Beranda blog Halaman 377

Perjalanan Membina Muallaf di Lereng Gunung Sibayak

0

KARO (Hidayatullah.or.id) — Rombongan dai Sumatera Utara melakukan kegiatan safari dakwah ke daerah titik desa muallaf binaan di lereng Gunung Sibayak. Tepatnya di Desa Lau Gedang yang masih berada dibawah wilayah antara Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang.

Perjalanan safari dakwah perdana awal tahun 2022 ini merupakan program simpul sinergi antara DPW Hidayatullah, Kampus Utama Hidayatullah Medan, dan Posdai, start dari Kampus Hidayatullah Polonia, Medan, Rabu, 10 Jumadil Akhir 1443(10/1/2021).

Perjalanan ini terbilang istimewa karena dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah yang sekaligus ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan, Ust. H. Drs. Hamim Thohari, MA. M.Si.

“Saya termasuk dalam rombongan tersebut sebagai unsur Dewan Murobbi Hidayatullah Sumut,” kata Ust Khoirul Anam dalam reportasenya seperti disitat dari laman Kampus Hidayatullah Medan.

Dalam rombongan juga ada sekretaris DPW Hidayatullah Sumut Ust Isa Abdul Barri, Lc, ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al Quran Hidayatullah Medan Ust Drs Darmawan, MA, M.Si.

Dalam rombongan terdapat juga ketua Posdai Hidayatullah Sumut Ust Syukron Khoiri, S.Pd, ketua Kampus Utama Hidayatullah Medan Ust Ali Ibrahim Akbar, M.Pd, dai Ust Mu’tasimbillah, Ust Fahri Fathullah M.Pd,Ust Izzudin Al Hafidz Lc, dan yang spesial karena turut dibersamai Syeikh Ibrahim Ali Al Hasani MA, dai internasional dari Gaza Palestina.

Anam mengatakan, pada awalnya agenda safari dakwah ini sejatinya diagendakan dilakukan siang hari. Namun, berhubung ada kegiatan yang sudah dijadwalkan sebelumnya yaitu Daurah Qur’an di Kampus III Polonia Medan hingga penutupan, rombongan tim berangkat pukul 21.00 WIB.

Perjalanan menuju lereng Gunung Sibayak biasanya memakan waktu cukup 2,5 jam. Tetapi ternyata jalan malam ini agak padat merayap.

Sekira pukul 12.00 malam, tim baru menempuh setengah perjanan. Akhirnya diputuskan untuk singgah di tempat pemandian air panas Pariban yang berlokasi di ujung Desa Sidebuk-debuk, Kecamatan Berastagi.

Di sini rombongan menyempatkan rehat sekaligus mandi di air panas untuk menghilangkan penat, apalagi setelah 3 hari maraton Dauroh Qur’an dan Rapat Kampus Utama Hidayatullah Medan. Dengan harapan besok pagi bisa lebih fresh untuk melakukan dakwah membina muallaf.

Tidak terasa, hari sudah berganti, dini hari itu sudah sudah pukul 02.00 WIB. Tim pun bergegas menuju cottage untuk melakukan sholat tahajjud berjamaah dengan Syeikh Ibrahim Ali Al Hasani sebagai imam hingga kurang lebih pukul 03.00. Bacaan imam begitu syahdu, kian menambah dalam ibadah malam itu.

Usai tahajjud, dilanjutkan sejenak dengan kegiatan muhasabah bersama yang membuat tim berderai air mata, mengingat banyaknya bengkalai tugas dakwah yang disebabkan oleh kelalaian dan kealpaan.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Rombongan pun bergegas untuk lekas berangkat mengingat jarak yang dilalui baru separuh perjalanan.

Kendaraan roda empat yang digunakan pun dipacu untuk melaju lebih kencang. Akhirnya sampailah di tempat di mana para muallaf dikumpulkan yaitu di Brastagi, tepatnya di kampus baru Pondok Pesantren Hidayatullah Tanah Karo.

Sebenarnya, titik pertemuan dengan muallaf harus masuk lagi menempuh jalan ke daerah bernama Lau Gedang yang merupakan kampung dimana mereka menetap.

Namun, jalan menuju desa Lau Gedang sedang banyak mengalami kerusakan dan longsor yang tidak mungkin dilalui oleh kendaraan roda empat. Sehingga, mereka, para muallaf ini, harus diangkut ke Brastagi.

Tak lama kemudian, adzan subuh berkumandang. Tim berangkat menuju Masjid Besar dengan berjalan kaki yang agak jauh. Sepanjang jalan anjing tidak berhenti menggonggongi tim dan terus merangsek . Membuat semua deg-degan.

Rasa penat sudahlah pasti dirasakan rombongan. Usai imam salam ke kanan dan kiri mengakhiri shalat shubuh berjamaah itu, sebagian langsung mengalami “patah leher”. Hingga tak terasa usai sudah shalat subuh itu, romongan beristirahat karena semua belum tidur sama sekali.

Sebelum matahari terlalu tinggi, rombongan sudah bersiap kembali dan sukses melicintandas sajian sarapan pagi. Selanjutnya, pada pukul 10.00 WIB, rombongan langsung menuju tempat pembinaan muallaf.

Masya Allah!

Rupanya, para muallaf sudah menunggu sejak tadi untuk mendapatkan suntikan ruhani, apalagi mereka sudah mendengar bahwa salah satu anggota tim adalah seorang syaikh dari Palestina.

Para muallaf ini dibina oleh dai muda Hidayatullah, Ust Habibullah Lubis, alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa Medan yang ditugaskan mengabdi di daerah ini.

Secara rutin juga dikirim dai yang lebih senior untuk membantu menguatkan dan meningkatkan kualitas keislaman mereka secara bergantian oleh DPW Hidayatullah Sumut, Kampus Utama Medan maupun Pos Dai Hidayatullah Sumut.

Menurut Ust Habibullah Lubis, ada 70 orang mullaaf dari kalangan ibu ibu maupun remaja putri. Dan 24 orang anak muallaf putra usia SD dan SMP yang menjadi umat binaan Hidayatullah Sumut dan Kampus Utama Medan yang tinggal di Desa Lau Gedang lereng Gunung Sibayak ini.

Jarak tempuh ke desa ini cukup menyita waktu dengan kondisi jalan yang kurang kondusif. Sudah begitu, letaknya pun sudah sangat jauh dari Kota Lubuk Pakam yang menjadi pusat kota Kabupaten Deli Serdang.

Tapi, soal jarak ini, merupakan hal yang wajar karena kabupaten ini adalah kawasan yang sangat luas di Sumut, layaknya Kutai Kartanegara kalau di Kaltim. Atau Sukabumi kalau di Jawa Barat.

Alhamdulillah, kegiatan berjalan sangat baik dan para muaallaf sangat bersemangat mengikuti pembinaan, apalagi sang Syaikh sangat humoris dalam menyampaikan ceramahnya hingga menjelang waktu dzuhur.*/ Khoirul Anam

Posdai Pusat Gelar Raker, Angkat 3 Program Utama

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Pusat menggelar Rapat Kerja (Raker) yang digelar intensif di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta, Rabu, 10 Jumadil Akhir 1443 (13/1/2022).

Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, dalam sambutannya membuka acara tersebut, mengatakan Posdai harus berfokus pada gerakan membangun peradaban Islam melalui turunan program yang dicanangkannya.

“Visi Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam dan salah satu instrumen dalam membangun peradaban Islam adalah PosDai,” katanya seperti dikutip dari laman Posdai.

Menurut Nursyamsa, diantara aspek seperti pendidikan dan sosial masuk ke dalam cakupan gerakan Posdai yang dibingkai dalam satu wadah besar program dakwah.

Berkenaan dengan pendidikan, terang dia, Posdai telah menyelenggarakan program Sekolah Dai yang telah berjalan di beberapa daerah seperti Bogor, Parepare, Palu dan lain sebagainya.

Menurutnya, tujuan pendidikan Sekolah Dai sejalan dengan amanat konstitusi sebagaimana dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 yakni dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Dengan semakin banyak lahir dai dan kemudian Posdai terus menguatkan peran mereka, maka diharapkan peradaban bangsa semakin maju dan bermartabat yang dijiwai oleh nilai nilai Islam,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga berpesan kepada pengurus Posdai Pusat agar senantiasa menjaga niat tulus kepada Allah SWT serta menyelenggarakan program yang telah ditetapkan secara profetik dan profesional.

Di satu sisi, Posdai harus terus berpacu mengembangkan sumber daya yang mumpuni, andal, kapabel, profesional, dan berintegritas. Di sisi lain, terang dia, Posdai juga menjadikan etos kerja profetik sebagai nilai utama.

“Etos kerja profetik mengambil inspirasi dari ajaran nabi Muhammad SAW yang memiliki prinsip mengutamakan integrasi atau holistik,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Posdai Pusat Ust Samani Harjo mengatakan, selain melakukan evaluasi, sosialisasi, dan egalisasi persepsi, raker ini juga menyepakati 3 Program Utama Nasional yang selanjutnya akan diderivasi ke Posdai wilayah dan daerah.

Adapun ketiga Program Utama Nasional tersebut adalah Desa Mengaji, Sekolah Dai, dan Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA). Selain itu, juga menyepakati Program Nasional lainnya yaitu Sahabat Dai, Sahabat Muallaf, Sarana Dakwah, dan Funding.

“Sebagai ikhtiar untuk memantapkan gerakan, Posdai menerapkan key performance indicator yang diharapkan dapat mengukur sejauh mana langkah dan khidmat dakwah keumatan telah dicapai,” kata Samani.

Samani berharap, Posdai dengan jaringannya yang terbesar dari Sabang sampai Merauke mampu berkontribusi lebih optimal lagi dalam memajukan dakwah untuk kebaikan umat, agama, bangsa, dan negara dalam bingkai peradaban Islam yang universal penuh keberkahan.

Dia juga berharap Posdai dapat terus memberikan kontribusi dalam memdukung berbagai kegiatan dakwah di pedalaman, terluar, terpencil, dan minoritas, serta mendukung kiprah para dai mengabdi di berbagai titik.

“Semoga Posdai terus melangkah maju dengan tagline Bersamai Dai Membangun Negeri dalam bingkai peradaban Islam yang kehadirannya untuk seluruh alam dan rahmat bagi semua. Kaffatan linnas rahmatan lil ‘aalamiin,” pungkasnya.

Raker ini dipesertai oleh seluruh pengurus Posdai Pusat. Hadir juga unsur Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Iwan Abdullah dan Anggota Dewan Mudzakarah Ust Akib Junaid sekaligus pengawas Posdai serta Koordinator Grand MBA Ust Muhdi Muhammad.

Pembukaan raker ini juga dihadiri oleh Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I yang juga memberikan pengarahan selaku dewan pembina Posdai.*/Makrifatullah

Menjadi Pribadi Muslim yang Berpendirian Kokoh

PERSENTUHAN antar agama, keyakinan dan pemikiran di era global kini menjadi sesuatu yang tak terhindarkan, tak terkecuali Islam. Sebagai konsekuensi, acapkali terjadi perembesan dan pencampuradukan yang menjadikan warna asli agama, keyakinan maupun pemikiran itu tidak jelas lagi.

Terlebih, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Khaldun, ketika tabiat bangsa yang kalah akan cenderung untuk mengekor bangsa yang dominan dan menang, maka tingkat pengekoran itu pun terkadang mencapai level yang sangat mengkhawatirkan.

Diantara penyakit yang muncul di tengah-tengah kaum muslimin dewasa ini adalah inferioritas, sehingga sering tidak percaya diri untuk berpegang kepada nilai-nilai dan ajaran agamanya sendiri.

Betapa sering kita saksikan sebagian orang yang merasa malu dan kurang modern mengenakan pakaian sebagaimana dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagai ganti, mereka merancang mode tersendiri yang – katanya – lebih sesuai dengan tuntutan zaman, walau sebenarnya hanya penjiplakan dan mengamini tren umat lain.

Jilbab dan pakaian muslim pun dimodifikasi sedemikian rupa, hingga kehilangan ruh aslinya sebagai pakaian yang mencerminkan ibadah dan ketaatan kepada syari’at. Semua menjadi tunduk dibawah “agama” baru yang bernama “selera gaul”.

Ukurannya ketat, bahannya terlalu kurang dibanding ukuran pemakainya, warnanya mencolok, kainnya terlampau tipis, atau modelnya lebih memperlihatkan keinginan untuk pamer. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita memperlihatkan aurat, kecuali di depan muhrim.

Kurikulum pendidikan juga dirancang sedemikian rupa, dengan arah dan tujuan yang sebenarnya tidak bersinggungan dengan misi agamanya, namun lebih mencerminkan tuntutan materialisme dan pragmatisme. Sebagai misal, jam-jam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam diperbesar, namun samasekali tidak ditanamkan kepekaan untuk sekaligus mengingat siapa Sang Pencipta Alam.

Murid-murid disibukkan untuk menghafal nama-nama Isaac Newton, Albert Einstein, Niels Bohr, Ernest Rutherford, dan ratusan penemu lainnya, namun tidak terbetik sedikit pun untuk bertafakkur bahwa semua materi Ilmu Pengetahuan Alam itu sesungguhnya adalah tanda-tanda kekusaan Allah.

Ilmu Pengetahuan Alam telah menjadi bagian alami dari proses melupakan Allah, sehingga gagal menjadi alat untuk berdzikir dan menambah ketaqwaan.

Padahal, Allah berfirman tentang ulul albaab (orang-orang yang berakal):

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 190-191).

Di bidang lain, pernikahan adalah ajaran Nabi, dan melaksanakannya merupakan upaya untuk “menggenapkan agama” dalam diri seorang pemuda, agar ia lebih terkondisikan untuk bertanggung jawab dan tenang dalam menyembah Tuhannya.

Namun, entah mengapa, upacara-upacara pernikahan kini digelar dengan tahap dan prosesi yang mengabaikan syari’at, mulai dari pencarian pasangan, prosesi pelamaran, sampai akad dan pesta yang nyata-nyata tidak memperdulikan agama.

Jauh sebelum ijab-kabul diucap, jutaan pasangan muda-mudi telah “mengawinkan” diri mereka sendiri dalam budaya pacaran yang tak tahu malu; tanpa wali, tanpa mahar, tanpa akad nikah, tanpa walimah, tanpa aturan apapun selain selera-selera nafsunya sendiri.

Pertunangan digelar dengan tukar cincin emas, tetapi kebanyakan orang lupa bahwa seorang pria muslim dilarang keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengenakan cincin emas.

Jam delapan pagi akad nikah digelar dengan diawali melafalkan dua kalimat syahadat di depan penghulu, namun ketika adzan zhuhur, ashar, maghrib, dan isya’ berkumandang, pasangan pengantin tetap dalam riasannya sejak pagi, tidak juga beranjak untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Baru saja syahadat diucapkan, namun tidak lama setelah itu perintah shalat ditinggalkan di depan semua tamu dan undangan!!

Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menekankah kita untuk memiliki pendirian yang mantap dalam beragama, tidak plin-plan dan ikut-ikutan.

Beliau bersabda,

“Janganlah kalian menjadi orang yang tidak punya sikap dan pendirian. (Yakni), kalian berprinsip: ‘jika orang lain baik maka saya pun baik, namun jika mereka berbuat zhalim maka sayapun ikut berbuat zhalim’. Sebaliknya, teguhkan jiwa kalian! Jika orang lain berbuat baik, maka kalian pun berbuat baik. Namun jika mereka berbuat zhalim, maka kalian jangan ikut berbuat zhalim pula.” (Hadits riwayat at-Tirmidzi, dan menurut beliau: hasan-gharib).

Diantara sumber dari semua perasaan rendah diri itu, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas, adalah sikap plin-plan dan tidak konsisten dalam beragama. Kita sekarang menyebutnya dengan sekedar “ikut tren dan mode”, tidak mempunyai sikap dan pendirian yang sebenarnya. Hidupnya bagai nyiur di pantai, akan condong ke arah manapun angin biasa bertiup.

Maka, betapa berbahayanya sikap ini, karena samasekali tidak menjamin kita akan selamat di akhirat nanti, walau di dunia ini memang terkesan lebih nyaman karena tidak harus melawan arus.

Akhirnya, mari memohon kepada Allah, agar Dia memberi taufik kepada hati kita untuk lebih dekat ke jalan-Nya, diteguhkan, dan diberkahi. Amin.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Buka Rakerwil, Mulyono Minta DPW Hidayatullah Sulteng Ciptakan Dai Hebat

PALU (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Hidayatullah Wilayah Sulawesi Tengah berlangsung di Hotel Sentral Jl Monginsidi, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, yang dibuka pada Sabtu, 6 Jumadil Akhir 1443 (8/1/2022).

Kegiatan tersebut dibuka Asisten Administrasi Umum Provinsi Sulawesi Tengah Mulyono mewakili Gubernur Sulteng Rusdy Mastura.

Dalam sambutannya, Mulyono meminta Hidayatullah terus mencetak dai hebat.

“Saya harap DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah sebagai organisasi kemasyarakatan yang berbasis dakwah nasional dapat menerapkan program kerja yang tepat khususnya dalam pembinaan maupun pelatihan para kader dai,” kata Mulyono seperti dilansir Tribun Palu.

Mulyono menambahkan, rapat kerja wilayah bagi setiap organisasi kemasyarakatan penting dilaksanakan setiap tahun. Hal itu, kata dia, sebagai tanggung jawab dalam menggerakkan organisasi.

“Tujuan utama dalam pertemuan ini adalah mengevaluasi kembali program kerja yang sudah terlaksana maupun yang masih tengah berjalan,” bebernya.

Mulyono juga meminta pengurus DPW Hidayatullah Sulteng terus menjaga hubungan dengan pemerintah daerah.

Dia berharap, DPW Hidayatullah Sulteng mendukung tercapainya visi misi pemerintah yakni gerak cepat menuju Sulawesi Tengah lebih sejahtera dan lebih maju

“Melalui dakwah yang berpedoman pada Alquran dalam membangun kehidupan masyarakat yang agamis serta turut terjaga ke kondusifitas dan kenyamanan dalam menjalankan kehidupan beragama masyarakat berbangsa dan bernegara,” jelas Mulyono.*/Alan Sahrir

Tutup Rakerwil DPW Kaltara, Sekprov Sampaikan Pesan Gubernur

MALINAU (Hidayatullah.or.id) – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Kalimantan Utara (Kaltara), Suriansyah mewakili Gubernur Kaltara Zainal A. Paliwang dalam menghadiri Penutupan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kaltara Tahun 2022 di Kampus Pesantren Hidayatullah Malinau, Senin, 8 Jumadil Akhir 1443 (10/01).

“Alhamdulillah, sehubungan dengan selesainya pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Kaltara yang telah berlangsung selama dua hari di Kampus Pondok Pasantren Hidayatullah Malinau, pada hari ini kita dapat berkumpul untuk bersilaturahmi sekaligus menutup secara resmi kegiatan rapat kerja ini,” bukanya membacakan sambutan tertulis Gubernur.

“Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sebagai kampus miniatur peradaban Islam, Hidayatullah telah berperan cukup aktif dan sangat banyak berkontribusi dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan. Saya berharap ke depan peran ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan,” tambah Suriansyah saat menyampaikan sambutan tersebut seperti dikutip dari laman DKISP Kaltara.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Kaltara, Endi Haryono, memaparkan bahwa konsolidasi jati diri melalui penguatan internal, konsolidasi organisasi dengan penguatan koordinasi, dan konsolidasi wawasan merupakan hal penting yang bertujuan untuk mewujudkan standarisasi, sentralisasi, dan integrasi sistem.

“Harapan kami ke depan, setelah rakerwil ini program Hidayatullah bisa lebih berkembang, baik dari segi pendidikan, dakwah, maupun sosial. Track record selama tahun 2021 sudah cukup bagus, semoga di tahun 2022 bisa lebih meningkat setelah adanya kegiatan ini,” ungkapnya.

“Selain itu, melalui hadirnya Bapak Sekprov mewakili Bapak Gubernur dapat menjadi tanda bahwa Pemerintah Provinsi Kaltara memberikan dukungan terhadap program yang dilakukan oleh Hidayatullah se-Kaltara. Ini karena program-program Hidayatullah se-Kaltara itu juga selaras dengan program pemerintah,” pungkas Endi.*/

Awalnya Dianggap Sepele lalu Terjerumus Lebih dalam ke Kubangan Dosa Maksiat

ADALAH kecenderungan diantara teman-teman dekat untuk saling berbagi, curhat dan mengungkap kegembiraan maupun kesedihan yang dialaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga senang berbincang-bincang dengan para sahabatnya, mengajari mereka dan meluruskan apa yang mungkin keliru.

Namun, terkadang kita suka lupa untuk menyisakan sebagian dari diri kita sebagai rahasia pribadi yang tidak boleh diungkapkan kepada orang lain. Kita membagi semuanya, apa saja, besar atau kecil, hingga masalah yang paling tertutup dan privat. Salah satu hal yang dilarang keras untuk dibongkar kepada orang lain adalah masalah hubungan suami istri.

Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha bercerita:

“Suatu kali, kami tengah berada bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada laki-laki dan perempuan disana. Beliau bersabda: ‘Sepertinya, ada seorang laki-laki yang suka menceritakan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya (maksudnya, menceritakan hubungan suami istri). Atau, boleh jadi juga ada seorang perempuan yang suka menceritakan apa yang terjadi antara dia dengan suaminya.’ Maka, orang-orang (yang hadir) pun menjadi gaduh. Saya berkata: ‘Benar, wahai Rasulullah. Sungguh mereka (laki-laki) suka melakukannya, dan mereka (wanita) juga suka melakukannya’. Beliau bersabda: ‘Jangan lakukan itu! Sebab, itu sama seperti setan jantan yang berjumpa dengan setan betina di tengah jalan, lalu ia menyetubuhinya, sementara semua orang menontonnya.’” [Hadits riwayat ath-Thabrani dan al-Bazzar. Menurut al-Haitsami, ini hadits hasan, walau ada kelemahan pada salah seorang perawinya]

Menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kegemaran menceritakan kisah-kisah asmara privat seperti itu dapat diumpamakan dengan tindakan setan yang menyetubuhi lawan jenisnya di tengah jalan, di depan mata semua orang yang menonton dan menyaksikan aksinya. Inilah gaya hidup setan, yang tidak punya rasa malu dan tanpa pedoman moral. Yang ada hanyalah dorongan nafsu dan keinginan untuk memuaskannya segera, saat itu juga.

Sekarang, marilah kita menengok masyarakat di sekitar kita. Tidakkah kita menyaksikan fenomena yang lebih dahsyat dari ini? Anak-anak muda, lelaki dan perempuan, mengumbar nafsunya di tepi-tepi jalan yang remang-remang, di media sosial internet, di alun-alun kota, di taman-taman umum, di warung dan kafe?

Mereka melakukannya tanpa merasa risih oleh lalu-lalangnya orang, tidak juga malu oleh tatapan mata siapa saja. Gaya hidup siapakah yang mereka tiru? Apakah Nabi dan para sahabatnya berbuat seperti ini?

Sungguh, jika “sekedar” menceritakan kisah hubungan suami istri saja sudah dianggap sebagai peniruan terhadap gaya hidup setan, lalu bagaimana jika tindakan memadu asmara itu benar-benar dilakukan di jalan-jalan dan area publik? Bagaimana pula jika semua adegan itu difilmkan dan diobral melalui internet, televisi, handphone, VCD, bioskop, atau media lainnya?

Inilah saat-saat peran setan semakin nyata, pada saat semua orang ditipu dengan film-film horor yang mengesankan setan sebagai hantu-hantu gentayangan belaka.

Film-film itu menampilkan setan yang jauh, karena berada di tempat-tempat seram dan mudah dihindari. Semua orang dikaburkan pada satu kenyataan, bahwa sesungguhnya setan bisa mengalir dalam diri kita seperti aliran darah.

Ia tidak ada di kuburan seram, rumah sakit mangkrak, pohon besar, kamar nomor 13, atau pulau tak berpenghuni. Sebab, ia justru ada di dalam diri kita sendiri. Dari sanalah ia menggoda dan mengendalikan segala pikiran, perasaan, perkataan dan tindakan kita, lalu ia menjadikan kita sebagai budaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya setan itu mampu mencapai (tempat-tempat) dalam diri manusia, seperti kemampuan yang dicapai oleh aliran darahnya.” [Hadits riwayat al-Bukhari]

Kecenderungan untuk permisif pada standar moral dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, juga dalam bergosip-ria diantara para sahabat dekat, termasuk kisah-kisah selebritis yang dijual oleh media dan produk-produk cabul yang dibuat dengan dalih seni, pada kenyataannya adalah bagian dari kampanye gaya hidup setan ini.

Kita semakin dibiasakan untuk mendengar kisah rahasia dalam kamar orang lain. Kita pun dididik untuk merasa nikmat dan enjoy saja memandangi gambar-gambar minim di internet maupun televisi, baliho-baliho iklan di sepanjang jalan, juga kemasan sabun mandi, shampoo, produk kecantikan dan segala kebutuhan lain yang kita beli.

Lebih mengerikan adalah, ketika kita dibuat untuk merasa “normal” menyaksikan pasangan-pasangan muda-mudi mengumbar syahwatnya di taman-taman, kafe, pinggiran jalan, alun-alun kota, dan lain sebagainya. Gaya hidup siapakah ini jika bukan gaya hidup setan yang telah berhasil ditransformasikan menjadi gaya hidup manusia?

Di penghujung hidupnya, yakni dalam kesempatan Haji Wada’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di depan umatnya, dimana diantaranya isinya adalah, “Ingatlah, sesungguhnya setan telah putus harapannya untuk bisa disembah lagi di negeri kalian ini untuk selama-lamanya. Akan tetapi, akan terjadi ketaatan kepadanya dalam amal-amal yang kalian anggap remeh, dan ia sudah akan merasa puas dengan hal itu.” [Hadits riwayat at-Tirmidzi, dan menurut beliau: hasan-shahih].

Demikianlah, setan sudah merasa puas jika kita menaatinya dalam amal-amal yang kita anggap kecil dan remeh. Pelan-pelan setan membuat kita terbiasa dengan kemaksiatan, sehingga akhirnya kita menganggapnya remeh dan “normal”.

Bukankah kini banyak tindakan mesum terpapar dimana-mana tanpa dianggap aneh lagi, dan bahkan pelakunya pun tidak lagi merasa risih dan malu, dan menganggapnya sebagai pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan dan minum saja? Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Ust. M. Alimin Mukhtar

Dampingi Rakerwil Maluku Utara, Wahyu Rahman Dorong Optimalisasi

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Bidang Perekonomian, Drs Wahyu Rahman, MM, dampingi penyelenggaraan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Maluku Utara yang berlangsung selama 3 hari, 7-9 Januari 2022 di Kampus Hidayatullah Ternate.

Dalam arahannya, Wahyu Rahman mendorong penguatan peran dan khidmat keumatan Hidayatullah di kawasan itu.

“Tujuan rakerwil ini agar seluruh DPD, amal dan badan usaha, orpen, serta setiap pribadi kader Hidayatullah baik struktural maupun kultural mampu meningkatkan wawasan, kualitas, dan kinerjanya secara optimal,” katanya.

Wahyu Rahman menekankan bahwa ujung dari semua program dan kegiatan yang dilakukan adalah dalam rangka untuk meraih keridhaan Allah SWT.

“Hanya keridhaan dan keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala yang kita harapkan,” imbuhnya.

Seiringan dengan itu, Wahyu Rahman juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dan soliditas jamaah. Tidak hanya itu, ia pula mendorong untuk dilakukannya sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun elemen umat lainnya.

“Pekerjaan membangun umat dan bangsa ini pekerjaan berat yang tidak mungkin kita pikul sendiri. Oleh karena itu harus ada kolaborasi,” tandasnya.

Dalam kesempatan pembukaan acara tersebut, hadir Wali Kota Tidore Kepulauan Capt Ali Ibrahim yang membuka acara Rakerwil Hidayatullah Malut ini. Ia sekaligus didaulat sebagai Penasehat Dai Hidayatullah Maluku Utara.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate Ust Saleh Sukur mengatakan pengangkatan Wali Kota Tidore Kepulauan sebagai Dewan Penasehat Dai Hidayatullah Maluku Utara menandakan Capt Ali Ibrahim sebagai warga Hidayatullah.

“Sorban yang dikalungkan tadi menandakan bahwa Pak Wali resmi menjadi Penasehat Dai Hidayatullah Maluku Utara dan warga kehormatan Hidayatullah,” kata Saleh.

Berpidato membuka acara tersebut, Capt Ali Ibrahim menyambut gembira didapuknya dirinya sebagai penasehat dan warga Hidayatullah.

Wali Kota berharap Hidayatullah terus dalam jatidirinya yang berkhidmat secara luas dalam berbagai sektor kehidupan terutama di bidang dakwah pengembangan umat dan pendidikan yang berkualitas.

“Maju terus Hidayatullah untuk umat, bangsa, negara, dan dunia secara luas,” pesannya.

Ali Ibrahim mengingatkan betapa pentingnya bagi seluruh pengurus wilayah, pengurus daerah, kader, dan jamaah untuk memahami kembali visi, misi dan jati diri agar seluruh komponen Hidayatullah fokus dalam meneguhkan Gerakan Nawafil Hidayatullah.

Rakerwil diikuti 70 orang terdiri dari pendamping dari Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, Organisasi Pendukung Pemuda dan Mushida serta Amal Usaha tingkat Wilayah.*/Arif Ismail Hanafi

Berkhidmat untuk Umat dengan Perencanaan yang Baik dan Ahsanu Amala

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Ust. H. Hamim Thohari, menyampaikan bahwa berkhidmat untuk umat berarti mengabdi di jalan Allah SWT untuk menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan sebagaimana tujuan Islam hadir sebagai rahmat untuk seluruh alam (kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamin).

Oleh karena itu, ia berpesan, setiap program dan langkah dalam khidmat tersebut haruslah dengan perencanaan yang baik agar menghasilkan kinerja terbaik pula serta diiringi dengan penuh dedikasi, yang disebutnya sebagai “ahsanu amala” sebagaimana arahan Al Qur’an.

“Yang dituntut dari kita adalah bekerja maksimal, yang prestatif, yang berkualitas, yang ahsanu amala. Bukan banyaknya bekerja tetapi asal asalan,” kata Ust. H. Hamim Thohari dalam Rapat Kerja Kampus Utama Hidayatullah Medan, Sumatera Utara, bertajuk “Optimalisasi Layanan Menuju Sukses Gerakan Mainstream”, Senin, 8 Jumadil Akhir 1443 (10/1/2021).

Beliau lantas menukil firman Allah SWT dalam kitab suci Al Qur’an surah Al Mulk (67) ayat 2 yang artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”.

Dalam arahannya tersebut, Ust Hamim Thohari yang juga ketua pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan, berharap dengan Raker ini program dapat dijalankan lebih sistematis, bekerja dengan perencanaan dengan baik, terukur, dan tidak asal bekerja.

“Dengan perencanaan yang baik maka pekerjaan kita bisa dikontrol, bisa dievaluasi. Bekerja tanpa perencaan adalah ngawur bahkan bisa jadi tidak akan menghasilkan apa apa,” imbuhnya.

Ia berpesan bahwasanya pengurus yayasan itu bukan “bos” tetapi pelayan yang melayani santri, wali santri, warga dan masyarakat sekitar.

“Ketika semua yang dilayani merasa puas, maka disitulah kesuksesan pengurus. Dengan kata lain ukuran kesuksesan pengurus adalah ketika semua merasakan kepuasan,” tukasnya.

Oleh karena pengurus itu adalah pelayan, terangnya, maka selayaknya pengurus itu harus berupaya bertawadhu’ yang merendahkan diri di hadapan Allah dan menanamkan mindset bahwa biarlah Allah Ta’ala saja yang menilai prestasi kita.

“Jangan merasa puas dengan pekerjaan yang sudah kita lakukan. Tetapi kita harus terus untuk mengangkat tugas tugas baru, mengangkat beban tugas berikutnya untuk meningkatkan layanan kita,” pesannya seraya menyitat QS. Al-Insyirah [94]: 7.

“Setelah kita berusaha dan bekerja secara maksimal, kemudian kita merasakan tidak sanggup, terseok seok, barulah kita serahkan kepada Allah SWT,” pungkas Ust Hamim yang ditutup dengan ayat Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَا عْفُ عَنَّا ۗ وَا غْفِرْ لَنَا ۗ وَا رْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”*/Khairul Anam

Riang Gembira Pembelajaran Tatap Muka Perdana SD Integral Hidayatullah Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — SD Integral Hidayatullah Depok mulai melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara sekemuka atau offline yang dimulai hari ini ditandai dengan Apel Pengibaran Bendera Merah Putih di halaman sekolah dan diikuti dengan riang gembira para murid, Senin, 8 Jumadil Akhir 1443 (10/1/2021).

Kepsek SD Integral Hidayatullah Depok, Ustadz Triyono, SE, M.Pd, yang langsung membersamai anak didiknya selaku Pemimpin Upacara, hadir menyapa dengan hangat anak-anaknya setelah kurang lebih 2 tahun tak bersua dalam suasana serupa apel hari ini.

Selain menyapa, Kepsek juga berpesan kepada anak-anaknya untuk selalu menjaga kebersihan, peduli terhadap kesehatan, memperhatikan ibadah dan kegiatan belajar di sekolah maupun di rumah serta tidak lupa selalu bersyukur.

“Kita harus selalu bersyukur dengan memanfaatkan kesempatan baik ini untuk belajar dengan sungguh sungguh,” kata Ustadz Triyono.

Tidak lupa, Ustadz Triyono juga berpesan kepada anak-anaknya untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan apalagi saat ini muncul lagi varian pandemi baru bernama omicron.

Oleh karena itu, ia mendorong anak-anaknya untuk tetap merutinkan cuci tangan, pakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Anak anak semua harus tetap selalu menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan dalam rangka menekan pandemi,” katanya.

Apel yang digelar di halaman SD Integral Hidayatullah Depok ini dirasa sangat istimewa lantaran menjadi hari pertama masuk sekolah di Tahun 2022. Anak anak tampak girang dan riang gembira.

“Setelah hampir dua tahun kegiatan apel offline ditiadakan karena pandemi, Alhamdulillah atas izin Allah dapat dilakasanakan kembali tentunya dengan penerapan protokol yang telah ditetapkan,” kata Ustadz Triyono.

Apel luring perdana ini dihadiri seluruh warga sekolah dengan harapan meningkatkan semangat belajar dan meningkatkan rasa syukur atas nikamat yang Allah berikan kepada kita semua, diantaranya nikmat kondisi pandemik yang semakin melandai turun sehingga diharapkan pembelajaran sekemuka dapat kembali digelar di sekolah tanpa ada hambatan.

Adapun kegiatan pekan pertama masuk sekolah ini adalah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan MPA (Masa Penanaman Adab). Murid dan seluruh warga sekolah kembali mereview adab adab yang ada di lingkungan sekolah, adab guru, adab murid, adab warga sekolah terhadap lingkungan hidup atau bahkan adab terhadap lingkungan sekitar seperti pada tanaman, hewan, bangunan, pohon, jalan, dan lain sebagainya.

“Harapannya, dengan penguatan MPLS dan MPA, akan tercipta suatu lingkungan belajar yang beradab yang akan membentuk akhlaqul karimah bagi murid murid dan seluruh warga sekolah,” pungkas Ustadz Triyono.

Rangaian acara apel hari ini berlangsung penuh keceriaan dengan ditingkahi sinar matahari pagi bersinar cerah yang menerpa wajah anak anak tercinta.

Dalam apel dilantunkan dengan syahdu lagu Indonesia Raya, pembacaan ikrar yang diikuti oleh seluruh murid, pembacaan Al Quran dikuti oleh seluruh murid, pembacaan hadits, menyimak taushiah Pembina Apel yang kemudian ditutup dengan doa dan pengumuman

Adapun murid yang berhalangan datang langsung ke sekolah karena sakit atau karena sesuatu dan lain hal yang tak dimungkinkan hadir secara langsung, pihak sekolah menyediakan fasilitas saluran online Zoom Meeting yang tetap menjaga kualitas dan khidmat suasana pembelajaran format hybrid ini.*/Ain

Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Barat di Pasangkayu Berlangsung Sukses

PASANGKAYU (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat berlangsung pada 7-9 Januari 2022 bertempat di Hotel Multazam Kab. Pasangkayu berlangsung sukses.

Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat menghadirkan peserta antara lain; unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), seluruh Pengurus Harian DPD Hidayatullah se-Sulawesi Barat, , Organisasi Pendukung, Amal Usaha dan Badan Usaha Tingkat Wilayah.

Mewakili unsur DPP adalah Ketua Bidang Tarbiyah Ustadz Ir. Abu A’la Abdullah, M.H.I. Sementara dari Dewan Pengurus Wilayah hadir semua, kecuali Ketua Departemen Pendidikan Ustadz Herman DJ, S.Sos.I. karena berhalangan syar’i. Dari DMW hadir seluruhnya 3( orang, kemudian Pengurus Harian DPD Hidayatullah se-Sulawesi Barat, kecuali Mamasa yang hanya menghadirkan sekretarisnya.

Organisasi Pendukung (Orpen) menghadirkan 2(dua) orang Majelis Murabbiyah Wilayah, 3 orang Pengurus Wilayah Mushida serta 1 orang Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah. Dari Amal Usaha hadir Pengurus Harian Kampus Madya Yayasan Pendidikan Cerdas Mandiri (YPCM) Hidayatullah Mamuju, kemudian BMH Perwakilan Sulawesi Barat. Sementara Amal Usaha lainnya seperti Pos Da’i, SAR masing-masing menghadirkan 1 orang wakilnya.

“Pelaksanaan Rakerwil ini adalah merupakan bagian dari pelaksanaan Rakernas yang berlangsung di Jakarta 9 – 11 Desember 2021 lalu. Termasuk pelaksanaan Rakerwil ini adalah hasil breakdown dari Rakernas tersebut. Jadi tidak ada program yang baru apalagi membuat program yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan mainstream pergerakan Hidayatullah yaitu Tarbiyah dan Dakwah.” Sebut Ketua Pengarah Ustadz Drs. Massiara sekaligus Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Barat.

Dalam manual acara Rakerwil tertulis selain presentasi para pengurus DPW, juga memberikan kesempatan kepada DMW untuk memberikan presentasi progres dan evaluasi programnya, termasuk juga seluruh Organisasi Pendukung, Amal Usaha dan Badan Usaha Tingkat Wilayah.

Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat bertempat di Hotel Multazam Pasangkayu. Ibu Muslihat Kamaluddin, S.Sos.,M.A.P. sebagai pemilik hotel mengatakan bahwa kalau Hidayatullah yang pakai kami gratiskan.

“Selama ini setiap kegiatan Hidayatullah yang bertempat di hotel kami gratiskan, dan akan gratiskan selamanya. Dengan dipakainya hotel saya ini adalah rejeki dan berkah tersendiri yang saya nikmati bersama keluarga.” dalam sapaannya kepada peserta Rakerwil pada sesi pembukaan sambil berkaca-kaca.

Ketika awak hidayatullahsulbar.com bertanya sudah berapa kali teman-teman Hidayatullah memakainya. Beliau menjawab saya tidak pernah menghitungnya. “Saya sudah berpesan kepada keluarga, jika besok-besok saya sudah meninggal, maka Hidayatullah tetap gratis menggunakan hotel.” Sambungnya.

Dalam pembukaan Rakerwil hadir beberapa pejabat dan tokoh masyarakat serta para senior Hidayatullah yang berdomisil di Kab. Pasangkayu dan sekitarnya, antara lain; Kepala Bagian Kesra yang mewakili Bupati Pasangkayu Murfin Djamaluddin S.P.d.I sekaligus membuka Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Barat, Kepala Kementerian Agama Pasangkayu Ustadz DR. H. Syamsuhri Halim, M.Pd. serta owner Hotel Multazam.

Pejabat dan Tokoh yang menghadiri Pembukaan Rakerwil Hidayatullah Sulbar yang berlangsung di Hotel Multazam Pasangkayu, antara lain Kabag Kesra Pasangkayu mewakili Bupati, Kepala Kemenag Pasangkayu dan yang mewakili Kapolres Pasangkayu.

Ustadz Dr. H. Syamsuhri Halim, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan bahwa beliau sudah lama kenal Hidayatullah lewat perintis Hidayatullah Makassar seperti Ustadz Aziz Qahhar, Ustadz Khairil Baits, Ustadz Sumadiana, Ustadz Tasyrif dan lain-lain.

“Hidayatullah saya rasa dan saya doakan menjadi lokomotif dari gerakan agama. Kalau tidak mau sibuk sebagai struktural jangan keluar, tapi istiqamah jadi gerbong.” Harapnya.

“Mari bangun moderasi umat beragama, jangan pakai jurus mabuk salahkan kiri kanan. Fokuslah pada program. Hidayatullah adalah penyangga NKRI dan Insya Allah bisa diterima oleh seluruh masyarakat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat Ustadz Drs. Mardhatillah menyampaikan beberapa hal, antara lain terkait progres Hidayatullah di Indonesia dan dunia, terkhusus perkembangan Hidayatullah di Sulawesi Barat dan Kab. Pasangkayu.

“Hadirnya Hidayatullah di beberapa kecamatan adalah mengangkat program pendidikan berbasis tauhid atas banyaknya perubahan moral dan perilaku yang menyimpang. Kalau generasinya rusak pasti negara ikut rusak, sehingga Hidayatullah dalam hal ini memberikan solusi yaitu mendirikan lembaga pendidikan formal baik yang fullday maupun boarding.”

“Ditambah lagi hadirnya Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) juga sebagai solusi untuk pengajaran qur’an yang sepanjang tahun 2021 kemarin kita sudah mendirikan RQH tidak kurang dari 20 RQH.” Tambahnya.

“Dari sisi dakwah, Hidayatullah juga mengambil peran mencerahkan di masyarakat atas dasar menyatukan dan motto Pasangkayu SMART sejahtera, mandiri, maju dan bermartabat sejalan dengan tujuan Hidayatullah.” Pungkasnya.

Dalam moment pembukaan, Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat memberikan Piagam Penghargaan kepada 3(tiga) DPD yang berprestasi. Anatara lain adalah DPD Pasangkayu sebagai DPD yang terbanyak ekspansi jaringan DPC, DPD Polewali Mandar yang terbanyak mendirikan RQH dengan pendekatan administrasi dan manajemen yang terstandar serta DPD Mamuju yang paling aktif dan intens halaqahnya.

Selain itu, DPW Hidayatullah Sulawesi Barat juga memberikan cenderamata kepada Bupati Pasangkayu H. Yaumil Ambo Djiwa, S.H. dan kepada pemilik Hotel Multazam Ibu Muslihat Kamaluddin, S.Sos., M.A.P.

Di sela-sela pelaksanaan Rakerwil, juga ada tausiah dan pencerahan dari DMW serta Ketua Bidang Tarbiyah Ustadz Ir Abu A’la Abdullah, M.H.I. */

Sumber: Hidayatullahsulbar.com