Beranda blog Halaman 5

Wisuda Sarjana Pendidikan STIT Mumtaz, Ketum DPP Hidayatullah Tekankan Sinergi dan Kolaborasi Harga Mati

0

KARIMUN (hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana (S-1) Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Angkatan VII Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Nasional Tanjungbalai Karimun, Sabtu (11/7/2026). Sebanyak 33 wisudawan dan wisudawati dikukuhkan dalam prosesi yang berlangsung khidmat tersebut.

Ketua STIT Mumtaz Karimun, Dr. H. Sumarno, M.Pd  mengatakan wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan titik awal pengabdian para lulusan kepada masyarakat. Karena itu, tema wisuda tahun ini, “Dari Batas Negeri, STIT Mumtaz Bersinergi”, dipilih sebagai penegasan bahwa perguruan tinggi harus mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak demi menjawab kebutuhan pembangunan daerah.

“Sinergi harus menjadi kekuatan bersama. Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, lembaga sosial, dan masyarakat menjadi kunci agar ilmu yang dimiliki para lulusan benar-benar memberi manfaat,” kata Sumarno.

Sementara itu, Wakil Bupati Karimun Rocky Marciano Bawole,S.Sos, M.M  menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada civitas akademik  STIT Mumtaz Karimun atas konsistensi mencetak lulusan yang berkualitas, cerdas, dan berdaya saing.

“Kelulusan ini adalah bukti nyata dedikasi Bapak dan Ibu dosen serta pengelola kampus dalam mendidik putra-putri daerah,” tutur Rocky.

Kepada para wisudawan, ia mengingatkan hari ini bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal menerapkan ilmu yang didapat.

“Kabupaten Karimun terus berbenah dan sangat membutuhkan pemikiran serta inovasi dari kalian. Jangan berhenti belajar, terus asah keterampilan, dan jadilah agen perubahan yang membawa kemajuan bagi daerah, bangsa, dan negara,” pesannya.

Momen sakral tersebut pula dihadiri Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H Naspi Arsyad, Lc yang menyampaikan orasi ilmiah berisi  pesan reflektif bagi para lulusan, kisah perjalanan hidupnya, hingga pesan moral untuk senantiasa mengenang jasa orang tua.

“Tema Dari Batas Negeri, STIT Mumtaz Bersinergi  bukan sekadar slogan, tetapi bersinergi merupakan keharusan bagi alumni STIT Mumtaz  dan para kader Hidayatullah dimanapun dan kapanpun berada sehingga dapat memberi manfaat serta bermakna luas di tengah masyarakat,” jelasnya.

Dari tema sinergi tersebut, K.H. Naspi Arsyad kemudian menyampaikan sebuah renungan bahwa tidak selamanya perhitungan dalam hidup dilakukan dengan logika dan akal semata, karena ada kalanya manusia harus menyerahkan perhitungan tersebut kepada Allah ‘Azza wa jalla.

Ia menceritakan, sepulangnya menempuh pendidikan di Timur Tengah, tidak sedikit pihak yang melontarkan pertanyaan kepadanya lantaran melihat gaji yang diterima saat itu tidak sebanding dengan pengeluaran hidup sehari-hari. Menanggapi hal tersebut, K.H. Naspi Arsyad menyampaikan bahwa kebanyakan manusia terbiasa menggunakan logika untuk berhitung, padahal ada perhitungan yang tidak bisa dijangkau oleh akal semata dan hanya bisa dipahami melalui keyakinan serta keikhlasan menjalani jalan dakwah dan pendidikan.

Ia menuturkan bahwa dari kesadaran tersebutlah tumbuh keyakinan bahwa perjuangan mendirikan lembaga pendidikan dan dakwah tidak bisa semata diukur dengan kalkulasi materi, melainkan harus dilandasi keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membukakan jalan. Kisah inilah yang kemudian ia kaitkan dengan sejarah awal berdirinya Hidayatullah, yang bermula dari sebuah pesantren sederhana yang didirikan oleh para pendahulu, hingga tumbuh menjadi jaringan lembaga pendidikan dan dakwah di berbagai daerah, termasuk STIT Mumtaz Karimun.

Di sela-sela orasi, Ketua Umum Hidayatullah juga memperkenalkan filosofi Is-Al, yaitu Issengngi Alemu, sebuah ungkapan dalam bahasa Bugis yang bermakna “Ketahuilah Dirimu, Tahu Diri, Sadar Diri”. Ia menekankan bahwa filosofi ini penting dihayati oleh para wisudawan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan setelah menyandang gelar sarjana. Menurutnya, seseorang yang mengenal dan menyadari dirinya dengan baik akan lebih mampu menempatkan diri secara tepat di tengah masyarakat, memahami peran dan tanggung jawabnya, serta tidak semata bersandar pada logika perhitungan duniawi sebagaimana renungan yang telah disampaikannya.

Di penghujung orasinya, K.H. Naspi Arsyad turut berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar tidak pernah melupakan jasa dan pengorbanan orang tua. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana tidak terlepas dari doa dan dukungan orang tua selama ini, sehingga sudah sepatutnya para lulusan menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk terus berbakti dan berkarya di tengah masyarakat.

Orasi ilmiah tersebut disampaikan di hadapan 33 wisudawan dan wisudawati Angkatan VII STIT Mumtaz Karimun. Turut hadir menyaksikan Wakil Bupati Karimun Rocky Marciano Bawole, Sekretaris Daerah Kabupaten Karimun Dr. Sularno, S.Sos., M.Si., Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Karimun Datuk Wira Setia Utama Dr. Muhammad Firmansyah, M.Si., Ketua Badan Pembina Yayasan Hidayatullah Batam Dr. Khairul Amri, S.E., M.Pd., jajaran Forkopimda, civitas akademik STIT Mumtaz dan tamu undangan lainnya.

DPW Hidayatullah Kaltim Gelar Daurah Marhalah Wustha Perdana Periode Ini, Siapkan Kader Penggerak Peradaban Islam

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur menyelenggarakan Daurah Marhalah Wustha (DMW) yang diikuti oleh 25 peserta utusan dari berbagai institusi, organisasi, dan amal usaha Hidayatullah se-Kalimantan Timur, serta beberapa peserta dari Kalimantan Utara. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Jumat–Senin, 10–13 Juli 2026 M bertepatan dengan 25–28 Muharram 1448 H, bertempat di Ruang Rapat Yayasan WKP, Kampus Induk Ummul Qura Hidayatullah Balikpapan.

Mengusung tema “Terwujudnya Kader Penggerak Halaqah sebagai Wasilah Membangun Peradaban Islam,” Daurah Marhalah Wustha menjadi jenjang kaderisasi strategis dalam membentuk kader Hidayatullah yang memiliki kematangan pemikiran, kepemimpinan, serta kemampuan menggerakkan halaqah sebagai instrumen dakwah dan pembinaan umat.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional dari unsur pimpinan Hidayatullah, yaitu Ustadz Dr. Nashirul Haq, Lc., M.A. (Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah), Ustadz Drs. Nursyamsa Hadis (Anggota Majelis Penasehat Hidayatullah), Ustadz Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I. (Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah), serta Ustadz Drs. M. Nur Fuad, M.A. (Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah).

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Qura Balikpapan, Ustadz Dr. Arfan, M.Pd.I., menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya karena Kampus Induk Ummul Qura dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan DMW pertama pada periode kepengurusan saat ini. Beliau menegaskan bahwa seluruh civitas Kampus Ummul Qura sangat antusias mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diusung sangat selaras dengan visi besar Ummul Qura untuk terus berbenah dalam mewujudkan cita-cita membangun peradaban Islam. Terlebih lagi, saat ini berkembang semangat dan optimisme bahwa kebangkitan Hidayatullah akan kembali dimulai dari Kampus Induk Ummul Qura Balikpapan.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, KH. Hizbullah AS, S.Pd.I., menegaskan bahwa Daurah Marhalah Wustha bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar organisasi dalam menjaga ruh, semangat, dan kesinambungan perjuangan dakwah. “Agenda daurah ini merupakan wahana transformasi jati diri sekaligus penguatan ruh perjuangan. Melalui kaderisasi yang berkelanjutan inilah Hidayatullah akan terus melahirkan kader-kader yang siap mengemban amanah perjuangan di berbagai lini kehidupan,” ujarnya.
Adapun Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ustadz Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I., yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menjelaskan bahwa Daurah Marhalah Wustha merupakan jenjang kaderisasi yang berada satu tingkat di atas Marhalah Ula.

Beliau menjelaskan bahwa apabila Marhalah Ula lebih berorientasi pada pemahaman normatif dan tekstual mengenai dasar-dasar Islam, maka alumni Marhalah Wustha dituntut memiliki kemampuan mendialogkan ajaran Islam secara terbuka, argumentatif, dan kontekstual di tengah masyarakat. Lebih lanjut, beliau berharap seluruh peserta yang mengikuti daurah ini dapat menjadi penggerak halaqah sekaligus calon pemimpin Hidayatullah di masa depan. Alumni DMW diharapkan mampu menjadi kader yang solutif, menghadirkan kontribusi nyata bagi umat dan organisasi, serta menjadi bagian dari penyelesaian berbagai persoalan, bukan justru menjadi sumber persoalan.

Melalui penyelenggaraan Daurah Marhalah Wustha ini, diharapkan lahir kader-kader Hidayatullah yang memiliki integritas keislaman, kedalaman pemahaman, kematangan kepemimpinan, serta kesiapan menjadi penggerak halaqah dalam mewujudkan peradaban Islam yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

DPP Hidayatullah Perkuat Ekosistem Ekonomi Umat Lewat Sinergi dengan Kurma Adzwa Farm

0

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Ikhtiar membangun kemandirian ekonomi umat memerlukan kolaborasi yang kuat antara lembaga dakwah dan pelaku usaha produktif. Berangkat dari semangat tersebut, DPP Hidayatullah menjajaki peluang sinergi dengan Kurma Adzwa Farm, sebuah kawasan peternakan domba terintegrasi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (10/7/2026).

Kunjungan yang dipimpin Departemen Produksi dan Perdagangan DPP Hidayatullah ini menjadi bagian dari upaya organisasi memperluas jejaring kemitraan dalam pengembangan usaha produktif berbasis peternakan, agrikultur, dan ketahanan pangan. Turut hadir mendampingi rombongan jajaran Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta.

Kurma Adzwa Farm yang berdiri sejak 2021 di Kampung Cimahi, Jomin Timur, Kecamatan Kotabaru, dikenal sebagai kawasan peternakan modern yang mengintegrasikan peternakan, pertanian, dan wisata edukasi. Melalui konsep ekonomi sirkular, limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas lahan pertanian di sekitarnya.

Bagi DPP Hidayatullah, model usaha seperti ini menjadi contoh nyata bahwa sektor peternakan tidak hanya mampu menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menciptakan keberlanjutan lingkungan, membuka lapangan usaha, dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Mewakili Kurma Adzwa Farm, Taufiqurrahman menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menilai kolaborasi antara lembaga dakwah dan dunia usaha memiliki potensi besar dalam melahirkan ekosistem ekonomi yang sehat sekaligus menumbuhkan generasi wirausahawan yang berkarakter.

Kepala Departemen Produksi dan Perdagangan DPP Hidayatullah, Rusydi Hidayat, S.Sos.I, menegaskan bahwa Hidayatullah terus mendorong lahirnya berbagai model kolaborasi yang mampu memperkuat kemandirian ekonomi umat.

«”Semoga silaturahmi ini menjadi wasilah kebaikan serta membuka ruang sinergi program penguatan ekonomi Hidayatullah bersama Kurma Adzwa Farm. Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat yang luas bagi umat, memperkuat sektor usaha berbasis jamaah, serta mendukung terwujudnya kemandirian ekonomi Hidayatullah,” ujarnya.»

Diskusi berlangsung hangat dan produktif. Berbagai peluang kerja sama dibahas, mulai dari pengembangan peternakan modern, pemberdayaan ekonomi berbasis jamaah, pembinaan kewirausahaan, hingga penguatan ketahanan pangan. Kesamaan visi dalam membangun usaha yang produktif dan berkelanjutan menjadi modal awal bagi terbangunnya kolaborasi yang lebih luas pada masa mendatang.

Usai berdiskusi, rombongan meninjau langsung berbagai fasilitas yang dimiliki Kurma Adzwa Farm, mulai dari kandang peternakan domba, sistem pengolahan limbah organik, kawasan pertanian, hingga area wisata edukasi yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan.

Pada kesempatan tersebut, Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta turut menyampaikan undangan kepada Owner Kurma Adzwa Farm, Ichsan David Indra Wijaya, untuk menjadi narasumber dalam Rapat Kerja Wilayah Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada 25–27 Juli 2026. Undangan tersebut diterima oleh Taufiqurrahman yang mewakili manajemen Kurma Adzwa Farm.

Melalui pertemuan ini, DPP Hidayatullah berharap sinergi yang terjalin tidak berhenti pada silaturahmi semata, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam menghadirkan model pemberdayaan ekonomi yang mampu melahirkan wirausahawan, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi umat sebagai bagian dari kontribusi Hidayatullah untuk Indonesia.

Menyiapkan Instruktur Handal

0

Juni-Juli dikenal sebagai bulan-bulan sibuk persekolahan. Ujian, pembagian rapor, dan penerimaan murid baru terkumpul di dua bulan ini. Selain itu, ada lagi yang biasa diagendakan di waktu ini, yakni pelatihan. Sasarannya bisa guru, murid, bahkan walimurid.

Ada satu unsur yang kemudian terlihat jelas: Instruktur.

Sebagian instruktur sangat handal dalam mengampu pelatihan, sebagian lainnya belum. Muncullah pertanyaan, hal mendasar apa sajakah yang perlu diadakan agar terwujud instruktur handal? Berikut sedikit penjelasannya.

Sebagai persiapan satu pelatihan, biasanya diadakan training of trainer (ToT). Istilah lain yang juga dikenal cukup luas adalah bimbingan teknis (bimtek). Subtansi dan tujuan keduanya sama, yakni menyiapkan instruktur untuk mengisi pelatihan.

Dalam ToT atau bimtek, biasanya calon instruktur dibekali pengetahuan seputar materi yang akan disampaikan. Selain itu calon instruktur juga dibekali keterampilan seputar cara menyampaikan. Satu lagi, calon instruktur juga dibekali semacam protokol atau skenario dalam menyampaikan materi.

Nah, ada satu hal yang terlihat masih jarang dimiliki oleh calon instruktur, yakni penguatan materi secara mandiri. Setelah mengikuti ToT atau bimtek, baiknya calon instruktur memperkaya dirinya dengan materi-materi yang relevan. Calon instruktur tidak hanya mengandalkan materi dari ToT atau bimtek.

Hal ini dikarenakan materi yang disampaikan saat ToT atau bimtek sebatas yang akan disampaikan pada pelatihan sesungguhnya. Padahal kemampuan calon instruktur menyerap materi tidak sama. Seringnya materi tereduksi saat disampaikan ke level selanjutnya dan selanjutnya. Deviasi sangat mungkin terjadi di lapangan.

Bagaimana jika calon instruktur mendapat pengayaan materi saat ToT atau bimtek? Opsi ini tidak bebas masalah. Calon instruktur berpotensi mengalami kebingungan, mana materi pokok dan tambahan. Akhirnya sangat mungkin terjadi kesimpangsiuran pemberian materi di pelatihan sesungguhnya.

Oleh karena itu dapat dimaklumi bila ToT atau bimtek memberikan materi pokok saja. Agar kejelasan terbentuk pada benak calon instruktur. Berikutnya calon instruktur memperkaya pengetahuannya.

Dua hal berikut semoga mendorong calon instruktur untuk mau serta mampu memperkaya materi yang dimiliknya. Pertama, motivasi dari penyelenggara ToT atau bimtek. Kedua, tersedianya daftar referensi yang bisa diakses dengan mudah.

Lebih jauh, setelah memperkuat pengetahuan, calon instruktur diharapkan berlatih mempraktikkan pengetahuannya. Dalam hal ini calon instruktur diharapkan mencoba praktik setelah ToT atau bimtek usai. Selain itu, calon instruktur juga bisa mengamati praktik-praktik yang sudah ada sekaligus reviunya.

Hal ini penting agar relevansi dimiliki calon instruktur. Sebagaimana umumnya, berbagai masalah praktik sangat sering terjadi di lapangan. Dengan relevansi, calon instruktur memiliki kapasitas untuk memberikan solusi atas masalah-masalah praktik tersebut.

Sekali lagi, motivasi dan daftar referensi semoga menstimulus calon instruktur untuk memperkuat keterampilan praktiknya. Jauh lebih baik apabila ada toolset yang disediakan bagi calon instruktur. Sehingga calon instruktur bisa melatih keterampilan praktiknya sesering mungkin.

Kejelasan Menyampaikan Materi Pelatihan

Dalam pelatihan, materi butuh disampaikan secara jelas, kerangka dan sekaligus muatannya. Berbagai upaya harus dikerahkan agar peserta paham. Jangan sampai terjadi miskonsepsi pada peserta.

Persoalannya sering ditemui instruktur yang tidak jelas dalam menyampaikan materi. Kerangka, urutan, dan kontennya kacau. Akibatnya peserta salah paham sebagaimana dapat disimpulkan setelah reviu hasil belajar.

Sebagian instruktur seperti ini menutupi kekurangannya dengan retorika yang heroik. Akan tetapi tetaplah hal tersebut kurang baik. Karena titik tekan pelatihan ada pada kejelasan materi. Retorika hanya penghias.

Memang ada instruktur yang butuh dibenahi retorikanya. Akan tetapi keterampilan retorika semoga lebih mudah dipelajari ketimbang kemampuan menyerap materi. Hubungannya erat dengan kecerdasan kognitif.

Oleh karena itu, kiranya perlu disepakati bahwa kecerdasan kognitif menjadi prasyarat pertama dalam seleksi calon instruktur. Sisi lainnya berada di urutan berikutnya. Apabila memang aspek afektif perlu ditonjolkan juga dalam pelatihan, pembentukan tim instruktur yang beranggotakan multi latar belakang semoga jadi solusi.

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDIN

Ketua Umum DPP Hidayatullah: Wisudawan Jangan Berhenti pada Gelar, Jadilah Teladan Bangsa

0

TANJUNG BALAI KARIMUN (hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc., mengingatkan para wisudawan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Mumtaz agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai alasan untuk berbangga diri, tetapi menjadikannya sebagai amanah untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan negara. Sabtu (11/07/2026) 

Pesan tersebut disampaikan dalam Orasi Ilmiah Wisuda STIT Al Mumtaz Tahun 2026 di Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, yang turut dihadiri Wakil Bupati Tanjung Balai Karimun Rocky Marciano Bawole, MM, Sekretaris Daerah Dr. Sularno, S.Sos., M.Si., unsur MUI, Kementerian Agama, Polres, Kodim, pimpinan perguruan tinggi se-Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Dr. Khairul Amri, M.Pd., unsur DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, serta Ketua PW Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau.

Nafas Sinergi Membangun Bangsa

Mengawali orasinya, Kiai Naspi Arsyad mengapresiasi tema wisuda tahun ini, “Dari Batas Negeri, Al Mumtaz Bersinergi.” tema tersebut selaras dengan semangat perjuangan Hidayatullah yang mengedepankan kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam membangun Indonesia. 

“Spirit sinergi merupakan ruh perjuangan Hidayatullah. Membangun bangsa tidak mungkin dilakukan sendiri. Seluruh anak negeri harus bergandengan tangan agar pembangunan berjalan maksimal, harmonis, serta menghadirkan kenyamanan dan kegembiraan bagi seluruh masyarakat,” ujarnya alumni Universitas Islam Madinah tersebut.

Larangan Euforia dan Penyakit Lupa Diri 

Kiai Naspi kemudian mengingatkan para lulusan agar tidak larut dalam euforia setelah menyandang gelar akademik. Menurutnya, keberhasilan akademik bukanlah puncak perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat.

“Gelar bukan legitimasi untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Justru ilmu yang dimiliki harus melahirkan kerendahan hati, pengabdian, dan manfaat bagi sesama,” tegas alumni Universitas Islam Madinah tersebut. 

Dalam kesempatan itu, Kiai Naspi juga mengutip pesan Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole yang mengingatkan para wisudawan agar tidak melupakan jasa orang tua dan guru. Pesan tersebut, menurut Naspi, merupakan fondasi penting dalam membangun karakter seorang intelektual.

Ia kemudian mengaitkannya dengan petuah ulama kharismatik Sulawesi Selatan, Almarhum Anre Gurutta (AG) Sanusi Baco, “Is-al, Issengi Alenu” (kenalilah dirimu dan jangan lupa diri).

“Penyakit lupa diri akan menyulitkan seseorang membangun komunikasi yang sehat dan konstruktif dengan orang lain. Padahal negeri ini dibangun melalui sinergi dan kebersamaan, sebagaimana dicontohkan para pahlawan, ulama, dan kiai terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa,” jelasnya.

Menjaga Akhlak dan Moralitas di Tengah Masyarakat 

Naspi juga memberikan perhatian besar terhadap pentingnya akhlak dan integritas para lulusan, khususnya mereka yang akan mengabdikan diri di dunia pendidikan. Menurutnya, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi harus menjadi teladan bagi peserta didiknya.

“Percuma mengajarkan murid untuk berperilaku santun jika mereka tidak menemukan keteladanan pada diri gurunya. Jangan meminta masyarakat menjaga moral apabila kita sendiri belum mempraktikkannya. Jangan sampai terkena sindiran peribahasa, ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’,” ujarnya.

Tantangan Menghadapi Obsesi Duniawi

Di akhir orasinya, Ketua Umum DPP Hidayatullah ini menyoroti kebutuhan esensial masyarakat hari ini, yaitu krisis keteladanan dari para pemangku kepentingan (stakeholder). Beliau berpesan agar para wisudawan tidak mudah terpukau dan terobsesi oleh kemilau materi duniawi yang dapat menggerus karakter positif.

“Jangan jadikan dunia sebagai obsesi. Kenikmatan dunia dapat menggerus komitmen dan karakter positif. Ada yang mengejar dunia melalui gelar akademik lalu menjadi sombong. Ada yang merasa tinggi karena jabatan. Ada pula yang angkuh karena harta. Kesombongan semacam ini akan membuat seseorang meremehkan orang lain, menghalalkan segala cara, dan kehilangan kemampuan menjadi teladan di tengah masyarakat,” tegasnya. 

Gak Perlu Nunggu Sempurna, Langkah Kecilmu Bisa Jadi Solusi Bangsa

0

JAKARTA (hidayatullah.or.id)–Hidup di tengah berbagi dinamika menuntut kita untuk tidak sekadar bertahan, atau dengan menyalahkan keadaan, melainkan mengambil langkah yang berdampak. Di sinilah pentingnya mengubah sudut pandang, berhenti berfokus pada apa yang salah dengan dunia, dan mulai fokus pada kebaikan apa yang bisa kita berikan. 

K.H. Dr. Hidayat Nur Wahid, Lc., MA. (HNW) dalam kesempatan bersilaturahmi ke Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah (PDH), Jum’at, (10/07/2026) menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk tetap bergerak dan berkontribusi. Tidak perlu menunggu momentum besar atau perubahan masif yang instan.

“Kita tetap harus bisa berkontribusi, melakukan sesuatu sebisa dan semampu kita. Karena bisa jadi, hal kecil yang kita lakukan dengan cara yang benar dan konsisten justru membawa perubahan baik dan luas di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Trigger Sejarah: Tantangan yang Melahirkan Perubahan

Jika kita membuka lembaran sejarah, setiap lompatan besar peradaban manusia selalu lahir dari sebuah benturan atau tantangan. Indonesia tidak akan pernah memproklamasikan kemerdekaannya jika tidak ada pemantik (trigger) berupa cengkeraman penjajah. Rasa tertindas itulah yang membakar gelora masyarakat Nusantara untuk bersatu, melampaui sekat perbedaan, dan berjuang mempertahankan tanah air hingga merdeka.

Pola yang sama juga terjadi di zaman Rasulullah SAW. Kegelapan dan rusaknya moralitas pada era Jahiliyah di Makkah justru menjadi alasan fundamental (trigger) diturunkannya risalah Islam. Melalui Nabi Muhammad SAW, kondisi yang carut-marut itu diubah menjadi sebuah tatanan peradaban baru yang penuh cahaya dan keadilan. Artinya, situasi sulit atau kondisi yang tidak ideal dalam hidup bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pemantik bagi lahirnya sebuah perbaikan.

Waktunya ‘Memberi Hikmah’, Bukan Cuma ‘Mengambil Hikmah’

Dari perjalanan panjang sejarah manusia tersebut, ada satu pergeseran pola pikir (mindset shifting) yang sangat penting untuk diresapi oleh generasi hari ini. Selama ini, kita terlalu sering diajarkan untuk “mengambil hikmah” dari setiap kejadian buruk atau kegagalan yang menimpa. Kita menempatkan diri hanya sebagai penonton atau objek yang pasif.

Sudah saatnya kita mengubah peran tersebut. Berhentilah melulu menjadi pihak yang mengambil hikmah, tetapi mulailah berkomitmen untuk memberi hikmah bagi kehidupan ini.

“Jangan melulu mengambil hikmah, tapi berusahalah memberi hikmah. Yaitu dengan berkontribusi, berkarya, dan menunjukkan akhlak mulia. Inilah wujud nyata dari amal saleh kita yang sesungguhnya dalam kehidupan dunia,” jelas HNW.

Memberi hikmah berarti kita menjadi agen perubahan itu sendiri. Ketika melihat lingkungan sekitar kotor, kita tidak hanya mengambil hikmah tentang pentingnya kebersihan, tetapi kita mulai memungut sampah. Ketika melihat ketidakadilan atau rusaknya moral, kita tidak hanya mengurut dada, tetapi kita memberikan contoh lewat integritas dan prestasi nyata, tegas Wakil Ketua MPR RI tersebut.

Pada akhirnya, hidup yang singkat ini adalah panggung untuk membuktikan kualitas diri. Dengan konsisten melakukan kebaikan sekecil apa pun, kita sedang menanam benih perubahan yang kelak akan tumbuh menjadi pohon kemakmuran bagi bangsa dan agama. Jangan biarkan tantangan hari ini membuat kita berhenti melangkah, jadilah pemantik cahaya di tengah kegelapan.

Binamas Polsek Serpong-Tangsel Bekali Peserta Pelatihan Kepengasuhan Asrama Hidayatullah Banten

0

SERPONG (Hiadyatullah.or.id) — Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Binamas) Polsek Serpong-Tangerang Selatan membekali peserta Pelatihan Kepengasuhan Asrama yang diselenggarakan Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Banten sebagai bagian dari penguatan kapasitas pengasuh pesantren.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti para pengasuh perwakilan kampus Hidayatullah se-Banten dan memasuki sesi kedua pada Sabtu, 26 Muharram 1448 (11/7/2026), di Yayasan Al Firdaus, Komplek Kampus Pratama Pondok Pesantren Hidayatullah, Kampung Jaletreng, Jalan Raya Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Pada sesi tersebut, panitia menghadirkan Binamas Polsek Serpong-Tangerang Selatan Bripka Ahmad Budi Santoso, S.H., yang didampingi Aipda Asep. Materi yang disampaikan berfokus pada pembinaan generasi muda, pencegahan perundungan, serta pemahaman hukum yang berkaitan dengan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Bripka Ahmad menegaskan bahwa pembinaan karakter memerlukan sinergi antara keluarga, sekolah, pesantren, dan aparat pembina masyarakat.

“Mempersiapkan generasi emas Indonesia membutuhkan pendampingan yang konsisten. Pengasuh memiliki peran penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, tertib, dan bebas dari perundungan,” ujarnya.

Selain menjelaskan dampak sosial perundungan, Bripka Ahmad menguraikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindakan bullying, konsekuensi pidana yang dapat timbul, dan mekanisme pelayanan kepolisian kepada masyarakat.

Ia juga memaparkan langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi perundungan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pemahaman hukum menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan sekaligus perlindungan terhadap peserta didik.

Sekretaris DPW Hidayatullah Provinsi Banten, Muhammad Irwan, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Binamas Polsek Serpong-Tangerang Selatan dalam pelatihan tersebut. Ia menilai kolaborasi lintas lembaga menjadi unsur penting dalam memperkuat sistem pembinaan di pesantren.

“Kami mengapresiasi Binamas Polri Serpong yang telah berbagi ilmu dan memberikan motivasi kepada para pengasuh. Pembinaan generasi memerlukan kolaborasi agar lahir lingkungan pendidikan yang mampu membentuk karakter sekaligus memberikan rasa aman bagi para santri,” katanya.

Irwan menjelaskan, Pelatihan Kepengasuhan Asrama ini merupakan bagian dari program peningkatan kompetensi pengasuh yang diinisiasi DPW Hidayatullah Banten.

Dia menjelaskan, melalui penguatan wawasan kepengasuhan, pendidikan karakter, dan pemahaman aspek hukum, kegiatan ini diarahkan untuk membangun ekosistem pesantren yang lebih adaptif terhadap tantangan pendidikan kontemporer.

“Sekaligus kita harapkan kegiatan ini semakin memperkuat kualitas pendampingan santri sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi masa depan,” pungkasnya.

HNW: Memaknai Kehidupan sebagai Amanah untuk Menebar Kebaikan dan Membangun Peradaban

0

JAKARTA (hidayatullah.or.id) – Di tengah padatnya aktivitas ibu kota, K.H. Dr. Hidayat Nur Wahid, Lc., MA. (HNW) melalui khotbah jum’at, mengajak jamaah yang telah memenuhi Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, untuk merenungkan hakikat kehidupan, ajal, serta pentingnya kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, Jum’at (10/7/2026). 

Mengawali khotbahnya dengan mengutip surah Al-A’raf ayat 34, HNW mengingatkan jamaah bahwa ajal atau batas waktu adalah kepastian mutlak yang tidak dapat dimajukan maupun dimundurkan sedetik pun. Beliau merefleksikan kabar duka yang datang silih berganti, mulai dari wafatnya tokoh nasional asal Gorontalo, Rachmat Gobel yang juga mantan menteri dan anggota DPR RI, hingga perjuangan para syuhada di Gaza, Palestina.

Menurut Wakil Ketua MPR RI tersebut, setiap detik kehidupan yang masih Allah SWT berikan harus dimaknai sebagai kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh, sebagaimana esensi yang tertuang dalam Surah Al-Mulk ayat 2,Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala (untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya).

“Kematian adalah fakta yang tidak bisa diperkirakan oleh teknologi secanggih apa pun. Maka, ketika karunia kehidupan ini masih ada, sudah semestinya kita memaksimalkannya untuk menghadirkan kemakmuran dan menjauhkan diri dari segala bentuk pengrusakan,” ujar HNW di hadapan jamaah Masjid  Baitul Karim.

Visi Produktif dan Ajaran Dakwah Individu

HNW menekankan bahwa Islam mengajarkan visi kehidupan yang sangat produktif dan konstruktif. Mengutip hadis Rasulullah SAW, beliau menegaskan bahwa gerakan membawa kebaikan atau dakwah tidak perlu menunggu komunitas yang besar atau kebijakan institusi yang masif, melainkan harus dimulai dari diri sendiri secara individual (ballighu ‘anni walau ayah).

Hidayah pun, lanjut HNW, memiliki tingkatan yang sangat luas. Mulai dari perubahan pribadi yang belum shalat menjadi tertib shalat, hingga kontribusi nyata dalam memakmurkan lingkungan di tingkat RT, RW, kelurahan, bahkan dalam skala negara.

Beliau juga menyoroti salah satu keteladanan luar biasa dari Rasulullah SAW mengenai pentingnya optimisme melalui sebuah hadis: “Jika terjadi hari kiamat, sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”

“Ini adalah visi luar biasa. Secara logika, pohon itu tidak akan sempat tumbuh besar apalagi dipanen karena kiamat sudah datang. Namun, arahannya adalah tetap tanamkan kebaikan itu! Kita dilarang cemas, gundah, atau termangu melihat kondisi dunia yang mengkhawatirkan. Segera lakukan kebaikan dengan apa yang ada di tangan kita,” tegasnya.

Pelajaran Sejarah, Li Kulli Ummatin Ajal

Tidak hanya berlaku bagi individu, HNW memaparkan bahwa konsep ajal juga berlaku secara kolektif bagi sebuah bangsa dan peradaban (li kulli ummatin ajal). Beliau memberikan pelajaran sejarah besar mengenai runtuhnya Khilafah Umayyah di Andalusia (Spanyol) serta Daulah Samaniyah di Asia Tengah.

Padahal, kedua peradaban tersebut telah melahirkan dampak luar biasa bagi sains dunia serta melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, Imam At-Tirmidzi, Ibnu Sina, hingga silsilah Wali Songo yang menyebarkan Islam di nusantara (seperti ayah Sunan Ampel dan Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari Samarkand).

“Di mana Daulah Samaniyah dan Andalusia sekarang? Sudah tidak ada. Mengapa sebuah bangsa atau peradaban bisa hancur? Rasulullah mengingatkan bahwa kehancuran umat terdahulu terjadi karena hilangnya keadilan—hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas,” jelas HNW seraya mengutip penegasan Rasulullah tentang komitmen keadilan hukum, bahkan jika yang melakukan kesalahan adalah putri beliau sendiri, Fatimah.

Tanggung Jawab Individual di Akhirat

Menutup khotbahnya, K.H. Hidayat Nur Wahid mengingatkan jamaah bahwa kelak di Yaumul Mahsyar, setiap manusia akan berdiri sendiri-sendiri untuk mempertanggungjawabkan karunia yang telah diterimanya. Allah tidak akan bertanya tentang apa yang dilakukan oleh orang lain atau bangsa lain, melainkan apa yang telah diperbuat oleh individu tersebut dengan umur, harta, kesehatan, dan ilmu yang dimilikinya.

HNW juga mengajak jamaah untuk terus konsisten menghadirkan moralitas yang baik dan menegakkan keadilan guna mewujudkan tatanan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang makmur, adil, dan diberkahi oleh Allah SWT.

HUT Ke-63 PT TASPEN, Jalin Kerja Sama dengan BMH Gelar Pengajian dan Santunan Santri

0

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63, PT TASPEN (Persero) Cabang Cirebon menggandeng Unit Layanan Zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Cirebon menggelar kajian keislaman sekaligus menyalurkan paket sembako kepada santri binaan BMH, Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat kepedulian sosial sekaligus mendukung pembinaan generasi Qur’ani.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor PT TASPEN Cabang Cirebon tersebut dihadiri jajaran manajemen dan pegawai PT TASPEN, pengurus BMH, serta para santri penerima manfaat.

Kajian keislaman disampaikan oleh Ustaz Komarudin, M.Pd. yang mengajak peserta menjadikan bertambahnya usia sebagai momentum muhasabah, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, serta memperbanyak amal yang memberi manfaat bagi sesama.

“Usia yang bertambah hendaknya menjadi pengingat untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak amal kebaikan. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Usai kajian, PT TASPEN menyerahkan paket sembako kepada santri binaan BMH Cirebon sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan dan pembinaan generasi muda. Program tersebut juga menjadi wujud sinergi antara dunia usaha dan lembaga filantropi dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Branch Manager PT TASPEN Cabang Cirebon, Merry Indra Cahyanti, mengatakan bahwa kegiatan sosial ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

“Peringatan HUT ke-63 PT TASPEN bukan hanya menjadi momentum untuk bersyukur atas perjalanan perusahaan, tetapi juga kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan masyarakat. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi para santri dan semakin mempererat hubungan baik dengan berbagai mitra sosial,” katanya.

Sementara itu, Ketua Unit Layanan Zakat BMH Cirebon, Ustaz Asep Juhana, S.Pd.I., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara PT TASPEN dan BMH dalam mendukung pembinaan santri.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT TASPEN Cabang Cirebon atas sinergi yang luar biasa ini. Semoga kepedulian yang diberikan menjadi amal jariyah, membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar PT TASPEN, dan memberikan semangat baru bagi para santri dalam menuntut ilmu serta menghafal Al-Qur’an,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi tersebut, PT TASPEN Cabang Cirebon dan BMH berharap kerja sama dalam bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat dapat terus berlanjut. Momentum HUT ke-63 PT TASPEN menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis, berdaya, dan penuh keberkahan.

Pelatihan Kepengasuhan Asrama Hidayatullah Banten Tekankan Tauhid, Keteladanan, dan Profesionalisme

0

SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Banten, Muhammad Irwan, menegaskan bahwa kepengasuhan di lingkungan pesantren merupakan pilar utama dalam membentuk generasi masa depan. Hal itu ditegaskan dia saat membuka Pelatihan Kepengasuhan Asrama yang diselenggarakan di Yayasan Al Firdaus, Komplek Kampus Pratama Pondok Pesantren Hidayatullah, Kampung Jaletreng, Jalan Raya Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Jumat, 25 Muharram 1448 (10/7/2026).

Muhammad Irwan menegaskan bahwa peran pengasuh tidak dapat dipandang sebatas menjalankan fungsi teknis atau administratif. Menurutnya, proses mendampingi santri merupakan amanah yang memiliki dimensi pembinaan karakter, akhlak, dan nilai-nilai keislaman.

“Dunia kepengasuhan di lingkungan pesantren adalah pilar utama dalam mencetak generasi masa depan. Mengasuh santri seharusnya memang tidak boleh sampingan atauh hanya menggunakan waktu sisa, melainkan sebuah amanah ideologis yang sangat besar,” ujarnya di hadapan peserta acara yang yang berlangsung selama dua hari tersebut inisiatif Departemen Pendidikan Hidayatullah Banten.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Banten yang menggagas pelatihan bertema Mewujudkan Pengasuh yang Profektif dan Profesional Berbasis Tauhid. Menurutnya, tema tersebut sejalan dengan kebutuhan penguatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

Muhammad Irwan menguraikan tiga prinsip yang menjadi fokus pelatihan. Pertama, kepengasuhan berbasis tauhid, yaitu menjadikan penguatan akidah dan kedekatan kepada Allah SWT sebagai orientasi utama dalam setiap pola pembinaan santri.

Kedua, jelasnya, membangun karakter pengasuh yang profektif dengan menghadirkan nilai-nilai kenabian melalui kasih sayang, keteladanan, kesabaran, dan bimbingan yang menyentuh aspek pembentukan kepribadian.

Ketiga, meningkatkan profesionalisme pengasuh melalui pengembangan kompetensi, pemahaman terhadap psikologi perkembangan santri, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa mengabaikan prinsip-prinsip syariat.

“Kita dituntut untuk terus meng-upgrade kapasitas diri, memahami psikologi perkembangan santri, serta adaptif terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan prinsip syariat,” kata Muhammad Irwan.

Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan tersebut sebagai bekal dalam memperkuat kualitas pembinaan di pesantren masing-masing. “Kami berharap para peserta kembali dengan ilmu baru, energi baru, dan semangat yang lebih kuat untuk membimbing para santri,” tuturnya.

Dia menambahkan, pelatihan ini sejatinya merupakan jihad waktu dan tenaga sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas pengasuh asrama agar pembinaan santri berlangsung secara terarah, mengintegrasikan nilai tauhid, keteladanan, dan profesionalisme dalam kehidupan pesantren demi tegaknya peradaban Islam yang agung.