Beranda blog Halaman 4

Hari Zakat, Solidaritas Sosial, dan Agenda Pembangunan Umat

SEJUMLAH laporan media sepanjang Ramadhan tahun ini menyoroti kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia dan berbagai negara di dunia. Beberapa pemberitaan menyebutkan bahwa tekanan ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat, salah satunya tercermin pada turunnya daya beli. Dalam berbagai laporan juga disebutkan bahwa sebagian warga memilih tidak melakukan perjalanan mudik karena pertimbangan kondisi ekonomi rumah tangga.

Dalam situasi tersebut, praktik solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah tetap berlangsung di tengah masyarakat Muslim. Pada saat yang sama, kalender mencatat bahwa hari ini, tanggal 17 Maret 2026 bertepatan dengan 27 Ramadhan 1447 Hijriah, kita peringati sebagai Hari Zakat. Momentum reflektif ini menjadi bagian dari rangkaian ibadah Ramadhan yang berkaitan dengan distribusi kekayaan melalui kewajiban zakat.

Di berbagai wilayah, pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, serta sedekah menjadi aktivitas yang meningkat selama Ramadhan. Praktik tersebut tercatat sebagai bagian dari tradisi sosial keagamaan umat Islam, terutama menjelang akhir bulan puasa ketika kewajiban zakat fitrah ditunaikan.

Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang dijalankan oleh seluruh Muslim yang memenuhi syarat, baik dari kalangan masyarakat biasa maupun pejabat, kaya maupun miskin. Puasa mempertemukan semua kelompok sosial dalam pengalaman fisik yang sama, yakni menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Pengalaman jasadiyah ini kemudian merangsang lahirnya empati terhadap kondisi orang lain.

Empati tersebut dalam praktik sosial umat Islam diterjemahkan dalam bentuk solidaritas ekonomi melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketiga instrumen tersebut menjadi mekanisme distribusi kekayaan yang telah lama dikenal dalam tradisi sosial Islam.

Meskipun demikian, dalam berbagai kegiatan sosial yang berlangsung selama Ramadhan, bentuk solidaritas yang tampak di ruang publik sering hadir dalam bentuk bantuan langsung. Di sejumlah tempat, kegiatan yang dilakukan antara lain pembagian paket bahan pokok, penyediaan takjil gratis, serta pemberian santunan kepada masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh berbagai organisasi sosial, lembaga zakat, komunitas masyarakat, maupun individu.

Aktivitas bantuan tersebut menjadi bagian dari praktik karitas yang rutin muncul setiap Ramadhan. Dalam berbagai laporan kegiatan sosial, program-program tersebut tercatat sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memperkuat solidaritas sosial selama bulan puasa.

Di sisi lain, sejumlah kegiatan sosial juga diarahkan pada program yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia. Beberapa lembaga keagamaan, organisasi sosial, dan lembaga pendidikan Islam menjalankan program pembinaan ulama, dai, dan tenaga pendidik sebagai bagian dari upaya menjawab berbagai persoalan sosial umat yang semakin kompleks.

Dalam konteks tersebut, pembangunan kualitas manusia menjadi bagian penting dari pembangunan sosial jangka panjang. Berbagai lembaga pendidikan Islam menjalankan program kaderisasi ulama, dai, dan guru sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat.

Dalam sejarah Islam, pembangunan masyarakat juga lekat sekali dengan dengan pembinaan manusia. Sejarah mencatat bahwa pada masa Rasulullah Muhammad, pembentukan masyarakat Madinah diawali dengan pembinaan individu dan komunitas Muslim. Dari proses pembinaan manusia tersebut kemudian lahir struktur sosial yang menopang kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi.

Ramadhan, yang setiap tahunnya menjadi momentum ibadah kolektif umat Islam, juga menjadi periode meningkatnya aktivitas sosial dan keagamaan. Pada tahun ini, peringatan Hari Zakat berlangsung di tengah perhatian publik terhadap kondisi ekonomi masyarakat serta meningkatnya aktivitas penyaluran zakat, infak, dan sedekah di berbagai daerah.

Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi periode ibadah ritual, tetapi juga periode meningkatnya aktivitas solidaritas sosial umat melalui berbagai instrumen ekonomi keagamaan yang telah lama menjadi bagian dari praktik kehidupan masyarakat Muslim.[]

MAS IMAM NAWAWI

Ramadhan Saatnya Tangan di Atas

0

SALAH satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah mengantar dan mengkondisikan orang-orang beriman untuk dermawan atau mudah berbagi. Baik dengan sedekah, infak, zakat, memberikan buka puasa, bingkisan lebaran, Tunjangan Hari Raya.

Rasulullah sendiri juga telah memberikan teladan sebagaimana hadist yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas raldhiallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Nabi adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Rasulullah ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus”.

Pernahkah kita merasakan embusan angin yang sejuk di tengah terik yang membakar? Begitulah para sahabat menggambarkan kedermawanan Rasulullah ﷺ saat memasuki bulan suci.

Beliau bukan sekadar memberi; beliau adalah “angin yang berembus”yaitu cepat, merata, dan membawa kesejukan bagi siapa pun yang ditemuinya.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tapi tentang mengasah rasa agar kita “mudah patah” melihat kesulitan sesama. Jika Allah, Sang Maha Pemurah, melipatgandakan kedermawanan-Nya di bulan ini, pantaskah kita yang mengharap ampunan-Nya justru menggenggam erat harta kita?

Mengapa Ramadan Harus Menjadi Pesta Berbagi?

Pertama, Menabung Pahala di balik senyum orang berpuasa. Setiap sebutir kurma, sepotong kue, sesuap nasi atau seteguk air yang kita berikan kepada mereka yang berpuasa adalah investasi abadi.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ahmad & At-Tirmidzi).

Bayangkan, kita tidak hanya memanen pahala puasa kita sendiri, tapi juga pahala dari jiwa-jiwa yang kita kuatkan fisiknya untuk beribadah kepada Allah. Inilah cara paling cerdas untuk menjadi “kaya” di akhirat.

Kedua, memancing belas kasih langit dengan kasih di bumi. Ramadhan adalah masa di mana Allah menebar rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun, tahukah kita rahasianya? Allah hanya akan merahmati hamba-Nya yang penyayang.

Saat kita berderma kepada hamba-Nya di bumi, saat itulah kita sedang mengetuk pintu langit agar Allah berderma kepada kita dengan ampunan-Nya. Balasan itu selalu selaras dengan perbuatan. Ingin dimaafkan? Maka mudahkanlah urusan orang lain.

Ketiga, penambal retakan ibadah kita. Jujurlah pada diri sendiri: seberapa sempurna puasa kita? Mungkin ada lisan yang belum terjaga, atau mata yang sesekali melirik yang sia-sia. Sedekah hadir sebagai “jahitan” bagi ibadah kita yang robek.

Ia adalah pembersih, penyempurna, dan penutup kekurangan. Itulah mengapa di ujung jalan nanti ada Zakat Fitrah, sebuah pesan bahwa tak ada puasa yang benar-benar suci tanpa tangan yang memberi.

Keempat, ekspresi syukur atas nikmat yang sering kita sepelekan. Hanya orang yang pernah merasakan perihnya dahaga dan lapar yang benar-benar tahu mahalnya segelas air.

Berbagi di bulan Ramadan adalah cara kita berbisik kepada Allah: “Yaa Allah, hamba sadar betapa nikmatnya makanan ini, maka izinkan hamba membaginya dengan saudaraku yang mungkin jarang merasakannya.”

Tamparan Bagi Hati

Jika di bulan seindah Ramadhan ini tangan kita masih sulit untuk memberi, jika hati kita masih sempit untuk bersedekah, dan jiwa kita masih dingin atau cuek melihat kemiskinan, maka ada yang salah dengan iman kita. Periksalah kembali motivasi hidup kita.

Kapan lagi kita akan berbagi jika tidak di bulan Ramadan? Waktu terus berlari. Usia kita kian menipis. Jangan sampai kita dipanggil pulang oleh Allah dalam keadaan membawa harta yang menumpuk, namun miskin dari bukti cinta kepada sunnah Rasul-Nya.

Jadikan setiap rupiah yang keluar dari saku kita sebagai washilah untuk mendapatkan pengakuan sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ dan meraih syafaatnya di hari yang tiada pertolongan selain pertolongan-Nya.

Ramadan sebentar lagi berlalu. Jangan biarkan ia pergi tanpa meninggalkan jejak kebaikan dengan berbagi

ABDUL GHOFAR HADI

Ketua Umum DPP Hidayatullah Tinjau Implementasi Program Recovery dan Bantuan Kemanusiaan di Aceh

ACEH TAMIANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah suasana penghujung bulan suci Ramadhan yang penuh dengan pesan keberkahan, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, untuk kali kesekian melakukan kunjungan ke Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Ahad, 25 Ramadhan 1447 (15/3/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk memantau secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak banjir bandang sekaligus meninjau penyaluran bantuan kemanusiaan yang bersifat berkelanjutan Hidayatullah bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Naspi dalam keterangannya mengatakan kepedulian terhadap sesama manusia, khususnya bagi masyarakat yang sedang mengalamai masa sulit akibat bencana alam, merupakan manifestasi penting dari nilai-nilai dakwah sosial yang diusung oleh organisasi kemasyarakatan Islam seperti Hidayatullah.

Dalam kerangka tersebut, ia mengimbuhkan, upaya meringankan beban sesama bukan sekadar aksi karitatif, melainkan sebuah integrasi dari pengabdian spiritual dan tanggung jawab kemanusiaan.

Dalam agenda ini, Naspi Arsyad didampingi oleh jajaran dari Badan Amil Zakat Nasional Hidayatullah (BMH) Pusat, termasuk Ketua Pengurus BMH Pusat Supendi dan Direktur Prodaya BMH Syamsudin. Sinergi ini juga melibatkan pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara serta pengurus BMH tingkat wilayah, yang menunjukkan adanya koordinasi struktural yang solid dalam merespons krisis kemanusiaan.

Program Recovery House di Desa Terdampak

Agenda utama dari kunjungan ini terbagi ke dalam dua aspek penting, yakni pemantauan program pemulihan jangka panjang (recovery) dan pemenuhan kebutuhan logistik mendesak bagi para korban.

Lokasi pertama yang menjadi fokus tinjauan adalah Desa Seumadam di Kecamatan Kejuruan Muda. Di desa ini, BMH telah menginisiasi berbagai program pemulihan pascabencana yang mencakup dimensi infrastruktur dan sosial.

Beberapa program unggulan yang dijalankan meliputi pembangunan Recovery House, pengecatan rumah warga, serta program Sekolah Ceria yang ditujukan untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak terdampak.

Selain itu, aspek keberlanjutan hidup masyarakat diperkuat melalui pembangunan instalasi air minum. Terkait fasilitas ini, Dhiyauddin Sugiono selaku Kepala Divisi Prodaya BMH Pusat memberikan penjelasan mengenai dimensi pemberdayaan dari proyek tersebut.

Dhiyauddin menyatakan, Depot air ini nantinya tidak hanya untuk kebutuhan warga, tetapi juga akan menjadi usaha kemandirian bagi kampung tersebut,.

Keberhasilan program pemulihan di Desa Seumadam mendapatkan apresiasi dari masyarakat setempat. Salah seorang warga, Imam, menyampaikan bahwa efektivitas kerja tim di lapangan telah membawa perubahan nyata dalam waktu yang relatif singkat. Ia mengungkapkan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah di kampung ini sudah sekitar 95 persen pulih. Warga merasakan kebahagiaan ketika BMH hadir, karena kami merasa diperhatikan dan terbantu. Bahkan ini menjadi proses recovery tercepat dibandingkan kampung lain yang juga ditangani oleh BMH,” katanya.

Tinjau Desa Lintang Bawah

Setelah meninjau progres di Seumadam, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Lintang Bawah yang berlokasi di wilayah Kota Lintang. Secara geografis, wilayah ini mengalami dampak yang sangat destruktif karena posisinya yang berdekatan dengan aliran sungai besar.

Di lokasi ini, aspek bantuan logistik menjadi prioritas utama. Sebanyak lebih dari 200 paket buka puasa disalurkan kepada warga sebagai bentuk dukungan moral dan fisik di bulan Ramadhan.

Kehadiran para pimpinan organisasi di tengah masyarakat yang sedang berjuang memulihkan diri memberikan dampak psikologis yang positif, meski kebutuhan akan bantuan jangka panjang masih sangat dirasakan oleh warga.

Sentimen haru dan harapan besar menyertai interaksi antara tim kemanusiaan dan warga. Salah seorang penduduk mengungkapkan aspirasinya agar perhatian terhadap wilayah mereka tidak terhenti pada fase tanggap darurat saja. Ia menyampaikan pesan mendalam kepada tim di lapangan.

“Jangan lupakan kami. Datanglah kembali karena kami masih membutuhkan uluran tangan,” kata salah satu warga ini.

Menanggapi dinamika di lapangan, KH Naspi Arsyad menegaskan bahwa peran lembaga adalah sebagai jembatan kebaikan antara para donatur dan mereka yang membutuhkan.

Dia mengingatkan, harapan besar yang dititipkan masyarakat setempat menegaskan posisi lembaga-lembaga filantropi seperti Laznas BMH bahwa proses pemulihan sosial dan ekonomi memerlukan konsistensi serta pendampingan yang tidak terputus.

Naspi menekankan bahwa setiap kontribusi yang disalurkan merupakan amanah kolektif dari umat.

“Semua yang dilakukan oleh lembaga Hidayatullah melalui Laznas BMH tidak lepas dari doa-doa tulus para jamaah dan para donatur. Apa yang kami lakukan ini tentu belum seberapa dibandingkan dengan ujian yang dirasakan oleh para korban,” katanya.

Sinergi Dakwah yang Inklusif

Masih dalam kesempatan yang sama, KH Naspi Arsyad menekankan bahwa program kemanusiaan yang digulirkan di Aceh Tamiang ini merupakan bukti nyata dari sinergi dakwah yang inklusif, di mana agama hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan sosial.

Naspi mendorong seraya berharap program ini tidak hanya membantu warga Aceh Tamiang bangkit secara fisik, tetapi juga menguatkan ikatan solidaritas sosial dalam kerangka kebangsaan dan kemanusiaan.

Selaras dengan hal tersebut, Supendi selaku Ketua Pengurus BMH Pusat menggarisbawahi pentingnya dukungan berkelanjutan dari para muhsinin.

Dia mengatakan, meskipun kondisi fisik pemukiman mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, proses pemulihan secara utuh masih membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

“Kondisi memang mulai membaik, tetapi kita tidak boleh meninggalkan mereka begitu saja. Mereka masih sangat membutuhkan dukungan, baik berupa bantuan, donasi, maupun doa agar bisa kembali bangkit dari bencana ini,” kata Supendi.

Ia menambahkan, dengan adanya integrasi antara program pemulihan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi melalui depot air, dan bantuan logistik paket buka puasa, Hidayatullah bersama BMH berupaya membangun kembali martabat dan kemandirian masyarakat terdampak.

Program SEA Loves Al-Qur’an Hadirkan Kajian Ramadhan di Timor Leste

DILI (Hidayatullah.or.id) — Dai utusan Hidayatullah dalam program dakwah internasional SEA (South East Asia) Loves Al-Qur’an Ramadan 1447 H, Ustadz Jumardi, menyampaikan tausiyah ba’da Subuh di Masjid Besar Annur, Kota Dili, Timor Leste.

Dalam penyampaiannya ia menekankan pentingnya memperkuat keimanan, memperbanyak amal ibadah selama bulan Ramadhan, serta menjaga ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat.

Tausiyah tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dakwah Ramadhan yang dilaksanakan di Masjid Besar Annur, salah satu pusat aktivitas keislaman bagi komunitas Muslim di ibu kota Timor Leste. Jamaah yang hadir terdiri dari warga Muslim di Kota Dili serta pengurus masjid yang mengikuti kegiatan ibadah Subuh berjamaah.

Dalam ceramahnya, Ustadz Jumardi menyampaikan nasihat keislaman yang menitikberatkan pada penguatan iman sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Ia juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan momentum Ramadhan dengan meningkatkan berbagai bentuk ibadah.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan di tengah kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, ukhuwah Islamiyah menjadi salah satu unsur yang perlu dijaga agar kehidupan umat berjalan dalam suasana saling menghormati dan kebersamaan.

Kegiatan tausiyah tersebut merupakan kesempatan ketiga bagi Ustadz Jumardi untuk menyampaikan ceramah di Masjid Besar Annur. Kehadiran dai dari program SEA Loves Al-Qur’an ini disambut oleh jamaah masjid yang secara rutin mengikuti rangkaian kegiatan dakwah selama bulan Ramadhan.

Program SEA Loves Al-Qur’an merupakan kegiatan dakwah internasional yang diselenggarakan oleh Hidayatullah melalui Dewan Pengurus Pusat. Program ini mengirimkan dai ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara untuk mengisi berbagai kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan, termasuk menjadi imam shalat, menyampaikan ceramah, serta melakukan pembinaan keislaman bagi masyarakat Muslim setempat.

Masjid Besar Annur sendiri memiliki posisi penting dalam kehidupan umat Islam di Timor Leste. Masjid ini didirikan pada tahun 1981, pada masa ketika komunitas Muslim di Kota Dili mulai berkembang. Pembangunan masjid tersebut dilakukan oleh masyarakat Muslim yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi dan Nusa Tenggara, yang menetap dan menjalankan aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.

Sejak berdirinya, Masjid Annur tidak hanya difungsikan sebagai tempat pelaksanaan shalat berjamaah. Masjid ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan keislaman, seperti pengajian, pembelajaran Al-Qur’an, serta kegiatan keagamaan lainnya yang berlangsung secara rutin, terutama pada bulan Ramadhan.

Dengan kapasitas jamaah yang cukup besar serta peran strategisnya dalam kehidupan umat Islam di Dili, Masjid Annur menjadi tempat berkumpulnya masyarakat Muslim untuk melaksanakan ibadah sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan di antara mereka.

Pelaksanaan tausiyah ba’da Subuh oleh Ustadz Jumardi tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas Ramadhan di masjid tersebut. Melalui kegiatan kajian dan ceramah keislaman, jamaah memperoleh penguatan spiritual yang menjadi bagian dari pembinaan keagamaan selama bulan suci Ramadhan di Kota Dili.

Kabid Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ketengahkan Dakwah sebagai Tanggung Jawab Bersama Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Drs. Shohibul Anwar, M.H.I, mengatakan bahwa keterbatasan ilmu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berdakwah. Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut justru harus menjadi pendorong bagi setiap Muslim untuk terus belajar agar pemahaman terhadap ajaran Islam tetap berada pada jalur yang benar.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengingatkan bahwa Islam dapat hadir di berbagai wilayah dunia melalui perjalanan panjang para dai yang meninggalkan kampung halaman demi menyampaikan risalah agama.

Pesan tersebut disampaikan Shohibul Anwar dalam Kajian Ahad Pagi bertema Fiqh Dakwah yang berlangsung di Masjid Baitul Karim pada Ahad, 25 Ramadhan 1447 (15/3/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jamaah yang mengikuti kajian keislaman rutin yang diselenggarakan di lingkungan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta.

Dalam pemaparannya, Shohibul Anwar menjelaskan bahwa dakwah sering kali dipahami sebagai tugas khusus para ulama atau penceramah. Namun ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, dakwah merupakan tanggung jawab bersama umat agar nilai-nilai kebaikan dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ia menyampaikan bahwa salah satu nikmat terbesar yang diterima seorang Muslim adalah hidayah, dan nikmat tersebut hadir melalui proses dakwah yang dilakukan oleh orang lain.

“Kita ini mendapatkan nikmat terbesar, yaitu hidayah, karena ada orang yang mendakwahkannya,” ujarnya di hadapan jamaah yang mengikuti kajian tersebut.

Menurutnya, perjalanan sejarah Islam menunjukkan bahwa penyebaran ajaran Islam berlangsung melalui upaya panjang para pendakwah yang menjangkau berbagai wilayah di dunia. Ia mengingatkan bahwa keberadaan Islam di Nusantara juga tidak terlepas dari proses perjalanan dakwah yang panjang.

“Di negeri ini, jaraknya ribuan mil dari tempat lahirnya ajaran Islam. Ada orang-orang yang meninggalkan kampung halaman, menyusuri dunia, menyeberang lautan, hingga Islam datang ke sini. Dakwah itu berlangsung dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Shohibul Anwar juga menyinggung catatan sejarah tentang para sahabat Nabi Muhammad yang melakukan perjalanan dakwah ke berbagai wilayah. Salah satu tokoh yang disebut dalam sejarah adalah Sa’ad bin Abi Waqash yang dikenal memiliki kisah perjalanan dakwah hingga ke wilayah China.

Berdasarkan sejarah tersebut, ia menekankan bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebaikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

“Oleh karena itu setiap Muslim punya kewajiban berdakwah, meskipun pemahaman keislaman kita sedikit,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keterbatasan pengetahuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjauh dari aktivitas dakwah. Sebaliknya, kondisi tersebut harus diiringi dengan upaya memperdalam ilmu agama agar pemahaman tetap berada pada koridor yang benar.

“Kalau pengetahuan tentang Islam sedikit, maka harus belajar atau mengikuti fatwa-fatwa ulama, sehingga umat tetap memiliki pemahaman Islam yang benar,” jelasnya.

Melalui kajian tersebut, Shohibul Anwar berharap semakin banyak umat Islam yang memiliki kepedulian terhadap dakwah. Ia menegaskan bahwa dakwah tidak terbatas pada aktivitas ceramah di mimbar, melainkan mencakup berbagai upaya untuk mengajak masyarakat kepada ketaatan kepada Allah serta menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam.

Iftar Ramadhan Program SEA Loves Al-Qur’an Perkuat Ukhuwah dan Toleransi di Sabah

0

SABAH (Hidayatullah.or.id) — Buka puasa bersama dalam program dakwah internasional SEA (South East Asia) Loves Al-Qur’an Ramadan 1447 H di Tawau, Sabah, Malaysia berlangsung dalam suasana kebersamaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang menjunjung nilai toleransi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Asmaul Husna yang berada di kawasan hutan hujan Maliau Basin Conservation Area, wilayah yang dikenal sebagai kawasan konservasi alam di Sabah, pada Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh masyarakat Muslim setempat serta pengurus Masjid Asmaul Husna. Kegiatan dipandu oleh dai utusan program SEA Loves Al-Qur’an yang bertugas di wilayah Sabah, Ustadz Aray Ramlie, dengan pendampingan Ustadz Hamzah.

Program SEA Loves Al-Qur’an sendiri merupakan kegiatan dakwah lintas negara yang dilaksanakan selama bulan Ramadhan untuk memperluas pembinaan Al-Qur’an di kawasan Asia Tenggara.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan buka puasa bersama yang diikuti jamaah dalam suasana kebersamaan. Momentum tersebut menjadi bagian dari aktivitas Ramadhan yang mempertemukan masyarakat setempat dalam kegiatan ibadah dan interaksi sosial di lingkungan masjid.

Setelah berbuka puasa, panitia kegiatan menyerahkan hadiah berupa buku pembinaan kader berjudul Mencetak Kader kepada pengurus masjid. Penyerahan buku tersebut dimaksudkan sebagai kontribusi dakwah yang dapat digunakan dalam kegiatan pembinaan umat di lingkungan Masjid Asmaul Husna.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Shalat Isya berjamaah yang diikuti jamaah masjid. Seusai shalat, disampaikan tazkiroh atau tausiyah singkat yang menjadi bagian dari rangkaian penguatan spiritual sebelum pelaksanaan Shalat Tarawih.

Berdampingan dengan Gereja

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah lokasi Masjid Asmaul Husna yang berada berdampingan dengan sebuah gereja dalam satu kawasan yang sama. Kedua tempat ibadah tersebut berada di dalam satu area pagar di wilayah Maliau Basin Conservation Area. Kondisi tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan latar belakang keyakinan yang berbeda.

Hubungan antara pengurus masjid dan pihak gereja di sekitar kawasan tersebut dilaporkan berjalan dengan baik. Masing-masing komunitas menjalankan kegiatan keagamaan secara berdampingan serta menjaga kenyamanan satu sama lain dalam menjalankan aktivitas ibadah.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Aray Ramlie menyampaikan bahwa kehidupan sosial yang berlangsung di kawasan tersebut menunjukkan pentingnya sikap saling menghormati antarumat beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

“Islam mengajarkan kedamaian dan menghormati sesama. Kehidupan berdampingan seperti yang terlihat di tempat ini menjadi contoh bahwa perbedaan tidak menghalangi kita untuk hidup rukun dan saling menghargai,” ujarnya.

Kegiatan buka puasa bersama tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan program SEA Loves Al-Qur’an yang digagas oleh Hidayatullah melalui Dewan Pengurus Pusat. Program ini berfokus pada pengiriman dai serta pengajar Al-Qur’an ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara selama bulan Ramadhan.

Melalui program tersebut, para dai bertugas mengisi berbagai kegiatan keagamaan, termasuk menjadi imam shalat, menyampaikan ceramah Ramadhan, serta memberikan pembinaan kepada masyarakat Muslim di wilayah penugasan.

Kegiatan di Masjid Asmaul Husna Tawau menjadi salah satu rangkaian aktivitas program tersebut. Selain menghadirkan kegiatan ibadah dan pembinaan umat, kegiatan ini juga menunjukkan kehidupan masyarakat yang berlangsung secara berdampingan dalam lingkungan yang multikultural di wilayah Sabah, Malaysia.

KH Hamim Thohari Tekankan Pengendalian Emosi sebagai Pelajaran Penting Ramadhan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, KH Hamim Thohari, menyampaikan bahwa Ramadhan menjadi momentum untuk melatih kemampuan mengendalikan emosi agar tidak mudah marah.

Ia menegaskan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan kemarahan, melainkan segala bentuk sikap yang berlebihan dalam diri manusia. Pesan tersebut disampaikannya dalam Kajian Ramadhan yang berlangsung di Masjid Ummul Qura Pesantren Hidayatullah Depok pada Ahad, 25 Ramadhan 1447 (15/3/2026).

Kajian yang rutin diselenggarakan setiap Sabtu dan Ahad selama bulan Ramadhan tersebut menghadirkan KH Hamim Thohari sebagai narasumber dengan moderator tokoh literasi Hidayatullah, Imam Nawawi. Forum tersebut menjadi ruang pembelajaran keislaman yang diikuti jamaah untuk memperdalam pemahaman tentang nilai ketakwaan dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, KH Hamim menjelaskan empat indikator utama yang menggambarkan karakter orang bertakwa. Penjelasan tersebut merujuk pada kandungan Al Qur’an ayat 133 hingga 136 dalam Surah Ali Imran. Ia memulai dengan menjelaskan pentingnya kecerdasan dalam mengelola aspek ekonomi.

“Pertama, orang yang bertakwa itu punya kecerdasan finansial. Ia pandai mencari rezeki juga pandai membelanjakannya di jalan Allah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemampuan mencari penghidupan dan menyalurkannya untuk kemaslahatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Menurutnya, keterampilan bekerja dan kemampuan berbagi harus berjalan bersamaan.

“Tidak boleh ada kader dan umat Islam yang tidak punya skill, sehingga tidak pandai mencari rezeki, termasuk tidak pandai membagikannya di jalan kemaslahatan,” katanya.

KH Hamim juga mengingatkan bahwa kecakapan ekonomi tidak hanya diukur dari kemampuan memperoleh penghasilan. Penggunaan rezeki secara proporsional menjadi bagian penting dari nilai ketakwaan.

“Jangan sampai pandai mencari rezeki, tapi kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah. Hidup menjadi bermegah-megahan, itu tidak cerdas finansial namanya,” ujarnya.

Selain kecerdasan finansial, ia menyoroti pentingnya kecerdasan emosional sebagai kualitas yang perlu dilatih, terutama selama bulan Ramadhan. Menurutnya, ibadah puasa memberikan kesempatan bagi seorang Muslim untuk mengendalikan berbagai dorongan emosi dalam dirinya.

“Kedua, kecerdasan emosional. Ramadhan mesti mengasah kemampuan kita dalam hal pandai mengendalikan emosi. Tidak mudah marah. Namun perlu kita tekankan, emosi itu bukan sebatas marah. Tetapi apapun yang berlebih-lebihan dalam diri,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa berbagai bentuk perasaan yang melampaui batas juga termasuk dalam kategori emosi yang perlu dikendalikan, seperti kesedihan, keberanian, atau kegembiraan yang berlebihan.

“Sedih berlebih-lebihan, berani berlebih-lebihan, bahkan senang berlebih-lebihan, itu adalah emosi yang harus kita kendalikan,” kata Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah ini.

KH Hamim juga menjelaskan pentingnya kecerdasan sosial sebagai ciri lain dari orang yang bertakwa. Menurutnya, sikap memaafkan kesalahan orang lain merupakan bagian dari karakter tersebut.

“Ini orang yang selalu bisa dan sadar, mau memberi maaf atas kesalahan-kesalahan orang lain. Para ibu, para istri, akan sehat dan baik rumah tangganya kalau bisa memberi maaf kepada suaminya,” ujarnya yang disambut respons hangat dari para hadirin.

Sebagai penutup, ia menyinggung kecerdasan spiritual yang berkaitan dengan kesadaran manusia terhadap kesalahan yang dilakukan. Ia menegaskan bahwa manusia tidak luput dari dosa, namun orang bertakwa memiliki kesadaran untuk segera kembali kepada Allah.

“Tidak ada orang hidup tanpa dosa. Tapi orang yang takwa, kalau ia melakukan dosa atau kezaliman, ia segera sadar dengan mengingat Allah SWT,” ucapnya.

Kajian Ramadhan di Pesantren Hidayatullah Depok tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pembinaan spiritual selama bulan suci. Melalui forum kajian ini, jamaah iktikaf diajak memahami nilai-nilai ketakwaan yang mencakup aspek pengelolaan rezeki, pengendalian emosi, sikap sosial, serta kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Hidayatullah Ajak Bersatu Menjaga Kualitas Diskursus Publik dari Polusi Ujaran Kebencian

0
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Muhammad Isnaeni (Foto: Bilal Tadzkir/ hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menyampaikan keprihatinan sekaligus kritik terhadap dinamika komunikasi yang ditampilkan oleh Permadi Arya atau yang dikenal sebagai Abu Janda. Insiden tersebut terjadi saat Abu Janda tampil sebagai narasumber dalam acara Rakyat Bersatu di Inews TV, yang turut menghadirkan pakar hukum tata negara Feri Amsari serta peneliti senior LIPI dan mantan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Prof Ikrar Nusa Bhakti.

Dalam dialog tersebut, Abu Janda terekam melontarkan makian kasar berupa kata anjing kepada narasumber lain saat berdebat mengenai posisi geopolitik Amerika Serikat, Israel, dan Palestina. Muhammad Isnaeni menilai tindakan tersebut bukan sekadar kekhilafan komunikasi, melainkan polusi bagi ruang publik yang seharusnya dijaga kehormatannya sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.

Menurutnya, media memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan konten yang disiarkan memberikan pencerahan, bukan justru mempertontonkan perilaku yang tidak beradab. Isnaeni menekankan bahwa ruang publik memiliki fungsi strategis dalam membentuk karakter bangsa.

“Saya kira ini layak untuk mendapatkan sorotan dalam artian ini penting sekali agar ruang publik yang hendaknya berdampak edukatif dan mencerahkan itu tidak dikotori oleh sampah-sampah makian yang ini tentu tidak berkesesuaian,” kata Isnaeni dalam keterangannya kepada media ini, Sabtu (14/3/2026). Ia memandang bahwa penggunaan diksi yang sarkastis dan menghina adalah bentuk kegagalan dalam berdialektika secara sehat.

Lebih lanjut, Isnaeni menyoroti aspek akuntabilitas media mainstream sebagai penjaga gerbang informasi. Media televisi, sebagai institusi yang menggunakan frekuensi publik, dituntut untuk memiliki standar selektivitas yang tinggi terhadap figur yang diberikan panggung untuk berbicara. Ia menyayangkan bahwa rekam jejak narasumber yang sering memicu kontroversi negatif masih diberikan ruang luas.

“Kami mendorong agar media mainstream dalam hal ini media televisi untuk betul-betul selektif dan tujuannya karena ini ditonton oleh publik. Mempertontonkan dialektika itu sesungguhnya positif, tapi jika kemudian diisi dengan umpatan, makian, cacian itu akhirnya cenderung sangat destruktif,” ungkapnya.

Sebagai representasi dari organisasi kemasyarakatan Islam yang berfokus pada dakwah dan pendidikan, Hidayatullah mendesak agar media televisi menghentikan praktik pengundang narasumber yang hanya mengejar rating melalui sensasi kemarahan dan umpatan.

Isnaeni juga menyentuh aspek hukum sebagai langkah elegan untuk memberikan efek jera terhadap perilaku penghinaan di media massa. Ia merujuk pada ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang memungkinkan adanya tuntutan hukum jika pihak-pihak yang dirugikan, seperti Feri Amsari atau Ikrar Nusa Bhakti, merasa tindakan Abu Janda telah melampaui batas kewajaran.

Ia menyatakan bahwa jika para pihak merasa ini sudah berlebihan, ada jalur yang elegan dan baik untuk menghentikan model-model seperti ini dengan jalur hukum jika itu dimungkinkan dan lebih baik atau lebih maslahat.

“Kita meminta media mainstream khususnya televisi untuk tidak lagi mengundang narasumber yang sejenis seperi ini. Karena tentu ini tidak baik untuk semua karena bisa jadi berujung pada perpecahan anak bangsa yang satu dengan lain saling mendukung,” lanjut Isnaeni. Menurutnya, kehadiran figur-figur yang tidak memiliki kadar intelektualitas dan kesantunan berkomunikasi hanya akan menciptakan iklim sosial yang penuh kebencian.

Isnaeni mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk bersatu dalam menjaga kualitas diskursus publik. Ia menegaskan bahwa ormas-ormas Islam memiliki kewajiban moral untuk mendorong lahirnya ruang-ruang dialog yang sehat dan bermartabat.

Harapannya, insiden ini menjadi titik balik bagi industri penyiaran nasional untuk mengutamakan konten yang beradab dan mencerdaskan kehidupan bangsa di atas kepentingan komersial semata.

“Kita sebagai civil society apalagi ormas Islam mendorong khususnya media televisi, media mainstream untuk menghadirkan narasumber yang memiliki kapasitas yang memadai untuk mencerahkan ruang publik kita, pungkasnya.

Pemuda Diajak Memaknai Ramadhan sebagai Ruang Refleksi dan Perbaikan Diri

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Pentingnya pemuda memaknai Ramadhan sebagai ruang refleksi untuk semakin progresif dan beradab menjadi pesan utama dalam tausiyah Ramadhan yang disampaikan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Adam Sukiman. Pesan tersebut disampaikan dia dalam kegiatan ceramah Ramadhan yang berlangsung di Masjid Darul Hijrah, Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).

Dalam pemaparannya, Adam mengawali dengan mengingatkan tentang cepatnya pergantian waktu dalam kehidupan manusia. Ia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Asr yang menyatakan bahwa manusia berada dalam keadaan merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bernilai ibadah.

Adam menjelaskan bahwa keimanan tidak cukup berhenti pada pengakuan lisan atau keyakinan semata, tetapi harus diwujudkan melalui amal perbuatan. Ia menyampaikan bahwa hubungan antara iman dan amal saleh merupakan prinsip yang ditegaskan secara berulang dalam Al-Qur’an.

“Iman yang kita miliki tidak cukup hanya diucapkan. Ia membutuhkan pembuktian melalui amal saleh sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan ayat Surah Al-Asr,” ujarnya di hadapan jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam tausiyahnya, Adam juga menyinggung perintah puasa yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut diawali dengan seruan kepada orang-orang yang beriman, yang menunjukkan bahwa ibadah puasa berkaitan langsung dengan kesadaran iman seorang Muslim.

Menurutnya, puasa tidak seharusnya dipahami hanya sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga. Ibadah tersebut memiliki dimensi spiritual yang lebih luas karena melatih pengendalian diri serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah.

Ia juga menjelaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang diberikan Allah kepada umat manusia untuk memperbanyak amal kebaikan dan meningkatkan kualitas ketakwaan. Dalam pandangannya, kesempatan tersebut menjadi bagian dari bentuk rahmat Allah kepada umat manusia.

“Allah menghendaki kita semua meraih surganya. Ramadhan dihadirkan agar kita memperbanyak amal dan mengumpulkan tabungan takwa,” jelasnya.

Dalam ceramah tersebut, Adam mengingatkan bahwa setiap Muslim memiliki pilihan dalam memanfaatkan bulan Ramadhan. Menurutnya, bulan tersebut dapat dijadikan sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah atau berlalu tanpa dimanfaatkan secara optimal.

Ia juga mengajak umat Islam untuk meningkatkan kesungguhan dalam beribadah ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bagian akhir bulan Ramadhan tersebut dipahami sebagai fase yang memiliki nilai keutamaan dalam tradisi ibadah umat Islam.

“Jangan sia-siakan waktu. Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan untuk lebih giat beribadah dan menguatkan kesungguhan dalam meraih kemuliaan di bulan yang penuh berkah ini,” pungkasnya.

Tausiyah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Darul Hijrah Tolitoli yang diikuti oleh jamaah. Dalam kegiatan tersebut, pesan tentang pemanfaatan waktu, penguatan iman, serta peningkatan amal menjadi tema utama yang disampaikan kepada para peserta, khususnya generasi muda yang hadir dalam kegiatan tersebut.

BMH Bersama Program SEA Loves Al-Qur’an Hadirkan Iftar Ramadhan di Timor Leste

DILI (Hidayatullah.or.id) — Buka puasa bersama yang diselenggarakan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) melalui program SEA (South East Asia) Loves Al-Qur’an berlangsung di Masjid An-Nur, Rua Campo Alor, Kampung Alor, Kota Dili, ibukota Timor Leste, pada Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026). Kegiatan tersebut diisi dengan penyaluran paket makanan berbuka puasa kepada sekitar 100 jamaah yang menghadiri kegiatan Ramadhan di masjid tersebut.

Program berbagi iftar tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dakwah Ramadhan yang dilaksanakan melalui program SEA Loves Al-Qur’an. Program ini bertujuan menghadirkan pelayanan keagamaan bagi komunitas Muslim di sejumlah negara Asia Tenggara melalui pengiriman dai dan pengajar Al-Qur’an.

Penyaluran makanan berbuka dilakukan menjelang waktu maghrib kepada jamaah yang memadati Masjid An-Nur. Sejak sore hari, jamaah mulai berdatangan ke masjid untuk melaksanakan ibadah sekaligus menunggu waktu berbuka puasa bersama. Para relawan kemudian menyalurkan sekitar 100 paket nasi kotak kepada jamaah yang hadir.

Dai Hidayatullah yang bertugas di Dili melalui program tersebut, Ustadz Jumadi, menjelaskan bahwa kegiatan iftar bersama ini dimaksudkan untuk menghadirkan kebersamaan bagi komunitas Muslim setempat.

“Kehadiran program ini diharapkan dapat menghadirkan kebahagiaan serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah keterbatasan yang ada,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan berbuka puasa bersama memiliki arti tersendiri bagi komunitas Muslim di Timor Leste. Negara yang secara resmi bernama República Democrática de Timor-Leste tersebut memiliki populasi Muslim yang relatif kecil dibandingkan dengan kelompok agama lainnya.

Berdasarkan data sensus nasional Timor Leste tahun 2022, jumlah umat Islam di negara tersebut berada pada kisaran kurang dari dua persen dari total populasi. Sebagian besar komunitas Muslim di Dili berasal dari diaspora pedagang dan pekerja dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi.

Kegiatan berbuka puasa bersama seperti digelar di Masjid An-Nur hari itu menjadi salah satu momentum pertemuan bagi komunitas Muslim yang tersebar di berbagai kawasan kota.

“Selain sebagai sarana memperkuat persaudaraan sesama muslim, kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan moral agar umat Islam tetap semangat menjalankan syariat dan meramaikan masjid,” kata Jumadi.

Ia juga menyampaikan harapan agar para donatur yang mendukung program ini memperoleh keberkahan atas kontribusi yang diberikan.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal kebaikan para donatur yang telah berpartisipasi dalam program ini, melipatgandakan pahala mereka, serta menjadikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir,” ujarnya.

Program SEA Loves Al-Qur’an melalui Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah ini sendiri merupakan inisiatif dakwah lintas negara yang dilaksanakan melalui pengiriman dai dan pengajar Al-Qur’an ke berbagai wilayah di Asia Tenggara.

Para dai yang bertugas menjalankan berbagai kegiatan pembinaan keagamaan, termasuk menjadi imam shalat, mengajar Al-Qur’an, serta menyampaikan ceramah kepada masyarakat Muslim setempat.

Kegiatan iftar bersama di Masjid An-Nur Dili menjadi bagian dari rangkaian aktivitas Ramadhan dalam program tersebut, yang diarahkan untuk memperkuat pembinaan spiritual sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah komunitas Muslim yang hidup sebagai minoritas di Timor Leste.