Beranda blog Halaman 390

Memaknai Ikhtilaf dan Cara Menyikapinya

IKHTILAF dalam pemikiran adalah perkara yang tidak bisa dihindari. Akal manusia tidak mampu mengingkari akan hal ini, karena dalam kenyataannya ikhtilaf itu ada. Sedangkan syara’ juga tidak melarangnya, terbukti adanya ikhtilaf di kalangan sahabat, tabi’in setelah itu atba’ tabi’in dan yang paling nyata adalah adanya madzhab-madzhab fiqih dalam Islam.

Mengenai ikhtilaf para di kalangan sahabat, para ulama salaf sama sekali tidak melihat hal itu tercela, bahkan hal itu dinilai positif oleh mereka.

Imam Al Qasim bin Muhammad seorang ulama tabi’in menyatakan;

”Benar-benar Allah telah memberi manfaat dengan ikhtilafnya para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam amalan mereka. Tidaklah beramal orang yang mengamalkan amalan yang dilakukan oleh seorang dari mereka (sahabat), kecuali ia melihat hal itu adalah bentuk kelonggaran. Dan ia melihat bahwa orang yang lebih mulia daripadanya telah melaksanakannya”. (Jami’ Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi, 2/80)

Aun bin Abdillah, juga ulama tabi’in menyatakan;

”Aku tidak menyukai (jika) sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak berikhtilaf. Sesungguhnya mereka jika sepakat atas suatu hal dan hal itu ditinggalkan oleh seseorang, maka ia telah meninggalkan sunnah. Kalau mereka berselisih kemudian seseorang mengambil salah satu dari pendapat mereka (para sahabat), ia telah menempuh sunnah”. (Sunan Ad Darimi, 1/151)

Ikhtilaf adalah Kekhususan Umat Rasulullah

Bukan hanya merupakan hal yang lumrah di kalangan salaf, para ulama melihat bahwa ikhtilaf adalah bagian dari kekhususan umat ini.

Imam As Suyuthi menyatakan bahwa para sahabat yang mana mereka adalah sebaik-baik umat berbeda pendapat satu sama lain dalam masalah furu’, namun mereka tidak mengingkari satu sama lain, tidak menuduh yang lain salah atau memiliki keterbatasan,”Maka diketahui bahwa ikhtilaf madzhab-madzhab yang ada dalam millah ini kekhususan dan keutamaan untuk umat ini”. (lihat, muqaddimah Jazil Al Mawahib fi Ikhtilaf Al Madzahib)

Imam Al Qashtalani juga menyampaikan,”Dari kekhususan umat ini- umat pengikut Rasulullah- adalah ijma’ mereka adalah hujjah sedangkan ikhtilaf mereka adalah rahmah”. Dan menurut Al Hafidz Az Zurqani, hal itu dalam masalah furu’. (Syarh Al Mawahib Al Laduniyyah, 5/468)

Dari ungkapan para ulama tersebut, kita bisa memahami bahwa mereka tidak melihat perselisihan dalam masalah furu’ merupakan hal yang negatif. Bahkan justru sebaliknya, mereka melihat itu adalah hal yang positif.

Ikhtilaf dalam pemikiran terjadi di berbagai bidang dan wilayah yang cukup luas. Sehingga para ulama pun mengklasifikasikannya dan menjelaskan mana ikhtilaf yang bisa ditolelir dalam Islam, sebagaimana yang digambarkan dalam penjelasan di atas.

Imam Al Ikhaththabi membagi beberapa macam ikhtilaf:

  1. Ikhtilaf dalam penetapan adanya pencipta dan keesaan-Nya, maka ikhtilaf di sini menyebabkan kekufuran.
  2. Sedangkan ikhtilaf mengenai sifat pencipta dan kehenda-Nya maka hal ini adalah bid’ah, sebagaimana ikhtilaf kaum khawarij dan rawafidh mengenai status keislaman sejumlah sahabat.
  3. Adapun ikhtilaf mengenai hukum ibadah yang memungkinan adanya perbedaan, maka Allah menjadikannya mudah dan rahmat dan kemuliyaan bagi ulama. (A’lam Al Hadits, 1/219-221

Perkara yang Masuk Ikhtilaf Tidak Boleh Dinggap Kemungkaran

Ikhtilaf nomor tiga inilah, tidak boleh manusia menganggapnya sebagai kemungkaran. Dimana para ulama telah membuat qaidah la yungkaru al mukhtalaf fih, wa inama yungkaru al majma’ ‘alaihi (tidak boleh diingkari masalah-masalah yang terdapat khilaf di dalamnya, pengingkaran hanya terdapat pada masalah- yang telah disepakati hukumnya). (lihat, Ihya Ulum Ad Din,2/253, Al Asybah wa An Nadzair,1/341).

Dalam hal ini, ulama salaf Imam Ats Tsauri juga menyampaikan,”Jika kalian melihat seseorang melakukan amalan yang itu diperselisihkan sedangkan engkau berpendapat lain (dari amalan itu) maka jangan engkau larang ia”. (Al Faqih wa Al Mutafaqih, 2/69)

Demikian juga ulama salaf lainnya Imam Al Auzai menyampaikan dalam hal batal atau tidaknya wudhu karena mencium istri,”Jika ada seseorang datang dan bertanya kepadaku, maka aku katakan ia harus wudhu. Namun jika ia tidak wudhu aku tidak mencelanya!” (Al Istidzkar, 1/323)

Sebab itulah mereka yang hendak mengubah kemungkaran harus memiliki pengetahuan mengenai khilaf para ulama, sehingga tidak sampai mengingkari perkara-perkara yang diperselisihkan oleh para ulama.

Kapan Pendapat Dihitung Sebagai Masalah Ikhtilaf?

Selanjutnya adalah pembahasan mengenai apakah semua pendapat bisa dimasukkan ke ranah ikthtilaf atau tidak. Imam As Syatibi menyatakan bahwa ada pendapat-pendapat yang sebenarnya tidak dihitung sebagai perkara ikhtilaf yang ditolelir.

Dan para fuqaha menyebutnya bukan agar dihitung sebagai perkara ikhtilaf, namun sebagai bentuk peringatan. Pendapat yang tidak bisa dimasukkan dalam ranah ukhtilaf antara lain:

  1. Menyelisihi nash sharih, sebab itu hukum qadhil batal jika ia menyelisihi ijma atau nash secara sharih.
  2. Bukan hasil dari ijtihad mujtahid.
  3. Bukan masalah yang boleh ijtihad terhadapnya.
  4. Sebagaimana para salaf juga tidak mengitung sebagai masalah khilafiyah terhadap beberapa masalah seperti masalah riba fadhl dan nikah muth’ah.

Namun perlu diketahui bahwa tidak sembarang pihak bisa mengklasifikasi apakah perkara itu dianggap masalah ikhtilaf yang bisa ditolelir atau tidak, karena hal itu adalah tugasnya para mujtahid. Di bawah derajat itu tidak memiliki kemampuan mengklasifikasikannya. (lihat, Al Muwafaqat, 4/172,173)

Walhasil, siapa saja tidak bisa dengan mudah-mudah mengingkari perkara-perkara yang diperselisihkan hukumnya. Jika itu dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki syarat yang cukup hingga tidak bisa membedakan mana yang harus diingkari mana yang tidak maka akibatnya akan terjadi kekacauan dalam masyarakat. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.*/Sholah Salim (Hidcom)

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepri Apresiasi Kiprah BMH

0

TANJUNG PINANG (Hidayatullah.or.id) — Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau, mengapresiasi kiprah dan kinerja BMH Kepri yang telah banyak memberi manfaat kepada masyarakat khususnya di pulau-pulau.

Apresiasi itu disampaikan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Kanwil Kemenag Kepulauan Riau, Drs. H Edi Batara, dalam sambutannya saat prosesi penyerahan surat perpanjangan izin operasional BMH Kepri yang diterima Kepala Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz, di kantor Kemenag Provinsi Kepri di Tanjung Pinang, Senin, 4 Rabiul Awal 1443 (11/10 2021).

Alhamdulillah selama ini BMH telah banyak melaksanakan program baik di perkotaan, di pulau maupun di wilayah perbatasan yang manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat,” kata H Edi Batara.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para pejuang di BMH yang terus menegakkan syariat dengan selalu mengingatkan kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah untuk kemudian menyalurkannya kepada yang berhak menerima,” terangnya menambahkan.

Tahun 2021, BMH Kepri menorehkan prestasi yang impresif untuk kategori lembaga amil zakat di Kepri, saat ini BMH Kepri menduduki posisi kedua terbaik di bawah Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kota Batam.

Raihan itu tentu tidak lepas dari pertolongan Allah Ta’ala dan ikhtiar kerja keras jajaran manajemen BMH Kepri serta dukungan para donatur dan dermawan yang memberikan kepercayaan kepada BMH untuk menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah.

Salah satu program yang mendapat perhatian dari Kemenag adalah program fasilitas air bersih berupa sumur bor dan instalasi air di pulau-pulau.

“Kami berharap, BMH dapat lebih memperluas jangkauan pelayanannya kepada masyarakat agar manfaatkanya bisa dirasakan lebih luas,” lanjut Edi Batara.

Edi juga mendorong BMH melakukan terobosan-terobosan dalam hal pendayagunaan seperti pemanfaaatan lahan tidur di pulau-pulau dengan bersinergi dengan para organisasi kepemudaan agar tercipta lapangan kerja.

Program tersebut, menurutnya, akan menghidupkan kegiatan para pemuda dan menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan oleh pemuda di daerah tersebut. Termasuk, lanjut Edi, membantu para nelayan mengembangkan budidaya ikan dan rumput laut.

“Saya yakin BMH bisa melakukan program-program itu, dengan berjalannya program tersebut insya Allah akan memudahkan jalan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat,” tutupnya.

Dengan wajah semringah, Abdul Aziz, menyampaikan bahwa kepercayaan ini akan dijawab dengan kerja yang lebih maksimal dalam gerakan zakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas lagi oleh ummat.

Aziz mengatakan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Kemenag Provinsi, juga kepada para donatur dan kaum muslimin pada umumnya atas kepercayaan yang telah diberikan kepada BMH Kepri.

“Kami juga mohon bimbingan dan dukungan agar BMH Kepri bisa lebih maksimal ke depannya,” ucap Abdul Aziz.

Pada penyerahan surat izin operasional yang berlaku selama 5 (lima) tahun, 2021-2026, Kabid Bimas Islam Kanwil Kemenag Provinsi Kepri, Drs. H Edi Batara didampingi kepala Seksi Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Hj Halimah.

Sementara dari manajemen BMH Kepri hadir, manajer Marketing, Sayidina, manajer Program dan Pemberdayaan, Haidir Ali dan staf Nur Hamdani serta dari unsur DPW Hidayatullah Kepri, kadep Hubungan Antar Lembaga (HAL), Mujahid M. Salbu, sebagai mitra strategis BMH Kepri.*/Jihos Andy

Dorong Digitalisasi Haji, Hidayatullah Teken MoU dengan BPKH

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dalam rangka mendorong digitalisasi untuk meningkatkan pelayanan jamaah Haji.

Nota kesepahaman ditandatangani di Hotel Bidakara, Jakarta, 4 Rabiul Awal 1443 (11/10/2021) oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq bersama dengan Kepala Badan Pelaksana BPKH Anggito Abimanyu dan dihadiri Anggota Badan Pelaksana BPKH Bidang Penghimpunan, Penempatan Dana, Investasi Langsung dan Lainnya Dalam Negeri Iskandar Zulkarnain.

Turut pula menyaksikan penandatanganan MoU tersebut Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Candra Kurnianto, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo, Ketua Bidang Perekonomian Wahyu Rahman, dan Bendahara Umum Marwan Mujahidin.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq menyambut baik kerja sama antar BPKH dan Hidayatullah ini. Ia berharap kerja sama ini dapat menjadi solusi untuk pelayanan calon jamaah haji Indonesia.

“Dengan adanya kesepakatan bersama ini, bisa menjadi satu motivasi untuk kita semua. Mudah-mudahan dengan adanya kesepakatan ini mendapatkan berkah dan maunah dari Allah SWT,” katanya.

Diharapkan dari kerjasama ini, Hidayatullah sebagai mitra BPKH bisa mengambil peran yang lebih baik lagi dalam mendorong digitalisasi haji untuk peningkatan pelayanan jamaah haji.

“Kami Hidayatullah telah memiliki jaringan 600 lebih ponpes di seluruh Indonesia insya Allah berkomitmen bersama sama memberikan sosialisasi serta edukasi untuk bisa menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima ini,” katanya.

Nashirul menyampaikan, atas nama DPP Hidayatullah menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Badan Pengelola Keuangan Dana Haji atas gerakan dan penandatanganan MOU ini.

“Semoga kita diberikan kekuatan untuk bisa mewujudkan apa yang telah menjadi harapan bersama,” imbuhnya menandaskan.

Sementara itu, Anggito Abimanyu menyampaikan pentingnya melakukan sejumlah terobosan sistem informasi digital yang dapat mempermudah dalam pelayanan jemaah haji.

Kemajuan teknologi yang pesat membuka banyak kesempatan untuk melakukan inovasi dalam layanan jemaah haji, salah satunya dengan transformasi layanan digital baik dalam pengelolaan data jemaah, dan kemudahan layanan bagi jemaah haji.

“Kami sangat terhormat dapat menjadi bagian dan mendukung program-program yang dijalankan BPKH lakukan melalui peran mitra BPKH yang memiliki jaringan tersebar di seluruh Indonesia, selain itu dengan sistem informasi digital yang baik dapat memudahkan pemantauan data dalam rangka monitoring dan evaluasi serta peningkatan layanan yang lebih baik bagi jemaah haji.” ujar Anggito.

Terjalinnya kemitraan antara Hidayatullah dan sejumlah pihak lainnya dengan BPKH merupakan inovasi digital yang akan memberikan solusi layanan haji untuk calon jamaah yang berlokasi di pelosok Indonesia dan selaras dengan kampanye gerakan Haji Muda yang dicanangkan oleh BPKH.*/Amanji Kefron

SMA Ar-Rohmah Putri Peringkat 3 Terbaik Berdasar UTBK 2021

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Kemendikbud mengumumkan hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Jum’at, 24 Safar 1443 (1/10/2021).

Ketua LTMPT, Mohammad Nasih mengatakan, daftar sekolah/madrasah terbaik yang dirilis LTMPT diperoleh berdasarkan nilai UTBK 2020 dan 2021. SMA Ar-Rohmah Putri termasuk dalam list tersebut.

Dari 1000 sekolah/madrasah yang dirilis, SMA Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang menduduki peringkat ketiga terbaik di Kabupaten Malang.

Mohammad Nasih menambahkan, sebaran sekolah yang masuk ke dalam Top 1000 sekolah itu berasal dari jenjang SMA sebanyak 870 sekolah, MA 65 sekolah, SMK 64 sekolah, dan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) sebanyak satu sekolah.

Jumlah sekolah asal peserta UTBK 2021 sebanyak 23.110 sekolah. Sekolah yang diikutkan dalam pengukuran adalah sekolah dengan jumlah peserta yang mengikuti UTBK 2021 sebanyak lebih dari 40 orang. Jumlah sekolah yang memenuhi kriteria ini sebanyak 4.432 sekolah.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Ar-Rohmah Putri, Widi Rahayu, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut.

“Prestasi ini adalah anugerah dari Allah untuk seluruh keluarga besar Ar-Rohmah Putri. Alhamdulillah, patut disyukuri,” ujarnya.

Menurut Ustadzah Ayu, sapaan akrabnya, capaian ini tidak lantas membuat pihak sekolah berpuas diri. Sebaliknya, menjadi penyemangat untuk terus berbenah meningkatkan kualitas.

Dengan sanantiasa menggali dan melahirkan berbagai program yang kreatif dan inovatif.*/Herry Purnama

Anjing ‘Terpelajar’ dan Keutamaan Orang Berilmu

0

ANJING! Ungkapan yang sangat tidak enak didengar, bahkan muncul amarah membara ketika seseorang mendengar kata anjing yang ditujukan padanya dengan nada tinggi. Mengapa? Karena persepsi jelek tentang anjing sangat dalam menghujam dirinya.

Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, ketika jenis hewan ini disebut dengan nada tinggi, ia tidak banyak memengaruhi psikisnya, ia tanggapi sebagai guyonan belaka, Buaya!Macan! Kucing!

Masih tentang hewan yang lidahnya menjulur dan menggonggong, anjing. Ada salah satu anjing yang bernama Qitmir dimasukkan ke sorga, karena ia bersama orang-orang shaleh.

Ia menjaga majikannya, melindunginya, dan setia menemaninya. Demikian dalam cerita Ashab al-Kahfi.

Kata Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Surat Al-Kahfi;


كلبٌ أحب قوماً فذكره الله معهم ! فكيف بنا وعندنا عقد الإيمان وكلمة الإسلام وحب النبي صلى الله عليه وسلم .

Anjing yang mencintai Ashab AlKahf, Allah monumenkan namanya bersama mereka, bagaimana dengan kita yang mempunyai ikatan iman, Islam dan cinta pada Nabi? Ibnu Athiah juga menyatakan hal yang sama, “Sesungguhnya orang yang mencintai orang shaleh (ahl khair), ia akan mendapatkan keberkahannya, seperti anjing yang disebutkan dalam Al-Qur’an, karena anjing tersebut menemani Ashabul Kahfi.

Dan yang menarik dalam Fawaid Al-Qurthubi, ia menggambarkan sebuah Ayat yang berbicara tentang anjing yang terpelajar dalam Surat Al-Maidah, Ayat 4.

(یَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَاۤ أُحِلَّ لَهُمۡۖ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّیِّبَـٰتُ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِینَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُۖ فَكُلُوا۟ مِمَّاۤ أَمۡسَكۡنَ عَلَیۡكُمۡ وَٱذۡكُرُوا۟ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَیۡهِۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِیعُ ٱلۡحِسَابِ)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu,dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Jawarih (جوارح/binatang) dalam Ayat di atas seperti anjing (kilab), burung elang (shuqur) dan macan kumbang (fuhud). Dan Mukallibin (مكلبين/pelatih) adalah yang melatih anjing atau hewan lainnya untuk berburu.

Maka, hukum memakan hasil buruan anjing yang tidak terlatih (tidak terpelajar) tidak diperbolehkan (tidak halal), yaitu anjing yang belum siap menjadi anjing pemburu, atau anjing yang masih belum mahir dalam berburu hewan. Berbeda dengan anjing yang sudah terlatih menjadi pemburu, maka hasil dari tangkapannya diperbolehkan untuk dimakan (halal).

Imam Al-Qurthubi menanggapi Ayat, “Ayat ini sebagai bukti, bahwa orang berilmu memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang bodoh (jahil), anjing yang terlatih memiliki keistimewaan (fadilah) dibandingkan dengan semua anjing yang ada. Demikian juga manusia yang berilmu, mereka lebih utama (awla), dari pada mereka yang tidak pernah belajar (bodoh), apalagi mereka yang alim (terpelajar) dapat mengamalkan ilmunya.

وفي هذه الآية دليل على أن العالم له من الفضيلة ما ليس للجاهل; لأن الكلب إذا علم يكون له فضيلة على سائر الكلاب ، فالإنسان إذا كان له علم أولى أن يكون له فضل على سائر الناس ، لا سيما إذا عمل بما علم

Sesuatu yang dipelajari oleh seseorang dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menjadi ahli di bidangnya, maka ia akan mendapatkan keistimewaan dari kebanyakan orang yang tidak memiliki keahlian sepertinya.”/Halimi Zuhdy/Hidcom

Hidayatullah Terima Izin sebagai Lembaga Pemeriksa Halal dari BPJPH – DHN MUI

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perkumpulan Hidayatullah menerima izin operasional sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama Republik Indonesia dan Dewan Halal Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DHN – MUI).

Penyerahan sertifikat izin operasional ini diserahkan langsung oleh perwakilan tim asesor BPJPH – DHN MUI di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Selasa, 28 Safar 1443 (5/10/2021).

Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo usai menerima persetujuan beroperasinya Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah tersebut, mengatakan Hidayatullah berkomitmen dalam menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Senafas dengan hal tersebut, Hidayatullah melalui Ketetapan Munas V Hidayatullah, Nomor: 12/TAP/Munasv/2020 tentang Kebijakan Kebijakan Strategis Hidayatullah Tahun 2020-2025 pada bidang ekonomi dan keuangan, mengamanatkan menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

“Usaha menghadirkan LPH merupakan bentuk keseriusan kami untuk membangun komunitas masyarakat halal terlebih lagi Hidayatullah telah tersebar luas di seluruh Indonesia dengan 620 pesantrennya,” kata Asih.

Menurutnya, Undang Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada Pasal 4 menegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal dimana lembaga keagamaan Islam juga mendapatkan amanat untuk terlibat dalam menjamin kehalalan produk.

“Menjamin kehalalan tentunya merupakan hal yang amat penting. Mulai dari proses pra produksi hingga siap dikonsumsi oleh jamaah,” katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPHH) Muhammad Faisal Thamrin menyampaikan terimakasih dan apresiais kepada BPJPH – DHN MUI atas kepercayaannya kepada Hidayatullah sebagai pemeriksa halal.

Faisal berharap dengan kehadiran LPHH, kian menguatkan peran Hidayatullah dalam membangun kekuatan umat dalam penjaminan halal dan baiknya produk untuk kebaikan semua.

“Menjamin dan memastikan kehalalan sebuah produk adalah bagian dari salah satu langkah Hidayatullah membangun peradaban Islam,” tandasnya.

Seperti diketahui, Undang Undang No. 33 Tahun 2014 Pasal 13 ayat (2) mengamanatkan bahwa dalam LPH sebagaimana dimaksud ayat (1) dididirkan oleh masyarakat dan diajukan oleh lembaga keagamaan Islam yang berbadan hukum.

Penyelenggara Jaminan Produk Halal juga didukung oleh tugas dan fungsi sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang – Undang No. 33 Tahun 2014 yaitu tentang Registrasi Halal, Sertifikasi Halal, Verifikasi Halal, Melakukan pembinaan serta melakukan pengawasan kehalalan produk, Kerjasama dengan seluruh stakeholder terkait, serta menetapkan standard kehalalan sebuah produk.(ybh/hio)

Sinergi TNI Korem 061/Surya Kencana dan IMS Vaksinasi 10.000 Dosis

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Masih dalam suasana peringatan HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-76, Komando Resort Militer 061/Surya Kencana (Korem 061/SK) menggandeng lembaga kesehatan Islam nasional Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS), untuk melakukan vaksinasi yang direncanakan sebanyak 10.000 dosis vaksin di Bogor dimulai Kamis, 30 Safar 1443 (07/10/2021).

“Alhamdulillah dua hari ini berkerjasama dengan Korem 061/Surya Kencana sekaligus memperingati Dirgahayu TNI kita sukses melakukan vaksinasi sebanyak 2.000 dosis untuk santri dan masyarakat yang ada di lingkungan Rumah Qur’an Umar bin Khattab,” kata Direktur IMS, Imron Faizin.

Imron pun menyambut baik antusiasme masyarakat melakukan vaksinasi dengan harapan kekebalan populasi atau herd immunity dapat lebih cepat diwujudkan. Dia menjelaskan, herd immunity, yang juga dikenal sebagai ‘kekebalan populasi’, adalah konsep yang digunakan untuk imunisasi, di mana suatu populasi dapat terlindung dari virus tertentu jika suatu ambang cakupan imunisasi tertentu tercapai.

“Kekebalan kelompok tercapai dengan cara melindungi orang dari virus, bukan dengan cara memaparkan orang terhadap virus tersebut,” imbuhnya menjelaskan tentang herd immunity.

Lebih jauh dia menerangkan, dalam konsep kekebalan kelompok, sebagian besar penduduk diimunisasi, sehingga menurunkan jumlah keseluruhan virus yang dapat menyebar ke seluruh populasi. Alhasil, sambung dia, tidak semua orang perlu diimunisasi agar terlindungi. Hal ini membantu memastikan bahwa kelompok-kelompok rentan yang tidak dapat diimunisasi tetap aman.

Kata dia, mencapai kekebalan kelompok dengan vaksin yang aman dan efektif membuat penyakit semakin jarang dan menyelamatkan nyawa.

“Melihat keinginan masyarakat yang begitu besar untuk ikut andil dalam program vaksinasi ini, kita dan Korem 061 Surya Kencana akan menambah 8.000 dosis lagi yang Insya Allah akan dilaksanakan di klinik Kopassus di daerah Bojong Hilir,” katanya.

Imron menambahkan bahwasanya program vaksinasi dengan menjalin simpul sinergi dengan berbagai pihak terkait ini akan dilanjutkan ke daerah-daerah yang ada di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan daerah daerah lainya yang belum tersentuh program vaksinasi.

Menurut Imron, program vaksinasi adalah satu program pemerintah yang saat ini belum sepenuhnya merata dirasakan oleh masyarakat Indonesia khusunya masyarakat. Melihat kondisi tersebut IMS selaku lembaga sosial kesehatan yang dinaungi oleh ormas Hidayatullah turut andil dalam program mensukseskan kegiatan vaksinasi ini.*/Alamsyah Jilpi

Sabar Berdakwah Melunakkan Hati Memahamkan Kebenaran

Ketika sampai di pelataran Ka’bah pada tahun 8 H, Rasulullah mengacungkan tongkat kecilnya dan menunjuk 360 berhala yang bertebaran di sana. Beliau menudingnya satu persatu seraya membaca ayat 81 dari surah al-Isra’, “Kebenaran telah datang dan kebatilah telah binasa. Sungguh kebatilah itu pasti binasa”. Konon, setiap kali muka berhala yang ditunjuk maka kepalanya langsung patah dan jatuh ke belakang; bila tengkuknya yang ditunjuk maka kepalanya pun patah dan jatuh ke depan.

Kisah ini terjadi pada saat Penaklukan Makkah, yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, dll dari Ibnu Mas’ud. Para mufassir pun merincinya dalam karya-karya mereka, seperti Imam al-Qurthubi, Ibnu Katsir, ath-Thabari, dsb.

Menurut para ulama’, kaum musyrikin setiap hari menyembah satu berhala tertentu sehingga jumlahnya sangat banyak sebanyak hari-hari dalam setahun.

Apa yang menarik dari kisah ini? Bila dicermati, ternyata selama 13 tahun mendakwahkan Islam di Makkah, Rasulullah samasekali tidak ‘menyentuh’ berhala-berhala itu. Keadaan ini terus berlanjut sampai beliau diusir dan berhijrah ke Madinah.

Baru delapan tahun kemudian, bersama 10.000 kaum muslimin, beliau kembali ke Makkah dan meruntuhkan seluruh simbol kemusyrikan itu tanpa tersisa.

Tidak cukup sampai di situ, sebab Rasulullah juga mengirim sejumlah Sahabat untuk menghancurkan berhala-berhala yang ada di luar Makkah. Khalid bin Walid dikirim ke Nakhlah untuk merobohkan berhala ‘Uzza. ‘Amr bin ‘Ash diperintahkan melenyapkan Suwa’, berhala suku Hudzail, di suatu tempat sejauh 3 mil dari Makkah. Sa’ad bin Zaid ditugasi menamatkan riwayat Manat, berhala sejumlah kabilah Arab di Musyallal, kawasan pegunungan di tepi Laut Merah.

Tentu kita patut bertanya, apa saja yang beliau dakwahkan selama di Makkah? Mengapa patung-patung itu dibiarkan tegak di sekitar Ka’bah, sementara beliau sendiri sangat sering thawaf, shalat, dan bermunajat kepada Allah di sana? Bukankah peristiwa Isra’-Mi’raj pun dimulai dari Ka’bah pada saat berhala-berhala itu masih utuh dan tidak diusik samasekali?

Kita meyakini beliau sebagai teladan puncak dalam mendakwahkan agama-Nya. Tidak ada contoh sebaik beliau, sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Ahzab: 21.

Sufyan bin ‘Uyainah (atba’ tabi’in, w. 198 H) berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah timbangan terbesar (al-mizan al-akbar). Terhadap beliaulah segala sesuatu dihadapkan (untuk ditimbang) berdasarkan akhlak, gaya hidup, dan perilaku beliau. Apa saja yang selaras dengannya maka dialah kebenaran, dan apa saja yang bertentangan dengannya maka dialah kebatilan.” (Riwayat al-Khathib dalam al-Jami’, no. 8).

Sesungguhnya, berhala-berhala itu tidak bisa memberi manfaat maupun madharat sedikit pun. Mereka tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan apa-apa. Mereka hanyalah simbol-simbol kosong yang direkayasa manusia untuk menutupi ‘sesuatu’ yang sangat bengis dan jauh lebih merusak dibanding pahatan-pahatan tangannya, yaitu hawa nafsu dan kesombongan.

Allah berfirman,

“Semua itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan sendiri. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka dan apa yang diingini oleh hawa nafsu. Sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm: 23).

Di tempat lain, Allah juga berfirman,

“Kamu tidak menyembah selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu buat-buat sendiri. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Hukum itu hanya milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Allah menunjukkan dengan gamblang bahwa sumber kemusyrikan, kekufuran, dan penolakan kepada agama Allah sebenarnya hanyalah kesombongan:

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, (sebetulnya) tidak ada di dalam dada mereka selain kesombongan (yakni, merasa lebih hebat) belaka, yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mu’min/Ghafir: 56)

Dan, tahukah Anda siapa pengidap penyakit sombong yang paling kronis? Dialah Iblis, yang menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam karena merasa lebih hebat dan lebih baik. Dia telah bersumpah untuk menularkan penyakitnya itu kepada manusia. (Baca QS al-A’raf: 11-18).

Maka, selama bertahun-tahun Rasulullah berjuang keras meruntuhkan kesombongan orang orang yang memusuhi dirinya dan kebenaran yang dibawanya. Beliau tahu betul bahwa tiada daya secuil pun dalam diri patung-patung buatan manusia itu, selain mitos-mitos dan legenda-legenda kosong.

Pohon, patung, kuburan, gambar, logo, hanyalah simbol-simbol dari kekuatan fiktif yang dikhayalkan manusia. Tidak ada wujud dan esensi hakiki padanya. Bila mereka ditebang atau dibakar, sebenarnya tidak akan bereaksi apa-apa. Hanya saja, para ‘pemuka kaum’ dan barisan pemujanya pasti murka, dan kegemparan pun segera meledak. Merekalah thaghut yang sebenar-benarnya, bukan benda-benda mati itu.

Oleh karenanya, Rasulullah tidak tertarik untuk memulai dakwahnya dari meruntuhkan simbol-simbol, namun melunakkan hati dan memahamkannya terhadap hakikat kebenaran, tauhid, dan agama yang lurus. Diketuknya pintu demi pintu, meski tidak selalu mendapat sambutan yang ramah.

Beliau mengajari kita untuk lebih dulu meluruskan akidah yang menyimpang, bukan menghancurkan simbolnya. Tebang dulu keyakinannya, bukan pohonnya! Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

SAR Hidayatullah Dipercaya Menjadi Potensi Mitra Basarnas

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Badan kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi bencana SAR Hidayatullah kian meneguhkan kiprahnya dalam aksi kemanusiaan. Kali ini SAR Hidayatullah mendapat kepercayaan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (BASARNAS) sebagai Potensi Mitra Basarnas.

Penyematan tanda dan penyerahan sertifikat SAR Hidayatullah sebagai Potensi Mitra Basarnas Pusat diberikan langsung oleh Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi kepada Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun.

Penyerahan tersebut dirangkai dengan acara Seminar Kebangsaan & Pelatihan Manajemen Kebencanaan bertajuk “Nilai nilai Pancasila dalam Manajemen Operasi Pencarian dan Pertolongan” yang berlangsung di Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 26 Safar 1443 (3/10/2021).

Acara seminar yang digelar bekerjasama dengan Departemen Sosial DPP Hidayatulllah ini diikuti peserta secara daring dan sebagian luring di Aula STIE Hidayatullah Depok.

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi dan Ketua Bidang Pelayanan Umat (Yanmat) DPP Hidayatullah Nursyamsa Hadis.

Acara dibuka langsung oleh Musliadi selaku ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah. Dalam sambutannya Musliadi menekankan pentingnya meneguhkan kiprah aksi kemanusiaan dan menguatkan sinergi yang lebih baik dan profesional.

Pada kesempatan tersebut, Haris mengapresiasi SAR Hidayatullah yang sangat aktif melatih personilnya. Ia berharap, sumber daya ini turut mendukung operasi SAR di berbagai daerah bencana.

“Basarnas tidak bisa bekerja sendiri, maka diperlukan kolaborasi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil penelitiannya, bahwa untuk suksesnya operasi pencarian dan pertolongan pada musibah bencana ada beberapa hal yang amat penting diperhatikan. Pertama, SDM yang memiliki mental yang tangguh dan kuat. Kedua, kedua bagaimana memanfaatkan kecerdasan atau kemampuan SDM.

Turut hadir juga Ketua Pembina SAR Hidayatullah yang juga Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka/Ketua Komisi Binamuda, Kak Supriyadi dan Dr Agus Prayoga selaku Ketua STIE Hidayatullah Depok.(ybh/hio)

Webinar Nilai Pancasila dalam Manajemen Operasi SAR

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat SAR Hidayatullah menggelar acara Seminar Kebangsaan & Pelatihan Manajemen Kebencanaan bertajuk “Nilai nilai Pancasila dalam Manajemen Operasi Pencarian dan Pertolongan” yang berlangsung di Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 26 Safar 1443 (3/10/2021).

Acara yang digelar bekerjasama dengan Departemen Sosial DPP Hidayatulllah ini diikuti peserta secara daring dan sebagian luring di Aula STIE Hidayatullah Depok.

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi dan Ketua Bidang Pelayanan Umat (Yanmat) DPP Hidayatullah Nursyamsa Hadis.

Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi dalam pemaparannya mengatakan aksi sosial kemanusiaan untuk pencarian dan pertolongan merupakan pekerjaan tidak ringan.

Tidak ringan, sebab, jelasnya, operasi pencarian dan pertolongan korban musibah tidak saja membutuhkan kecakapan skil tetapi juga spirit kerelawananan dan keikhlasan. Disinilah nilai Pancasila terejawantahkan dalam jiwa setiap relawan.

“Semua pekerjaan berawal dari niat dan rasa ikhlas. Jika keduanya ada maka para relawan akan tau dengan siapa sesungguhnya mereka bekerja, bekerja untuk kemanusiaan karena Allah SWT,” katanya.

Pancasila tidak lepas dari nilai Islam. Oleh karenaya, jelas dia, relawan yang selalu dituntut hadir dalam setiap bencana mesti punya jiwa Laahauala walaaquwwata Illabillah.

Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa setiap relawan bencana seringkali hanya punya sedikit waktu emas dalam pencarian dan pertolongan. Sebab, dalam menit menit pertama kejadian musibah, tim SAR sangat terbatas. Sementara saat terjadi musibah, seringkali jatuh korban luar biasa karena waktu kejadian yang tak terduga.

Pada kesempatan tersebut, Haris mengapresiasi SAR Hidayatullah yang sangat aktif melatih personilnya. Ia berharap, sumber daya ini turut mendukung operasi SAR di berbagai daerah bencana.

“Basarnas tidak bisa bekerja sendiri, maka diperlukan kolaborasi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil penelitiannya, bahwa untuk suksesnya operasi pencarian dan pertolongan pada musibah bencana ada beberapa hal yang amat penting diperhatikan. Pertama, SDM yang memiliki mental yang tangguh dan kuat. Kedua, kedua bagaimana memanfaatkan kecerdasan atau kemampuan SDM.

“Kecerdasan dan kemampuan ini bukan hanya soal search dan rescue saja sebab ada banyak yang dibutuhkan dalam pencarian dan pertolongan dimana harus ada SDM yang bisa mengelola posko atau logistik. Dan memperhatikan orkestrasi dan pentingnya kesadaran diri,” imbuhnya.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan penyematan SAR Hidayatullah sebagai Potensi Mitra Basarnas Pusat yang diberikan langsung oleh Abdul Haris Achadi, S.H DESS kepada Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun.

Acara dibuka langsung oleh Musliadi selaku ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah. Dalam sambutannya Musliadi menekankan pentingnya meneguhkan kiprah aksi kemanusiaan dan menguatkan sinergi yang lebih baik dan profesional.

Turut hadir juga Ketua Pembina SAR Hidayatullah yang juga Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka/Ketua Komisi Binamuda, Kak Supriyadi dan Dr Agus Prayoga selaku Ketua STIE Hidayatullah Depok.(ybh/hio)