Beranda blog Halaman 422

Hikmah Ketika Suatu Malam Ustadz Haris Harus Berselimut

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Mungkin tidak banyak kalangan kader muda di Hidayatullah yang mengenal Ustadz Abdul Haris Amin. Termasuk diriku sendiri di antaranya.

Beruntung sekitar tahun 2015 saya mendapat amanah untuk “turun” tugas liputan keliling Papua. Satu di antara tempat yang kemudian menjadi tujuanku setelah Jayapura dan Merauke adalah Timika.

Di Timika inilah, saya yang belum mengenal Ustadz Abdul Haris, diminta datang ke rumah beliau lepas sholat Isya’. Ditemani kolega dari BMH Timika, saya datang ke tempat beliau dan sejurus kemudian ia menyilahkan santap malam bersama.

Namun, Ustadz Abdul Haris tidak bisa makan bersama kami, karena beliau dalam keadaan sedang terserang malaria, sehingga beliau berjaket dan berselimut.

“Begini kalau kena Malaria, badan rasanya dingin, menggigil,” ucapnya sembari bertahan sekuat tenaga untuk tetap duduk mendampingi kami dengan kedua tapak tangan yang dirapatkan untuk mampu bertahan melawan rasa dingin di tubuhnya.

Karena memang beliau sedang kurang sehat, maka saya tidak bisa berlama-lama dialog bersama beliau. Padahal saya orang yang suka sekali menikmati cerita dan hikmah dari para senior lembaga. Namun spirit nyata kutangkap, walau hanya dalam beberapa untaian kalimat.

“Di lembaga ini harus punya niat yang tulus dan fokus. Jangan lihat ke kanan, ke kiri apalagi menoleh ke belakang. Keuntungan kita hanya kalau kita fokus menolong agama Allah ini. Kalau ada kemenangan, itulah kemenangan sejati, mendapat pertolongan Allah,” itu di antara kalimat yang saya ingat dari beliau.

Dan, keteladanan yang nyata kulihat, sekalipun sakit beliau tetap berjuang ikut shalat berjamaah. Maghrib, Isya’ dan Shubuh saya lihat beliau tetap datang ke masjid walau fisik boleh jadi sangat butuh istirahat. Luar biasa.

Kini sosok penuh inspirasi itu telah tunai menjalankan tugas kehidupan. Ustadz Abdul Haris Amin meninggal dunia pada usia 58 tahun di RSUD Timika, Papua Barat, pada Sabtu malam, 20 Rajab 1442 H/ 6 Maret 2021. Sebelumnya, beliau sempat sakit beberapa waktu.

Beragam ungkapan duka, kenangan akan kiprah perjuangan yang inspiratif terus membahana, baik yang diluncurkan melalui media sosial maupun yang terucap dari bibir demi bibir para kader Hidayatullah yang pernah berinteraksi bahkan tugas bersama beliau.

Selamat jalan, Ustadz Abdul Haris Amin, semoga kemuliaan Allah limpahkan bagimu di dunia dan di akhirat. Dan, semoga kami semua yang masih harus berjuang untuk istiqomah diberikan kekuatan oleh Allah Ta’ala.*

IMAM NAWAWI (Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah)

LBH Hidayatullah Gelar Diklat Paralegal untuk Mahasiswa

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah menggelar pelatihan dan pendidikan (diklat) paralegal yang diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah selama 2 hari di Kampus Utama Hidayatullah Depok, Sabtu-Ahad, 67 Maret 2021.

Hadir dalam pembukaan pelatihan ini Ketua STIE Hidayatullah Dr. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, M.Si; Mohammad Saddam, SE, M.Ak wakil ketua beserta pengurus STIE Hidayatullah lainnya.

Tampak juga Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung A Abdullah dan para instruktur pelatihan ini seperti Fahrul Ramadhan, SH, CPL dan advokat muda Hidayatullah, SH, MH.

Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung A Abdullah mengatakan kegiatan pelatihan ini diadakan bertujuan agar mahasiswa yang akan segera diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat cerdas dan sadar hukum.

“Selain itu mereka juga diharapkan bisa membantu pendampingan masyarakat yang mengalami kasus hukum,” kata Dudung dalam keterangannya kepada media ini, Ahad (7/3/2021).

Pelatihan paralegal ini diadakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah bekerjasama dengan LBH Hidayatullah.

Materi yang diberikan dalam pelatihan paralegal ini selain wawasan seputar dunia hukum, juga diberikan materi dasar hukum pidana dan perdata, lalu cara membuat kronologis kasus, surat kuasa, somasi, dan laporan polisi.

Dalam penutupan pelatihan Paralegal ini setiap peserta yang dinyatakan lulus langsung dilantik menjadi seorang paralegal dengan disumpah dan mendapat kartu anggota Paralegal.

Mohammad Saddam selaku Wakil Ketua STIE Hidayatullah berharap dengan pelatihan paralegal ini bisa menjadi bekal dan modal untuk para mahasiswa yang akan segera mengabdi di tengah masyarakat agar cerdas dan sadar hukum.

Terakhir, Dudung A Abdullah sangat optimis dengan mahasiswa mengikuti pelatihan Paralegal ini bisa membantu pendampingan masyarakat yang mengalami kasus hukum.

“Jadi mahasiwa STIE Hidayatullah selain ahli ekonomi juga bisa menjadi paralegal,” pungkas Dudung.

Seperti diketahui, paralegal adalah seseorang yang mempunyai keterampilan hukum dan bekerja di bawah bimbingan seorang pengacara atau yang dinilai mempunyai kemampuan hukum untuk menggunakan keterampilannya. (ybh/hio)

Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Skil Pengelolaan BTH

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah mendapat bekal tambahan skil pengelolan keuangan lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH).

Acara ini digelar intensif selama 2 hari oleh Departemen Keuangan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bertajuk “Diklat manajemen BTH untuk Mahasiswa STIE HIdayatullah“, 3-4 Maret 2021.

Ketua Departemen Keuangan DPP Hidayatullah Saiful Anwar SE, ME, mengatakan program ini dilaksanakan untuk membekali dan memberi nilai tambah kepada mahasiswa semester akhir yang akan bertugas mengabdi ke tengah masyarakat.

“Secara spesifik pelatihan ini membidik kompetensi mahasiswa dalam manajemen keuangan syariah melalui BTH agar resource yang ada ini dapat terserap dengan maksimal,” kata Saiful.

Menurut Saiful, mahasiswa alumni STIE Hidayatullah terserap tidak saja di bidang yang menjadi kapasitas pendidikan mereka pada jurusan manajemen dan akuntansi, melainkan juga tersebar di berbagai bidang lainnya.

“Hal ini membuktikan bahwa kader STIE Hidayatullah banyak diminati dan karena itu kegiatan ini diharapkan kian menguatkan kiprah mereka kelak ketika terjun ke masyarakat,” kata Saiful yang juga alumni STIE Hidayatullah ini.

Pendiri BMT Amanah Kudus ini menilai, kebutuhan Hidayatullah terhadap ketersediaan sumber daya insani semakin tinggi seiring dengan berbagai perkembangan amal dan badan usaha yang terus meluas.

Tuntutan atas kebutuhan tersebut, kata Saiful, semakin terasa dengan sejumlah inovasi dan upaya akselerasi Hidayatullah di bidang pengembangan kemandirian ekonomi umat dengan hadirnya unit jasa keuangan syariah seperti Hidayatullah Micro Finance (HMF) dan Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH).

Di tengah perkembangan itu yang berjalan dengan sangat dinamis di semua bidang baik sosial, pendidikan, dakwah dan ekonomi, Saiful berharap Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) terutama STIE Hidayatullah dapat semakin luas melakukan terobosan untuk pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia yang kapabel dan berintegritas.

“Pada tahun 2021 organisasi menghendaki adanya percepatan perkembangan amal usaha sebagai bagian dari program ekonomi keumatan yang dibangun dalam konsep ekonomi berbasis halaqah,” kata Saiful.

Dalam pada itu, Hidayatullah sendiri telah memiliki BTH sebagai lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang tersebar di kota kota besar di Indonesia seperti Depok, Kudus, Surabaya, Batam, Balikpapan dan sebagainya.

Selain berfungsi menghimpun dan menyalurkan dana kepada anggota, BTH ini kedepannya diharapkan akan semakin luas melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi jamaah.

“BTH didirikan oleh kader dan jamaah untuk tujuan memberdayakan kader dan jamaah Hidayatullah,” tukas Saiful memungkasi.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan manajemen BTH untuk mahasiswa STIE HIdayatullah ini diikuti oleh mahasiswa yang akan diwisuda dan kelak melaksanakan tugas pengabdian. Turut hadir juga memberikan materi Ketua Bidang Ekonomi Hidayatullah Drs Wahyu Rahman dan pengurus harian STIE Hidayatullah.*/Amanji Kefron

Baituttamwil Hidayatullah untuk Menopang Kiprah Keumatan

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah memiliki beragam program yang bermuara pada dua arus gerakan utama yaitu dakwah dan pendidikan. Untuk memantapkan berbagai ikhtiar kiprah keummatan tersebut tentu saja membutuhkan dukungan terutama sokongan materiil.

Menyadari akan pentingnya kemandirian ekonomi dalam rangka menopang gerakan, Hidayatullah mendirikan Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH) sebagai lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang tersebar di kota kota besar di Indonesia.

Ketua Bidang Ekonomi Hidayatullah Drs Wahyu Rahman menjelaskan, diharapkan nantinya BTH akan menjadi pusat keuangan Hidayatullah.

“Harapannya kedepannya BTH ditargetkan menjadi bank sentral Hidayatullah. Dan tentunya bebas dari hal hal berbau riba. Karena riba adalah salah satu faktor terbesar yang menghancurkan ekonomi,” jelas Wahyu dalam acara “Diklat Manajemen BTH untuk Mahasiswa STIE Hidayatullah“, Rabu, 2-3 Maret 2021.

Selain berfungsi menghimpun dan menyalurkan dana kepada anggota, BTH diharapkan akan semakin luas melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi jamaah.

Wahyu menerangkan, BTH akan terus berusaha membantu menopang gerak langkah dan perkembangan organisasi secara materi, utamanya dalam memantapkan kiprah keumatan di berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Dia menegaskan, visi kemandirian ekonomi merupakan goal yang harus diupayakan tercapai. Karena itu, Wahyu menekankan, salah satu faktor penting dan harus terus dihidupkan serta dijaga ialah pendanaan organisasi, karena dana merupakan nafas kehidupan organisasi.

“Gerakan organisasi akan lincah dan bergerak dengan baik manakala ditopang dengan keuangan yang baik. Salah satu usaha kita ialah mendirikan BTH,” katanya.

Kegiatan pendidikan dan pelatihan manajemen BTH untuk mahasiswa STIE HIdayatullah ini diikuti oleh mahasiswa yang akan diwisuda dan kelak melaksanakan tugas pengabdian. Turut hadir juga memberikan materi Ketua Departemen Keuangan DPP Hidayatullah Saiful Anwar SE, ME dan pengurus harian STIE Hidayatullah.*/Amanji Kefron

Ustadz Abdul Haris Amin, Dai Spesialis Wilayah Konflik itu Berpulang

Almarhum Ust Abdul Haris Amin bersama sang istri, Nunung Nurhayati (dok)

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Bertahun tahun ia menjalani tugas dakwah dari Aceh hingga Papua. Nyaris seluruh hidupnya dihabiskan untuk perjuangan meluaskan risalah Islam, kini sosok dai tangguh itu berpulang untuk selamanya.

Ustadz Abdul Haris Amin meninggal dunia pada usia 58 tahun di Timika, Papua Barat, pada Sabtu malam, 20 Rajab 1442 H/ 6 Maret 2021. Sebelumnya, beliau sempat sakit beberapa waktu.

Namun kendatipun dalam kondisi demikian, ia masih sempat mengikuti kegiatan daurah Al Qur’an yang diselenggarakan oleh Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah yang diikuti oleh segenap anggota Dewan Murabbi Wilayah seluruh Indonesia di Balikpapan, Kaltim, awal Februari lalu.

Pada kegiatan tersebut, Abdul Haris Amin mengikuti acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 pekan tersebut dengan sangat antusias. Tak terlihat sakit, bahkan tak pernah absen mengikuti berbagai sesi upgrading.

Anggota Dewan Murabbi Pusat Ust Zainuddin Musaddad yang turut memandu kegiatan tersebut menyaksikan betul betapa kuatnya mujahadah almarhum dalam belajar.

“Allahu Akbar Walilllahhilhamd. Perjalanan mujahid (Abdul Haris Amin) super mujahadah saat camp Qur’an. Duduk tak pernah absen menghadapkan bacaan Mukjizat Qur’an kepada Ust Abdan Syakir yang masih muda belia,” kata Ust Zainuddin Musaddad atau karib disapa Abah Zain ini.

Abah Zain menyaksikan sendiri semangat Abdul Haris Amin, yang, kendatipun dalam kondisi yang kurang stabil, tetap tekun dan gigih mengikuti acara yang digelar intensif dibawah panduan tim DMP.

“Tak ada gambaran penat dan sungkan, duduk disiplin mencermati dan menirukan bacaan walau dengan suara berat. Bercerita tak kenal lelah dengan tema ringan, kadang lucu,” imbuh Abah Zain.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi.

“Selamat jalan kawan. Allah menunggu, Insyaa Allah, di alam Roudlatul Jannah,” doanya.

Seperti bapaknya, mendiang Ust Amin Bahrun yang merupakan kader dai awal Hidayatullah, almarhum Abdul Haris Amin juga tipikal anak muda yang selalu girang dimanapun tugas dakwah diberikan.

Dia kader andalan di setiap tugas dakwah khususnya di kawasan rentan dan minoritas, termasuk dijuluki sebagai dai spesialis wilayah konflik karena kerapkali mendapat amanah di tempat yang sedang mengalami krisis.

Almarhum pernah tiga belas tahun bertugas di Aceh yang saat itu masih menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) Indonesia di Aceh antara tahun 1990-1998. Tentu tak mudah berdakwah di daerah yang sedang berkonflik tersebut. Dengan pembawaannya yang ramah dan selalu berupaya menyambung silaturrahim dengan berbagai pihak, Abdul Haris Amin dapat terus meluaskan kiprahnya di Tanah Rencong.

Selain sudah seperti tanah sendiri, ia sudah cinta pada wilyah yang pernah diterjang tsunami ini. Meski demikian, setelah dianggap berpengalaman berdakwah di wilayah Aceh, ia justru kembali dipindahkan tugaskan ke Papua. Kedua daerah ini dikenal wilayah konflik, walaupun Aceh sendiri, sejak 2005 Aceh telah dideklarasikan sebangai wilayah damai melalui MoU Helsinki.

Dijuluki sebagai dai spesialis wilayah konflik, Abdul Haris merendah dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang biasa.

“Hanya teman-teman saja yang menyebut saya dai spesialis wilayah konflik. Yang saya rasakan hanya soal kesiapan mental dan siap ditugakan kemana saja,” katanya di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, (2/10/2011) seperti dikutip laman Hidayatullah.com, menjelang keberangkatannya bersama anggota keluarga ke Timika, Papua.

Abdul Haris bersama dengan sahabat dalam awal-awal perintisan kampus Hidayatullah

Haris sejak 1998 hingga lima tahun lamanya bertugas di Pesantren Hidayatullah, Nisam, Aceh Utara. Kemudian pindah ke Medan selama dua tahun dan pasca tsunami Aceh 2004 ditugaskan kembali ke Hidayatullah Cabang Banda Aceh.

Ia mengisahkan, kiat berdakwah di wilayah konflik. Pertama, mengharapkan doa dari teman-teman, supaya selalu dalam lindungan Allah Swt. Kedua, ia terus mengkuti memperhatikan dan arahan pimpinan.

Kala itu, akibat konflik, jumlah santri Pesantren Hidayatullah di Nisam, Aceh Utara, turun drastis, dari 120 orang tinggal empat orang lagi.

Selain pengalaman di wilayah konflik, mantan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Aceh ini, juga mendapatkan pengalaman berharga saat tsunami. Ia, sekaligus ikut menjadi relawan, mengurus pengungsi dan membantu rehabilitasi pasca tsunami.

“Tak semua orang bisa mendapatkan dua pengalaman dakwah sekaligus, konflik dan tsunami,” katanya. Ia menyebut hal itu sebagai pendidikan alami yang diberikan Allah padanya.

Alhamdulillah, kini, Hidayatullah di Aceh pasca stunami telah berkembang pesat. Memiliki enam Cabang: di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Aceh Tenggara, dengan 212 santri/anak asuh dan 30 pengasuh/guru.

Sebelum meninggalkan bumi Aceh, ia menceritakan awal dakwahnya di Propinsi berjuluk Serambi Makkah itu. Saat itu, tugas pertamanya di Jakarta 1983. Selanjutnya berturut-turut pindah ke berbagai daerah: Samarinda, Bontang, ditugaskan lagi ke Jakarta, Manado, Manokwari, Kaltim, Lhokseumawe Aceh Utara, Medan dan Banda Aceh.

Selepas dari Banda Aceh, tugas telah menantinya kembali untuk berdakwah di bumi Timika. “Mohon doa saya dapat bertugas dengan baik dan mencapai target dakwah di Timika,” harapnya kala itu.

Kini Abdul Haris berpulang kekharibaan Allah SWT dan telah memungkasi perjalanan dakwahnya dengan baik dan sangat indah. Semoga kita yang ditinggalkan dapat mewarisi mujahadah beliau dan kelak menyusulnya dengan catatan amal shaleh yang disambut gemuruh di langit dan maslahat meluas di bumi. (ybh/hio)

Tumbuhkan Motivasi Diri Muslim untuk Menjadi Muallimul Qur’an

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq mengatakan pentingnya menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi umat Islam teurtama bagi kader dan warga Hidayatullah agar senantiasa terpanggil dan bangga menjadi muallimul qur’an.

“Kita berharap bahkan menjadi kewajiban kita untuk menumbuhkan kepercayaan diri motivasi para warga Hidayatullah dan seluruh umat Islam agar mereka terpanggil dan bangga menjadi muallimul qur’an yang dimuliakan oleh Allah SWT dunia dan di akhirat,” katanya.

Demikian itu disampaikan Ustadz Nashirul Haq atau UNH dalam sambutan acara penutupan secara resmi gelaran Training for Trainers Leadership Training Center (TOT LTC) & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, belum lama ini, dibetik kembali pada Rabu (3/3/2021).

Lebih jauh UNH menyebut pelatihan ini spesial karena pelatihan Al Quran bersanad, dan, seharusnya, tegas dia, Al Quran memang diajarkan secara talaqqi.

Dia lantas mengutip keterangan seorang sahabat tabi’iy bernama Abu Abdurrahman as-Sulami yang mengisahkan bahwa para sahabat Nabi yang mengajarkan Al Quran bahwa mereka menerima (belajar) Alquran dari Rasulullah Saw sepuluh-sepuluh ayat.

Mereka belum akan menerima sepuluh berikutnya sampai mereka tahu apa saja yang mesti diketahui dan diamalkan dalam sepuluh ayat tadi.

“Dengan demikian mereka tahu secara keilmuan dan secara pengamalan sekaligus,” ujarnya.

Atas nama DPP Hidayatullah, UNH memberikan apresiasi kepada Pemuda Hidayatullah yang telah berinisiatif untuk melakukan acara ini yang mudah mudahan dapat berkelanjutan bahkan bisa massif di seluruh tingkat wilayah dan daerah sehingga guru Al Quran semakin banyak.

“Alhamdulillah, Hidayatullah bersama pemerintah dan masyarakat terus bersinergi memberikan layanan keumatan di bidang pendidikan, dakwah dan sosial melalui berbagai program dan amal usaha,” katanya.

Sinergi dilakukan mulai dari bidang kepemudaan, kemuslimatan, pendidikan, di bidang sosial ada badan search and rescue, di bidang ekonomi umat ada Baituttamwil Hidayayatullah, ada Posdai di bidang dakwah, juga Sahabat Anak Indonesia yang melayani anak dhuafa yang membutuhkan perhatian dan berbagai bidang lainnya.

UNH mengatakan, pada usianya sekarang, Hidayatullah telah hadir di seluruh penjuru nusantara dan mancanegara dengan bekal keyakinan, ketaatan dan kesiapan untuk mengemban amanah risalah kenabian.

Dia menyebutkan, Hidayatullah di umur 48 tahun yang lahir di Balikpapan kemudian menjadi ormas pada tahun 2000, ini telah hadir di 34 provinsi, 374 di kabupaten kota, dan memiliki jaringan pondok pesantren 620 yang tersebar di seluruh nusantara.

UNH menukil pernyataan mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla yang pernah menganalogikan kader Hidayatullah seperti TNI atau Polri yang hanya dibekali tiket ketika ditugaskan berdakwah.

“Kalau santri Hidayatullah lebih spesial lagi karena kadang kadang tidak dibekali tiket. Kalau anggota TNI dibekali paling tidak ransel, kemudian ada alamat yang dituju, ada tunjangan. Kalau santri Hidayatullah modalnya keyakinan saja,” selorohnya.

Dia melanjutkan, dengan bekal spirit dakwah sebagaimana di dalam Al Qur’an surah Muhammad Ayat 7: Yaaa ayyuhal laziina aamanuuu in tansurul laaha yansurkum wa yusabbit aqdaamakum (Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu), mereka hadir berkhidmat ke tengah umat.

“Dan spirit ini tetap dijaga dan dipelihara oleh santri santri Hidayatullah pada setiap kesempatan. Semuanya siap mengabdikan diri untuk menjadi dai Al Quran,” pungkasnya.

Pamungkas acara Training for Trainers Leadership Training Center & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan ini ditutup oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr (HC) Syafruddin Kambo, M.Si.

Penutupan juga dihadiri Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhamad dan pembina serta unsur pengurus Hidayatullah Ummul Quro Hidayatullah Balikpapan.

Turut hadir juga segenap instruktur LPQ dari Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah, Ketua PW Hidayatullah Kaltim Shabirin Hambali dan Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan Imam Muhamad Fathi Farhat beserta jajarannya. (ybh/hio)

Umat Islam Perlu Terus Selalu Menjaga Dua Kultur Kebaikan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Umat Islam khususnya bagi segenap kader dan warga Hidayatullah didorong untuk selalu menjaga dua kultur utama yang juga menjadi norma yang kukuh dijaga para ulama pejuang masa silam. Kedua nilai tersebut adalah kultur tradisional dan kultur intelektual.

“Seorang muslim apalagi seorang dai tidak cukup hanya menjadi juru bicara tapi harus menyiapkan diri menjadi ideolog secara istiqomah,” kata Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad saat memberikan taushiah di hadapan peserta TOT Nasional Pemuda Hidayatullah beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, keistiqomahan yang dibangun oleh dua pekerjaan besar yaitu menjadi dai selaku juru bicara (kultur intelektual) dan gerakan membaca yang disebutnya sebagai kultur tradisional, akan menghantarkan umat ini pada kejayaan.

“Dua kultur yang harus dijaga adalah kultur tradisional dan kultur Intelektual ini. Bukan kejayaan yang diceritakan, tapi bagaimana proses mencapai kejayaan itu,” ujarnya.

Maka, lanjutnya, gelaran training of trainers ini adalah pekerjaan besar karena ia adalah bagian dari proses walaupun digelar secara sederhana di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak.

“Digelar dari titik di Balikpapan untuk menyebar ke Indonesia, dan dari Indonesia inilah satu titik dari dunia,” imbuhnya.

Dia berpesan, gerakan membaca (iqra’) sebagai kultur tradisional harus selalu dijaga dan dikembangkan hingga menjadi sebuah gerakan besar yang kelak kemudian menjadi gelombang yang mencerahkan umat, bangsa, negara dan dunia secara luas.

Karena itu, dia menekankan, jangan sampai kita salah baca dan keliru dalam membaca. Kesalahan dalam membaca bisa berakibat serius karena pembacaan yang melenceng dapat menjadikan bias baik makna maupun tujuannya.

“Karena, kalau kita salah baca diri, maka kita akan salah baca lingkungan. Akhirnya salah baca Indonesia dan salah baca wawasan internasional,” tukasnya.

Dia pun mengaku sering merenung dan memikirkan betapa sangat pentingnya memiliki spirit membaca. Sebab, katanya, untuk mengubah dunia maka dimulai dari membaca.

Demikianlah misalnya dalam sejarah perjalanan wahyu, “Iqra!”, sampai kepada Nabi yang menjadi gambaran betapa gerakan “membaca” ini adalah pekerjaan besar dalam rangka mengangkat martabat peradaban umat manusia.

“Kita ini adalah arsitek peradaban. Peradaban Qur’an. Peradaban yang penuh rahmat. Peradaban damai. Peradaban yang aman. Inilah yang harus disampaikan bahwa dengan tuntunan Qur’an akan melahirkan peradaban yang bermartabat tadi,” katanya.

Oleh karena itu, terang dia, pekerjaan pemimpin Islam itu, pertama, adalah menyampaikan atau membacakan setelah ia membenarkan pembacaan. (ybh/hio)

Beginilah Ulama Berdagang

ULAMA juga manusia. Mereka membutuhkan mata pencaharian untuk menghidupi diri dan keluarga.

Namun berbeda dengan pada umumnya manusia, para ulama amat memahami dan menghayati ilmu. Ilmu itulah yang akhirnya membedakan cara mereka bermuamalah dibanding manusia pada umumnya.

Menawar Lebih Mahal

Ada orang shalih di Bashrah yang juga pedagang pakaian. Namanya Yunus bin Ubaid.

Suatu saat ada seorang penduduk Syam mendatangi tokonya. “Saya hendak membeli baju muthraf (dari kain wol) seharga 400 dirham,” katanya.

“Kami menjualnya 200 dirham,” kata Yunus.

Tiba-tiba adzan berkumandang. Yunus bergegas menuju Bani Qusyair untuk shalat berjamaah, sebelum transaksinya tuntas.

Setelah shalat, Yunus kembali ke toko. Ternyata sang keponakan telah menjual muthraf kepada orang Syam tersebut dengan harga 400 dirham.

“Banyak sekali uangnya?” kata Yunus.

Yunus kemudian menemui orang Syam itu.

“Wahai hamba Allah, saya menawarkan kepada Anda 200 dirham. Jika Anda setuju, ambillah baju itu dan ambil 200 dirham ini. Jika tidak setuju, Anda bisa meninggalkannya.”

Orang Syam itu merasa kagum, hingga ia bertanya, “Siapa Anda sebenarnya?”

“Saya orang Islam,” jawab Yunus.

“Saya bertanya, siapa nama Anda?” orang itu kembali bertanya.

“Saya Yunus bin Ubaid.”

Laki-laki Syam itu pun berkata, “Demi Allah, jika kami terkena musibah, kami akan berdoa, ‘Ya Allah Rabb Yunus, berilah pertolongan kepada kami!”

Di kesempatan lain, seorang wanita mendatangi toko Yunus untuk menjual pakaian muthraf.

“Berapa harganya?” tanya Yunus.

“60 dirham,” jawab perempuan itu.

Yunus kemudian meminta pendapat kepada sesama pedagang, ”Bukankah ini harganya 120 dirham menurutmu?”

“Menurutku senilai itu,” jawabnya.

Yunus pun menyampaikan kepada wanita tadi, “Pulanglah ke rumah. Mintalah agar keluargamu menjualnya dengan harga 125 dirham.”

“Mereka telah menyuruhku untuk menjual 60 dirham.”

“Pulanglah kepada mereka agar mereka menjual dengan harga 125 dirham,” pinta Yunus. (Shifat ash-Shafwah, 3/303).

“Daganganku Tidak Bagus”

Syaikh Ali al-Khawwas adalah seorang ulama shalih Mesir. Aktivitas sehari-harinya adalah penjual besek (wadah yang terbuat dari anyaman tumbuhan).

Jika ada yang membeli barang dagangannya dengan harga lebih tinggi, Syaikh Ali selalu mengembalikan kelebihan itu. Seringkali ada pembeli yang berkata, “Menurutku, besek yang Anda jual itu bagus.”

Syaikh Ali malah menimpali, “Menurutku barang itu tidak bagus.” (Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah, hal 306).

Demikian yang dilakukan para ulama. Mereka memiliki penghasilan sendiri sehingga terjaga hartanya sekaligus mandiri.

Dan ketika terlibat dalam transaksi muamalah, mereka tidak melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain*/Thoriq

Pasca Banjir Jabodetabek, IMS Beri Layanan Kesehatan Gratis

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Beberapa waktu lalu banjir menerjang sejumlah wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) seiring dengan kondisi curah hujan ekstrem yang terjadi secara merata dalam waktu 24 jam dalam dua hari terakhir, 18-19 Februari 2021.

Sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama dua hari terakhir yaitu tanggal 18-19 Februari 2021, wilayah Jabodetabek diguyur hujan secara merata dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, yaitu lebat lebih dari 50 mm, sangat lebat 100-150 mm, dengan kondisi curah hujan ekstrem yaitu mencapai lebih dari 150 mm, semuanya dalam waktu 24 jam.

Akibatnya, tidak saja Jakarta, kawasan kota sekitarnya pun digenangi limpahan air. Ratusan rumah terendam banjir, tak terkecuali juga menimpa sejumlah pesantren dan panti asuhan salah satunya Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Kabupaten Bekasi.

Beberapa waktu setelah banjir melanda, Islamic Medical Servis (IMS) membuka layanan kesehatan umum di Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Kabupaten Bekasi.

IMS membuka layanan kesehatan gratis untuk para korban banjir di Desa Karang Patri, Kecamatan Pabayuran, Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu (26/02/2020).

Direktur IMS Imran Faizin mengatajan kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dan juga para santri dalam mendapatkan pelayanan kesehatan setelah banjir usai dan juga sebagai antisipasi terjadinya penyakit menular paska banjir.

“Satu hal yang sangat perlu diperhatikan ketika banjir telah usai yaitu lingkungan yang sangat rentan menyebabkan penyakit menular, seperti penyakit diare, malaria, demam berdarah, penyakit kulit, dan penyakit lainya,” kata Imran.

Maka dari itu, terang Imran, pihaknya di IMS sebagai lembaga kesehatan mengadakan aksi layanan kesehatan gratis kepada masyarakat khususnya untuk para santri dan ustadz yang ada di Pondok pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah yang ada di Bekasi.

Kegiatan bakti sosial penanggulangan kesehatan masyarakat ini rutin dilakukan IMS di berbagai daerah terutama kawasan yang habis dilanda musibah bencana alam seperti gempa atau banjir.

Menurut Imran, pasca bencana seperti banjir memang rentan memunculkan penyakit endemik seperti diare, malaria, demam berdarah, penyakit kulit dan lainnya sehingga memerlukan penanganan cepat.

Sementara itu, Ust Ahmad Furqon, salah satu asatidz yang ada di Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Bekasi menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas kegiatan bantuan kesehatan secara gratis ini.

“Alhamdulillah kami sangat senang dan bersyukur atas kehadiran IMS dalam membantu recovery pasca banjir, ini tentu sangat bermanfaat dan kami ucapkan jazzakumuallah khairan katsira. Semoga Allah selalu memudahkan lembaga kesehatan IMS dalam kegiatan keumatannya,” kata Furqon.

Sebelumnya, IMS juga membuka layanan kesehatan di beberapa titik yang menjadi pusat banjir beberapa waktu hari yang lalu. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian IMS terhadap para masyarakat yang menjadi korban banjir.

“Diharapakan dengan diadakannya kegiatan layanan kesehatan gratis ini dapat sedikit meringankan beban saudara saudara kita,” kata Imran menukaskan.*/Alamsyah Jilpi

Depdik Hidayatullah Jawa Timur Siapkan Diri Hadapi Era 4.0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Pelayanan pendidikan keummatan terus dikuatkan, demikian diantara yang gigih dilakukan Hidayatullah Jawa Timur melalui penguatan pendidikan dalam rangka menghadapi tantangan pendidikan di era 4.0.

Melalui Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Departemen Pendidikan (Depdik) Hidayatullah Jawa Timur yang berlangsung di Pusdiklat Hidayatullah kota Batu, Jawa Timur, selama tiga hari (26-28/02/2021), Hidayatullah Jawa Timur memantapkan diri berakselerasi memajukan pendidikan di tengah gempuran era revolusi industri 4.0.

Ketua Departemen Pendidikan Dasar Menengah DPP Hidayatullah Drs. Nanang Nurpatria, M.Pd.I dalam materinya mengawali Rakerwil Dikdasmen Hidayatullah Jawa Timur itu, memaparkan secara gamblang mengenai arah dan kebijakan Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikdasmen) DPP Hidayatullah periode 2020-2025.

Tak lupa, Nanang menekankan pentingnya kesiapan penyelenggara pendidikan untuk mengadapi tantangan zaman seiring dengan setting sosial pendidikan masa kini. Dia tak menafikkan tantantang pendidikan era revolusi industri 4.0 adalah fenomena yang kini ada di depan mata.

Karena itu, lanjut Nanang, pendidikan Islam integral berbasis Tauhid harus mampu merespons kebutuhan revolusi industri tersebut dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai dengan situasi dan kondisi zaman.

Dia menegaskan, kurikulum baru tersebut harus betul-betul memberi cakrawala (worldview) baru dalam penyelenggaraan pendidikan yang integral sesuai situasi terkini dengan mengasaskan segalanya pada semangat pengabdian kepada Allah SWT.

“Ini tantangan yang tidak ringan. Membutuhkan komitmen, kerja keras, ibadah dan nawaitu yang luhur untuk memajukan pendidikan sebagai instrumen yang inheren dan tak terpisahkan dari peradaban Islam,” kata Nanang.

Rakerwil Depdik Hidayatullah Jatim ini juga dipaparkan materi sosialisasi arah dan kebijakan Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jawa Timur periode 2020-2025 yang disampaikan oleh Kepala Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jawa Timur, Adi Purwanto, M.Pd.

Adi Purwanto juga sekaligus melantik tiga pengurus yaitu tim Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jawa Timur, pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKSI) dan pengurus harian GPH/SAKO Hidayatullah Jawa Timur.

Setelah kedua materi selesai dipaparkan, acara dilanjutkan dengan rapat kerja masing-masing rayon wilayah hingga menghasilkan kesepakatan bersama yang lebih baik untuk Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jawa Timur.

Acara yang bertema “Standarisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Menuju Penjaminan Mutu Pendidikan Era 4.0” ini dibuka oleh ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Ust Amun Rowie, M.Pd.

Acara Rakerwil ini dihadiri 75 peserta yang terdiri tim Departemen Pendidikan, Kepala Sekolah atau Madrasah, Kepala program PPAS dan Kepala Program Darul Hijrah se-Jawa Timur.

Untuk menambah spirit menyongsong pendidikan masa depan yang lebih baik, Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Jawa Timur mengundang tokoh pendidikan Kota Malang, Ust DR KH Ali Imron, MA.

Pendiri Lembaga Pendidikan Muslimah Indonesia (LPMI) Al-Izzah Malang ini memberikan tausiyah umum dengan tema “Peran Pendidikan Islam dalam Menyongsong Fajar Kemenangan Umat Islam”. Pada kesempatan itu, Ali memberikan semangat perjuangan untuk peserta Rakerwil.

Dalam pada itu, Ali juga memberi injeksi spirit kepada penyelenggara pendidikan Depdik Hidayatullah Jatim untuk selalu bergairah dan penuh semangat dalam berjuang.

Dia mengatakan, tidak ada yang tidak bisa kita raih kecuali berjuang dan berjuang, berpikir dan berpikir, berikhtiar dan berikhtiar serta memompa diri untuk selalu semangat berjuang demi Allah SWT.

“Yakinlah Allah tidak akan meninggalkan dan melupakanmu. Dia yang akan menolongmu. Yakinlah, dekatkan dirimu pada-Nya,” tegas Ali dalam taushiahnya.

Hingga pada hari ketiga, rangkaian acara diakhiri dengan kegiatan jasadiyah berupa outbond untuk semua peserta. Dilanjutkan dengan pembagian penghargaan kepada sekolah yang memenangkan lomba program Pandu From Home (PFH) yang diselenggarakan oleh SAKO Hidayatullah Jawa Timur pada September – Desember 2020 lalu.

Hingga pada sesi penutupan acara, semua kegiatan rakerwil berjalan dengan lancar. Peserta kembali ke tempat tugas masing-masing dengan membawa semangat pengabdian kepada Ilahi Rabb untuk menguatkan pendidikan demi kemajuan agama, bangsa, negara dan untuk dunia yang lebih bermartabat. (ybh/hio)