Beranda blog Halaman 378

Luncurkan Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an di Natuna

NATUNA (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan BMH Kepri sebagai lembaga amil zakat nasional yang amanat operasionalnya meliputi seluruh kabupaten/kota se Kepulauan Riau semakin dirasakan oleh masyarakat, termasuk di pulau terluar Indonesia, kabupaten Natuna.

Pada Sabtu, 26 Februari 2022, BMH Kepri melakukan peluncuran Pondok Tahfidz Al Qur’an sebagai bagian dari proyek pendirian pesantren di atas lahan seluas 6 hektar yang merupakan wakaf dari seorang dermawan.

Bupati Natuna Wan Siswandi , S. Sos., M. Si, yang dijadwalkan meresmikan tidak dapat hadir sehingga diwakili oleh Asisten I bidang Kesra, H. Khaidir, SE. Acara di gelar di Jalan Hang Tuah, Air Lakon, Kelurahan Batu Hitam, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna.

Kehadiran Pondok Tahfidz Al Qur’an ini merupakan bagian dari program unggulan dan prioritas BMH Kepri mengingat letak strategis kabupaten Natuna yang juga merupakan ujung tombak maritim Indonesia karena secara geografis berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Menurut General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, pihaknya terpanggil memberikan dukungan dan perhatian secara khusus untuk gerakan tarbiyah dan dakwah serta kemanusiaan di Natuna karena secara tidak langsung ada peran patriotik yaitu sebagai upaya menjaga keutuhan NKRI melalui pembinaan terhadap generasi muda. Untuk tahap awal, BMH Kepri telah menyalurkan dana sekira Rp 200.000,000 (dua ratus juta rupiah).

“Pendirian Pondok Tahfidz Al Qur’an di Natuna sangat penting untuk diwujudkan karena masih minimnya wadah pendidikan yang berbasis agama seperti pondok tahfidz Al Qur’an, salah satu penyebabnya karena letak geografis yang berada di garis terluar NKRI,” tutur Abdul Aziz.

Untuk mewujudkan harapan itu, BMH Kepri bersinergi dengan DPW dan DPD Hidayatullah Natuna sebagai pengelola. Tah Huwandilah menuturkan dirinya bersama para pengurus dengan dukungan BMH Kepri bertekad mencetak hafidz-hafidz Al Qur’an dari Kabupaten Natuna.

Saat ini, imbuhnya, selain Pondok Tahfidz Qur’an yang ada di Ibu kota Kabupaten, di Kecamatan Batubi juga sudah kita bentuk Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), ke depannya insya Allah tiap kecamatan akan kita hadirkan Rumah Quran Hidayatullah.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH Kepri dan para donatur serta semua pihak yang telah memberikan dukungan atas pendirian Pondok Tahfidz Al Quran ini,” tutur putra asli Natuna ini sumringah.

Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah, yang turut hadir dalam peresmian menyampaikan bahwa kehadiran pondok tahfidz al Qur’an merupakan wujud keseriusan BMH Kepri yang bersinergi dengan DPW dan DPD Hidayatullah Kepri dalam memberikan pelayanan kepada ummat melalui gerakan tarbiyah dan dakwah.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Natuna, melalui H. Khaidir menyampaikan dukungan atas launching Pondok Rumah Tahfidz Al Qur’an Hidayatullah di Natuna.

”Saat ini di Natuna masih minim sekolah-sekolah atau wadah pembelajaran Qur’an seperti Ponpes Tahfidz Qur’an ini, untuk itu kami selaku pemerintah daerah akan mendukung penuh berdirinya Ponpes ini. ” ujar Khaidir.

Pemkab Natuna menurut H. Khaidir tahun ini akan meresmikan empat Ponpes yang ada di Natuna. Hal ini sejalan dengan visi dan misi bupati Natuna yang di antaranya meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di Natuna.*/Mujahid M. Salbu

Rejuvinasi Jembatan Kaum Tua dan Muda

ISTILAH kaum tua dan kaum muda adalah terminologi yang tidak terpisahkan dengan perkembangan Islam dari awal. Muhammad yang diangkat menjadi Nabi pada usia 40 dengan membawa risalah Islam untuk perubahan tatanan masyarakat jahiliyah menuju Tauhid dianggap sebagai golongan muda yang mengancam eksistensi dari kaum tua. Yaitu para pembesar Makkah Quraisy yang tidak lain paman-paman Nabi Muhammad sendiri.

Kalau di awal Islam bukan hanya pertentangan usia tapi ada perbedaan yang fundamental adalah perbedaan keyakinan dan statuq quo dari kaum tua yang tidak mau menerima risalah Islam. Mereka merasa terancam kedudukan dan pengaruhnya jika menerima risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Ada gengsi dari kaum tua yang selalu mengandalkan ajaran peninggalan nenek moyang yang tidak jelas landasan dan dalilnya.

Dalam kancah perpolitikan dunia dan bangsa ini juga senantiasa ada dinamika kaum tua dan muda. Jika suatu bangsa atau partai politik tidak mempersiapkan rejuvinasi sebagai jembatan kaum tua dan kaum muda maka bisa menjadi bumerang yang meruntuhkan bangsa atau partai politik itu sendiri.

Paradigma menjadi hal yang harus disamakan agar kaum tua dan kaum muda tidak dalam garis dikotomi yang tajam bertentangan. Ini adalah dua kelompok yang harus sinergi dalam membangun kekuatan untuk kemajuan bangsa dan masyarakat secara umum dan organisasi secara khusus.

Kaum tua pada waktunya akan berakhir atau mengakhiri hidupnya sehingga perjalanan tugas harus ada regenerasi kepada kaum muda. Namun terkadang kaum tua masih kurang percaya dengan kemampuan kaum muda terkait pengalaman, skill, wawasan dan konsistensinya. Sehingga ada kekhawatiran jika mempercayakan tugas kepada kaum muda.

Sementara kaum muda dengan segala gagasan, ide, kemampuan dan semangatnya terkadang kurang sabar untuk mengambil alih tugas kaum tua yang dianggap lambat, stagnan dan statuq quo. Kaum muda ini punya semangat yang menyala-nyala dan kekuatan yang masih power full.

Inilah dua titik yang harus dipertemukan antara kaum tua dan kaum muda. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut maka perjalanan bangsa atau organisasi tidak produktif dan tidak bisa berkembang secara ekspansif karena disibukan dengan masalah internal sendiri dan perpecahan antara kaum tua dan muda yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Paradigma pertama yang harus disamakan bahwa perjalanan bangsa atau organisasi adalah bergenerasi. Artinya untuk kepentingan jangka panjang bukan untuk satu generasi saja, juga bukan untuk generasi oligarki bagi keluarga dan kroninya saja.

Jika paradigma ini bisa dipahami bersama maka kaum tua tugas utamanya adalah mempersiapkan generasi kaum muda untuk dibekali dengan prinsip-prinsip dan jati diri bangsa atau organisasi. Agar tidak ada kesenjangan pemahaman dan idealisme.

Selain tugas di atas, kaum tua juga harus tetap menjaga sikap mengayomi dan memberikan keteladanan yang baik sebagai bentuk transformasi kepada generasi muda. Dengan bekal kenyang pengalaman dan pengetahuan yang banyak, maka akan menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda pelanjut.

Selanjutnya harus ada kesadaran bahwa perjalanan kaum tua cepat atau lambat akan berakhir sebagaimana generasi-generasi sebelumnya. Sehingga kewajiban alih konsepsi sangat penting bagi orang tua kepada generasi muda.

Kemudian kaum muda juga harus mempersiapkan diri untuk menyerap sebaik mungkin dan sebanyak-banyaknya terhadap nilai-nilai dasar bangsa dan organisasi sehingga ada kepercayaan dari kaum tua bahwa kaum muda sudah dianggap siap.

Rasa hormat dan menjunjung kepatuhan kepada kaum tua juga harus senantiasa dijaga sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya. Tanpa peran dan pengorbanan mereka, maka kaum muda tidak menikmati perkembangan bangsa atau organisasi ini.

Kaum muda harus lebih sabar dan memahami perjalanan bangsa atau organisasi ini tidak mudah. Cepat atau lambat estafeta kepemimpinan akan diberikan kepada kaum muda, sehingga mempersiapkan diri dengan kompetensi dan komitmen yang minimal sama dengan kaum tua yang telah memberikan pondasi kuat dan banyak karya diberikan.

Rejuvinasi atau regenerasi adalah sesuatu yang pasti harus dilakukan tapi tidak bisa dilakukan secara frontal atau hitam putih. Rejuvinasi itu dengan bertahap dan perlu waktu panjang.

Menjembatani kesenjangan pengalaman, pengetahuan, skill dan idealisme antara kaum tua dan muda harus senantiasa dilakukan sejak dini dengan berbagai kegiatan transformasi dan pendampingan dalam berbagai event.

Ust. Abdul Ghaffar Hadi

BMH Kepri Sambangi Kampung Muallaf di Pelosok Kampung Setengar

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Dinamika kebaikan tanpa batas BMH Kepri kali ini menyasar salah satu kampung muallaf di wilayah pelosok Batam. Sebuah daerah bernama Kampung Setengar yang nyaris luput dari perhatian karena secara geografis sulit dijangkau.

Kampung Setengar yang berpenduduk sekira 15 KK atau 80 jiwa ini, masih nihil fasilitas seperti listrik, air bersih, sarana pendidikan dan fasilitas ibadah seperti mushollah.

Kunjungan BMH Kepri yang dipimpin langsung General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, pada Jumat, 25/02 2022, selain melakukan survey untuk pengadaan berbagai fasilitas secara bertahap, juga membawa bantuan sembako berupa beras, telur, dan kebutuhan pokok lainnya.

Kebahagiaan terpancar di wajah warga yang menyeruak dari rumah-rumah sederhana menyambut kedatangan rombongan BMH. Kegembiraan ada saudara sesama muslim yang menjenguk mereka.

Perjamuan yang berlangsung di tepi laut di bawah pohon yang rindang ditingkahi angin yang berembus lembut dimanfaatkan oleh warga untuk menyampaikan harapan-harapannya.

“Kami sangat bahagia ada yang datang dan mau membangun sumur bor, karena sudah puluhan tahun kami kesulitan air bersih,” tutur Mak Emin bersemangat.

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus ke pulau kosong yang terletak tidak jauh dari kampung Setengar, kerap kali ibu-ibu yang harus mendayung sampan, menurut cerita mereka, kadang tengah malam mereka harus mencari air, jika ada kebutuhan mendesak.

Selain sulitnya sumur bor, ketua RT setempat, Awang Ahad juga menyampaikan kebutuhan sarana ibadah berupa mushollah, karena empat tahun silam pernah dibangun, namun, kondisinya sekarang sudah hampir runtuh.

“Kami sangat membutuhkan mushollah dan sarana belajar membaca al Qur’an untuk anak-anak, karena selama ini mereka belum pernah mendapat bimbingan membaca al Qur’an, padahal anak-anak kami inilah yang akan meneruskan keberadaan kami di kampung ini,” harap Awang Ahad.

Abdul Aziz merespon harpaan itu dengan langsung melaunching pembangunan sumur bor dan mushollah yang ditargetkan selesai sebelum ramadhan, tentu dengan dukungan para donatur dan muhsini serta kaum muslimin pada umumnya.*/Mujahid M. Salbu

Dikdasmen DPP Hidayatullah Tekankan Standardisasi dan Ekspansi Sekolah

PASER (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah kembali menguatkan dua program utama Pendidikan Hidayatullah, yakni standardisasi dan ekspansi sekolah Hidayatullah.

Penguatan itu disampaikan kepada peserta Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Pendidikan Hidayatullah Kalimantan Timur, Sabtu, 14 Rajab 1443H (26/02/2022).

Khusus program utama ekspansi, Nanang Noer Patria, Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah yang hadir secara daring, menegaskan bahwa ekspansi pendidikan adalah panggilan sekaligus bukti keimanan seorang Muslim untuk menyebarkan nilai-nilai pendidikan tauhid ke seluruh masyarakat.

Menurut Nanang, sekurangnya ada tiga alasan mengapa ekspansi sekolah Hidayatullah mutlak dilaksanakan.

“Pertama, ini terkait jumlah sekolah yang dianggap belum masif secara peta pendidikan. Kedua, merupakan hasil kesepakatan Rakornas Pendidikan Hidayatullah. Ketiga, paling utama sebagai program mainstream gerakan Hidayatullah, yakni tarbiyah dan dakwah,” ucap Nanang seperti dilansir laman Ummulqurahidayatullah.

Menurut penulis buku “Rekonstruksi Sekolah” ini, para guru dan manajemen sekolah tidak boleh merasa nyaman dengan kondisi sekolah atau pendidikan yang dikelola sekarang.

Sebaliknya, kata dia, penyelenggara harus memiliki rasa tanggung jawab besar, bahwa Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai model sekolah Hidayatullah ini harus dinikmati seluas-luasnya oleh masyarakat dengan visi rahmatan lil alamin.

“Harus ada rasa terdesak atau a sense of urgency dalam diri setiap guru. Tapi itu saja tidak cukup kalau tak disertai dengan visi dan strategi yang jitu. Termasuk menentukan tim penggerak yang mengkomunikasikan visi ekspansi sekolah,” terangnya.

Untuk diketahui, Rakorwil Pendidikan Hidayatullah mengangkat tema besar “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.

Khusus di Kalimantan Timur, acara tahunan ini diadakan di Kampus Pratama Batu Sopang, Kabupaten Paser. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta, terdiri dari para kepala sekolah dan penanggung jawab pendidikan di seluruh daerah Kalimantan Timur.

Selain agenda sosialisasi sejumlah program kerja pendidikan DPW Kalimantan Timur, juga diadakan pengukuhan Pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Hidayatullah Kalimantan Timur serta penetapan Pimpinan Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah Tingkat Daerah Kalimantan Timur Masa Bakti 2021-2025.

“Alhamdulillah, ini momentum memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik kepada masyarakat Kalimantan Timur. Apalagi sekolah di Bontang juga ditetapkan secara resmi sebagai sekolah model oleh Dikdasmen DPP,” ucap Ustadz Muhammad Ya’rif, Ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kaltim.

“Mohon doanya selalu,” pungkas lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan tersebut.* (Masykur/MCU)

Rakorwil Pendidikan Jatim Siap Turut Kuatkan Kualitas Pendidikan Nasional

0

SITUBONDO (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan (Depdik) Wilayah Hidayatullah Jawa Timur berkomitmen untuk terus menguatkan kualitas dan mutu pendidikan di Jatim dan secara nasional.

“Kepala sekolah yang ada harus siap mengawal menjaga kualitas dan mutu pendidikan di Jatim dan secara nasional,” kata Ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Adi Purwanto, dalam pembukaan acara Rakorwil di Situbondo, Jum’at, 13 Rajab 1443H(25/2/2022).

“Kepala sekolah harus siap mengawal,” tegas Adi Purwanto.

Senada dengan itu, acara yang dibuka oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur yang diwakili H. Muhammad Ali, menyampaikan apreasiasi kepada lembaga pendidikan Hidayatullah yang ada di seluruh daerah Jawa Timur.

“Kami mengapresiasi atas support pendidikan bagi organisasi,” tutur Ali dalam sambutannya pada acara yang dilgelar di Utama Raya Beach Hotel ini.

Rakowril Pendidikan Hidayatullah Jatim kali ini mengangkat tema “Standarisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid Menuju Pedidikan Bermartabat”.

Sedikitnya 60 kepala sekolah Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Timur yang terdiri dari kepala sekolah dan kepala madrasah Hidayatullah yang hadir pada kesempatan tersebut.

Dalam acara pra Rakorwil tersebut, seluruh peserta dan penyelenggara mengikuti pelatihan outbond yang dipimpin oleh instruktur SAKO Pandu Hidayatullah yang ada serta beragam kegiatan outdoor lainnya.*/Refra Elthanimbary

Isra Miraj, Tanggal Merah yang Sepi Peringatan

HARI INI semua kalender di Indonesia terutama milik umat Islam berwarna merah. Tertulis kecil di samping atau dibawahnya keterangan 27 Rajab sebagai Peringatan Isra Miraj. Merah artinya libur sebagaimana hari Ahad juga merah.

Mengapa tanggal merah? Sebagai tanda libur dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperingati momentum yang berharga itu. Sehingga muncul istilah PHBI atau Peringatan Hari Besar Islam di kalangan umat Islam untuk membuat kegiatan, acara atau agenda untuk menyemarakan peringatan hari besar Islam tersebut.

Peringatan Hari Islam adalah suatu peringatan yang tidak asing lagi, baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa di Indonesia. Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut, salah satunya pemerintah menetapkan PBHI menjadi hari libur nasional. Sebagaimana hari besar nasional dan juga hari besar agama non Islam.

Bagi umat Islam PHBI mempunyai peran yang strategis untuk meng-up grade kebiasaan pengamalan ajaran Islam yang kadang sudah mengalami kelesuan. PHBI adalah momentum untuk mengingatkan kembali peristiwa besar yang telah terjadi dan berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut.

Meski hari ini, ada banyak masyarakat yang mengabaikan libur nasional ini untuk memperingati momentum yang terkait dengan hari itu. Sebagian bergembira dengan hari libur sehingga tidak sekolah atau bekerja, kemudian bisa berlbur ke tempat wisata, rekreasi, jalan-jalan dan makan-makan.

Ada juga yang memperingati tapi ala kadarnya, ada yang memperinggati tapi nyaris tidak ada hubungan dengan yang diperingati. Contohnya memperingati kemerdekaan 17 Agustus dengan sepakbola pakai sarung, sepkabola joget, sepekbola memakai daster istrinya dan lain sebagainya.

Sehingga tanggal merah nyaris tidak ada gunanya hari libur, PHBI gersang tidak ada peringatan, semua berjalan apa adanya. Padahal peristiwa penting, sejarah dan luar biasa dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ada kemungkinan bosan, jenuh karena setiap tahun berulang memperingati peristiwa yang sama. Kemudian mungkin juga kurang kreatif panitia untuk mendesain peringatan yang bisa menarik dan bermakna.

Bagi generasi tua memang sudah paham, tapi untuk anak-anak dan remaja PHBI adalah media untuk transformasi histori dan hikmah dari isra miraj. Sehingga PHBI itu tetap penting dan terus melakukan kreasi dan inovasi terhadap kegiatan PHBI.

Peringatan Isra miraj yang banyak dilakukan dengan melakukan pengajian, mengundang ustadz kondang (dari luar daerah) atau kandang (dari kalangan sendiri) untuk menyampaikan tausyiah terkait dengan peristiwa isra miraj.

Minimal ada dua pelajaran yang bisa dikuatkan dalam PBHI isra miraj.

Pertama, menguatakan keimanan dan keyakinan terhadap kuasa Allah dengan menjalankan Rasulullah pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Kemudian Mi’raj berarti dinaikkannya Nabi SAW dari al-Aqsha ke atas. Beliau melintasi lapis demi lapis langit hingga tiba di Sidrat al-Muntaha, sebuah dimensi yang tak terjangkau kalkulasi manusia.

Ini jika memakai logika manusia maka tidak masuk akal dan mustahil, namun dengan kaca mata iman maka lebih dari itu bagi Allah itu mudah dan sangat mudah.

Allah yang menciptakan dan menguasai alam semesta ini, tentu terlalu mudah untuk mengatur semua makhluk yang ada didalamnya. Hal ini menjadi keyakinan bagi orang-orang beriman.

Bagi orang kafir, sangat tidak percaya dan mengatakan tahayul dan mustahil untuk memahami peristiwa isra dan miraj. Karena mereka sudah tidak percaya, tidak punya iman dan hanya mengandalkan logika otaknya yang terbatas juga kecerdasannya

Kedua, perintah shalat. Isra miraj menjadi peristiwa luar biasa karena menjadi sebab turunnya perintah shalat 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu.

Shalat bukan sekedar ibadah tapi media komunikasi seorang hamba kepada Allah. Shalat ini juga menjadi standar perbedaan orang beriman dan orang kafir dan shalat juga menjadi amal pertama yang dipertanyakan malaikat nanti hari hari hisab.

Shalat ada harga mati bagi orang beriman sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan kecuali pingsan atau sudah wafat. Kemudian menjaga shalat berjamaah di masjid, sunaah nawafil, shalat dhuha adalah untuk menyempurnakan nilai shalat kita.

Shalat yang hanya beberapa menit itu sangat berat jika bukan dorongan iman. Lebih ringan main gadget berjam-jam, main bola, ngobrol hingga begadang larut malam. Kuncinya memang pada keimanan.

Semoga dengan kita memperingati peristiwa isra miraj maka meingkatkan keimanan kita dan ibadah shalat kita serta ibadah yang lain.

Ust. Abdul Ghaffar Hadi

Bupati Konkep Resmikan Pesantren Pertama di Konawe Kepulauan

0

WAWONII (Hidayatullah.or.id) — Bupati Konawe Kepulauan (Konkep) Provinsi Sulawesi Tenggara Ir. H. Amrullah, MT. meresmikan Pesantren Hidayatullah Konkep yang ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Masjid Al-Rizki Hidayatullah.

Pesantren yang diresmikan ini adalah pesantren pertama yang didirikan di kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Konawe yang berlokasi di Desa Langkoala, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan, Jum’at, 24 Rajab 1443 (25/2/2022).

Dalam sambutannya, Bupati Konkep memberikan apresiasi dan penghargaan yang sangat tinggi kepada seluruh Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Konkep dan pewakaf yang telah berkontribusi riil dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) di wilayah pemerintahannya tersebut.

“Semoga Pesantren Hidayatullah ke depannya bisa melahirkan santri unggul,” harap Amrullah.

Ketua DPW Hidayatullah Sultra Ust Ahmad Syahroni mengatakan dalam sambutannya, dengan hadirnya Pesantren Hidayatullah sebagai pesantren pertama yang didirikan di Kabupaten Konawe Kepulauan ini akan menjawab persoalan keumatan khususnya di Konkep.

Olehnya itu, Ahmad Syahroni berharap agar Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Konkep bisa bersinergi dan berkolaborasi yang baik dengan program-program Pemda Konkep yang beririsan dalam meretas permasalahan yang terjadi di tengah-tengah ummat.

“Kuatkan sinergi, jadilah solusi,” pesan Syahroni.

Mengamini hal tersebut, Ketua DPD Hidayatullah Konkep sebagai Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Konkep Ust. Sayye Abidin Al Hasbi siap bermitra dengan Pemda Konkep dan seluruh elemen masyarakat yang ada di Konkep dalam bidang keagamaan dan pembinaan ummat.

“Kami juga berterima kasih kepada pewakaf lahan berdirinya pesantren ini, semoga menjadi amal jariah dan terus bermanfaat bagi ummat,” ungkap ustadz muda ini.

Lahan berdirinya pesantren ini merupakan hibah dari dua orang muhsinin, yakni Bapak H. Ishak Ismail (Anak Lorong) dan Bapak Rinto yang diperantarai oleh Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPWH Sultra Ust. Alimuddin.

Pewakaf yang merupakan pengusaha sukses yang masing-masing asal Kendari dan Konkep ini mewakafkan sedikitnya 1.2 Ha tanah untuk lahan pembangunan pesantren. Selain itu, keduanya juga berkomitmen untuk membantu pembangunan masjid hingga dapat difungsikan untuk pembinaan ummat.

Melalui sambutan pewakaf yang diwakili oleh Jasmin, M.Si. selaku keluarga pewakaf, keduanya berpesan agar amanah ini dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

“Kami menitipkan tiga pesan,” ujarnya, “Pertama, untuk pewakaf, semoga Allah SWT senantiasa menjaga keikhlasan, kemudian menjadikan amal jariyah yang mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan di akhirat nanti”.

Kedua, pesan Jasmin, kepada Yayasan (Pondok Pesantren) Hidayatullah, kiranya dapat menerima dan menjadikan pesantren yang bisa melahirkan anak shaleh-shalehah, penghafal Quran dan pemimpin masa depan.

“Dan ketiga, kepada masyarakat Wawonii, mari kita dukung dan bantu pengembangan pesantren yang sudah lama dirindukan kehadirannya oleh masyarakat Wawonii,” tandasnya.

Turut hadir menyaksikan acara peresmian tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sultra beserta staff, unsur Forkopimda Kabupaten Konkep, Danramil Konkep, Kapolsek Wawonii, Kapolsek Waworete, Kepala Desa Langkoala, tokoh agama, tokoh pendidikan, dan tokoh masyarakat setempat. */Noer Akbar

Kampus Ponpes Hidayatullah Bengkulu Tuan Rumah Video Conference Forkopimda

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu dipercaya jadi tuan rumah oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bengkulu dalam acara gelaran video conference Walikota, Kapolda, Dandim Kota Bengkulu, dan Kapolres dengan Kapolri, Kamis, 23 Rajab 1443 (24/2/2022).

Helatan acara yang digelar secara online tersebut juga merupakan kegiatan koordinasi vaksinasi serentak khususnya di Bengkulu.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam sambutannya mengimbau meminta target untuk pencapaian vaksinasi dipercepat khususnya di Kota Bengkulu.

Sementara Kapolres Bengkulu, AKBP Andi Dady, S.I.K. mengatakan diberbagai wilayah persentase lansia yang masih rendah.

“Persentase lansia ini masih rendah, untuk itu kita terus gencar mengajak lansia agar segera vaksin,” terangnya kepada wartawan di Jl. Halmahera, Surabaya, Kec. Sungai Serut, Kota Bengkulu, Bengkulu.

Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, S.E. M.M, mengatakan masyarakat Bengkulu hampir mencapai target.

“Kota Bengkulu sudah mencapai total 91 persen untuk dosis pertama, dosis kedua 86 persen. Kita harus tingkatkan kembali,” ungkap Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi.

Namun, lanjutnya, diharapkan untuk terus ingatkan keluarga bagi yang belum vaksin untuk segera vaksin terkhusus lansia.

Pemerintah Kota Bengkulu sangat berterima kasih kepada Kapolri, Kapolda, dan Kapolres yang senantiasa berjuang agar Indonesia kembali pulih dan terbebas dari covid.

“Diimbau kepada lansia yg masih menjadi target vaksin agar segera mengajak Keluarga terutama lansia untuk digerakkan melakukan Vaksin. Pemerintah kota sangat berterima kasih kepada Kapolri, Kapolda, Kapolres yang Sudah konsen mewujudkan Indonesia bebas dari covid,” tegasnya.

Menanggapi maraknya masyarakat yang sedang mengalami sakit seperti batuk, pilek, dan demam. Dedy menyampaikan imbauan dari presiden yaitu percepatkan vaksinasi & tetap melakukan prokes.

“Kita harus percepatkan vaksinasi, dan rencana akan melakukan razia mengimbau untuk masyarakat melakukan Prokes dan selalu memakai masker,” tutupnya.

Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu Ust Ahmad Suhail yang turut membersamai dalam acara tersebut menyampaikan terima kasih atas kepercayaannya dan berharap sinergi dapat terus berlanjut lebih baik lagi. (ybh/hio)

Sinergi Serahkan Paket Perlengkapan Dapur untuk Penyintas Erupsi Semeru

0

LUMAJANG (Hidayatullah.or.id) — Kondisi masyarakat penyintas erupsi Semeru Kabupaten Lumajang terus mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Laznas BMH.

Terbaru, BMH bersama Yayasan Al-Muslim Bekasi dan Kitabisa serta PT BNP Paribas Asset Management hadirkan bantuan paket perlengkapan dapur bagi warga penyintas erupsi Semeru agar dapat segera hidup normal sebagaimana biasanya, terutama dalam hal pemenuhan konsumsi sehari-hari.

“Alhamdulillah BMH bekerja sama dengan Yayasan Al Muslim, Kitabisa dan PT BNP Paribas Asset Management memberikan bantuan berupa paket perlengkapan dapur yang diberikan kepada warga masyarakat yang rumahnya rusak akibat terkena guguran awan panas. Paket tersebut terdiri dari kompor, panci, wajan, dan lainnya,” terang Direktur Program dan Pemberdayaan BMH, Zainal Abidin, Kamis, 23 Rajab 1443 (24/2/2022).

Dengan bantuan ini diharapkan bisa mengembalikan semangat warga untuk kembali menata hidup baru, pasca kejadian erupsi, mengingat selama ini suplay makanan masih berasal dari dapur umun dan juga menggunakan dapur dari saudara mereka.

“Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah memberikan bantuan paket alat masak dapur kami,” ucap Bapak Slamet Efendi, salah satu warga yang rumahnya terdampak parah yang berada Desa Curah Kobokan.

Program jangka menengah BMH di lokasi terus diupayakan satu di antaranya ialah pembangunan hunian sementara (huntara) yang sejauh ini telah selesai dibangun sebanyak 5 unit huntara.*/Herim

Segerakan Kebaikan Jangan Tunggu Mukjizat Datang

0

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya; Tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir”. (QS al-Hijr: 14-15)

SIKAP kaum yang lemah iman dan kafir senantiasa serupa dalam beragama, atau menyikapi agama dan ajaran-ajarannya. Tipisnya keimanan, keengganan untuk berpikir jernih, dan kuatnya keingkaran adalah sebagian faktor yang mendorong mereka untuk senantiasa menolak kebenaran, meski pun bukti-bukti nyata sudah hadir tepat di depan matanya.

Al-Qur’an sering menggambarkan isi hati mereka dengan menyitir kata-kata yang mereka ucapkan. Bagaimana pun, ucapan adalah cerminan jiwa. Salah satu fenomena paling menonjol yang diungkap Al-Qur’an tentang kaum kafir dan tipis iman adalah keinginan mereka untuk menyaksikan keajaiban serta mukjizat dalam beragama.

Mereka menunggu-nunggu, dan bahkan dengan arogan menantang agar mukijzat serta keajaiban itu didatangkan sebagai bukti kebenaran suatu agama. Mereka lupa, bahwa umat-umat terdahulu telah menyaksikan keajaiban-keajaiban besar, tetapi hanya sesaat saja terpesona, dan tidak lama kemudian mereka telah lupa. Lalu ingkar lagi dan bahkan semakin bertambah besar keingkarannya.

Dewasa ini, di tengah-tengah upaya untuk menyeru kaum muslimin menegakkan syariat Allah di tengah-tengah mereka, sering muncul suara-suara mencibir. Sebagian dari cibiran itu meminta dan menantang agar penerapan syariat dapat menjadi “obat ajaib” atas persoalan-persoalan pelik yang mendera bangsa ini.

Jika dulu kaum kafir menantang para Nabi untuk mendatangkan mukjizat sebagai bukti kebenaran risalah yang dibawanya, sekarang orang-orang yang kurang percaya menantang keajaiban turun jika aturan agama total diterapkan. Diantara bentuknya adalah permintaan bukti bahwa aturan agama mampu menjadi solusi instan atas persoalan-persoalan ekonomi, politik, sosial, hankam, pendidikan, dll.

Pokoknya, mereka menuntut jika syariat diterapkan maka semua harus langsung beres. Sim salabim!! Padahal, masalah terbesar justru ada dalam diri mereka sendiri. Jika mereka menolak terus dan tidak beriman dengan sungguh-sungguh, keberkahan tidak akan mungkin muncul, dan aturan agama pun tidak bisa berfungsi sempurna.

Itu dalam skup makro dan komunitas. Dalam skala kecil, yakni kehidupan pribadi, manifestasinya tidak jauh berbeda. Tipisnya keimanan ini bisa tampil dalam rupa penundaan untuk bersungguh-sungguh mengamalkan ajaran agama, dengan berbagai alasan, misalnya belum siap.

Sebenarnya, yang terjadi bukan belum siap, tetapi sebuah perasaan menunggu dan mengharap kejadian spiritual yang hebat, baru mau berbalik kepada Allah. Dan sebagaimana kita saksikan kasusnya pada umat-umat terdahulu, hal itu pun acapkali bohong dan hanya sesaat saja imannya, yakni ketika sedang tercengang itu.

Sebab, setelah situasi mereda mereka akan lupa lagi dan ketagihan kejadian spiritual lagi. Kejadian hebat itu bisa berupa bencana alam, kematian orang-orang terdekat, sakit yang berat, dan lain-lain.

Padahal, beragama tidak bisa dengan sikap menunggu seperti itu. Itu pada hakikatnya merupakan cerminan kemalasan, keengganan, kekurangyakinan, bahkan penolakan terhadap kebenaran agama itu sendiri.

Sebenarnya, tidak ada halangan sedikitpun bagi Allah untuk mendatangkan kembali mukjizat dan keajaiban di zaman ini. Dia Maha Hidup dan senantiasa Mengurusi makhluk-Nya. Apa yang pernah Dia tunjukkan di masa lalu adalah sangat ringan sekedar untuk diulang kembali hari ini.

Namun, masalahnya adalah: berbagai keajaiban itu telah didustakan oleh uamt-umat terdahulu, yakni manusia yang sama dengan spesies kita di zaman ini. Karena kesamaan karakter itulah, sudah seharusnya kita belajar, bahwa apa yang tidak banyak berarti untuk melahirkan iman di masa lalu, maka akan bernasib sama di era kita sekarang.

Allah meminta kita untuk lebih banyak berfikir, merenung, menganalisis, membandingkan, dan membangun iman dalam suasana yang jernih serta tenang. Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling terbuka dalam mengajak dialog dan berpikir. Sebab, hanya dengan kesadaran yang seperti inilah iman bisa dibangun di atas fondasi yang kokoh, akarnya menghunjam dalam dan cabang-cabangnya lebat di angkasa.

Satu hal penting kiranya perlu diungkap juga di akhir artikel ringkas ini, perihal bahaya menunggu-nunggu mukjizat dan keajaiban itu.

Mengapa menunggu dan menantang mukjizat atau keajaiban sangat berbahaya? Sungguh, dalam surah al-Baqarah: 209-210 Allah menjelaskan, bahwa jika sebuah keajaiban dan mukjizat telah tampil, lalu manusia tetap kufur, maka setelah itu Allah tidak akan memberikan tempo waktu lagi.

Bencana besar akan datang, dan biasanya tanpa peringatan sebelumnya. Awan-awan besar yang biasanya membawa rahmat akan berubah mendatangkan bencana, dan berbagai karunia yang membanggakan segera berganti menjadi siksaan yang tak pernah diduga-duga. Na’udzu billah.

Jadi, berimanlah dengan sungguh-sungguh, sesegera mungkin. Tegakkan syariat-Nya semampu Anda. Jangan menantang keajaiban didatangkan! Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar