yang tersedia, termasuk sisa makanan, buah-buahan yang hanyut terbawa arus, serta air bercampur lumpur.

“Selama tiga hari itu, kami bertahan dengan apa yang ada. Nasi yang sudah tidak layak, pepaya dan kelapa yang hanyut, bahkan roti yang tidak diketahui asalnya ikut kami makan. Air yang diminum pun bercampur lumpur,” ungkap Dzulfirman saat ditemui relawan.

Ia melanjutkan, setelah air mulai surut meski masih setinggi pinggang orang dewasa, warga yang mengungsi perlahan turun untuk meninjau rumah masing-masing.

Pemandangan yang mereka temui meninggalkan guncangan psikologis mendalam. Rumah-rumah porak-poranda, dipenuhi lumpur tebal dan sisa material yang terbawa banjir bandang.

Kegiatan pembersihan rumah Dzulfirman dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid. Ia bersama para relawan bergotong royong mengeluarkan lumpur dan membersihkan bagian rumah yang terdampak paling parah.

Menurut Harun, kehadiran relawan merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang berpijak pada nilai keislaman dan semangat kebersamaan masyarakat Indonesia.

“Insya Allah, tim masih terus bertahan membantu korban terdampak,” ujar Harun di sela kegiatan. Ia menegaskan bahwa bantuan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi diarahkan pada proses pemulihan yang lebih berjangka.

Dzulfirman dengan rasa haru menyampaikan rasa syukur atas kehadiran relawan. Ia mengungkapkan bahwa membersihkan lumpur dari rumah pascabanjir umumnya membutuhkan biaya besar jika dilakukan dengan tenaga berbayar.

“Ada yang harus mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk membersihkan rumah. Dengan bantuan relawan Hidayatullah dan BMH, saya tidak mengeluarkan biaya apa pun, selain menyiapkan makan siang sederhana,” tuturnya.

Harun Rasyid menekankan bahwa program recovery diupayakan dapat berjalan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan ketersediaan logistik serta dukungan dari masyarakat luas.

Berkah Muswil Kalimantan Barat Resmikan Gedung Dakwah, Pemprov Berikan Apresiasi

0
Asisten III Sekretariat Daerah, Drs. Alfian Salam, MM (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Asisten III Sekretariat Daerah, Drs. Alfian Salam, MM, mengapresiasi kiprah organisasi Hidayatullah saat menghadiri pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VI Hidayatullah Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025).

Alfian menyoroti kontribusi nyata Hidayatullah melalui pengembangan model dakwah yang adaptif dan kontekstual, khususnya di kawasan pedalaman.

Menurutnya, pendekatan dakwah yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga dirancang secara kreatif agar selaras dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.

Alfian secara khusus menyebut keberhasilan pelaksanaan gerakan dakwah di Kabupaten Kayong Utara sebagai contoh praktik yang dapat dijadikan rujukan. Program Subuh Keliling atau Suling dinilai sebagai bentuk dakwah yang inovatif karena mampu menghadirkan aktivitas keagamaan secara konsisten di tengah masyarakat, sekaligus membangun interaksi yang positif antara dai dan warga.

“Kami melihat langsung keberhasilan gerakan dakwah di pedalaman, seperti di Kabupaten Kayong Utara. Program Suling atau Subuh Keliling adalah contoh dakwah yang kreatif dan mencerahkan,” ungkapnya Alfian yang hadir mewakili Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan.

Ia menyampaikan bahwa program tersebut memberikan dampak pencerahan dan memperkuat kehidupan keagamaan di tingkat lokal. Pernyataan itu disampaikan Alfian sebelum secara resmi membuka Musyawarah Wilayah, sebagai bentuk pengakuan pemerintah daerah terhadap kontribusi Hidayatullah dalam penguatan dakwah dan pembinaan umat di Kalimantan Barat.

Penguatan Gerakan, Pengurus Baru, dan Peresmian Gedung Dakwah

Forum Muswil ini mengusung tema Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045 dan dihadiri jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah serta Dewan Pimpinan Daerah dari 12 kabupaten dan kota di seluruh Kalimantan Barat.

Dalam laporan pembuka yang disampaikan perwakilan Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Asep Samsul Fuad, mengatakan Musywil menjadi ruang konsolidasi strategis untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial dalam kerangka keislaman yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Asep memaparkan capaian organisasi selama periode berjalan. Jaringan Hidayatullah kini telah hadir di sekitar 95 persen wilayah Kalimantan Barat. Penguatan infrastruktur pendidikan juga terus dilakukan melalui pengembangan Kampus Madya di dua titik utama, yakni Kampus Hidayatullah Pontianak dan Ketapang. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan berbasis nilai Islam yang inklusif.

Musywil VI juga menjadi momentum regenerasi kepemimpinan wilayah dengan ditetapkannya Muhyiddin Nur Rabbani sebagai Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat dan Abdul Syukur sebagai Ketua Dewan Murobbi Wilayah. Penetapan ini memiliki makna khusus karena Musywil Kalimantan Barat menjadi penutup rangkaian Musywil Hidayatullah di 38 provinsi se-Indonesia.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peresmian gedung dakwah yang sekaligus Kantor DPW Hidayatullah di pusat Kota Pontianak oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, bersama para tokoh senior dan pimpinan terpilih. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah KH Abdul Latif Usman.

Muzakkir berharap kantor ini berfungsi melampaui peran administratif. “Kantor ini harus menjadi penghubung antara Hidayatullah dengan masyarakat luas serta menjadi pusat aktivitas keummatan yang inklusif,” pungkasnya.